Kumpul Bocah

Kemarin habis kumpul bocah, di rumahnya Robert. Yak! Betapa indahnya dunia ketika orang yang tahun 2008 silam masih sama-sama dengan saya garap makalah Ekonomi Farmasi tentang PT. Ferron, sekarang sudah punya rumah dan punya istri. Waktu itu saya garapnya sama Yoyo. Yang ini malah sudah punya rumah, punya istri, dan punya anak.

Saya? Pacar aja belum.

Banyak hal yang bisa diperbincangkan memang. Apalagi saya juga ketemu Rosa, teman yang bekerja di posisi dan perusahaan yang bulan Maret 2011 silam saya tolak karena berbagai pertimbangan. Setengah menyesal juga sih. Tapi hidup kan harus terus berjalan kan?

Di kumpul bocah ini juga ketemu Sisil, yang sudah hamil 6 bulan. Sukses sekali programnya karena dia nikah juga baru akhir Desember lho. Dan segera akan ada keponakan dolan-dolan #2 sesudah dedek Karin.

Juga ketemu dengan Blangkon yang akan segera memasuki usia 29.. (wkwkwkwkwk…), kali ini bersama pacarnya, Mbak Dinta.

Kumpul bocah juga menghadirkan Ayu dalam teleconference alias sepik-sepik pakai telepon.

Lengkap sekali, menurut saya.

Teman-teman saya sudah sukses. Tapi tidak banyak perubahan yang terjadi dalam cara ngomong, dari cara menghina, dan dalam segala keakraban.

Dalam konteks ini, kami masih orang yang sama dengan tujuh hingga delapan tahun yang lalu 🙂

Sumber: tintusfar.wordpress.com
Sumber: tintusfar.wordpress.com

Juga dibahas soal tahun depan yang bakal menjadi tahun kondangan massal untuk anak Dolanz-Dolanz.. -_____-”

Yah, semoga berkat melimpah ada pada kita semua. Amin. 😀

Gadis di Dalam Hati

“Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat….”

Aku masih menatap jauh ke awan yang menggumpal di sebelah kiriku. Kepalaku masih melekat pada jendela pesawat sekaligus menutupi hak penumpang di kursi B dan C untuk menikmati langit. Biarlah, salahnya sendiri mereka nggak cek in duluan. Aku memang selalu meminta kursi di A atau F, sehingga bisa menikmati langit, awan, dengan segala cerah dan mendungnya. Aku selalu merasa bisa memaknai betapa kecilnya aku dalam dunia ini ketika melihat itu semua.

Roda pesawat menapak mulus di bandara, sekaligus menambah koleksi bandara tempatku pernah mendarat. Aku sudah pernah mendarat di Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, hingga Gunungsitoli, tapi belum pernah di kota ini. Meski memang aku sudah pernah menjejakkan kaki di kota ini dengan moda transportasi lainnya.

Kamera DSLR-ku segera keluar dari tas tempatnya berdiam sedari tadi. Kuarahkan ke nama bandara yang baru pertama kali kujejak ini, berikut lingkungan sekitar. Ah, kamera ini, aku masih ingat seorang gadis pernah berkata, “Kak, beli kamera DSLR gih. Nanti aku rela deh jadi modelnya.”

Gadis yang ada di dalam hatiku. Yang menjadi alasan aku mendarat di kota ini.

Aku melangkah keluar bandar udara dan segera mencari si taksi burung biru. Yah, semua berasa semacam dinas saja. Naik pesawat, ambil taksi burung biru, dan mungkin nanti hotel yang akan aku inapi. Tapi tentu saja tidak. Hari ini hari kerja, dan aku tidak dalam posisi dinas. Aku cuti, untuk menyelesaikan sebuah masalah yang mengerak di dalam hati.

Kalau saja aku pernah cuti 1 hari untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak SD, masak sih aku tidak merelakan cuti untuk menyelesaikan masalah hati ini?

“Selamat pagi, Mas. Mau diantarkan kemana?”

Aku menyebut nama sebuah tempat di selatan kota, dan supir taksi burung biru ini segera melajukan kendaraan yang akan membawaku mendekat pada penyelesaian masalah hati ini.

