All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Daftar Lomba Blog September 2019

Screenshot_1966

Sekadar mau berbagi informasi saja, karena kadang kalau lagi selow saya suka nyari blog yang menyediakan informasi lomba blog, sekadar untuk menambal isi kantong. Bulan September 2019 ini lomba blog lagi luar biasa banyaknya, lho!

Blog Competition Trip Impian Bersama Watsons

Sumber: kompetisiblogwatsons.com

Hadiah:
Grand Prize Free ticket for 2 person to Thailand round trip + IDR 2.000.000 Watsons Shopping Voucher. 10 Pemenang lainnya: masing-masing IDR 300.000 Watsons Shopiing Voucher

Ketentuan Umum:

  • Tema penulisan adalah Trip Impian ke Thailand atau Hongkong atau Malaysia atau Singapura atau Makau atau Taiwan dengan Watsons
  • Platform WordPress, Blogger, TUmblr, dan domain self-hosted, dengan minimal usia blog 6 bulan.
  • Tulisan berbentuk artikel pendek minimal 500 kata disertai materi foto atau video pribadi yang mendukung.
  • Wajib pasang banner Watsons One Pass

Deadline: 15 September 2019

* * *

Kompetisi Penulisan dan Blog STOP Pneumonia

Sumber: stoppneumonia.id

Hadiah:
2 karya terbaik akan mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan ke Sumba Barat (wilayah program Pneumonia Save the Children) selama 4 hari 3 malam + uang saku

Ketentuan Umum:

  • Tema penulisan adalah Stop Pneumonia (dapat berupa testimoni, pengalaman pribadi, pengamatan, atau sebuah pemikiran)
  • Panjang artikel minimal 700 kata
  • Jika karya merupakan cerita tentang orang lain, pastikan untuk mendapatkan bukti tertulis kesediaan subyek sebagai narasumber
  • Banyaknya likes dan share tulisan akan menjadi point penilaian

Deadline: 17 September 2019
Pengumuman: 24 September 2019

* * *

Picky Blog Competition

Hadiah:
Juara Pertama Rp500.000
Juara Kedua Rp250.000
Juara Ketiga Rp100.000
Viewer Terbanyak Rp100.000

Ketentuan Umum:

  • Masuk web Picky.id lalu register/login dan tambahkan post dengan klik ‘New Post’
  • Mampir ke tempat-tempat yang underrated (menarik tapi sepi pengunjung), cari data sebanyak-banyaknya tentang tempat itu.

Deadline: 17 September 2019
Pengumuman: 20 September 2019

* * *

The Ambition Call: Writing Competition

Hadiah:
Juara 1 Rp2.000.000
Juara 2 Rp1.500.000
Juara 3 Rp1.000.000
Favorit Rp500.000
Ide Kreatif Top up pulsa/Gopay/OVO senilai Rp200.000 untuk 10 blog kreatif

Ketentuan Umum:

  • Kompetisi untuk menstimulasi diskusi publik dengan meningkatkan kesadaran khalayak umum mengenai perubahan iklim dan pencapaian ambisi dalam pemenuhan target NDC.
  • Dapat menggunakan laporan The Ambition Call sebagai bahan
  • Jumlah kata 800 – 1300 kata.

Deadline: 18 September 2019
Pengumuman: 18 Oktober 2019

* * *

Lomba Kreativitas Kebencanaan Tangguh Award 2019

Sumber: BPNB

Hadiah:
The Best of Category menerima hadiah sebesar Rp10 Juta. Selain itu juga akan diberikan hadiah total kepada 5 juara favorit dan 36 nominasi. Total seluruhnya Rp86 Juta Rupiah.

Ketentuan Umum:

  • Selain blog, sudah ada lomba foto, video, poster, dan podcast. Blog bisa pakai platform apapun (termasuk blogdetik yang sudah bubar masih ditulis. heuheu…)
  • Ada beberapa hyperlink.
  • Submit ke bit.ly/tangguhawards2019

Deadline: 20 September 2019
Pengumuman: Oktober 2019

* * *

Rumahweb Blog Competition Periode I

Hadiah:
Juara 1 3 Juta Rupiah
Juara 2 2 Juta Rupiah
Juara 3 1 Juta Rupiah
3 Juara Favorit @ 500 Ribu Rupiah

Ketentuan Umum:

  • Tema “Mengapa Domain Penting untuk Bisnis”.
  • Lima persen penilaian berdasarkan posisi di Google Search Engine
  • Tulisan 400 – 1000 kata

Deadline: 20 September 2019
Pengumuman: 27 September 2019

* * *

Lomba Blog “Ayo Cek KLIK Sebelum Belanja”

Screenshot_1965

* * *

Lomba Blog #BicaraSawit

Hadiah:
Macbook Air, Samsung Galaxy Tab S5e, Kindle, Smartphone XiaoMi untuk 3 pemenang favorit dengan like terbanyak serta total uang tunai 25 juta rupiah!⁣⁣⁣

Ketentuan Umum:

  • Tuliskan tentang ‘sawit kuat Indonesia hebat’
  • Tulisan 300 – 600 kata
  • Upload salah satu foto artikel ke IG

Deadline: 22 September 2019

* * *

Blog Competition Qwords Anniversary

Hadiah:
Juara 1 3 Juta Rupiah
Juara 2 2 Juta Rupiah
Juara 3 1 Juta Rupiah

Ketentuan Umum:

