Jawabannya Adalah….

Percayalah bahwa anak muda labil hanya akan ingat pada Tuhan ketika sedang gamang plus lagi gembira ria. Kalau flat-flat aja, yah so-so lah. Ini aku bukan bermaksud melakukan generalisasi, tapi setidaknya berlaku padaku. Dan jadwal hari ini adalah bertualang ke tempat yang baru dalam list Dolaners. Sebuah tempat doa berbasis sendang di barat Jogja. Maksudnya dari Jogja barat, terus ke barat lagi sampai jauh, kemudian mengalir ke laut. Eh salah, itu lagu Bengawan Solo ding!

Tempat itu bernama Sendang Jatiningsih, sebuah sendang yang berada di tepian Kali Progo yang arusnya sungguh wah itu. Tapi sebentar, emang pada tahu artinya sendang? Yak, sendang adalah kata serapan dari bahasa Jawa. Tentunya tidak diserap dengan kanebo. Arti sendang menurut kamus adalah kolam di pegunungan dsb yang airnya berasal dari mata air yang ada di dalamnya, biasa dipakai untuk mandi dan mencuci, airnya jernih karena mengalir terus; sumber air.

Jadi sendang yang dimaksud ini yang mana? Anggap saja sumber air yang jernih dan mengalir terus serta digunakan untuk mencuci dosa. Yak, ini adalah perspektif pendosa macam aku!

Sendang ini adalah koleksi kunjungan rohani berikutnya setelah Sendang Sono, yang mana aku tidak ikut semata-mata tidak ada angkutan dan aku tidak layak menggunakan odong-odong merah bernama Alfa ke tempat penuh tantangan macam Sendang ternama di seantero Indonesia itu. Koleksi kunjungan lain adalah Sendang Sriningsih. Ini sih sebenarnya ulah si Yama, pria asli Klaten yang kalau galau suka nangkring sendirian di Sriningsih. Mungkin dalam rangka kebersamaan, maka ngajak galau juga sama-sama. Begitulah persahabatan masa kini. Jangan ditiru ya!

Lokasi sendang ini dekat dengan rumahnya Randu, yang juga Dolaners. Jadi kalau dari arah Jogja, sendang ini lurus terus, nah di suatu pertigaan yang jumlahnya tiga, Randu belok kanan kalau mau pulang. Maka EO dalam hal ini adalah Randu. Pastinya!

Tim dari dusun Paingan dan kota Jogja berangkat. Tentunya sesudah menunggu Roman selesai mbojo sama Adel. Bagaimanapun single alias jomblo macam aku harus kukuh tegar berlapis emas dalam rangka menggelar toleransi terhadap teman yang bermalam mingguan. Toh, itu kan salah satu esensi berpacaran. Harap maklum kalau aku kurang paham karena emang belum pernah pacaran. Eh malah curhat.

Setelah jamnya usai, Roman yang kenaikan berat badannya tidak pernah berkurang ini bergabung dengan Toni yang gondrong sejati mirip rocker tapi doyan lagunya Padi yang romance asyik. Aku yakin role modelnya adalah Piyu, sayangnya Toni kriwul di ujung, jadi tingkat kemiripannya dengan Piyu menurun hingga tidak terdeteksi kualitatif.  Roman dan Toni lantas join dengan aku, Bayu, dan Chiko untuk sama-sama berangkat. Gelapnya malam membawa sepeda motor yang rata-rata berwarna gelap plus mengangkut aku yang gelap menuju ke sendang. Benar-benar gelap sekali dunia kalau begitu ya? Randu sendiri menunggu istruksi. Jadi kalau kami sudah sampai pasar akan SMS supaya ia berangkat dari rumah, jadi sama-sama sampai dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun kecuali bensin subsidi hasil perjalanan. Yang penting jangan kehilangan keperjakaan.

“Lha kok rame?” gumamku. Ini retorika, ya jelas aja ramai. Tempat ini kan tempat doa dan ini juga malam minggu, pastilah banyak orang yang berdoa.

“Jalan-jalan sik wae,” seret Chiko. Jadilah lima lelaki dengan kantuk yang melanda jalan-jalan mengitari sendang bak kehilangan mainan dan dengan guyub mencarinya bersama-sama. Sungguh indah persatuan dan kesatuan kalau begini ya.

