+1

Iya. Hari ini umur saya berkurang lagi dari jatah entah berapa yang sudah ditentukan. Sudah dua puluh sekian, dan sekiannya banyak. Sebagai Capricorn, mereview pencapaian pada usia yang sudah dilalui sebenarnya susah-susah gampang, karena hampir mirip dengan review tahunan yang kebetulan sudah saya buat.

Jadi sudah ngapain aja di usia yang baru saja lewat ini?

Tentu saja bernapas.

Dalam 1 periode revolusi bumi itu pula saya menahan-nahan ketidaksukaan saya pada bidang logistik, ya, sampai hampir muntah rasanya. Sampai pada level tertentu, saya bisa melakoninya dengan baik, tapi ketika pemberontakan hati terjadi, mulai deh pekerjaan jadi bubar satu demi satu. Yah, untunglah untuk hal ini sudah ada jalan keluar.

Di usia yang baru lewat ini juga banyak tempat baru, dan tentu saja menggandeng pengalaman baru. Muara Gembong, berikut paket perjalanan-awalnya-ketakutan-tapi-ujungnya-ketagihan ketika naik eretan. Ada pula Semarang yang saya jelajah sendirian dengan referensi dari Google. Plus aneka mall di Jakarta yang saya sambangi hanya untuk melihat OOM ALFA nampang disana.

Soal cinta? Nah, ini dia. Nggak punya pacar dari ulang tahun sampai ulang tahun lagi itu semacam nggak biasa. Sudah lama nggak, soalnya. Tapi bukan berarti nggak ada yang naksir loh. Ada, tapi ya, kok ndadak bertingkah aneh-aneh. Mulai dari pakai acara titip salam ke banyak orang, padahal kan punya nomor HP saya, sampai ada pula yang menginthili kehidupan per-social media-an saya.

Men, ada gitu cewek yang buka-buka koleksi foto FB saya 2-3 tahun yang lalu, dan dengan gamblangnya ketika saya tanya, “tahu dari mana?”, eh dijawab “dari FB”. Stalking kok ngaku, ini tentu saja disebut gaking, gagal stalking. Ya, gaking sampai nongol di setiap kehidupan per-social media-an saya, berikut hobi bikin status #nomention yang mengarah ke saya… itu kok malah bikin ngeri. Jadi, ya sudahlah, mari di-setting supaya mereka mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada saya. Amin.

Soal benda mati, ada tambahan Tristan dan Eos, sama ada juga smartphone baru, merk lokal. Beginian mah pencapaian biasa banget. Orang-orang lain pada usia saya malah sudah beli rumah dan mobil. Agak telat gaul memang saya ini.

Nah, pencapaian yang mungkin terbesar tentu saja benda ini:

Oom Alfa

Iya. Akhirnya, sesudah penantian yang cukup panjang. Mulai dari penantian tanpa usaha, usaha itu sendiri, sampai penantian sesudah berusaha, akhirnya nama ArieSadhar bisa nongkrong sendirian di cover sebuah buku. Cover yang menurut kawan-kawan tergolong kece. Good job, Ika! 🙂

Nah, OOM ALFA inilah yang kemudian membawa saya kepada sebuah konteks pergaulan baru, yang benar-benar baru: sebagai penulis. Saya hidup di 2 dunia jadinya: manufaktur dengan segala hal yang seketat cawet, serta industri kreatif yang benar-benar membutuhkan imajinasi liar untuk mencari hal yang sungguh-sungguh baru. Awalnya bingung, tapi lama-lama nikmat juga. Dan agaknya akan terus begitu sampai jangka waktu yang cukup panjang.

Di usia yang baru lewat itu juga saya mencoba meraih lagi sesuatu yang diinginkan oleh orang tua saya. Nanti, kalau sudah tiba saatnya pasti akan saya kisahkan disini. Tenang saja.

Entah kenapa juga, di umur yang sudah lewat itu, saya lumayan banyak terjun “melayani”. Ya, namanya begitu, tapi saya sendiri kadang nggak merasa itu pelayanan kok, soalnya saya suka. Nongkrong di Balkesmas sebulan sekali, serta terlibat lebih aktif di hari Minggu, di rumah Tuhan, sejatinya cukup menyenangkan.

Kekayaan paling utama yang saya terima di umur kemaren adalah relasi. Berkenalan dengan orang-orang bersemangat positif lewat Kelas Inspirasi, bertemu orang-orang kreatif di penerbit, bertemu anak-anak muda keren di komunitas blogger, pun ketemu anak-anak SD unyu pas ngajar KI, sampai bapak-bapak-yang-nyolong-susu-bekas-saya di sebuah kampung di mepet Karawang sana. Semuanya memberi nilai pada hidup yang tambah lama sebenarnya tambah susah ini.

Terima kasih kepada Tuhan atas usia yang masih dijatahkan kepada saya, atas dua orangtua yang luar biasa, yang tetap sehat sampai sekarang. Terima kasih atas berkat melimpah yang saya terima sepanjang dua puluh tahun lebih banyak mengarungi hidup ini.