Kemacetan ternyata sudah menyapaku begitu lepas sebuah bundaran di pintu bandara. Ah, kota ini tidak jauh beda dengan tempatku mengeruk rupiah. Sama saja macet! Kendaraan ini berhenti dan segera pikiranku membuat kilas balik rentetan peristiwa sepekan terakhir.

“Pak, tahu kan kalau saya suka sama seseorang, sudah dari lama. Gimana ya enaknya? Saya perlu diam aja, atau perlu saya ungkapkan?”

Aku berhadapan penuh ketakutan kepada Bapak Pelatih. Bukan hal mudah bagiku untuk curhat, apalagi ke orang sepenting beliau. Tapi aku sungguh sudah kehabisan akal dan semakin penuh kebingungan karena masalah ini.

Tujuh tahun mencintai satu orang yang sama, dan sama sekali tidak punya nyali untuk mengungkapkan. How loser I am!

“Untuk masalah hati, Dek, saya sarankan dengan sangat, perasaan itu harus kamu ungkapkan,” ujar beliau dengan penekanan pada kata ‘harus’, “kalau memang sudah sangat terlambat, yang penting kan sudah diungkapkan. Minimal bisa bikin lega hati.”

Aku tertunduk lesu, tapi lega juga. Menyimpan rasa suka sendirian selama bertahun-tahun itu benar-benar menderita. Ketika kemudian aku bisa mengungkapkan ini–minimal pada Pak Pelatih–maka ada sekian persen beban yang lepas.

Ya. ‘Harus’ yang dibilang oleh beliau menjadi penuntunku untuk kemudian melakukan tindakan antik ini. Aku segera membeli tiket pesawat ke kota ini, berikut memesan tiket hotel, dan langsung mengajukan cuti dalam waktu yang singkat. Dan entah kenapa, semesta semacam mendukungku. Harga tiket terbilang terjangkau, dan kebetulan juga cuti bisa diperoleh dengan mudah, tanpa harus dikira sedang interview di perusahaan lain.

Hanya satu hal yang aku ragukan dari misiku hari ini. Apa iya semua biaya yang aku keluarkan ini akan memberikan hasil? Aku punya satu masalah: keberanian. Aku pernah menjalani misi ini, dengan naik bis, dan berujung ketidakberanian dengan hanya berdiri berdiam di depan kediaman gadis di dalam hati itu.

Tidak terasa, burung biru sudah membawaku ke jalan lurus yang tidak jauh dari kampus ternama di negeri ini, yang berarti aku sudah hendak sampai ke tempat yang aku minta sebelumnya.

“Hotel Indah ya, Pak. Yang warna hijau itu.”

Sedan biru mulus itu segera mendekat ke arah yang aku tunjukkan. Aku sampai di tempat menginap. Hotel yang berbeda dari perjalananku sebelumnya, yang gagal itu tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Persis waktunya untuk cek ini di hotel ini.

Proses cek in berlangsung dengan cepat, dan aku akhirnya sampai di kamar.

“Mau ngapain nih?” gumamku begitu tasku mendarat di kasur.

Aku sudah berjalan sejauh ini, dan aku masih punya ganjalan yang bernama keberanian. Kalau selama 7 tahun dan dalam konteks yang lebih mungkin untuk mengungkapkan perasaan ini, dan aku kemudian tidak berani menyampaikan apapun. Bagaimana dengan sekarang?

Aku punya lebih banyak alasan untuk menyimpan semua perasaan ini sampai mati, meskipun aku sudah sejauh ini.

Dan dengan segenap diam yang aku dapati dari gadis itu selama 1 tahun terakhir, maka mengetik sebuah pesan singkat bukanlah menjadi perkara yang mudah.

Siang, Kinar. Maaf mengganggu. Aku mau ngasih buku, sambil mau ngomong sebentar. Bisa minta waktunya 1 jam aja hari ini? Di Mekdi atau di kosmu atau dimana terserah deh. Minta tolong ya. Soalnya besok aku udah pulang.”

Bahkan jariku masih ragu untuk menekan ‘Send’, pada layar sentuhku. Tentu saja, kalau saja SMS barusan aku kirim ke gadis itu empat tahun yang lalu, semuanya akan berjalan berbeda. Aku tidak perlu takut tidak dibalas. Sekarang? Belum tentu.

