Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Opname: Sebuah Cerita

Hari itu hari KAMIS, saya dengan pede datang ke meja bos hendak minta cuti karena orang tua saya akan datang ke Jogja guna mengantar adik saya masuk SMA. Sebuah momen langka, kumpul keluarga, harus bisa dikejar. Maka saya lantas mengajukan cuti.

Di saat yang sama, load di kantor memang lagi tinggi. Sangat tinggi malah. Bukan load nya yang terutama, tapi sebuah tuntutan karena adanya perubahan menjadikan bos menganggap sebaiknya saya tetap di kantor.

Dan perpaduan dua paragraf di atas menghasilkan kesimpulan: saya nggak boleh cuti.

Saya lalu galau. Tapi hidup kan terus berjalan. Masalahnya, saya itu melankolis yang hobi galau. *halah*

Maka kemudian saya tetap ikut melihat anak kedua Pak Fiks yang baru lahir. Nggak ada masalah sesudah itu. Saya yang kelaparan juga lantas mengorder mie tek-tek yang kebetulan lewat di depan mess. Lagipula pikiran saya sudah di pertandingan sepakbola melawan Stripping, dimana dua pekan sebelumnya saya–untuk pertama kalinya–ada di bawah mistar dengan hasil clean sheet.

Tapi, ya itu, keluarga buat saya penting. Meski saya berusaha tenang, nyatanya itu masuk dalam pikiran. Dan entah dipadukan dengan mie tek-tek atau tidak, maka terjadilah rangkaian peristiwa absurd di JUMAT pagi.

Saya bangun. Semuanya beputar.

PUSING. PUSING sekali.

Saya lalu mencoba fokus pada 1 titik, dan gagal. Saya lalu memejamkan mata, dan semuanya masih terasa bergoyang. Semua berputar dan saya mulai tidak kuat. Saya mencoba seperti biasa, keluar, nonton tivi, mandi. Teman saya kebetulan lagi di mess, keluar kamar dan menyapa saya.

Saya diam, bukan sombong ya, tapi karena saya berusaha fokus pada televisi yang saya tonton. Dan percaya atau tidak, televisi itu lagi tampak berputar. Matek dah!

Dan akhirnya tubuh saya nggak kuat, sesuatu mendesak dari dalam perut, dan saya… muntah.

Om Markus yang melihat saya begitu akhirnya membawa informasi saya ke orang GA, dan tidak lama kemudian mobil GA sudah datang dan saya diantar ke Rumah Sakit Charitas. Believe or not, tidak ada GA yang seperhatian itu pada staf yang sedang sakit. Setahu saya, dibandingkan kantor-kantor lainnya.

Saya menahan muntah dalam perjalanan dan berhasil. Saya lalu akhirnya masuk ke UGD RS Charitas Palembang sebagai pasien, setelah sebelumnya hanya menemani teman yang bergantian menjadi pasien. Seorang dokter jaga menyuntikkan sesuatu yang saya duga sebagai anti-vomit karena rasa mual mau muntah saya hilang dengan segera.

Tapi, dunia ini masih berputar.

Sebuah keputusan dibuat, OPNAME. Dan saya akan opname, ditinggal seorang diri di UGD RS Charitas. MANTAPPP!!!

Saya akhirnya antri, dengan pemandangan yang nggak oke. Seorang bapak yang DM (terlihat dari kakinya) sedang menggigil, persis di ranjang sebelah saya. Ini saya sakit tapi saya yang kasihan loh. *apa coba*

Hingga kemudian, bos saya dan tim datang. Persis jam makan siang saya akhirnya mendapat kamar. Sebuah penantian yang tidak panjang. Untung saya sudah karyawan tetap sehingga punya kartu asuransi. Tapi yang level saya penuh, maka saya di-up dulu 1 sebelum menanti yang level saya kosong.

Saya cuma modal pakaian di badan dan sebuah HP kala itu. Dan masuk ruangan ya begitu. Dan seumur-umur, inilah opname pertama kali yang saya dapat ingat. Iya, dulu saya pernah opname, tapi jaman bayi. Mengingat saya adalah bayi labil dengan penyakit step. Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkan nyawa saya dulu itu.

Ketika terbangun, seorang adik kelas dan seorang kakaknya teman, kebetulan karyawan sana, sudah nangkring di dekat ranjang saya. Huffttt.. Kok bisa-bisanya tahu ya? Hahaha..

Tak lama, Mas Sigit dan Jack datang membawa perbekalan saya. Entah bagaimana mereka bisa menemukan semuanya itu di kamar saya yang jelas-jelas berantakan. Tapi setidaknya saya punya cawet untuk beberapa hari ke depan.

Sore harinya, mengingat itu hari Jumat, harinya anak mess menggila malam hari, datanglah anak-anak mess, bergantian. Waktu itu Om Markus datang sama, ehm, ada deh.. hahahaha..

Akhirnya saya menghabiskan malam sendirian di kamar Elisabeth (kalau nggak salah) 14 itu. Ya, sendirian. Tidak ada yang perlu menunggui saya karena toh saya sadar, cuma PUSING.

Dan satu hal penting, saya memang tidak memberi tahu orang tua saya karena belum lama adik saya sakit DBD dan dengan secepat kilat Mamak saya sudah ada di Jogja. Saya nggak mau aja, tiba-tiba Mamak nongol di Palembang dan saya bikin repot orang tua yang punya tanggungan pekerjaan disana. Kalau adik saya mungkin perlu karena urusannya duit opname. Kalau saya toh saya ada asuransi dan duit gaji. Jadi masih bisa. Lagipula, si Boni bisa opname dengan sukses tanpa ditunggui, masak saya nggak?

