3 Atlet Bulutangkis Yang Wajib Dibuatkan Film Sesudah Susi Susanti

Dari sekian banyak olahraga yang beredar di Indonesia, harus diakui bahwa bulutangkis adalah olahraga yang konsisten dengan prestasinya sejak dulu kala. Kalaulah ada yang menemani dari sisi penyediaan prestasi tingkat dunia, mungkin angkat besi saja yang bisa. Paling terkenang tentu saja di London tahun 2012 ketika Triyatno meraih perak dan Eko Yuli Irawan bawa pulang perunggu Olimpiade. Pada tahun itu, bulutangkis Indonesia gagal total tanpa medali sama sekali.

Maka tidak heran jika bulutangkis menjadi topik menarik untuk dibuatkan filmnya. Film yang cukup kondang dari ranah bulutangkis adalah ‘KING’ yang begitu diingat pada zaman sekarang karena menampilkan Jonatan Christie dan Kevin Sanjaya cilik.

Begitulah. Indonesia itu sangat bisa bersatu ketika olahraga, kala lawannya adalah negara lain dan bulutangkis adalah salah satu cabang yang bisa menjanjikan kemenangan. Terbukti ketika cebong dan kampret bersatu padu membela negeri di Asian Games 2018. Eh, sekarang cebong sama kampret apa kabar, ya?

Pada 24 Oktober 2019 lalu, giliran film ‘Susi Susanti’ yang tayang. Harus diakui, Susy Susanti—yang benar adalah pakai ‘y’—adalah salah satu nama yang nyaris selalu mewarnai prestasi Indonesia sejak akhir 1980-an. Susy belia memperpanjang nafas Indonesia di Piala Sudirman 1989 setelah menang 12-10 di game kedua atas Lee Young-suk, untuk kemudian menang dengan skor afrika 11-0 di game penentuan. Dua laga selanjutnya direbut Indonesia dan itu adalah pertama kali dan hingga kini satu-satunya momen Indonesia memenangi Piala Sudirman.

Gold Medal Indonesia GIF - Find & Share on GIPHY

Susy juga peraih medali emas perdana Indonesia di kancah Olimpiade sesudah mengalahkan Bang Soo-hyun di final. Alan Budikusuma—suaminya—juga adalah peraih medali emas, tapi rasanya agak berbeda karena yang dilawan di final adalah teman sendiri. Selain itu, Susy juga turut membawa pulang Piala Uber ke Indonesia pada 1994 dan 1996 setelah lama sekali piala itu tidak mampir dan sampai sekarang ya nggak mampir-mampir lagi.

Begitu sekarang jadi perpanjangan tangan Wiranto di lapangan sebagai Kabid Binpres, Susy juga menjadi orang Indonesia pertama yang memegang Piala Suhandinata, sebelum menyerahkannya ke Febriana Dwipuji Kusuma dan Leo Rolly Carnando. Yes, belum lama ini, Susy menjadi manajer tim Indonesia pada Kejuaraan Dunia Junior 2019 yang berlangsung di Kazan.

Dengan begitu harumnya nama Indonesia di kancah bulutangkis, sesungguhnya masih ada deretan atlet lain yang punya potensi untuk dibuatkan film dan punya potensi laris manis di pasaran.

Taufik Hidayat

Kalau Susy meraih medali emas di Olimpiade 1992, maka Taufik Hidayat adalah peraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena. Sejak 1992 dan selain 2012, Indonesia memang selalu meraih satu medali emas dan selalu dari bulutangkis. Taufik remaja mulai dikenal publik sesudah turut serta dalam tim di Asian Games 1998 yang meraih medali emas beregu putra.

Taufik Hidayat Smash 2 GIF | Gfycat

Soal kontroversi untuk dijadikan film, tentu saja Taufik punya banyak kisah. Dengan sederet prestasinya, Taufik yang sangat dikenal dengan backhand mematikan tersebut sempat berada dalam suasana kisruh dengan PBSI antara lain terkait dengan sosok pelatihnya, Mulyo Handoyo. Sampai sekarang hampir berumur 40 tahun dan terjun ke politik, Taufik juga dikenal dengan komentar-komentar pedasnya terutama untuk sektor tunggal putra.