Aku menggumamkan doa sejenak sebelum telunjukku menekan ‘Send’ pada layar sentuh.

Aku hanya berharap ada jawaban, bahkan hanya sebuah jawaban tanpa kesanggupan atas permintaanku adalah sebuah harapan yang sederhana.

Dan sejak aku menekan ‘Send’ tadi, waktu berjalan begitu lambat sekali. Serasa jenggotku dapat tumbuh dalam 30 menit berlalu. Tanpa balasan selama 30 menit ini sungguh perlahan memadamkan bara keberanian yang sebelumnya aku tiup pelan-pelan untuk bisa menyala kecil.

Bahkan aku tidak berminat membalas pesan-pesan whatsapp dari seorang gadis yang aku ketahui jatuh cinta kepadaku. Ya begitulah cinta. Bahwa konsep jatuh cinta itu baru akan baik adanya kalau dicintai dan mencintai mengacu pada objek yang sama. Kalau beda? Ya begini deh. Dia galau karenaku, aku galau karenamu. Nggak berujung ini.

Rrrrrtttttt…

Handphone bergetar.

Sbb Kak. Aku baru pulang kerja. Kakak dimana emang? Buku apa?

Lumayan. DIBALAS! Itu saja sudah bikin senang.

Aku nginep di Hotel Indah. Jadi bisa? Mau dimana? Bukuku. Ceritanya mau promo. Hehehe.

Dan, lagi-lagi, aku harus menunggu.

Rrrrrttttttt….

Bukumu? Hmmm, terserah, mau di kosku juga boleh. Emang tau?

Syukurlah. Jawaban ini semakin mengarah. Dan kali ini aku harus mengipas bara keberanianku untuk menuntaskan perasaan yang sudah 7 tahun terpendam di dalam hati sini.

Ya semoga tahu. Jam berapa bisanya?

Sekarang juga nggak apa-apa, kalau cuma 1 jam sih.”

Wow! Sekarang! Ini beneran ya?

Dan aku malah menampar pipiku sendiri, berkali-kali, hanya hendak memastikan bahwa ini nyata.

Aku segera keluar dari hotel, dan sudah sore rupanya. Aku masih ingat, tidak jauh dari sini ada markas tentara dengan 4 pohon tinggi dan pemandangan unik berupa angsa yang berterbangan diantara keempat pohon itu. Asli keren.

Maka, aku tidak lupa membawa kameraku. Meski memang lensanya kurang optimal, tapi sudah janjiku untuk kembali lagi kesini ketika aku sudah memiliki kamera DSLR. Cukup banyak jepretan yang aku ambil dari empat pohon itu. Sambil berlatih menggunakan kamera DSLR yang baru saja aku beli dan kreditnya masih lima kali lagi ini.

Dan aku segera melangkah mendekat ke tujuanku, kediaman Kinar.

Bahkan aku masih bertanya-tanya, apa sih yang hendak aku ucapkan nanti ketika aku bertemu? Yang aku ingat adalah hari-hari ketika aku dan Kinar curhat dalam waktu yang panjang, hari-hari saat Kinar memberiku bunga, tapi juga waktu-waktu ketika Kinar bahkan tampak tidak sudi untuk berpaling sekadar memandangku.

Dan langkahku kemudian sampai juga ke Jalan Tanjung. Seharusnya disini tempatnya. Di deretan jalan bernama bunga, mulai Mawar, Melati, hingga Tanjung, ada tempat kediaman Kinar. Dan kalau Kinar belum pindah, maka kos yang menjadi kediamannya ada di….

…ujung jalan ini.

Kosmu bener Jalan Tanjung Nomor 2?

Iya Kak.”

Kalau gitu, aku sudah di depan.”

Glek!

Perlahan pintu coklat membuka, dan sosok cantik yang 7 tahun silam merasuk ke dalam hatiku, dan tidak keluar-keluar, ada disana. Iya, Kinar sekarang ada 4 meter dari tempatku berdiri.

“Hai, Kak.”

“Hai, Kinar.”