Dan lima hari saya ada disana, dengan kunjungan silih berganti dari teman-teman. Serta kebaikan hati sesama sebatang kara di Palembang. Really thanks a lot for  Mas Sigit, Jack, dan Boni. Tentunya juga really thanks to Pak Bos yang bahkan datang membawakan sate kambing. *opo ora edan ki?*

Saya pulang dengan mengurus administrasi sendiri, ya benar-benar sendiri. Saya hanya minta tolong Jack menjemput karena saya takut pusing kalau naik angkot. Saya naik sendiri ke ruang pembayaran dengan sekali tersandung di tangga terakhir. Maklum, masih pusing.

Sampai di mess, saya menulis cerita di FB Notes. Waktu itu blog ini belum bangkit. Dan sejurus kemudian, saya bilang ke Mamak kalau saya baru saja pulang opname. Hehehe..

Yah, demikianlah. Secuil cerita kehidupan saya di salah satu kota rantau. Selalu ada cerita dalam kehidupan rantau. Dan percaya atau tidak, entah ada hubungannya atau tidak, cuti saya di-approved.

Jadi sebenarnya saya pusing itu karena mie tektek, karena nggak boleh cuti, atau karena kerjaan yang berat? Bahkan sampai sekarang saya bingung. Dan mengingat itu kali kedua dalam hidup saya seperti itu, maka resmilah saya menjadi penderita VERTIGO.

Astaga!

Kontraktor

Sesungguhnya saya punya masa kecil yang maha asyik. Kenapa? Karena saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah, sejak lahir hingga kelas 3 SD. Ah, cuma 8 tahun kan ya? Well, 8 tahun mungkin sebuah rentang waktu yang singkat, dan saya bersyukur itu bisa berhenti di angka 8. Tapi dalam 8 tahun tumbuh kembang saya, kemudian muncul berbagai cerita.

Kenapa saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah? Ya, semata-mata karena orang tua saya memilih untuk mengontrak rumah sebagai pemenuhan kebutuhan primer keluarga. Sesederhana itu kok.

Nah, kemarin waktu mudik sejenak, saya mencoba menapaktilasi beberapa kenangan yang saya punya dalam rentang waktu hidup 8 tahun itu.

Rumah pertama keluarga kami ada di Inkorba, saya pernah sekali ditunjukkan rumah itu tapi tidak bisa mengingat letak rumah itu sebenarnya karena ya memang saya terlalu kecil untuk ingat. Jadilah saya tidak pergi ke rumah itu, karena memang tidak tahu.

Rumah kedua yang dikontrak oleh orang tua saya terletak di dekat kantor walikota Bukittinggi. Saya aslinya ya nggak ingat, tapi ketika Bapak bilang bahwa rumah di Belakang Balok ini nggak jauh dari kantor walikota, saya pun segera ke tempat itu, dan ada lah sedikit memori yang masih nyangkut. Setahu saya, periode tinggal disini sekitar 1988-1989. Well, umur yang belum bisa mengingat apapun. Hehehe.. Dan karena itu saya juga nggak tahu pasti rumahnya yang mana, saya coba ambil foto salah satu rumah saja, karena lainnya mirip kok.

image
dokumentasi pribadi

Kemudian keluarga kami pindah ke sebuah rumah di jalan Guru Hamzah. Fotonya ada di bawah ya nanti. Rumah ini terdiri atas 2 bagian, depan dan belakang. Pada sesi 1, sekitar 1990-an, kami tinggal di rumah bagian depan (lihat fotonya di bawah nanti). Tidak cukup lama juga sih.

Rumah berikutnya tidak jauh dari rumah lama, letaknya tak jauh dari Simpang Tarok. Di rumah ini saya mulai merekam berbagai memori. Bagian terburuk dari semuanya adalah, dari sederet rumah yang ada, hanya ada 1 tempat buang air besar. Sungguh saya harus bilang WOW kalau sekarang, tapi kalau dulu ya biasa aja. Tempatnya bahkan teramat mungil hingga berdiri pun tidak bisa. Di rumah ini pula keluarga kami berbagi sumur dengan tetangga. Pernah pula ada kasus pintu tidak bisa dibuka, dan yang terjadi kemudian adik saya masuk ke rumah melalui sumur tetangga. HEBAT! Oya, di rumah ini pula saya terserang vertigo untuk pertama kalinya 😦

image
dokumentasi pribadi

Nah, rumah di bawah ini adalah rumah yang dikontrak (berikutnya). Kalau dulu di bagian depan, ya yang ada seng hijau itu. Itu rumah depan. Pada sesi dua disini keluarga kami mengontrak di bagian belakang dengan kondisi yang *ehm* mungkin bisa dibilang parah. Hal yang paling saya ingat adalah ketika malam hari, mati lampu, dan ember berserak dimana-mana karena atap pada bocor.

image
dokumentasi pribadi

Rumah kontrakan terakhir keluarga kami ada di Kompleks Kehutanan Bukittinggi. Saya berputar-putar dulu sebelum akhirnya sampai ke tempat ini kemarin. Tentunya karena kondisinya sudah sama sekali lain. Jalan masuk kompleks yang dulu luas semakin menyempit oleh pembangunan pasar. Nggak ada lagi akses langsung ke ‘tabek’ tempat warungnya nenek si Sari. Setahu saya, kami tinggal disini sekitar 1994 karena ingat bener bahwa mulai nonton Piala Dunia disini, dan saya menyaksikan Roberto Baggio menendang ke atas gawang (gagal masuk). Itu kan final Piala Dunia 1994?

