Teman

Apa yang harus disyukuri dalam hidup? Pasti banyak, bahkan bisa hidup itu harus disyukuri dalam setiap tarikan nafas. Tapi terkait kemajuan zaman, saya bersyukur berada pada masa yang tepat.

Yah, saya baru punya FB dan HP yang bisa internet 3G (bukan 3gp) pada Desember 2008. Pada saat itu di FB baru ada bule-bule gila. Kalimat itu milik Lussy Dugonk yang waktu itu jadi 1 dari sedikit teman FB saya. Pada Desember 2008 saya memasuki masa-masa akhir studi.

Kenapa tepat?

Karena saya nggak kebayang kalau saya dalam masa studi dan saya sudah punya ponsel pintar plus akses linimasa. IP saya di kuliah yang sudah jongkok akan semakin jongkok, bisa tiarap malah.

Berikutnya, ya, memang saya termasuk kurang mengikuti zaman. Kalau yang lain sudah ber-BB ria, saya malah nggak. Saya setia pada sebuah benda yang saya beli di IP Palembang seharga 1,4 juta bernama LG GW300. Benda itu saya pakai terus sampai kemudian godaan muncul.

Era Android sudah masuk, dan saya termasuk ketinggalan. Nah, teman-teman saya mulai menggunakan aplikasi Whatsapp. Interaksi saya dengan teman-teman memang tidak banyak. Kenapa? Ya karena saya memilih untuk kerja di Palembang, jauh dari teman-teman di Pulau Jawa. Pada awal-awal kerja, sekitar Juli 2009, sempat ada sebuah forum bernama ‘Ngalor Ngidul’ yang isinya email-email kantor berbagai perusahaan farmasi di Indonesia dan isinya ngomongin nggak jelas *halah*

Forum itu perlahan punah seiring pindahnya beberapa orang sehingga mengurangi member forum.

Lalu beralih ke FB, ada sebuah pesan FB isi banyak bernama ‘Jangan Sampai Putus Kontak’, sempat ramai, lalu musnah lagi.

Ketika saya mendengar ada Grup Whatsapp antar teman-teman yang nggak jelas ini, saya mulai goyah. Memang sih, keypad si GW300 sudah memintanya untuk diganti. Akhirnya dengan uang arisan (yang untungnya masih selamat) saya membeli sebuah HP Android, paling murah.

Akhirnya saya join grup Whatsapp. Hore juga. Memang timbul tenggelam, kadang ada, kadang nggak. Wajar, orang kan punya kesibukan masing-masing.

Pas lagi di mobilnya Boriz, saat berhenti menunggu Robert di perbatasan kota Wonosari, dibuatkan sebuah grup Whatsapp bernama UKF DLN2. Dari mana aja udah kelihatan kalau yang buat malas, namanya aja ngasal. šŸ™‚

Tapi kemudian di grup itulah, saya bisa tertawa ngekek sendirian di kamar, atau bahkan di kantor. Hanya sebatas kata-kata yang tertulis, tapi kemudian mampu menyunggingkan senyum hingga membuat tawa terbahak-bahak. Asli ngekek.

Yah, ada yang di Pangkalpinang, ada yang di Pontianak, dan berbagai tempat lainnya, tapi bisa bersatu bercanda bersama di sebuah layanan yang disediakan Whatsapp. Ini hiburan ketika hidup mlai semakin pelik. Membaca sebaris dua baris kalimat di grup itu setidaknya mampu membuat ngekek. Yah, hinaan itu paralel dengan tawa dan canda plus paralel dengan kebersamaan. Jadi satu, tidak terpisahkan. Mungkin inilah yang namanya teman.

Bukan begitu? šŸ™‚

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s