All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Jangan Makan Martabak Anaknya Jokowi!

Sesungguhnya saya terpancing trik duo Jokowi Junior yang bermain cuit-cuitan sehingga memancing portal media mainstream untuk memberitakan mereka. Yaelah, twit balas-balasan mah saya sama mantan dulu sering sekali, twit no mentions apalagi–kalau lagi marahan–tapi nggak pernah diliput media. Ya, bedanya sih itu. Kowe ki anak e sopo. Cuit-cuitan mereka pada ujungnya berakhir pada satu titik: martabak.

Sungguh, ini martabak!
Sungguh, ini martabak!

Karena sudah terpancing, maka dengan bijaksana saya akhirnya melajukan si BG nan kece karena ban depan isi nitrogen namun ban belakang isi udara kompresor mamang tambal ban ke Jalan Raden Saleh Raya. Jalan Raden Saleh Raya ini terletak antara Jalan Cikini dan Jalan Kramat Raya. Patokannya, kalau jalan dari Matraman menuju Senen, nanti kira-kira sebelum Bank BNI ada belokan ke kiri. Kalau dari Senen, ya cari lagi Bank BNI besar di kanan jalan, kurang lebih dekat Halte TransJakarta Kramat Sentiong NU.

Mengapa saya sampai ke Jalan Radeh Saleh? Tenang, saya nggak hendak menggugurkan kandungan. Sungguhpun saya buncit, bisa dipastikan isinya lemak semua. Lagipula saya berduaan sama teman saya, laki. Lakinya orang, pula. Jadi, saya sampai ke Jalan Raden Saleh itu untuk mencicipi martabak yang trending sekali pekan kemaren itu, ya karena cuitan Gibran dan Kaesang. Judulnya Markobar. Dengar-dengar adalah kependekan dari Martabak Kota Barat. Di Jalan Radeh Saleh itu tadi, letaknya di parkiran Hotel Puri Inn, sebuah hotel budget area Cikini. So, jangan makan Markobar kalau kamu-kamu tidak berada di Jakarta, Semarang, Solo, dan Jogja. Soalnya, emang Markobar sejauh ini baru ada di kota-kota itu.

Selengkapnya!

8 Tips Survive di Keramaian AEON Mall BSD City

Sungguh, saya bukan anak mal, saya anak mamak. Bahwasanya saya telah masuk ke mal-mal yang happening di Jakarta dan Bandung semacam Kuningan Indah Plaza dan Bandung City, Istana City dan Gandaria Plaza, hingga Kota Van Java dan Paris Kasablanka, itu lebih karena saya menemani mbak pacar. Bagaimanapun saya sudah mau twenty-nine-my-age-yeah dan kebutuhan akan pacar merangkap calon istri adalah krusial jaya abadi. Ya, sudah, masuk ke mall-pun saya lakoni walaupun tujuan utamanya adalah bangku di bagian sepatu entah di Sogo, Metro, atau H&M. Melihat bangku kosong di sudut-sudut itu, saya sudah bahagia. Memang, bahagia itu sederhana. Ah!

photogrid_1451663227089.jpg

Maka, ketika banyak orang sudah foto-foto, sudah upload-upload, hingga sudah check in di AEON Mall BSD City, saya nggak peduli. Padahal lampu-lampu di AEON Mall itu bagus. Untunglah alay yang hobi selpa-selpi sambil bilang, “suka-suka gue…” itu ada di Jogja. Kalau tidak, mungkin dia bakal nginjek lampu-lampu bagus di AEON, dan begitu ditegur satpam segera bilang, “suka-suka gue, dong!”.

Pada akhirnya, karena temannya mbak pacar yang kerja di Jerman dan lagi mudik pengen main ke AEON, diajaklah si pemburu bangku di sudut Sogo ini. Sekalian hendak kenalan dan diberikan restu, katanya. So, jadilah saya tukang nebeng sejati yang akhirnya berhasil nemplok di AEON Mall.

Selengkapnya!

