Tag Archives: Pandemi

Liburan Pegal di Ancol

“Pa, Eto mau ke beach. Naik airplane ya…”

Demikian pesan bos besar di rumah. Kombinasi video YouTube yang memperlihatkan sejumlah anak bebas main di pantai plus beberapa kali bapaknya dinas naik pesawat membuat dia memberikan pesan itu. Pesan yang sulit diwujudkan, selain karena miskin, tapi juga karena lagi pandemi. Saya saja berusaha supaya tidak berangkat dinas karena takut ketularan COVID-19 di kota lain, lah masak bawa anak liburan?

Aslinya, saya jelas pengen bawa anak liburan. Kemarin di Bali kan saya menginap di Hotel Bali Mandira, pinggir Legian banget. Hotelnya juga asyik lah kalau bawa anak. Dan memang saya ingin banget bawa anak jalan-jalan. Tapi lagi-lagi, selain COVID-19 ada faktor kemiskinan yang membuatnya sulit terwujud~

Dan karena kita di Tangerang Selatan, maka jadilah kita ke beach yang paling masuk akal: Ancol. Kristof sudah pernah ke Ancol pada usia 2 tahun dan sekarang berarti dia kesini pada usia 4 tahun. Dulu pas 2 tahun sudah direncanakan bakal bawa ke Singapur lah, ke mana lah, ujung-ujungnya demi keamanan, selama 2 tahun dia malah di rumah…

Dulu kami pernah ke Ancol, tapi menginap di luar kawasan. Nah ini pikirnya kan biar liburannya asyik, jadi coba menginap di dalam kawasan. Kami menginap di salah satu hotel yang ada di dalam kawasan Ancol, tepatnya yang mefet banget sama laut dan dahulu kala pernah kondang dengan nama artis Lidia Pratiwi. Niatnya kan biar urusan ke pantainya gampang.

Sayangnya, gampang itu kalau kita bawa mobil sendiri.

Sobat misqueen kayak saya yang ke Ancolnya saja naik Blue Bird dengan kartu kredit, tentu nggak punya transportasi apapun di dalam selain kaki dan sedikit uang untuk sewa sepeda listrik. Tapi ya sudahlah, dinikmati saja karena niatnya kan liburan.

Secara umum, sesudah datang dan check in kami menuju ke Faunaland, suatu kebun binatang kecil-kecilan di dalam kawasan Ancol, tepatnya di tengah Allianz Ecopark. Kami naik taxol dari hotel ke Allianz Ecopark tersebut. Uniknya, itu posisi si taxol sudah di dalam dan saya tetap disuruh bayar 25 ribu. Padahal, ketika di masuk kan dia sudah dapat tiket keluar ya.

Tapi ya sudah. Gapapa.

Dari Faunaland, tampaknya anak saya ngebet benar pengen ke pantai. Walhasil, dengan berjalan kaki saya membawa dia ke Pantai Indah yang notabene paling dekat dengan Faunaland. Pantainya cukup ramai dengan tali melintang di area laut tanda tidak boleh berenang. Jadi memang hanya celup-celup sama main pasir. Anak saya sebagai anak prokes langsung keder begitu melihat anak-anak yang cukup ramai.

“Pa, banyak anak-anak…”

Dari Pantai Indah, kami kembali ke hotel untuk main pasir di depan kamar saja. Kami naik taksi. Jadi, ada sebuah taksi yang muter-muter Ancol pada Sabtu-Minggu untuk mencari orang-orang tidak berpunya seperti kami ini. Pas nganter kami, bapaknya malah curhat. Sedih memang. Benar bahwa di Ancol ada bus Wara Wiri, tetapi keramaian dan rutenya tidak cukup visibel untuk orang-orang seperti kami.

Kami memang berencana akan main pasir baru pada pagi hari berikutnya, sebelum pulang. Arahnya tentu saja beach pool yang dari proporsi pasirnya paling banyak. Pilihan kami kemudian adalah naik sepeda listrik yang disewakan di hotel dengan harga 100 ribu untuk 2 jam. Jadi dua sepeda ya 200 ribu. Dengan jarak 1 kilometer, menggenjotnya lumayan juga. Tapi namanya sepeda listrik kan kayak naik sepeda motor.

