Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

5 Hal Sederhana yang Mempermudah Hidup

BAIKLAH! Sudah sepekan saya nggak posting di blog. Bukan apa-apa, sih. Sejak sore kala saya ulang tahun hingga sekarang, hujan turun tiada henti, layaknya cinta diam-diam yang sudah tiada bisa lagi dipendam oleh hati. Hujan otomatis membuat provider modem saya seret sinyal layaknya pemiliknya yang seret gebetan. Mana nggak mungkin juga, kan, ngeblog dari kantor. Plus, hujan tiada henti ini membuat keadaan tempat tinggal jadi nggak nyaman. Saya juga kemudian pindah ke kamar lain, mengingat kamar lama saya—lebih dari dua tahun saya huni—mengalami kebocoran mengenaskan. Silakan tertawakan bule geje di iklan “eh.. bocor.. bocor…”, nyatanya, saya mengalami sendiri 3/4 area tembok kamar menyerap air dan sama sekali tidak nyaman. Kondisi itu belum ditambah fakta bahwa jalanan di depan kos saya kadang-kadang menjelma jadi saluran air.

Emang apa hubungannya banjir sama ngeblog?

Nggak ada, sih. Namanya juga mencari pembenaran atas kemalasan. Paralel dengan mencari gebetan atas mantan.

Banjir rupanya bikin saya banyak merenung. Soalnya kan hujan gede ini beberapa kali terjadi dini hari, dan bikin banjir juga dini hari. Saya nggak bisa tidur sambil terus bertanya kenapa saya jomblo memantau air yang leluasa menerabas sisi-sisi relung hati tembok kamar, plus air yang mengalir deras di jalanan depan kos. Hasil permenungan itu, saya menemukan beberapa hal sederhana yang kadang nggak kepikir, tapi sesungguhnya sangat membantu mempermudah hidup.

Yuk, dilihat!

Ayuk!!!

Jalan-Jalan ke Montong Edisi Tiga

Hari ini bisa dibilang melelahkan, tapi penuh dengan nasib baik. Masih nggak percaya kalau Tuhan itu betapa amat baiknya pada kita? Rugi ah.

Perjalanan pertama kali saya ke Jalan Montong adalah dalam rangka menyetor naskah Oom Alfa. Perjalanan kedua adalah ketemu sama editor, plus mengurusi beberapa printilan menjelang penerbitan. Perjalanan ketiga adalah hari ini, dalam rangka sebuah acara kumpul-kumpul yang disebut Sunday Meeting. Yah, percayalah, meski setiap bulan saya menghelat Monthly Production Planning Meeting, rasanya jelas beda dengan Sunday Meeting ini. Tentu saja saya tidak berharap bahwa meeting saya digelar di Sunday. Enak wae.

Pagi hari saya sudah cabut dari kos-kosan. Pengalaman dulu-dulu, saya menghabiskan waktu 3 jam dari Cikarang ke Montong. Cuma saya lupa kalau ada faktor hari Minggu. Nyatanya dari Pintu Tol Cikarang Barat sampai ke Komdak itu hanya 30 menit sajah saudarah-saudarah! Saya kok ya pas kebangunnya di Komdak, setelah sejenak tidur sambil mimpi punya pacar di atas bis 121A. Dengar-dengar yang 121 mogok, tapi nggak tahu juga sih.

Terbilang kepagian karena 7.15 sudah sampai Komdak, saya lalu melanjutkan perjalanan ke Halte Kuningan Barat/Timur untuk lanjut menuju arah Ragunan. Tidak, saya tidak hendak menyamakan muka dengan penghuni Ragunan. Sudah jelas lebih ganteng mereka. Kalau saya sih cenderung lebih ganteng dibandingkan dengan yang di Senayan. *if you know what i mean*

Perjalanan terbilang lancar–maklum, minggu pagi–sehingga saya sudah sampai di depan Cilandak Mall jam 8 pagi. Eleuh. Acara jam 10, jam 8 sudah hampir sampai? Memang saya ini teladan ya.

Dalam rangka niat suci mulia kebelet boker, saya akhirnya turun di tempat yang disebut Cimol ini, dan masuk ke salah satu tempat penjualan almarhum ayam. Tenang saja, saya tidak cukup nista dengan hanya boker disana lalu kabur. Saya tetap order kok. Air putih.

