[Review] Captain America: The Winter Soldier

Jadi beginilah faedah dari demo buruh tahun lalu yang berhasil menggolkan bahwa 1 Mei adalah libur nasional. Pengusaha sih mencak-mencak karena hari kerja kurang 1. Tapi buat eks karyawan yang menjelma menjadi Pegawai Anu Anu kayak saya, libur di 1 Mei adalah berkah. Kenapa? Karena saya bisa pacaran sambil mencicipi mall yang terbilang baru di Bintaro. Namanya bagus, Bintaro Jaya Xchange, tapi disingkat BECENG. Yaelah bro!

Niat mulianya adalah nonton Spiderman karena si pacar pengen nonton Andrew Garfield. Apa daya, 2 studio yang ada disana penuh untuk jam 15.00 dan 15-an lainnya. Ada sih sisa dua biji di depan. Bikin tengeng dan tidak direkomendasikan. Jadilah agenda dialihkan menjadi nonton Captain America. Sebenarnya ini agenda hari Minggu kemaren, yang ketunda karena hujan yang rintik-rintik tapi banyak.

new-captain-america-featurette-puts-the-focus-on-black-widow-watch-now-158334-a-1394521475-470-75

Sejak nonton The Avengers sendirian kayak jomblo, saya memang menjadi tertarik dengan film-film yang berhubungan dengan alur ceritanya. Eh tapi sebenarnya saya jauh lebih tertarik dengan sosok Black Widow alias Natasha Romanoff alias Mbak Scarlett Johannsson. Nah, kenapa saya kemudian memilih nonton Captain America alih-alih Thor, adalah semata-mata karena porsinya Mbak Scarlett. Mengingat di Captain America ini, porsi Black Widow memang besar. Jauh lebih besar dibandingkan The Avengers. Maka, kalau nanti ada film Black Widow, saya pasti nonton.

Oke. Film ini dibuka dengan adegan lari bersama. Entah bagaimana ceritanya Steve Rogers a.k.a Captain America (Chris Evans) bisa ketemu dengan Sam Wilson (Anthony Mackie) dalam agenda lari pagi bersama. Agak bingung juga, sebenarnya mereka ini sudah saling kenal sebelumnya atau tidak. Atau at least apakah Sam sudah tahu kalau teman larinya itu Captain America atau belum. Sesudah agenda lari pagi bersama itu, cerita langsung bergulir cepat ke pembajakan kapal S.H.I.E.L.D dan arahan agar Captain America membebaskan kapal yang katanya dibajak itu. Hmmm, sudah aneh, S.H.I.E.L.D ini kan canggih minta ampun, kenapa bisa dibajak ya?

Nah, ternyata Steve kecewa kepada Nicholas J. Fury (Samuel L. Jackson) karena ada misi yang tidak diketahuinya dalam pembebasan kapal itu. Fury lalu menunjukkan sebuah project kelas wahid bernama Insight. Steve tidak menyukai konsep masif itu dan kemudian galau sendiri. Termasuk pakai acara menggalau di museum Captain America. Ada bagian-bagian disini yang kalau dilihat detail akan menjadi spoiler untuk adegan lanjutan film ini. Aspek-aspek kecil diperhatikan termasuk perihal seorang bocah melihat Steve dan tampaknya tahu kalau Steve adalah Captain America.

Kalau di film-film S.H.I.E.L.D sebelumnya Fury selalu ditampilkan penuh perlindungan, disini kemudian dia diserang habis-habisan. Yang aneh, penyerangnya adalah SWAT. Ada logika yang nggak masuk ketika polisi menyerang S.H.I.E.L.D. Tapi ya namanya juga film. Disinilah kemudian muncul seseorang yang menjadi judul film ini: The Winter Soldier. Awalnya sekilas, tapi kemudian banyak.

Sedikit dialog lucu ketik Fury sedang ditembaki. Dia bertanya pada mobil pintarnya, “jadi apa yang nggak rusak?”. Dia bertanya begitu karena segala fasilitas canggih tidak berfungsi. Eh, si mobil menjawab, “pendingin udara berfungsi baik”.

Buat yang paham pasti ngerti.