Rumah ini mungkin paling ironis, atau mungkin menjadi ironis karena usia saya sudah semakin besar untuk bisa mengingat sesuatu. Ya, di rumah ini saya kenalan sama lipan karena seringnya hewan ini masuk rumah. Di rumah ini juga saya kembali bertemu dengan kondisi WC bersama untuk buang air besar. Bahkan sering kejadian WC bersama itu mampet. Dan, terjadilah, harus cari akses lain untuk sekadar buang air besar. Hufftttt… Di rumah ini juga saya punya 1 ruangan yang saya takuti, letaknya antara kamar dan dapur, dan digunakan untuk meletakkan rak sepatu. Entah kenapa, saya ngeri setiap kali memasuki ruangan itu.

Tapi, di kompleks inilah saya menemukan makna berteman. Satu-satunya pergaulan publik yang terjadi selama tinggal di rumah, ya di kompleks ini. Saya ingat dulu tetangga depan rumah punya warung, saya suka beli godok atau permen yang bungkusnya mirip rokok.. Hehe.. Tapi yang paling diingat tentu saja tetangga sebelah rumah, namanya Ade, yang cantik jelita pada usia itu. Hahahahaha..

Saya sempat pangling dengan suasana rumah sebelum kemudian saya melihat ke bagian belakang rumah. Dan benar, saya ingat benar, pernah tinggal di tempat ini setelah melihat bentuk di bawah ini.

image
dokumentasi pribadi

Tahun 1995, keluarga kami pindah ke sebuah rumah kecil, yang syukurlah, milik sendiri. Cicilannya belasan tahun, dan sepertinya sih belum 2-3 tahun ini lunasnya. Hehe..

Saya mencoba menapaktilasi semuanya, karena ini adalah milestones diri saya dan keluarga. Saya berada dalam posisi membangun semuanya, seperti yang dialami oleh orang tua saya dulu. Saya ingat bagian-bagian perjuangan orang tua saya mempertahankan kehidupan anak-anaknya, dengan gaji yang (waktu itu) nggak seberapa.

Well, ketika kemudian orang-orang selalu menuntut gaji jauh lebih besar, saya lantas teringat proses saya bisa menjadi sarjana, lalu apoteker, lalu seperti sekarang ini. Semuanya proses yang tidak mudah, tapi nyatanya bisa. Lalu saya bertanya, apakah kita harus selalu menuntut tanpa kemudian memilih berusaha terlebih dahulu?

Kontraktor adalah kisah masa kecil saya, dan saya ingat ketika adik saya pernah bilang, “Mak, ini terakhir kali kita pindah kan?”

Ah! Sebuah masa lalu memang untuk DIKENANG, bukan untuk DIULANG.

🙂

Teman

Apa yang harus disyukuri dalam hidup? Pasti banyak, bahkan bisa hidup itu harus disyukuri dalam setiap tarikan nafas. Tapi terkait kemajuan zaman, saya bersyukur berada pada masa yang tepat.

Yah, saya baru punya FB dan HP yang bisa internet 3G (bukan 3gp) pada Desember 2008. Pada saat itu di FB baru ada bule-bule gila. Kalimat itu milik Lussy Dugonk yang waktu itu jadi 1 dari sedikit teman FB saya. Pada Desember 2008 saya memasuki masa-masa akhir studi.

Kenapa tepat?

Karena saya nggak kebayang kalau saya dalam masa studi dan saya sudah punya ponsel pintar plus akses linimasa. IP saya di kuliah yang sudah jongkok akan semakin jongkok, bisa tiarap malah.

Berikutnya, ya, memang saya termasuk kurang mengikuti zaman. Kalau yang lain sudah ber-BB ria, saya malah nggak. Saya setia pada sebuah benda yang saya beli di IP Palembang seharga 1,4 juta bernama LG GW300. Benda itu saya pakai terus sampai kemudian godaan muncul.

Era Android sudah masuk, dan saya termasuk ketinggalan. Nah, teman-teman saya mulai menggunakan aplikasi Whatsapp. Interaksi saya dengan teman-teman memang tidak banyak. Kenapa? Ya karena saya memilih untuk kerja di Palembang, jauh dari teman-teman di Pulau Jawa. Pada awal-awal kerja, sekitar Juli 2009, sempat ada sebuah forum bernama ‘Ngalor Ngidul’ yang isinya email-email kantor berbagai perusahaan farmasi di Indonesia dan isinya ngomongin nggak jelas *halah*

Forum itu perlahan punah seiring pindahnya beberapa orang sehingga mengurangi member forum.

Lalu beralih ke FB, ada sebuah pesan FB isi banyak bernama ‘Jangan Sampai Putus Kontak’, sempat ramai, lalu musnah lagi.

Ketika saya mendengar ada Grup Whatsapp antar teman-teman yang nggak jelas ini, saya mulai goyah. Memang sih, keypad si GW300 sudah memintanya untuk diganti. Akhirnya dengan uang arisan (yang untungnya masih selamat) saya membeli sebuah HP Android, paling murah.

Akhirnya saya join grup Whatsapp. Hore juga. Memang timbul tenggelam, kadang ada, kadang nggak. Wajar, orang kan punya kesibukan masing-masing.

Pas lagi di mobilnya Boriz, saat berhenti menunggu Robert di perbatasan kota Wonosari, dibuatkan sebuah grup Whatsapp bernama UKF DLN2. Dari mana aja udah kelihatan kalau yang buat malas, namanya aja ngasal. 🙂

Tapi kemudian di grup itulah, saya bisa tertawa ngekek sendirian di kamar, atau bahkan di kantor. Hanya sebatas kata-kata yang tertulis, tapi kemudian mampu menyunggingkan senyum hingga membuat tawa terbahak-bahak. Asli ngekek.