Dan sisi baiknya adalah ternyata anak saya sudah cukup seimbang sehingga bisa pegangan dengan baik dan benar di boncengan.

Kami main pasir dalam suasana yang gloomy dengan sedikit mendung dan beberapa tetes air hujan. Walau demikian, dalam durasi 2 jam tidak ada hujan yang terjadi sehingga keinginan Kristof untuk bisa bermain pasir di pantai setidaknya bisa terwujud dengan keterbatasan seperti tali, maupun kapasitas dan tentunya minim ombak. Memang lain kali saya sangat ini dia bisa menikmati pantai-pantai cantik yang pernah saya datangi, mulai di Padang, Bali, Kupang, Nias, hingga di Palu.

Memang baru dua kali dia ke pantai dan dua-duanya ke beach pool. Sebagai orang tua, sebenarnya ada keinginan dalam diri saya untuk mengajak dia. Cuma dulu takut saja dia tidak ingat. Jadi mau mencari umur yang kira-kira dia bakal ingat sampai kapan-kapan dan sepertinya ini sudah umurnya.

Kapan-kapan ya, Nak.

Tetap Produktif Dengan Meja Makan Minimalis dari iCreate.id

Tetap Produktif Dengan Meja Makan Minamlis dari iCreate.id – Sejak pindah ke rumah nyicil milik sendiri, ada perbedaan mendasar yang saya alami. Bukan apa-apa, pas masih di kontrakan dan sembari menanti KPR lolos plus renovasi interior, saya ‘terpaksa’ menggunakan kursi makan bayi yang dimodifikasi untuk bekerja dengan laptop. Benar-benar meja makan minimalis, lebih tepatnya meja makan bayi. Wkwk.

Sumber: Facebook Ariesadhar

Nah, di rumah yang baru, ada sedikit permasalahan baru juga. Kami pindah ke rumah yang ukurannya separo dari kontrakan sebelumnya. Jadi, kalau dulu saya bekerja menggunakan meja makan minimalis di ruang tamu dan Mama Isto bekerja di kamar belakang, maka di rumah baru pengaturan jadi berbeda.

Pertama, kamar kedua posisinya sempit sekali dan hanya bisa untuk menaruh meja setrikaan mini milik kami berikut meja belajarnya Isto. Mama Isto kemudian bekerja di singgasananya di kamar. Terus saya gimana?

Yha, saya pada akhirnya tetap di ruang yang tersisa dan merupakan persatuan ruang tamu, ruang keluarga, hingga dapur. Saya tentu tidak bisa punya meja kerja sendiri, kecuali rumah kami segede rumah di sinetron yang walaupun gede-gede tapi banyak konflik itu. Pada intinya, saya butuh meja makan minimalis.

Meja makan minimalis itu kemudian akan berfungsi ganda yakni benar-benar untuk makan, tetapi juga dapat saya gunakan untuk produktif bekerja terutama di kala Work From Home (WFH). Apalagi di semester terakhir ini, ketika saya benar-benar harus lulus kuliah karena kalau sampai nggak lulus, nggak akan ada yang mau membiayai semester kelima~

Esensi Meja Makan di Masyarakat

Bicara meja makan baik yang minimalis maupun yang lebih kompleks, kita dapat kembali ke sebuah penelitian jauh sebelum Indonesia maupun Korea Selatan merdeka. Penelitian itu berjudul Family Table Talk–An Area for Sociological Study, yang paper-nya ditulis oleh James H. S. Bossard pada tahun 1943.

Meja Makan Adalah Tempat Keluarga Berada Pada Kondisi Paling Bersahaja

Kita mungkin akan berdandan kalau mau pergi ke luar rumah. Atau bahkan sisiran jika hendak tampil webinar sekalipun. Kalau ada tamu juga biasanya kita berganti pakaian jadi agak sopan sedikit. Menurut penelitian tersebut, peristiwa makan bersama keluarga di meja makan sebenarnya adalah kondisi paling bersahaja suatu keluarga. Ketika nggak berpikir soal dandan, sisiran, dll. Tinggal berdoa, makan, lalu bercerita satu sama lain.

