Kisah Lama Yang Terulang Lagi

“Bangggggg….”

Ethan menjauhkan handphone pintarnya dari telinganya. Suara melengking dari ujung telepon itu cukup mengganggu telinganya.

“Apaan sih, Ra?”

“Aku galau.”

“Galau kan nama tengahmu?”

“Buset dah. Beneran ini Bang!”

“Ya tinggal cerita, seperti biasanya, Ra. Kenapa kenapa? Come to papah.”

Kara mulai bercerita, panjang lebar. Ethan mendengarkan dengan saksama. Bukan sekali sih sebenarnya Ethan harus mendengar suara galau Kara bercerita panjang lebar. Dan Ethan selalu menjadi tempat yang nyaman bagi Kara untuk bercerita. Tahu sendiri lah, kalau cerita sama teman sesama cewek, 50% kemungkinan cerita itu akan bocor kemana-mana. Tapi kalau Kara bercerita ke Ethan, semuanya aman diam.

Tentunya dalam diam yang lain.

* * *

“Tuh kan kejadian lagi.”

Sebuah baris whatsapp Ethan meluncur ke whatsapp atas nama Karaniya Adinda.

“Kejadian apa bang? :(”

“Kamu terluka lagi.. Sakit lagi..”

“Ya begitu bang.. What can I do now? Capek aku luka begini terus.”

“Kamu perlu nyari yang ngerti kamu bener, Ra. Kamu itu cewek unik, buatku sih.”

“Unik kenapa, Bang???”

“Eh, nggak ding. Cewek semua unik kok. Hehe. *yang tadi batal*.”

“Eleuh si abang.”

“Haha.”

Dan messanger berwarna hijau itu diam lagi. Tidak ada getaran, tidak ada indikator hijau. Ethan hanya melihat last seen pada profil Karaniya Adinda. Eh, bahkan nggak pernah last seen, selalu online.

Ethan melihat, melihat dan melihat. Tanpa mengetik satu karakter pun.

* * *

“Bang, kok kisahku gini terus ya?” tanya Kara sambil memegangi botol milk tea yang sudah separuh kosong.

“Kayaknya memang cintamu itu rumit, Ra.”

“Rumit gimana Bang?”

“Ya mungkin kamu belum mengerti sesuatu?”

“Heh?”

“Ya mungkin kamu belum sadar kalau cintamu itu bukan dia. Siapa tahu.”

“Hmmmm…”

“Mungkin.. Ini mungkin loh. Ada suara lain yang sudah memanggil-manggil hati kamu dari dulu. Tapi kamu nggak denger,” ujar Ethan sambil memutar tutup botol root beer. Ia lalu menenggak tegukan terakhir dan melemparkan botol minuman bersoda itu ke tempat sampah di sebelah kursi taman.

“Jadi, aku harus ngapain Bang?”

“Cobalah lebih mendengar, Ra.”

“Abstrak Bang.”

“Coba dengar saja. Mungkin ada suara lara dari mana gitu, yang menyentuh laramu sekarang ini.”

“Nggak ngerti.”

“Nanti kamu pasti ngerti, Ra.”

“Okelah, ayo Bang, kita lanjut nyari buku lagi kalau gitu.”

Cobalah lebih mendengar, Kara. Ada suara hati yang memanggil kamu. Suara itu disini. Tidak jauh dari kamu.

Kutipan batin itu tidak pernah terungkap.

* * *

“Bang, sombong ah. Nggak pernah balas whatsapp sekarang. Ditelepon nggak diangkat.”

Sebuah pesan singkat dari Karaniya Adinda.

Ethan menutup kembali handphone-nya dan melempar benda mahal itu ke sudut tempat tidurnya. Suasana masih gelap, padahal pesan itu bertanggal 10 Agustus 2012 jam 14.25.

“Km dimana bang? Aku punya cerita ini. Kayaknya aku sudah bertemu yang kamu bilang bang. Seseorang yang abang bilang kemarin-kemarin. Cinta aku yang sebenarnya. Hehe. Senangnya. Bales ya Bang.”

Pesan singkat lagi, Kara lagi. Kali ini 14.42

Ethan memandang pesan itu singkat. Matanya semakin sayu. Badannya diputar ke kanan, arah tembok. Dalam remangnya kamar itu, Ethan menggores tembok dengan spidolnya.

“Dan kamu belum mendengar lara itu, Kara.”

Ethan beranjak. Dinyalakannya lampu kamar. Dan tampaklah isi kamar itu. Foto Karaniya Adinda dalam berbagai pose tertempel di seluruh dinding. Dan sebuah tulisan besar di tembok kanan tempat tidur.

“Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karena separuh aku, dirimu.”

Ruangan itu masih berduka atas sebuah kabar gembira. Ini hanya kisah lama, karena bukan kali ini saja Kara demikian. Dan bukan kali ini Ethan merasakannya. Bahkan seluruh luka Kara, sudah menggores luka yang lebih dalam bagi Ethan.

Ethan hanya menunggu, sampai Kara sadar, bahwa separuh Ethan, adalah Kara.

*sebuah interpretasi dari lagu NOAH yang berjudul Separuh Aku 🙂

Elegansi Sebuah Tindakan

How to manage issue?

Isu, apapun, besar-kecil, pastinya akan menjadi hal ihwal yang penting dan mendesak untuk diselesaikan. Kenapa? Sebuah isu itu akan menjadi bara yang memanaskan suasana.

Dan yang dibutuhkan untuk menangani isu itu adalah tindakan.

Nah, persoalannya adalah bagaimana bertindak elegan agar suatu isu tidak berkembang menjadi masalah, apalagi masalah besar.

Hal elegan alias cantik alias luwes dalam menyelesaikan masalah sebenarnya dimulai dari melihat fakta-fakta dan data-data secara komprehensif. Utamanya melihat seluruh data dalam definisinya masing-masing. Komprehensif juga setidaknya mengerti makna dari data-data yang terkandung.

Saya pernah punya bos dengan tindakan yang elegan, tentu juga pernah ngawur. *hehehe, sorry loh pak*

Jadi suatu kali, gudang itu penuh minta ampun. Sederhananya, miss plan. Nah ketika nilai inventori menggunung, dapur produksi belum maksimal, isunya adalah what to do? Ada yang langsung laporan ke atas, ada yang mencerna dulu masalahnya baru laporan.

Dan kejadian waktu itu, dua-duanya terjadi.

Saya ikutan mempersiapkan datanya siang dan malam, termasuk proyeksi bagaimana membuatnya normal dalam time phase 6 bulan. Tampak mustahil, tapi bukan bermakna nggak bisa.

