Sebuah Perjalanan Yang Amat Panjang

Perjalanan itu tentang dua tempat dan sebuah jarak yang memisahkan

1997.

Saya berumur 10 tahun lewat setengah ketika sebuah informasi dari orang tua segera menaikkan energi eksitasi saya sampai puncak. Ya, sebuah perjalanan panjang yang jamak disebut mudik akan saya lakoni, tentunya bersama keluarga. Mudik yang tidak sembarangan karena menyangkut jarak ribuan kilometer antara Bukittinggi dan Jogjakarta. Hal ini menjadi sebuah kejadian besar terutama jika mengingat milestones keluarga ini.

1986, kedua orang tua saya menikah.
1987, saya lahir.
1988, adik saya lahir.
1989, perjalanan mudik ke Jogja yang pertama.
1990, adik saya lahir.
1995, ompung (nenek dari Mamak) meninggal.
1995, adik saya lahir.

Apakah yang terlihat dari milestones itu? Ya, sejak Bapak dan Mamak menikah, sesuatu yang berjudul “mudik ke Jogja” itu baru terlakoni satu, ya satu kali saja. Itu ketika saya berumur 2 tahun. Bahkan saya hanya ingat secuil cerita dari perjalanan yang tampaknya seru itu. Sungguh seru karena saya melihat diri saya ada di Candi Borobudur, saya mendapat cerita bahwa saya masuk Pekan Raya Jakarta, dan yang paling penting saya diberi tahu bahwa saya pernah naik pesawat.

Sejak tahun itu, keluarga kami bertambah besar, dan tidak pernah pulang lagi ke Jogja. Jadi jelas, kedua adik saya yang lahir sesudah 1989, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke kampung halaman Bapak saya.

Durasi waktu tidak mudik yang teramat panjang, ditambah heroisme bertajuk “berlibur ke rumah nenek”, plus rasa ingin tahu terhadap tempat bernama Jogja menjadi sedemikian lengkap dengan agenda utama. Sesuai umur saya yang sudah 10 tahun, saya akan segera melakoni hal yang menjadi wajib untuk orang Jawa: sunat.

Segala hal dipersiapkan oleh orang tua saya. Ini mudik massal, melibatkan enam orang. Dua orang tua akan membawa 4 anak yang notabene masih kecil-kecil. Saya yang paling tua saja masih berumur 10 tahun. Adik saya yang paling kecil bahkan baru lewat ulang tahun yang ke-2. Saya sudah merasa ini tidak akan mudah.

Dan bukanlah jatah anak usia 10 tahun untuk mempertanyakan rute dan bekal perjalanan. Semua sudah menjadi tanggungan orang tua saya. Semua baju dan segala kelengkapan lainnya juga. Dan kebetulan, kami adalah anak-anak yang sangat penurut sehingga bahkan tidak terpikir sedikitpun untuk (misalnya) membawa mainan kami dalam perjalanan yang akan sangat panjang ini. Dua buah tas besar-besar berisi pakaian dan kelengkapan lainnya, ditambah dengan sebuah keranjang hijau yang penuh dengan makanan, plus beberapa kardus oleh-oleh sudah siap pada malam sebelum kami berangkat.

Pagi hari tiba!

Anak-anak tidak berpikir panjang soal perjalanan. Ya, meski saya sudah mengenal Geografi dari 1 tahun sebelumnya, saya tidak benar-benar paham bahwa perjalanan yang akan kami tempuh ini jauhnya minta ampun. Yang saya tahu, kami akan berlibur di sebuah kota bernama Jogja. Titik.

Senyum masih merekah di bibir kami, anak-anak kecil yang belum tahu banyak. Keluarga saya mencarter sebuah angkutan kota ternama di kota Bukittinggi bernama Mersi. Ini tentu bukan Mersi yang berasal dari Mercedes Benz. Ini hanyalah angkutan kota yang dimiliki oleh koperasi bernama Merapi-Singgalang. Nama yang diambil dari dua buah gunung yang mengitari kota mungil tempat kelahiran saya itu. Merapi dan Singgalang itulah yang kemudian disingkat menjadi Mersi.