Meja Makan Adalah Tempat Interaksi Keluarga

Ketika berkumpul di meja makan, biasanya keluarga akan makan terlebih dahulu sebelum kemudian mengakhiri dengan bercerita satu sama lain. Menurut Pak Bossard, interaksi di meja makan itu ternyata merupakan hal penting dapat perkembangan kepribadian seseorang.

Meja Makan Adalah Tempat Untuk Mewariskan Budaya

Masih menurut Pak Bossard, ternyata makan bersama di meja makan merupakan kegiatan yang efektif untuk mewariskan budaya. Budaya itu tidak perlu jauh-jauh, sih. Tapi hal-hal sederhana semacam berdoa sebelum makan, makan dengan tangan atau sendok atau lengkap sendok dan garpu, serta hal-hal lainnya.

Transformasi di Meja Makan

Berdasarkan penelitian Inohe Tadashi di Jepang pada tahun 1993 yang berjudul Changes in Family Relations Reflected in the Dining Table From the Perspective of “The Family Theater Theory”, urusan meja makan ini mengalami transformasi dalam 3 bentuk.

Meimeizen

Dalam konsep ini, setiap makanan disajikan dalam tray terpisah. Setiap anggota keluarga menerima tray atau hakozen, yaitu kotak dengan ukuran 30x30x20 cm yang di dalamnya terdapat set lengkap perlengkapan makan untuk satu orang. Saat digunakan, kotak ini menjadi meja kecil.

Chabudai

Pada metode ini ada yang namanya handai dan shippokudai. Chabudai sendiri merupakan kelompok kecil meja makan yang ditempatkan pada tatami, sebagaimana kita lihat di kartun Sinchan atau Doraemon.

Gaya Barat

Nah, di Jepang sendiri pada tahun 1993 sudah terjadi pula pengaruh budaya barat sehingga muncul meja dan kursi. Sederhananya ya seperti yang ada di dunia pada umumnya sekarang ini.

Meja Makan Minimalis di iCreate.id

Alasan utama untuk menggunakan meja minimalis untuk saya tentu saja karena ruang yang tersedia juga minimal. Akan tetapi secara umum, estetika minimalis yang ada di ruang makan dapat menciptakan kesan luas dan juga bersih. Hal itu kemudian dapat dinikmati oleh keluarga yang turut serta makan berikut para tamu, kalau ada.

Meja Makan Minamalis Kayu

Di iCreate.id kita dapat menemukan sejumlah tipe meja makan yang sesuai dengan keperluan maupun ketersediaan ruang plus budget kita. Bagi yang doyan bahan kayu, terdapat Dresden Meja Makan Minimalis Kayu 4 Kursi Warna Putih Ukuran 120 cm. Produk ini menggunakan design Skandinavia yang cukup hits di kalangan rumah tangga muda zaman now. Sebagai meja makan, lapisan teratas dari Dresden dilapisi High Pressure Laminate (HPL). Jadi, lapisannya bukan material sheet. Meja makan minimalis ini menggunakan kaki dari kayu solid dan mampu menanggung beban hidup lebih dari 250 kilogram.

Dresden Meja Makan Minimalis Kayu (iCreate.id)

Untuk yang butuh ramai-ramai, tersedia Postdam Meja Makan Minimalis Kayu 4 Kursi. Sama-sama dilapisi HPL dengan ukuran sedikit lebih lebar daripada Dresden.

Postdam Meja Makan Minimalis Kayu (iCreate.id)

Selain Dresden, ada produk lain yang menggunakan nama kota lain di Jerman yaitu Hannover Meja Makan Kayu Minimalis. Meja makan ini terbuat dari solid beech wood dan MDF dengan ukuran 80×80 cm jadi cukup ringkas dan sangat tepat untuk kondisi seperti rumah saya. Nah, kalau versi bulat dari Hannover ada juga, namanya Heidelberg Dining Table.

Hannover Meja Makan Kayu Minimalis (iCreate.id)

Selain Heidelberg, ada juga Hamburg Meja Makan Bulat Kayu Ukuran 100 cm. Material kayu sendiri cenderung membuatnya lebih mudah dibersihkan dan harganya terbilang sangat murah kalau dibandingkan dengan Informa atau Ikea. Dengan ukuran yang sedikit lebih kecil, hadir Nurnberg yang sama-sama terbuat dari MDF dan solid beech wood. Ketebalan lapisan catnya kurang lebih 1,6 cm jadi lebih tahan goresan, ya namanya juga dipakai sehari-hari. Produk ini juga didukung oleh 4 bantalan kaki tahan aus yang mampu meredam kebisingan serta mencegah garukan di lantai, apalagi kalau pakai vinyil pasti terasa sekali.