Dengan bekal data itulah, lantas pakbos menghadap, menghadapi pertanyaan besar kenapa ini terjadi dan bagaimana ini dikelola. Saya pusing, dan saya yakin pakbos saya lebih pusing. Tapi tim kami bertindak dengan elegan. Maksud saya, mainnya cantik. Saya ingatnya menjadi semacam pertarungan data. Yang satu membahas dari sisi kekinian, yang satu dari perspektif masa depan. Dua-duanya saya padukan dalam satu report yang niscaya kemudian menjadi kelegaan terbesar saya dalam hidup.

Yah.. Elegansi, keluwesan, keindahan dalam bertindak menjadi kuncinya. Elegansi bukan ABS, alias Asal Bapak Senang. Elegansi adalah bertindak dengan manis, dengan janji yang oke tapi realistis, dan yang pasti bertindak atas dasar data yang jelas dan definisi yang pasti.

Akhirnya memang, Oktober, misi nyaris mustahil itu tercapai. Overload bisa turun. Saya ingat benar setiap hari berharap conditional formatting yang saya buat merah itu segera menjadi putih, pertanda kapasitas sudah oke. Setiap hari saya nggak lelah menarik data dan mencernanya.

Rong-rongan ada, jelas, tapi dengan basis data dan tindakan yang bermakna dari pakbos, meski tentu di sisi tertentu saya sebel dengan cara-cara ala manusia planning (ini kan jenis manusia paling dibenci di pabrik manapun.. huhuhuhu…), tapi hasilnya oke. Isu yang besar itu dikelola dan tidak menjadi lebih besar, tapi lantas diselesaikan dengan cara yang manis.

Saya tersenyum melihat angka 4 di BSC. Bagi saya itu awesome.

Nah, saya bukan mau menggurui siapapun dengan posting ini. Saya hanya berefleksi pada salah satu momen terburuk dan terindah saya dalam hidup. Terburuk karena itu momen saya pulang jam 11 malam dan datang lagi jam 7 pagi. Terburuk ketika saya setiap hari mimpinya bahan baku. Terburuk karena dering telepon itu ibarat lonceng kematian bagi saya.

Tapi terbaik ketika saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa. Ketika kemudian orang-orang tahu, siapa kami, siapa saya. Ketika semuanya lantas mengerti bahwa performa itu tidak berdasar sekadar bacot atau arogansi, tapi tindakan nyata yang membuahkan hasil yang jelas.

Nah, kalau masalah besar begitu.

Hari ini saya komunikasi dengan beberapa rekan lama, sedikit nostalgia keadaan. Yah, bahwa kadang saya dirindukan sebagai salah satu personil yang kompromistis. Bagi saya, bagian planning itu harus kompromi, itu pasti. Apapun yang kompromi dengan tujuan tercapainya pemenuhan forecast. Jadi aspek-aspek administrasi, kadang saya tuntaskan tanpa melewati pakbos, asal kadarnya sesuai. Itu cara saya. Dan syukurlah, kompromi itu kemudian menjadi perkara kecil yang tidak perlu raise issue sehingga lantas jadi heboh nggak penting. Toh sudah ada heboh besar ketika inventori menggunung, cukuplah. Nggak usah disertai kehebohan lain lagi, apalagi yang remeh.

Kenapa saya berani? Ya karena saya cukup tahu definisi. Artinya, dengan bekal yang saya tahu-walau sedikit-ya saya bisalah melakukan tindakan dengan luwes, tanpa perlu menjadikan ini isu dan kemudian masalah besar.

Misal nih, kalau cuma sekadar permintaan bahan baku untuk trial di produksi, apa iya harus ditolak? Trial itu kan kaitannya untuk proses, iya kan? Proses nanti bakalnya ngeluarin produk juga. Padahal inti dari seluruh bisnis, ya produk. So? Apa lagi? Kalau memang permintaan itu mengurangi stok signifikan, putar otak lagi. Kalau mau ya beli lagi. Gitu aja siklusnya.

Dan Pakbos saya baru tahu soal masalah itu, ketika ia approve permintaan pembelian yang saya buat.

“Ini buat apa?”

“Begini, begini, begini…”

Hanya 5 menit, dengan logika yang oke, dan report yang jelas (tentu include data), disetujuilah permintaan itu.

Begitulah.. Tidak semua isu akan berkembang menjadi masalah kalau dipadamkan segera. Tapi tindakan yang tidak elegan, justru akan menyulut bara api tadi jadi api beneran.

Dan kalau kemudian sudah jadi api, semua sudah kebakaran, mau bilang apa? Apalagi ketika kemudian dibuktikan bahwa seharusnya itu nggak jadi hal besar? Misal kita kepanasan di sauna, itu bukan bermakna di luar ruang sauna itu ada kebakaran kan? Logikanya sih begitu.

Hmmm, macam menggurui kali tulisan ini. Tapi ini beneran refleksi saja, hasil kenang mengenang hari ini. Sekali lagi, bahwa saya kemarin juga habis bikin masalah sendiri, sehingga lantas kehilangan. Kenapa? Ya karena saya mengelola isu yang kecil dengan cara yang salah, jadilah ia api yang besar dan hancur.

Refleksi pribadi saya, ditunjang hasil mengenang hari ini, dan disertai pengamatan. Begitulah, pada akhirnya, semua masalah tidak akan besar jika ditangani dengan cara yang elegan.

Sesederhana itu, tapi sulit banget. Mana saya baru 3 hari yang lalu bertindak tidak elegan. Huhuhuhuhu…

Nggak apa-apa, hidup itu belajar, jadi lebih baik 🙂

Semangat!

Teman Seperjalanan

Masih ingat lagunya Ratu, jaman dua emak-emak cakep itu masih akur?

Begini lagunya:
Aku punya teman (ah.. ah.. ah..)
Teman sepermainan (ah.. ah.. ah..)

Yang kalau direvisi menjadi:
Aku punya teman (uh.. uh.. uh..)
Teman seperjalanan (uh.. uh.. uh..)

Ya kira-kira begitu.

Soal teman seperjalanan ini memang paling mengundang ironi dalam hidup saya. KENAPA? Karena dari berbagai perjalanan yang saya lakoni, baik itu angkutan darat, air, dan udara, nyaris saya tidak pernah seperjalanan sama CEWEK CAKEP! Huhuhu, ini ratapan saya beneran loh.