Tak lama, Randu muncul dengan bermodal gitar. Yak, sebagai EO yang baik hati dan tidak gemar menabung, maka Randu wajib melayani tamu-tamu yang butuh alas tidur ini.

“Tapi masih rame, Ran,” tunjuk Bayu ke pondokan beratap satu-satunya di tempat itu yang layak dijadikan tempat beristirahat.

“Bentar lagi sepi,” ujar Randu. Sebagai orang dekat sini kami harus percaya pada Randu. Harap maklum, kalau lagi diajak kemana-mana gitu di malam minggu, hampir pasti Randu menolak karena lagi ada acara di tempat ini. Randu memang pendoa sejati, patut ditiru.

Dan benar saja, sejurus kemudian tempat itu sepi. Randu segera menggelar gitarnya, eh tikarnya yang disambut meriah dengan tepuk tangan oleh Roman dan Toni yang dari tadi sudah merindukan alas untuk berbaring. Jadi ini topiknya mau doa atau mau pindah bobo? Ehm, dalam hal ini curhat manis dalam wujud doa lebih enak dilakukan di dini hari dalam balutan angin malam dan kesepian yang maknyus. Jadi tidur adalah opsi awal. Ya semoga saja nggak kebablasan.

Dan topik hari ini, yaitu… ialah… yailah…. GEBETAN!

Ampun dah, jauh-jauh ke sendang, pakai bensin subsidi pula, masih aja ngomongin gebetan. Nongkrong di Pok-Whe ngomongin gebetan, terkapar di kosnya Roman juga ngomongin gebetan. Ehm, topik ini menarik karena Roman lagi tidur, sepertinya. Roman ini harus diwaspadai karena mulutnya ibarat ember bocor yang dapat mewartakan informasi kemana-mana dengan ceplas ceplos yang dahsyat dan kadang dilakukan dengan lantang di depan umum. Padahal sebagai rata-rata pemuja rahasia, kelakuan Roman bisa menjadi blunder yang mengerikan.

Gebetanku dan Bayu sudah bukan rahasia di Dolaners, soalnya berteman baik dan satu sekolah dulunya. Gebetannya Chiko? Yah, sebagai pria dengan ‘reputasi’ playboy tentunya kabar berita dan warta warga tentangnya begitu mudah diketahui publik dan mencari obrolan di angkringan. Macam artis kali bah!

NAH! Yang menjadi pertanyaan adalah gebetannya Randu yang tiada pernah kedengaran suaranya. Masak sih di Farmasi dengan perbandingan cowok-cewek 1:3, tidak ada satupun yang digebet. Kalaulah sampai tak ada maka aku akan mempertanyakan orientasi seksualnya. Ih, jauh kali yak!

“Lha kowe sopo, Ran?” tanya Bayu

Randu diam.

“Ada to tapi?” goda Chiko.

“Ya ada lah.”

Nah, ini disebut clue. Yeah!

“Anak mana?” tanyaku menyelidik penuh makna.

“Iyo bocah mana?” timpal Chiko.

“Farmasi?” sambung Bayu.

Dan ini sudah semacam interogasi pada tersangka pencurian hati anak calon mertua.

“Farmasi,” jawab Randu, tetap dengan suaranya yang tenang-tenang mendayung dihempas ombak. Bisa dibayangkan? Agak sulit ya?

Siapaaaa?” Aku, Chiko, dan Bayu sontak mempertanyakan kata yang sama. Sebagai cowok dengan reputasi gebetan berupa misteri, jawaban ini sangat dinantikan.

“Hoaehhmmmmm.. Ono opo iki?” Buntelan lemak di atas tikar bergerak manja.

“Wahhhhh.. bangun!” sebut Chiko dengan nada kecewa.

“Iya nih. Padahal tinggal dikit lagi,” sambungku.

Roman bangun dengan muka polos seolah tidak bersalah. Ya sebenarnya tidak bersalah sih, cuma ia bangun di waktu yang salah. Jadinya? Ya baiklah, Roman tetap salah dalam hal ini, karena ia bangun, sebuah rahasia besar tidak jadi terungkap!