  • Tema ‘Peran Website Dalam Bisnis Online’
  • Minimal 700 kata
  • Pasang banner
  • Engagement artikel jadi kriteria penilaian

Deadline: 30 September 2019
Pengumuman: 7 Oktober 2019

* * *

Blibli Seller Blog Competition

Hadiah:
Juara 1 Voucher belanja Blibli.com 3 Juta
Juara 2 Voucher belanja Blibli.com 2 Juta
Juara 3 Voucher belanja Blibli.com 1 Juta

Ketentuan Umum:
– Tema ‘Bersiap Hadapi Lonjakan Persanan di Harbolnas Blibli.com’
– Artikel minimal 500 kata

Deadline: 30 September 2019
Pengumuman: 7 Oktober 2019

Kurang banyak apa, coba? Yang ngerekap sampai lelah. Monggo diikuti satu demi satu. Siapa tahu ada yang kecantol kan lumayan~

Memori, Kebutuhan Primer Orang Tua Milenial

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua (1)

Waktu saya SD, kira-kira pada saat Perjanjian Renville ditandatangani, kebutuhan primer manusia itu ada 3, yakni sandang, pangan, dan papan. Pada tahun 2000-an, kebutuhan primer itu bertambah satu: colokan. Nah, pada tahun 2019 dan kemungkinan seterusnya, kebutuhan primer itu nambah satu lagi: memori.

Sepekan yang lalu, seorang teman mengabari bahwa ponselnya hilang. Sedihnya, dia lupa akun Google yang digunakannya untuk login pada gawai Android-nya itu, sehingga tidak bisa ditelusuri pakai teknologi terkini. Teman saya itu sebenarnya tidak terlalu memikirkan soal fisik smartphone-nya karena ya masih bisa beli lagi.

phone iphone taking photo selfie
Photo by Kaique Rocha on Pexels.com

Perkaranya adalah di gawai yang hilang itu ada foto anaknya, sejak lahir sampai sekarang hampir 2 tahun. Jeder!

Smartphone sesungguhnya telah menjelma lebih dari sekadar alat komunikasi. Ketika tahun 2002 saya pertama kali punya telepon genggam merk Nokia 3310, fungsinya hanya telepon, SMS, dan sesekali main Snake. Tujuh belas tahun kemudian, telepon genggam telah menjadi sesuatu yang sulit dipisahkan dengan kehidupan manusia.

Western Digital melakukan survei yang bertajuk Indonesian Consumer Mobile Habit and Data Management Survey dengan melibatkan 1.120 responden yang tersebar di 6 kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, surabaya, Medan, dan Makassar.

Sesungguhnya, hasil dari survei ini cukup menarik untuk dicermati.

1

Pertama-tama, 97% responden mengandalkan smartphone sebagai gawai utama dalam kehidupan sehari-hari. Ya, sama persis dengan yang saya temui setiap hari. Ketika pas Persiapan Keberangkatan LPDP saya tidak bisa menyalakan gawai dalam waktu lama, rasanya ya hampa juga.

Selain itu, tingkat penetrasi smartphone di Indonesia per September 2018 telah mencapai 27,4 persen atau setara 73 juta pengguna smartphone. Paralel dengan angka jumlah penduduk dunia, angka tersebut adalah peringkat ke-6 pengguna smartphone terbanyak di dunia sesudah Tiongkok, India, Amerika serikat, Rusia, dan Brasil.

2

Angka penetrasinya sendiri masih sangat mungkin meluas karena 27,4 persen itu adalah yang terkecil di 10 besar dunia, bersaing dengan India yang 27,7 persen. Bandingkan dengan Inggris Raya yang penetrasinya sudah mencapai 82,2%. Tiongkok sekalipun sudah diatas 50 persen. Indonesia tentunya masih dalam perjalanan penetrasi yang panjang serta penuh ruang untuk improvement.

Smartphone sendiri, di Indonesia, pada umumnya digunakan untuk lima aktivitas penting yakni mengambil gambar, menelepon, chatting, merekam video, dan mengakses media sosial. Kebutuhan lain seperti belanja online atau bertransaksi saham, misalnya, masih jauh di bawah itu.

3

Lihat, dari 5 besar itu ada setidaknya 3 aktivitas yang butuh memori, yakni mengambil gambar, chatting, dan merekam video. Chatting itu makan memori, lho, belum lagi kalau banyak gambar dan video yang dibagikan. Maka tidak heran kalau data terbanyak yang disimpan di memori itu lima besarnya adalah foto, video, musik, aplikasi, dan dokumen. Rataan foto dan dokumen berbeda begitu jauh.

Pagi pekerja milenial seperti saya, persoalan dokumen di memori itu adalah kegundahan tersendiri. Ketika saya mulai bekerja tahun 2009, belum ada itu kirim-kirim file pakai aplikasi chatting. Jadi, ketika di kos-kosan, bisa ngeles ke bos jika disuruh mengerjakan sesuatu mendadak. “Datanya di kantor, Pak”, ujar saya untuk ngeles. Ya, walaupun kala itu kantor saya hanya 2 menit jalan kaki dari kos, sih.

Sekarang? File dokumen begitu mudah dikirim dan dengan demikian nggak bisa ngeles lagi seperti dulu kala. Walhasil, saya sering mengerjakan dokumen di smartphone kala bergelantungan di KRL. Dan tentu saja, semakin banyak file kerjaan, semakin banyak memori yang termakan.

