Minggu lalu saya habis ikutan training tentang Manajemen Risiko. Ini ilmu yang lagi ngehits banget di dunia manapun, kecuali di negara yang rakyatnya hobi ngeshare berita cuma dari baca judul doang, lalu maki-maki orang di Pesbuk–padahal kenal juga kagak. ISO paling umum, 9001:2008, sedang mengarah ke 9001:2015 dengan penekanan Manajemen Risiko. Jadi ke depan, nggak akan ada auditor internal kacrut sok galak yang kemudian menemukan sebuah form yang tidak ditandatangani, kemudian mengenakan klausul 4.2.2 dan 4.2.3 sebagai temuan. Yang ada, pendekatannya, ketika form tidak ditandatangani, risikonya apa? Nah, itu baru bener.
All posts by ariesadhar
5 Hal Menarik dari PRJ 2015
Jakarta Fair alias Pekan Raya Jakarta 2015 telah usai. Untunglah tahun ini saya sempat ke PRJ setelah puluhan tahun tidak ke PRJ. Yes, jelas puluhan karena terakhir kali saya ke PRJ itu tahun 1989. Chelsea Islan–yang kalau gereja ke Gereja Santa–saja belum dibuat pada saat itu. Tenang saja, saya tidak berburu chiki 10 ribuan, saya malah tertarik sama AMDK yang iklannya menurut saya terlalu berlebihan bilang-bilang manis. Padahal, jelas saja lebih manis Chelsea Islan dan Maudy Ayunda. Ya, toh?

Nah, begitu saya mencecap (tsah) PRJ 2015, akhirnya saya menemukan beberapa fenomena menarik yang terjadi. Boleh jadi ini fenomena 2010, 2013, dan tahun-tahun lainnya. Namun saya tidak berani menyimpulkan, mending membuat kesimpulan pada kejadian yang memang saya lihat sendiri buktinya.
So, apa saja hal menarik itu?
1. Bayi-Bayi Merah Yang Tangguh
Namanya orangtua membawa anaknya ke tempat ramai itu biasa. Toh saya juga ke PRJ 1989 itu dalam usia saya yang baru 2 tahun lebih sedikit, adek saya jelas lebih muda lagi. Tapi saya juga nggak ingat sudah ngapain saja di PRJ 1989 itu, membaca saja saya belum bisa, apalagi menghitung sisa KPR.
Perjalanan ke Paskalis
Kata orang, perjalanan itu dilakukan untuk pulang. Demikian pula #KelilingKAJ. Mungkin saya bisa jalan-jalan sampai Kedoya atau sampai Abepura (ini mah sudah beda provinsi gerejawi), namun kadang-kadang kita perlu menjelajah TKP yang dekat-dekat saja dari kos-kosan, walau bukan paroki tempat saya bernaung. Dimana itu? Masih satu Dekenat dengan Jalan Malang, #KelilingKAJ kali ini membahas tentang Gereja Paskalis.
Dimana lokasinya?
Paroki Cempaka Putih yang menaungi Gereja Paskalis ini sebenarnya mudah sekali dicapai, yakni di Jalan Letjen Soeprapto Cempaka Putih. Tidak jauh dari gedungnya Bea Cukai atau juga Rumah Sakit Islam maupun kantor pusat Kalbe Farma hingga Kantor Pusat Taspen. Halte TransJakarta terdekat adalah Halte Pasar Cempaka Putih yang berada di dekat Ace Hardware Cempaka Putih.
Cermat Finansial Bersama cermati.com
Hidup memang makin susah. Loh, kok malah ngeluh. Mengeluh memang aktivitas beberapa manusia yang belakangan baru ngerti Yunani dan kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa negeri ini bisa bangkrut kayak Yunani, tanpa tahu apapun. Hihi. Nah, biar ngerti, salah satu yang perlu kita baca–selain berita yang benar–adalah cermati.com!
Kok gitu?