Jam 9 saya cabut ke Montong, kantor penerbit tempat saya bernaung. Sudah nggak kagok lagi seperti dua perjalanan sebelumnya. Sejujurnya, daerah Ciganjur, apalagi kalau sudah masuk Montong, nggak berasa Jakarta. Malah berasa di Kulonprogo. Termasuk tadi saya lihat ada orang pamit kerja sama tetangganya. Masih ada kok di Jakarta.

Saya lalu bertemu dan duduk semeja dengan 3 penulis GagasMedia, Purba, Anggun, dan Angel. Saya doang yang Bukune di meja itu. Meja orang-orang niat, dan orang-orang yang datangnya jauh-jauh. Purba dari Bandung, Anggun dari Tangerang, Angel dari BSD. Mereka-mereka ini berturut-turut adalah penulis Syarat Jatuh Cinta, After Rain, dan Tears In Heaven. HAYO BELI BUKUNYA!

Acara kali ini buat saya berguna sekali. Maklum, penulis baru. Materi-materi disampaikan oleh trio editor, Abang Christian, Mbak Iwied, dan Mbak Gita, dengan caranya masing-masing dan muatannya masing-masing.

Nah, pas di sela-sela sesi saya baru nyadar. Dari SMA sampai sebelum Oom Alfa terbit, saya lumayan sering ikut sesi kepenulisan begini. Jadi sebenarnya hal-hal yang disampaikan oleh trio editor nggak baru-baru amat. Hanya saja, ada rasa yang berbeda ketika sekarang saya berada dalam pelatihan bukan sebagai orang-yang-kepengen-jadi-penulis-buku, tapi saya adalah penulis buku. Bedanya banyak, tentu saja. Salah satu yang utama adalah ketika sudah jadi penulis buku, ilmu yang disampaikan langsung nyambung dengan prakteknya. Iyalah, orang-yang-kepengen-jadi-penulis-buku tentu saja belum mengalami rasanya ‘diedit’, jadi nggak kebayang juga soal begini.

Satu hal yang pasti, sesi hari ini menjawab pertanyaan kenapa LOVEFACTURE punya saya gagal di lomba TYAR Bukune. HAHAHAHAHA.

Self-Editing pada kenyataannya adalah bagian penting dalam proses panjang penerbitan buku. Untuk itulah, bagi yang pengen menerbitkan buku, lakukan self-editing terlebih dahulu. Jangan selalu menganggap naskah kita itu langsung baik. Cek dan ricek berkali-kali sebelum kita kemudian mengirimnya ke penerbit. Termasuk juga yang agak ramai tadi adalah perihal penempatan tanda baca, huruf besar, sampai repetisi kata.

Hujan deras memang terjadi di sesi 3, sesudah makan siang. Bayangkan betapa indahnya hidup ketika habis makan siang, lalu sejuk karena hujan. Seandainya ada bantal disana. *dikeplakmbakgita*

Acara ditutup jam 2-an, sementara saya melanjutkan dengan pengundian arisan buku Gagas-Bukune. Nantikan saja videonya di YouTube. Tolong diperhatikan dengan cermat, ada nggak muka saya. Atau kalau nggak kelihatan, cari aja yang agak gelap-gelap sedikit, pasti ada saya disana.

14.30 saya cabut dari Montong, naik M20 sampai halte TransJ Departemen Pertanian. Saya mau mampir tanya kabar impor sapi, tapi kayaknya sih tutup, nggak jadi deh. Sempat terhenyak ketika masih bergelantungan di TransJ koridor 9, eh di kejauhan tampak bis bertuliskan Kota Jababeka. Tapi nyatanya hari ini seluruh dunia berkonspirasi mendukung saya. Hanya 10 menit saya menunggu di depan Plangi, datanglah Bis Lippo. Ah, seandainya menunggu jodoh semudah menunggu bis ke Cikarang. Dan entah kenapa pula, saya tidur dan terbangun persis di bawah jembatan layang Cikarang Barat. Jadi saya turun dulu, naik angkot, baru sadar 100%.