Belum lagi, seperti teman saya yang smartphone-nya hilang tadi, saya juga orang tua milenial yang butuh banyak memori untuk merekam kelakuan anak saya yang lagi lucu-lucunya. Bayangkan, anak saya sudah seminggu ini bisa menyebut one, two, three, sampai ten, dan saya belum merekamnya karena keterbatasan memori. Wong, baru merekam sampai three, tiba-tiba saya dapat notifikasi bahwa memori sudah penuh.

4

Perkara yang saya alami rupanya adalah perkara umum, setidaknya menurut survei dari Western Digital. Ada 26% responden yang sering mengalami kepenuhan memori seperti saya. Atau juga 21% responden yang tidak sengaja menghapus data penting. Ini juga saya alami beberapa pekan lalu kala secara tidak sengaja saya menghapus seluruh file screenshot di gawai.

Walhasil, saya kehilangan salah satu foto paling absurd berupa video call dengan anak saya, yang posisinya ada di belakang saya. Jadi, ketika itu saya kebanyakan dinas, pergi terus, sehingga komunikasi dengan anak ya via video call. Eh, ketika saya pulang, anak saya malah tetap minta video call dengan bapaknya melalui gawai mamanya. Duh, ini foto bagus dalam file screenshot itu dan nyatanya hilang. Sedih juga.

Sebagaimana kehilangan mantan, nyatanya kehilangan adalah sesuatu yang wajar. Bahkan 67% responden mengakui bahwa mereka pernah kehilangan data di smartphone. Walau begitu, mungkin karena pengalaman buruk juga, ada lebih dari 80% responden telah menyadari pentingnya melakukan back-up data.

Persoalannya adalah sebagaimana dialami 49% responden bahwa sisa memori di HP ini paling banyak hanya 3 GB. sudah terlalu penuh dengan foto, video, dan aplikasi, pada gawai yang rata-rata dilengkapi memori 16 GB atau 32 GB itu.

WhatsApp Image 2019-09-10 at 12.27.29

Saya sendiri terbantu oleh kantor yang memfasilitasi dengan sebuah USB OTG SanDisk sebagai penyimpanan data pekerjaan. Kantor saya memang baik benar, karena USB itu di luar Hard Disk Eksternal yang juga difasilitasi. Tapi, ya memang perlu, sih. Terutama untuk pekerja mobile seperti saya. Makanya berminyak begitu, lha wong makan saja saya bawa~

Brand SanDisk memang menjadi salah satu brand terdepan dalam solusi penyimpanan mobile, kebetulan berada dalam naungan Western Digital Corp. Melalui perangkatnya SanDisk Dual Drive (Android)–yang ini saya pakai–dan iXpand Flash Drives (iPhone)–yang ini saya nggak kuat beli–SanDisk menawarkan beberapa solusi terhadap prahara memori yang biasanya melingkupi masyarakat, terutama orang tua milenial yang nyaris selalu kehabisan memori semata-mata karena foto bayi.

5

Pertama, mobile storage SanDisk memang dirancang untuk bisa membantu pengguna mengosongkan memori smartphone dimana pun dan kapan pun. Makanya, saya sering lho, memindahkan foto dan video sambil gelantungan di KRL. Saking mudahnya.

Kedua, SanDisk memfasilitasi diri dengan konsep plug and play yang praktis melalui aplikasi mobile SanDisk Memory Zone dan iXpand Drive yang dapat mem-back up foto maupun video dengan cepat, termasuk juga memindahkan ke komputer atau smartphone lain jka dibutuhkan. Serta bisa pula mengatur agar aplikasi melakukan back-up otomatis pada file-file penting setiap kali smartphone dihubungkan dengan USB OTG.

Ketiga, aplikasi SanDisk Memory Zone dan iXpand Drive App juga bisa menyimpan dan mem-back up aneka konten dari media sosial, ya tentu saja umumnya foto dan video, ke USB OTG SanDisk Dual Drive atau iXpand Flash Drive.

Terakhir, khususnya untuk yang menggunakan smartphone untuk kepentingan lebih besar seperti mabar, kartu memori SanDisk Extreme microSD dengan spesifikasi ciamik akan memberikan kenyamanan dan kemulusan bagi pengguna gawai saat bermain mobile game dengan adanya kapasitas penyimpanan lebih besar serta tentu saja proses pemuatan aplikasi yang lebih besar.

Ketika dapat notifikasi bahwa gawai saya kepenuhan, sesungguhnya pengen ganti HP. Apa daya, nggak punya uang. Ketika hendak menghapus foto atau video, kok ya rasanya #DibuangSayang. Sekali lagi, untunglah saya punya USB OTG dengan brand #SanDiskAPAC yang sangat membantu proses back-up file-file yang bakal penting untuk kenangan anak saya kelak di kemudian hari.

Percayalah–dan ini saya baru tahu ketika sudah jadi orang tua–selain kesiapan jasmani, rohani, serta finansial, maka untuk menjadi orang tua harus punya persiapan memori yang banyak. Saya kasih tahu para pembaca semua untuk bisa mempersiapkan diri.

a family walking on the road
Photo by Vidal Balielo Jr. on Pexels.com

Tabik.