Dengan membaca cermati.com kita bisa mengetahui aneka produk keuangan mulai dari Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA), Kredit Multi Guna (KMG), tabungan, deposito, hingga kredit motor sekalipun. Dengan mengetahui itu semua kita tahu bahwa dunia perbankan negeri ini masih sangat kompetitif satu sama lain. Kok bisa? Bisa dong, karena di cermati.com kita bahkan bisa membandingkan antar produk satu sama lain, misal tabungan dari bank yang satu dengan bank lainnya. Keren kan?
Nah, tak kenal maka tak pacaran. Jadi mari kita kenalan dulu sama Cermati. Cermati adalah perusahaan startup yang bergerak di bidang teknologi finansial Indonesia, didirikan oleh para teknologis dari Silicon Valley dengan tim yang sudah berpengalaman di perusahaan-perusahaan terknologi global terkemuka kayak Google, LinkedIn, Microsoft, sampai enabler PPIC saya tercinta, Oracle. Cermati punya visi untuk menjadikan informasi finansial lebih mudah diakses dan lebih berguna bagi setiap orang dengan menggunakan platform teknologi. Dan produk-produk yang ada memungkinkan kita-kita untuk membuat keputusan finansial yang paling tepat dan cermat untuk situasi finansial sendiri karena kesuksesan finansial selalu bermula dari keputusan yang cermat, selain warisan yang banyak.
Untuk manusia dengan gaji 1,9 juta (dan nggak naik-naik) kayak saya, keberadaan cermati.com lantas menjadi penting karena saya bisa membandingkan dan mengajukan Kredit Tanpa Agunan dengan pilihan yang terbaik. Kenapa, gitu? Yes, karena di cermati.com ada pilihan pencarian yang bermacam-macam. Mau yang dana cepat? Ada. Fee rendah, tenor panjang, bisa bayar awal, hingga yang plafon tinggi tinggal klik dan kita akan ditunjukkan pilihan-pilihan produk keuangan dari berbagai bank. Ini penting karena untuk aspek keuangan ini banyak orang yang kadang nekat tapi nggak tahu, banyak juga yang lantas melewatkan banyak hal karena takut ambil risiko, ya, karena nggak tahu itu tadi.
Dengan pencarian di Cermati, kita bisa mengetahui suku bunganya, total pembayaran, bahkan termasuk cicilan per bulannya. Jadi kita sebagai calon pengaju KTA bisa benar-benar memilih dan tidak karena terpaksa diteror mantan–yang kebetulan jadi telemarketer.
Jika ingin mengetahui lebih jauh, bisa banget. Startup cermati.com ini juga membuat kita bisa melakukan simulasi kredit. Mau simulasi tenor kreditnya atau jumlah kreditnya, bisa-bisa saja. Tidak hanya itu, ketakutan bahwa KTA ini banyak biaya silumannya bakal sirna dengan mudah karena di cermati.com ditampilkan juga biaya-biaya yang menyertai,termasuk biaya pembayaran awal, asuransi, dan lainnya.
Dan guna melengkapi informasi itu, cermati.com juga memuat sampai kepada persyaratan dan ulasan. Misal, usia pemohon berapa tahun? Ada. Mininum gaji? Ada juga. Jadi, dengan gaji saya yang 1,9 juta saya bisa memilih KTA yang relevan untuk modal kawin. Lha iya toh? Kurang apa lagi? Cermati berhasil menjadi solusi untuk lebih cermat mengelola gaji 1,9 juta, eh, mengelola keuangan utamanya yang terkait dengan penggunaan produk-produk keuangan yang kalau nge-Google satu-satu bisa menyebabkan harga cabe naik duluan, saking lamanya.
Yup, segitu dulu. Ini saya lantas jadi sibuk mau cari-cari KTA, soalnya. Buat apa? Yang jelas, bukan buat beli batu akik. Salam cermat!