Dua kali tertidur, dan terbangun di tempat yang tepat. Masih ditambah sama sekali tidak ketetesan hujan, dan hanya melihat sisa-sisa hujan di sepanjang perjalanan. Trip hari ini sungguh keren.

Saya tahu bahwa saya masih pemula, bahkan terbilang terlambat menerbitkan buku. Untuk itulah saya harus mengejar ketinggalan itu dengan bekerja keras. Sekadar 2-3 jam perjalanan dari Cikarang ke Jakarta, lalu balik lagi–jadi total 5-6 jam–mestinya bukan halangan untuk bertumbuh kan? Saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk orang-orang yang berusaha, dan untuk itulah saya terus berusaha.

Terima kasih buat penerbit saya nan kece, Bukune, atas modal hari ini. Dijamin berguna deh.

*kemudian lanjut tidur*

*bukannya lanjut nulis*

*dikepruk editor*

Momong Cucu

“Bapak masih ngajar, kan?” tanya Adek saya.

“Tadinya sih mau jadi MC,” jawab Bapak saya.

Saya dan Adek saya bingung. Agak bingung juga kenapa di usia nyaris 60 ini Bapak baru berpikir untuk menjamah dunia baru, jadi MC?

“MC apaan, Pak?” tanya saya.

“Momong Cucu.”

AAAAAAKKKKKK!!!! *gigit-gigit sayap Garuda*

Okelah. Bapak saya tidak memberikan statement yang jelas mengenai kode momong cucu itu tadi. Tapi tentu saja, saya sebagai anak sulung yang sudah berusia cukup lanjut dan masih jomblo wajib untuk merasa bertanggung jawab pada kode yang diberikan Bapak itu.

Agak unik juga sih. Saya absen ngeblog sekitar 10 hari adalah dalam rangka menyelesaikan naskah berjudul ‘Mama Minta Cucu’, lah di hari ke-11 malah datang Bapak dengan kode yang teramat jelas untuk minta cucu. Huiks. Hal ini yang mengusik saya. Tadinya sudah berniat kembali dengan posting yang lucu-lucuan, sesudah berhasil menyelesaikan naskah novel dalam waktu 10 harih sajah saudarah-saudarah. Apalagi kemudian, Adek saya malah sudah menulis duluan, mentang-mentang di kosnya ada WiFi. Kalau di kos saya adanya malah maling, mulai dari maling air, maling raket nyamuk, sampai maling coklat.

Iya, saya paham bahwa saya si anak pertama ini belum berhasil memberikan yang diinginkan orang tua. Adalah logis bagi seseorang berusia hampir 60 tahun untuk minta cucu pada anaknya. Cuma, ternyata hidup tidak sesederhana itu.

Hampir semua yang saya lakukan di dunia ini sebenarnya tidak jauh-jauh dari keinginan bikin orang tua saya bangga. Mungkin sedikit yang tahu kalau dulu tidak ada keinginan dari diri saya untuk masuk De Britto. Kalaulah ada, justru Don Bosco Padang yang sebenarnya saya inginkan. Nyatanya? Saya menurut tanpa perlawanan sedikitpun untuk dilempar jauh-jauh keluar rumah, demi bisa sekolah di Jogja.

Bahkan mungkin saya termasuk anak muda yang rugi untuk tidak neko-neko selama masa muda. Dikasih sepeda, manut. Dikasih Alfa, manut. Disuruh tinggal di neraka, manut juga. Diminta kagak bimbel, manut juga kok. Semuanya demi tidak menyusahkan orang tua yang keadaannya sudah susah.

Termasuk ketika bekerja. Kalaulah mau jujur, sejatinya nggak ada nyawa saya dalam mengerjakan hal-hal yang menjadi penghidupan saya sejak 4 tahun yang lalu. Tapi ya saya bekerja, demi tidak menjadi beban orang tua. Kalau bisa malah membantu. Sejak pertama kali gajian akhir Mei 2009, saya baru sekali minta duit ke rumah, Rp. 300.000 karena saya habis kena tilang oleh Polisi Cikarang. Okelah bahwa saya beli si BG juga ngutang ke orang tua, tapi saya bayar kok setiap bulannya.