Dimulai dari perjalanan dengan ALS tahun 1997, Bandung-Bukittinggi. Waktu itu, sekeluarga cuma pesan kursi 5, karena si Daniel masih mungil sehingga bisa masuk bagasi (lebayyy…). Nah, sebagai anak pertama, saya disuruh menduduki kursi ganjil itu. Jadi Bapak sama Mamak sama Dani. Si Beny sama si Cici. Dan saya? Dalam hati, di usia 10 tahun, saya sudah berharap akan bersebelahan dengan cewek cakep. Nyatanya? Emak-emak labil yang pergi seorang diri. Ampun dah.

Hmmm, berikutnya, lama kemudian saya baru berjalan-jalan sendirian lagi. Tahun 2004, ketika jadi orang unyu di bandara Soekarno Hatta karena baru pertama kali naik pesawat dalam keadaan sadar. Dulu pernah tahun 1989, tapi, apalah yang diingat bocah umur 2 tahun? Nggak ada.

Di Batavia Air Padang-Jakarta, lanjut Jakarta-Jogja, saya bersebelahan dengan keluarga yang curang. Lha jelas kursi saya di pinggir jendela, F. Eh, dia dudukin. Dan bodohnya, saya ikutin aja itu. Piye dong, namanya baru pertama kali.

Next, saya melakoni banyak perjalanan sendirian. Ada yang pakai Lodaya ke Bandung seorang diri, balik hari. Dan dua-duanya bersebelahan dengan MAS-MAS.

Dalam rangka pacaran Palembang-Jogja dulu, saya berkali-kali naik pesawat. Dan NGGAK PERNAH sebelahan sama CEWEK CAKEP sama sekali. Entah mungkin saya ini kurang doa atau bagaimana. Pernahnya, dengan MBAH-MBAH yang minta jatah kursi pinggir jendela. Yang bikin menderita kalau di pesawat adalah kalau di PINGGIR JENDELA dan bersebelahan dengan SEPASANG KEKASIH yang bermesraan dengan nikmat. Sumpah, mupeng tiada terkira itu.

Dan itu berlanjut, mulai saya naik Rosalia Indah, Lorena, Ramayana, Bejeu, sampai Muncul ya tetap aja sebelahan sama MAS-MAS. Saya naik Garuda, Lion, Mandala, Batavia, sampai (alm) Adam Air kalau nggak MAS-MAS, BAPAK-BAPAK, atau SEPASANG KEKASIH. Mau naik 121, AO, 122? Kadang malah banyak yang sebelahan *lha wong berdiri*

Jadi begitulah, Tuhan belum menghendaki saya sebelahan sama CEWEK CAKEP. Nggak apa-apa deh.

Dan satu-satunya pengalaman saya soal CEWEK CAKEP adalah waktu penerbangan Batavia dari Palembang ke Jakarta. Itu niatnya mau pacaran di Jogja, tapi dasar mata lelaki. DI SMB II uda liat-liatan sama cewek yang bawa boneka, saya bawa Candy. Sayang nggak sebelahan. Tapi waktu turun di Soekarno-Hatta, ngobrollah kita sedikit. Dannnn…. sayangnya dipisahkan di toilet oleh HIV si cewek tadi. Huffttt.. *lha ini kok malah nyesel ki piye*

Teman seperjalanan yang paling ribut itu pas naik Yoanda Prima, Palembang-Bukittinggi, seorang sales rokok bernama Febli. Sepanjang jalan cerito wae. Padahal kan saya ngantuk. Haduh. Jadi sampai rumah langsung tepar tiada terkira. Bayangkan saja 18 jam itu setengahnya dia cerita sementara saya hmmm.. hmmmm.. doang.

Semoga ke depannya bisa dikasih sekali-kali cewek cakep gitu. Hehehehe…

🙂

23 Tips “Mengubah” Jalan Cerita

Coba ngutip dari sini, dan agak menerjemahkan biar rada ngerti.

Kadang–dan saya lagi mengalami–fiksi yang dibuat itu rasanya kering. Entah apa lah masalahnya. Dan perlahan, saya menyerah atas outline-outline yang sebenarnya oke sih. *pede jaya dot com*

Nah, ada kisah-kisah yang bisa diselamatkan dengan mengubahnya. Caranya? Katanya writingforward.com sih begini:

Beri karakter TUJUAN YANG LAIN. Sebenarnya kan inti cerita itu adalah tujuan dari si karakter. Ada yang pengen pulang, mencari cinta, sampai menyelamatkan dunia. Nah, tambahkan rahasia, penyesalan, memori buruk atau motif lain yang memungkinkan tokoh melakukan sesuatu itu dengan lebih tajam.

PERDALAM PLOT. Banyak plot sebenarnya sederhana namun bisa dibuat menarik dengan membuat subplot atau plot lebih kaya dengan membuatnya kompleks seperti: tujuan tokoh adalah menyelamatkan seorang gadis, tapi apakah ia akan dapat sesuatu yang lain yang oke, kalau tidak menyelamatkan gadis itu.

Menambahkan KEHIDUPAN DALAM SETTING. Kadang nih, setting cerita itu semacam jadi latar saja. Misal, tempat apa gitu, dimana. Namun dengan memberikan setting tempat perhatian tersendiri, pasti ada kepribadian khusus dari tempat yang bisa dipakai.

MEMBUAT KONEKSI KARAKTER YANG BARU. Hubungan tentu menentukan plot dan konflik. Apa yang terjadi ketika dua karakter yang nyaris tidak kenal satu sama lain, lantas berbagi teman/musuh? Buat hubungan yang menarik antara seluruh karakter dalam cerita.

Buat TWIST. Beberapa plot kadang bisa ditebak dengan mudah. Nah, coba buat pembelokan dari yang normal itu.

REKA ULANG DESKRIPSI. Jangan ceritakan karakter kayak nulis di dinding. Perlihatkan dengan model misalnya, retakan, semut, atau apapun.

PERDALAM DIALOG. Apakah semua karakter berbicara dengan suara yang sama? Beri ekspresi yang berbeda. Ada yang mungkin mengatakan satu kata berulang-ulang di setiap percakapan atau sejenisnya.

DORONG KONFLIK. Terdapat alasan ketika tokoh tidak menjinakkan bom sampai 1 detik sebelum detonasi. Ya kira-kira seperti itu, dorong terus sampai dalam, sampai tampak tidak ada jalan keluar.

PERKUAT TEMA. Identifikasi lalu perkuat tema itu. Misal, jika mau mengisi tema PERJUANGAN, buat kadang tokohnya meneriakkan PERJUANGAN.

Ada karakter yang SIMPEL seperti POLA DASAR. Perkenalkan yang seperti ini, entah di karakter utama atau pendukung.