Sebuah percakapan yang beku, penuh kekakuan. Kalau ini terjadi 4 tahun silam, yang ada tentu saja sapaan manis disertai salaman penuh kehangatan. Ah, waktu memang suka mempermainkan keadaan.

“Apa kabar?” tanyaku sambil menjulurkan tanganku.

“Baik, Kak. Duduk gih.”

Di teras kos, dengan 2 bangku plastik dan 1 meja yang juga dari plastik, aku dan Kinar, berdua saja. Tapi aku bahkan masih ingat kapan terakhir kali aku berdua saja bersama Kinar. 14 April dua tahun yang lalu, di teras kosnya yang lama, kos sewaktu kuliah.

Aku dapat mengingat semuanya dengan mudah. Sepertinya aku menganut prinsip Data Logger. Duduk, diam dan tenang sambil merekam segalanya. Entah untuk apa.

“Pertama, maaf mengganggu. Kamu pasti capek habis kerja,” ujarku membuka pembicaraan, sambil tanganku merogoh tas ranselku untuk mengeluarkan tiga buah buku.

Kinar tidak berkata-kata sedikitpun. Aku memandang wajahnya sekilas, dan masih menatap raut yang sama, yang dari pertama kali aku melihat wajah itu langsung diberi kesimpulan jatuh cinta.

“Ini, mau ngasih ini. Kalau yang ini, barengan sama yang pernah aku kasih sebenarnya. Waktu itu aku minta dua tanda tangan penulis buku ini, dua-duanya atas nama kamu.”

Dulu sekali, aku pernah memberikan sebuah buku bertanda tangan asli penulisnya kepada Kinar. Dan aku ingat sekali pesan singkatnya begitu menerima paket itu, “Apa coba artinya kamu ngasih buku ini, Kak?”

Kala itu, aku hanya menjawabnya dengan canda. Tidak ada sedikitpun keberanian untuk bilang bahwa aku berburu tanda tangan itu atas dasar cintaku pada Kinar.

“Kalau yang ini, sekalian ucapan terima kasih. Walaupun cuma 1 cerpen disini, tapi aku pakai nama kamu sebagai tokohnya. Dan percaya nggak percaya, tiga perempat cerita ini adalah kejadian nyata yang aku alami. Aku tokoh utamanya, dan kamu tokoh ceweknya. Ini yang aku SMS waktu itu. Udah pernah baca?”

Kinar menggeleng.

Ya sudah.

“Dan terakhir, yang ini, judulnya ALFA. Ini bukuku sendiri. Akhirnya aku punya buku sendiri juga. Dan harus aku kasih sendiri ke kamu, karena ada banyak kalimat di buku ini yang asalnya dari obrolan ngaco kita di SMS jaman dulu. Waktu nulis buku ini, sebagian waktu kita masih intensif SMS-an.”

“Wow. Selamat, Kak. Akhirnya punya buku juga.”

“Sebenarnya, kalau kamu nggak selalu bilang nggak pede, kamu lebih layak punya buku daripada aku.”

Kinar menerima tiga buku yang aku angsurkan kepadanya. Buku orang lain, buku antologi cerpen yang salah satu isinya adalah cerpenku, dan buku yang aku tulis sendiri. Tiga buku yang semuanya sebenarnya sangat lekat dengan Kinar, bersama segala prosesnya.

“Dan, satu lagi, mungkin ini akan mengganggu kamu, jadi aku mohon maaf dulu.”

“Mengganggu? Kenapa?”

Aku masih tidak yakin kalau aku punya cukup keberanian untuk ini. Sampai kemudian sebaris kenangan membawaku pada kata ‘harus’ yang dilontarkan oleh Pak Pelatih.

Maka aku mengela nafas sejenak, dan mulai berkata, “Ehm, maaf ya sebelumnya. Seharusnya mungkin aku nggak bilang ini, tapi karena aku sudah nggak kuat menyimpan sendirian, dan kata Pak Aji juga aku harus bilang, maka itu aku datang kesini.”

Kinar diam, dari raut mukanya tampak mengerti arah pembicaraan ini. Ketika aku menyebut nama Pak Aji, mukanya sedikit terkejut. Tentu saja, aku dan Kinar sama-sama dilatih oleh Pak Aji.

