Review: Cinta Dengan Titik (Bernard Batubara)

#virtualbooktour #day8. Gila. Mau ngetik review aja butuh perjuangan minta ampun menyembah-nyembah ke modem supaya sinyalnya bagus. Fiuh. Iya, saya tidak terlalu suka mengetik di aplikasi pengolah kata lalu kemudian memindahkannya ke blog. Kenapa? Kurang suka aja, titik.

Review saya kali ini adalah novel Cinta. milik Bernard Batubara, seseorang yang sosoknya justru saya tahu karena pernah menjadi tokoh di sebuah novel. Kebetulan juga, saya pernah ikut di project-nya Bara yang bernama Radio Galau FM Fans Stories. Sejujurnya nih, Cinta. adalah novel pertama Bara yang saya baca. Biasanya kalau yang pertama ini kesannya lain, tidak ada ekspektasi berlebihan, atau juga tidak ada perasaan meragukan. Biasanya sih.

Kebetulan lagi, Cinta. ini bersanding dengan buku saya di website Bukune. Nemplok dulu ah, biar ikutan tenar. Uhuk.

Bukune

Ini kok malah iklan?

Baiklah, mari kita serius.

Ada satu kalimat di Cinta. ini yang langsung saya tulis di Twitter ketika saya sedang membacanya, dan kalimat itu adalah:

Mengapa cinta membuatku mencintaimu ketika pada saat yang sama kau mencintai orang lain yang bukan aku?

Tanpa saya sadar, kalimat di atas ini ternyata juga menjadi kalimat pertama di blurb. Apa artinya? Ya, kalimat ini penting bagi jalan cerita di novel ini. Plus, kalimat di atas tadi juga mengandung tiga kata cinta dalam 1 kalimat. Hal ini rada penting buat saya karena sejatinya saya sudah bertanya-tanya dari awal, kenapa judul novel ini harus Cinta. alias Cinta Dengan Titik, yang di covernya juga harus ditambahkan cara membacanya? Dan sebenarnya, saya baru benar-benar menemukan filosofi judul ini begitu membaca cerita Mbak Iwied sebagai Editor.

Jadi pada intinya, saya sendiri harus berjuang menemukan makna Cinta Dengan Titik dan korelasinya dengan isi. Bagi yang belum baca, daripada berat-beratin pikiran, mending lupakan keinginan untuk mencari tahu hubungan judul dengan isi. Nanti juga ketemu kok. Tenang saja.

Cinta. berkisah tentang Nessa. Bara sendiri bilang bahwa Nessa adalah tokoh utama perempuan pertama yang dia garap. Sejatinya kalau Bara nggak bilang di blognya, saya juga nggak akan ngerti. Gaya bertutur dalam cerita Bara memang akan lebih mudah masuk ke dalam karakter perempuan, itu sudah saya temukan sejak membaca ceritanya di RGFM Fans Stories.

Nessa adalah “korban” perselingkuhan, yang lantas kemudian terjerat dalam pusaran dengan kata kunci yang sama. Disitu kemudian muncul nama Demas, lalu Endru, dan kemudian Ivon serta Bian. Nessa menjadi pelaku hubungan-resmi-yang-ada-di-atas-hubungan-resmi-lainnya. Buat saya, itu ngenes.

Sebagai laki-laki yang pernah mengganggu kehidupan berpacaran orang, saya sendiri kurang suka dengan Demas. Okelah, dia memperjuangkan cinta yang dipilih oleh hatinya, tapi pada saat yang sama dia juga mempertaruhkan kelelakiannya dalam sebuah komitmen ganda. Dalam beberapa konteks, saya justru mempertanyakan kelelakian Demas. Di posisi ini, justru saya tertarik dengan posisi Endru, yang selalu ada bagi Nessa. Kebetulan pula, saya pernah ada di posisi Endru, juga dengan pernyataan yang sama, dan dengan penolakan yang sama.

*toss dulu sama Endru*

Ending di novel ini cukup menarik bagi saya. Sebuah perpisahan nyatanya dibutuhkan untuk mengetahui sebenar-benarnya perasaan yang ada dalam diri kita. Dan itu yang kemudian terjadi.

Saya menghabiskan novel ini hanya dalam beberapa jam saja, lalu kemudian telat bangun dan telat berangkat kerja besok harinya. Maksud saya adalah bahwa novel ini tidak cukup berat untuk dituntaskan dalam waktu cepat. Kan ada tuh novel-novel yang butuh jeda permenungan terlebih dahulu sebelum kemudian lanjut membaca.