Pelayanan Informasi Pemda DIY Melalui PPID Bukti Nyata Nilai Terbaik Dalam Akuntabilitas Kinerja

ppid-diy (3)

Dua belas tahun lalu, berbekal sepeda motor tua bernama Oom Alfa, saya datang ke salah satu kantor Pemerintah Provinsi DIY. Urusan masa depan yang lebih menakutkan daripada KKN di Desa Penari: skripsi.

Ya, walaupun anak farmasi, tapi jalan hidup membawa saya ke skripsi sosial dengan area DIY, lebih tepatnya Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulonprogo. Namanya akan penelitian, sudah pasti butuh data, dan namanya survei tentang perilaku masyarakat sudah tentu butuh data kependudukan dan untuk itu tentu butuh perizinan.

Waktu itu, belum ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik seperti sekarang ini. Untuk mendapat data yang cukup sahih untuk penelitian susahnya minta ampun. Kalaupun dapat, kadang kita harus fotokopi sendiri setumpuk Kartu Keluarga dan harus mengembalikannya sendiri ke empunya data. Continue reading Pelayanan Informasi Pemda DIY Melalui PPID Bukti Nyata Nilai Terbaik Dalam Akuntabilitas Kinerja

Kuliah Lagi

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Dari sisi karir di birokrasi, sesungguhnya gelar Apoteker yang saya punya sudah sangat cukup, setidaknya untuk kelak menjadi Eselon II, meskipun ya saya ogah, sih. Ya, Apoteker kalau di birokrasi harganya sama dengan S2.

Dari sisi pengembangan diri, saya cukup bersyukur ada di organisasi yang sedang bertumbuh sekaligus punya sumber daya yang cukup. Dalam 2 tahun terakhir, saya bisa punya sertifikasi Risk Management dan juga sertifikasi Lead Auditor ISO 9001:2015. Khusus yang terakhir ini terasa wow karena dulu di pabrik, bisa dapat sertifikasi macam ini hanya mimpi belaka, soalnya harganya mahal sekali.

Oh, terakhir bahkan saya diikutkan pelatihan yang berbonus free membership setahun jadi anggota the Institute of Internal Auditor (IIA).

Tapi tetap saja saya merasa perlu mengupgrade diri meskipun harus menceburkan diri ke zona yang tentunya tidak nyaman, terutama dengan penurunan income. Setidaknya saya punya mimpi bahwa Kristofer kelak akan cukup bangga punya bapak-ibu minimal S2. Ya, meskipun saya nggak bakal ngejar level S2-nya Mama Isto. Lulusan UCL, coy~

Maka, nyaris 2 tahun yang lalu saya memutuskan untuk merintis jalan agar bisa kuliah lagi. Ambil S2, meskipun saya kadang ingat bahwa pas jobfair di Bandung ada mbak-mbak dari S1 Teknik sesuatu dan S2 Manajamen mencoba ngelamar jadi CPNS untuk formasi S1 Manajemen. Sekadar fakta bahwa banyak juga orang ngambil S2 itu adalah atas dasar daripada nganggur sesudah S1.

Mau kuliah lagi di PNS itu tidak mudah. Prosedurnya panjang dan berliku. Untuk berbagai alasan, saya kemudian menambah sendiri tingkat keribetannya. Ya, saya ingin kuliah tanpa beasiswa dari kantor.

Awalnya, tujuan saya adalah di Singapura, di Lee Kwan Yew School of Public Policy. Pas ke Singapura pun saya menyempatkan diri untuk melihat langsung kampusnya di dekat Botanical Garden. Tua, sih, tapi terasa hawa kerennya. Tim LKYSPP juga getol cari mahasiswa asal Indonesia. Kalau kata Rian Ernest, caleg PSI gagal–serupa Mz Kokok Dirgantoro–scholarship di LKYSPP juga sangat cukup, belum lagi dosen-dosennya yang “nggak kayak di Indonesia”.

Saya lantas mengambil tes TOEFL yang cocok untuk bisa apply LKYSPP, ya semata-mata karena tenggat dan harga, sih. Mereka tidak menyebut standar TOEFL yang pasti, tapi bilang angka yang bisa dipertimbangkan dan ketika TOEFL saya keluar ya masih di bawah tapi tidak jauh.

Kalau saja saya itu adalah istri saya zaman muda, saya pasti nekat apply. FYI, istri saya itu pada apply pertama nggak diterima sama UCL. Tapi karena bisa banding, dia banding dengan argumentasi tambahan (tanpa mengubah pokok masalah) dan kerennya keputusan UCL bisa berubah.

Akan tetapi, saya tentu tyda boleh egois. Saya sekarang sudah bapak-bapak. Ada istri, ada anak. Kalau saya ke SG sana, terus apa ya istri saya yang M.Sc Farmasi Klinis dari England itu kudu resign dan menemani saya ke SG sambil bawa anak? Atau kalau saya tinggal saja di Indonesia, nanti siapa yang bikin susu Isto kalau dia lagi ihik-ihik minta dodot tengah malam? Bukan apa-apa, sejak dia masih piyik itu tugas saya soalnya. Dan kebetulan, kami sepakat tidak pakai ART menginap.

Lebih dari semuanya itu, saya tidak hendak kehilangan masa-masa bertumbuh dari Kristofer. Saya yakin, untuk alasan ini, pilihan saya untuk enggan mencoba lagi mencari beasiswa ke LN, yang sebetulnya cukup dekat untuk diusahakan, adalah keputusan yang tepat.

