Pembantaian yang diorkestrasi oleh Vitinha pada final Liga Champions 2024/2025 tampak seperti sebuah akhir era bagi Inter. Selepas dari kekalahan 5-0 tersebut, Simone Inzaghi keluar dari Inter. Padahal Inzaghi begitu dipuja karena berhasil mengantar Inter yang notabene berskuad aki-aki ke level yang pantas.
Tidak lama sesudah Inzaghi keluar, Inter merilis nama baru tapi lama sebagai pembesut skuad: Christian Eugen Chivu. Pelatih asal Rumania ini adalah bagian penting dari skuad legendaris treble 2010. Persoalannya, Chivu datang tanpa CV mentereng. Pengalamannya di kepelatihan papan atas hanya 13 pertandingan bersama Parma. Selebihnya, Chivu ada di tim junior Inter dengan prestasi tertinggi juara Primavera 21/22.
Musimnya Chivu juara itu sebenarnya Inter juga tidak di pucuk. Di klasemen regular, Inter ketinggalan jauh dari AS Roma. Namun kemudian Inter berjaya di Campionato Primavera Fase Finale 21/22 dengan cara yang tidak mulus-mulus benar. Di semifinal, mereka ketinggalan dari Cagliari 3-0 di babak pertama sebelum kemudian comeback 3-3 di waktu normal dan lantas menang. Di final lawan AS Roma, mereka juga ketinggalan di menit ke-70 sebelum kemudian menyamakan kedudukan dan berbalik unggul lewat gol Nikola Iliev. Di tim Chivu tersebut ada nama-nama seperti Cesare Casadei, Giovanni Fabbian, hingga Valentin Carboni.
Profil yang kebanting dengan Inzaghi ini kemudian membuat Chivu kerap disebut sebagai (((PELATIH PENJAS))). Boleh dibilang kebanting juga dengan AC Milan yang membawa kembali dark system dengan masuknya Max Allegri.
Awal yang Kandas
Tidak lama sesudah final Liga Champions, Inter melanjutkan musim ke ajang bergengsi FIFA Club World Cup (CWC) 2025 di Amerika Serikat. Dengan periode persiapan yang singkat, Inter tampil kurang greget di sana. Inter memang lolos ke 16 besar, namun menang “hanya” 2-1 dari Urawa Reds Diamonds dan bahkan imbang dengan Monterrey menjadi penanda bahwa Inter tidak akan lama. Benar saja, di 16 Besar, Inter kandas dari Fluminese dengan gol di menit 3 dan 90+3. Ke-penjas-an Chivu menjadi terang benderang.
Di awal musim 2025/2026 pun, Inter masih kurang performanya dengan kalah berturut-turut dari duo Zebra: Udinese dan Juventus. Untungnya Chivu segera bangkit dan mulai meraih kemenangan.
Menariknya, Inter di musim ini sangat rival-friendly. Inter kalah dari Juve 4-3, lalu Napoli 3-1, kemudian Milan 1-0 sebanyak 2 kali. Tapi ya sudah itu saja kalahnya. Dengan Udinese tadi berarti 5 kali kalah. Kebetulan pula musuh pada goyang semua. Baik Napoli, Juve, maupun Milan sering memperoleh hasil yang aneh-aneh sehingga kemudian Inter yang konsisten bisa melenggang sendirian.
DNA 2010 dan PR Besar di Eropa
Chivu, yang datang dengan keraguan publik setelah kegagalan transisi kepelatihan pasca-Inzaghi, akhirnya berhasil membungkam kritik dengan cara yang paling elegan: membawa pulang trofi Serie A ke-21 dan Coppa Italia ke-10 ke lemari piala Appiano Gentile. Boleh dibilang, Chivu memainkan peran ala final 2010: struktur sebelum improvisasi.
Inter memang masih di bawah Como dan AS Roma sampai pekan ke-37 dalam hal kebobolan. Interisti juga paham karena di 2025/2026 ini penampilan kiper utama, Yann Sommer, sering ngablu. Tapi ya dengan kiper ngablu saja bisa juara, lho. Penyerangan kemudian menjadi kunci. Selisih gol Inter hingga pekan ke-37 adalah 54. Selisih ini bahkan masih lebih tinggi daripada seluruh gol AC Milan sampei dengan pekan ke-37 (52).
Keberhasilan Chivu adalah kemenangan bagi sistem akademi Inter. Sebelum ke Parma, selama tujuh tahun Chivu memilih untuk tetap berada di balik layar, melatih tim U-17 hingga Primavera. Boleh dibilang, Chivu paham benar cara meningkatkan performa pemain muda sekaligus menggeber pemain tua seperti Henrikh Mkhitaryan yang umurnya tidak jauh dari dia. Jangan lupakan pula bahwa salah satu pembeda di musim ini adalah Pio Esposito yang masih 20 tahun.
Boleh dibilang juga, Chivu adalah salah satu aktor yang membuat Inter gagal juara tahun lalu. Sebagaimana diketahui, selisih poin dengan Napoli itu tipis sekali. Dalam petualangan menuju akhir musim, Inter dijamu Parma-nya Chivu dan sudah unggul 2-0 duluan. Parma kemudian membuat 2 gol yang menyamakan kedudukan dan mereduksi 3 poin Inter menjadi 1 saja. Poin yang rupanya krusial menjadi pembeda di akhir musim.
Meskipun merajai Italia, alergi Chivu terhadap tim-tim underdog di kompetisi internasional belum sepenuhnya hilang. Kekalahan di CWC terulang dalam skala berbeda di Liga Champions.
Tersingkirnya Inter oleh FK Bodø/Glimt adalah noda terbesar musim ini. Dua kali kalah di dua leg oleh tim yang kemudian dibabat oleh Sporting Lisbon tentu merupakan PR yang harus dikerjakan oleh Chivu. Belum lagi, Inter juga meraih hasil buruk kala bertemu rival lain di babak awal Liga Champions.
Kalau berharap belanja tentu sulit, tapi Inter sudah biasa dengan kemiskinan. Sekurang-kurangnya, Interisti tetap bisa percaya bahwa Inter berada di tangan yang sama level kualitasnya dengan Inzaghi serta tidak secerewet Antonio Conte dalam hal pembelian pemain.
Christian Chivu telah menjawab keraguan sebagai pelatih penjas dengan 2 trofi. Ia membawa Inter kembali ke jalur kejayaan domestik dengan memadukan disiplin gaya lama dan pemahaman mendalam tentang bakat muda. Meskipun kegagalan di CWC dan Liga Champions menunjukkan bahwa ia masih dalam proses belajar di panggung dunia, statusnya sebagai legenda baik sebagai pemain dan pelatih tak terbantahkan.
Chivu bukan lagi sekadar bek kiri dengan pelindung kepala tetapi arsitek yang membangun kembali kejayaan Inter Milan dari puing-puing kegagalan musim sebelumnya. Musim 2025/2026 hendaknya menjadi awal dari era baru Inter Milan sesuai fitrahnya yang tangguh, pragmatis, dan paling terpenting: juara.