Di Cinta. ini akan ada pergulatan dari pembaca mengenai siapa yang ada di posisi benar: orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga. Dan bahwa kita tidak selalu bisa menjustifikasi bahwa orang ketiga yang selalu salah. Sebenarnya, orang ketiga juga nggak akan ada kalau orang pertama tidak mulai. Makanya saya nggak suka sama Demas.

Soal review jalan cerita, beberapa review yang lain dan yang akan datang mungkin akan lebih menarik. Saya sendiri lebih asyik menelisik soal pemilihan nama tokoh yang bagi saya aneh-aneh. Ya, Nessa yang punya inisial NEM, saya bahkan jarang menemukan setiap kata yang ada di nama itu sebagai bagian dari nama orang. Demikian juga dengan Demas, apalagi Endru. Memang, kalau nama terlalu biasa, kita juga malas baca novel, tapi dengan tiga nama yang bagi saya aneh semua ini, saya juga agak terganggu.

Saya juga menyoroti sudut pandang yang diambil Bara perihal pekerjaan Nessa dan Demas. Plus, pekerjaan Endru yang saya tidak tahu aslinya apa. Maklum, saya orang pabrik, meski cinta menulis. Jadi soal copywriter freelance plus editor, itu asli hanya ada di awang-awang saya.

Kemudian, Bara dengan sukses membuat saya merasa gagal dalam hal eksplorasi Jogja. Hampir delapan tahun saya di Jogja, tapi nggak pernah sekalipun saya tahu tempat-tempat yang disebut di dalam Cinta., kecuali Amplaz.

JADI DI JOGJA SAYA NGAPAIN AJA?

Oke. Santai.

Dan satu lagi adalah soal kebetulan. Yah, pertemuan Demas dan Nessa di pesawat, lalu dilanjutkan pertemuan berikutnya bagi saya adalah soal kebetulan. Mbak Windy pernah menjawab twit saya bahwa kebetulan tidak masalah asal ditunjang oleh hubungan sebab-akibat yang jelas. Nah, jadi apakah pertemuan itu bermasalah dari sisi plot?

Nggak. Sama sekali tidak. Saya itu hanya iri hati karena dari puluhan kali naik pesawat, nggak pernah mengalami duduk bersebelahan sama cewek yang sedang baca buku puisi. Padahal kalau ada, kan lumayan buat pengisi hati yang hampa ini.

*eh curhat*

Novel ini juga bikin saya makjleb di beberapa konteks, seperti: pertanyaan orang tua soal pasangan, teman akrab yang sudah menikah, sampai durasi waktu menjomblo. Buat saya, Bara menggunakan banyak sisi kontekstual yang tepat untuk membuat pembaca merasa “ini gue banget”, sehingga kemudian pembaca bisa memilih sisi itu, dan muaranya adalah keinginan mengikuti jalan cerita hingga usai.

Kalaulah ada diksi dan konteks yang agak bikin bertanya-tanya, ada di halaman 83 dan 87. Semacam kontras, walau sebenarnya tidak ngaruh benar dengan jalan cerita. Dan kalaulah ada adegan yang bikin ehem-uhuk-uhuy-ahay, itu ada di halaman 94.

Apa itu?

Makanya beli dan baca ya. Jangan lupa beli Oom Alfa juga. #tetepngiklan

Begitu saja hasil olah batin dan olah pikir saya terhadap novel Cinta. milik Bara, semoga berkhasiat bermanfaat.

bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja. Cinta. Tanpa ada yang lain setelahnya. Kita lihat ke mana arahnya bermuara…

🙂

PS: Bara juga sukses mengingatkan saya pada seseorang, melalui sebuah menu minuman kopi, persis di halaman 100. *sambil nyanyi terjebak nostalgia*

Pilihan Hati

“Lu putus bro?”

Panji hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata menerawang ke langit ke tujuh.

“Ngapain lu pake acara putus segala?”

Berondongan pertanyaan masih nggak berhenti keluar dari mulut Bara yang semakin tajam melotot ke muka Panji. Padahal Panji-nya matanya ke langit. Ini semacam pandangan tak berguna.

“Udah nggak cocok bro!”

“Jiah, gue sebagai yang merekomendasikan lu sama Cindy, merasa terhina nih. Dari nama aja udah cocok tuh. Pan dan Ji, Cin dan Dy. Mukanya dia juga bukannya pasaran, cakep abis.”

