Review Film: Soegija

Saya mendengar akan ada film Soegija sudah lama, sejak jaman penggalangan dana. Jujur saya awalnya meragukan Puskat dapat membuat film yang selevel dengan rumah produksi ternama yang biasa bikin film besar. Tapi fakta bahwa ini adalah film beraroma Katolik pertama yang tayang di 21 (yang saya tahu lho), membuat saya merasa harus nonton film ini, di hari pertama.

Kalau di The Avengers saya nonton pertama bener di Cikarang karena cuti, kali ini saya nonton penayangan ketiga dari empat slot. Meski di web Soegija dibilang tidak ada Cikarang, tapi karena saya cek di Cineplex ternyata ada, langsung deh lima kurang seperempat melajukan si BG ke Mall Lippo, nonton Soegija.

Oke baik, kita mulai review sekilasnya.

sumber: article.wn.com

Kisah ini berlatar masa perjuangan, mulai dari Belanda, Jepang, lanjut Sekutu, dan berakhir di masa sekitar KMB di akhir 1940-an. Jadi periodenya 40-an bener. Hmmm, setting awalnya bagus, memperlihatkan Romo naik sepeda unta. Ehm, Romo masa kini, maaf kata, ada yang minta ganti mobil ketika pindah paroki 😦

Kisah bergulir dengan sulit karena tampaknya film ini ingin menonjolkan beberapa kisah sekaligus dengan hubungan yang sekilas. Keluarga Ling-Ling membuat soto, dibawa oleh Mariyem-Maryono ke Romo Kanjeng. Lalu ada pula Robert dan Hendrick di tengah perjalanan itu. Ada lagi Nobozuki. Kisah ini kemudian diselingi oleh munculnya Koster Toegimin bersama Romo Kanjeng. Lalu ada pula Pak Besut. Dan kemudian, dua sosok paling menarik yakni si bocah kuncung dan si tukang gelut. Sebut saja begitu, saya nggak tahu namanya.

Kisah-kisahnya dimulai dan bermuara pada catatan Romo Kanjeng di sebuah halaman, dan rentang kisahnya 2-3 tahun. Hmmm, beberapa baris kata mengantar penonton pada parsial-parsial kemanusiaan yang berbeda, namun muaranya jelas.

Yak, Romo Kanjeng ada di tengah kisah-kisah itu. Romo Kanjeng tidak bertemu dengan Robert dan Hendrick memang, tapi ia selalu ada ketika plot sedang menaikkan Mariyem. Romo Kanjeng juga muncul dengan dialog segar bersama Koster Toegimin. Ia juga muncul dengan Ling-Ling. OOT sedikit, Ling-Ling ini sungguh cacat alias calon cantik. Hehehe..

Yak, pada intinya memang perang itu tidak berguna. Even kemerdekaan pun tidak serta merta berguna karena ternyata kemudian banyak penjarahan. Si bocah tukang gelut mempertanyakan itu. Buat apa merdeka kalau sapi dicuri, ngapain? Sebuah pertanyaan besar hingga masa kini.

Tokoh-tokoh semacam Mariyem-Maryono, Nobozuki, Suwito, Robert dan Hendrick, muncul selang seling hingga terkadang memusingkan. Tapi intinya memang satu, sejatinya perang ini memang tiada gunanya. “Aku juga benci dengan perang ini,” begitu kira-kira kata Hendrick.

Penonton harus memadukan masing-masing kisah, tapi itu dibantu kehadiran Romo Kanjeng dalam slot tertentu yang kemudian membuat itu menjadi kesimpulan. Itu sisi positif film ini.

Dan sungguhpun namanya saja saya nggak ngerti, tapi si kuncung dan si tukang gelut sungguh memberi makna dari film ini. Ketika si kuncung yang dibilang sama Marwoto “anak setan”, dan ikut-ikutan melempari Hendrick di Hotel, hingga pada kenyataan bahwa ia bisa membacaa adalah kesegaran dalam alur yang kadang berat.

Termasuk si tukang gelut. Lakunya kadang membuat emosi, termasuk ketika (sepertinya) membunuh Nobozuki yang sedang bernyanyi dan (sepertinya) juga membunuh Robert yang sedang membacakan surat ibunya, tapi ia adalah warna berbeda. Termasuk kata-kata, “aku saiki iso moco: merdeka!”

Tentunya warna jelas adalah Butet yang tetap segar dalam guyon. Mulai dari bilang Romo Kanjeng hampir mirip Bajak Laut hingga saat curhat jomblo pada Romo Kanjeng.

Overall memang butuh mikir, tapi kesimpulannya jelas, sepenuhnya kemanusiaan. Angkat jempol untuk Garin Nugroho atas film-nya 🙂

Tapi.. Ehm, kritik sedikit boleh kan?

Adegan tembak-tembakan dan dor-doran di depan mata mungkin perlu, tapi ada beberapa yang terlalu ekstrim, termasuk Nobozuki mati. Kalau bisa dipoles seperti caranya Robert mati, mungkin lebih baik.

Dan kritik saya yang paling keras adalah adegan ketika Romo Kanjeng merokok. Ehm, terlepas dari argumen bahwa itu fakta, apakah memang seperlu itu membuat adegan Romo Kanjeng merokok. Saya takutnya, anak-anak yang nonton bilang, “tuh, Romo Kanjeng aja ngerokok lho.”

Okelah merokok bukan dosa, saya hormati, karena saya juga mantan perokok, tapi mungkin bukan wadahnya ketika hampir seluruh orang tua datang ke bioskop bersama buah hatinya. Sayang balutan apik itu terkendala oleh adegan yang menurut saya juga nggak penting-penting amat kalau harus berasap. Tanpa asap juga bisa.

Sungguh, setting Jawa banget dan ada Jogja-nya, membuat saya sepenuhnya kangen. Dialog Jawa yang membuat tertawa, hingga gereja Bintaran benar-benar bikin merindu masa silam. Ah, dasar.

Oya, sepertinya ada adegan di studio Puskat, semoga saya benar. Setidaknya saya dulu pemakai wisma dan studio alam Puskat untuk Makrab. Hahahaha… Dan satu lagi yang keren, sebagai bass sejati, saya sangat suka lagu yang sangat menonjolkan bass, dalam hal ini mari kita bernyanyi, “Kopi susunyaaa… dst..” *minta teks dong*

Angkat jempol! 100% Katolik, 100% Indonesia!

🙂

Advertisements

Santo Alexander

Santo Alexander merupakan uskup dan martir. Alexander merupakan mahasiswa di sekolah Kristen terkenal pada awal 200-an. Ia menjadi uskup  Kapadokia dan selama musim penganiayaan, ia dipenjara pada 204 sampai 211. Sesudah bebas, ia pergi ke Yerusalam dan menjadi uskup pembantu disana. Di Yerusalem, Alexander mengembangkan perpustakaan teologis. Ia ditangkap lagi pada masa Decius, tentunya dipenjara lagi.

Ia mengakui Tuhan Yesus, dan kemudian diserahkan pada hewan buas yang kemudian TIDAK MAU menyerangnya. Alexander lantas dibawa masuk ke Kaisarea tempat ia meninggal dalam balutan rantai pada 251.

Santo Alexander adalah pembesar gereja dengan kelembutan hati. Ia juga teguh dalam iman dan bersedia mati dalam imannya. Ketika kita dikritik oleh teman-teman dan masyarakat untuk ajaran moral Iman, Santo Alexander menjadi contoh untuk kita tentang menghadapi ejekan dan pengucilan.

* * *

Nama yang BERAT.. Tapi saya bangga dengan nama itu 🙂