Sebagai sosok bergelimang gelar, tentu saja setiap kritik dari legenda akan jadi pembahasan. Salah satu yang paling dikenang adalah dalam waktu singkat sesudah dikritik Taufik, dua tunggal putra andalan Indonesia, Anthony Ginting dan Jojo langsung bikin all-Indonesian final di Australia.

Dengan segala kontroversi yang melekat tapi tampang yang sangat baik-baik, Iqbaal Ramadhan adalah tokoh yang cocok untuk memerankan Taufik Hidayat.

Hendra Setiawan

Dewa Hendra adalah idaman kita semua dengan seluruh gelar yang sudah diraih dalam dua periode keemasan dan tiga kali keluar Pelatnas Cipayung. Julukan ‘Dewa’ sendiri bahkan diberikan oleh netizen Tiongkok yang sudah terlalu pasrah jika andalan mereka ketemu Hendra di lapangan.

Juara Dunia, Ahsan/Hendra Masih Sulit Samai Catatan 2013
Sumber: CNN Indonesia

Hendra juga sekarang sedang jadi kesayangan netizen pasca dua gelar bergengsi, All England dan Kejuaraan Dunia, pada tahun 2019, berikut lima kali bikin all-Indonesian Final bareng Minions, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang bikin netizen Indonesia bisa selalu jumawa pada tiap kejuaraan.

Film tentang Hendra Setiawan juga dijamin laku seiring kemunculan akun ‘Hendra Setiawan’ di YouTube dengan subscriber sudah puluhan ribu. Belum setara Atta Halilintar, sih, tapi pertambahan subscriber-nya terbilang eksponensial untuk sebuah akun yang foto profilnya saja masih huruf H.

Nama Ernest Prakasa adalah tokoh yang cocok untuk menggarap film ini sekaligus jadi bintang utama. Alasan utamanya adalah Ernest selalu menggarap film dengan konsep berbeda dan biopik sejenis Susi Susanti yang dikerjakan oleh Daniel Mananta belum ada dalam daftar karyanya.

Fitriani

Sejak Susy pensiun dan kemudian disusul pindahnya Mia Audina ke Belanda. Indonesi nyaris tidak punya tunggal putri yang mumpuni. Secara kebetulan pula Fitriani muncul pada saat yang salah, di era netizen dengan komentar tanpa adab.

Fitriani ikut di Piala Uber 2016 dalam usia 18 tahun, langsung jadi tunggal kedua sesudah Maria Febe Kusumastuti. Pada tahun itu dan sebenarnya sampai sekarang, sektor putri Indonesia masih agak bermasalah. Karena adanya cuma Fitri, maka dalam periode sejak 2016 itu hingga munculnya Gregoria Mariska Tunjung, Fitri hampir selalu dikirim ke berbagai kejuaraan internasional dan hampir selalu kalah di putaran pertama atau kedua.

Fitri muncul bersamaan dengan ramainya akun bulutangkis di media sosial sekaligus kelahiran Minions. Jadi, satu rombongan Indonesia ke kejuaraan manapun akan selalu diperhatikan, termasuk ketika nyaris selalu hanya sisa Minions di hari Minggu dengan Fitriani yang selalu kalah di awal.

Kondisi itu bikin Fitriani selalu jadi korban perundungan kejamnya netizen—yang sebenarnya kalau dites bisa servis dengan baik atau tidak ya paling belum tentu bisa. Padahal, ya kondisinya Fitriani dikirim karena yang bisa dikirim memang cuma dia. Dan kalaupun kalah, ya namanya juga atlet muda. Nggak semua atlet muda bisa semoncer Susy Susanti atau An Se-young, atlet remaja Korea yang tahun ini lagi gila-gilanya.

