Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

Limit

No. No. No. Ini bukan limit yang pelajarannya Pak Mantri di JB, yang mana saya hanya dapat 3 untuk setiap ulangan. Oya, nilai minimalnya Pak Mantri itu ya 3. Intinya?

Saya salah semua.

Bukan itu dong. Ini tentang batas dalam diri kita.

Kemarin saya psikotes, tentunya bukan dalam rangka interview di company lain, soalnya yang ngadain psikotes itu kantor sendiri. Nah loh. Untuk keperluan tertentu pastinya.

Satu tes yang saya dapat adalah Tes Pauli. Yang isinya kertas segede koran, lalu kemudian diisi penjumlahannya. Tes ini pertama kali saya temui saat amotrap. Dan syukurlah cukup bisa diikuti.

Lalu limit apa yang saya maksud?

Selama ini saya nggak pernah nembus 2 lembar untuk tes Pauli ini. Bahkan waktu tes PKL Pharos, hanya dapat 3/4 kalau nggak salah. Wajar sih, dulu itu psikotes sambil LAPAR (maklum mahasiswa..)

Nah, kemarin, saya mencoba menembus rekor itu. Sekali-kali kek, bisa nembus 2 lembar. Masak sih nggak bisa?

Dan untunglah, bisa. Walaupun ya di halaman kedua cuma kegarap sedikit. Yang penting batas psikologis untuk mengerjakan lembar kedua sudah dilewati. Well, pressure itu ternyata penting untuk menetapkan limit. Dan membuat saya sadar bahwa harus terus memberikan batasan pada diri saya, yang terus menerus ditambah agar bisa dapat hasil terbaik.

Itu hanya Pauli.

Semoga saya bisa melakukannya di hal-hal lainnya.

😀

Lagi Mikir

Kemaren, mendadak mikir *biasanya ga mikir*

Dulu di Jogja, ketika tempat tinggal saya sangat dekat dengan gereja Banteng, saya bahkan ke gereja saja jarang. Pada masa itu, saya memahami rasanya jadi Katolik NaPas (Natal Paskah). Hingga pada suatu ketika, saya kemudian menjadi aktif, justru di tempat yang jauh dari gereja Banteng. Tempat itu Kapel Robertu Bellarminus Mrican.

Ada kali 2 tahun saya cukup aktif disana, sampai ketika sebuah statement dari Suster Gracia bikin saya sakit hati. Jadi ceritanya lagi latihan lektor, pas ngetes, eh saya dikomentarin, “begini nih kalo nggak biasa nyanyi..”

*jeger*

Komentar itu kemudian termasuk mengompori saya untuk masuk PSM. Dan kemudian masuk beneran. Nah, sejak itulah, saya mulai jarang aktif lagi di gereja. Padahal, saya sempat sampai pada tataran gawe umat bosan soale nek ora lektor, kolektan, misdinar, atau mentok2nya jualan teks misa. Pasti ada saya di misa Minggu pagi itu.

Sampai bertahun-tahun kemudian saya pindah ke Palembang. Tempat kos pertama saya sangat dekat dengan Seminari. Pernah sekali ikut tugas koor, tapi terus malas karena pekerjaan rasanya kok sudah berat banget. Pada akhirnya ya saya hanya jadi Katolik biasa saja, yang setiap pekan ke gereja. Padahal, kalau mau aktif ya bisa, wong gereja dekat. Bahkan sejak 2010, saya punya sepeda motor. Kalau mau ke Yosef, San Frades, apa Seminari, itu hal mudah. Mana semacet-macetnya Palembang, kalau hanya mau ke San Frades sih nggak akan nemu macet.

Tapi entah ya, niat ada, tapi kok nggak jalan.

Hingga kemudian saya kesasar ke Cikarang. Di tempat yang untuk radius 20 km hanya ada 1 gereja, yang kalau mau dicapai harus menemui jalanan ganas penuh kontainer.

Dan, kok ya aneh, disini saya koor ikut, lektor ikut, balai kesehatan ikut (walau statusnya panggilan). Aneh aja, justru di tempat yang butuh effort lebih hanya untuk sekadar ke gereja, saya malah begini.

Mungkin karena ini faktor pencarian jodoh? Rasanya kok nggak juga. Wong di balkes nggak ada juga yang bisa digebet, di koor apalagi.