“Hari ini, tanggal 26, tepat 7 tahun aku pertama kali mendengar nama kamu, dan tepat 7 tahun juga aku jatuh cinta sama kamu. Iya, aku… cinta sama kamu, Kinar. Mungkin memang akan lebih mudah kalau aku bilang ini dulu. Waktu ketemu kamu di depan lab kelinci, atau waktu kita lagi malam keakraban dan kamu pakai baju hijau gambar kodok, atau mungkin waktu kamu curhat sama aku sambil kita duduk di atas batu.”

Dan Kinar masih saja terdiam.

“Ini mungkin terlambat, Kinar. Tapi pastinya akan buat aku lega. Menyimpan perasaan ini selama 7 tahun bukanlah hal yang baik dalam mencintai. Kayak kata Pak Aji, syukur-syukur ada respon. Hehehehe.”

“Hahaha. Kamu ini, Kak.”

“Kenapa?”

“Ya, kenapa nggak dari dulu?”

“Nggak tahu deh. Kalau urusannya sudah tentang kamu, aku jadi loser sejati. Kalau kamu ngaku kamu loser, maka aku loser yang merindukan dan mencintai loser kalau gitu. Hehehe.”

Kinar diam lagi, sambil menggengam tiga buku yang aku berikan padanya. Aku menatap bibirnya lekat-lekat sambil menantikan kata yang akan keluar dari sana.

“Iya. Kenapa nggak dari dulu. Kalau sekarang, kamu terlambat, Kak.”

Aku mendengar kata itu, kata yang jelas sudah aku sadari sebelumnya. Aku terlambat. Di usianya yang sekarang sudah 25 tahun, tentulah gadis secantik Kinar sudah punya pacar.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting aku sudah lega. Kalaupun terlambat, ya mending daripada nggak sama sekali.”

Kinar tersenyum dengan binar termanis yang pernah aku lihat. Tangannya menimang bukuku yang judulnya “ALFA”, dan seketika membuka halaman-halamannya.

“Ini kan kata-kataku, Kak?”

“Yang mana?”

“Yang ‘selalu keren’ ini?”

“Ya emang iya.”

Aku sudah mengutarakan semuanya pada gadis yang ada di dalam hatiku ini. Dan aku sudah tahu kalau Kinar bilang aku terlambat. Ya sudahlah. Memang sudah saatnya melanjutkan hidup.

* * *

“Iya, Kak. Kamu terlambat. Kalau kamu bilang dari dulu, bisa jadi kita sedang kursus persiapan pernikahan sekarang,” gumam Kinar, tanpa bisa didengar oleh Ranu, lelaki yang ada di hadapannya.

* * *

Habis Curhat

Saya habis curhat. Ini sebuah kemalangan besar sebenarnya bagi saya yang selama ini lebih sering menerima curhat daripada melakukan curhat. Saya ini orangnya penuh rahasia, dan hanya bisa ditangkap oleh orang-orang yang bisa menganalisa keadaan, utamanya di blog ini. Sebenarnya pasti banget ketahuan.

Dan kenapa saya curhat?

Karena saya sudah benar-benar nggak punya jalan. Gimana sih rasanya hidup tapi nggak hidup? Gimana sih rasanya mau bernapas tapi napas itu nggak punya value, nggak punya isi, hanya sekadar mengisi oksigen ke jantung? Gimana sih rasanya hidup tapi (kasarannya) nggak guna?

Apa yang saya pikirkan ini sudah panjang, dan memang demikian. Ada poin utama yang kemudian saya curhatkan. Dan balasannya pun sungguh mengejutkan saya.

Iya. Mengejutkan. Karena sebenarnya, apa yang dibilang ke saya, ya sama persis dengan isi hati dan kemauan saya yang sebenarnya. Jadi sebenarnya saya nggak perlu curhat dong?

Nggak. Ini curhat yang benar. Saya hanya akan curhat pada tempat yang tepat, dan ini juga tepat. Sesungguhnya, tempat curhat yang ini memang belum pernah keliru. Maka, karena saya sudah mendapatkan pembenaran, yang kita perlukan berikutnya adalahhhhh… EKSEKUSI.

