All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Make Up Pengantin Modern Jakarta

Setiap mempelai wanita menginginkan tampil cantik dan menawan pada hari pernikahannya. Banyak vendor make up artist (MUA) profesional yang memberikan berbagai paket penawaran yang menarik untuk rias pengantin. Tata rias wajah kini sudah berkembang dan semakin maju tidak hanya rias pengantin tradisional, namun sekarang sudah banyak yang menawarkan make up modern, salah satu studio make up pengantin modern Jakarta yang bisa menjadi referensi untuk make-up pengantin Anda adalah Virry Christiana – Makeup Artist Jakarta.

The Bride Make up Studio by Virry Christiana adalah salah satu dari sekian banyak make up artist Jakarta yang terpercaya dan berpengalaman. Berlokasi di Alam Sutera, Jakarta, Make up Studio by Virry Christiana ini banyak dicari oleh pasangan calon pengantin yang akan menikah dengan konsep pernikahan modern. Virry Christiana percaya bahwa setiap wanita itu cantik, dan polesan make up akan menonjolkan kecantikan yang lebih bagi setiap wanita. Bagi Virry Christiana setiap make up pengantin dengan sentuhan yang lembut akan membuat penampilan mempelai wanita lebih menarik dan menawan. The Bride Makeup Studio menawarkan make up pengantin yang dapat disesuaikan dengan setiap kebutuhan klien.

Make up bertujuan untuk membuat seseorang tampak lebih muda, fresh, dan kecantikannya akan terpancar. Riasan wajah bukan menjadikan seseorang terlihat seperti memakai topeng atau menjadi berlebihan. Virry Christiana pun mengerti bahwa untuk menghasilkan make up profesional yang cantik maka dibutuhkan produk kecantikan yang tepat pula. Di The Bride Makeup Studio hanya menggunakan produk make up yang berkualitas tinggi, seperti; Chanel, Makeup Forever, M.A.C, Estee Lauder, Givenchy, Urban Decay, dll. The Bride Make up Studio by Virry Christiana mementingkan kualitas dibandingkan kuantitas, maka dalam satu hari mereka hanya menerima satu klien make up dan memastikan mempelai pengantin secara detail mendapat perhatian yang layak dari awal hingga akhir acara pernikahan.

Selengkapnya!

11 Hal Yang Dapat Dilakukan Saat Menjemput Pasangan Yang Belum Kelar Urusannya

11 Hal Yang Dapat Dilakukan Saat Menjemput Pasangan Yang Belum Kelar Urusannya

Suatu ketika di kesunyian kantor tampaklah dua orang sedang main Pro Evolution Soccer di laptop. Ketika Gareth Bale sedang menggiring bola mendekati garis gawang, tetiba terdengar suara ringtone iPhone SE. Diangkatlah gawai itu dengan segera, mungkin karena di layar ponsel muncul tulisan, “Kantor Polisi”.

“Halo?”
Dari speaker lantas terdengar, “jemput, ya, Pah. Mamah udah mau keluar.”

Sontak Gareth Bale mutung. Dia segera mengambil bola dan tanpa minta di-close, dia nge-close sendiri layar PES-nya. Kegagalan mencetak gol dalam pertandingan PES ini sama pedihnya dengan gol bersih yang dianulir pas El Classico untuk melengkapi gol trio maut BBC.

“Sorry, coy! Gue jemput bini dulu!”

Selengkapnya klik di sini, ya!

Sedapnya Mi Aceh di Bendungan Hilir

SEDAPNYA MIE ACEH DI BENDUNGAN HILIR

Sejak Mbak Pacar resmi menjadi masyarakat Bendungan Hilir, sudah barang tentu saya jadi wira-wiri kesana dari Percetakan Negara. Bahkan saking romantisnya, saya pernah ke Benhil langsung dari Makassar. Semata-mata karena Jalangkote yang saya bawa kebanyakan dan perut luber saya tiada sanggup menampungnya sendirian.

Benhil jelas dikenal sebagai tempatnya makanan-makanan legendaris. Mau masakan Padang, mau gudeg, hingga ala-ala Sunda juga tersedia di sekitar Benhil. Dan salah satu yang sangat terkenal di Benhil adalah Rumah Makan Aceh Seulawah.

