Liburan Asik Dengan Laptop ASUS

liburan asik dengan laptop asus

Bagi blogger KW dan esais tempo-tempo seperti saya, liburan merupakan sesuatu yang berharga. Pertama, karena saya bisa menghilangkan bosan-aku-oleh-penat yang kalau dibiarkan bisa menciptakan pecahkan-saja-gelasnya-biar-ramai-biar-mengaduh-sampai-gaduh. Kedua, pada saat perjalanan liburan, saya sangat menikmati untuk menjadi pengamat yang rajin. Tidak jarang, tulisan-tulisan hasil melamun selama perjalanan itu malah yang masuk dan dimuat di media-media seperti Mojok, Voxpop, hingga Detik.

Intinya, sih, dengan liburan, biaya liburan saya ada balik modalnya juga, walau sedikit~

Nah, persoalannya sekarang adalah saya bukan lagi lajang membusuk belaka seperti sekian tahun lalu hingga begitu rajin menelurkan cerpen disini, saking nggak ada yang di-PDKT. Saya sekarang merangkap juga sebagai Bapak Millennial alias kaum milenial yang jadi bapak-bapak. Apalagi, anak saya yang (masih) satu itu lagi lucu-lucunya.

Alias, lagi butuh-butuhnya diawasi. Soalnya, kalau tidak diawasi bisa jadi begini:

Untitled design (6).png

Sekarang, intensitas saya untuk menulis sembari liburan jadi agak berkurang salah satunya ya karena uang berliburnya yang juga kurang. Selain faktor waktu karena harus mengawal pergerakan si bayi yang semakin gesit, faktor lainnya adalah barang bawaan yang bertambah banyak. Bapak-bapak dan emak-emak sekalian pasti paham bahwa kalau berpergian jauh dengan bayi, okupansi koper paling banyak ya buat bayinya. Bapaknya mah apalah~

Satu lagi, kalau saya paksakan bawa laptop, seringkali malah menjadi risiko tersendiri mengingat kawalan pada barang bawaan tidak seketat pas lajang merana yang betul-betul hanya ransel sebiji. Bisa jadi hilang dari pandangan, bisa jadi ketlingsut, bisa jadi juga remuk ketindih aneka rupa barang lain karena lupa dipisahkan bahwa di tas itu ada laptop.

Jadilah, liburan saya yang biasanya langsung menjelma jadi blogpost seperti cerita Loser Trip atau Cisantana, sekarang jadinya latepost bahkan late-nya bisa setahun seperti serial Lost in Bangka.

Hasil gambar untuk ckckck gif

Soal itu sih masih bisa disiasati dengan ponsel yang makin lama makin canggih. Kadangkala, hidup manusia bisa mendadak rumit dan butuh laptop alih-alih ponsel belaka. Seperti yang saya alami ketika lagi liburan di rumah orangtua nun jauh di Bukittinggi sana.

Syahdan, pada sore hari cuti nan syahdu sembari menggendong anak lanang, telepon genggam saya berbunyi. Nomor yang tidak disimpan, tapi tidak asing. Karena berasa tidak asing, sayapun mengangkatnya.

“Halo, Arie.”

Suara di kejauhan itu betul-betul tidak asing. Yha, Ini yang lagi menelepon adalah salah satu Pejabat Eselon I di kantor tempat saya bekerja. Sebagai staf level pupuk bawang, telepon langsung dari Eselon I itu sungguh-sungguh perintah yang melewati jenjang yang sangat jauh.

Hasil gambar untuk wow gif

Memang, sejak tulisan saya tentang sebuah obat sariawan cukup viral, terakhir eks editornya bilang view-nya sudah tembus 100 ribu, nama saya agak diingat di kantor. Walhasil, ketika kemudian sedang ada isu-isu yang digoreng sedemikan rupa oleh orang yang hobi gelut, saya suka sedikit-sedikit ikut bikin rame dengan esai saya. Kadang jadi rame, kadang nggak. Namanya juga media sosial. Suka-suka netizen, toh?

Namanya menulis esai yang kandungannya berat, tapi harus agak lucu dan ‘milenial’ bagi saya masih agak sulit kalau tidak pakai laptop. Wong, pakai laptop saja tetap sulit. Untungnya itu di rumah, jadi saya bisa pinjam laptop Mbahnya anak lanang.

Bagaimana kalau saya lagi di Pulau Kei, misalnya? Mau pinjam laptopnya ubur-ubur?

