Asa Pada Sebuah Masa

“Gue tuh kadang iri sama lu, Win,” ujar Vienna sembari membenahi posisi duduknya. Matanya masih menerawang ke gate 3 yang belum juga menampilkan tulisan Y6-584.

“Kenapa?” tanya Windy, sambil tetap asyik pada tablet yang dipegangnya.

“Lu sama Hotman itu udah beda agama, beda suku, bisa-bisanya nikah. Lha gue?”

“Hahaha, udah gue duga. Pasti iri hati lu nggak jauh-jauh dari itu.”

“Ya iyalah. Apa lagi yang bisa gue iriin ke lu.”

“Dasar. Udah ngiri, songong juga.”

“Hahaha, ya begitulah Win. Hidup ini kadang abstrak. Giliran ada yang seiman dan sesuku, eh tukang tipu, nikung gue gitu. Giliran ada yang baik, perhatian, sabar, dan lainnya yang baik-baik, plus seiman juga, eh beda suku. Gagal maning, gagal maning.”

“Gue nggak ngerti kondisi sebenarnya, Vi. Tapi gini, lu pernah bilang kalau keluarga lu bahagia, otomatis lu juga bahagia. Right?”

“Betul sekali.”

“Lu juga kerja kayak begini, proyek ke proyek, buat bahagiain keluarga lu kan?”

“Betul juga. Kenapa sih?”

“Kalau lu mengeluh kayak barusan tadi, lu pake standar ganda dong. Kalau keluarga lu udah bilang harus seiman dan sesuku, brarti cuma syarat itu yang bikin mereka bahagia. Otomatis, cuma syarat itu yang harusnya bikin lu bahagia. Iya kan?”

Pandangan Vienna menerawang jauh ke landasan, sebuah pesawat berwarna putih dengan nuansa biru tua tampak mendarat. Ah, berarti tak lama lagi ia akan meninggalkan ruang tunggu ini.

“Iya kali, Win. Ah, entah. Bingung saya.”

“Kalau bingung pegangan, Vi. Susah bener.”

sumber: 143loveu.blogspot.com

* * *

“Lu pulang ama sapa, Vi? Bareng gue?” tanya Windy sambil menarik dan mendorong troli, sebuah aktivitas biasa kala menanti conveyor bagasi bergerak.

“Dijemput.”

“Ada gitu cowok yang jemput lu?”

“Sial. Ada lah.”

“Hmm, bentar-bentar.. Gue tebak. Paling juga Juna. Iya kan?”

Vienna terdiam, matanya sibuk memandangi BB yang nongkrong manis di tangannya.

“Iya kan, Vi? Hayo. Kapan coba gue salah nebak? Haha..”

“Iya.. Iya.. Juna yang jemput.”

Windy memiringkan badannya ke arah Vienna sambil setengah berbisik, “Emang lu masih sama dia?”

“Nggak lah. Begitu Mama bilang nggak boleh, ya langsung gue putusin.”

“Anak baik.”

“Baik apa coba?”

“Ya itu patuh pada orang tua. Hmmm, cuma kok begini ya?”

“Begini kenapa sih, Win?”

“Ya, lu pulang dinas begini, yang jemput Juna juga. Ehm, jangan-jangan lu masih berharap sama hubungan lu dengan Juna ya?”

“Entahlah. Gue sendiri juga bingung.”

“Windy Kepowati terpaksa beraksi nih. Dalam terawangan kepo gue, lu pasti masih membayangkan bakal nikah sama Juna, punya anak, terus sampai kakek-nenek bersama. Iya kan?” berondong Windy dengan kencangnya.

“Iyaaaaaa…”

“Vi, gue bilang nih ya. Gimana caranya lu mau menjadikannya masa lalu, kalau lu aja masih membayangkan masa depan sama Juna?”

“Tapi gue nggak bisa, Win.”

“Terserah sih, gue bilang tadi. Standar kebahagiaan lu jangan ganda. Pilih salah satu. Kalau nggak, lu bakal terjebak. Mau bikin bahagia diri sendiri apa keluarga lu. Percaya ama gue. Gue sama Hotman juga nggak mudah kali, Vi. Mana ada cerita beda agama, beda suku, diizinkan dengan begitu mudah?”

“Ya. Eh, itu tas lu udah nongol.”

sumber: beaut.ie

Windy dan Vienna sibuk mengangkat tas-tas besar mereka yang dibawa dari Padang tadi. Keduanya bekerja di lembaga yang menjadi rekanan proyek pemerintah. Jadilah, mereka lari-lari dari satu kota ke kota lain untuk meninjau lokasi, memberi konsultansi, hingga membuatkan rekomendasi terkait proyek yang hendak dilakoni. Sebuah pekerjaan yang menguras energi pastinya.

“Tuh, suami lu udah nangkring. Udah dari dua abad yang lalu kayaknya,” kata Vienna sambil menunjuk sosok bertopi di pintu kedatangan.

“Arjuna lu mana, Vi?”