Apabila ingin motif marmer, maka tersedia pula pilihan meja makan Munchen Bulat Motif Marmer dengan ukuran 110 cm. Daun mejanya menggunakan kayu MDF dengan finishing motif marmer yang mevvah. Lagi-lagi, cocok untuk pasangan muda yang lagi mesra-mesranya dan karena masih muda jadi rumahnya belum luas kayak rumah saya.

Meja Makan Minimalis Kaca

Tidak semua orang suka bahan kayu. Ada juga yang doyannya kaca. Dalam kedoyanan yang satu ini, di iCreate.id ada Hamburg Meja Makan Bulat Kaca Ukuran 100 cm. Dengan harga yang kurang lebih sama, meja makan bulat ini kurang lebih seperti Hamburg versi kaca. Kaca yang digunakan adalah tempered glass dengan kaki sama seperti Hamburg menggunakan powder coating leg. Tentunya kalau saya sendiri sedang tidak ingin punya meja kaca, soalnya lagi punya bocah yang sedang aktif-aktifnya (kalau lagi nggak mager).

Hamburg Meja Makan Bulat Kaca (iCreate.id)

Meja Makan Minimalis Extendable

Model ini sebenarnya paling cocok dengan rumah kecil karena penggunaannya sesuai kebutuhan ruangan. Salah satu yang ada di iCreate.id adalah Koln Meja Makan Minimalis Modern Putih Extendable dengan ukuran 160x90x76 cm. Nah, lebarnya dapat extend menjadi 200 cm sesuai dengan kebutuhan. Jadi, kalau pas ada tamu ada keluarga lain menginap, bisa digunakan untuk 6 kursi.

Koln Meja Makan Minimalis Modern Putih Extendable (iCreate.id)

Selain Koln, ada pula Waldenburg Meja Makan Extendable Motif Marmer. Sesuai kategorinya, desainnya minimalis tapi kesan mewahnya tetap ada. Ukurannya kurang lebih sama dengan Koln. Jadi, nggak perlu lagi ada bangku tembak kalau sedang ada orang tua atau mertua berkunjung ke rumah.

Waldenburg Meja Makan Extendable Motif Marmer (iCreate.id)

Mengingat pandemi belum usai, walaupun kuliah saya harus sudah segera selesai, maka upaya untuk tetap produktif dari rumah menjadi sangat penting. Orang-orang seperti saya tentu tidak sedikit, toh kan aturan di Jakarta saja masih 50% ngantor dan 50% WFH kan? Artinya, yang butuh untuk tetap produktif saat bekerja di rumah dan butuh meja makan minimalis yang dapat berfungsi untuk makan, ngopi, hingga kerja juga ada banyak.

Bagi yang ingin menggunakan meja makan minimalis maupun furniture online lainnya dari iCreate.id tapi tipenya adalah harus-melihat-baru-percaya, showroom iCreate.id tersedia di The Icon Business Park BSD dan Mendrisio Gading Serpong yang buka setiap hari.

Yuk, mari tetap produktif bekerja, berkarya, dan lain sebagainya di rumah masing-masing bersama iCreate.id.

Cara Termudah Baca Meter Mandiri PLN Pascabayar

Sejak April saya itu deg-degan. Bukan apa-apa, pemakaian listrik saya dan bayaran bulanannya ada selisih. Kalau orang lain marah-marah karena kemahalan, saya justru karena kemurahan. Saya deg-degan karena pada akhirnya kelak saya akan membayar sangat mahal ketika tagihan aslinya terpenuhi. Faktornya tentu saja karena COVID-19, petugas PLN tidak ada yang ke rumah-rumah buat baca meteran.

Kalau di rumah sendiri kemurahan, maka hal kebalikan saya rasakan ketika membuka tagihan listrik rumah orangtua. Lha piye, mosok rumah kosong (ditinggal tengok cucu) tapi bayarannya sebulan 200 ribu? Ya, jadi begitulah. Pandemi ini bikin kocar kacir.