Yuk. Mari kita persiapkan 🙂

Thanks a lot Mas atas advice-nya 😀

12 Tahun Merantau

Selalu begini deh. Selalu seminggu sebelumnya diingat-ingat, tapi pas hari H-nya lupa. Dulu juga begitu. Dasar manusia. Ya begitulah, saya masih manusia, bukan manusia milenium.

Lagian yang diingat sebenarnya nggak penting dan krusial sih, cuma merupakan tanggal menarik bagi manusia melankolis macam saya.

Iya, kemarin, 2 Juli 2013, adalah genap 12 tahun saya jadi anak rantau. :)))

Perkara 2 Juli ini sebenarnya baru saya temukan ketika saya packing-packing mau pindah dari Palembang. Tanggal itu adalah tanggal saya mendaftar SMA Kolese De Britto Jogja. Dan saya ingat benar bahwa pagi harinya saya baru menjejak Jogja dengan kereta Senja Utama Jogja. Jadi fix bahwa tanggal itulah pertama kali saya jadi anak rantau.

Well, 12 tahun.

Sebuah bilangan yang gila. Dan nyatanya saya bisa melakoni itu semua. Nyatanya saya bisa ‘hidup sendiri’ untuk rentang waktu yang sepanjang itu. Melihat orang-orang lain masih dengan mudah dan indahnya pulang kampung setiap minggu, sedangkan saya ya beginilah.

Saya jadi anak rantau di usia saya yang ke-14. *ketahuan deh umurnya… hedeh..*

Jadi, dua tahun lagi, setengah usia saya genap habis untuk merantau. Tiga tahun lagi, lebih dari setengah umur saya juga terhitung sebagai perantauan. Jadi mari menikmati 2 tahun lagi, ketika usia jadi anak rantau belum sampai setengah usia saya.

🙂

Cikarang-Jogja 18 Jam

Ini kisahnya sebagian besar sudah ditulis dalam Ada Yang Tertinggal di Jogja dan Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata. Tapi rasanya ada yang kurang kalau saya nggak menceritakan detail khusus dari perjalanan ini.

Saya mengambil merk bis yang terkenal, Lorena. Satu-satunya alasan saya menggunakan armada itu adalah karena itu adalah jadwal termalam untuk eksekutif yang saya tahu. Bagaimanapun besoknya saya harus Gladi Bersih, dan itu pasti sangat melelahkan, maka saya perlu istirahat yang cukup di jalan.

Lagipula, dua trip terakhir saya ke Jogja yakni  Desember dan April juga menggunakan Lorena paling malam, dan hasilnya baik-baik saja. Okelah, yang Desember sebenarnya kurang baik, tapi itu karena macetnya Semarang-Magelang-Jogja gegara plat B pada mau liburan *sigh*

Perjalanan nyatanya dimulai jam 9 lewat, telat 1 jam dari jadwal. Saya masuk bis dan segera duduk di bangku nomor 1A, persis dekat pintu. Yah, saya belum pernah ambil seat 1A lagi semenjak kaki ketekuk sepanjang Bukittinggi-Palembang dengan armada Yoanda Prima.

Keluar Tol Cikarang Barat masih seperti biasanya, lanjut sampai ke Cikampek juga biasa saja. Ya, biasanya kan juga macet. Masih masuk akal. Tentunya selepas Cikampek saya nggak melepaskan pandangan dari sisi kiri (sisi utara). Terutama ketika melewati Indramayu.

Intinya sih, banyak yang mulus-mulus di sepanjang jalan itu.

Sekitar jam 11-an, bis akhirnya sampai di Pamanukan. Waktunya makan. Walaupun sebelumnya saya sudah makan mie, tapi bolehlah kalau diisi lagi. Sedikit keluhan sempat muncul di jalan karena bis itu kok rasanya panas sekali. Tapi namanya orang Indonesia, apa iya mau komplain?