Atau faktor apa ya?

Mboh ki. Lagi mikir.

Suami Bunuh Istri dan Orang-Orang yang Ingin Jadi Suami

Judul macam apa itu?!?!

Judul macam itu ditulis oleh orang yang ngakunya sudah nulis di 3 antologi? Iye.. iye.. Kalau judul saya rada bagusan, saya mah udah nggak nulis di antologi, tapi bikin antologi sendiri. Udah bisa bikin buku sendiri. Udah kaya dari buku. Susah amat.

Tapi intinya gini. Tadi saya nonton berita soal pembunuhan istri oleh suaminya. Berita dan penyebabnya macam-macam. Misal disini, disini, dan disini.

Dalam kejombloan saya, pikiran ini kemudian terusik. Lha saya ini ya, yang namanya mukul wanita itu nggak pernah (paling mentok nepok jidatnya si cici). Buat saya, wanita itu bukan makhluk untuk dikuasai dan dikasari secara fisik, tapi disayangi. Sengegemesin dan sebikinemosinya mereka.

Tentu saja ni disebabkan oleh masa kecil keluarga saya yang baik-baik. Syukur kepada Tuhan. Seingat saja, dari jaman saya bisa mengingat, nggak pernah ada cerita Bapak menyentuh Mamak saya sambil marah-marah. Jadi saya nggak pernah lihat adegan suami nampar istri, nggak pernah adegan suami memarahi istri dengan frontal, nggak pernah lihat adegan istri lempar piring ke suami, dan lainnya. Yang saya lihat adalah rumah tangga yang penuh dengan perjuangan dan penuh dengan kesabaran. Proud to be part of that!

Which is, saya pernah menjadi saksi ketika di pagi buta seorang saudara datang. Saya bukain pintu, dan tidak menduga kalau dia datang. Awalnya saya kira berkunjung, eh ternyata kabur karena takut sama suaminya. Sampai sekarangpun saya masih mendengar bahwa kekerasan itu masih ada. Bahkan sampai saking frontalnya, ada anak mereka yang bilang ke Bapaknya, “kalau sampai kau pukul Ibuku, kubunuh kau!”

Hey, itu anak yang ngomong ke Bapaknya lho! Sangar e rek..

Hidup ini memang sungguh semakin keras. Saya mulai merasakan pembenaran kepada orang-orang yang kemudian nggak tahan lalu bunuh diri. Saking kerasnya, kadang kesabaran pun nggak cukup untuk menghadapinya.

Cuma, dalam kaitan dengan perkawinan. Apakah membunuh istri itu hal yang masuk akal? Bahwa membunuh saja sudah salah, apalagi ini membunuh orang yang kita bawa ke depan Tuhan dan kita minta untuk dipersatukan seumur hidup dengan kita. Ini orang yang bersama-sama dengan kita mengucap segala macam janji di hadapan Tuhan untuk selalu bersama. Dan… dibunuh?

Saya ada di usia ketika teman-teman bergantian menikah (bukan berganti-ganti menikah loh yaaa…)

Saya ada di lingkungan yang memutuskan untuk menikah itu mikir berkali-kali. Bahkan ada nih teman yang akhirnya menikah setelah kena skak dengan pertanyaan, “emang kowe bakal siap kapan?”

Lantas, apakah menikah itu kemudian hanya dimaknai sebagai legalisasi seks di muka agama dan negara? Apakah menikah itu kemudian hanya menjadi hal yang terjadi karena desakan lingkungan? Apakah kemudian menikah itu dilihat sebagai sebuah institusi yang tidak sakral sampai partnernya kemudian bisa dibunuh?

Saya tetap ingin menjadi suami bagi seorang wanita kelak. Dan saya akan belajar dari keluarga tempat saya ditumbuhkembangkan. Meski jelas darah Batak di arteri saya tentu akan buat saya nggak sesabar Bapak saya sih. Saya juga tetap ingin menjadi Bapak yang baik bagi beberapa orang anak.

Tapi pertanyaannya, sama siapa?, siapkah saya? Kalau siap, mana calonnya? Kalau nggak siap, kapan siapnya? Nggak tahu. Tapi entah kenapa, saya meyakini akan mendapatkan jawaban-jawaban itu dalam waktu yang tidak lama. Ini keyakinan saya saja sih. Sangat mungkin untuk keliru.

