Pakter Tuak

Pakter Tuak Sabar Menanti. Aku mengenal nama itu dengan sangat lekat di masa kecilku. Yah, ketika ada masa-masa sering pulang ke Tanah Batak, bermain dengan sepupu-sepupu yang sebaya. Yap, bermainnya di siang hari, sampai puas, sampai tepar. Untuk kemudian di sore hari harus menikmati nyanyian pria-pria batak bergitar di Pakter Tuak yang ada di sebelah rumah Ompung ini, sampai malam yang pekat tiba.

Pakter Tuak, tempatku mengenal minuman keras, dari Tuak sampai Kamput. Yah memang di kemudian hari ada lagi referensi lain macam Topi Miring atau Pepsi Blue campur Mansion, tetap saja Tuak masih lekat di hati.

Pakter tuak, kalau menurutku, mungkin sama dengan Warung Kopi ala orang Belitong. Tentu saja versi Novelnya Andrea Hirata Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas. Mengapa? Karena pakter tuak ada dimana-mana. Dan disitulah penghiburan didapat.

Nongkrong, minum tuak yang notabene minuman keras, dan bernyanyi-nyanyi, mungkin bukanlah kearifan bagi sebagian orang. Tapi kadangkala, mata diriku versi kecil mendapati ada kegembiraan disana. Pelajarannya, selalu ada cara untuk bahagia. Lepaskanlah dulu fakta bahwa itu buruk. Buruk bagi kantong, buruk bagi kesehatan, dan lain-lain. Tapi nyata-nyata itu adalah cara untuk bahagia.

Ada banyak cara untuk bahagia, dan apakah kalian sudah mendapatkan itu teman?

Malam pekat sudah menjelang, diiringi rinai hujan deras, dan keharusan untuk berkarya esok pagi.

Selamat malam..🙂

2 thoughts on “Pakter Tuak

  1. Pingback: Cerita Farmasi: Realita Skripsi Lapangan | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s