Chiko, Bayu, dan aku terdiam dan memilih untuk terkapar. Satu kata lagi sebuah jawaban akan terungkap dan yang terjadi adalah gagal. Untuk mengobati kekecewaan, marilah kita menjawabnya dalam hidup kita masing-masing. Aku tak bobo risau dulu. Hiks.

Advertisements

Mudik

Ini bukan mau cerita nama dessa di Gunungsitoli, Nias sana ya. Ini mau berkisah tentang suka duka jadi anak (pertama) yang mudik dan bertemu keluarga.

Awalnya sih karena banyak yang tanya, long weekend kemana? nggak mudik? dan banyak pertanyaan lainnya. Ini tentu nuansa lain. Di Palembang dulu, mana ada yang tanya begitu waktu long weekend. Spare waktu itu biasanya untuk lembur (*hadohhh..) atau bersuka ria bersama sesama perantauan.

Kalau di Cikarang Jaya sini? Yah, bis ke Jawa Tengah dan sekitarnya penuh sesak menjelang long weekend. Dan saya memutuskan untuk menikmati Paskah di Cikarang saja.

Soal mudik, kenapa saya nggak mudik ke Bukittinggi?

Banyak faktor. Jujur saya agak kurang mantap kalau mudik hanya untuk ketemu Bapak Mamak saja. Adek saya ada tiga, pengennya itu ya ketemu semua. Jadilah kemarin sempat saya gilirin. Agustus 2011 ke Magelang ketemu si gadis dan si bontot. November ke Surabaya ketemu si gondrong dan sekilas ketemu si gadis dalam perjalanan pulangnya.

Dan sempat ketemu lama (seminggu, itu lama lho..) waktu mudik massal Desember silam.

Dan percayalah, bahwa berbagai mudik yang saya lakoni sejak punya GAJI, selalu berakhir dengan OVERBUDGET.

Why?

Ada perasaan hendak membelanjakan segala harta di depan keluarga. Entah ini sombong atau ingin berbakti, tipis sekali saya rasa. Tapi menjadi absurd kalau saya sudah bergaji, masih minta traktir sama orang tua, rasanya miris bagaimana gitu. Apalagi gaji saja sudah selevel sama gajinya bapak. Saya kerja 3 tahun, bapak 30 tahun. Waw yak? Hahahaha…

Misal mudik pertama lebaran 2009, budget sudah diatur sekian juta. Nyatanya bablas juga. Lalu mudik berikutnya Desember 2009, bablas banget sampai THR saya musnah seketika.

Lantas di 2010 pertengahan, sudah siap-siap budget dengan jumlah yang jauh lebih besar dari dua mudik sebelumnya. Yang ini bukan mudik sih, kumpul di Jogja saja. Hasilnya? Tetap overbudget 30%.

Lalu April 2011, seluruh bonus saya kerahkan untuk menikmati hidup indah bersama keluarga lengkap. Masih bolong juga. Gaji kepakai juga akhirnya.

Demikian pula, meski sudah berkali-kali mudik,  bahkan Desember silam saya masih bablas dalam hal budget. Hanya saja, saya sudah antisipasi. Jadi ada budget level satu dan level dua. Sebutkan X Juta untuk level satu, kalaulah masih tembus, ada level dua Y Juta. Totalnya X tambah Y adalah budget sebenarnya. Setidaknya, yang Y itu nggak sepenuhnya habis. Untunglah. Manusia kan harus belajar dari ‘kesalahan’.

Dan ini pasti terjadi pada mudik orang-orang pekerja baru, sekitar 1-2 tahun bekerja. Ini saya yang agak pekok sampai nyaris 3 tahun masih overbudget saja.

Dan yang pasti over itu kalau ketemu adik-adik dalam tour ke Magelang. Hahaha.. Tapi it’s oke. Buat saya sih, beberapa ratus ribu itu nilainya masih kalah daripada kebersamaan dengan keluarga. Bahwa saya di perantauan sendirian itu menjelaskan fakta bahwa kadang keluarga itu dirindukan. Ya begitulah dunia.

Jadi, ini cuti saya masih 4, dan akan habis 1 bulan lagi (kurang). Perlu mudik? Atau perlu agenda khusus? Semua tergantung UANG-nya. Hahaha..