Gambar terkait

Untuk itulah, sesungguhnya saya butuh solusi. Setidaknya, saya perlu laptop yang compact, enteng tapi kuat, plus juga tahan banting minimal dari senggolan ringan anak lanang. Termasuk juga punya baterai yang kuat dan tahan lama, jaga-jaga mikir tulisannya lama, seperti kisah esai saya di atas yang kemudian selesai dalam waktu…

…5 jam. Heu.

Untunglah kini ada kekuatan paling mutakhir berupa laptop ASUS Zenbook UX391UA. Menilik spesifikasinya, sungguh sangat cocok dengan Bapak Millennial seperti saya. Tsah.

Sesuai namanya yang ZenBook S, laptop ini betul-betul S alias Slim. Beratnya hanya 1 kilogram. Tebalnya? Tidak sampai 1,3 cm. Benar-benar bisa nyelip diantara diapers anak lanang, kan? Toh, 1 kilogram dalam bawaan Bapak Millennial boleh dibilang nggak ada apa-apanya. Continue reading

Advertisements

Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Stalking adalah kegiatan yang tidak direkomendasikan bagi pecinta diam-diam. Stalking hanya akan menghanyutkan perasaan cinta jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dan penyebab yang paling utama adalah karena stalking tidak dapat mengubah apapun.

Teori stalking di atas adalah kesimpulanku untuk kegiatan yang kini sedang kulakukan sendiri. Yah, aku tahu stalking itu tidak baik, tapi akan halnya merokok, tidak stalking bisa membuatku gila.

Enam tahun, dan akan terus bertambah, aku diam dalam cinta diam-diam. Sebuah perasaan cinta yang berkembang menjadi tak menentu seiring berjalannya waktu. Pertahananku pada cinta diam-diam ini semata-mata perkara rasa. Aku sudah tiga kali berpacaran dalam periode enam tahun itu. Aku sudah mencoba menghilangkan rasa yang ada, namun sia-sia.

Laptopku masih menyala, tapi pandanganku lantas menerawang. Aku mulai berpikir soal kemungkinan-kemungkinan. Ah, untuk apa pula aku berpikir soal kemungkinan untuk sesuatu yang sudah berlalu? Tapi naluriku tidak bisa dibohongi oleh logika. Kadang-kadang itu terjadi juga. Nyatanya, kini aku semakin tenggelam dalam pengandaian dan kemungkinan. Perlahan, aku mulai menikmatinya.

Jemariku berhenti menarikan kursor di linimasa. Kursor kini mengarah ke folder foto. Kubuka folder dengan nama yang tersamar. Bagaimanapun laptopku bisa diakses oleh orang-orang yang bergantian memainkan Pro Evolution Soccer (PES) di kamarku. Folder dengan deretan angka yang sukar dimengerti, 111701038788. Siapa pula yang hendak iseng membuka folder bernama absurd ini?

Folder terbuka dan terhampar deretan foto dengan tokoh yang sama persis dengan yang terbuka di linimasaku. Yah, inilah gadis yang menjadi korban stalking-ku, inilah gadis yang menjadi cinta diam-diamku.

Foto itu bercerita banyak hal. Aku menyimpan foto itu sejak pertama kali aku mengenalnya. Dari deretan foto itu pula aku bisa melihat perubahan fisiknya selama 6 tahun terakhir. Satu hal yang pasti, ia bertambah cantik.

Pikiranku makin kacau setelah melihat rangkaian foto itu. Gerak tubuhku berubah acak. Jari-jariku menari entah kemana. Aku berusaha mengontrol diri dan berhasil. Kualihkan pandangku sejenak dari layar laptop menuju telepon genggamku.

“Saranku sih jangan, bang. Dia bukan tipe orang yang pacaran dengan teman.”

Sebuah pesan singkat dari adikku. Pesan singkat yang kemudian membunuh mimpiku perlahan-lahan. Pesan singkat yang menimbulkan timbunan penyesalan. Aku percaya benar pada adikku soal ini karena ia adalah teman akrab pemilik rangkaian foto yang sedang terhampar di layar laptopku.

Teman. Sebuah kata yang ternyata mampu menghabisi mimpi yang indah. Anganku berlari ke masa lalu, ketika aku mulai mendekati gadis ini. Sebuah pendekatan yang tidak biasa, karena arahnya kemudian berubah. Aku dan dia tidak menjadi sepasang kekasih, tidak pula menjadi mantan. Aku dan dia menjadi teman yang akrab. Cukup akrab untuk saling berbagi canda hingga berbagi masalah. Cukup akrab untuk saling bertukar visi tentang masa depan. Cukup akrab untuk sekadar berbagi sisi sentimental.