Karena saya nggak siap suatu saat bakal bayar listrik 2 juta sebulan (biasanya 400-600 ribu) karena beberapa bulan ini tagihan listrik di bawah 400 ribu padahal saya di rumah dan berarti AC kan nyala maksimal terus menerus sehingga standarnya ya 500-an ke atas lah, maka saya mencari cara lapor ke PLN dan kok ya ketemu.

Singkat kata laporannya adalah lewat nomor WhatsApp 08122 123 123. Nomor WA-nya nggak kalah cantik daripada nomor saya yang 123 juga belakangnya. Saya kemudian WA “Halo”. Dan dasar akun bisnis, dia nggak pakai centang biru. Tapi memang langsung dibalas, sih.

Pada intinya kita akan mendapati pesan berikut ini:

SYARAT & KETENTUAN BACA METER MANDIRI OLEH PELANGGAN

PLN mulai bulan Mei 2020, kembali melaksanakan pembacaan meter secara langsung ke rumah pelanggan pascabayar. Petugas PLN dalam melakukan pembacaan meter ke rumah pelanggan, menggunakan standar APD dengan tetap memperhatikan Pedoman Pencegahan Penyebaran COVID-19 @kemenkes_ri

PLN juga tetap menyiapkan layanan baca meter mandiri melalui aplikasi WhatsApp Messenger PLN 123 dengan nomor 08122 123 123.

Baca meter mandiri bisa dilakukan oleh pelanggan mulai tanggal 24 s.d. 27 setiap bulannya.

Pelaporan baca meter mandiri oleh pelanggan yang valid, yaitu pengiriman foto angka stand meter akan dijadikan prioritas utama dasar perhitungan rekening listrik.

Jika pelanggan tidak dapat mengirimkan angka stand & foto pada tanggal baca mandiri yang disediakan bagi pelanggan pada tanggal 24 s.d. 27, maka angka stand yg akan digunakan adalah hasil dari baca petugas PLN.

Jika pelanggan tidak dapat mengirimkan foto angka stand meter ataupun lokasi kWh meter tidak dapat didatangi oleh petugas PLN, maka pemakaian listrik akan diperhitungkan rata-rata 3 bulan terakhir.

Apabila Pengiriman angka stand & foto kWh meter oleh pelanggan diluar dari tanggal yang telah ditetapkan, yaitu tanggal 24 s.d. 27, maka tidak akan dijadikan angka dalam perhitungan tagihan listrik.

Selanjutnya, setiap 3 (tiga) bulan PLN akan melakukan pencocokan angka stand kWh meter khusus hasil kiriman pelanggan dengan angka faktual hasil pembacaan petugas PLN, dan akan dilakukan penyesuaian pada perhitungan tagihan listrik. Untuk itu dimohon pelanggan mengirimkan angka & foto stand sesuai dengan yang tertera di kWh meter sehingga diharapkan tidak terjadi penyesuaian tagihan naik atau turun secara berlebihan.

Hubungi layanan Contact Center PLN 123 untuk menyampaikan pertanyaan, informasi atau keluhan atas layanan kami. Terimakasih atas kesediaan pelanggan telah membaca syarat & ketentuan ini.

Kemudian berikutnya kita masukkan angka pembacaan meteran serta lantas mengirimkan fotonya. Kira-kira demikian saja yang harus dilakukan. Nah, tinggal kita cek nanti tanggal 1 tagihannya keluar berapa. Tinggal saya yang deg-degan ini bayar listrik sejutaan kan itu BERARTI SEPERTIGA GAJI SAYA BUAT BAYAR LISTRIK DOANG. ASEM.

5 Hal Krusial Jika Jadi Penampung Dalam Penggalangan Dana

Saya baru menyelesaikan sebuah penggalangan dana kecil-kecilan, hasil pembahasan dengan beberapa teman. Dalam penggalangan ini, rekening saya jadi penampungnya. Artinya, ini kali kedua saya mengurusi penggalangan dana. Yang pertama bahkan cukup masif. Ketika itu seorang teman terkena kanker dan atas inisiatif pribadi, saya dan beberapa teman melakukan penggalangan dana. Meskipun begitu membesuk sang teman, kami malah dimarahi.

