Boys Will Be Boys

Ada sebuah qoute Bahasa Inggris yang kalau di-Indonesia-kan berbunyi begini:

“Akan selalu ada sosok seorang bocah (boy) di dalam diri seorang pria (man).”

Dan karena pernyataan itulah, saya kemudian melakoni perjalanan hari Senin kemarin. Perjalanannya nggak mudah juga, tapi saya didukung oleh fakta banyak kantor yang cuti bersama, jadi baik Cikarang maupun Jakarta, dan bahkan hingga BSD cenderung sepi.

Saya pulang tenggo dari kantor, dan bergegas berbenah di kos untuk kemudian jam 5 sore sampai di pintu tol Cikarang Barat. Tujuan saya adalah naik bis Lippo menuju Cawang. Sejujurnya, rute ini baru pertama kali saya coba, di sore hari pula. Kalau ada apa-apa, bubar sudah.

Perkaranya adalah adanya event yang menutup Trans Jakarta koridor 1 (Blok M-Kota) dari jam 3 sore. Jadi saya harus mencari jalan untuk bisa sampai ke Halte Dukuh Atas, dan pilihan itu adalah melalui Cawang.

Bis Lippo datang dan saya mendapat kursi terakhir. Ceritanya ya bangku tembak. Jadi ingat GumarangJaya kalau begini.

Perjalanan sangat lancar dan tidak sampai 40 menit, saya sudah ada di halte Cawang Ciliwung untuk naik Trans Jakarta koridor 9 yang akan membawa saya ke Kuningan Barat/Timur, halte transit menuju Dukuh Atas. Dan karena faktor yang saya sebutkan di awal, saya melakoni semuanya dengan duduk. Hari Senin, sore hari, di Trans Jakarta, duduk. Kombinasi manis sekali.

Dari Dukuh Atas 2, saya kemudian naik Trans Jakarta lagi ke Rawamangun. Disana saya sudah ditunggu Rudi untuk kemudian sama-sama berangkat ke BSD coret alias Melati Mas. Sebuah gelaran dihelat tuan rumah disana, sebuah kompetisi PS2. Terakhir kali digelar, sekitar 2006 atau 2007. Detailnya lupa.

Saya nebeng Coco, bersama Robert, Rudi, dan Elvan menuju ke rumah Boris di Melati Mas. Dipikir-pikir aneh juga sih. Jauh-jauh dari Cikarang ke BSD, via Rawamangun, hanya untuk main PS. Tapi seperti saya sebutkan tadi, ini adalah sisi bocah saya. Berkumpul kembali bersama teman-teman nyata-nyata akan menjadikan saya dan teman-teman saya sebagai bocah kembali.

Well, pada akhirnya permainan dilaksanakan. Sebagai Juara 1 PESDCC 2010/2011, saya akhirnya hanya mendapat juara 2, kalah selisih gol dari Coco. Ah, nggak pantas dia juara dengan cara seperti itu. Yang penting, saya jadi top skorer lewat Cavani.😀

Yah. Bayangkan saya dan teman-teman di posisi kami sebagai profesional muda di kantor masing-masing. Bayangkan semuanya terkapar teriak-teriak sambil main PS. Bahkan 2 dari 6 yang main itu statusnya sudah SUAMI. Pada akhirnya mereka ya mengeluarkan kembali sisi bocah itu.

Tujuh tahun bukan periode yang pendek. Banyak yang berubah dalam rentang waktu itu, tapi jauh di intinya, benarlah bahwa akan selalu ada seorang bocah di dalam diri seorang pria.

🙂

3 thoughts on “Boys Will Be Boys

  1. Pingback: 2013 | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s