Yah, ada yang di Pangkalpinang, ada yang di Pontianak, dan berbagai tempat lainnya, tapi bisa bersatu bercanda bersama di sebuah layanan yang disediakan Whatsapp. Ini hiburan ketika hidup mlai semakin pelik. Membaca sebaris dua baris kalimat di grup itu setidaknya mampu membuat ngekek. Yah, hinaan itu paralel dengan tawa dan canda plus paralel dengan kebersamaan. Jadi satu, tidak terpisahkan. Mungkin inilah yang namanya teman.

Bukan begitu? 🙂

C.I.N.T.A = L.O.V.E

Well, hari ini senang nimbrung upload-an sebuah foto (screenshot) profil BBM seorang teman. Ya senang saja. Kalau teman senang kan kita ikut senang. Kalau teman diece, kan kita juga ikut senang. Bukan begitu?

Yah, teman saya yang menjelang uzur *eaaaaa* tampak banget sedang jatuh cinta. Yak, screenshot BBM yang di upload di FB sudah menjelaskan sesuatu, dilengkapi dengan status di Whatsapp-nya. Ya, ya, ya.. Tampak sekali dia sedang jatuh cinta! Hahahaha..

Turut senang, itu pasti 🙂

Well, soal cinta dan jodoh ini memang kadang rumit. Dalam hal ini mari kita colek bocah rantau. Hehehehe..

Soalnya nih, belakangan ini ada dua teman saya yang putus setelah usia pacaran seumur anak masuk TK, lantas mendapatkan cinta yang baru, yang uniknya, masih satu fakultas juga. Sudahlah, namakan saja ini misteri cinta. Bukan begitu? Kenapa nggak terjadi 4-5 tahun silam? Kenapa terjadi sesudah sekian tahun? Kenapa dan kenapa yang lainnya..

Ya begitulah, bahkan cinta itu sejalan hidup, sebenar-benarnya misteri.

Hmmm, kalau teman-teman saya sudah menemukan jawaban atas misterinya. Saya bagaimana ya? *garuk-garuk* 🙂

Selamat pren! 😀

*judul dikutip dari pernyataan teman yang baru jadian*

*halah*

Eh, Penerbangan Saya Masuk Berita

Googling bin googling eh malah ketemu nih..

LINK INI *nulis sambil marah-marah*

Jadi tertulisnya begini:

Menurut pantauan Posko Angkutan Lebaran Terpadu 2012, ada 11 jadwal penerbangan yang mengalami delay jadwal kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada H+1 atau Selasa (21/8/2012) kemarin. Maskapai yang mengalami delay adalah Batavia Air, Sriwijaya Air, Lion Air, Citilink, dan Indonesia AirAsia. Keterlambatan itu terlihat sepanjang pemantauan Posko yakni dari pukul 08.00 WIB sampai 18.00 WIB.

Maskapai Batavia Air, misalnya, mengalami keterlambatan kedatangan domestik paling lama dari maskapai lainnya, yakni penerbangan Y6-0584 dari Bandar Udara Minangkabau, Padang, menuju Bandara Soekarno-Hatta selama 2 jam 39 menit.

Keterlambatan paling singkat yakni Lion Air JT-0347 dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dengan 32 menit dari jadwal semula. Sementara Sriwijaya Air adalah maskapai yang paling banyak mengalami keterlambatan jadwal kedatangan di Bandara Soetta. Ada lima penerbangan dengan tujuan Jakarta yang telat.

Saya bingung nih, itu 2 jam 39 menit dari mana yak? Wong saya antri di pintu boarding aje tulisannya 13.10, padahal saya itu antrinya jam 17.10, itu juga 10 menit sebelumnya dibilang “pesawat akan siap 30 menit lagi..” yang langsung mengundang komplain banyak penumpang.. Jadi 13.10 ke 17.10 itu ternyata 2 jam 39 menit?

Ehm, bisa dipahami sih, kalau dihitung normal, 4 jam itu kompensasi 300 ribu. See? Bayangkan aja rugi di peak season mudik begitu. Rugi bandar cuy. Ah, ya sudahlah… Huhuhuhu…

Antologi Mayor Berikutnya

Kalau teman-teman sekalian melihat pojok kanan atas blog ini, dan teman-teman sekalian adalah pengunjung setia blog sederhana ini, pastinya ngelihat ada perbedaan.

Yup, ada gambar lain yang muncul disana, tidak hanya foto buku “Kebelet Kawin, Mak!”. Ada tambahan, namanya “Radio Galau FM Fans Stories”.

Syukur kepada Tuhan bahwa saya disempatkan untuk ngecek TL ketika lomba “Radio Galau FM Fans Stories” ini di-tweet. Kala itu, saya sudah capek menulis galau. Tapi, saya lantas berpikir, nggak apa-apalah, sekali-sekali ini. Kalau masuk, kan bisa jadi buku.

Maka, saya hanya membuka sebuah cerita di blog ini juga, tanpa mengganti judulnya. Silahkan search FOTO DALAM DOMPET. Yak, cerpen mini di tanggal 24 Januari 2012 itu yang saya rekarasa untuk kemudian dikirim ke penerbit Wahyumedia.

Well, silahkan berargumen soal copy paste dan lainnya. Bagi saya, ini cerita saya yang tulis, jadi ya suka-suka saya mau diapakan. Iya kan?

Dan saya memilih untuk mengganti tokoh dalam cerita itu plus mengganti endingnya. Ending itupun ditemukan persis ketika mengetik. Ya, saya memang penulis dengan inspirasi sambil jalan. Sungguh berbanding terbalik dengan keseharian saya sebagai orang planning.