Berlokasi sekali naik bemo dari Pasar Benhil kalau mudah lelah kayak saya, dan tiada jauh benar dari Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, wong di depannya, tentu saja tempat ini terbilang mudah diakses oleh pecinta kuliner sepanjang jaman. Mi Aceh, sebagai panganan khas Aceh dan meng-Indonesia serta mendunia, adalah salah satu menu andalan di tempat ini. Berdiri sejak 1996–belum lama, berdirinya nggak selama Nyonya Meneer, jadi belum pegal–RM Seulawah adalah pelopor masakan Aceh di Jakarta. Kalau mau hikayat nan lebih jelas, sila datang saja dan baca deh copian koran lawas yang diperbesar dan dipajang di dinding.

Selengkapnya!

Makan Malam Romantis di Cassis Kitchen

GOUNELLE

Sebagai pemuda baik-baik, belum kawin, dan selalu menangis sekelarnya kencan di foodcourt mal mahal macam Grand Indonesia dan Plaza Senayan, makan mahal kiranya adalah sesuatu yang musykil buat saya. Tapi apa daya, saya diarahkan Tuhan untuk berkasih-kasihan dengan kekasih yang seleranya berkelas atas dan mumpuni. Sejak sama dia, saya yang biasanya makan di KFC saja sudah intip-intip dompet, bisa mulai sesekali nongkrong di kafe. Kala nongkrong itu, dia minum kopi, saya megangin gelasnya sambil membayangkan ‘kok iso ono kopi larang e koyo ngene‘. Bagian ini mungkin menjadi pembeda anak lulusan Jogja dengan lulusan Bandung. Sejauh analisis kami, sih demikian.

Nah, berkaitan dengan voucher yang diperoleh pacar, maka muncul ide untuk makan di tempat nan mahal. Orang-orang yang makan di tempat ini rerata menggunakan mobil, kalaupun naik taksi, Silver Bird. Dijamin tidak ada mamang Gojek yang berkeliaran layaknya di Martabak Pecenongan. Kalau Uber? Bisa jadi ada. Dan kalau pengen dapat Free Rides Uber ke tempat bernama Cassis Kitchen ini bisa unduh aplikasi Uber dan masukkan kode alexandera1517ue. Sip!

Berlokasi di antara Sudirman Park dan Citywalk Sudirman, alias tepatnya di Sudirman Pavillion, hanya ada sebuah papan kecil yang menunjukkan kata ‘Cassis’, dan mungkin satpamnya trenyuh begitu saya masuk bawa si BG dan mengaku hendak makan di Cassis. Mungkin saya dikira mau servis AC.

Selengkapnya!

Berfoto Aman Berlatar Jembatan Barelang

BerfotoAmanJembatanBarelang

Cobalah mengetik kata ‘jembatan barelang’ di Google, niscaya yang kita dapati bukan sekadar informasi tentang sebuah jembatan yang menyambungkan Pulau Batam, Rempang, dan Galang. Sepaket dengan informasi tentang jembatan, kita dapati pula informasi tentang orang terjun maupun orang jatuh dari Jembatan Barelang. Begitu Mamak saya ke Rempang bertemu Tante Suster dan saya diperlihatkan foto di Jembatan Barelang, saya tetiba juga heran. Sederhana saja, karena Mamak saya berfoto persis di Jembatan Barelangnya, malah yang tampak hanya objek Mamak dan tiang tinggi yang melatarinya. Nggak ada indah-indahnya. Terus nih ya, kalau berfoto persis di Jembatan Barelangnya, latarnya kan laut, terus jembatannya nggak kelihatan dong?

Barelang4

Mungkin agak beda dengan yang berfoto di Jembatan Ampera karena bagaimanapun di Ampera itu ada tulisan Ampera yang menunjukkan bahwa kita berfoto di Jembatan Ampera. Etapi namanya orang terjun dari Jembatan Ampera juga sudah banyak, ding. Duh! Tapi kalau Bapak yang ini mah nggak sampai terjun, buktinya sekarang sudah kawin dan nggak pindah-pindah dari Palembang:

38079_1521104064481_6267714_n

Pertanyaan itu saya simpan sampai kemudian saya mendapat kesempatan pergi ke Batam, dan nyaris sekali tidak ke Jembatan Barelang karena hujan besar. Untuk sampai ke Jembatan Barelang, ancer-ancer mudahnya adalah Kepri Mall. Kalau dari arah kota, belok kanan di perempatan yang ada Kepri Mall. Jika dari arah Nongsa, tidak usah masuk perempatan, langsung ada akses belok kiri ke Barelang. Dari perempatan itu, masih lumayan jauh lagi, sih. Dan namanya memaksakan diri datang ke Barelang ketika hujan, mau nggak mau saya juga harus mendapati diri untuk berfoto dalam suasana hujan. Hujan dan jembatan. Sungguh itu kalau saya foto di jembatan, bumbu kenangan dapat membuat saya terjun.