Ketika Mersi carteran sampai di pool bis Gumarang Jaya di daerah Jambu Air, saya dan adik-adik turun dengan riang. Sebuah bis besar warna kombinasi hitam, merah, dan putih sudah berdiri gagah di parkiran tempat yang cukup luas itu. Akan tetapi, karena belum waktunya berangkat, maka saya dan keluarga hanya duduk-duduk di tempat yang sudah disediakan. Tentunya bersama penumpang lainnya. Dan tentu saja, tidak ada penumpang lain yang komponen rombongannya seperti keluarga kami.

Mamak dengan sigap sudah menyiapkan perkakas anti mabuk. Salonpas sudah menempel di pusar kami masing-masing sedari rumah tadi. Dan kini sebungkus obat anti mabuk paling ternama se-Indonesia sudah siap masuk ke mulut bocah-bocah dengan naluri liburan membuncah ini.

Ketika setengah tablet obat berisi Dimenhidrinat itu masuk ke perut kami, tepat ketika panggilan untuk masuk bis muncul. Bis dengan formasi duduk 2-3, dengan sebuah jendela geser. Ah! Waktu itu saya tidak pernah berpikir soal kelas bis. Di kemudian hari baru saya kenali bahwa bis itu adalah kelas terbawah dalam stratifikasi bis lintas Sumatera.

Tentu saja demikian, terbawah. Nanti saya ceritakan penyebab utamanya.

Ini bukan pertama kalinya saya naik bis karena sebelumnya beberapa kali naik ANS atau NPM untuk rute Bukittinggi-Padang. Akan tetapi seluruh perjalanan itu dilakukan dalam rombongan. Artinya, baru kali ini saya menaiki bus dalam konteksnya sebagai angkutan umum, bukan sewaan rombongan.

Perjalanan di Sumatera, manapun, akan banyak diwarnai oleh jalan menanjak-menurun-berkelok. Saya berani bilang begitu setelah menikmati enak dan lurusnya Pantura, belasan tahun kemudian. Eksitasi untuk sampai tujuan masih tinggi ketika bis lepas landas dari pool.

Dan perlahan, itu sirna.

Belum tiga jam ketika muka-muka riang kami berubah menjadi kantuk yang berat. Saya bahkan terlelap ketika bis dengan lugas melibas setiap tikungan ketika menyisir Danau Singkarak. Mamak mulai mengeluarkan satu per satu perbekalan guna menambal lapar yang mulai terasa dalam perjalanan ini.

Tidak ada lagi senyum ketika sesekali kami terbangun. Ini belum seberapa jauh dan bocah-bocah kecil yang tadinya bersemangat tinggi sudah menjadi bocah yang sebenarnya, lelah dan mengantuk.

Saya duduk di sisi kiri bis, bagian depan, persis di dekat pintu masuk. Maka saya punya dua sudut pandang. Depan dan samping kiri. Kepala lelah saya mulai bersandar ke dinding bis dan kemudian asyik terpaku pada deretan benda yang dilewati. Mulai dari pohon, rumah, restoran, pasar, dan lainnya. Mulai dari tempat yang penuh manusia hingga tempat yang bahkan tidak ada manusia yang tampak sama sekali.

Saya mulai menikmati perjalanan ini.

“Tuh, Bang. Masih berapa kilo?” tunjuk Bapak ke sebuah benda kuning yang tampak di sebelah kiri jalan. Sebuah benda berwujud tiang kecil dengan tiga sisi yang bertuliskan huruf dan angka. Satu tiang kecil itu lewat saja ketika Bapak selesai menunjuk.

“Apa toh Pak?”

“Nanti lihat lagi.”

Saya setia menanti, dan syukurlah tidak lama. Benda yang sama kembali terlihat. Saya mulai mengenali benda itu. Benar ada tiga sisi disana. Dari sudut pandang saya melihat, saya bisa membaca sebuah rangkaian tiga huruf di bagian atas dan deretan angka persis di bawahnya. Profil serupa saya dapati ketika bis besar ini persis melewati benda itu. Dan bentuk serupa saya intip sekilas ketika bis sudah melewati benda itu.