Lama, dan lamaaaaaa… akhirnya ada pengumuman. @ariesadhar menembus lomba itu. Syukurlah. Tapi lama dan lamaaaaa baru dapat kabar. Sebenarnya saya bahkan hampir lupa sebelum kemudian ada yang SMS minta alamat untuk pengiriman hadiah. Terus saya kepo ke linimasa, dan ternyata itu buku sudah ada sejak tengah bulan. KEMANE AJE?

Hmmm, pas kemarin saya ke Central Park, ada reuni sama anak-anak PSM CF. Jadi mampir ke Gramedia, dan menemukan buku itu. Seperti biasa, saya beli lebih dari 1, walaupun nanti pasti dapat bukti terbit dan saya toh nggak dapat royalti (karena sudah include di hadiah), tapi saya ya begitu memang. Nanti buku itu kan bisa saya kirim ke ortu, buat nambah-nambah koleksi di rumah. Cinta Membaca (indie) dan Kebelet Kawin, Mak! (Gradien) juga saya kirim ke rumah kok.

Uniknya, buku ini ada di rak BEST SELLER. Wew! Setelah saya berburu “Kebelet Kawin, Mak!” di rak TERBARU Plaza Semanggi, kini saya menemukan buku yang ada tulisan saya-nya di rak BEST SELLER Central Park.

Oke. Masalahnya sekarang, tidak ada lagi pendingan lomba yang saya punya. Sejak Mei saya kehilangan sentuhan menulis. Harus bagaimana ini? Bagaimana dengan cita-cita saya punya buku sendiri?

Itu juga ada kisahnya. Agak sedih sih. Tapi, penulis bagus-pun pernah ditolak kan? Ya anggap saja ini jalan menjadi penulis bagus.

Masalahnya, 2 bulan sesudah mengirim naskah buku, saya ditelepon sama editor, katanya naskahnya oke, tapi menunggu meeting dulu. Karena saya sabar, jadi ya saya tunggu. Dan sampai sekarang saya menunggu. Akhir Agustus itu persis 4 bulan naskah saya dikirim. Artinya? Ya itu bermakna penolakan. Ya sudah. Mari berkarya lagi kalau begitu 🙂

Oh iya, soal tokoh, saya harus mengucapkan terima kasih kepada teman saya yang namanya saya pakai sebagai tokoh di kedua cerpen, baik di “Kebelet Kawin, Mak!” dan di “Radio Galau FM Fans Stories”. Thanks a lot! Apa itu bermakna namanya harus dipakai sebagai tokoh di novel supaya buku saya bisa diterima? Hehehe, entahlah.

Ada Apa Dengan PNS?

Ini posting suka-suka saya ya.. Please jangan ada yang tersinggung apalagi ternungging..

Bapak saya PNS, lebih tepatnya menjadi PNS setelah beberapa tahun jadi guru swasta, dan tetap mengajar di sekolah yang sama (swasta). Jadi bisa dibilang PNS itu hanya status, toh ngajarnya tetap swasta. Oh iya, gaji juga ding.

Nah, memang sih, saya melihat beda signifikan gaji Bapak dan Mamak yang notabene mengajar di yayasan yang sama dengan status berbeda. Satu guru swasta, satunya PNS. Gaji Bapak memang jauh lebih mantap.

Tapi…..

Semantap-mantapnya gaji Bapak selama 34 tahun ternyata sama saja secara nominal dengan gaji saya bekerja selama 3 tahun 4 bulan. So?

Kata Mamak, yang penting masa depan. Nah, saya mikir lagi, apa iya di swasta ini saya nggak punya masa depan? Entahlah..

Lagian kalau mau resign jadi PNS, bayar 50 juta. Kalau resign dari swasta ketika sudah jadi tetap? Nggak bayar. Lah kok enak swasta?

Hmmm, apalagi ketika melihat sendiri SK CPNS seorang teman yang gajinya menurun drastis ketika pindah dari swasta ke negeri. Inikah yang dimaksud masa depan?

Lah saya tambah bingung.

Apalagi ketika dibilang PENSIUN hendak dihapuskan. Matilah saya. Kalau saya masuk sekarang, mungkin di jaman saya pensiun nanti, sesuatu bernama UANG PENSIUN itu sudah dihapuskan.

Tapi kenapa banyak yang berbondong-bondong kesana?

Ada apa sih disana? Kenapa?

Sumpah saya bingung.

Pengalaman Pertama

Ada banyak penyesalan dalam pilihan hidup. Kenapa menyesal? Karena seharusnya ada pilihan yang lebih baik.

Dan salah satu penyesalan terbesar saya dalam hidup adalah melewatkan kesempatan bergerilya dengan musik, tepatnya menyanyi.

Dulu saya juara 2 loh, lomba nyanyi di SD Fransiskus, kalah sama Abe alias Abrar Zaki. Dan itulah kali terakhir saya bernyanyi di depan umum dalam kompetisi. Berikutnya, bahkan untuk menyanyi di depan kelas pun saya malas. Kalau adik-adik saya di level SMP sudah mazmur di gereja, saya memilih untuk tidak. Bagian terburuknya adalah kala tugas nyanyi di SMP, dengan suara puber, saya gagal membawakan bagian “kita jadi bisa menulis dan membaca, karena siapaaaaa…” dengan baik. Haduh. Tapi vokal grup saya di SMP sempat menang loh. Kelas 2 dan kelas 3. Itulah bekal terakhir.

Adapun di pelajaran musik, saya sama sekali abai dengan 1 2 3 4 5 6 7 itu. Nggak suka, entah kenapa.

Ujungnya, di SMA ketika ada tawaran ikut paduan suara, saya memilih nggak ikut, dengan mantap.