Hari ini rasanya adalah hari ulang tahun dengan ucapan terbanyak. Mulai dari aneka grup WhatsApp, Twitter, Facebook, hingga langsung. Ya, meskipun kurang 1 orang, yang sejak 7 tahun lalu, baru sekali ini nggak ngucapin. Mungkin lupa, beberapa tahun yang lalu dia juga telat, kok. Yah, pokoknya, meski hanya tidur-tiduran melihat Cikarang banjir, saya cukup merasa keren hari ini.

Terima kasih, Tuhan. Lancarkanlah umur baru ini, agar saya bisa bertindak, demi kemuliaanMu yang Lebih Besar.

10 Lagu Paling Nggerus Versi ArieSadhar

Terakhir posting tanggal 1, pas tanggal merah. Baru posting lagi sekarang pas tanggal merahnya karyawan 5WD8TO5. Ini mah namanya penurunan di tahun baru. Ya, mohon dimaklumi, faktor U. Urbaning… eh… umur.

Kali ini saya hendak memaparkan soal dunia seni, tepatnya seni suara. Ya, walaupun di buku saya, OOM ALFA, sudah diceritakan dengan jelas bahwa saya gagal pada seleksi pertama Indonesian Idol 1 dengan nomor 7377, tapi jelek-jelek begini, saya lumayan bisa nyanyi. Karena cuma lumayan, makanya saya joinnya ke paduan suara, yang kalau saya mangap-mangap belaka di samping seseorang bersuara bagus–misalnya Bang Rondang–saya sudah bisa mendapatkan tepuk tangan meriah dari hadirin. Mana dia tahu saya nyanyi apa kagak. Nah, bergumul dari per-choir-an ini yang agak membantu pengetahuan saya soal seni suara.

Lalu mau bahas apa soal musik?

Apa? Apaaaa?

2013

Haloh, para pembaca ariesadhar.com, yang setia maupun yang kesasar oleh tag “video bokep”, saya selaku pemilik rumah kecil ariesadhar.com mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014! Tahun baru sudah tiba dan saya masih jomblo aja.Hih!

Tahun 2013 yang barusan saya lewati di rumahnya Mbak Upi, secara umum memberikan makna hidup yang banyak. Secara karier tentu saja nggak ada apa-apanya, soalnya pas pergantian tahun 2012 ke 2013, saya adalah officer. Pas dari 2013 ke 2014?

Apa hayo?

Beda Acara Televisi Dulu dan Sekarang

Sebelumnya, saya hendak mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Haji Sulam, si tukang bubur yang naik haji. Dan saya baru sadar bahwa selama ini saya salah orang, saya pikir yang Haji Sulam itu si Haji RW. Maklum, walaupun jumlah episodenya sudah melebihi jumlah bulu dada Rhoma Irama, saya hampir nggak pernah nonton sinetron itu sampai ada anak kos baru yang lantas menguasai TV dan remote-nya, serta dengan setia menyaksikan kiprah Haji Sulam di layar kaca.

Haji Sulam adalah profil tayangan televisi masa kini, yang tentu saja beda dengan zaman kuda gigit besi. Kalau dulu, sinetron semacam Panji Manusia Milenium atau Janjiku atau Bulan Bukan Perawan itu ditayangkan seminggu sekali. Jadi kalau tulisannya sudah “bersambung…” itu berarti minggu depan baru dapat sambungannya. Kalau sekarang? Besok juga sudah ketahuan kelanjutannya.

images

Lanjut!

Jadi Anak Sulung, Enak Nggak?

Anak itu tercipta lewat pertemuan sel telur dan sperma yang lagi iseng pengen main-main ke ovarium. Nah, anak pertama adalah sperma pertama yang kebetulan ketemu dan jodoh dengan sel telur yang ditemuinya. Anak kedua? Tentu saja adalah sperma kedua yang sukses bertemu jodohnya di dalam sana.

Nah, jadi bisa dipastikan bahwa nggak ada satupun anak di dunia yang bisa memilih pengen jadi anak nomor sekian. Jadi semisal si sperma X ini punya angka favorit 7 karena menggemari Cristiano Ronaldo, dia nggak bisa milih bakal jadi anak ke-7, soalnya orangtuanya sudah KB. Bakal susah juga kalau dia penggemar JKT48, karena di era modern ini nggak ada orangtua yang anaknya sampai 48.

Yup, menjadi anak sulung adalah sebuah fakta, kenyataan yang kudu dihadapi. Siap atau tidak siap. Saya sendiri mungkin bisa dibilang nggak siap jadi anak sulung. Salah satu yang pernah dikisahkan oleh ahli-ahli sejarah kepada saya adalah bahwa saya pernah dengan tangisan maksimal meminta orangtua membuang adik saya.

“BUANGGG!!!”

Apakah yang terjadi?

