Sedapnya Mi Aceh di Bendungan Hilir

SEDAPNYA MIE ACEH DI BENDUNGAN HILIR

Sejak Mbak Pacar resmi menjadi masyarakat Bendungan Hilir, sudah barang tentu saya jadi wira-wiri kesana dari Percetakan Negara. Bahkan saking romantisnya, saya pernah ke Benhil langsung dari Makassar. Semata-mata karena Jalangkote yang saya bawa kebanyakan dan perut luber saya tiada sanggup menampungnya sendirian.

Benhil jelas dikenal sebagai tempatnya makanan-makanan legendaris. Mau masakan Padang, mau gudeg, hingga ala-ala Sunda juga tersedia di sekitar Benhil. Dan salah satu yang sangat terkenal di Benhil adalah Rumah Makan Aceh Seulawah.

Berlokasi sekali naik bemo dari Pasar Benhil kalau mudah lelah kayak saya, dan tiada jauh benar dari Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, wong di depannya, tentu saja tempat ini terbilang mudah diakses oleh pecinta kuliner sepanjang jaman. Mi Aceh, sebagai panganan khas Aceh dan meng-Indonesia serta mendunia, adalah salah satu menu andalan di tempat ini. Berdiri sejak 1996–belum lama, berdirinya nggak selama Nyonya Meneer, jadi belum pegal–RM Seulawah adalah pelopor masakan Aceh di Jakarta. Kalau mau hikayat nan lebih jelas, sila datang saja dan baca deh copian koran lawas yang diperbesar dan dipajang di dinding.

Kalau melihat memorabilia berupa piring yang ditandatangani oleh banyak artis dan pejabat, sudah jelas bahwa RM Seulawah ini adalah tempat rekomendasi untuk mencicipi masakan khas Aceh yang bumbunya luar biasa menyengat itu. Tapi kalau kamu bukan siapa-siapa kayak saya, nggak usah minta piring terus mendadak pengen menandatanganinya. Ora ilok. Saya saja yang jelas-jelas penulis kurang laku nggak berani minta piringnya, kok.

photogrid_1458600246909.jpg

RM Seulawah ini tempatnya tidak besar-besar amat dan pada saat-saat tertentu ramai. Plus parkirnya juga tidak besar, bercampur dengan pedagang lain di sekitarnya. Saya sendiri setengah mati mengeluarkan si BG karena selain ditutup sama sepeda motor lain, kebetulan lagi hujan deras. Tapi ya namanya makanan enak memang begitu riak-riaknya. Ya, toh? Good!

Sebagai pecinta mi goreng, sudah barang tentu saja mengorder panganan itu. Nostalgia sedikit, perkenalan saya dengan Mi Aceh agak absurd. Ceritanya saya mau kondangan ke nikahan adeknya Mbak Rika di dekat Lemabang. Waktu itu kondangannya berdua sama Ando–yang sekarang sudah jadi bos di kantor lama saya. Berbekal ingatan–karena undangan ketinggalan di kantor–dan keyakinan bahwa tinggal nyari tenda terus masuk, kami berangkat. Begitu sampai di tempat yang kira-kira adalah lokasi, kami masuk ke sebuah rumah yang ada tendanya, bersalaman, dan lantas menyadari bahwa ini bukan kawinan. Ini orang mau berangkat haji. Dan di gang yang sama, ada tiga tenda, sama-sama mau berangkat haji. Cari-cari demi cari, akhirnya kami lelah dan memutuskan untuk makan di suatu tempat dengan menu Mi Aceh. Sejak itu, Mi Aceh jadi salah satu favorit saya.