Sebatas itu, sampai kemudian saya mengenal Paduan Suara Fakultas Farmasi yang bernama Veronica. Semata-mata teriming-imingi makan dan snack gratis, saya ikutan nyoba menyanyi, tanpa paham banget kalau 1 itu bunyinya do yang seperti ini. Saya buta benar-benar. Saking butanya, saya nyemplung di tenor. Sebuah opsi gaib yang kadang bikin saya geleng-geleng.

Di bawah asuhan Mbak Ina yang keren banget, saya belajar soal not sampai akhirnya bisa menyanyikan lagu dari notasi angka-angka. Saya baru menyadari indahnya angka-angka itu di semester 1 saya kuliah, di usia 17 tahun. SEBUAH AWAL YANG SANGAT TERLAMBAT!

Tapi bagi saya, lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Maka saya mencoba serius di PSF ini dengan mengikuti semua kegiatannya. Saya hanya luput 1 waktu perpisahan Romo Andalas, karena harus makrab Dampok Insadha 2005. Jadi dari seluruh tugas di periode 2004/2005, saya hanya bolos sekali. Dan saya semakin menyukai hal ini.

Dan sebuah godaan besar muncul ketika saya membawa anak kelompok 24 Insadha 2005 ke stand PSM Cantus Firmus. Well, melihat teman-teman macam Rinto, Shinta, Finza, hingga Daru membuat saya pengen ikutan. Jadi kalau rata-rata orang mendaftar PSM CF itu di semester 1, saya di semester 3. Telat lagi.

Modalnya nekat bener, nggak bisa apa-apa. Saya dites not sama Mas Dede dan Mbak Citra dan mereka tampak geleng-geleng. Dari sisi intelegensi, saya mungkin NOL BESAR. Tapi entahlah, nyatanya saya masuk.

Di CF inilah saya ditegaskan sebagai pemilik suara BASS MURNI. See? Bahkan saya ngawur masuk tenor. Ibarat kata, melanggar kodrat. Di CF juga saya semakin memperdalam soal not, soal akord, soal bagaimana berlatih, soal bunyi do re mi dan seterusnya, hingga kemudian tampil dan tampil lagi.

Pelan-pelan angka-angka itu menjadi kesukaan. Misal nih, untuk bagian Sing Haleluya Clap Your Hands itu bunyinya la do la do re mi re do la. Lalu ada beberapa lain yang saya pelan-pelan hafal. Di PSM CF inilah saya dilatih sama pelatih paling berkarakter yang saya tahu dari karier singkat paduan suara saya, Mas Mbong. Di PSM CF sendiri ada Cik Lani dan Mbak Prima sampai Bu Jin yang bergantian memimpin latihan.

Paralel, saya juga masih kukuh di PSF karena saya nggak pengen meninggalkan tempat saya belajar baca not itu. Waktu itu dibawah asuhan Ulit alias Fitri hehehe…

Dari pelatih-pelatih itulah saya mencoba belajar dan terus belajar, utamanya mengatasi ketertinggalan saya bertahun-tahun karena baru ngeh soal musik ini di usia 17 tahun sementara yang lain mungkin sebelum belasan sudah pakar.

Ketika lulus, saya satu kerinduan saya kemudian adalah bernyanyi. Sempat sih di Palembang beberapa kali, tapi ya jujur, saya sendiri kurang total keluarnya. Saya jadi sadar kalau saya itu orang gandulan. Maksudnya, dulu di PSF ada Rudi, di PSM ada Oon dan Brondang. Ketika mereka nyanyi besar, saya bisa tampil besar. Ketika di Palembang, tidak ada yang besar, saya ikutan nggak besar. Padahal jelasnya di CV saya tampil tuh Golden Voice dan KPS Unpar yang menandakan saya seharusnya bisa jadi gandulan. Nyatanya? Tidak.

Dan di Cikarang ini, ketika saya kehilangan paduan suara sama sekali, eh saya malah dapat macam-macam kesempatan. Mulai dari ikut pegang mike dan dapat part sendiri waktu di Titan (fals pulak.. huhuhu..) sampai yang terbaru dan lumayan bikin bingung ini.

Jadi suatu ketika saya pergi menemui teman lama yang datang ke Cikarang, lalu pulang-pulang dapat kabar kalau saya dan Agung diminta melatih koor karena pelatih lawas pindah rumah. BUSET! Saya sepanjang hidup itu cuma jadi anggota, solis saja tidak pernah, paling mentok nyanyi mazmur “Ya Tuhan aku datang melakukan kehendakMu”. Udah. Mau disuruh ngelatih koor?

Waduh.

Dan, barusan ini, saya berdiri di depan podium dan belagak menjadi pelatih. Astaga. Menjadi pelatih itu ternyata tidak sesederhana yang mungkin saya duga. Saya dulu paham kalau jadi pelatih itu sulit, tapi kok sepertinya nggak sesulit ini. Tapi nyatanya ya sulit. Saya ini hanya melatihkan lagu unisono loh. Belum yang 2, 3, apalagi 8 suara. Di lagu pertama sudah cukup bikin keringat dingin. Grogi sumpah. Memang rasanya belum mengalahkan tampil pom-pom, tapi serupa dengan tampil di lomba. Fiuhhh…

Untunglah, menurut saya, debut hari ini lancar. Ah, semoga berikutnya juga demikian.

Terima kasih untuk para inspirator saya, Mbak Ina, Ulit, Mas Mbong, Mbak Prima, Cik Lani, Bu Jin, lalu juga yang sempat ngelatih saya macam Romo (dulu Frater) Ardi, Mas Selsi, sampai Santo. Kalian semua hebat! 😀

Elegansi Sebuah Tindakan

How to manage issue?

Isu, apapun, besar-kecil, pastinya akan menjadi hal ihwal yang penting dan mendesak untuk diselesaikan. Kenapa? Sebuah isu itu akan menjadi bara yang memanaskan suasana.