“Gue yang putus kenapa lu yang rempong, Bar?”

“Lha, abisnya, gue kan ikut andil, tanggung jawab nih.”

“Udahlah, bro. Udah putus, selesai, titik.”

“Nggak ngerti gue,” ujar Bara sambil berdiri dan meninggalkan Panji sendirian dengan tatapan mata yang masih ke langit, entah mencari apa ia disana.

Panji terdiam, tangan kanannya memegang tepat di depan heparnya.

Sementara Bara, masih bergumam sepanjang jalan, “Kurang capek apa coba, kurang baik apa pula, bodoh banget tu bocah.”

* * *

“Dapat salam tuh, dari Chika,” ujar Bara sambil melihat telepon genggamnya, “Salam balik nggak?”

“Nggak usah,” jawab Panji, singkat-dalam-tenang.

“Songong banget jadi laki boz!”

“Biarinlah.”

Dan Bara hanya garuk-garuk kepala, tak habis pikir.

* * *

“Ini pada ngomong apa sih? Gue yang jomblo aja biasa wae,” kata Panji sambil menyeruak dari balik kerumunan lelaki-lelaki yang bersuat-suit pada rombongan gadis-gadis manis yang baru lewat.

“Ya iyalah, lu jomblo songong,” timpal Bara.

“Apa coba?”

“Nah, yang mau banyak, nggak mau. Punya pacar oke, diputusin. Labil ah.”

“Ah, itu perasaan Om Bara saja.”

“Huuuu….”

Panji, Bara, dan yang lainnya menikmati saat-saat pemandangan bagus ciptaan Tuhan itu lewat. Semuanya tampak biasa saja sampai kemudian lewatlah Atha.

Panji tetap berupaya mengimbangi teman-teman lainnya, tapiiii… tatapan matanya tidak bisa menipu kalau ia lebih dari sekadar mengamati seorang gadis yang sedang lewat. Tatapan ini punya kandungan nilai yang jauh lebih dalam.

“Cieeee, yang mantannya lewat,” teriak Bara sambil menyenggol Panji.

Yang disenggol hanya terdiam.

* * *

“Daripada perkara hati kita berkelanjutan, lebih baik kita sudahi saja ya Mas.”

Kalimat miris itu terucap dari bibir manis Atha, diselingi suara hujan, dan hawa panas kopi yang baru saja mampir di meja.

“Bener juga sih, Tha.”

“Ya, gimana Mas. Aku sayang sama kamu, banget. Tapi faktanya kan kita nggak bisa bersatu. Daripada kita memupuk cinta ini sampai besar, nanti akhirnya dipotong juga. Berbahaya jika diteruskan.”

Panji terdiam selagi aroma kopi menembus hidungnya, menuju alveoli di paru-parunya dan memberikan makna lain terhadap pehamaman sebuah perkataan.

“Semoga demikian, Tha. Semoga perkara hati ini bisa kita atasi. Kadang dia nggak bisa dibohongi soalnya,” ujar Panji sambil tersenyum.

“Yah, semoga ya Mas.”

Keduanya tersenyum, perbedaan ini memang tidak bisa disatukan. Kadang jadi lucu ketika perbedaan yang adalah ciptaan Tuhan justru menjadi hal yang tidak bisa mempersatukan sesama ciptaan Tuhan. Apa yang telah direncanakan Tuhan untuk dipersatukan, nyatanya bisa dipisahkan oleh perbedaan yang mendasar.

* * *

“Kalau mau jujur, aku nggak bisa melupakanmu, Tha.”

Panji menarikan jemarinya di atas keyboard, menuliskan sebuah pesan pribadi di Direct Message Twitter

Jari-jarinya menari lagi di kolom Tweet, baris-baris kata kembali terbentuk, “Ada banyak hal yang mudah, tapi hati memilih yang sulit.”

Tweet!

Dan kalimat ini muncul di timeline.

Sebuah notifikasi masuk ke Twitter Panji, dan sebuah balasan DM.

“Aku juga, Mas. Mungkin hati kita memang sudah memilih yang sulit.”

Panji tersenyum membaca balasan itu. Sederhana, punya makna dalam di hati, tapi nyatanya tak akan memiliki makna di realita. Kadang hati memang seperti itu. Dan kebetulan, kini Panji yang mengalami perkara bernama “pilihan hati”.

* * *