Fitriani baru dapat teman sesama dirundung netizen pasca Jorji naik kelas ke senior. Jorji menjadi lebih seksi untuk dirundung karena dia naik dengan status juara dunia junior tunggal putri dan punya pacar artis. Jorji dalam setahun sukses menyalip Fitriani namun penampilannya cenderung menurun tahun 2019 ini. Sementara itu, Fitriani sempat menghentak netizen julid lewat gelar di Thailand Masters pada awal tahun 2019. Gelar pertama di sektor tunggal putri sesudah sekian purnama.

Resep Fitriani Juarai Thailand Masters 2019 - Ragam Bola.com

Sebelum dibikin film, sebenarnya sinetron azab lebih dahulu bisa dibuat untuk konteks Fitriani. Tentunya jalan ceritanya menyangkut para netizen kejam di komentar-komentar Instagram dan livechat streaming di YouTube. Beberapa usulan saya adalah “Sering Nanya Fitriani Kapan Main, Seorang Netizen Meledak Karena Ditanya Kapan Nikah” atau “Azab Menyuruh Fitriani Ngulek Bawang di Dapur, Seorang Netizen Pingsan Ketiban Ulekan”.

Seriusan, khusus Fitriani, perundungan di linimasa itu sangat kejam. Untungnya, Fitriani sendiri tidak punya media sosial dan sebagaimana testimoni Putri KW, Fitriani adalah atlet senior yang paling rajin saat latihan.

Kalau ada aktris yang bisa dicoba untuk memerankan Fitri, kemungkinan adalah Rina Nose. Pertama-tama tentu karena Rina adalah aktris yang tabah luar biasa dalam menjawab komentar-komentar tidak beradab di media sosialnya.

Segitu dulu. Jangan tanya soal Kevin atau Jojo, yha. Nanti kapan-kapan tentu ada pembahasannya.

[Review] Susi Susanti: Kebingungan Yang Tetap Bikin Terharu

Liburan Tipis-Tipis di Miniapolis AEON Mall BSD Bersama Traveloka Xperience (1)

Per 24 Oktober, film Susi Susanti akhirnya tayang di bioskop. Belum banyak bioskop yang menyediakan lapak, karena masih ada Maleficent yang cukup menyita tempat, plus Perempuan Tanah Jahanam yang ternyata lumayan juga. Di beberapa tempat, posisi film masih dipegang Ajari Aku Islam-nya Roger Danuarta. Di CGV FX Sudirman, Pacific Place, maupun Transmart Cempaka Putih juga belum tayang.

Ya semoga habis ini bertambah.

Film ini murni mengambil kisah Susy Susanti, sosok besar dalam dunia badminton Indonesia. Susy memegang peranan penting dalam kebangkitan badminton putri Indonesia pada masanya, sesuatu yang sampai sekarang masih belum kembali lagi.

Alurnya dibawakan urut ketika Susy masih kecil dan menang tanding badminton lawan cowok sampai berakhir ketika Susy hamil, setahun sesudah pernikahannya dengan Alan Budikusuma. Beda dengan biopik lain seperti Bohemian Rhapsody yang ada momen terbalik-baliknya.

Hasil gambar untuk bohemian rhapsody gif"

Sebagai sebuah film yang diambil dari kisah nyata dan melibatkan bahkan hingga Liang Chiu Sia asli dalam prosesnya, tentu tidak ada detail peristiwa yang begitu mengganggu. Yang agak aneh ada juga, sih. Nanti saya kisahkan.

Secara umum, sebagai Badminton Lovers, film ini cukup bikin terharu. Meski demikian, kiranya ada beberapa hal yang menjadi catatan saya.

Hasil gambar untuk susi susanti gif"

Pertama, film ini tampak bingung karena ada begitu banyak momen penting yang ingin diangkat. Dua diantaranya adalah final Sudirman 1989 dan final Olimpiade Barcelona 1992. Final Sudirman diangkat karena laga itu memang sangat dramatis dan jadi tonggak beralihnya Susy dari junior ke senior, melewati Sarwendah–seniornya. Sayangnya, final yang itu justru kebanting dengan final Olimpiade yang tampak jadi numpang lewat. Padahal di teaser, adegan Susy menangis di podium adalah yang diangkat.