Dan yang dibutuhkan untuk menangani isu itu adalah tindakan.

Nah, persoalannya adalah bagaimana bertindak elegan agar suatu isu tidak berkembang menjadi masalah, apalagi masalah besar.

Hal elegan alias cantik alias luwes dalam menyelesaikan masalah sebenarnya dimulai dari melihat fakta-fakta dan data-data secara komprehensif. Utamanya melihat seluruh data dalam definisinya masing-masing. Komprehensif juga setidaknya mengerti makna dari data-data yang terkandung.

Saya pernah punya bos dengan tindakan yang elegan, tentu juga pernah ngawur. *hehehe, sorry loh pak*

Jadi suatu kali, gudang itu penuh minta ampun. Sederhananya, miss plan. Nah ketika nilai inventori menggunung, dapur produksi belum maksimal, isunya adalah what to do? Ada yang langsung laporan ke atas, ada yang mencerna dulu masalahnya baru laporan.

Dan kejadian waktu itu, dua-duanya terjadi.

Saya ikutan mempersiapkan datanya siang dan malam, termasuk proyeksi bagaimana membuatnya normal dalam time phase 6 bulan. Tampak mustahil, tapi bukan bermakna nggak bisa.

Dengan bekal data itulah, lantas pakbos menghadap, menghadapi pertanyaan besar kenapa ini terjadi dan bagaimana ini dikelola. Saya pusing, dan saya yakin pakbos saya lebih pusing. Tapi tim kami bertindak dengan elegan. Maksud saya, mainnya cantik. Saya ingatnya menjadi semacam pertarungan data. Yang satu membahas dari sisi kekinian, yang satu dari perspektif masa depan. Dua-duanya saya padukan dalam satu report yang niscaya kemudian menjadi kelegaan terbesar saya dalam hidup.

Yah.. Elegansi, keluwesan, keindahan dalam bertindak menjadi kuncinya. Elegansi bukan ABS, alias Asal Bapak Senang. Elegansi adalah bertindak dengan manis, dengan janji yang oke tapi realistis, dan yang pasti bertindak atas dasar data yang jelas dan definisi yang pasti.

Akhirnya memang, Oktober, misi nyaris mustahil itu tercapai. Overload bisa turun. Saya ingat benar setiap hari berharap conditional formatting yang saya buat merah itu segera menjadi putih, pertanda kapasitas sudah oke. Setiap hari saya nggak lelah menarik data dan mencernanya.

Rong-rongan ada, jelas, tapi dengan basis data dan tindakan yang bermakna dari pakbos, meski tentu di sisi tertentu saya sebel dengan cara-cara ala manusia planning (ini kan jenis manusia paling dibenci di pabrik manapun.. huhuhuhu…), tapi hasilnya oke. Isu yang besar itu dikelola dan tidak menjadi lebih besar, tapi lantas diselesaikan dengan cara yang manis.

Saya tersenyum melihat angka 4 di BSC. Bagi saya itu awesome.

Nah, saya bukan mau menggurui siapapun dengan posting ini. Saya hanya berefleksi pada salah satu momen terburuk dan terindah saya dalam hidup. Terburuk karena itu momen saya pulang jam 11 malam dan datang lagi jam 7 pagi. Terburuk ketika saya setiap hari mimpinya bahan baku. Terburuk karena dering telepon itu ibarat lonceng kematian bagi saya.

Tapi terbaik ketika saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa. Ketika kemudian orang-orang tahu, siapa kami, siapa saya. Ketika semuanya lantas mengerti bahwa performa itu tidak berdasar sekadar bacot atau arogansi, tapi tindakan nyata yang membuahkan hasil yang jelas.

Nah, kalau masalah besar begitu.

Hari ini saya komunikasi dengan beberapa rekan lama, sedikit nostalgia keadaan. Yah, bahwa kadang saya dirindukan sebagai salah satu personil yang kompromistis. Bagi saya, bagian planning itu harus kompromi, itu pasti. Apapun yang kompromi dengan tujuan tercapainya pemenuhan forecast. Jadi aspek-aspek administrasi, kadang saya tuntaskan tanpa melewati pakbos, asal kadarnya sesuai. Itu cara saya. Dan syukurlah, kompromi itu kemudian menjadi perkara kecil yang tidak perlu raise issue sehingga lantas jadi heboh nggak penting. Toh sudah ada heboh besar ketika inventori menggunung, cukuplah. Nggak usah disertai kehebohan lain lagi, apalagi yang remeh.

Kenapa saya berani? Ya karena saya cukup tahu definisi. Artinya, dengan bekal yang saya tahu-walau sedikit-ya saya bisalah melakukan tindakan dengan luwes, tanpa perlu menjadikan ini isu dan kemudian masalah besar.

Misal nih, kalau cuma sekadar permintaan bahan baku untuk trial di produksi, apa iya harus ditolak? Trial itu kan kaitannya untuk proses, iya kan? Proses nanti bakalnya ngeluarin produk juga. Padahal inti dari seluruh bisnis, ya produk. So? Apa lagi? Kalau memang permintaan itu mengurangi stok signifikan, putar otak lagi. Kalau mau ya beli lagi. Gitu aja siklusnya.

Dan Pakbos saya baru tahu soal masalah itu, ketika ia approve permintaan pembelian yang saya buat.

“Ini buat apa?”

“Begini, begini, begini…”

Hanya 5 menit, dengan logika yang oke, dan report yang jelas (tentu include data), disetujuilah permintaan itu.

Begitulah.. Tidak semua isu akan berkembang menjadi masalah kalau dipadamkan segera. Tapi tindakan yang tidak elegan, justru akan menyulut bara api tadi jadi api beneran.