Yang jelas, keluarga itu adalah sakral, dan mengakhirinya dengan membunuh, apalagi dengan sebab yang sepele, buat saya adalah bentuk pengingkaran terhadap apa yang terucap di hadapan Tuhan. Kalau Tuhan tidak pernah mengingkari janjinya pada manusia, pantaskah kita untuk ingkar?

Jawabannya dalam hidup kita masing-masing *ala Romo Hari*

😀

Lappy, BG, dan Tanda-Tanda Alam

Bukan saya namanya, kalau tidak menyambung-nyambungkan. Tapi apapun, saya selalu percaya bahwa setiap peristiwa di dunia ini ada maksudnya. Tinggal kita bertanya “apa sih maksudnya?”

Awal kisah, seperti pernah saya tulis juga sebelumnya, si lappy rusak di usia jelang 3 tahun, hanya selisih sekian hari dari editor minta softcopy naskah saya–yang memang hanya disimpan di lappy.

Lalu beberapa waktu yang lalu, saya membaca twit bocah rantau bersama Mbak Lala Purwono, soal buku antologi indie yang go mayor. Yeah, turut bergembira. Dan saya akan beli itu buku kalau udah keluar. Dan kemudian saya bertanya tentang naskah buku saya–dalam hati.

Lalu lagi, kemarin saya dapat kabar dan sedikit tanya-tanya dari editor, tentang naskah saya, yang bercerita tentang si Alfa. Saya ingat banget bab-bab awal naskah itu menceritakan awal kisah rusaknya Alfa.

Kerusakan pertamanya adalah selang karburator yang bocor. Hal itu bahkan menjadi inti di Bab (Bukan) Idola Indonesia.

Dan hanya 4 jam sesudah saya menjawab tanya-tanya dari editor, eh si BG berulah dengan mengucurkan bensin tiada henti dari selang karburatornya. Yang bikin ngelus dada adalah yang mengucur itu Shell Super seharga Rp. 9,800 yang baru dibeli. -_______-”

Total jenderal–sampai pagi–ada kali Rp. 30,000 yang mengucur lalu menguap, belum lagi meluap ke busi dan ke knalpot.

Belum lagi, itu si BG baru tak servis di AHASS hari Sabtu. So, can I believe AHASS again after this incident? Entahlah. Tapi faktanya, sejak saya berpisah dengan Alfa, saya nggak pernah lagi kontak dengan karburator, selang bensin, klep, jarum, dan segala tetek bengek permotoran lainnya. Dan menjelang kisah si Alfa memasuki babak baru, eh tangan saya belepotan Shell Super.

Semoga kisah benda-benda mati ini penuh ironi ini cukup sampai disini. Amin.

😀

Taaruf

Sebetulnya saya menimbang berkali-kali untuk menulis ini. Bagaimanapun saya harus menghormati orang yang tindakannya kemudian membuat saya jadi menulis ini. Hmmm, ya sudah, asal saya kemudian menyamarkan semuanya, mestinya nggak masalah kan? Lagian, sebulan sesudah kejadian, HP-nya error, hilanglah semua bukti-bukti yang ada.

taaruf4

Jadi ceritanya, saya lagi antre mau sakramen tobat alias ngaku dosa, bukan ngaku-ngaku kalau berdosa. Soalnya, ya emang berdosa beneran. *jadi ingat belum penitensi*. Sedang asyik menunggu, sambil mendengarkan pembicaraan ‘khas’ bapak-bapak di lingkungan soal IMAN, masuklah pesan singkat, bunyinya kira-kira begini:

“saya ingin ta’aruf dgn antum boleh tidak?”

Pesan itu kemudian disertai nama, sedikit latar belakang, dan pertanyaan soal kriteria istri. Ya, namanya adalah si Anu, umur 2-3 tahun lebih tua daripada saya, dan pertanyaan terakhir itu cukup mengusik saya nan jomlo maksimal bin menajun. Ada 3 diksi dari SMS itu yang kemudian jadi pertanyaan buat saya, yakni ta’aruf, lantas antum, dan syukron. Jarang dapat SMS macam itu soalnya.