Menyambangi Cagar Budaya Santa Maria de Fatima
Sesudah beberapa pekan sepi karena banyak hal, maka perjalanan #KelilingKAJ kembali dimulai persis pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus alias harinya komuni pertama. Tenang saja, saya tidak dalam posisi ngeh melakukan #KelilingKAJ pada saat komuni pertama. Cuma kok pas sampai Gereja, banyak anak dengan baju putih-putih, baru sadar. Sadar kalau misanya bakal lama, maksudnya.
TKP #KelilingKAJ kali ini sebenarnya sudah saya incar dari dulu karena keunikannya, baru sempat setelah saya melihat Google Street terlebih dahulu dan jalannya diketahui dengan pasti. Kenapa begitu? Nanti pasti tahu, deh, soalnya #KelilingKAJ kali ini melangkah ke Gereja Santa Maria de Fatima di Toasebio.
Dimana itu?
Untuk mencapai Gereja Toasebio ini, halte TransJakarta terdekat adalah Halte Glodok. Dari halte, keluar ke arah gedung yang baru dibangun, lantas berjalan sampai kelihatan JNE dan sebuah jalan berpagar hitam. Dari situ jalan saja dan ikuti petunjuk yang sangat membantu, yakni adanya papan petunjuk sekolah Ricci. Nanti akan sampai di Vihara, dari situ belok kiri lalu ikuti saja jalan yang ada dan nanti di sebelah kanan akan tampak sekolah Ricci nan megah. Gereja Toasebio ini berada persis di sebelah sekolah Ricci. Sekilas pandang, tidak jauh berbeda dengan Vihara karena sebenarnya letak keduanya boleh dibilang belakang-belakangan.
Memotret Tomodachi Photography
“Jadi, kapan?”
Pertanyaan itu adalah jenis nan paling krusial dan sering ditanyakan kepada saya nan tampan tapi belum nikah ini. Untuk sekarang, menjawabanya gampang sekali karena calon saya masih berkelana di luar negeri mencari ilmu, dan semoga tidak mencari bule sekalian. Walau begitu, tidak berarti saya nggak ingin nikah, yang namanya persiapan-persiapan tentu sudah perlu untuk dihelat dan dipersiapkan sebaik-baiknya.
Salah satu yang mulai menjadi hobi saya adalah menyaksikan foto-foto pre-wedding. Sebenarnya hobi semacam ini dulu tidak perlu usaha karena akan bertebaran dengan sendirinya di newsfeed Facebook. Namun apa daya, teman-teman saya nikah kan cuma sekali, dan di dalam kurun 5 tahun belakangan, jumlah teman yang menikah dan mengunggah foto prewed tentunya akan semakin berkurang. Lagipula, wawasan baru tentu diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal, plus relevan di bagian terpenting: duwit.
Nah, melayang-layang di linimasa, akhirnya saya malah sampai di laman milik Tomodachi Photography.
Begitu masuk ke laman pertama, saya langsung disuguhi tampilan foto yang silih berganti setiap lima detik, menampilkan tujuh foto. Kalau jeli, akan tampak kemiripan di foto-foto tersebut karena kecuali foto dengan lokasi kolam, Tentu saja terlihat kece dan menawan. Cuma, pas saya mau coba balik ke gambar sebelumnya, coba-coba nggak bisa. Harus nunggu balik lagi ke siklus awal. Untung gambarnya cuma tujuh ya, kalau tujuh puluh, kan lama nunggunya. Selain itu, lima detik kok rasanya kelamaan, terlebih sebenarnya banyak koleksi foto yang bisa digunakan. Mungkin pemilik website bisa mempertimbangkan nih untuk menampangkan beberapa foto sekaligus, uhm, maksud saya langsung saja tujuh album diletakkan di laman pertama dengan thumbnail, jadi yang berniat bisa klik-klik dan sampai tujuan.