Satu kata itu, teman, benar-benar membunuhku. Aku merasa sangat nyaman di dekatnya sehingga aku tidak berani bertindak lebih lanjut. Aku sudah membayangkan kedekatanku dengannya akan musnah ketika aku mulai mendekatinya untuk dijadikan pacar. Aku sudah membayangkan rasanya memiliki hari-hari tanpa bertukar pikiran dengannya. Itu mungkin serasa neraka buatku. Maka aku memilih untuk tetap menjadi teman dan menahan rasa cinta yang membuncah dalam dada sekaligus mengolahnya menjadi cinta diam-diam.

“Coba dulu tak tembak aja,” gumamku sambil memandang kembali layar laptop.

Ketika otakku sudah berpikir tentang ini, maka diksi yang pasti muncul adalah ‘Coba dulu’ disertai lanjutannya. Yah, aku sering berpikir bahwa aku sudah bertindak keliru sejak awal. Aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya. Aku mendekatinya dalam upaya mencari cintanya juga, tapi kemudian aku memutuskan untuk berteman akrab saja dengannya. Sebuah pilihan yang membuatku segila sekarang.

sumber: transgriot.blogspot.com

Coba dulu aku tembak saja gadis manis itu. Aku mungkin akan ditolak pada kesempatan pertama. Bagiku itu tampak lebih mudah karena aku pasti hanya butuh 1-2 bulan untuk kemudian berpaling ke target lainnya. Atau mungkin aku sudah nyaman dengan dia sebagai kekasih hatiku tanpa perlu memendam cinta dalam kadar tertinggi ini. Atau bisa juga aku dan dia berpacaran lalu putus, itu juga mungkin akan lebih baik karena solusinya hanya move on.

Sekarang? Bagaimana mungkin aku akan move on ketika aku bahkan tidak bergerak sama sekali, sejak 6 tahun yang lalu? Aku masih disini, diam, melihat, mencintai, dan terus menerus seperti itu. Seandainya dulu aku bisa lebih nekat, pasti aku tidak disini sekarang. Ah, tapi mana bisa? Ini kan soal cinta, sesuatu yang perlu usaha lebih untuk dimengerti.

Seandainya juga dulu aku tidak melanjutkan pertemananku lebih intens, mungkin aku juga tidak akan segalau ini. Aku punya banyak teman, tapi hanya sedikit yang mengetahui sisi sentimentilku dan sebaliknya. Seandainya juga aku tidak memperkenalkan orang tuaku padanya dan sebaliknya. Seandainya pula kedekatan kami tidak sampai pada level berbagi masalah. Ah!

Semua kedekatan itu membuatku semakin mengenalnya. Seluruh intensitas itu mampu menancapkan citranya di hatiku. Dan kombinasi kedekatan itu, parahnya, membuatku semakin jatuh cinta padanya. Pada akhirnya, membuatku semakin tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih untuk berbuat berbeda. Aku tidak akan diam memendam rasa yang sama hingga bertahun lamanya. Aku akan mendekatinya perlahan, mencari celah di hatinya, mengungkap rasa, dan menikmati keputusannya.

Jika aku diterima, maka aku akan menjadi kekasih hatinya dan akan selalu membahagiakannya. Jika lantas di kemudian hari tidak ada kecocokan, maka aku akan melepasnya dengan bangga karena aku pernah punya mantan yang loveable. Jika kemudian aku ditolak, maka aku dengan pasti akan beralih mencari cinta yang lain.

Kalau aku bisa memutar waktu, aku hanya akan membuat satu perbedaan dalam hidupku. Satu hal kecil saja, aku hanya perlu mengungkapkan perasaanku padanya sebelum semuanya terlambat.

Kalau saja aku bisa membuat masa itu kembali lagi, aku piker hidupku akan jauh lebih baik dari ini. Hidupku tidak akan lekat dengan stalking di linimasa, tidak akan diam di hamparan foto dalam folder dengan nama tersembunyi, juga tidak akan mati dalam rasa yang tidak terungkapkan.

Perlahan pengandaian ini ikut membunuhku. Yah, semua sudah terjadi dan aku tidak bisa memutar waktu. Aku harus hidup dengan jalan ini. Dengan memendam cinta yang terungkap. Bukan untuk sebuah pernyataan “entah sampai kapan”, tapi untuk “selama-lamanya”.

Aku terdiam menatap lekat foto di layar laptop. Perlahan dua bulir air mata mengintip dari rongga dan bergegas turun. Cinta diam-diam adalah tataran tertinggi dalam mencintai, sekaligus paling menyakitkan.