[Review] Tulang Rusuk Susu – Indra Widjaya

Setelah dibawa kemana-mana, akhirnya buku “Tulang Rusuk Susu” ini kebaca juga. Fiuh. Ada untungnya juga buku ini saya bawa ke Jogja, karena akhirnya terbaca juga sembari menunggu jodoh bis Pahala Kencana di Terminal Jombor. Saking lamanya menunggu, saya hampir mengganti nama bisnya jadi PHP Kencana.

picture008Memang si Tristan nggak pernah jago kalau disuruh motret, jadinya ya kayak gambar di atas ini deh.

YUK!

[Review] NGENEST Ernest Prakasa

Bermula dari upaya menjadi abang yang baik, akhirnya saya mengantarkan si Dani ke Toga Mas. Oh, iya, soal menyoal bagaimana cerita saya di Jogja, itu ada juga ceritanya. Tentang naik apa saya ke Jogja, juga ada kisahnya.

Nah, namanya pecinta buku, kalau masuk ke Toga Mas, sudah pasti tergoda. Godaan pertama tentu saja godaan ngamuk karena buku saya nggak ada di situ. Godaan kedua adalah godaan beli. Godaan beli itu juga jadi penting karena sebenarnya di kos juga masih ada setumpuk buku yang belum kelar dibaca. Ah, jangankan di kos. Di dalam si PG yang saya bawa ke Jogja saja ada dua buku, Past and Curious sama Tulang Rusuk Susu.

Berbekal niat teguh, akhirnya saya sampai ke kasir dengan satu buku persiapan SNMPTN IPS, satu buku persiapan UN 2014 IPS, dan…

…sebuah buku warna kuning. Judulnya NGENEST.

coverdepan

 

Baca lanjut!

Choir Instan

Tidak hanya mie yang instan di jaman sekarang ini. Sesuatu yang berlabel instan sudah menggejala di segala sisi kehidupan. Sebut saja artis-artis yang hamilnya instan. Dengan prengas-prenges sana sini nikah bulan Januari, eh bulan Mei sudah punya anak pertama. Begitulah contoh hamil instan. Tapi anak pertama itu nggak prematur juga sih. Jadi, ya saya bingung.

Salah satu jenis instan yang lantas saya cicipi adalah dengan menjadi anggota choir instan!

Jadi ceritanya saya diajakin sama seorang teman untuk ikut koor paroki, dalam rangka mau ikut sebuah lomba yang bahkan saya nggak tahu lomba apaan. Berhubung kebetulan jadinya tanggal 7 kemaren saya kosong jadwalnya, ya sudah saya ikut. Apalagi sebagai seorang jomblo berkualitas, malam minggu saya juga kosong. Nah, konfirmasi saya ikut itu adalah tanggal 6 jam 4 sore. Lalu saya baru ikut latihan pertama dan terakhir tanggal 6 jam 8 malam. Dan naik panggungnya? Tanggal 7 jam 12 siang.

Kalau mau dirunut kembali, saya mulai gabung tanggal 6 jam 8 malam, sampai kemudian turun panggung di tanggal 7 siang, itu bahkan belum 24 jam saya bergabung dengan koor ini. Benar-benar instan. Orang PDKT aja nggak banyak yang secepat itu langsung jadian.

Jadian? Hah?

[Interv123] Blessed Survivor

Interv123 baru nongol bersama Bu Bidan, tanggal 20 kemaren. Seharusnya akan nongol lagi tanggal 10. Tapi hari ini saya terpaksa melanggar ketentuan saya sendiri karena tamu Interv123 hari ini buat saya sungguh luar biasa. Dan adalah kerugian besar bagi saya kalau harus egois menahan isi wawancara ini sampai tanggal 10. Lagipula, wawancara dilakukan tanggal 1. Mengetiknya antara tanggal 1 sampai tanggal 2, bulan 12, di tahun 2013. Baca lagi, 1-12-13 ke 2-12-13. Semuanya masih beraroma 123. Jadi pelanggaran masih diperkenankan. Seperti yang saya tulis di salah satu halaman skripsi: setiap hal ada pengecualiannya.

Semuanya bermula dari sesorean tadi–sepulang jadi apoteker beneran, sekali dalam sebulan–saya iseng mengecek TL Twitter. Sebagai penulis yang followernya nambah 3 tapi kurang 5, saya harus eksis bercicitcuit. Saya lalu mendarat di posting Derita Mahasiswa berjudul Tuhan Punya Rencana Lain. Awalnya sih biasa saja, sampai kemudian saya membaca hingga akhir posting itu. Begitu selesai? Saya terhenyak, karena ternyata saya pernah membaca nama di dalam posting itu sebelumnya.

Penulis favorit saya, beberapa bulan yang lalu menulis cerpen berjudul Anak Lelaki di Samping Jendela. Di akhir cerita, ada tulisan begini:

Caramel Macchiato

Ya, tokoh di dalam posting Derma dan tokoh di dalam salah satu cerpen dari penulis favorit saya itu merujuk pada 1 orang yang sama: @shiromdhona.

:)
🙂

Mbohae!

Bapak Millennial