Screenshot_1956

Maka, dengan bayangan seram kuliah di dalam negeri, saya pada akhirnya harus memilih. Ini juga tidak mudah.

Kalau mau egois, ya tentu saja saya ingin masuk UGM. Presiden RI sekarang lulusan sana, saya juga dulu sudah pernah nyanyi “bhakti kami, mahasiswa Gadjah Mada….” dengan cukup fasih. Bayangan hidup di Jogja yang 10 tahun silam enak itu jelas mengemuka.

Lagi-lagi, saya bukan lagi bujangan. Dengan pertimbangan yang sama, saya akhirnya menihilkan UGM dari pilihan. Opsinya ya tinggal 1: ambil S2 di Jakarta dan sekitarnya, dan di list dari pemberi beasiswa pilihan mengerucut jadi satu saja: Universitas Indonesia.

Tidak usah jauh-jauh, menjadi ‘Anak UI’ itu sudah cukup luar biasa di keluarga saya. Bapak, Mamak, saya, dan 3 adik sejauh ini kuliahnya swasta semua. Jadi, ini untuk pertama kalinya ada di keluarga saya yang kuliah di PTN.

Seluruh proses saya jalani. Bagi PNS yang ingin beasiswa di luar kantor perkaranya jadi tiga macam dan nggak jelas juga mana yang sebenarnya duluan. Pertama, mengurus beasiswanya itu sendiri. Kedua, mengurus prosedur Tugas Belajar yang akan membebaskan kita dari kewajiban bekerja dan digantikan dengan wajib belajar. Ketiga, ya daftar kampusnya.

Hampir 1,5 tahun waktu untuk menyelesaikan itu semua. Dan kini semuanya selesai, saya akan segera menjalani kehidupan baru. Kehidupan yang sudah 10 tahun lebih saya tinggalkan. Ya, menjadi mahasiswa (lagi), belajar (lagi), mengerjakan tugas-tugas (lagi), dan segala dinamika lain yang pastinya akan sangat berbeda dibandingkan sepuluh tahun silam ketika saya lulus Program Profesi Apoteker.

Ya, hari ini sampai dua tahun ke depan, saya akan menjalani studi S2 di Universitas Indonesia. Mohon doa dari teman-teman sekalian. Doa paling sederhana saja, kok, supaya saya bisa lulus pas 2 tahun. Bukan apa-apa, lewat dari 2 tahun, beasiswanya nggak mau bayarin lagi, soalnya. Hehe.

Tabik!

Orang Jual Rumah di Tangerang Harga 300 Jutaan, Masih Ada?

Hunian Tangerang makin banyak diburu sebab lokasinya terbilang relatif dekat dengan Ibu Kota Jakarta yang bakal pindah itu. Toh, yang pindah kan mestinya para PNS duluan, masih ada 9 juta manusia lainnya yang kerja di Jakarta dan tinggal di kota-kota penyangga, termasuk Tangerang yang juga merupakan salah satu kota satelit yang menunjang keberadaan Ibu Kota. Tiada heran kalau banyak orang mencari rumah dijual di Tangerang sebagai solusi kebutuhan akan hunian.

Hal lain yang membuat rumah di Tangerang diburu tentu saja harganya yang terbilang masih murah dan tidak bikin vertigo sambil kayang seperti harga rumah Jakarta yang makin hari makin mirip mantan terindah datang tiba-tiba minta dinikahi alias tak masuk akal.

Dengan harga 300 jutaan saja, berikut ini ada beberapa perumahan Tangerang yang bisa dijadikan pilihan dalam mencari hunian yang tentu saja nyaman dan aman. Rumah dengan harga terjangkau namun tetap berkualitas, bukan mimpi, lho! Continue reading Orang Jual Rumah di Tangerang Harga 300 Jutaan, Masih Ada?

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Percaya atau tidak, ketika seseorang berubah status dari lajang menjadi menikah, sebenarnya nggak banyak hal yang berubah. Paling ya nggak bisa lagi menggebet anak orang sesukanya, karena kan sudah punya pasangan yang terikat secara resmi secara agama dan negara.

Akan tetapi, begitu statusnya berubah menjadi orang tua, nah, barulah perubahan besar terjadi. Bagaimanapun, orang tua baru itu diberi tanggung jawab untuk menangani sebuah kehidupan baru–yha, kecuali anaknya kembar, sih. Continue reading Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Memutar Kenangan Antara Solo dan Jogja

Memutar Kenangan Antara Solo dan Jogja

Solo dan Jogja, setidaknya menurut saya, adalah dua kota dengan sejarah unik. Paling gampang tentu saja jika kita menyebut Kraton sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi di dua kota ini. Kebetulan pula, meskipun saya nyaris 8 tahun tinggal di Jogja, saya malah pernahnya mampir ke Kraton Solo dalam sebuah perjalanan epik yang akan selalu dikenang sebagai kelakuan masa muda. Itu terjadi tahun 2005.