Benda itu berlalu lagi, dan saya menanti lagi.

Ah! Saya mulai mendapati polanya. Angka yang tampak dari sisi bis ini melaju berkurang 1 setiap kali melewati benda kuning itu. Pastilah itu penunjuk arah. Dan 3 huruf di atasnya baru saya pahami ketika mencocokkan gapura yang saya lihat dengan tiga huruf di benda itu.

Ya, saya berhasil menyimpulkan bahwa Sawah Lunto masih berjarak 20 kilometer lagi, setelah mengamati lebih dari sebelas benda kuning itu.

Angka inilah yang memperkenalkan saya pada jarak. Bahwa dalam setiap putaran roda bis ini, ada sebuah jarak yang dibunuh dan sebuah perjalanan akan segera sampai tujuan. Ya, jarak hanya akan mati jika ia dilalui. Tidak ada gunanya diam dalam sebuah perjalanan, kecuali untuk merenunginya.

Bis itu akhirnya berhenti di sebuah restoran. Seluruh penumpang turun, demikian pula keluarga kami. Saya menoleh sedikit ke belakang dan menemukan ada orang yang berdiri, lalu membereskan papan tempatnya duduk, meletakkannya di pinggiran kursi, lalu berjalan ke arah luar.

Saya mulai paham kelas kendaraan ini. Dua buah kursi yang ada di bagian gang menjadi landasan untuk sebuah papan, dan ada orang duduk disana. Ternyata ini yang namanya bangku tembak. Dan tidak hanya satu orang yang berlaku demikian. Well, saya yang duduk manis di kursi saja sudah cukup lelah, bagaimana dengan mereka?

Inilah konsekuensi naik bis ekonomi.

Restoran ini ternyata juga menjadi tempat istirahat banyak bis lainnya. Tidak hanya arah Padang-Jakarta, tapi juga sebaliknya. Maka saya melihat ratusan orang dengan aktivitasnya masing-masing.

Seorang ibu yang bergegas muntah persis di sebelah bis, segera sesudah ia menginjakkan kaki ke tanah. Seorang anak yang menangis–tampak baru selesai muntah juga. Banyak ornag yang berdiri sambil merokok. Orang-orang yang sibuk ber-wudhu. Orang-orang yang setengah berlari menuju toilet. Semuanya melengkapi kehadiran manusia-manusia yang tampak sangat nyaman setelah membasuh muka, yang tampak puas sesudah menyantap sepiring nasi berikut lauknya, yang tampak sumringah karena sudah semakin dekat dengan tujuan.

Manusia-manusia itu adalah bagian dari perjalanan, bagian dari penakluk jarak. Makhluk hidup yang hendak berpindah, melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuannya. Dan semuanya menyikapi situasi dengan berbeda.

Saya mengamati itu dengan otak saya yang masih kecil. Saya adalah pengamat murni sedari kecil. Saya adalah anak kecil yang hafal 11 nama pemain Inter Milan hanya dengan sekali menyaksikan pertandingan Inter vs Bologna di tahun 1995. Saya mengamati dan menyimpan itu di dalam otak saya. Itulah sebabnya saya orang yang sangat jarang bertanya.

Keluarga kami lantas memasuki restoran. Mamak sudah membawa nasi yang cukup untuk 1-2 kali makan keluarga. Yang kami butuhkan hanya lauk dan sayur. Dan orang tua saya mengajari tips hemat makan di restoran Padang, utamanya dalam perjalanan.

Ya, Mamak mengambil piring kecil berisi cancang (daging yang diolah dengan bumbu khas dan tentunya santan) dan membagi rata ke seluruh anggota keluarga. Ya, sepiring itu saja. Kami bahkan tidak diperkenankan menyentuh dua potong ayam goreng yang terkapar manis menggoda di sebelah piring cancang itu.

Tidak ada pula memesan minuman sejenis es teh, apalagi es campur. Yang diminum hanya air putih yang merupakan paket dari sepaket nasi dan lauk yang disediakan.