Barelang2

Oke, sekilas dulu tentang Jembatan Barelang. Salah satu simbol kota Batam ini letaknya kira-kira 20 kilometer dari pusat kota Batam. Dibangun tahun 1992 dan selesai tahun 1998. Cukup lama untuk sebuah proyek di Indonesia. Bandingkan dengan proyek Bandung Bondowoso semacam Tol Cipularang dan Jembatan Pasupati di Bandung. Pemrakarsa Jembatan Barelang adalah mantan Presiden BJ Habibie, kala itu masih menjabat Menteri Riset dan Teknologi.

Selengkapnya tentang Jembatan Barelang!

[Review] Kung Fu Panda 3

Reviu Kung Fu Panda

“You don’t even know kung fu!”
“Then you will teach us.”

Yeah! Akhirnya kita bersua lagi dengan Po, Panda jagoan yang kelakuannya lumayan menyebalkan. Saya yakin kita mengikuti kiprah Po dari jaman dia belum bisa kung fu sama sekali di Kung Fu Panda hingga kemudian bisa mendapatkan ‘inner peace’ di Kung Fu Panda 2 yang sudah lima tahun silam itu. Ibarat anak tangga, sesudah Po belajar jadi ksatria naga dan menguasai ‘inner peace’, kini saatnya Po merambah gawean baru: seorang guru.

Kalau mau dirunut, sepanjang dua edisi Kung Fu Panda, boleh dibilang kita hanya menemukan panda selain Po dalam konteks flashback. Dan kalau ingat, pada akhir Kung Fu Panda 2 muncul adegan sesosok panda tua yang merasakan bahwa anaknya masih hidup. Sambungan dari perasaan panda tua tadi baru muncul lima tahun kemudian. Gile, lama bener.

Selengkapnya tentang Kung Fu Panda 3!

Biskuit Menyala Ketika Dibakar? Mari Sayangi Otak Kita!

3D X-Ray of head with gears in brain

“Learning without thought is labor lost;
thought without learning is perilous.”
-Confucius

Terlepas dari pernyataan di atas dikeluarkan oleh orang dari Tiongkok sana dan merupakan leluhur dari salah satu mantan saya, tapi muatan dari rangkaian kata-kata yang mengawali tulisan ini adalah benar. Belajar tanpa berpikir, itu sama saja dengan buang-buang tenaga. Namun penekanan saya kali ini lebih kepada kalimat kedua: sekadar berpikir tanpa belajar itu bahaya, broh.

Jadi beberapa hari ini saya menyaksikan video viral, di-share oleh puluhan ribu manusia. Namanya manusia, punya otak, tentu saja bisa berpikir. Video viral itu adalah soal makanan sejenis biskuit yang syukurlah bisa terbakar, sehingga syukurlah videonya bisa viral, dan syukurlah jadi pada terkenal, dan syukurlah kita jadi tahu mana teman Facebook kita yang belajar dan berpikir, belajar tanpa berpikir, hingga berpikir tanpa belajar. Disyukuri saja, kak.

Saya tentu saja ogah ikutan nge-share video macam itu, tapi biar jelas saya nge-share screenshoot-nya saja, ya. Sudah menjadi visi misi ariesadhar.com untuk memberi pencerahan pada masyarakat selain dengan konsisten menyebarluaskan kegalauan dan kegamangan tentang jomblo menahun maupun LDR berkelanjutan. Hal itu tetap saya lakukan walaupun buku OOM ALFA kurang laku. Untuk itu, beli dong bukunya disini, ya?

Bakar

Baca komen-komen di video, saya sungguh trenyuh. Ternyata selain populasi jomblo yang besar, populasi orang-orang yang kurang paham tentang muatan video tersebut juga besar. Ya pantas saja keder sama MEA. Padahal kalau kita sadar, dibandingkan keder sama MEA, lebih baik kita keder sama MERTUA!

Selengkapnya!

Sebuah Godaan Untuk Menjadi Orang Baik

Orang Baik

Pembaca ariesadhar.com pasti mahfum benar bahwa saya nggak pernah menulis tentang pekerjaan saya dengan frontal. Bahkan nama perusahaan tempat saya bekerja dulu, cuma tertulis 1 kali saja dari sekian ratus posting yang menghuni blog berumur nyaris 8 tahun ini.