Foto-foto nan kece menawan itu tadi juga agak bikin saya kikuk karena nggak ada bordernya sama sekali. Mungkin memang jadinya tampak simpel, namun dalam pendapat saya elegansi sebagai sebuah gallery kok agak kurang. Pendapat pribadi, sih. Termasuk juga dalam hal ini adalah tiadanya border yang sip untuk empat kotak di bagian ‘member of’. Ketika saya buka di tablet, bentuknya jadi semacam empat kotak belaka, padahal keempat kotak itu pasti besar maknanya sehingga perlu ditampilkan di laman pertama.
Bagian menu memuat Home, Gallery, Contact Us, FAQ, dan About Us. Nah, disitu dijelaskan tentang gaya fotografi yang dianut oleh Tamadochi yakni naturalistik, jurnalistik, artistik, dan story telling. Usul nih, mungkin thumbnail yang saya usul tadi bisa dicarikan dari masing-masing style. Jadi kalau mau mencari yang story telling, bisa langsung ke lokasi tanpa lebih dahulu bingung melihat yang naturalistik.
Terus pas masih ke About Us, saya jadi bingung, yang ngambil foto siapa. Kalau ada profilnya dan lengkap dengan fotonya–kalau perlu foto sedang beraksi, pasti lebih menawan dan lebih memberikan kedekatan dengan calon klien. Memang niat awalnya adalah membuat simpel, tapi mungkin kalau dimasukkan video semacam behind the scene di bagian sini bisa jadi nilai tambah. Tapi ya itu tadi, dipertimbangkan supaya nggak berat, karena yang sekarang ini saya buka di laptop dan di tablet santai damai lancar jaya mantap sekali.
Oh, plus satu saja lagi yang agak mengganggu saya adalah alignment text yang tidak justified. Semacam kurang krusial, memang, namun sejak nyaris 2 tahun terakhir saya mulai menerapkan postingan blog dengan alignment justified dan tampaknya lebih rapi dan sedap dipandang. Rasanya yang semacam ini nggak susah untuk dikelola oleh pemilik website.
Untuk konektivitas ke media sosial sudah tepat untuk ditampilkan di depan. Blog saya malah kalah, karena memang yang dijual tulisan, sih. Demikian juga dengan bagian Contact Us yang sudah menampilkan alamat, nomor telepon, serta form isian dan alamat email. Eh, tapi kayaknya keren kalau ditambahkan map kali ya. Saya memang kebanyakan maunya kalau di website. Hehe. Kira-kira demikian saja upaya memotret Tomodachi Photography, kali ini melalui websitenya. Tulisan ini diikutkan di lomba review Tomodachi Photography di sini.
Berefleksi ke Museum Sumpah Pemuda
Salah satu hal yang sering menggoda mata saya ketika dalam perjalanan TransJakarta pasca halte Pal Putih adalah sebuah bangunan kecil di jalan Kramat Raya yang tidak jauh dari halte itu dan tidak jauh pula dari Mie Babat Senen nan haram itu. Bangunan itu adalah Museum Sumpah Pemuda. Nah, di panas terik nan sunyi sepi sendiri, saya kemudian memutuskan untuk mampir. Tentu saja turun di Halte Pal Putih, bukan Pal Merah. Kalau itu jauh dan nggak ada TransJakarta, gitu.
Museum Sumpah Pemuda ini, menurut sumber dari Dikbud, sebenarnya adalah bekas rumah Sie Kong Liong yang dulu disewa dan dijadikan asrama oleh pelajar sekolah dokter pribumi STOVIA (School Tot Opleiding van Indische Artsen). Namanya asrama, tentu dipakai untuk ngobrol penuh idealisme sehingga lantas disebut sebagai Indonesische Clubgebouw alias rumah perkumpulan Indonesia, plus juga menjadi tempat latihan kesenian yang dikenal dengan nama Langen Siswo. Sesuai namanya, tempat ini dikenal dengan Gedung Kramat Raya 106 yang lantas menjadi Gedung Sumpah Pemuda karena merupakan tempat terikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Sudah lama sekali. Di tempat inilah banyak diskusi dilakukan, pun karya-karya sastra diciptakan.