Hampir jam 12 ketika kemudian Pak Supir dapat kabar bahwa HARUS menunggu 2 penumpang lagi, yang sedang dibawa sama Bis Purwokerto-an. Ini nih yang paling saya nggak suka dari Lorena, sistem oper-opernya. Di satu sisi itu keunggulan mereka, karena armada yang banyak. Dulu pernah dari Jogja ke Cikarang isi bisnya cuma 3, iya TIGA! Satu Cikarang, satu Cikampek, satunya Lampung. Si Lampung ini ya oper-operan dong. Hehehe.

Selama menunggu, servis AC dilakukan, dan saya malah berkenalan dengan Andreas, si bule dari Salzburg yang sampai sekarang masih nggak masuk akal buat saya kalau dia naik bis.

Sesudah AC beres, Pak Supir dapat kabar bahwa daerah Patrol macet 5-6 Km. Mak! Kilometer macetnya, panjang amat. Awalnya Pak Supir ngikut ke jalur macet itu, tapi kemudian belum 1 Km, udah mandek.

“Ngene tok iki?”

“Mbalek wae.”

Dan pada akhirnya bis besar itu berputar arah, kemudian menuju Subang dan seterusnya sampai saya bangun, sudah di Tol Kanci-Pejagan.

Bis akhirnya sampai di sekitar Brebes, dan ini berarti akan menuju Selatan. Niat awal saya, kalau dia turun di utara, saya kan turun di Jombor, jadi saya bisa langsung beli tiket pulang baru deh capcus ke Taman Budaya.

Tapi kalau lihat jalanan begini, kudu nyari alternatif solusi.

Dan percayalah, saya malah bersyukur bisa naik di bis yang supirnya enak begini. Punya inisiatif, nggak tampak ngantuk, dan ngajak ngomong penumpang. Keren.

Begitu mau ke arah Purwokerto, tahu-tahu ada aroma tidak menyenangkan. Dan nggak lama diikuti asap mengepul dari kotak yang berada PERSIS DI DEPAN SAYA. HUAAAAA!!!

“Mas.. Mas.. Iki kok ketoke kemebul yo..,” kata saya rada gemetar.

Bis lalu berhenti, copot aki, dan ternyata kotak itu isinya panel pengendali sistem elektrik. Syukurlah nggak kenapa-kenapa.

Saya belum pernah ngebis di masa jelang puasa. Kalau jelang lebaran, pernah. Dan jelang lebaran itu jalanannya mulus habis.

Ternyata… yang mulus itu dikerjakan jelang puasa.. -___-

Kena deh saya.

Banyak jalanan yang sedang digarap, dan itulah sumber kemacetannya. Jelas sekali, dan di beberapa tempat panjang sekali. Karena memang sudah kadung jalan, ya mau gimana lagi?

Sampailah kemudian di Karanganyar, dan saya melihat ATM BRI. Segera saya colok HP yang nyaris mati ke Powerbank, lalu telepon 021-121. Yah, jam 11 siang menelepon ke nomor itu jelas banget butuh perjuangan. Dan pada akhirnya ya memang butuh, ada kali 14 kesempatan panggilan sebelum kemudian sampai ke Mbak Sukma.

Transaksi terjadi. Jalanan ini terlalu kejam untuk saya pulang besok Minggu sesuai rencana awal, jadi keberangkatan dari Jogja digeser ke pagi saja.

Dan perjalanan dilanjutkan, disertai obrolan hangat Pak Supir dengan Andreas, yang saya terjemahkan.

Seperti waktu lihat poster “Piye Kabare Le? Penak Jamanku To?”

“Mister, do you know that?”

“Oh yeah. Soeharto.”

Atau ketika Andreas memuji Pak Supir.

“He is a good driver.”

“Mas, jarene kowe supir sik apik.”

“Tenane?”

“Tenan!”

“Weh. Thank you mister.”

Saya ngakak aja di jalanan ini, menemui Pak Supir yang lucu, dan bule Austria yang membumi.

“Ketoke umur e podo aku, Mas,” kata Pak Supir pada saya.

Saya lalu nanya umurnya Andreas.

“Almost fifty.”

“Arep seket, Mas.”

“Actually, fourty eight.”

“Papat wolu, Mas.”

Saya jadi kayak penerjemah presiden di kancah per-PBB-an.