Nah, kejadian menjadi begulir cepat disini dan terkadang agak membingungkan, hingga berpuncak pada kenyataan bahwa S.H.I.E.L.D memburu Captain America dan Black Widow. Oya, satu-satunya adegan ciuman di film ini bukan dalam konsep jatuh cinta. Ada juga film dari sono yang tidak mengedepankan adegan ini. Bagus juga.

c4ee2dfe94_94174101_o2

Konsepsi konspirasi akhirnya mengemuka bahwa di dalam S.H.I.E.L.D ini ternyata ada laten bernama HYDRA. Itu loh yang sebelumnya bikin Steve membeku bertahun-tahun. Di film ini kita kemudian ketemu dengan Algoritma Zola dan aneka cerita membingungkan yang sebaiknya disikapi dengan cukup tahu.

Satu karakter jelas yang menonjol dari Steve adalah sifat yang cenderung melankolis. Ada aneka sisi-sisi yang bikin penonton gemas karena dia kebanyakan mellow-nya padahal dia superhero. Apalagi pas bagian yang lucu ketika dia ketemu dengan pacarnya–Peggy–yang tentu saja sudah tua banget. Sementara Steve masih tampan-pothok-menggodaiman begitu.

Tentu saja, pada akhirnya jagoan yang menang, pada saat-saat akhir. Kadang saya heran kenapa superhero itu bisa sedemikian mepetnya melakukan sesuatu dan dalam hitung mundur selalu menyelesaikan tugasnya pada angka 1.

Oya, ada hubungan yang bikin Steve tampak mellow habis ketika berhubungan dengan The Winter Soldier. Nonton saja kalau pengen tahu.

Secara umum, meski digarap oleh sutradara yang bisa dibilang newbie di bidang action, tapi kisahnya menurut saya bagus. Lebih bagus dari Wolferine. Lebih mampu menampilkan logika yang masuk akal tanpa harus bertanya kenapa dan kenapa. Soal Fury yang nggak jadi mati sebenarnya saya sudah tahu soalnya dia kan ada juga di Avengers 2, jadi gimana caranya pasti nggak mati. *eh spoiler*

images

Sama halnya dengan Thor, sebenarnya Captain America ini menampilkan berbagai petunjuk untuk membangun background Avengers 2. Kayaknya sih kalau nggak nonton serial-serial penunjang macam Captain America yang ini plus Iron Man 3, dan juga Thor serta mungkin nanti ada Black Widow, pasti bingung kalau nanti nonton Avengers 2. Apalagi di adegan terakhir semisal Natasha dipanggil ke pengadilan militer, itu beneran petunjuk. Entah untuk Avengers 2 atau untuk Black Widow.

Kalaulah ada kelemahan, sepertinya di beberapa tokoh yang munculnya mendadak. Dalam kasus Steve, Natasha dan Falcon ketangkep lalu tiba-tiba ada teman sendiri di dalam mobil. Mungkin bisa diperlihatkan ke pemirsa barang sekilas dulu sebelumnya. Jadi komentarnya “oh” bukan “loh kok”. Secara umum film ini lemahnya hanya di beberapa detail semacam itu saja. Tapi dalam adegan mau berkelahi di lift-pun, petunjuk itu sudah ada. Jadi maksud saya yang begitu lho.

Oya, satu habitus penonton Indonesia yang menurut saya aneh adalah meninggalkan bioskop pas credit awal. Pada ndeso kayaknya. Padahal kan ini film Marvel yang sudah pasti ada spoiler untuk film selanjutnya. Saya dulu ketinggalan yang Avengers dan sejak itu kalau film Marvel pasti nunggu kredit kelar untuk bisa melihat bagian tersembunyi ini. Please teman-teman, mari mengubah kebiasaan nonton film ya.

Secara umum, film ini layak tonton. Termasuk untuk kalian-kalian yang pengen nonton Spiderman tapi studionya penuh. Gampangnya itu. Okesip.

Salam nggerus!

NB: kalau foto-foto disini malah kebanyakan Mbak Natasha, salahkan dia kenapa cantik! 

Advertisements

2 thoughts on “[Review] Captain America: The Winter Soldier

  1. Pingback: [Review] Cahaya Dari Timur: Beta Maluku | ariesadhar.com

  2. Pingback: 7 Superhero Yang Tidak Bisa Hidup di Jakarta | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s