Konsep restoran Padang di jalur bis memang sama dengan kebanyakan. Ketika pelanggan masuk, meja kosong. Sejurus kemudian, dengan atraksi membawa banyak piring dalam 1 kali perjalanan, pelayan akan meletakkan berbagai macam lauk pauk di atas meja. Pelayan lain akan datang membawa nasi, dan pelayanan lainnya lagi meletakkan segelas air putih dan semangkok kecil air pencuci tangan.

Nah, masalahnya, di kebanyakan tempat, perhitungannya agak rumit. Ya, misalkan seorang pelanggan mengambil 1 dari 2 potong ayam yang ada, berikut cancang, maka ia harus membayar 2 potong ayam dan 1 piring cancang. Kenapa? Karena yang dihitung buat jumlahnya, tapi piringnya. Ketika ada piring yang berkurang isinya, itulah yang dibayar.

Sebuah fakta akhir 1990-an yang saya pahami sendiri dalam perjalanan lain berikutnya.

Setelah kira-kira 1 jam bergelut dalam cuaca panas terik, akhirnya para penumpang kembali diminta masuk ke bis via panggilan yang dilakukan dengan microphone. Itulah sebabnya nomor bis harus menjadi acuan penumpang untuk setiap perjalanan jauh yang butuh istirahat makan, karena personil restoran hanya akan menyebut merk bis dan nomor lambungnya. Sebuah masalah ketika ada 10 bis dengan merk yang warna yang sama ada di tempat yang sama pula.

Tebak lanjutan perjalanan ini?

Tentu saja! Tidur panjang!

Saya sesekali terbangun dan melihat deretan pohon lewat, lalu tidur lagi. Berulang-ulang demikian hingga kemudian saya melihat langit mulai gelap. Dalam situasi yang mulai temaram saya mengintip ke arah luar dan mencari-cari papan nama yang mungkin ada.

Dan saya temukan itu. Ini sudah di JAMBI.

Perjalanan malam, apalagi dalam posisi saya duduk sungguh merupakan sebuah nuansa baru. Saya menyaksikan dengan jelas lampu-lampu besar dari arah berlawanan. Yah, ini jalan lintas propinsi, sesuatu yang di pelajaran Geografi saya kenal sebagai Jalan Lintas Sumatera. Saya tidak sedang ada di peta, saya sedang melaluinya. Itu yang ada di benak saya, tidak ada yang lain.

Perhentian kedua dilakukan di Jambi. Hari sudah malam dan penumpang sudah semakin lusuh bentuknya. Terang saja, keringat dan lelah menjadi perpaduan yang cocok di bis ini. Orang-orang yang pagi tadi cantik dan tampan sekarang bentuknya serupa, lusuh. Tentu saja termasuk saya.

Meski di Jambi, tapi tetap saja yang disambangi adalah restoran dengan menu Padang. Ini juga fakta lain yang baru saya ketahui. Ya, di sepanjang Jalan Lintas Sumatera ada banyak restoran yang sama, dan rerata bis akan mampir di restoran jenis ini. Semuanya telah menyediakan fasilitas toilet dan mushala. Meski memang terkadang tidak manusiawi.

Tidak manusiawi?

Seperti yang saya dapati di Jambi, entah kota mana ini. Saya harus buang air kecil di tempat beratapkan langit di sebuah tempat yang tidak berair. Hanya sebuah semen berlubang dan, ehm, lubang itu langsung menuju sungai yang memang terdengar mengalir deras dari tempat saya buang air kecil. Tapi siapa yang peduli tempat kalau memang sudah kebelet? Bahkan di rimbunnya dedaunan-pun hal ini bisa dilakukan.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sudah malam pula, saatnya anak kecil untuk tidur. Tapi sebelum saya masuk ke alam mimpi penuh goncangan itu, saya diberi tahu untuk menutup gorden jendela. Saya melakoninya tanpa tahu alasan yang pasti.

