Kenapa Harus Tentang Kematian?

Senin pagi. Sesudah dua hari yang melelahkan kala weekend, saya terbangun di hari kerja itu dengan malas-malasan. Adalah sebuah panggilan telepon dari orangtua yang membangunkan saya, berhubung semalam saya lupa mengeset alarm. Dan pagi itu kabar yang datang justru buruk. Sepupu saya yang baru saja ulang tahun ke-25, meninggal dunia.

Hari itu kemudian menjadi hari yang agak sibuk. Kebetulan saya masih woles di tempat kerja baru, karena memang anak baru masih cupu. Saya hanya membayangkan kalau ini terjadi ketika saya di tempat lama, mungkin saya akan ditelepon terus kalau tidak ada di tempat. Pun, sekarang saya sudah tinggal di Jakarta. Kalaulah saya masih di Cikarang–atau bahkan Palembang–semuanya mungkin menjadi lebih tidak sederhana.

Saya kemudian janjian dengan adek dan 2 sepupu lain untuk melayat. Permintaan koordinasi janjian itu justru saya peroleh dari Maktua saya–orangtua kedua sepupu tersebut. Kami kemudian janjian di RS Dharmais karena sepertinya itu adalah tempat yang cukup tengah dibandingkan tempat-tempat lainnya. Sesudah sampai di lokasi, kami juga bertemu dengan sepupu lainnya, tentu saja termasuk 2 kakak dan 1 abang dari adek sepupu saya yang meninggal itu.

Seolah menjadi kebetulan yang aneh, sepupu saya yang lain dari Surabaya memang sudah ada jadwal untuk datang ke Jakarta karena ada proyek. Semuanya akhirnya dilengkapi oleh kehadiran orangtua saya dari Bukittinggi dan Maktua-Paktua dari Bandung. Plus, sepupu saya yang pas off dari jadwal terbang dan adek saya yang naik motor 3 jam dari Bekasi ke Tangerang. Formasi yang cukup banyak.

Anak-anak UKF Dolanz-Dolanz punya semacam ucapan satir bahwa orang-orang–dengan kesibukannya masing-masing–hanya akan bisa berkumpul kalau tidak di kawinan, ya pas kematian. Dan tetiba saya sadar dengan jelas soal fakta ini. Kematian adek sepupu ini mengumpulkan orang-orang yang sulit sekali untuk dipertemukan.

Ya, kalau bukan kawinan, ternyata kematian. Ucapan satir anak-anak Dolaners itu ada benarnya. Coba saja, dalam keadaan normal bukan kawinan atau kematian, lalu ada ajakan untuk bertemu, apa sih yang kita katakan? Maukah kita benar-benar meluangkan waktu?

Apalagi, pertemuan kembali orangtua sepupu saya yang meninggal ini dengan saudara-saudara perempuannya. Percayalah, ini hal yang sulit, tapi akhirnya terjadi juga. Saya jadi bersyukur membatalkan niat untuk langsung pulang dan kemudian memilih menginap di Bintaro dengan konsekuensi dua pagi harus berangkat kerja naik KRL dari Pondokranji. Nggak apa-apa, hitung-hitung belajar kalau nanti punya rumah di daerah Tangerang dan kudu naik KRL untuk bekerja. Pada akhirnya saya bisa menjadi saksi dari berkumpul kembalinya keluarga yang sudah terpencar-pencar ini.

Tentu saja, setiap kejadian mengandung hikmah masing-masing. Adalah suatu kehilangan besar ketika sepupu saya meninggal di usia yang masih muda. Sejujurnya, saya ketemu dia itu cuma di 3 peristiwa. Tahun 1997 dan 1999 ketika main ke rumahnya, serta tahun 2012 pada acara pernikahan kakaknya. Dari bocah kecil rambut lurus belah tengah, menjelma menjadi pria brewokan. Dan di pertemuan keempat, sepupu saya mengenakan pakaian yang sama dengan saat terakhir kali saya dan dia bertemu. Dua kejadian: perkawinan dan kematian.

Dua hari ini membuka mata saya lagi atas saudara-saudara yang saya miliki. Ompung saya memang keluarga besar, karena keluarga intinya saja ada 8 orang. Sebanyak 8 orang adalah cikal bakal dari sekitar 34 cucu. Plus beberapa juga sudah punya anak juga. Ya, intinya jelas: banyak. Dan sesudah dihitung-hitung, lebih dari 50% ada di Jabotabek. Selain banyak, ada satu kata lagi: dekat.

Tanpa bermakud bergembira di atas kepergian saudara saya, tapi jelas ada rasa syukur ketika kami berkumpul kemarin. Apalagi kemudian muaranya adalah momen rekonsiliasi. Sesuatu yang tidak mudah, apalagi kalau kita berbicara betapa kerasnya orang Batak dalam memegang prinsip diri sendiri. Syukurlah, di balik kejadian sedih ini, ada hikmah yang bisa diambil. Syukur juga saya tidak melewatkan momen itu, momen pertemuan yang terjadi jam 1 pagi dalam campuran derai tangis kesedihan dan haru pertemuan, disaksikan oleh sepupu saya dalam tubuh kakunya di peti.

Selamat jalan, Lae. Selamat bergembira bersama Bapa!

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s