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 430,000 times in 2015. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 18 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Menginap Asyik di Allium Batam

Batam, sebuah pulau yang punya spesialisasi di Indonesia. Dahulu, kalau masuk dari Batam, kita bisa main-main ke Singapura dengan mudah. Batam juga ternama sebagai tempat barang-barang murah–khususnya elektronik–hingga barang-barang duty free alias bebas pajak. Batam juga tetap menjadi akses yang memadai untuk pergi ke Singapura lewat laut. Batam juga menjadi pulau andalan di provinsi Kepulauan Riau, meskipun bukan ibukota. Polda Kepri saja adanya di Batam, bukan Tanjung Pinang. Heuheu.

Salah satu hotel legendaris yang ada di Batam adalah Hotel Allium. Hmmm, yang legendaris sebenarnya bukan Allium, tapi nama lamanya Hotel Panorama. Nama Allium digunakan saat pergantian kepemilikan, seperti biasa hotel-hotel lainnya. Umur hotel dengan nama Allium ini belum lama, namun wujud ‘lama’ itu jelas tampak ketika kita masuk ke kamar-kamarnya.

sumber: agoda.com

Lokasi Hotel Allium ini berada dekat sekali dengan Nagoya Hills nan legendaris itu. Kalau dari hotel, Nagoya ada di sisi kiri. Jadi belok kirilah, dan jangan belok kanan karena jika belok kanan yang ada adalah pasar kelas menengah ke bawah dengan harga yang juga miring. Jadi boleh dibilang, Hotel Allium ini tidak jauh juga dari tempat-tempat makan yang murah meriah namun tetap enak.

Selengkapnyah klik disinih!

Berhari Minggu di Blok B

Salah satu Dekenat yang paling menarik untuk disudahi dalam #KelilingKAJ karena cakupannya yang singkat dan sangat kota adalah Paroki Blok B. Kenapa? Tentu saja karena posisinya yang lumayan dekat dengan Blok M. Jangan lupa, di Blok M kita dapat menemukan tas, ikat pinggang, dompet, copet, hingga banyak bus kota baik yang mapan maupun yang zombie. Untuk mencapai Gereja Blok B ini, cukup turun dengan kendaraan apapun di Terminal Blok M dan lantas berjalan menembus proyek MRT. Nanti begitu ketemu perempatan belok kanan saja ke arah Taman Ayodya. Nah, lokasi Gereja dapat dilihat dengan mudah disitu. Jalan kaki nggak capek-capek amat kok, lebih lelah menjomblo. #eh

Sama halnya dengan Gereja Santa alias Blok Q, Paroki Blok B ini dibawah asuhan Jesuit. Ya, sebagian Gereja di Jakarta juga dulunya Jesuit, namun dilepas satu-satu ke Diosesan KAJ. Menyisakan beberapa saja yang masih dipegang sendiri sama SJ.

Dari sisi sejarah, sebelum tahun 1950, banyak pegawai gubernemen dan pegawai perusahaan yang ada ketika masa penjajahan Belanda yang tinggal di daerah Kebayoran Baru dengan rumah-rumah permanen. Termasuk juga diantaranya pegawai-pegawai negeri seperti Bapak B.S.Poedjosoekarto, Bapak J. Mardiwarsito, Bapak Soemarno, hingga Bapak Bikis Hadiatmodjo. Perkumpulan orang-orang seiman itu memulai misa kudus pertama tanggal 29 Oktober 1950 pada Hari Raya Kristus Raja dengan dipimpin oleh Pastor J. Awick SJ. Tempatnya? Rumah keluarga Bapak P. Hofland. Ini dia yang menjadi cikal bakal adanya Gereja Katolik di sekitar Kebayoran Baru. Tidak lama kemudian, tanggal 25 Januari 1951 sudah dimulai pencatatan buku baptis perdana. Yakni, (Bapak) Horbert, anak dari Walterus Bernardus van Ginneken. Johanna Antonia Maria Engelbregt. Yang membaptis juga Pastor Awick SJ. Adapun paroki Santo Yohanes Penginjil sendiri diresmikan satu tahun berikutnya, tepatnya 2 Maret 1952. Jadi Gereja Blok B ini tidak termasuk generasi gereja perdana, pun tidak masuk ramai-ramai di era Mgr. Leo namun termasuk jaman yang kalau saya sebut sebagai era antara.