Kini, akses antara kedua kota tersebut boleh dibilang lebih mudah. Memang, jalanan yang terbilang lebar dan mulus untuk was-wis-wus itu agak lebih macet dibandingkan 14-15 tahun silam. Namun pada saat yang sama, ada alternatif Kereta Api yang lebih beragam opsinya dibandingkan dahulu kala. Ada bahkan teman saya yang walaupun sudah menikah dan tinggal di Jogja, tetap saja kerjanya di Solo. Perkara akses memang cukup menarik, ternyata. Kalau begitu, yuk cobain perjalanan dari Kota Solo ke Jogja dengan kereta! Continue reading Memutar Kenangan Antara Solo dan Jogja

Yang Nikmat di Bandung, Martabak Nikmat Andir

martabak-nikmat-andir

Sewaktu menulis tentang Markobar–yang sejak masuk Mata Najwa, ramainya makin hore, tapi kemudian mulai disaingi oleh Sang Pisang, saya juga mengutip sedikit perihal sejarah martabak. Nah, dari sejarah yang saya kutip tampak korelasi dengan martabak di Bangka dan Bandung hingga muncul nama martabak San Fransisco.

Maka, ketika kebetulan lewat di daerah Buah Batu, saya dan pacar (iya, tulisan ini adalah draft ketika masih pacaran–sekarang anaknya sudah bisa manjat) mampir ke martabak San Fransisco yang bercampur dengan food court lain. Apa daya, si pacar yang lagi ulang tahun itu sedang nggak pengen martabak yang premium.

Mungkin dia tahu pacarnya hanyalah PNS kere, atau memang kebetulan sedang ingin kembali ke selera asal. Martabak nan sederhana, sebelum coklat premium menyerang. Ketika ditanya pisang keju dan di San Fransisco Buah Batu itu pisang keju nggak ada, maka tujuan berikutnya langsung ditetapkan. Menurut mbak pacar, martabak paling enak di Bandung itu adanya di Andir. Saya yang nggak tahu apa-apa tentang martabak di Bandung langsung melajukan sepeda motor disertai cubitan. Hedeh.

Berlokasi di Jalan Sudirman yang satu arah, menemukan martabak dengan nama lengkap Martabak Nikmat Andir ini bukan hal sulit. Letaknya di kiri jalan dengan papan nama terkini alias neon box yang cukup besar dan mencolok. Jalan satu arah ini cukup ramai dan cukup bikin pusing kalau parkir apalagi di malam minggu. Sepeda motor yang saya pakai digesar-geser sana sini demi kepentingan kapasitas parkir. Tenang saja, persaingan di martabak ini sehat. Yang naik motor dan naik mobil seimbang bin setara. Kaya dan kere sama-sama antre martabak. Maka, selain parameter ekonomi seperti saya jelaskan di posting tentang martabak 65A, martabak juga menjadi simbol kesetaraan. Luar biasa! Continue reading Yang Nikmat di Bandung, Martabak Nikmat Andir

Petualangan Murah Meriah di Hong Kong

1

Hong Kong dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terkemuka di Asia dan dunia. Sebenarnya tidak hanya karena wisata, namun kunjungan bisnis juga jamak dilakukan ke Hong Kong, mengingat banyak perusahaan multinasional memiliki markas di Hong Kong ini.

Resminya, Hong Kong adalah Daerah Administratif Khusus dengan sejarah panjang. Pasca kekalahan Tiongkok di Perang Opium Pertama (1839 sampai 1842) dari Kerajaan Inggris, Hong Kong diserahkan ke Inggris oleh Tiongkok, termasuk di dalamnya Semenanjung Kowloon serta New Territories.

Sempat diduduki Jepang pada Perang Dunia II, Hong Kong kembali dikontrol oleh Inggris hingga pada tahun 1997–sesuai dengan “penyewaan 99 tahun New Territories” pada tahun 1898–Hong Kong menjadi Daerah Administratif Khusus di Tiongkok.

Secara umum, Hong Kong memang dikesankan mahal. Ya, memang mahal, sih. Hong Kong juga memberikan profil sebuah kota yang sibuk dan penuh dengan kelelahan. Berjalan-jalan di Stasiun Central, kita akan menemukan para pekerja yang berjalan kencang demi bisa masuk ke kantor. Sebenarnya, nggak beda-beda amat dengan Jakarta.

Malah sebenarnya Hong Kong lebih padat, ditandai dengan bangunan tinggi dimana-mana sebagai pemukiman. Dengan lahan hanya seluas 1.104 kilometer persegi, ada sekitar 7 juta jiwa manusia yang tinggal di dalamnya.

Nah, karena posisinya yang demikian itulah, Hong Kong menjadi menarik buat saya untuk dikunjungi.

Tapi, budget terbatas. Bagaimana dong cara menikmatinya?

Gampang sekali.

Pertama-tama, tentu saja tiket. Kita nggak mungkin naik ojek online dari Indonesia ke Hong Kong, jadi ya pasti naik pesawat. Tiket pesawat ke Hong Kong sendiri bisa kita peroleh antara lain melalui PegiPegi.

Mencari tiket pesawat ke Hong Kong, kalau lewat PegiPegi itu, baik via Desktop, aplikasi, maupun mobile site biasa, sama-sama mudahnya. Misalnya begini:

Screenshot_174

Mau pakai aplikasi? Bisa juga:

Screenshot_176

Yang unik, di PegiPegi itu ada kalender promo seperti gambar di atas! Jadi, dengan hanya menginput asal, tujuan, dan bulan keberangkatan yang kita inginkan, maka akan muncul tanggal, hari, berikut harga paling menarik yang bisa kita dapatkan. Jadi, hal ini sangat membantu pencarian harga tiket paling sesuai dengan kantong.