Salam mudik! 🙂

Seulas Senyum

pablo (2)

NSP! Wah, masih musim nggak tuh? Sejak pencurian pulsa yang marak dilakukan sama provider kaya raya, NSP mendadak distop! Ah, ini mah menggalaukan saja. Bagaimana mungkin NSP dihilangkan? Bagaimana pula nanti aku akan digunakan kalau NSP mati. Bayangkanlah, kalah NSP ditiadakan, maka aku akan jarang-jarang ditelepon. Dan aku juga akan jarang-jarang membunyikan nada dering.

Yah, NSP yang ada padaku dan nada dering yang tertanam padaku, sama persis.

Awalnya aku menganggap ini hanya praktek mellow seorang pemilik handphone. Tapi ternyata lama-kelamaan aku memaknai lagu itu. So sweet lah untuk didengarkan dan so sulit untuk dinyanyikan.

Aku hanyalah seonggok handphone yang so jadul alias cukup jadul. Jangan panggil aku tua. Aku memang masih candy bar, tapi jangan salah, kekuatanku lebih dahsyat daripada pegangan generasi terbaru. Apa itu? Ah, BB.. Coba celup dalam kopi, habis itu BB. Sama apalagi itu? Android? Sama aja.

Mana ada handphone sepertiku, tahan jatuh dari ketinggian 5 meter, pernah masuk gelas teh, pernah dipakai melempar anjing waktu pemilikku ketakutan.

Aku hanya seonggok handphone yang diam pada zaman. Dulu aku adalah handphone paling tipis yang pernah ada. Ingat, paling tipis! Tolong jangan keras-keras waktu bilang DULU. Agak menyakitkan hati.

Tapi karena aku berasal dari masa lalu, aku sangat paham tentang masa. Akulah saksi ketika pacar pertama pemilikku mentransfer fotonya dengan bluetooth. Yak, fitur paling canggih padaku, memang bluetooth, gigi biru. Belum ada BBM atau Whatsapp tertanam padaku. Waktu itu? Pasti kalian juga belum mikir. Waktu itu akulah yang terhebat.

Aku juga saksi ketika pesan singkat masih merajalela. Aku terlalu panas untuk selalu meladeni pesan singkat yang bertubi-tubi masuk. Tapi aku kuat, mana pernah aku hang? Ah, nggak mungkin itu. Aku handphone kuat.

Aku juga saksi ditindih oleh pemilikku ketika dia baru putus dengan pacarnya. Orang sinting! Ketika sakit dan sedang nggak perlu handphone aku dibiarkannya terselip diantara dua belah springbed. Ketika butuh, sambil nangis-nangis dia mohon aku tiba-tiba muncul di permukaan.

Tapi tak apa. Aku menikmati detail peristiwa pemilikku. Tidak ada yang mengenalnya sedalam aku.

Karena aku pula yang menyimpan semua pesan singkat tentang cintanya yang sebenarnya. Selama bertahun-tahun. Handphone-handphone terkini, ayo sini, memangnya di memorimu ada pesan singkat dari 5 tahun silam? Mana ada! Hanya aku yang punya.

Akulah saksi ketika pemilikku dengan seulas senyum, sesekali membaca kembali pesan-pesan singkat yang masih ada di handphoneku. Baginya, lebih baik beli handphone baru alih-alih menghapus pesan-pesan itu. No! Itulah pesan cinta yang sebenarnya.

Pesan cinta yang tidak terungkap.
Pesan cinta yang terus menerus terlampaui masa.
Pesan cinta yang tidak eksplisit.
Pesan cinta yang hanya dimaknai dengan seulas senyum.
Pesan cinta yang meninggalkan luka, bahwa cinta tak harus dimiliki.
Pesan cinta yang terwujud dengan bebas.

Dan hanya aku yang mengerti makna senyum itu.

Karena senyumpun dapat bermakna tangis.

 

Berbeda Itu Berbeda

Aku.

Kata orang aku ini terlalu tinggi kriterianya. “Si Lyana itu sok banget sih. Cakep kagak, standarnya tinggi banget,” begitu kata orang-orang yang mengetahui syaratku mencari pasangan.