Kebingungan juga terjadi karena Susy memang secara prestasi memuncak dari 1989 sampai menikah di 1997. Sementara, film ini ingin membawa konflik persoalan identitas Tionghoa sampai ke 1998 yang merupakan tahun terakhir Susy berkarir sebagai pemain. Jadi momen puncaknya tampak wagu karena di 1998 itu yang menang adalah Piala Thomas…

…yang sudah nggak ada Alan-nya, tapi di film masih ada. Itu ngapain Alan pakai baju atlet segala di Hong Kong padahal sudah era Marleve Mainaky?

Hasil gambar untuk weird gif"

Menurut saya, yang rasanya lebih cocok sebagai puncak adalah Piala Uber 1994 atau 1996. Tapi itu tentu tidak bisa ditempel dengan konflik 1998 jadinya. Masalahnya memang mengkombinasi perkara status WN Liang Chiu Sia dan Tong Sin Fu dengan SBKRI para atlet ke kerusuhan 1998 butuh effort lebih untuk kesempurnaan dan itu menjadi agak kurang di film ini.

Kedua, ada beberapa detail yang kurang pas terutama tentang karir Alan sesudah 1992. Ketika dia masih nongol di Hongkong pada 1998 malah jadi aneh karena di usia segitu Alan sudah tidak ikut timnas lagi. Tampaknya sutradara juga sadar makanya adegannya nggak yang banyak dan penting sekali.

Ada kebingungan untuk memasukkan Alan dalam kisah Susi padahal momen puncak keduanya memang berbeda. Alan cenderung berjaya dengan Olimpiade 1992 sebagai puncak, sedangkan Susi cenderung baru memulai. Ingat, Alan dan Susi itu berselisih 3 tahun. Dan pada waktu itu, usia 25 tahun untuk atlet cowok sudah bisa dibilang tua. Kita tahu di zaman now paling hanya ada Chou Tien Chen dan sekarang Shesar Hiren Rhustavito yang merangkak naik di usia 25 tahun.

Ketiga, salut kepada kru film dan kepada Laura Basuki yang di usianya pas syuting, 30 tahun mau 31, sukses memerankan Susy sejak usia belasan sampai 28 tahun! Cantik bener, sih, Mbak.

Hasil gambar untuk susi susanti film"

Keempat, ya soal teknik badminton para aktor dan atrisnya, sudahlah ya. Laura Basuki segitunya sudah langsung dilatih Liang Chiu Sia yang asli, lho. Tapi ya namanya keluwesan badminton itu butuh bertahun-tahun. Saya ingat sekali Pak Ipang, dosen saya, yang karir badmintonnya seangkatan Chandra Wijaya, itu saking luwesnya dengan badan yang sudah membesar tetap tangannya ajaib betul. Saya tanding dua lawan satu dengan beliau yang bahkan pakai raket anaknya, tetap kalah. Wagelaseh.

Kelima, film ini membuka luka lama para BL lawas tentang sosok Tong Sin Fu. Dengan segala yang sudah dia berikan ke Indonesia, status kewarganegaraannya tidak kunjung diperoleh dan akhirnya dia kembali ke Tiongkok untuk menelurkan, salah satunya, Lin Dan. Sementara Indonesia sesudah era Taufik Hidayat, mengalami kevakuman prestasi. Sekarang mulai tampak bibit unggul dalam diri Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie, tapi ya mereka berdua masih belum konsisten. Mimpi para BL bahwa sektor tunggal putra kita seperti era 90-an dengan lebih dari 2 andalan yang saling bunuh di tiap kejuaraan pada era Pak Tong masih jauh panggang dari api.

Hasil gambar untuk tong sinfu"

Apapun, sebagai BL saya tetap terharu pada film ini. Saya menantikan sekali besok-besok ada film berjudul Dewa Hendra atau Tangan Petir Kevin. Tentunya setelah segala periode prestasi dilalui, yha.