PIKIRKAN BAHWA KEJADIAN BLOCK itu juga terjadi di cerita lain, dan block itu bisa diatasi.

BERI CERITA MAKNA LEBIH DENGAN SIMBOL. Buat simbolisasi, seperti Mockingjay di Hunger Games. Dan cari objek yang penting yang bisa menjadi simbol seperti pena atau gambar lain.

KISAH DIBALIK KARAKTER. Tokoh pasti punya masa lalu sebelum cerita dimulai. Kalau buntu, ambil cerita dari situ dan buat hubungannya.

TAMBAH TENSI DAN INTRIK. Misal 1 tokoh pengen sesuatu yang dimiliki tokoh lain dan berupaya untuk mendapatkannya. Ya semacam inilah.

PERULANGAN UNTUK MEMPERKUAT. Perulangan sangat kuat untuk simbolisasi.

BUAT KOMPLIKASI KARAKTER. Ya buat karakter yang dalam dan penuh misteri.

MATIKAN KARAKTER PENTING. Sejujurnya saya nggak suka, tapi caranya Dee dalam mematikan Firas di Partikel juga boleh kok ditiru.

Buat PENGALIH PERHATIAN. Ini akan membingungkan pembaca dengan cara yang oke. Terutama di kisah MISTERI.

BIARKAN KARAKTER TERPENGARUH OLEH KEJADIAN YANG TERUNGKAP. Terungkapnya ya satu-satu perlahan-perlahan dan signifikan.

HUBUNGKAN PEMBACA DENGAN IRONI. Misal nih, kantor pemadam kebakaran, mengalami kebakaran. Ya semacam itulah.

MAINKAN  BAHASA dengan diksi yang menawan 🙂

ORANG BAIK -> BERBUAT JAHAT, ORANG JAHAT -> BERBUAT BAIK. Inilah dunia ketika tokoh jadi nyata. Pastilah kejadian.

BUAT VIEW YANG LEBIH LUAS. Jika ada cerita pembunuhan, bisa jadi karakter utama punya ketertarikan pada cinta. Beri pemandangan lain dari cerita, jika buat kisah cinta, kasih juga misteri gitu.
Jadi kira-kira begitu, semoga membantu (saya). Hehehehe…

Cerita Lama

pablo (1)

“Hai! Udah gede anaknya?”

“Iya nih. Masak kecil terus?”

“Hahaha, iya juga ya.”

Aha! Aku melihatmu, dengan anakmu. Ya, kamu, yang bertahun silam adalah cerita lamaku.

* * *

“Hey kamu, yang gemetar waktu mau jatuh. Siapa namanya?” tanyaku pada seorang gadis yang barusan kutangkap, persis di bagian pantatnya. Siapapun tahu, ketika jatuh dalam keadaan terlentang, sejatinya titik tumpu beban itu ya ada di pantat. So, bayangkan beban yang harus kutanggung dari permainan “Trust Me” ini.

“Ngece ya.”

“Haha, nggak kok. Alan. Kamu?”

“Nanda.”

“Oh, dari SMA mana?”

Dan percakapan berjalan selayaknya dua mahasiswa baru pertama kali berkenalan.

* * *

Nandani, Call.

Bukan mau telepon beneran, ini hanya missed call. Pulsa mahasiswa tidaklah cukup untuk telepon, apalagi beda provider.

Aku sudah bilang ke Nanda kalau akan membuat missed call jika aku sudah sampai di depan rumahnya. Setidaknya itu penanda, dan aku tidak harus mengetuk pintu rumahnya. Menurut pengalamanku sebelumnya, mengetuk pintu rumahnya adalah salah satu dari 10 hal sia-sia di dunia selain menegakkan benang basah.

Pintu di lantai dua itu kemudian terbuka.

“Udah lama?”

“Ya kira-kira dari dua abad yang lalu.”

“Ngaco kamu. Ya udah, tungguin.”

Tak lama, Nanda yang barusan keramas itu membuka pintu. Pakaiannya simpel, pakaian rumah. Ia menyambutku seperti biasa. Dan, seperti biasa juga, kami mengobrol banyak di teras lantai 2 rumahnya.

* * *

“Hey, Lan!”

“Apa?”

“Nanda bukan pacarmu po?”

“Bukan, emang kenapa?”

“Pantes, kemarin aku liat dia gandengan sama Doni.”

“Iya, dia pacaran sama Doni kali.”

“Lha itu kamu suka main ke rumahnya.”

“Emang teman nggak boleh main ke rumah temannya? Ada-ada aja ah kamu ini.”

“Oh, okelah kalau begitu,” kata Jane, mengakhiri pembicaraan.

Jane pergi, dan jantungku mendadak sesak. Nanda pacaran dengan Doni?

* * *

Yah, kukatakan dengan indah, dengan terluka, hatiku hampa. Sepertinya luka menghampirinya.

Segala yang terjadi antara aku dan Nanda tampaknya kuanggap berbeda. Ada beda bermakna antara pikiran Nanda dan pikiranku sendiri.

“Kau beri rasa, yang berbeda. Mungkin ku salah mengartikannya, yang kurasa cinta!” gumamku perih sambil melajukan sepeda motorku melewati rumah Nanda, untuk ke delapan kalinya dalam waktu 30 menit. Aku memang hanya mondar-mandir disana dari tadi.

“Tetapi hatiku, selalu meninggikanmu. Terlalu meninggikanmu,” desahku lagi. Ah, kenapa pula aku jadi begini.

Kuhentikan sepeda motorku persis di depan rumah Nanda. Ia sepertinya nggak ada, lantai 2 itu sepi. Berkali-kali kesini, aku paham penanda Nanda ada di rumah atau tidak.

Tapi mendadak perasaanku nggak enak. Maka kulajukan sepeda motorku perlahan.

“Kau hancurkan hatiku,” gerutuku pelan sekali.

Sebuah mobil kemudian masuk dan parkir di depan rumah Nanda. Yak benar, Nanda keluar digandeng oleh seorang lelaki, mungkin ini yang bernama Doni.

“Kau hancurkan lagi. Kau hancurkan hatimu tuk melihatmu.”

* * *

“Lan, mau makan apa? Sini tak masakin.”

“Baek bener kamu, Nda. Uda nggak usah repot.”

“Apa sih yang nggak buat kamu, Lan? Hahaha.”

“Cewek kok gombal.”

* * *

“Kau terangi jiwaku, redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu.”

Semuanya pedih, semuanya luka, tapi semuanya kukatakan dengan indah.