Satu hal yang penting, biasanya tiket murah itu ya pas weekdays. Jadi, luangkan cuti yang cukup untuk bisa mengeksplorasi Hong Kong dengan leluasa. Oh, dan jangan lupa, untuk harga terbaik, kadang ada konsekuensi transit begitu lama. Jadi, ya harus disiapkan juga. Saya sendiri mengalami kemarin itu transit di Singapura sampai bisa dapat 4-5 film di bioskop mini gratisannya itu~

Transportasi Umum

Begitu sampai Hong Kong, jika ingin murah, tentu jangan naik taksi. Belilah tiket Kereta Bandara. Kalau saya kemarin, karena tujuannya ke Wan Chai di Hong Kong sisi Island, bukan sisi Cina Daratan, jadi saya turun di Hong Kong, bukan di Kowloon. Nah kalau di Hong Kong ini sebagai jarak terjauh ongkosnya adalah HK$110 untuk sekali jalan. Cukup murah untuk sebuah perjalanan 24 menitan yang kuencanggg tapi nyaman.

Bukan apa-apa, bandara Hong Kong itu letaknya di Pulau Lantau, yang jaraknya sekitar 40 kilometer. Jadi kalau pakai taksi ya bangkrut di awal kitanya.

Nah, di Hong Kong, lantainya atas bawah dengan Central Station. Central ini adalah kunci dari segala kunci MRT di Hong Kong. Kalau diibaratkan ke KRL Jabodetabek ya Manggarai-nya. Dari Central inilah kita akan kemana-mana di Hong Kong~

Begitu sampai di Central, segera beli kartu Octopus. Satu keunggulan di Hong Kong, Octopus ini bisa dipakai untuk naik MRT, naik bis, hingga naik kapal. Jadi mau diisi langsung banyak juga nggak masalah, karena nantinya juga bisa di-redeem sebelum pulang.

Hong Kong Museum of History

Wisata gratis paling utama ya museum ini, diantara banyak museum lain di Hong Kong yang juga gratis-gratis itu. Melalui Museum of History, kita langsung bisa melihat Hong Kong secara keseluruhan di satu tempat.

2

Penyajian history-nya sangat urut, bahkan mulai dari zaman Dinosaurus. Tradisi kuno juga ada satu lantai sendiri, demikian pula dengan masa Perang Opium itu tadi. Di bagian akhir, kita juga jadi tahu ihwal pembangunan masif dari Hong Kong ini. Jadi betul-betul disajikan dengan flow terbaik.

Jalan Kaki dan Bis

IMG_20181109_111146

Oya, karena judulnya adalah murah meriah, saya harus kasih tips utamanya di awal. Kita harus siap banyak-banyak jalan kaki. Hehe. Jangan sedikit-sedikit naik taksi, kecuali situ Sultan. Untuk jarak yang agak jauh, sebenarnya bisa naik MRT, namun setelah saya bandingkan, sebenarnya lebih murah naik bis. Ya, kelemahannya adalah agak lama. Namun positifnya, turunnya ya di pinggir jalan, bukan bawah tanah. Jadi kalau pas macet ya sekalian menikmati pemandangan, dah.

Tsim Sha Tsui

5

Tsim Sha Tsui adalah kawasan yang sangat identik dengan turis, kalau di Hong Kong. Memang ada banyak taman juga di Hong Kong, namun yang ada di Tsim Sha Shui yang menjadi menarik karena letaknya tidak terlalu jauh dengan pelabuhan Star Ferry. Tsim Sha Tsui Promenade, namanya, juga berdekatan dengan Hong Kong Space Museum dan Hong Kong Miseum of Art. Bahkan kalau hari Minggu ada hiburan internasional gratis. Pas saya ke sana, yang lagi tampil adalah…

…Tari Piring.

Ketemunya orang Padang, lagi. Saya sendiri sebenarnya nemu Tsim Sha Tsui Promenade karena ingin melihat lokasi Avenue of Stars tapi lokasinya ditutup karena sedang renovasi. Eh, di Tsim Sha Tsui-nya salah malah nemu taman bagus dan tentu saja (karena hari Minggu) ketemu banyak orang Indonesia.

4

Pasar Mong Kok

Mau cari oleh-oleh ya harus di Mong Kok. Soalnya, tidak ada yang semurah disini dan tidak ada yang lebih paham Bahasa Indonesia selain disini. Berasa belanja di Pasar Bugis Singapura, lah, karena sebagian pedagangnya ngerti Bahasa Indonesia sedikit-sedikit.

6

Untuk itu, menawar sedikit-sedikit juga diperlukan di tempat ini. Mediumnya? Kalkulator! Baik penjual dan calon pembeli akan mengetikkan angka di kalkulator untuk kesepakatan. Pengalaman saya menemani delegasi luar negeri waktu konferensi internasional, walaupun Bahasa Inggris kita dan dia cukup cas-cis-cus, kalau sudah urusan duit ya belibet juga.

Victoria Peak

Menurut saya, kalau tidak mampu ke studio-studio mahal, sebaiknya kesini saja. Victoria Peak adalah salah satu spot yang paling-hong-kong. Lebih Hong Kong daripada Hong Kong itu sendiri.

Jika ingin murah, ya jangan naik tram yang antreannya mengalahkan antrean sembako itu. Naiklah bis. Tapi, kalau naik bis, pergilah ke awal perjalanan bis itu supaya dapat tempat. Bis di Hong Kong ini kalau sudah penuh nggak maksa harus masuk semua. Saya menunggu dekat Wan Chai, 2 jam hanya untuk dilewati bis nomor 15 berkali-kali. Hiks.