Antum kemudian saya dapati disini, bermakna mirip ‘anda’, tapi dalam konteks halusnya Arab. Lalu juga syukron, pada sumber yang sama bermakna ucapan terima kasih. Selesai untuk yang ini. NAH! Soal ta’aruf, saya jadi bingung sendiri. Sebagaimana yang saya lihat di film Ayat-Ayat Cinta, ta’aruf itu pertemuan Fahri dengan Aisyah. Eh, busyet, Aisyah-nya cantik nian disana. *salah fokus*. Lalu juga obrol-obrol saya dengan rekan yang muslim, bahwa ta’aruf itu kaitannya erat dengan jodoh dan pernikahan. Klik dengan isi pesan singkat yang bertanya soal kriteria istri. Lalu saya lari ke kamus, ternyata artinya nggak gitu-gitu juga. Ternyata artinya hanya PERKENALAN, dan ditulis sebagai taaruf sebagai bentuk yang sudah di-Indonesia-kan.

Terus, saya cari sumber lain. Kalau disini bilangnya:

Ta’aruf proses perkenalan dan pendekatan antara laki-laki dan wanita yang hendak menikah. Ta’aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta’aruf secara syar’i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan, cara, dan manfaat.

Kalau disini, bilangnya:

secara bahasa adalah memperkenalkan atau perkenalan. kata tersebut dipakai dalam dunia islam untuk meminang seorang perempuan lajang(gadis) melalui orang lain yang sejenis, atau untuk melihat seberapa sempurnanya gadis yang nanti akan dilamar.

Kalau disini, ditulis:

Jadi pengertiran ta’aruf itu adalah saling mengenal. Kalau ada istilah saling mengenal, maka tentu bermagna lebih dari satu orang atau sekelompok orang.

Dan sumber terakhir yang saya lihat adalah disini, dan tertulis:

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah – taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.

Nah, terus?

Sebenarnya sih, saya malah jadi bingung. Pertama, bingung kenapa saya diajak taaruf. Kedua, apakah mbaknya itu sebelum kirim SMS itu nggak lihat nama depan saya semacam itu. Ketiga, saya sih tidak hendak memperpanjang soal ini. Satu hal, dalam pemahaman yang saya percaya, pacaran itu diperlukan. Lha wong pacaran bola bali ki putas putus wae. Padahal di dalam keyakinan saya, pernikahan itu kan tidak terceraikan, kecuali oleh maut.

Ini soal keyakinan saja kok. Siapapun boleh meyakini yang menurutnya benar. Hanya saja, si pengirim pesan singkat kemarin, mengirimnya ke orang yang salah. Itu saja kok masalahnya. 🙂

Am I Ready If?

Persetan itu judul bener apa nggak. Seperti biasa, saya kalau dipuji adanya malah mandeg. Iya, dulu begitu dapat gelar di lomba menulis apa, pasti dampaknya buruk. Bukannya tambah oke, malah tambah remuk. Apa malah nggak nulis sama sekali.

Oya, dan satu lagi. Saya itu orangnya masih takut terhadap kritik.

Mungkin bawaan melankolis saya, bahwa kritik itu menyakitkan hati. Cukup banyak kasus ketika kritik justru membuat emosi saya naik. Kritik yang menciptakan masalah juga ada, tanya saja sama mantan2 saya. Hahahaha..

Nah, sejalan dengan buku antologi mayor ketiga yang terbit dan ada tulisan saya di dalamnya, saya malah jadi bertanya-tanya. Sebenarnya, siap nggak sih saya menggapai passion saya yang bernama MENULIS itu?

Kenapa saya bertanya begitu, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kasus Andrea Hirata. Dan sejujurnya itu masih mending (banget), karena yang disasar adalah klaim, bukan karya. Ketika saya menulis di Kompasiana dan dikomen kurang menarik, saya malah patah semangat. Semacam itulah.

Ketika saya kemudian sudah berhasil menyetorkan 3 naskah untuk terbit di antologi mayor, saya juga kemudian harus berkaca. Sebenarnya mimpi saya untuk jadi penulis beneran itu sudah tercapai. Untuk berharap punya 1 buku milik sendiri–at least, ya bisa dibilang sudah jalannya.

Tapi, namanya karya, nggak akan lepas dari kritik. Nah, sanggupkah saya? Siapkah saya?