Aku melanjutkan perjalananku, pulang. Mungkin ini hanya serpihan jalan bagi hatiku untuk melihat sebuah luka dengan indah.

* * *

#cerpenpeterpan
Kukatakan Dengan Indah
@ariesadhar

-*-

Pernah?

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta?
Pastilah, pernah.

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta secara biasa,
sebuah jatuh cinta yang terjadi begitu saja,
bukan pada pandangan pertama,
bukan pada sebuah momen istimewa,
tapi pada sebuah perjalanan, yang sederhana.

Pernahkah kamu merasa bahwa dulu,
semua berjalan begitu biasa,
semua berjalan hanya sebagai peristiwa,
yang lantas bisa kita kenang dengan tertawa,
karena, ya, dulu memang hanya biasa.

Pernahkah kamu merasa bahwa cintamu ada di depan mata?
Ketika semuanya berjalan biasa dan sederhana,
perlahan menjelma menjadi istimewa,
perlahan menjelma menjadi cinta,
perlahan membentuk aku dan kamu.

Pernah kamu merasa bahwa harapmu akan cinta akan berhenti?
Pada suatu titik yang jelas,
yang siap menyambutmu dengan senyum,
yang sama dalam memandang masa depan,
yang sama dan impian.

Kamu pernah?

Aku sudah.

Dan itu,
jatuh cinta kepadamu.

Begitulah.

123 Bulan

Bis tampan warna hitam itu akhirnya sampai di Terminal Mangkang.

“Mangkang… Mangkang…”

Marlon menggeliat sejenak dari tidurnya dan sedetik kemudian sadar bahwa ia sudah sampai tujuan. Secepat kilat ia bangkit dari bangkunya dan bergegas turun dari pintu tengah.

Pagi sudah mewarnai Semarang. Tentunya panas. Ah, ternyata dimana-mana sama. Panasnya Semarang sama saja dengan kawasan industri yang hobi demo di sebelah sana, pikir Marlon. Mungkin Marlon lupa, di kota ini juga banyak kawasan industri. Jadi ya pantas kalau sama saja.

Ia melangkahkan kaki ke sisi terminal yang berisi bis-bis ke kota Semarang. Telepon genggamnya yang smart sudah tidak lagi smart karena kehabisan baterai. Jadi, ia menggunakan ponsel jadulnya, memencet beberapa angka yang tampaknya sudah dihafal.

“Halo..” Suara imut dari seorang anak kecil terdengar dari ujung sana.

* * *

“Mas, kita temenan udah lama lho. Nggak sayang tuh?” tanya Aira.

“Memangnya kenapa?” Marlon bertanya balik.

“Ya, simpel lah. Kita temenan udah lama banget. Malah yang keluarga kita udah kenal juga. Kamu kenal orang tuaku. Aku juga begitu. Dan itu kan sebagai teman, Mas. Dan kamu nggak sayang kalau itu semua hilang?”

“Itu malah salah satu bahan pemikiranku, makanya aku begini, Ai.”

“Mas, teman itu hubungan yang lebih abadi dari apapun. See? Kamu gundah sama yang dulu, cerita ke aku. Aku galau sepanjang waktu karena yang dulu juga, cerita ke kamu. Nggak ada yang lebih berharga dari itu lho Mas.”

“Hmmm, jadi sebenarnya?”

“Yah, kamu itu ya temanku, Mas. Mungkin malah lebih kayak Masku sendiri. Kamu tahu-lah kalau aku nggak punya sosok Mas yang bisa melindungiku. Dan aku dapat itu dari kamu.”

“Haha, tapi kalau adik cewek, aku udah punya, Ai.”

“Iya sih. Ya begitulah intinya.”

“Apa?”

“Ya, kamu itu Masku. Dan nggak mungkin buatku menerima kamu jadi pacarku, Mas. Biar berjalan seperti biasa aja yah.”

“Yah, kamu memang cewek berprinsip. Appreciate.”

“Nah itu kamu kan tahu prinsipku kayak apa. Masih nekat.”

“Siapa tahu, manusia berubah, Ai.”

“Kayaknya nggak sih. Hehehe.”

“Ya sudah. Aku hargai itu. Oya, selamat ulang tahun ya,” ujar Marlon sambil menyerahkan sebungkus kado.

Sebuah obrolan ringan di teras KFC Banyumanik, pada sebuah bulan muda, ketika senja menjelang.

* * *

“Ai, nggak nonton konser?” tanya Marlon ketika berpapasan dengan Ai di teras laboratorium Steril.

“Nggak dapat tiket, Mas.”

“Oh. Kehabisan ya?”

“Iyo.”

Aira berlalu, Marlon juga. Namanya aja berpapasan, jadi ya ngepas ketemu dengan kepentingan masing-masing. Marlon bergegas berjalan menuju tempat gladi bersih konser paduan suaranya, di hall kampus. Aira tampaknya hendak menuju lab lantai 4.

Sebuah pertemuan kadang hanya sekejap mata, di bulan belasan, masih menjelang senja.

* * *

“Wuih, yang mau jadi eksmud. Congkak nian,” kata Aira sambil menepuk pundak Marlon, yang sedang membaca pengumuman di kampus.

“Wuih yang udah jadian, nggak bilang-bilang. Hayo, congkak mana?”

“Heh? Siapa bilang?”

“Gitu ya sekarang, jadian nggak bilang-bilang. Giliran galau aja bilang-bilang aku, kalau seneng nggak. Nggak CS ah..”

“Ehm, nggak gitu kali Mas.”

“Terus gimana hayooo.”

“Yah, nantilah diceritakan. Kapan berangkat ke ladang mencari segenggam berlian?”

“Tanggal 4 pagi, Ai. Doakan saya ya. Hahaha.”

“Siap bos!”

Aira berlalu menuju kelas kuliahnya, Marlon menatap gadis itu dari belakang dengan pilu. Tampak sebongkah pilu dan sekarung sesal di mukanya. Sebuah pertemuan terakhir di bulan muda.

* * *

“Hey, kamu farmasi kan?”

“Iya, Mas. Kenapa?”

“Lha ya sama. Kayaknya pernah liat waktu inisiasi. Marlon. Kamu?”

“Aira.”

“Enjoy ya. Nggak banyak anak farmasi yang bisa eksis disini. Tuh, aku aja mencoba eksis dengan itu,” ujar Marlon sambil menunjuk setumpuk laporan di mejanya.

“Bakal gitu Mas?”

“Ya, biar bisa sama-sama eksis. Kalau nggak gini, kapan lagi ngerjain laporannya. Hahaha.”