Sebagai anak yang dididik kecil-kecil sudah baca Kompas, saya tahu benar kalau Bapak pasti senang jika saya bisa menembus koran itu. Nyatanya? Belum sempurna, baru dua kali, itupun satunya suplemen Jateng-Jogja, satunya secuil di pojok kanan bawah halaman Freez.

Termasuk ketika akhirnya saya punya buku, yang sayangnya tidak bisa diperoleh di Bukittinggi yang jaringan toko bukunya kurang mumpuni. Saya mencoba meyakinkan orang tua saja, kalau buku saya terbit dari sebuah penerbit yang ternama pada genrenya.

Ah, sebagian di atas mungkin terlalu meninggikan diri sendiri ya? Nggak juga kok, tinggi saya masih 169 cm, nambah dikit kalau kribonya bertumbuh.

Soal momong cucu.

Well, saya jadi ingat seseorang yang kirim pesan WhatsApp ke saya.

“Mas, dia itu suka sama kamu, lho.”

Kalimat barusan–syukurlah–merujuk pada seorang wanita. Agak horor juga kalau ada lelaki suka sama saya. Ngeri-ngeri ngilu gitu.

Saya dibesarkan dengan teladan seorang suami yang sangat baik–yang diperankan oleh Bapak saya. Seingat saya, sampai 14 tahun hidup bersama orang tua, nggak pernah sekalipun ada tindakan KDRT sekecil apapun yang terjadi di depan mata saya. Bapak saya adalah role model suami yang sempurna bagi saya. Ah, kurang sedikit, kurang ambisi saja. Tapi saya malah bersyukur, kalau saja ada ambisi tidak terkontrol, salah-salah malah korupsi.

Nah, masalahnya, saya juga mendapat darah Batak 🙂 Sisi keras saya itu yang terkadang mengkhawatirkan. Itulah sebabnya saya benar-benar memilih seseorang yang kemudian hendak saya bawa ke depan orang tua sebagai partner untuk membuat cucu agar bisa dimomong. Karena itu, saya ingin jadi seseorang yang sempurna bagi dia (yang masih abstrak itu). Dan ketika orang-orang melintas, lalu tampaknya punya rasa pada saya, kontemplasi saya berakhir pada kesimpulan kalau saya nggak akan jadi sempurna buat dia, at least saya nggak akan berusaha jadi sempurna.

Yah. Hal ini sudah jadi bahan pikiran saya 1 tahun belakangan, termasuk ketika ada seliwer gadis-gadis yang katanya menaruh hati pada si hitam-jomblo-jelek ini. Saya tadi bilang ke Adek saya, “Kalau diminta begini, lama-lama yang ada di depan mata tak sabet sajalah.”

Untunglah Adek saya bilang, bahwa akan ada seseorang disana.

Saya bukannya nggak mau memberikan cucu pada orang tua. Bahkan ingin sekali. Sejak dahulu semua yang saya lakukan sejatinya ya demi bikin orang tua senang. Percayalah. Semoga waktunya segera tiba 😀

Boys Will Be Boys

Ada sebuah qoute Bahasa Inggris yang kalau di-Indonesia-kan berbunyi begini:

“Akan selalu ada sosok seorang bocah (boy) di dalam diri seorang pria (man).”

Dan karena pernyataan itulah, saya kemudian melakoni perjalanan hari Senin kemarin. Perjalanannya nggak mudah juga, tapi saya didukung oleh fakta banyak kantor yang cuti bersama, jadi baik Cikarang maupun Jakarta, dan bahkan hingga BSD cenderung sepi.

Saya pulang tenggo dari kantor, dan bergegas berbenah di kos untuk kemudian jam 5 sore sampai di pintu tol Cikarang Barat. Tujuan saya adalah naik bis Lippo menuju Cawang. Sejujurnya, rute ini baru pertama kali saya coba, di sore hari pula. Kalau ada apa-apa, bubar sudah.

Perkaranya adalah adanya event yang menutup Trans Jakarta koridor 1 (Blok M-Kota) dari jam 3 sore. Jadi saya harus mencari jalan untuk bisa sampai ke Halte Dukuh Atas, dan pilihan itu adalah melalui Cawang.