Tidur saya tentu tidak cukup pulas. Anak kecil yang biasanya lelap di ranjang harus tidur sambil duduk, dan sungguh saya tidak terbiasa dengan ini. Maka saya pun kadang terbangun. Dan dalam satu sesi terbangun, saya melihat kondektur meminta seorang penumpang untuk merapikan gorden hingga menutup sempurna.

“Lahat-Lubuk Linggau.”

Itu yang terdengar oleh saya, masih tanpa mengerti maknanya.

Dan saya melanjutkan lelap hingga subuh, saya mengintip ke jendela dan menyaksikan bahwa saya sudah berada di Palembang.

“Untung lancar tadi ya,” ujar kondektur kepada supir yang membawa bis ini melaju.

Dan saya juga belum mengerti makna dari gorden menutup, Lahat-Lubuk Linggau, dan lancar. Ini bak misteri yang meminta dipecahkan.

Ketika matahari akhirnya meninggi kembali, bis ini akhirnya berhenti. Dan tahu-tahu ini sudah di Lampung. Waw! Kami sudah hampir sampai di ujung Sumatera. Pantat saya sudah cukup lelah untuk terus-terusan duduk sedari kemarin pagi. Tapi saya tidak bisa melakukan apapun selain, ya, tetap duduk.

Terang membantu saya melihat pagar khas orang Lampung. Hampir setiap rumah di pinggir jalan itu memakai gapura dengan “kepala” yang sama. Dengan tulisan “bertapis” di sebelah kiri. Awalnya saya mengira kata kedua yang ada di sebelah kanan akan sama. Tapi menjadi tidak ketika sudah memasuki daerah Lampung Tengah. Gapuranya sama, tulisan “bertapis” juga sama, tapi gapura kanan memuat kata yang berbeda. Saya mencoba mencernanya sebagai sebuah slogan kabupaten.

Siang hari yang terik, bis berhenti di sebuah tempat yang tampak seperti bukan restoran. Ya, ini mungkin pool bis area Lampung karena ada banyak teknisi disini. Kami pun hanya makan di tempat yang lebih mirip kantin alih-alih restoran. Bis besar yang kami tumpangi mendapat perawatan di tempat ini, dan durasinya lumayan lama. Ditunjang cuaca Lampung yang panas bukan main (ingat, kami dari Bukittinggi yang dingin bukan main), lengkaplah sudah rasa malas yang membuncah.

Bahkan dalam waktu 24 jam, sesuatu yang membuncah dari dalam diri sudah bisa berbeda.

Perjalanan dilanjutkan kembali dan saya mulai merasakan hawa penyeberangan. Kenapa? Karena di sepanjang jalan, saya menemukan berbagai tulisan “persewaan kapal”. Dan lebih menggelitik lagi ketika nama-nama persewaan kapal itu malah semacam membentuk trivia suku Batak. Ya, di sini adalah persewaan “Pasaribu”, tidak jauh ada persewaan “Situmorang”, dan berbagai marga Batak lainnya.

Saya, yang setengah Batak, tersenyum simpul melihat itu. Mamak saya, yang asli Batak, malah ketawa melihat deretan papan nama marga di sepanjang jalanan itu.

Persis ketika matahari ada di atas kepala, sampailah bis di sebuah tempat yang bernama Bakauheni. Syukur tersirat dalam hati ketika sampai di tempat ini. Sebuah perjalanan yang terhitung sangat lancar karena bisa sampai di Bakauheni tepat tengah hari. Dua puluh tujuh jam dari keberangkatan di Bukittinggi. Waw, lama sekali!

Ehm, dan nyatanya sebuah perjalanan tidaklah semudah yang barusan dilalui. Kita tidak pernah tahu hal yang ada di depan mata. Dan itu yang saya dapatkan, persis ketika memasuki kapal. Sebuah langkah menuju pulau seberang.