Kadang hal ini jadi pertanyaan besar yang menjadi alibi saya untuk bersyukur bahwa saya belum-belum juga bisa menerbitkan buku. Hey, baru berhasil menyelesaikan 1 naskah saja sudah ngeluh kok belum bisa menerbitkan buku. Ngawur bener.

Apakah kalau nanti saya punya buku, saya akan siap dengan obrolan orang-orang tentang karya saya? Apakah saya siap menerima masukan dari pembaca? Apakah saya akan sanggup mengelola itu dengan tingkat emosional yang dewasa?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kemudian berkecamuk di dalam pikiran saya. Satu hal, saya adalah orang yang terbiasa di belakang layar. Namanya juga orang planning. Kalau dulu orang hanya ngomong di belakang. Sekarang, orang bisa membicarakan orang lain di linimasa. Nah, sanggupkah saya jika nanti suatu ketika buka tab mentions di Twitter dan membaca kritik yang berat bagi tulisan saya?

Itulah dia. Saya masih terus bertanya. Apakah saya siap untuk itu.

Ah!

Manusia Dibentuk Oleh Kebiasaan

Ini judul klasik, tapi baru saya sadari barusan ini. Iya, emang beneran baru ngeh.

Ngeh apa sih?

Kalau hidup saya sekarang, benar-benar sudah ‘dipengaruhi’ segala hal yang saya kerjakan selama hampir 4 tahun ini. Sebuah masa ketika saya menjadi manusia yang terlibat di bidang perencanaan produksi.

Teori perencanaan produksi itu sebenarnya kan sederhana. Dimulai dari teori (S)-I-P-O-(C). Ada Input, yang di-Proses, menghasilkan Output. Input diperoleh dari Supplier. Dan Output akan diteruskan kepada Customer. Nah, perencanaan adalah menjamin alur itu berjalan baik timbal balik. Jadi apa yang dipasok oleh Supplier itu benar-benar untuk pemenuhan Customer. Dan apa yang diperlukan Customer sesuai dengan yang dipasok Supplier.

As simple as I write, but it’s a f*ckin’ difficulties 🙂

Itu kerjaan saya. Termasuk di dalamnya perencanaan produksi (Master Production Scheduling), perencanaan kapasitas (Capacity Planning), sampai bagian yang dulu paling saya benci tapi nyatanya saya malah menggila ketika jadi bagian itu, perencanaan kebutuhan material (Material Requirements Planning).

Hubungannya dengan kebiasaan?

Nah, ini yang saya mau cerita.

Sejak menjadi ‘orang planning’ hampir pasti saya berpikir terlalu banyak. Iya, karena misalnya ketika hendak berencana ke suatu tempat, saya sudah pikirkan segala halnya. Ketika hendak membeli sebuah benda, saya berpikir benda-benda lainnya yang mendukung.

Misal, ketika saya (dulu) pp Palembang-Jogja. Saya selalu beli tiket Jogja-Palembang terlebih dahulu. Memastikan bahwa saya bisa kembali ke Palembang. Intinya, saya sudah memastikan hendak naik apa aja. Atau ketika saya membolang ke Semarang, itu segala survei sudah saya lakukan via dunia maya dan dunia nyata untuk memastikan bahwa saya nggak akan kesasar disana.

Atau ketika hendak beli laptop dan motor. Percaya atau tidak, saya bahkan sudah beli tas laptopnya terlebih dahulu sebelum punya laptopnya. Saya punya helm, mantel, kanebo, dan gembok jauh sebelum saya punya sepeda motornya. Buat saya intinya (recipe-nya) adalah ‘memiliki sepeda motor’. Supaya aman dan damai, maka komposisinya adalah sepeda motor, helm, mantel, kanebo, dan gembok. Percayalah, di dunia farmasi pun begitu. Paracetamol hanya akan jadi serbuk kurang bernilai ketika nggak ada laktosa, misalnya. Nggak akan jadi obat juga. Punya sepeda motor tanpa punya helm jadinya juga demikian.

Dan saya nggak yakin akan berpikir sedemikian banyak kalau saya nggak jadi manusia planning. Terkadang hal macam ini bikin nambah pikiran, tapi terkadang juga justru sangat berguna.