Bis Lippo datang dan saya mendapat kursi terakhir. Ceritanya ya bangku tembak. Jadi ingat GumarangJaya kalau begini.

Perjalanan sangat lancar dan tidak sampai 40 menit, saya sudah ada di halte Cawang Ciliwung untuk naik Trans Jakarta koridor 9 yang akan membawa saya ke Kuningan Barat/Timur, halte transit menuju Dukuh Atas. Dan karena faktor yang saya sebutkan di awal, saya melakoni semuanya dengan duduk. Hari Senin, sore hari, di Trans Jakarta, duduk. Kombinasi manis sekali.

Dari Dukuh Atas 2, saya kemudian naik Trans Jakarta lagi ke Rawamangun. Disana saya sudah ditunggu Rudi untuk kemudian sama-sama berangkat ke BSD coret alias Melati Mas. Sebuah gelaran dihelat tuan rumah disana, sebuah kompetisi PS2. Terakhir kali digelar, sekitar 2006 atau 2007. Detailnya lupa.

Saya nebeng Coco, bersama Robert, Rudi, dan Elvan menuju ke rumah Boris di Melati Mas. Dipikir-pikir aneh juga sih. Jauh-jauh dari Cikarang ke BSD, via Rawamangun, hanya untuk main PS. Tapi seperti saya sebutkan tadi, ini adalah sisi bocah saya. Berkumpul kembali bersama teman-teman nyata-nyata akan menjadikan saya dan teman-teman saya sebagai bocah kembali.

Well, pada akhirnya permainan dilaksanakan. Sebagai Juara 1 PESDCC 2010/2011, saya akhirnya hanya mendapat juara 2, kalah selisih gol dari Coco. Ah, nggak pantas dia juara dengan cara seperti itu. Yang penting, saya jadi top skorer lewat Cavani. 😀

Yah. Bayangkan saya dan teman-teman di posisi kami sebagai profesional muda di kantor masing-masing. Bayangkan semuanya terkapar teriak-teriak sambil main PS. Bahkan 2 dari 6 yang main itu statusnya sudah SUAMI. Pada akhirnya mereka ya mengeluarkan kembali sisi bocah itu.

Tujuh tahun bukan periode yang pendek. Banyak yang berubah dalam rentang waktu itu, tapi jauh di intinya, benarlah bahwa akan selalu ada seorang bocah di dalam diri seorang pria.

🙂

Orang yang Lebih Bersyukur

Pernah punya mimpi? Saya yakin sih pernah, setidaknya yang cowok pasti pernah mimpi basah. Maksudnya, mimpi kehujanan.

Pernah merasakan sebuah mimpi menjadi kenyataan? Dalam hal kecil, pasti pernah. Misalnya mimpi ingin makan cimol, tahu-tahu di depan rumah ada tukang cimol lewat, dan kita beli. Atau hal level alay tapi krusial untuk seorang fans, seperti waktu saya berhasil nonton Inter Milan langsung di depan mata. Atau sampai hal besar kayak saya dulu bermimpi untuk bisa menulis di surat kabar, dan akhirnya terwujud juga pada 6 Januari 2006. Selengkapnya baca di buku saya yang judulnya Oom Alfa. *tetep promosi*

Selanjutnya

Alasan Harus Ikut Kelas Inspirasi

Kowe kudu melu… Aku wae nyesel lagi melu saiki…

Bagi yang nggak paham, pernyataan bahasa Javanese barusan kira-kira bermakna:

“Lo harus ikut… Gue aja nyesel baru ikutan sekarang…”

Masak sih?

Saat Nggak Punya Apa-Apa

Melihat segala benda mati yang saya punya sekarang, kadang jadi ingat 4 tahun silam. Ya, lebih dari 4 tahun sih. Pokoknya periode ketika saya kemudian meninggalkan segala yang saya punya di Jogja untuk bekerja di Palembang.

Ada dua benda penting milik orang tua yang dulu menjadi kekuasaan saya, si anak pertama.

Selanjutnya

Yang Terlihat Tak Seperti Yang Dikira

Bahwa pepatah lawas, jangan menilai buku dari sampulnya, itu masih sangat relevan di masa kini. Itu poin dari judul saya.