Untuk bisa naik ke bagian teratas gedung memang harus membayar, tapi itu sajalah pengeluaran termahal. Kalau kepepet ya bisa pakai kartu kredit Indonesia, diterima kok dengan lapang dada.

Sedangkan kalau ingin foto yang prima, sebenarnya kita bisa sedikit berkorban dengan menggunakan jasa fotografer resmi. Ya, memang, mahal. Tapi menurut saya cukup sepadan dengan kualitas fotonya, dan ya mumpung sekali-kali ke Hong Kong. Tips iritnya adalah nggak usah dicetak, apalagi pakai frame, cukup diemail saja. Itu sangat jauh lebih murah, toh ya tujuannya diupload, kan?

7

Sementara kalau hanya foto-foto pakai HP biasa, tenang saja, saya malah saling bantu foto keluarga dengan sesama orang Tangerang Selatan. Bah~

Liburan itu pilihan, dan karena sumber daya kita baik waktu dan uang terbatas, mahal kita harus memilih. Tempat-tempat tadi adalah pilihan saya dan istri, meskipun kami jadinya ya melewatkan beberapa museum dan juga Victoria Park, tapi ya namanya juga ada keterbatasan.

Ah, jadi pengen ke Hong Kong lagi…

Screenshot_175

Naik LRT Jakarta yang Menyenangkan

1

Sesudah Moda Raya Terpadu alias Mass Rapid Transit (MRT), di Jakarta sudah ada juga moda transportasi baru nan ngehits lainnya. Namanya adalah Light Rapid (atau Rail, yak?) Transit alias LRT. Katanya Ustadz Hilmi dalam status FB saya, LRT itu di-anjungan tunai mandiri-kan sebagai Lintas Raya Terpadu.

Karepmulah.

LRT Jakarta ini sejatinya baru sebagian kecil dari LRT Jakarta yang direncanakan. Letaknya juga agak ajaib yakni dari Pegangsaan Dua Kelapa Gading ke Velodrome Rawamangun. Iya, hanya sekitar 6-7 kilometer, kalau tidak salah.

NAIK OJOL JUGA NGGAK SAMPAI 10 RIBU, GAES~

Ya, tadinya LRT Jakarta–yang berbeda dengan LRT-nya BUMN besutan Adhi Karya dkk di sekitar Sentul ke Dukuh Atas–fase 1 ini direncanakan untuk menunjang Asian Games 2018.

Apa daya, nggak terkejar. Walhasil, rangkaian kereta yang sejak 1-2 bulan sebelum Asian Games 2018 sudah ada di Kelapa Gading itu belum terpakai. Jadi, rencana dia sebagai fase 1 yang dibuat untuk menunjang event besar gagal total.

Untungnya LRT di Palembang nggak gagal juga. Heuheu.

Di bawah Anies Baswedan, LRT Jakarta ini disebut tidak buru-buru, demi bisa maksimal persiapannya. Karena saya juga mengalami bahwa MRT yang sudah uji publik lama sekalipun, ketika ada gangguan KRL dan banyak yang migrasi ke MRT, banyak ketidaksiapan juga.

Saya sendiri memprediksi bahwa LRT Jakarta ini akan kurang laku, karena sebagaimana M. Taufik dari Gerindra bilang bahwa nggak jelas siapa yang akan naik jurusan ini, apalagi toh jaraknya sangat terjangkau dengan ojek online. Meski demikian, rupanya LRT Jakarta sangat mempersiapkan diri dengan baik.

7

Saya mendapat kesempatan mencoba LRT Jakarta tersebut beberapa hari yang lalu. Saya naik dari Halte Velodrome setelah terlebih dahulu mendaftar online. Stasiun Velodrome letaknya pas di depan Velodrome Rawamangun. Jadi, persis di depan Arion Rawamangun. Stasiun ini terkoneksi dengan Halte Pemuda Rawamangun. Pas saya ke lokasi, jembatan konektornya sedang dalam progress dengan tanda-tanda akan dibuat Instagram-able seperti Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Sudirman.

8

Koneksi ini penting dan boleh jadi akan memperkuat peran jalur TU Gas/Pulo Gadung – Dukuh Atas yang selama ini termasuk jalur yang banyak dibantu rekayasanya, terutama di sekitar Jalan Proklamasi yang muacettt itu.

Operasi LRT dalam uji publik ini baru pakai 2 rangkaian saja. Bahkan lebih pendek dibandingkan operasional LRT di Palembang. Stasiun LRT Jakarta sendiri dikondisikan untuk lebih dari jumlah itu. Ya, nggak apa-apa, namanya juga uji publik.

Satu hal yang unik dan pasti disadari adalah bahwa pemandangannya pasti tidak menarik karena jalur yang dilintasi sebenarnya adalah perumahan. Jadi, isinya ya atap-atap-atap begitu saja. Lajunya juga sama pelannya dengan LRT Palembang. Mungkin memang LRT itu ya demikian kecepatannya.

5

Stasiun LRT ini menurut saya bagus-bagus, sih. Pindah jalurnya harus lewat atas, berbeda dengan MRT yang dari bawah. Ada eskalator, ada juga tangga. Continue reading Naik LRT Jakarta yang Menyenangkan