🙂

Banjir Dan Saya

Bahwa menurut saya pemberitaan banjir sekarang sudah sangat lebay sekali, mari kita abaikan dulu. Iya, lebay. Kenapa? Berita ini seolah-olah bikin yang menderita itu cuma ibukota, padahal yang banjir di tempat lain juga banyak. Apakah kita melihat breaking news untuk banjir di Bandung (yang dekat aja deh) misalnya? Nggak. Jadi, ya begitulah.

Saya dan banjir. Banjir dan saya. Emang kenapa?

Pertama-tama, saya besar di sebuah kota dataran tinggi. Jadi, hampir bisa dipastikan nggak banjir. Karena sejauh ini, air masih turun ke bawah. Sampai sekarang sih begitu.

Lalu ke Jogja, sekolah. Seperti obrolan dengan adik kelas kemarin, kalau Jogja ya banjir-banjir nggenang dikit, lalu udah. Ntar juga surut. Meski Jogja kalau hujan itu nggak kira-kira wujudnya, tapi nggak banjir-banjir amat. Sejauh ini saya baru sekali mati mesin (dengan Alfa) di daerah genangan dekat Mino. Itu semata-mata karena saya yang nekat.

Nah, banjir yang sebenarnya baru saya kenal di Palembang. Kota dengan drainase yang menurut saya nggak oke. Pertama kali saya lewat Jalan Mayor Ruslan dan melihat warna air di selokan dan udah tahu kalau bakalan banjir. Dan benar saja, daerah Mayor Ruslan, via IBA sampai depan SMK itu kalau hujan gede dikit aja. Nggenangnya, wew…

Ada suatu masa ketika saya hendak bergerak dari tempat karier, dan melakukan interview. Saat berangkat interview dan pas sedang banjir besar (ini di Jakarta) saya langsung ilfil. Meski saya lantas melewatkan dengan baik semua interview dan DITERIMA, tapi saya nggak jadi ambil itu kesempatan. Kadang menyesal, tapi giliran udah banjir begini, bersyukur juga sih.

Yang paling seru ya waktu di mess dulu. Hujan besar kadang bikin mess kebanjiran. Dan syukurlah, kamar saya termasuk yang AMAN dari cengkraman banjir. Hehehe..

Kadang ingin bergerak ke tempat lain yang bebas banjir. Tapi di era betonisasi masa kini, dan di era industrialisasi (dimana uang itu adanya ya di Jakarta dan kawasan lain di sekitarnya), saya mau kemana?

*mendadak galau*

Ya sudah, begitu saja..

Sarung Tangan

Setelah pergumulan sekian waktu, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sarung tangan kiper. Yah, secara nominal sih nggak banyak. Saya pernah kalap beli buku dengan harga 2 kali lipat sarung tangan ini. Hehe..

Bermula dari ngelihat sebuah sarung tangan keren di mall lippo dengan harga 199 ribu. Pastinya keren itu. Saya sih ogah beli yang ecek-ecek 20-30 ribu kalau hanya untuk rusak dalam waktu singkat. Tapi dipikir-pikir lagi, dan akhirnya ditemukan sebuah model yang harganya lebih masuk akal. Jadilah saya beli.

Oke, kenapa dengan sarung tangan?

Tentu kejadian kuku galau waktu futsal bareng Raditya Dika masih membekas. Sejak itu saya memang sudah mulai mengubah teknik menangkap bola saya yang dulu buruk menjadi sedikit tidak buruk. Sejak itu juga saya mulai lebih cermat, tapi ya namanya yang nendang bola kencang-kencang, siapa yang ngira sekeras apa itu bola.

Lagipula jari-jari saya nggak kokoh, perlu penopang. Dan berdasarkan panggilan jiwa (berhubung dipecat di posisi mana-mana) jadilah saya konsen di kiper. Hmmm, sebenarnya ada 1 quote yang bikin saya termotivasi untuk mencoba lebih baik. Itu dari pemilik blog ini yang bilang, “saiki dadi kowe” atas sebuah tepisan sederhana di waterboom. Ya, setidaknya ada apresiasi 🙂

Dan sarung tangan itu mulai membantu saya kemarin.

Menjadi kiper itu remeh, seperti seorang teman bilang, “halah, jadi kiper doang, nggak ada kerjaan.”

Tapi saya tahu kok, menjadi kiper tidak sesederhana yang terlihat. 🙂

Jadi Dirigen Itu Sulit, Jenderal!