“Entah.”

Keduanya mendorong troli hingga ke area luar kedatangan. Hotman menyambut istri tercintanya dengan pelukan hangat. Vienna mendadak dingin, seandainya ada yang berlaku demikian padanya.

“Pulang sama siapa, Vi?” tanya Hotman dengan ramah.

“Dijemput Arjuna-nya, sayang,” kata Windy menjawab pertanyaan suaminya sendiri.

“Lho, Juna mana?”

Vienna masih terdiam. BB-nya masih sunyi dari tadi. Pesan “Aku udah sampe” yang dikirimnya via Whatsapp masih berupa 1 centang hijau, dan kini ia ada di area terbuka lebar. Termasuk terbuka lebar untuk didekati orang dan ditanya, “Taksi? Mau kemana? Sama saya saja.”

“Nggak tahu nih,” jawab Vienna lemas.

“Ya ditelpon lah, Vi. Kayak orang susah aja,” ujar Windy.

Windy tentu tahu kalau soal pulsa, Vienna pasti punya banyak. Vienna hanya tidak ingin menelepon Juna, tapi anehnya tetap mengiyakan tawaran jemputan dari Juna. Bahwa satu-satunya obstruksi manis terhadap logika di dunia ini memang cinta.

“Gue tungguin aja deh. Kalau mau pulang nggak apa-apa. Duluan aja. Gue mampir ke A&W dulu. Laper cuy.”

“Oke deh, beneran ya, Vi? Gue tinggal?”

“Iya. Udah sana, silahkan honeymoon. Minggu depan kita berangkat ke Gunungsitoli loh.”

“Iya neh. Kapan gue jadi istri yang bener yak?” kata Windy sambil garuk-garuk, disambut senyum simpul Hotman.

Windy dan Hotman kemudian berjalan ke arah parkiran, sementara Vienna melajukan trolinya ke arah A&W. Mungkin rootbeer bisa sedikit membantu perasaannya yang mendadak aneh semenjak Mama menolak hubungannya dengan Juna.

Vienna terjebak dalam logika kebahagiaan yang aneh. Sejak lama, setiap kali melihat orang tuanya bahagia, Vienna otomatis merasa bahagia. Kini, orang tuanya tidak setuju pada hubungannya dengan Arjuna, padahal Vienna merasa bahagia bersamanya. Lantas apa makna kebahagiaan kalau begini?

Handphone Vienna bergetar. Sebuah pesan Whatsapp.

Dimana?

A&W. Km dmna?

Oh. Oke. Aku ksana.

Vienna meletakkan handphone-nya dan kemudian asyik dengan fish fillet plus root beer yang ada di depan matanya.

“Hey, cantik. Udah lama?”

“Udah dua minggu. Telat kamu.”

“Eh, kamu telat dua minggu?”

“Heh?”

“Lha katanya, telat. Dua minggu. Jangan-jangan kamu…”

“Udah ah. Geje kamu.”

“Hahaha.. Sorry telat, Vi. Maklum, baru bisa nyetir. Jadi pelan-pelan.”

“Kamu bawa mobil, Jun? Emang punya mobil?”

“Makanya, kalau aku whatsapp itu diladeni. Ini dicuekin melulu. Tiga bulan habis kita putus, banyak hal terjadi, Vi. Hmm, dan entahlah, kata banyak orang ini kesuksesan. Tapi buat aku, ini baru dibilang sukses kalau bisa membawaku balik lagi sama kamu.”

“Apa coba? Geje nih.”

“Jiah, masih aja dibilang geje.”

“Kan kamu geje keturunan.”

“Halah, aku geje juga sejak dekat kamu.”

“Oh, saia induktor geje memang. Siapa yang dekat-dekat, maka bakat geje-nya akan keluar.”

“Heleh. Obrolan apa nih? Nggak jelas. Tapi, ehm, I really miss this conversation. Kamu, Vi?”

“Ya, kadang. Tapi udahlah. Nggak penting juga to?”

“Huuu, jadi nggak boleh berharap nih?”

“Berharap boleh, tapi yang realistis sajalah.”

“Ya, baiklah. Ngomong-ngomong, ini aku boleh duduk nggak nih?”

“Yang nyuruh berdiri dari tadi siapa?”

* * *

“Win, nih,” bisik Vienna sambil mendatangi kubikel Windy dan menyerahkan sebuah bungkusan.

“Apaan?”

“Kira-kira apa?”

Windy dengan bakat kepo-nya tidak bisa menahan diri untuk membuka bungkusan yang diberikan Vienna. Dan matanya mendadak mendelik melihat isinya.

sumber: jamesarekion.blogspot.com

Are you sure?

“Ini undangan mahal, Neng. Kalau gue nggak sure, nggak mungkin gue cetak. Pake nanya.”

“Tapi, bagaimana bisa?”

