Momong Cucu

“Bapak masih ngajar, kan?” tanya Adek saya.

“Tadinya sih mau jadi MC,” jawab Bapak saya.

Saya dan Adek saya bingung. Agak bingung juga kenapa di usia nyaris 60 ini Bapak baru berpikir untuk menjamah dunia baru, jadi MC?

“MC apaan, Pak?” tanya saya.

“Momong Cucu.”

AAAAAAKKKKKK!!!! *gigit-gigit sayap Garuda*

Okelah. Bapak saya tidak memberikan statement yang jelas mengenai kode momong cucu itu tadi. Tapi tentu saja, saya sebagai anak sulung yang sudah berusia cukup lanjut dan masih jomblo wajib untuk merasa bertanggung jawab pada kode yang diberikan Bapak itu.

Agak unik juga sih. Saya absen ngeblog sekitar 10 hari adalah dalam rangka menyelesaikan naskah berjudul ‘Mama Minta Cucu’, lah di hari ke-11 malah datang Bapak dengan kode yang teramat jelas untuk minta cucu. Huiks. Hal ini yang mengusik saya. Tadinya sudah berniat kembali dengan posting yang lucu-lucuan, sesudah berhasil menyelesaikan naskah novel dalam waktu 10 harih sajah saudarah-saudarah. Apalagi kemudian, Adek saya malah sudah menulis duluan, mentang-mentang di kosnya ada WiFi. Kalau di kos saya adanya malah maling, mulai dari maling air, maling raket nyamuk, sampai maling coklat.

Iya, saya paham bahwa saya si anak pertama ini belum berhasil memberikan yang diinginkan orang tua. Adalah logis bagi seseorang berusia hampir 60 tahun untuk minta cucu pada anaknya. Cuma, ternyata hidup tidak sesederhana itu.

Hampir semua yang saya lakukan di dunia ini sebenarnya tidak jauh-jauh dari keinginan bikin orang tua saya bangga. Mungkin sedikit yang tahu kalau dulu tidak ada keinginan dari diri saya untuk masuk De Britto. Kalaulah ada, justru Don Bosco Padang yang sebenarnya saya inginkan. Nyatanya? Saya menurut tanpa perlawanan sedikitpun untuk dilempar jauh-jauh keluar rumah, demi bisa sekolah di Jogja.

Bahkan mungkin saya termasuk anak muda yang rugi untuk tidak neko-neko selama masa muda. Dikasih sepeda, manut. Dikasih Alfa, manut. Disuruh tinggal di neraka, manut juga. Diminta kagak bimbel, manut juga kok. Semuanya demi tidak menyusahkan orang tua yang keadaannya sudah susah.

Termasuk ketika bekerja. Kalaulah mau jujur, sejatinya nggak ada nyawa saya dalam mengerjakan hal-hal yang menjadi penghidupan saya sejak 4 tahun yang lalu. Tapi ya saya bekerja, demi tidak menjadi beban orang tua. Kalau bisa malah membantu. Sejak pertama kali gajian akhir Mei 2009, saya baru sekali minta duit ke rumah, Rp. 300.000 karena saya habis kena tilang oleh Polisi Cikarang. Okelah bahwa saya beli si BG juga ngutang ke orang tua, tapi saya bayar kok setiap bulannya.

Sebagai anak yang dididik kecil-kecil sudah baca Kompas, saya tahu benar kalau Bapak pasti senang jika saya bisa menembus koran itu. Nyatanya? Belum sempurna, baru dua kali, itupun satunya suplemen Jateng-Jogja, satunya secuil di pojok kanan bawah halaman Freez.

Termasuk ketika akhirnya saya punya buku, yang sayangnya tidak bisa diperoleh di Bukittinggi yang jaringan toko bukunya kurang mumpuni. Saya mencoba meyakinkan orang tua saja, kalau buku saya terbit dari sebuah penerbit yang ternama pada genrenya.

Ah, sebagian di atas mungkin terlalu meninggikan diri sendiri ya? Nggak juga kok, tinggi saya masih 169 cm, nambah dikit kalau kribonya bertumbuh.

Soal momong cucu.

Well, saya jadi ingat seseorang yang kirim pesan WhatsApp ke saya.

“Mas, dia itu suka sama kamu, lho.”

Kalimat barusan–syukurlah–merujuk pada seorang wanita. Agak horor juga kalau ada lelaki suka sama saya. Ngeri-ngeri ngilu gitu.

Saya dibesarkan dengan teladan seorang suami yang sangat baik–yang diperankan oleh Bapak saya. Seingat saya, sampai 14 tahun hidup bersama orang tua, nggak pernah sekalipun ada tindakan KDRT sekecil apapun yang terjadi di depan mata saya. Bapak saya adalah role model suami yang sempurna bagi saya. Ah, kurang sedikit, kurang ambisi saja. Tapi saya malah bersyukur, kalau saja ada ambisi tidak terkontrol, salah-salah malah korupsi.

Nah, masalahnya, saya juga mendapat darah Batak 🙂 Sisi keras saya itu yang terkadang mengkhawatirkan. Itulah sebabnya saya benar-benar memilih seseorang yang kemudian hendak saya bawa ke depan orang tua sebagai partner untuk membuat cucu agar bisa dimomong. Karena itu, saya ingin jadi seseorang yang sempurna bagi dia (yang masih abstrak itu). Dan ketika orang-orang melintas, lalu tampaknya punya rasa pada saya, kontemplasi saya berakhir pada kesimpulan kalau saya nggak akan jadi sempurna buat dia, at least saya nggak akan berusaha jadi sempurna.

Yah. Hal ini sudah jadi bahan pikiran saya 1 tahun belakangan, termasuk ketika ada seliwer gadis-gadis yang katanya menaruh hati pada si hitam-jomblo-jelek ini. Saya tadi bilang ke Adek saya, “Kalau diminta begini, lama-lama yang ada di depan mata tak sabet sajalah.”

Untunglah Adek saya bilang, bahwa akan ada seseorang disana.

Saya bukannya nggak mau memberikan cucu pada orang tua. Bahkan ingin sekali. Sejak dahulu semua yang saya lakukan sejatinya ya demi bikin orang tua senang. Percayalah. Semoga waktunya segera tiba 😀

Advertisements

3 thoughts on “Momong Cucu

  1. Pingback: 2013 | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s