Dan kalau kemudian sudah jadi api, semua sudah kebakaran, mau bilang apa? Apalagi ketika kemudian dibuktikan bahwa seharusnya itu nggak jadi hal besar? Misal kita kepanasan di sauna, itu bukan bermakna di luar ruang sauna itu ada kebakaran kan? Logikanya sih begitu.

Hmmm, macam menggurui kali tulisan ini. Tapi ini beneran refleksi saja, hasil kenang mengenang hari ini. Sekali lagi, bahwa saya kemarin juga habis bikin masalah sendiri, sehingga lantas kehilangan. Kenapa? Ya karena saya mengelola isu yang kecil dengan cara yang salah, jadilah ia api yang besar dan hancur.

Refleksi pribadi saya, ditunjang hasil mengenang hari ini, dan disertai pengamatan. Begitulah, pada akhirnya, semua masalah tidak akan besar jika ditangani dengan cara yang elegan.

Sesederhana itu, tapi sulit banget. Mana saya baru 3 hari yang lalu bertindak tidak elegan. Huhuhuhuhu…

Nggak apa-apa, hidup itu belajar, jadi lebih baik 🙂

Semangat!

Teman Seperjalanan

Masih ingat lagunya Ratu, jaman dua emak-emak cakep itu masih akur?

Begini lagunya:
Aku punya teman (ah.. ah.. ah..)
Teman sepermainan (ah.. ah.. ah..)

Yang kalau direvisi menjadi:
Aku punya teman (uh.. uh.. uh..)
Teman seperjalanan (uh.. uh.. uh..)

Ya kira-kira begitu.

Soal teman seperjalanan ini memang paling mengundang ironi dalam hidup saya. KENAPA? Karena dari berbagai perjalanan yang saya lakoni, baik itu angkutan darat, air, dan udara, nyaris saya tidak pernah seperjalanan sama CEWEK CAKEP! Huhuhu, ini ratapan saya beneran loh.

Dimulai dari perjalanan dengan ALS tahun 1997, Bandung-Bukittinggi. Waktu itu, sekeluarga cuma pesan kursi 5, karena si Daniel masih mungil sehingga bisa masuk bagasi (lebayyy…). Nah, sebagai anak pertama, saya disuruh menduduki kursi ganjil itu. Jadi Bapak sama Mamak sama Dani. Si Beny sama si Cici. Dan saya? Dalam hati, di usia 10 tahun, saya sudah berharap akan bersebelahan dengan cewek cakep. Nyatanya? Emak-emak labil yang pergi seorang diri. Ampun dah.

Hmmm, berikutnya, lama kemudian saya baru berjalan-jalan sendirian lagi. Tahun 2004, ketika jadi orang unyu di bandara Soekarno Hatta karena baru pertama kali naik pesawat dalam keadaan sadar. Dulu pernah tahun 1989, tapi, apalah yang diingat bocah umur 2 tahun? Nggak ada.

Di Batavia Air Padang-Jakarta, lanjut Jakarta-Jogja, saya bersebelahan dengan keluarga yang curang. Lha jelas kursi saya di pinggir jendela, F. Eh, dia dudukin. Dan bodohnya, saya ikutin aja itu. Piye dong, namanya baru pertama kali.

Next, saya melakoni banyak perjalanan sendirian. Ada yang pakai Lodaya ke Bandung seorang diri, balik hari. Dan dua-duanya bersebelahan dengan MAS-MAS.

Dalam rangka pacaran Palembang-Jogja dulu, saya berkali-kali naik pesawat. Dan NGGAK PERNAH sebelahan sama CEWEK CAKEP sama sekali. Entah mungkin saya ini kurang doa atau bagaimana. Pernahnya, dengan MBAH-MBAH yang minta jatah kursi pinggir jendela. Yang bikin menderita kalau di pesawat adalah kalau di PINGGIR JENDELA dan bersebelahan dengan SEPASANG KEKASIH yang bermesraan dengan nikmat. Sumpah, mupeng tiada terkira itu.

Dan itu berlanjut, mulai saya naik Rosalia Indah, Lorena, Ramayana, Bejeu, sampai Muncul ya tetap aja sebelahan sama MAS-MAS. Saya naik Garuda, Lion, Mandala, Batavia, sampai (alm) Adam Air kalau nggak MAS-MAS, BAPAK-BAPAK, atau SEPASANG KEKASIH. Mau naik 121, AO, 122? Kadang malah banyak yang sebelahan *lha wong berdiri*

Jadi begitulah, Tuhan belum menghendaki saya sebelahan sama CEWEK CAKEP. Nggak apa-apa deh.

Dan satu-satunya pengalaman saya soal CEWEK CAKEP adalah waktu penerbangan Batavia dari Palembang ke Jakarta. Itu niatnya mau pacaran di Jogja, tapi dasar mata lelaki. DI SMB II uda liat-liatan sama cewek yang bawa boneka, saya bawa Candy. Sayang nggak sebelahan. Tapi waktu turun di Soekarno-Hatta, ngobrollah kita sedikit. Dannnn…. sayangnya dipisahkan di toilet oleh HIV si cewek tadi. Huffttt.. *lha ini kok malah nyesel ki piye*

Teman seperjalanan yang paling ribut itu pas naik Yoanda Prima, Palembang-Bukittinggi, seorang sales rokok bernama Febli. Sepanjang jalan cerito wae. Padahal kan saya ngantuk. Haduh. Jadi sampai rumah langsung tepar tiada terkira. Bayangkan saja 18 jam itu setengahnya dia cerita sementara saya hmmm.. hmmmm.. doang.

Semoga ke depannya bisa dikasih sekali-kali cewek cakep gitu. Hehehehe…

🙂