Selengkapnyah klik disinih!

Seandainya Para Relawan Menjadi Anggota DPR

Suatu kali saya mengikuti sebuah kegiatan berbasis kerelawanan, namanya Kelas Inspirasi. Sebuah kegiatan yang merupakan anak dari Gerakan Indonesia Mengajar ini membawa kembali para profesional ke SD, berbagi tentang pekerjaan mereka ke SD-SD yang diusahakan adalah SD dengan kalangan murid menengah ke bawah. Diharapkan dengan kembali ke kelas-kelas, ada inspirasi yang bisa dibagi dengan para anak-anak itu. Suatu kali, diharapkan cita-cita seorang anak bukan lagi sekadar dokter, pilot, polisi, dan pemain bola, namun juga apoteker, design interior, penulis, wartawan, engineer dan lain-lainnya.

Saya ikut 2 kali, KI 2 dan KI Bekasi. Sebenarnya hampir 3. Saya bahkan sudah ikut brainstorming perdana fasilitator KI4 sebelum tetiba surat tugas membawa saya justru ke Ciawi pada Hari Inspirasi berada. Jadilah saya memilih resign, daripada memaksakan diri tetap ikut tapi hilang secara fisik. Ada satu hal yang saya dapati selama mengikuti Kelas Inspirasi–pun beberapa kegiatan kerelawanan lepas yang sempat dan pernah saya ikuti. Hal itu adalah semangat positif. Berada di antara ribuan orang dengan semangat positif itu jujur rasanya berbeda.

Selengkapnya!

Cerita Dari Theresia

Sebenarnya dalam periode perjalanan #KelilingKAJ, Gereja ini termasuk sering saya datangi. Cuma karena dekat dengan bakal kesini-sini lagi juga, kok mulai malas menuliskan, bahkan mengambil foto juga malas. Ini juga kalau Keuskupan Agung Jakarta kagak mendung pekat, saya juga nggak buka laptop dan menulis tentang #KelilingKAJ ke Gereja Theresia ini.

Yes, Gereja di bawah lindungan Santa Theresia ini merupakan salah satu generasi Gereja Katolik pertama di Jakarta. Terletak tidak jauh dari jalan protokol, Thamrin, dan bisa dijangkau dengan TransJakarta, cukup turun di Halte Sarinah lantas berjalan melalui Sarinah ke belakang. Gereja ini ditemukan di sebelah kanan. Kalau lagi jam misa, lebih gampang lagi. Cari saja yang parkiran mobilnya mewah-mewah dua lapis. Ehehe.

Selengkapnya!

[Seri Audit Intern] Pengertian Risiko

Percayalah, di dunia birokrasi nan heroik itu, masih banyak orang yang nggak ngerti arti risiko. Lebih parah lagi ketika ada auditor intern yang tiada mengerti makna risiko. Ini paling gaswat, segaswat kedatangan mantan pada nikahan. Kenapa? Ya, bagaimana mungkin mau memberi saran perbaikan maupun saran pengendalian kalau perihal yang dikendalikan saja tiada paham?

Woke, lanjut materi. Sejatinya banyak definisi para ahli mengenai risiko, semua tergantung disiplin keilmuan dan lingkup keahlian. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 bilang bahwa risiko adalah suatu kejadian yang mungkin terjadi dan apabila terjadi akan memberikan dampak negatif pada pencapaian tujuan instansi pemerintah. Jadi kalau buat jawab pilihan ganda gampang sekali, begitu tidak ada kata-kata instansi pemerintah berarti salah. Ini tips jujur, ya, bukan kayak ada gitu instansi anu yang pas mau ujian auditor ngebooking seluruh bangku di belakang dan bisik-bisik sepanjang ujian. Auditor kok nyontek, gimana kita mau percaya sama hasil auditnya? HUAHAHAHAHAHA.