“Oh gitu. Okelah Mas.”

Sebuah percakapan kala malam turun sempurna, di bulan menjelang tua. Ketika pertemuan memulai rasa. Ketika semuanya berjalan mulai angka 1.

* * *

“Gimana ya Mas?” tanya Ai dengan gundah.

“Lha kamu seneng nggak?”

“Ya, sepertinya sih.”

“Trus?”

“Ya, gini-gini kan aku cewek. Masak aku yang bilang kalau suka?”

“Ya jangan sih,” kata Marlon, “Pasti ada jalannya. Cowok kan tinggal dikasih tanda-tanda jaman aja. Hehehe.”

“Lha itu tanda-tandanya gimana?”

Marlon berkisah bak konsultan, Aira bercerita bak counselee. Keduanya berbicang diatas hijau rerumputan ketika pagi baru saja menyapa dunia.

* * *

“Silahkan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepaktan kalian di hadapan Allah dan GerejaNya.”

“Saya, Marlon Simamora, memilih engkau Cicilia Dinaira menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Saya, Cicilia Dinaira, memilih engkau Marlon Simamora, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Semoga Tuhan memperteguh janji yang sudah kalian nyatakan dan berkenan melimpahkan berkatNya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia.”

Tiga orang anak manusia di depan altar mengucap baris-baris kata, di pagi hari ketika matahari menyapa dunia di bulan muda.

* * *

“Ai, sudah selesai baca bukunya?”

“Sudah, Mas.”

“Siplah. Sesuai janjiku, kalau aku ditolak, buku ini akan aku buat. Untunglah laku. Jangan-jangan banyak yang senasib yak.”

“Apa coba?”

Marlon mengaduk-aduk Caramel Machiato-nya, Aira asyik dengan Java Chip-nya. Sebuah buku, novel, berjudul Yang Terindah, tergeletak diantara mereka.

“Jadi, pada intinya, kamu memang yang terindah, Ai.”

“Bisa aja kamu, Mas.”

“Ya begitulah. Jadi kalau aku bilang cinta lagi sama kamu, kira-kira diterima nggak ya?”

“Hmmmm..”

“Aku sayang kamu, Ai. Dan aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Maukah kamu melakukannya denganku?”

“Mas?” Aira terdiam sambil memegang gelas Java Chip-nya.

Marlon menatap Aira dalam-dalam.

Aira bernapas dalam.

Marlon tersenyum manis.

Jam serasa berhenti.

“Iya, Mas.”

Malam baru saja meliputi siang ketika dua anak manusia ini bertaut hati satu sama lain, di sebuah bulan tua yang penuh pesona.

* * *

“Ai?”

“Iya Mas?”

“Aku udah di tol, bentar lagi sampai.”

“Oke Mas.”

Aira bergegas mencari kunci mobilnya, hendak menuju exit tol dan menjemput suaminya.

“Ayo Al, kita jemput papa.”

Anak 2 tahun itu mengikuti Aira masuk ke dalam mobilnya.

Aira melajukan mobil dan berhenti di SPBU yang tepat berada di exit tol.

“Papaaaaaa..”

Al bergegas berlari menuju sesosok pria yang baru turun dari bis itu.

“Selalu begini, dua minggu nggak ketemu, dan pasti kangen. Sini sayang.”

Marlon mengangkat jagoannya tinggi-tinggi. Aira mendekat.

“Tuhan itu baik ya Ai?”

“Kenapa?”

“Dia menyuruhku bermimpi tentang kamu, Dia kasih waktu bertahun-tahun. Dan Dia mempersatukanku dengan kamu. Tambah jagoan satu ini pula. Aku nggak bisa berharap dan berdoa yang lebih baik dari ini.”

Aira tersenyum, tangannya menggandeng Marlon.

Marlon, Aira, dan Al berjalan ke mobil, melanjutkan siklus hidup sesuai yang digariskan, 123 bulan sejak semua mulai berjalan dari 1. Bahwa hidup ini berjalan untuk sebuah kebahagiaan.

🙂

7 Kualitas Pria Yang Cocok Dijadikan Kekasih (dari wolipop.com)

Seperti biasa, baca detik.com di pagi hari, dan… sebuah bahan bacaan menarik ketemu! Demi traceability, saya pasang di blog ini. Sumbernya jelas kok, dari wolipop.com dengan link ini.

Begini isinya:

Memiliki sosok kekasih yang sempurna pasti menjadi harapan semua wanita, tapi akan sangat sulit ditemukan karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Ketika Anda dekat dengan seorang pria dan ingin memutuskan untuk berhubungan serius, jangan hanya melihat dari kesempurnaan fisik. Ada yang lebih penting dari itu seperti sifatnya yang dewasa, berpikiran terbuka dan lainnya. Pelajari dulu sifat-sifat pria berkualitas yang cocok dijadikan kekasih, dilansir dari eHarmony berikut:

1. Dewasa

Menjadi “dewasa” bukan sekedar tidak bertindak seperti anak kecil lagi. Ketika orang berpikiran dewasa secara emosional, mereka cenderung tidak melakukan kembali atau memproyeksikan pengalaman masa lalu ke hubungan mereka saat ini. Pria yang dewasa akan lebih mempercayai dan memberikan Anda kebebasan untuk melakukan sesuatu yang positif, bukannya mengekang karena pengalamannya dimasa lalu misalnya.

Dia cenderung akan melepaskan diri dari masa lalu dan fokus terhadap hubungan yang akan dijalani. Ia juga berpikiran terbuka, bukan hanya mencari seseorang yang bisa menerima segala kekurangan dan kelemahan atau untuk menyelesaikan ketidaklengkapan mereka. Sebaliknya, mereka sedang mencari seseorang untuk berbagi hidup bersama dan menghargai kebebasan masing-masing. Tentu, menjadi dewasa secara emosional membutuhkan proses, Anda juga perlu belajar untuk menjadi seorang yang dewasa sehingga Anda akan memiliki kehidupan percintaan yang solid dan saling menguntungkan.

—> beneran, ini sulit, even usia saya sekarang udah 25 tahun. Saya berusaha keras menerjemahkan definisi dewasa dan tampak menemukannya di penjelasan di atas. Boleh jugaaaaa… Thanks to wolipop dalam rangka memberikan definisi ini.

2. Bersikap Terbuka

Ketika seseorang memiliki pemikiran terbuka, dia terbiasa jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, mimpi dan keinginan, yang memungkinkan Anda untuk benar-benar mengenal mereka. Sikap terbuka ini juga merupakan indikasi dari minat mereka dalam pengembangan diri dan berkontribusi untuk menciptakan hubungan asmara yang lebih baik.