Enam Senja di Papua
Hidup ini memang selalu ada konsekuensinya, bisa baik, pun bisa buruk. Nah, salah satu hal yang bahkan hingga 1 tahun yang lalu tidak terbayangkan oleh saya, justru terwujud ketika saya nyemplung di pekerjaan sekarang ini. Jika saya tetap berada di pabrik, jadi PPIC nan berjaya dan membahana membelah angkasa, maka sampai metode perencanaan Johnson beranak pinak jadi Johnson Simamora dan Johnson Simorangkir pun saya nggak bakal bisa menulis cerita ini. Ya, ada beberapa keinginan sederhana di dalam hidup ini dan sejujurnya salah satu yang masuk list itu adalah…
…menginjak tanah Papua!
Kenapa? Entah, saya bahkan tidak tahu sama sekali alasan yang tepat. Namun saya mungkin mau mengira-ngira bahwa saya sudah pernah berada di Nias Selatan, maka saya ingin berada di sudut lain negeri nan indah bernama Indonesia ini. Tempat itu, ya, Papua. Maka, ketika tanggal 3 Juni silam dapat kabar bahwa akan ditugaskan ke Jayapura, harapan saya sungguh sangat sederhana. Jangan batal. Untunglah pada akhirnya tidak batal. Walau memang harus begebug sangat karena baru ditinggal pergi satu pekan, masuk sehari, lalu pergi lagi, saya lantas rela-rela saja. Ya, karena memang harus rela. Menurut ngana, pegawai-biasa-nan-agak-merana macam saya ini bisa apa? Heuheu.
Kisah Cinta Segitiga Tauke Karet di RS Charitas
Kurang lebih lima tahun yang lalu saya menjalani opname. Opname kesekian, sebenarnya, namun terhitung yang pertama bagi saya–dan semoga itu satu-satunya–ketika dewasa. Kalau waktu kecil, nggak usah dihitung, lha wong saya sudah sampai pada tataran matanya-putih-semua. Sebab musabab saya opname itu sungguh tidak elit. Vertigo. Tapi memang sangat memusingkan, bahkan untuk berjalan sudah tidak sanggup. Di otak saya isinya hanya Cefradoxil ratusan kilogram yang bikin saya ditelepon Pak Eko dengan pertanyaan klasik, “Itu kok datang lagi? Ini masih banyak lho.”
Ya, baiklah, ini bukan tentang vertigonya saya, tapi tentang kisah pada hari keempat saya dirawat. Kebetulan dengan asuransi InHealth, saya mendapatkan perawatan di kelas II–kalau tidak salah, dengan fasilitas satu ruangan berisi dua orang dengan satu televisi di tengah-tengahnya. Kebetulan juga saya kan tidak kabar-kabar ke rumah kalau sedang diopname, jadi benar-benar tidak ada yang menunggui. Hanya Mas Sigit, Boni, atau Jack yang datang, itu juga by request karena kehabisan sempak.
Nah, makhluk yang sama-sama terkapar di kamar yang sama dengan saya itu adalah seorang lelaki buncit, gondrong dengan tato di tangannya. Super sekali. Dia ditunggui oleh seseorang yang sama sekali berbeda dengan dia, dan selalu memanggil dengan, “bos”. Sudah jelas bahwa dia adalah orang upahan. Saya juga orang upahan sih, yang diupah untuk vertigo karena gudang penuh.
Pada hari keempat itu, kondisi sepi-sepi saja. Seperti Rumah Sakit pada umumnya. Kalau ajep-ajep itu namanya Alexis, bukan RS. Pada jam kunjungan tiba, muncullah seorang perempuan datang berkunjung. Semuanya lantas berjalan biasa-biasa saja. Saya pikir, ah, dia paling juga istrinya, atau cem-cemannya, atau mungkin mantan terindahnya. Saya? Ah, ditelepon sama pacar saja tidak kala itu, apalagi dibesuk. Untung sekarang sudah jadi mantan. HAHAHAHAHA
Saya tidak melihat ngapain aja si cewek itu di balik tirai. Yang saya tahu, penunggu si gendut ini pergi ke teras. Jadi berdua saja mereka di tempat itu. Bertiga sama saya, sih, di balik tirai. Siang-siang, panas pula.