* * *

Ibukota memang paralel dengan macet dan tentunya paralel dengan ongkos. Tapi Vienna nggak pernah resah meski argo di taksi burung biru itu sudah menunjuk bilangan enam digit. Ia pakai voucher taksi, dan itu urusan kantor. Bagi Vienna, yang penting dia bisa pulang ke rumah dengan tenang. Ongkos ini tentunya setimpal dengan yang dia berikan untuk tempat kerjanya.

“Depan kiri, Pak. Yang cat hijau.”

“Ya, Mbak.”

Vienna turun dari taksi dan berjalan menuju gerbang rumahnya, sebelum kemudian langkahnya terhenti pada sebuah mobil yang terparkir manis di depan rumahnya.

Mobil yang sama dengan yang mengantarnya pulang dua minggu yang lalu. Mobil milik Arjuna.

“Ngapain Juna kesini?” gumam Vienna, setengah geram, tapi separuh senang.

Vienna kemudian berjalan perlahan ke dalam rumah, dan berhenti di pintu yang terbuka, tercekat disana, urung untuk masuk.

sumber: photocase.com

“Jadi Tante, saya mungkin memang nggak satu suku dengan keluarga Tante. Dan mungkin Tante nggak bisa terima kalau anak Tante berhubungan dengan saya.” Suara dari dalam terdengar sangat familiar, ah, siapa lagi, pasti Juna.

“Dasar nekat,” gerutu Vienna.

“Tapi, saya mencintai Vienna.”

“Apa cinta itu cukup?”

“Mama? Waduh, Juna nekat bener, sumpah,” gumam Vienna lagi.

“Buat saya cukup, Tante. Tiga bulan yang lalu waktu Vienna memutuskan berpisah dengan saya karena katanya Tante nggak setuju dengan hubungan kami, saya berpikir tentang banyak hal. Saya pikir, Tante pasti akan bisa menerima saya kalau saya ‘sukses’, apapun suku saya,” beber Juna sambil kedua tangannya membentuk tanda kutip.

“Maksudnya?”

“Tiga bulan itu saya berusaha lebih, Tante. Saya nggak tahu arti sukses, tapi saya mengartikan sukses itu jika bisa bersatu kembali dengan Vienna. Harta memang bukan yang utama, tapi dengan harapan bisa kembali pada Vienna, saya bisa beli rumah dan mobil. Ya, walaupun kecil-kecilan.”

“Hidup kan bukan hanya soal harta. Memangnya kamu ngapain kok tiga bulan bisa begitu?”

“Entah kebetulan atau tidak, naskah-naskah saya yang masuk ke penerbit diterima. Umumnya sih naskah novel, Tante. Dan kebanyakan terinspirasi dari hubungan saya dengan Vienna. Entah kebetulan atau tidak juga, buku-buku itu laku. Saya juga sudah dapat tawaran untuk mem-film-kan buku itu.”

“Lalu?”

“Saya juga tetap bekerja, Tante. Entah kebetulan atau tidak juga, saya dapat promosi, persis sesudah putus dari Vienna,” terang Juna, “Ya satu hal yang nggak bisa saya penuhi, saya memang nggak satu suku dengan Tante dan keluarga.”

“Gila! Bocah nekat,” gumam Vienna yang mencermati pembicaraan ‘orang dewasa’ itu dari luar.

“Jadi bagaimana, Tante? Bisakah saya kembali mencintai Vienna?”

Vienna makin terperangah mendengar suara dari dalam. Dia sudah hendak melangkah ke dalam dan membungkam mulut pria itu, sebelum kemudian mendengar Mama-nya bicara.

“Buktikan sama Tante. Jangan sekali-kali kamu buat Vienna sedih.”

“Siap, Tante. Terima kasih banyak.”

Vienna bingung dengan maksud pernyataan yang barusan dia dengar. Langkahnya tak tertahankan lagi untuk masuk.

“Permisi…”

“Vi?” tanya Juna dengan wajah serba salah. Vienna selalu mewanti-wanti Juna untuk tidak datang ke rumah.

* * *

“Silahkan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepaktan kalian di hadapan Allah dan GerejaNya.”

sumber: photo.net

“Saya, Arjuna Abhiseka, memilih engkau Vienna Nilamsari menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Saya, Vienna Nilamsari, memilih engkau Arjuna Abhiseka, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Semoga Tuhan memperteguh janji yang sudah kalian nyatakan dan berkenan melimpahkan berkatNya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia.”

* * *

“Selamat ya, sayang,” seru Windy dengan sumringah ketika menyalami Vienna dan Juna di pelaminan.

“Makasih ya.”

“Jadi ternyata benar dia masa depan lu ya?” bisik Windy sambil memeluk Vienna.

“Yup. Selalu ada asa untuk setiap masa, Win. Dan yang di sebelah ini, asa gue untuk masa depan. Thanks a lot ya.”

“Nikmati indahnya, Vi.”

“Heh, udah, yang antri banyak nih. Ntar di kantor aja pelukan lagi,” goda Hotman yang disambut gelak tawa Juna.

🙂

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s