—> ini dia, saya sedang mencoba implementasi yang semacam ini. Dan benar deh, ketika sudah terbuka, rasanya lebih enak.

3. Kejujuran dan Integritas

Pasangan yang ideal menyadari pentingnya kejujuran dalam menjalin sebuah hubungan. Kejujuran juga akan membangun rasa saling percaya satu sama lain. Pria yang jujur akan berusaha untuk hidup dengan integritas sehingga tidak ada perbedaan antara perkataan dan tindakannya. Ini berlaku untuk semua tingkat komunikasi, baik verbal dan nonverbal.

—> tidak ada perbedaan perkataan dan tindakan. Kalau bisa begini, laki beneran dah! Hope so! 🙂

4. Menghormati

Pria yang ideal akan menghargai kepentingan satu sama lain terpisah dari kepentingan mereka sendiri. Mereka akan dengan senang hati mendukung Anda. Mereka peka terhadap keinginan dan perasaan pasangan, dan menempatkan diri mereka diposisi orang lain ketika menghadapi suatu masalah. Selain itu, mereka tidak mencoba untuk mengendalikan satu sama lain dengan perilaku mengancam atau manipulatif. Pria yang ideal juga akan menghormati batasan pribadi pasangan mereka, namun tetap dekat secara fisik dan emosional pada saat yang sama.

—> oke, ini bagian yang buruk dari masa lalu saya. Bagian dari ketakutan untuk kehilangan. Hufffttt, tapi sudah kerasa juga sih, kalau nggak ada gunanya. Jadi syarat ini juga oke. Harus diterapkan.

5. Empati

Pasangan yang mampu berempati dan mengerti pasangannya akan membuat hubungan harmonis. Pria yang bisa berempati akan memposisikan dirinya sebagai Anda, sehingga segala perbedaan bisa dihadapi dengan mudah.

—> kalau saya pada posisi itu, maka…. Setidaknya saya sering jadi tempat curcol, semoga dapat membantu aspek ini.

6. Menyayangi

Seorang pria penyayang akan tanggap mengenai segala sesuatu yang terjadi baik secara fisik, emosional dan juga verbal. Pria ini akan menjadi pasangan yang ideal untuk Anda, karema dia mampu menenangkan Anda dengan penuh kehangatan dan kelembutannya.

—> menenangkan dengan kehangatan dan kelembutan, dari posisi jarak jauh? So difficult! Wong dari jarak dekat saja juga susah.. Huhuhu..

7. Rasa Humor

Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan setiap kelemahan dalam hidup memungkinkan seseorang untuk mempertahankan perspektif yang benar tanpa perlu emosi tinggi ketika berhadapan dengan masalah sensitif yang muncul dalam hubungan. Pasangan yang humoris dan memiliki rasa humor yang baik akan membuat hubungan tidak membosankan dan juga meredakan saat-saat tegang. Menertawakan masalah dan diri sendiri akan membuat hidup terasa lebih mudah. Ditambah, itu adalah salah satu kesenangan terbesar untuk bisa tertawa dengan seseorang yang sangat dekat dengan Anda.

—> sebagai orang yang sedang mencoba terjun di ranah penulisan humor, rasa-rasanya bagian ini perlu ditingkatkan. Benar sekali MENERTAWAKAN MASALAH dan DIRI SENDIRI sebenarnya membuat hidup JAUH TERASA LEBIH MUDAH. Jadi ingat menertawakan saya yang akselerasi TK. Hehehe..

Mencoba menjadi lebih baik, lagi dan lagi. Thanks to wolipop atas konten menarik pagi ini. Waktu workshop dengan BDI, disebutkan kalau copy paste itu boleh, asal bukan untuk tujuan komersial, mencantumkan sumber, dan tidak plek-plek benar. Semoga posting di atas ini sudah memenuhi syarat tersebut.

SEMANGAT!

Ibuk: Mencintai Tidak Bisa Menunggu

Sejak kerja, saya mungkin tambah gila pada buku. Kalau kuliah, saya hanya beli buku (non buku kuliah) kalau harganya dibawah Rp. 30 ribu. Nah, karena mulai kalap buku, maka saya nggak mengabaikan Jakarta Book Fair. Salah satu sisi positif saya pindah kerja ke Cikarang adalah akses yang lebih cepat ke ajang beginian. Karena sudah baca di twitter, saya lantas memburu stand Gramedia dan sebuah novel berjudul singkat “IBUK”.

Jakarta Book Fair itu udah agak lama, dan novel IBUK saya diamkan saja selama beberapa lama karena entah kenapa saya lagi kehilangan daya membaca novel. Nah, berhubung hari ini saya agak selo, baru deh saya baca.

Dan…..

Mas Iwan mampu membuat saya BERKACA-KACA dengan kadar melebihi novel 9S10A!

Saya sih yakin, siapapun yang masa kecilnya penuh perjuangan, pasti akan berkaca-kaca dengan tulisan Mas Iwan. Seperti biasa, ditulis dengan kalem dan memang terkadang tampak lambat, persis novel sebelumnya. Semuanya dijalin dengan manis dan yang patut diingat, hampir semua itu banyak dianggap “derita”, yah sebut saja sepatu rusak, telur bagi sekian, tempe, dan lainnya.

Jujur saya langsung ingat rumah. Ya walau memang pada level yang berbeda, saya juga merasakan perjuangan hidup orang tua dengan 4 anak. Beda dikit sama keluarga Bayek.

Sebenarnya bagian yang paling menyentuh adalah separuh awal dan seperempat akhir. Yang di tengah, sebenarnya mirip sisi lain dari 9S10A. Jadi bagi saya yang sudah baca 9S10A, merasa semacam diulang. *ini sekadar membahas saja ya Mas Iwan* hehehe..

Tentunya pelajaran hidup tampak dari sosok IBUK dan tentunya BAPAK. Novel ini memang jelas menonjolkan sosok IBUK sesuai judulnya. BAPAK bahkan hanya dikisahkan pergi pagi pulang malam. Dan itulah sudut pandangnya. Tapi bagian terakhir ketika BAPAK meninggalkan dunia itu sungguh sangat menyentuh sekali *kalau ada hiperbola lain, pasti saya pakai*

Dan sisi lain yang saya lihat, sebagai seorang karyawan, adalah:

1. bagaimana berjuang hidup, bekerja, sambil tetap menyisihkan uang untuk keluarga di rumah -> semacam balik modal investasi yang diawali dari kemauan sang anak.
2. ternyata bekerja dimana-mana sama ya.. Rasanya kok sama-sama pengen resign kalau lagi hectic.. Hehehehe..
3. bagaimana berada di “rumah” adalah sebenar-benarnya hidup, buat saya semuanya tampak demikian.