Kalaupun saya menulis tentang pekerjaan, itu adalah ilmu tentang pekerjaan yang saya lakoni, semisal salah satu posting terlaris di ariesadhar.com ini, atau tentang audit-auditan yang jumlahnya lumayan banyak. Kalaulah ada yang curhat, biasanya saya samarkan dengan cerita pendek. Bahkan saya sendiri baru mengaku ke dunia maya mengenai pekerjaan saya sekarang, baru ketika diwawancara sama bidhuan.com. Nggak percaya? Cek saja profil Facebook maupun LinkedIn saya. Disitu hanya tertulis bahwa saya adalah blogger di ariesadhar.com. Itu saja.

Maka, posting ini mungkin adalah salah satu jenis tabu di ariesadhar.com, tapi nggak apa-apa, demi menyemarakkan agenda Mengarang Indah milik De Britto Blogger Club alias DBBC yang dikoordinir dari Jalan Bantul Kilometer 5075. Spesial!

Jadi, sesudah nyaris satu periode SBY-Boediono berkutat dengan Supply Chain baik di pabrik obat maupun pabrik ekstrak bahan alam, saya akhirnya mendapati sebuah turning point. Titik ketika kehidupan saya berubah begitu drastis. Dari gaji X menjadi sepertiga X, dari hidup mengurusi Capital Expenditure (CAPEX) dan Operating Expense (OPEX) hingga penyusunan bujet yang bunyinya miliaran menjadi pengantar surat, dari orang yang disapa ‘Pak’ oleh sebagian besar operator, menjadi manusia yang harus mengganti galon dengan bahagia. Ehm, kalau urusan membenahi kertas yang nge-jam, sih, tidak berubah. Sama saja, di pabrik iya, di kerjaan sekarang juga iya.

Selengkapnya!

Menikmati 5 Santapan Khas Makassar

Jpeg

Setelah 3 kali mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin namun tidak turun dari pesawat–karena memang pesawatnya transit dari Kendari dan dari/ke Jayapura–akhirnya saya mendapat kesempatan untuk benar-benar mendarat dan menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan. Lumayan, sesudah kaki sisi Tenggara dan kepala, saya bisa juga berada di kaki sisi Selatan dari celebes. Wow!

photogrid_1454738199551.jpg

Dalam waktu nan singkat, memang sulit untuk menikmati suatu kota. Begitu, sih, pengalaman saya. Namun bagaimanapun, namanya lagi perjalanan kiranya rugi jika tidak menikmati santapan khas suatu kota. Termasuk ketika saya berada di Makassar, tentunya ada niatan untuk menikmati setiap kunyahan khas Makassar, meskipun sesudah makan terus mikir kira-kira berapa nilai kolesterol dalam darah. Heu. So, ini dia output kunjungan singkat saya ke Makassar, 5 santapan saja, kakak.

Klik untuk membaca selengkapnya!

Daftar Penyesalan: 6+1 Tempat Impian Untuk Dikunjungi di Sumatera Selatan

SONY DSC

Maret 2009, kali pertama saya melihat kokohnya Jembatan Ampera dari balik awan. Pertama kalinya pula mata saya mengagumi lekuk Sungai Musi nan mengagumkan itu. Dipadu garis nasib, akhirnya pertemuan pertama itu mengikat saya hingga akhirnya datang kembali ke Bumi Sriwijaya pada bulan Mei 2009. Kali ini sebagai manusia yang hendak bermukim di kota Palembang.

FILE048-edit

Sebuah perjodohan yang berusia 2 tahun nan sangat membekas bagi saya. Meski karena berpisah dengan Bumi Sriwijaya-lah saya jadi bisa melihat sisi lain Indonesia mulai Kendari sampai Papua. Maka, bahkan ketika sudah hampir lima tahun saya meninggalkan Bumi Sriwijaya pada umumnya dan Palembang pada khususnya, saya selalu punya kerinduan khusus pada Bumi Wong Kito Galo ini. Apalagi, banyak sekali tempat yang belum saya singgahi selama saya menjadi manusia yang minum air Musi. Tempat-tempat yang pada akhirnya berakhir sebagai perencanaan dari sekadar makan siang di kantin, tanpa sempat menjadi realisasi.

Tempat apa saja itu? Payo dijingok!

Selengkapnya!