Ya, pada mudik edisi pertama, saya memang pernah naik kapal. Bahkan kapal yang jauh lebih besar dari sekadar kapal penyeberangan Selat Sunda. Tahun 1989 itu perjalanannya melalui pelabuhan Teluk Bayur nan kesohor dengan lagu galaunya. Menyusuri pantai barat Sumatera dan berlabuh di Tanjung Priok. Masalahnya, saya sama sekali tidak sadar soal pengalaman itu. Siapa pula yang hendak merekam memori sedemikian baik di usia 2 tahun?

Panas terik sekali di Bakauheni hari itu. Tentu saja, ini pertengahan tahun, saat memang sedang panas-panasnya. Pedagang dengan berbagai macam bawaan silih berganti naik ke bis yang saya naiki. Sebagai orang yang duduknya paling depan sendiri, tentu mengamati hal itu dengan sangat jelas.

Bis bergerak sangat perlahan, dan secara perlahan pula saya mulai merasakan perih di mata. Ah! Ini pasti kelakuan dan perbuatan dari asap knalpot setiap kendaraan yang ada di antrian. Bis-bis besar, dan sebagian lagi mobil pribadi berkumpul di satu tempat, semuanya dalam posisi menyala dan otomatis mengeluarkan gas buangnya masing-masing. Saya mulai ‘menangis’ dengan kondisi ini. Suatu tangisan yang terjadi bukan karena perasaan, tapi sebenar-benarnya faktor fisik.

Penderitaan dan tangisan itu akhirnya berakhir ketika seluruh penumpang bis diminta turun untuk naik ke kapal berwarna putih yang dengan gagahnya mengambang di lautan. Mata mulai berhenti mengeluarkan air dan yang terasa kemudian adalah hembusan kencang angin pelabuhan.

Saya dan keluarga sampai di sebuah tempat penuh kursi. Ya, itulah tempat penumpang bis akan duduk di kapal sepanjang perjalanan ke Pulau Jawa. Sebuah kursi putih segera saya duduki dan belum ada perasaan apapun. Tentu saja, heroisme ‘berlibur ke rumah nenek’ masih terpatri jelas di dalam otak.

Ada sekitar 10 menit saya duduk diam mengamati suasana, sambil sesekali menikmati sisa-sisa makanan yang dibawa oleh orang tua saya dalam keranjang hijau andalan. Tentulah tinggal sisa karena sudah lebih dari 24 jam kami meninggalkan rumah untuk sebuah perjalanan yang nyata-nyata sangat panjang ini. Saya tetap duduk hingga kemudian suara sirene terdengar. Hmm, agaknya kapal ini hendak berangkat.

Dan dimulailah sebuah derita perjalanan.

Sesungguhnya saya tangguh di darat. Sudah terbukti dalam perjalanan dari rumah ke Bakauheni, saya tidak muntah sama sekali. Ya, saya tidak mabuk dalam perjalanan darat. Goyangan jalanan bisa ditutupi oleh hijaunya sawah atau rindang pepohonan yang tampak di sisi kanan-kiri jalan. Dan celakanya, saya tidak setangguh itu di lautan.

Lantai kapal yang saya duduki mulai bergoyang. Sebuah mekanisme yang sangat bisa dijelaskan secara fisika mengingat benda yang saya naiki mengambang di perairan. Ini tentu saja sama dengan kapal-kapalan kertas yang saya ambangkan di atas Tambuo. Juga sama dengan bungkus kacang koro yang saya ambangkan di bandar (selokan gede dalam terminologi Minang) dan saya ikuti perjalanannya sambil pulang sekolah. Ya, sama persis. Hanya kali ini saya ada di benda yang mengambang itu.

Anggap saja ini pelajaran hidup. Ada masanya kita melakoni suatu peristiwa yang sering kita lihat sebagai hal yang sepele. Dan nyatanya itu tidaklah cukup sepele.

Dan goyangan itu perlahan sampai ke otak saya. Lebih lanjut lagi, otak saya tidak merespon dengan baik. Maka, terjadilah. Kepala saya mulai pusing, perut bergolak, dan isi di dalamnya nyaris saja keluar. Saya menahan diri dengan duduk diam dan menyandarkan kepala ke kursi yang ada di depan. Sementara dua adik saya yang lain dengan lincahnya beredar di sekitar ruangan kapal. Sesekali bahkan ke luar ruangan.