Terima kasih untuk tulisan yang menyentuh dari Mas Iwan, sungguh membuat saya berkaca-kaca, sambil mengenang masa silam. Saya bersyukur beli buku yang ada tanda tangannya. Hahaha..

Dan terakhir, soal foto keluarga. Sejak kecil, keluarga saya sudah ada foto keluarga. Dulu awalnya gratisan di tempat wali murid. Lalu berikutnya pas kami sama-sama mudik via Pak Campin (ini masih pake film sodara-sodara!). Lanjutannya pas saya wisuda dengan pose yang teramat sangat parah karena harga 2 pose 30 ribu, pake film pula (di era digital, what do you expect dengan harga segitu?). Dan karena keinginan saya untuk foto keluarga yang paling maksimal, maka saya berusaha agar ada sebuah foto yang dibuat di studio bagus. Syukurlah sudah pernah ada di wisuda adik cowok saya, dan saya ingin itu diulang lagi di wisuda adik saya tercinta tahun ini. Dan yang pasti, saya ingin membuat “foto keluarga” ala Bayek, sebuah buku. Semoga!

Inspiring!

*thanks a lot, Mas Iwan sudah mampir (lagi) ke blog ini*

Membanding-Bandingkan

Hahhhh… Entahlah, ini mungkin sedang hectic saja. Penuh, entah dengan apa. Jadi pengen sedikit berefleksi dengan membanding-bandingkan. Bukan maksud apapun kok, ini kan versi saya dan suka-suka saya, lha wong blog juga blog saya. Hahahaha..

Okehhh, kantor lama saya dan kantor saya sekarang sebenarnya satu perusahaan yang sama. Saya pindah dengan sebuah alasan yang (mungkin) lantas disesali. Jadi gini ya saudara-saudari, JANGAN SEKALI-KALI PINDAH KERJA KARENA ALASAN PACAR. Dari sisi itu, saya mungkin menyesal (lha njuk pedhot e.. hahaha..). Tapi dari sisi lain, saya bisa dibilang bersyukur dengan apa yang saya dapat di tempat baru ini, terutama penguasaan saya (dengan belajar sendiri) pada standar-standar yang sama sekali asing. Yah, dulu mana ada saya pernah tahu HACCP, ISO 22000, apalagi Sistem Jaminan Halal. Ya kan? Jadi ya sudah, nggak boleh ada penyesalan, karena toh semua ada positif dan negatif.

Total jenderal saya melakoni dua pekerjaan yang totally different dari sisi ritme dengan tingkat pusing yang sama. Ya iyalah, saya kan digaji untuk pusing dan lantas menghasilkan operasional yang baik. Bukan begitu?

Di tempat lama, saya terjun dalam sebuah rutinitas. Yak, tanggal sekian terima MPS, tanggal sekian upload planning, tanggal sekian running planning, tanggal sekian buat PR, tanggal sekian bikin ROFO. Begitu terus. Belum lagi ada kala material-material yang entah ada itunya, anunya, kurang itu, kurang anu. Ashh mbohh.. Hahaha.. Belum lagi, namanya juga orang planning, ada tarik ulur permintaan. Dan belum lagi yang paling bikin error dunia akhirat, gudang penuh. Hahaha.. Itu bagian-bagian yang setelah saya konfirmasi kemana-mana, jebule podho wae. Ya memang jatuhnya sama. Masalah itu ada relevansi dengan rutinitas. Dan ya memang begitu.

Di tempat sekarang, secara rutinitas memang anjlok. Lha dari 800 terjun ke 4, kompleksnya planning sejujurnya nggak kerasa. Tapi saya juga ngurus rutinitas untuk administrasi, dan saya baru bahan kenapa dulu saya harus susah payah nelpon ke gudang supaya bisa entry penerimaan ke sistem. Jebule angel rek. Saya ketemu dengan supplier yang macam-macam tingkahnya. Saya ketemu dengan dokumen-dokumen yang dulu saya nggak peduli. Itu separuh kerja saya. Sisi lain adalah di itu tadi, belajar standar-standar baru, implementasi, cari gap, cari pemenuhan gap, dan seterusnya. Well, sejujurnya, ini jauh lebih pusing daripada memutuskan harus order 5000 atau 7500. Bener deh. Tapi ya semoga bisa memberikan saya pemahaman lebih soal ilmu-ilmu baru ini, yang notabene di kuliah saya nggak paham. Jujur neh, karena kerja disinilah saya mulai konsen dengan kelas ruangan A sampai G, juga dengan IQ-OQ-PQ. Yah walau kuliah CPOB saya dapat A, tapi kan daya ingat rendah, jadi lupa deh.

Hahahahaha..

Jadi ya, kalau mau membanding-bandingkan, jatuhnya sama saja. Saya suka nguping kerjaan di pabrik otomotif hingga ke retail distribusi, ya sama. Konflik ada, masalah ada, hal-hal absurd ya ada juga. Semuanya berjalan karena memang kita hidup di dunia dan berhubungan dengan manusia.

Ini sekadar refleksi iseng saja kok, tidak mempengaruhi penilaian saya pada apapun. Saya bekerja disini sekarang, dan toh saya harus berkarya disini. Bekerja yang terbaik bukanlah sekadar demi bertahan hidup, tapi juga demi memberikan karya.

Eh, eh.. Satu hal yang kadang unik adalah ketika di pengobatan gratis ketemu obat dari kantor lama, yang saya paham batchnya, dan lantas tarik ke belakang… Ehhhh.. ini poly-nya saya yang order lohhh.. Ini doos-nya saya order sambil marah-marah, dan malah saya SOBEK sendiri (demi keamanan akan obat palsu). Hahaha.. Ini sungguh unik, buat saya. Entah buat yang lain.

Sekali lagi, ini semata-mata membandingkan. Kalaupun ada penyesalan, tentu karena sebuah alasan PACAR itu tadi. Tapi kira-kira sih impas dengan hal-hal lain, misal akses ke Jogja/Bukittinggi lebih murah, dan lainnya. Jadi, inilah hidup, kerjakan dan lanjutkan, demi kemuliaan Tuhan yang LEBIH BESAR.

Semua hal ada baik dan buruk kok, karena kita hidup di dunia 🙂

Bapak Millennial