Yah, katanya orang juga, banyak yang suka sama aku. Walaupun aku sendiri hampa cinta. Betul deh. Hampa bener aku ini. Sehampa pempek beringin yang dibungkus vakum. Dan pempek itu tahan lama. Persis seperti kehampaanku, tahan lama juga. Lama sekali sejak aku dan Bang Fano, kakak kelasku di kuliah dulu, sama-sama suka, bertahun-tahun lamanya, tapi tidak terungkap satu sama lain.

Syaratku sebenarnya cuma dua, aku tidak mau punya brondong plus aku mau yang seiman. Itu saja kok dan itu sebenarnya sudah ada pada pria tadi.

“Ya kalau mau yang seiman, yang sejenis sama kamu banyak kok. Banyak juga yang lebih tua dari kamu,” kata orang-orang dari golongan yang sama dengan yang menyebut standarku ketinggian.

Ah, persetan! Buat apa mereka mengurusi hidupku? Bahkan mereka bukan bagian dari orang-orang yang membuatku hidup. Kalau menghidupi, hmmm, sejauh aku tahu, owner dari perusahaan ini tidak ada yang mengomentari statusku. Jadi mereka yang ngomong itu sama sekali tidak menghidupiku.

Jadi buat apa aku urusi?

Bahwa cinta itu unik, aku paham benar. Terutama ketika aku mengenal Dino. Namanya mirip birokrat. Caranya mendekatiku juga persis birokrat. Lobi sana, lobi sini, sehingga perlahan aku luluh.

Dia pun lebih tua dari aku.

Masalahnya cuma 1: kita mempercayai Tuhan yang sama, dengan cara yang berbeda. Dan buatku itu selalu menjadi masalah besar. Besar sekali.

Bagiku setiap agama itu baik, dan agamaku paling baik. Bukankah harusnya begitu? Bolehlah aku disebut pluralis bahwa menyebut setiap agama itu baik. Tapi kalau agama-agama nggak baik, menurutku namanya bukan agama! Perkara, agama kita yang paling baik, nah.. itu dia mengapa sampai sekarang kita memegang agama itu.

Dan begitulah aku dan Dino masih memegang teguh kepercayaan kami masing-masing.

Aku dan Dino.

Yah, romantis memang iya. Meski Dino sama sekali tidak pernah menembakku, apalagi aku melakukan itu, amit-amit. Kami malam minggu bersama. Berlibur bersama ke Ancol. BBM sepanjang hari. Kadang dia menjemputku disela kemacetan Sudirman.

Sudah semacam suami istri saja.

“Eh, lu sama Dino mo nikah kapan?” tanya  Anita, tablemate-ku, suatu siang sebelum meeting.

“Heh? Gue kan belum punya calon. Dino mah temen doang, Nit.”

“Temen, tapi jemput tiap hari? Temen apaan tuh, Ly?”

Aku diam saja. Dipikir-pikir, hubungan aku dan Dino memang sudah cukup dekat. Fakta bahwa aku dan Dino berbeda tidak bisa menutupi keinginanku untuk tetap dekat dengan Dino, sepanjang hari.

Sore hari tiba. Meeting hari ini melelahkan. Aku kadang nggak habis pikir bagaimana meeting ini bisa membuatku menerima uang dalam jumlah lumayan di rekeningku setiap akhir bulan. Sementara, di luar sana, orang dengan panas hujan jualan bakso, dan tidak mendapat uang di rekeningnya setiap akhir bulan.

Sekadar berpikir galau saja.

Dino datang menjemputku, seperti biasa. Dan seperti biasa pula, kalau tidak macet, ya tidak Jakarta. Di tengah kemacetan di jalan bebas hambatan yang tiba-tiba berubah nama menjadi jalan penuh hambatan ini, aku dan Dino terjebak.

Macet!

“Eh Ly, aku ditanyain nyokap tuh.. kapan kawin..” cetus Dino di tengah kemacetan.

“Ya makanya nyari dong..”

“Susah nyari yang klop di hati, Ly.”

“Masak nggak ada?”

“Ada sih..”

“Nah itu ada, siapa Din?”

“……”

Hening. Mobil Dino merayap bak kura-kura ngesot. Beginilah Jakarta.

“Kamu.”

Aku tersentak kaget, “aku?”

“Ya, kamu yang klop di hati Ly.”

“Dino, bukankah kita berbeda?”