Ya, sang teman bukanlah orang yang susah-susah amat. Tapi ya tetap saja namanya teman gitu lho.

Belajar dari pengalaman itu, maka melalui tulisan ini saya mencoba membagikan beberapa hal penting agar bisa menjadi penampung dalam penggalangan dana yang baik dan benar.

Itu Uang Orang

Dalam penggalangan dana yang pertama itu posisi saya masih CPNS dan belum gajian 3 bulan. Gaji swasta saya sudah mau tamat pula. Terus kebayang dong uang puluhan juta masih ke rekening dalam waktu sepekan. Pengen digesek saja rasanya.

Untuk itu, pertama-tama yang harus kita ingat bahwa uang itu adalah uang orang lain yang justru dipercayakan kepada kita. Saya selalu percaya bahwa integritas itu mahal nilainya. Ketika kita jadi penampung dan kitanya ambyar, ya sampai mati boleh jadi kita nggak akan dipercaya.

Akuntabel

Dalam dua penggalangan dana itu, teman yang sama-sama menggalang sama sekali tidak mengecek datanya. Jadi, semua dipercayakan kepada saya. Untuk itu, secara berkala lakukanlah update, tanpa diminta! Tapi, sebaiknya ngupdatenya adalah nama saja, lalu kemudian nominalnya boleh tapi cukup total atau urutan bisa cuma diacak lagi sehingga nggak ketahuan yang punya nama itu nyumbang berapa. Biarlah itu menjadi data di kita saja, plus tidak perlu juga disebar-sebarkan lagi.

Untuk bisa akuntabel, tentu pencatatan harus lengkap. Jadi secara berkala saya buat di Google Sheet sehingga saya bisa melakukan update dimanapun, plus kalau ada teman sepenggalangan butuh datanya segera bisa di-share.

Kalau Bisa Rekening Kosong

Kebetulan sekali, saya itu dari dulu hobi punya rekening banyak walaupun uangnya nggak banyak. Bisa dicek di LHKPN uang saya berapa. Haha. Tapi, saya punya rekening pernah sampai 13 biji. Sekarang sih–karena ada wajib lapor LHKPN saya baru ngerasa ribetnya punya rekening banyak–jadi hanya tinggal beberapa saja.

Nah, kalau bisa untuk penggalangan dana ini pakailah rekening yang kosong alias nggak campur dengan uang pribadi kita. Kalau dulu kan pas CPNS jadi BCA saya buat gaji di swasta sudah idle, rekening itu yang saya pakai. Demikian pula sekarang BCA itu juga buat nampung orderan postingan yang seret sekali di musim pandemi, jadi saya pakai lagi. Sementara rekening pribadi saya di Mandiri, yang untuk mengelola gaji dan tunjangan, tidak digunakan untuk penggalangan dana.

Ada Internet Banking

Karena updatenya akan sangat cepat, maka kita butuh internet banking. Masalahnya, ada sebagian rekening lawas yang kadang sengaja nggak dibuat internet bankingnya dengan berbagai alasan. Kalau ada rekening seperti itu, walaupun kosong ya jangan dipakai. Internet Banking itu diperlukan untuk bisa akuntabel.

Kubu BCA, Kubu Mandiri

Jadi kalau dulu nih mazhabnya dua. BCA sama Mandiri. Karena memang kedua bank itu tahun 2014 kayaknya belum terhubung. Dulu saya bahkan punya BRI demi bisa menghubungkan kedua bank ini. Jadi, kalau bisa sih penggalangan dana juga relevan dengan kedua kubu ini. Sebisa mungkin lebih dari 1 rekening. Itu sebenarnya akan lebih meningkatkan potensi orang nyumbang.

Sekali lagi, jadi penampung dan pengelola itu ujian integritas. Karena ketika ada yang menyumbang sejuta dan nggak dicek, kita lapor ke teman-teman bahwa sumbangannya 800 ribu, sementara 200 ribu buat beli pulsa, misalnya, bisa-bisa saja. Tapi tentu saja, ora ilok, kata orang Klaten.

Segitu dulu, yha. Bhay!