Kalau nggak salah saya pernah cerita bahwa ada seorang tetangga yang terhitung baru meninggal setelah bergulat dengan gagal ginjal selama beberapa tahun. Sesudah sang bapak berpulang, saya memang belum berkunjung, semata karena yang saya lihat dari luar, keluarga itu sudah tampak baik-baik saja.

Saya lupa bahwa ada 3 anak perempuan disana..

dan mereka merindukan bapaknya.

Alkisah beberapa hari yang lalu, malam-malam, terdengar tangisan dari luar, si anak kedua. Ternyata, si anak bungsu sedang luka berdarah-darah di dalam sana gegara habis jatuh bersama si anak sulung.

Okelah, perkara jatuh dan berdarah-darah, mari kita skip saja. Toh malam harinya si anak bungsu sudah bisa pulang kok, habis ditangani di rumah sakit.

Poin saya justru ada dua.

Ketika bercerita kronologisnya, sambil menangis, si sulung bilang begini:

“Kan aku lihat ada mobil kayak mobil aku, langsung aku kebayang kalo bapak masih hidup, bisa kita naik mobil lagi. Tau-tau ada lubang di depan..”

Dan ketika di rumah sakit, si anak kedua menangis sambil bilang begini:

“Bapak, pulang pak. Jangan disana aja. Kesini bantuin adek.”

Opo ora trenyuh aku kuwi?

They miss their father. Very much.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik soal ini. Banyak sekali.

Kesengsaraan – Ketekukan – Tahan Uji – Pengharapan

Jadi ceritanya kemarin Sabtu itu lagi nongkrong di Truly 33 sama Coco, Elvan, dan RQ. Dapatlah saya whatsapp dari Mb Esti, diminta tugas Minggu sore. Berhubung jomblo jadwal kayaknya kosong, ya sudah, hayuk acc. Step berikutnya adalah berangkat ke rumah Yoyo di LeBai (baru tahu saya ini singkatan untuk Lembah Hijau.. -___-) untuk gathering lelaki 2004.

Eh di depan Carrefour, ada yang nelpon, Yoyo sih. Pas juga saya buka HP ada Mas Robert SMS minta tuker Minggu sore ke Sabtu sore, alias 2-3 jam lagi. Berhubung juga memang lagi di Lippo, ya sudah. Toh kumpul bocah-nya juga masih menanti kedatangan Boris, Blangkon, dan Cawaz.

Maka, jadilah saya tugas Sabtu sore. Sebagai lektor cupu, ini kali pertama saya tugas di hari Sabtu.

Dan kebeneran, dapat bacaan yang duluuuuuu (saking suwi ne) juga pernah saya baca. Dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma.

Nggak usah saya tulis semua, karena yang buat saya keren itu ada di ayat 3 sampai 5.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam KESENGSARAAN kita, karena kita tahu, bahwa KESENGSARAAN itu menimbulkan KETEKUNAN, dan KETEKUNAN menimbulkan TAHAN UJI, dan TAHAN UJI menimbulkan PENGHARAPAN. Dan PENGHARAPAN tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Dulu, yang jadi poin saja adalah “dan bukan hanya itu saja…”, makanya saya ingat banget kalimat ini sebagai penanda bacaan-bacaan yang pernah saya baca dulu.

Tapi dalam waktu review yang singkat, 30 menit sebelum tugas, saya malah mendapati ayat 3 sampai 5 itu sungguh menampar. Kok?

Lihat urutannya Kesengsaraan -> Ketekunan -> Tahan Uji -> Pengharapan.

Jadi, kalaulah kita sengsara, maka akan muncul ketekunan, dan kemudian yang muncul adalah tahan uji, dan kemudian berakhir pada pengharapan.

Kalaulah saya merasa saya sengsara, maka harusnya saya tekun kan? Dan harusnya saya tahan terhadap ujian-ujian yang diberikan kan? Dan akhirnya, saya akan bisa berpengharapan kan?

Nyatanya?

Tekun aja kagak. Gimana mau tahan uji?

Fiuh. Begitulah. Setiap kali tugas, dan setiap kali bacaan, selalu punya makna. Kalau nggak jadi lektor, mana ada cerita saya mikirin ayat kitab suci. Doa aja jarang. Hehehe.