Selengkapnya!

Hotel di Jogja Area Malioboro? Tentu Feel Neo di Hotel Neo Saja!

Hotel di Jogja area Malioboro sangat dicari, salah satunya ya karena ini adalah Jogja. Jogja yang katanya berhati mantan itu memang sedang dibanjiri oleh hotel-hotel aneka rupa. Sebagian hotel tampak mahal, sebagian murah, sebagian berada di tempat yang beneran pas untuk hotel, sebagian lagi bahkan memakai trotoar sebagai bagian dari hotel. Nah, ketika saya berada di Jogja, keputusan untuk menginap kemudian jatuh di Hotel Neo Malioboro.

11352018_917160671637347_924970697_nAlasan pertama, hotelnya baru. Kedua, kiri-kanan hotel juga, jadi setidaknya ini memang daerah wisata. Ketiga, sebagai hotel di Jogja area Malioboro letaknya otomatis di tengah kota. Yah, walaupun judulnya Neo Malioboro tapi sebenarnya berada di Jalan Pasar Kembang, sih. Keempat, dekat dengan Malioboro. Kelima, dekat dengan tempat dinas. Dan yang bikin menarik sebenarnya adalah warna hitamnya.

Dinas ke Jogja mungkin sepanjang karier cuma sekali ini, maka saya tiba di Jogja pagi-pagi, first flight dari Jakarta. Sesampainya di hotel tentu saja belum jam check in, namun untungnya kebijakan di Hotel Neo ini baik sehingga saya bisa menitipkan gembolan sebesar kenangan tanpa khawatir kehilangan di hotel di Jogja area Malioboro ini. Sebagai gambaran, saya menitipkan laptop segala. Jadi keamanannya bolehlah. Oh, ada yang unik begitu pertama kali menjejak Hotel Neo. Resepsionisnya! Yang Mbak-Mbak memakai wig putih, yang Mas-Mas memakai topi-saya-bundar-bundar-topi-saya. Lumayan kerenlah.

Selengkapnya!

6 Alasan Anak Paduan Suara Mahasiswa Adalah Jodoh Yang Tepat

Ealah. Hari gini kok ya masih ngomongin jodoh? Seumur saya sudah waktunya ngomong pelunasan apartemen, padahal. Ya mau bagaimana lagi, posting paling top dan selalu trending di blog ini ya tanda-tanda jodoh. Hal itu membuat saya yakin bahwa sampai saat ini banyak yang mencari jodoh via Google. Nah, berhubung salah satu posting yang juga viral dari blog ini adalah tentang paduan suara mahasiswa, kenapa tidak menggabungkan keduanya? Jodoh yang adalah anak paduan suara mahasiswa. Keren, kan? Makanya, simak nih alasan-alasan penting bahwa anak paduan suara mahasiswa itu memang adalah jodoh yang tepat. Sambil menyimak, boleh loh mengunduh buku saya yang judulnya OOM ALFA di Playstore. Heuheuheu.

1025828_10201405936087281_936451288_o

1. Suaranya (Pada Umumnya) Bagus

Oke, saya mungkin bisa dikecualikan. Suara saya nggak bagus, suara saya bas, nggak pakai ‘gu’. Ya, tahulah bahwa punya pasangan bersuara bagus itu punya nilai positif untuk kebahagiaan. Untuk jangka panjang, bisa diharapkan menurunkan gen anak yang bisa menyanyi, sehingga nanti kalau lomba di sekolah nggak malu-maluin. Dalam jangka pendek, kalau cewek punya cowok anak paduan suara, bisa minta dinyanyikan lagu romantis. Ehm, yang begini agak susah, sih. Namanya juga paduan suara mahasiswa, biasa nyanyi bareng-bareng, kalau nyanyi sendiri hampa. Oke, ini ngeles. Suara yang bagus itu pula yang dapat menjadi kebanggaan kita kalau-kalau nanti si pacar atau suami atau istri didaulat menyanyikan lagu Dewa di kawinan, “Ingin kubunuh pacarmuuu….”

Selengkapnya, klik disini!