Ya, saya tidak terbiasa dengan suasana ini.

Lagipula tidak ada pengalih perhatian yang benar-benar asyik. Kalau di darat, saya bisa melihat kiri kanan dengan warna yang berbeda. Kalau memang sudah mentok banget, saya akan menghitung mundur benda kuning yang memuat angka kilometer terhadap tujuan terdekat. Kalau di laut?

Yang saya lihat ya cuma air, warna biru. Tidak ada yang lain. Walaupun demikian, saya tetap mencoba untuk melangkahkan kaki dan berdiri di pinggir kapal. Angin laut bertiup kencang sekali, tapi saya coba melawan guna mencari pengalih fokus. Satu hal yang disyukuri adalah karena ini musim kemarau. Maka laut biru yang terhampar luas ini sedang tenang-tenang saja. Ya, betul-betul tenang. Sekali kesempatan saya mengintip ke bagian bawah kapal dan yang saya lihat hanyalah hempasan air di lambung kapal.

Tidak ada benda kuning yang bisa saya hitung di lautan ini. Jadi saya hanya mengamati arah depan dan berharap akan tampak daratan dengan segera. Persislah kalau manusia dapat masalah, inginnya segera ada solusi di depan mata. Meski nyata-nyata tidak selalu akan begitu.

Akan tetapi, penantian selalu akan membuahkan hasil. Kapal ini pasti akan sampai. Dan ketika sudah hampir 1 jam saya melongo memandang laut lepas akhirnya tampak daratan. Secuil. Kecil sekali.

“Itu Bang, Merak,” kata Bapak.

Sebuah pernyataan yang cukup melegakan hati. Ya, setidaknya derita sepanjang perjalanan ini akan segera berakhir di tempat yang secuil itu tadi.

Mendadak waktu menjadi terasa amat sangat lama sekali.

Saya terus-terusan melihat daratan itu dan tetap saja kecil. Penambahan ukurannya tidak signifikan. Bahkan kapal malah berjalan ke arah yang tampaknya lain, semacam menjauhi daratan tersebut. Saya sudah semakin pusing dan akhirnya memilih untuk kembali duduk. Berharap perjalanan penuh goyangan ini segera berakhir. Kalau tidak, target saya untuk tidak muntah sepanjang perjalanan ‘berlibur ke rumah nenek’ ini tidak akan tercapai.

Duduk sambil menyanggakan kepala di kursi putih yang ada di depan. Itu saja yang saya lakukan. Kepala ini rasanya sudah sangat berat. Well, sebuah kondisi yang mungkin sangat biasa untuk bocah berusia 10 tahun dengan riwayat imunitas rendah. Ya, saya termasuk anak lemah. Saya bahkan satu-satunya anak di keluarga ini yang pernah menderita step. Suatu kondisi panas tinggi yang sampai membuat bola mata yang berwarna hitam tidak kelihatan lagi. Suatu keadaan antara hidup dan mati. Dan syukurlah, saya masih bisa hidup. Mengingat kejadian sekitar 9 tahun silam itu sesungguhnya memberi makna lebih untuk hidup. Saya masih bisa bertahan meski dengan fisik yang lemah. Bukankah bertahan itu jauh lebih penting? Lemah masih bisa diperkuat bukan?

Keramaian mulai tampak ketika penumpang-penumpang mulai mengemasi barang bawaan masing-masing dan bersiap turun ke dek terbawah, tempat kendaraan terparkir. Ramai sekali. Dan sesungguhnya hal itu membuat kepala pusing ini jadi bertambah pusing. Tapi, ya sudahlah. Perjalanan kan harus dilanjutkan.

Saya ikutan turun. Anak usia 10 tahun harus taat dan patuh pada orang tua. Maka, saya meniti tangga satu per satu untuk kemudian sampai di tempat yang luas sekali, di dek terbawah. Banyak kendaraan besar terparkir di tempat ini. Satu hal yang langsung terbayangkan adalah kalau sampai kapal ini tenggelam, maka bis dan truk ini adalah yang pertama sampai ke dasar laut. Ngeri.