Di awal-awal kehidupan baru blog ini, saya sempat menulis soal DIRIGEN. Ceritanya mau kritik plus refleksi. Dan itu sudah lama. Dirigen yang itu di Sanfrades Palembang, dan kini saya sudah di Cikarang.

Dan, yak, saya kena batunya.

Kenapa?

Menjadi dirigen itu nggak mudah, bahkan cenderung sulit. Makanya saya bilang, jadi dirigen itu sulit loh!

Okeh, hal ihwal pertama saya mengenal soal dirigen itu adalah waktu kehabisan air di rumah karena PAM mati. Eh, itu jeringen. Maaf, salah.

Dulu banget, karena saya anak rajin yang bakal ‘habis’ kalau malas-malasan ke gereja, maka saya selalu bertemu sosok dirigen di hari minggu. Lantas juga di sekolah. Dan saya bingung, sebenarnya ini orang ngapain sih. Pakai acara menggoyang-goyangkan tangannya segala. Buat apa?

Percaya atau tidak, saya baru paham makna dan guna dirigen itu di kelas 2 SMP, sewaktu kelas 2A memenangkan lomba vokal grup se-Xaverius dengan lagu ‘Keliru’ dari Ruth Sahanaya. Hehehe… What a… Bisa jadi itu memalukan, tentunya memalukan karena kedua orang tua saya adalah dirigen rutin di gereja 😦

Sesudah itu saya mulai paham makna dirigen itu mengarahkan ketukan, menunjuk bagian mana yang hendak dinyanyikan, dan cuma sebatas itu. Baru ketika di-dirigen-i Mbak Ina, saya mulai tambah sadar gunanya dirigen itu ke arah ‘roh’ sebuah lagu yang lantas disebut DINAMIKA.

Dan anda harus percaya bahwa saya menyadari itu pada saat kuliah semester 2.. *tambah memalukan*

Dan berikutnya saya join ke PSM CF. Disinilah mulai intensif ketemu lagu, dinamika, tempo, dan tetek bengek lainnya *kasiannya sampe bengek*

Sesekali Mas Mbong waktu latihan juga memberikan teori musik. Nah, disitulah saya sedikit-sedikit belajar soal beda ketukan 4/4 dengan 3/4, dan berbagai ilmu lain yang dulu ketika SMP benar-benar saya abaikan karena emang nggak suka. *nyesel itu selalu belakangan*

Tugas demi tugas membuat saya semakin paham pentingnya dirigen dalam menyanyi. Apalagi kemudian di tahun 2009, saya mendapat insiden memalukan yang bikin nyaris trauma. Waktu itu nyanyi ber-10, tanpa dirigen! Dan benar-benar mati gaya. Alamak!

Berjalan dan terus berjalan, entah bagaimana cerita, tiba-tiba saya menjadi dirigen untuk tugas koor lingkungan.

*langsung pingsan*

Yak, tanggal 8 kemarin saya berdiri di atas podium 20 cm dan menggoyang-goyangkan tangan. Sesuatu yang belasan tahun silam saya anggap nggak bermakna. Sesuatu yang perlahan saya pahami di usia yang sudah sangat terlambat. Sesuatu yang 1,5 tahun lalu saya kritik.

Ya begitulah. Apalagi, si newbie ini bertemu langsung dengan lagu-lagu berketukan 2/2 (pembukaan), 3/4 (kudus), 2/4 (TK), dan baru ketemu 4/4 di persembahan. Salah ngabani pulak. Heleh.

Yak, begitulah. Saya mengenal soal paduan suara saya sudah terlambat. Mengenal not juga terlambat. Mengenal musik dan dinamika, apalagi, terlambat banget. Tapi entah kenapa, Tuhan Yang Maha Baik itu selalu memberi dengan tepat. Ya, tepat. Saya nggak akan bisa jadi dirigen kalau belum belajar curi-curi dari Mbak Ina, Ulit, Cik Lan, Mas Mbong, Bu Jin, Babi, Oon, sampai Santo. Saya nggak akan ngerti beda 4/4 dan 3/4 kalau nggak ikut latihan PSM. Dan dikasihnya sekarang ini. Kesempatan yang mungkin hanya akan terjadi 1 kali seumur hidup saya, karena apa? Hehehe.. Ada deh..

🙂