Saya sempat mencicipi beberapa Mi Aceh di Jakarta, namun rasanya tidak senendang impresi pertama saya ketika mencicipi Mi Aceh di Palembang. Maka, dengan riwayat RM Seulawah yang katanya kece, ekspektasi saya langsung tinggi. Dan semakin tinggi begitu benda ini sampai ke meja saya dan pacar:

photogrid_1458599972010.jpg

Aromanya, kak, mantap sekali! Apalagi saya duduknya dekat dapur, tampak campur baur aroma yang masuk ke hidung saya dengan dominasi mutlak dari bumbu-bumbu. Jadi, nggak ada alasan untuk menunda masuknya benda kuning panjang berbalut butiran-butiran merah hitam itu ke dalam mulut saya. Garpu saya putar hingga lantas menggaet sejumlah mi dalam jangkauannya. Benda logam itu bergerak masuk ke dalam mulut dan dengan segera kerasnya bumbu yang tercium di hidung bertransformasi menjadi rasa via perantaraan lidah.

Dan, yeah, sesuai ekspektasi! Ini baru benar-benar Mi Aceh! Pacar juga sepakat bahwa Mi Aceh di RM Seulawah ini sesuai dengan ekspektasi terhadap kesohornya rasa sebuah makanan bernama Mi Aceh. Lumayan bikin nangis, utamanya karena campuran pedasnya. Tapi bagi penggemar pedas, menangis kepedasan adalah sensasi tersendiri.

photogrid_1458600119990.jpg

Kini RM Seulawah sudah ada di beberapa tempat, yang sebagian besar diantaranya jauh lebih nyaman daripada lokasi aslinya di Bendungan Hilir. Namun akan halnya orang memburu Martabak San Fransisco sampai di tempat asalnya di Bandung sono, ada sensasi tersendiri untuk mencicipi Mi Aceh langsung di RM Seulawah Bendungan Hilir. Tapi kalau memang lapar dan keburu ngiler dengan racikan Mi Aceh, bolehlah datangi RM Seulawah yang lainnya seperti di Manggarai dan Bekasi.

Satu hal yang paling penting ketika saya makan di RM Seulawah adalah dua orang berbeda jenis kelamin yang kayaknya lagi PDKT. Yang cowok cerita tentang pencapaiannya dalam olahraga ekstrim dengan volume besar. Yang cewek ceceritaan tentang pekerjaan. Agak bete adalah ketika mereka bilang gaji 8 juta itu kecil. Heuheu. Semoga PDKT mereka lancar, dan kalau kebetulan baca posting ini mbok saya dijajanin, Koh.

Atau, ada lagi yang mau ngajak saya makan Mi Aceh di Benhil? Tapi tolong ya, saya dijajanin. Oke?

8 thoughts on “Sedapnya Mi Aceh di Bendungan Hilir

  1. Mauuu. Bayarin! Hahaha. Banyak baca soal Seulawah ini tapi belum coba sampe sekarang.

    Kenangan saya soal mie aceh. Hampir 2 minggu makan mie aceh terus tiap hari waktu liputan gempa di Aceh Tengah. Waktu itu sih, BILANGNYA, ga mau makan itu lagi. Eh, balik Jakarta, malah nyari mie aceh lagi :’)) Acar bawangnya itu… Bah!

    Like

  2. assalamu’alaikum mas, saya suka membaca postingan di blog2nya, menurut saya keren, dari dulu pengen jadi penulis, cuma tidak sesuai kemampuan,, hehe curhat nih😀

    o iya.. sempatin jalan2 ke aceh mas, biar bisa mencicipi mie aceh asli, di jamin gag bakal nyesal, kebetulan saya orang aceh🙂

    Like

    • Walaikumsalam, Septia.
      Saya mah juga apa, jadi penulis tapi bukunya kurang laku. Haha. Tapi yang penting menulis sajalah. Katanya writing is healing, sharing is connecting🙂
      Asli pengen banget ke Aceh. Dulu sudah hampir dapat dinas ke Aceh, eh, gegara hotel-hotel di Aceh pada penuh akhirnya di switch ke Palembang. Hehe. Semoga dapat kesempatan kesana, ya🙂

      Like

  3. Pingback: Mencoba Berdamai Dengan Jakarta | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s