Sambil berjalan di antara bis-bis dan truk-truk, saya mendengar deru perlahan. Hmm, seluruh kendaraan ini sedang dalam posisi menyala. Saya sempat terpikir sesuatu, tapi segera lewat begitu saya menoleh ke sebuah jendela kecil di dinding kapal.

Biru, bergoyang. Itu air laut. Dan saya sangat dekat dengan air laut.

Yak, persis di bawah saya adalah air laut. Segera, bayang-bayang tenggelam kembali mengemuka dalam benak saya. Entahlah, saya selalu berpikir negatif terlebih dahulu alih-alih berpikir tentang kesenangan.

Dalam ketakutan yang mendadak muncul, kedua bola mata yang sempat jadi kasus 9 tahun lalu ini kembali terasa perih. Nafas saya juga mulai terasa sesak. Tubuh kecil saya masih sangat dekat dengan knalpot dan asapnya begitu perkasa keluar menyergap orang-orang yang ada di dek ini.

Mungkin tidak ada yang peduli, atau mungkin sudah sangat terbiasa. Tapi nyaris tidak ada orang yang mempermasalahkan keadaan ini selain tiga anak kecil di bis bagian depan. Saya dan adik-adik mengeluh mata pedih pada orang tua kami. Adik saya mungkin masih terlalu kecil. Ehm, ternyata tidak, dia tidur. Pantas saja.

Derita ini belum berakhir juga ternyata. Saya menahan nafas yang sudah sangat jelas berbau asap knalpot. Mata perih. Bis ini bis kelas ekonomi pula. Kalaulah jendela saya tutup, jendela yang lain masih memberikan ruang untuk asap knalpot masih ke dalam bis. Ya, ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang murah. Jangan pernah abaikan itu.

Ada rasa yang jauh lebih penuh dengan eksitasi daripada sebuah tas baru ketika kenaikan kelas. Rasa yang baru saja saya pahami. Apa itu? Melihat pintu besar kapal di ujung sana terbuka. Cahaya yang perlahan tampak di depan mata itu menandakan harapan yang sangat besar untuk segera lepas dari derita goyang-goyang di kapal plus mata perih ditambah asap yang memenuhi hidup. Ah!

Pak supir menginjak pedal gas dan kopling secara perlahan. Bis ini melaju secara perlahan pula. Sementara kemuakan saya tidak bisa dijadikan perlahan. Saya sudah sangat ingin keluar dari tempat ini. Saya muak, tapi saya diam.

Ya, itulah saya. Dalam kondisi di tempat umum, saya akan tampak sangat penurut. Sejak kecil saya dibiasakan demikian. Saya tidak seperti seorang anak kecil yang menangis meraung-raung karena kebelet pipis di bis yang tidak ada toiletnya. Kalau saya, ya saya tahan. Kalau itu sudah amat sangat parah dan benar-benar tak tertahankan, baru saya bilang. Nyatanya, saya dengan polosnya bertahan sepanjang perjalanan dari Bukittinggi ke Bakauheni.

Roda bis berputar terus, dan pintu terang di depan itu semakin dekat. Air mata semakin deras mengucur, hidung sudah semakin susah bernafas dengan benar. Sebuah harapan sederhana tampak di depan mata. Saya hanya ingin keluar dari kapal ini. Itu saja kok.

Syukurlah, permohonan sederhana itu segera terkabul. Perlahan terang melingkupi dan jelas ini sudah sampai. Ini di Merak, dan itu pertanda, saya sudah berada di Pulau Jawa. Pikiran kecil saya berkata, “Rumah simbah sudah dekat!”

Benar?

Tentu tidak.

Ternyata derita di kapal itu sesungguhnya baru awal. Yah, itu hanya secuil dari derita lain yang muncul kemudian. Dalam perjalanan kami di tanah Jawa. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Advertisements

4 thoughts on “Sebuah Perjalanan Yang Amat Panjang

  1. Pingback: Mencoba Berdamai Dengan Jakarta | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s