Nah, tiba-tiba masuklah sesosok wanita ke dalam ruangan, dan bergegas menuju balik tirai sebelah saya. Syukurlah bukan ke tirai saya. HEUHEU. Saya pikir ini juga temannya, atau apanyalah. Ternyata itu cuma pikiran saya belaka, karena sejurus kemudian muncul dialog yang bikin saya trenyuh.
“Oh, jadi ini ya Koh, perempuan itu.” ujar perempuan yang baru datang tadi.
“Napo kau kesini?”
Terlontar dengan suara berat, sudah jelas si lelaki buncit itu.
“Aku nak jingok suami lah, Koh. Dio ni, nak jingok sapo disini?”
“Alah kau ni.”
“Koh, kalu dak karna anak kito, aku dak nak jingok kokoh. Eh, ado dio disini. Jadi gitu, Koh?”
Si lelaki diam.
“Sudahlah, Koh. Kalo memang nak samo dio ni, cerai kito dulu. Uruslah dulu. Jangan digantung cak ini.”
“Iyo. Iyo,” suara mengiyakan secara males terdengar.
“Capek badanku Koh ngurus anak kito. Kemaren dio sakit, ado Kokoh jingok? Idak. Idak, Koh.”
“Iyo. Aku lah tau.”
“Anak kito kemaren juara di sekolah, Koh. Kokoh idak tau jugo kan?”
Hening.
“Jadi sudahlah, Koh. Kalau lah memang nak samo dio ni. Atur, urus dulu cerai kito. Biar samo-samo lemak kito ni.”
“Iyolah. Iyo.”
“Kamu jugo. Tahu kan kalau Kokoh ini lah bebini?”
Hening (lagi).
“Ah, sudah. Pegi galo. Pegi,” usir lelaki yang sedang tidak bisa apa-apa itu.
Kedua wanita itu pergi. Benar-benar berlalu di depan mata saya. Meninggalkan sisa kehebohan yang bikin saya nggak jadi tidur siang itu. Sorenya, saya ngobrol dengan penunggunya, dan baru tahu kalau si Kokoh ini adalah Tauke karet, sebuah profesi yang jamak di Palembang dan sekitarnya. Pantas saja dia kaya, dan pantas saya dia kemudian ngelaba. Entahlah, itu urusan dia juga. Masalahnya, kenapa dia ribut-ribut rumah tangga ketika dia satu ruangan dengan saya?
Waktu beranjak sore, ketika saya hendak tidur sore, dan kemudian sang istri datang lagi.
*buru-buru pingsan*
NB: mohon maaf kalau Bahasa Palembangnya sudah kacau, maklum kejadiannya sudah lama. Ehehehe. Sudah lama juga nggak ke Palembang. Heuheuheu.
Forum Diskusi KKMK: How To Sell Yourself
Jadi begini, sejak pindah ke Jakarta saya memang agak kehilangan sesuatu yang bernama komunitas berbau agama. Sesuatu yang kalau di Cikarang bisa saya peroleh bahkan hanya dari 1 bidang pelayanan saja. Saya mencoba-coba stalking dan mencicipi beberapa komunitas tapi, mboh ki, belum ada yang cukup menyamai 1 bidang itu.
Nah, seperti pernah saya bilang di aneka kegiatan pribadi #KelilingKAJ, bahwa sebenarnya di Jakarta itu enak bagi orang Katolik untuk beribadah dan berkomunitas karena dalam radius yang terhitung dekat, rumah ibadah bisa diakses dengan cepat, dan, ya walaupun macetos hore. Dalam prinsip itu, kemudian saya stalking sebuah komunitas bernama Komunitas Karyawan Muda Katolik alias KKMK Keuskupan Agung Jakarta. Kebetulan ada event begitu di laman FB-nya.