“Apakah perbedaan harus membuat kita tidak bersatu?”

“Beda itu aneh Dino. Okelah, kita mungkin sama dalam banyak hal. Tapi kita berbeda untuk hal itu. Aku nggak mungkin mengkhianatinya. Sekarang, misalnya aku atau kamu bersatu dan harus ada yang mengalah. Coba pikir. Kalau, aku yang baru kenal kamu beberapa bulan ini sudah bisa meninggalkan sesuatu yang aku percaya dari kecil, bukankah aku juga bisa meninggalkan kamu suatu saat. Begitu kan?”

“Mungkin kita bersatu dalam perbedaan itu, Ly.”

Hening (lagi).

Berbeda itu beda. Menanggapi perbedaan tidaklah bisa dari perspektif yang sama. Aku beda dengan kamu, beda dengan dia, beda pula dengan mereka. Cara pandang perbedaan itu berbeda satu sama lain. Dan berbeda itu adalah hak orang. Kalau aku memandang dan menyikapi perbedaan dengan cara ini, tentu tidak salah. Pun, kalau kamu, dia, atau mereka menyikapi perbedaan dengan caramu, caranya, atau cara mereka, itu juga tidak salah kan?

“Berbeda itu beda Din. Caramu dan caraku memandang perbedaan saja sudah beda. Itulah perbedaan terbesar diantara kita, bukan soal kepercayaan kita,” jelasku, “baiklah kita tetap berteman saja.”

“Oke, Ly. Mungkin aku perlu lebih banyak memahami soal perbedaan.”

Jalanan di depan sudah berubah menjadi parkiran. Yah, kami masuk ke dalam tol, membayar mahal, hanya untuk parkir. Ya! Parkir alias berhenti. Lagi-lagi, itulah Jakarta.

“Kamu lihat di depan Din. Tidak semua orang sama dalam menyikapi tempat parkir ini. Pasti banyak orang yang marah-marah, banting setir, teriak-teriak, dan ada pula yang kalem mendengarkan musik. Begitulah. Perbedaan adalah kekayaan, tapi bagaimanapun pasti ada yang sama,” uraiku, “dan kamu pasti menemukan orang yang punya kesamaan denganmu. Pun dengan aku.”

Hening kembali. Hanya suara klakson bersahutan.

Perjalanan penuh keheningan ini berlanjut, sampai Dino menurunkanku di depan kompleks perumahan tempat aku tinggal.

“Oke Ly. Terima kasih sudah mengajariku soal perbedaan ya.. You’re truly nice friend.”

“Kamu juga Din. Semangat! Hehehe.. Be careful..”

“Oke.. Duluan ya..”

Dan Dino berlalu dari hadapanku.

Langkah gontaiku khas setiap kali pulang bekerja. Tapi inilah hidup. Kalau tidak begini, aku tidak akan menikmati rumah hasil jerih payahku ini. Ini KPR 15 tahun yang baru selesai 3 bulan. Masih jauh sekali.

Sesosok pria berdiri di pintu rumahku. Ada tamu rupanya. Membawa bunga pula. Sejak kapan aku pesan bunga?

“Cari siapa ya?” tanyaku sambil mendekati pintu. Rumahku di dalam cluster sehingga tidak ada pagar sama sekali.

Pria itu berbalik, dan aku terkejut.

“Lyana?”

“Bang Fano?”

“Apa kabar? Akhirnya ketemu juga rumahmu. Nyarinya bertahun-tahun lo Ly. Hehehe.. Aku cuma mau bayar hutang.”

“Hutang apa bang?”

“Aku hutang perkataan. Dari dulu seharusnya aku bilang ini. Dari 6 tahun yang lalu. Aku cinta kamu Ly.”

Dan pria ini, tanpa tahu apakah aku masih sendiri, tanpa aku tahu apakah dia juga masih sendiri, tanpa tahu isi hatiku, tanpa informasi apapun. Pria itu tiba-tiba masuk ke hatiku dengan cara yang berbeda.

Dia kembali dengan cara berbeda. Tapi hatiku tidak berbeda.

PS: tulisan ini hanya perspektif penulis saja, bagaimanapun berbeda pendapat itu wajar dan diperbolehkan kan? Terima kasih…