Syukurlah, akhirnya sampai juga di Jogja, tepatnya di Giwangan, nyaris jam 3, dan itu berarti ada sekitar 18 jam saya ada di atas bis Lorena ini.

Saya turun, lalu mengucap terima kasih kepada Pak Supir, dan kerennya, kepada setiap penumpang dia selalu pesan untuk hati-hati. Asli, ini supir keren abis.

Sayangnya saya lupa namanya 😦

Andreas saya ajak ngojek, setelah sebelumnya saya nawar ojek. Mentang-mentang saya bawa bule, mau dimahalin.

“Jalane macet lho Mas.”

“Mas.. Mas.. Aku ki wong kene.. Aku ki yo ngerti dalan e..”

Mungkin dia belum tahu definisi macet versi anak Cikarang.

Akhirnya dengan 20 ribu, saya bisa berangkat ke TBY. Ehm, di Cikarang, ojek 20 ribu itu nggak ada apa-apanya, dan di Jogja saya bisa dapat Terminal Giwangan ke Taman Budaya Yogyakarta. Sebagai konsumen, saya iri. Titik.

Begitulah sekilas perjalanan saya. Meski bukan durasi terlama saya naik bis, karena ke Sumatera saya satuannya bukan jam tapi hari, tapi ini adalah paling lama yang saya tempuh untuk rute Cikarang-Jogja, atau sebaliknya. Cukup layak untuk jadi kisah tambahan di blog ini.

Setidaknya saya jadi tahu, bahwa perjalanan darat menjelang bulan puasa, ada perjalanan yang sebaiknya dihindari. Hehehe..

🙂

Cerita Farmasi: Farmasetika (2)

Sesudah berkenalan dengan Pulvis, Pulveres, dan Capsulae, maka setiap Rabu selalu ada bentuk sediaan obat lain yang saya temui. Dan semuanya masih mengacu pada buku formula jaman sepakbola belum mengenal offside.

Berturut-turut sesudah trio maut tadi, saya menemui Pilulae-Granulae dan Suppositoria. Pilulae ini gampangannya adalah pil. Walaupun ini tentu beda dengan pil yang kita kenal sekarang. Kalau dibilang pil koplo, itu sebenarnya beda dengan bentuk pil yang saya bikin. Kemarin sempat lihat cara pembuatan pilus, dan… ya mirip cara membuat Pilulae.

Jadi adonan bahan obat dibuat sedemikian rupa sehingga panjang-panjang, lalu tinggal dipotong dan dibulatkan. Asli udah kayak main lilin-lilinan jaman kecil dulu. Bedanya yang dipegang adalah campuran daun Digitalis, obat jantung jaman dulu. Adapun Granulae hampir sama dengan Pilulae, tapi bentuknya saja yang jauh lebih kecil.

Sedangkan suppositoria adalah jenis sediaan yang penggunaannya dimasukkan ke lubang anus. Bentuknya seperti peluru, dengan ukuran kira-kira sepanjang dua buku jari kelingking. Ah, anak farmasi kok bikin ukuran kayak wartawan menyampaikan berita banjir.

“Pemirsa, banjir sudah setinggi kepala orang dewasa yang lagi push up..”

“Pemirsa yang budiman, air sudah menggenang setinggi pinggang orang dewasa. Kebetulan dia lagi boker..”

Dan sejenisnya.

Di praktikum pembuatan suppositoria ini, kekompakan sudah mulai terbentuk diantara anggota kelompok praktikum F. Dan karena saya ada di meja 1, maka jadilah kelompok ini dinamakan F1. Ini adalah kelompok praktikum paling keren, kalau ada mata kuliah ‘Teknik Praktikum Yang Berantakan’.

Sediaan suppositoria yang dibuat ini menggunakan basis Oleum Cacao, alias minyak kakao, yang tentu saja aromanya menggugah selera. Coklat men! Ya, menggugah untuk menit pertama, dan memuakkan untuk menit berikutnya mengingat obat ini digunakan dengan cara dimasukkan ke dubur.

Sumber: siskhana.blogspot.com
Sumber: siskhana.blogspot.com

Dari bahan-bahan penyusun suppositoria ini ada sebuah pewarna yang sangat keren, namanya Karmin. Ini pasti saudaranya Karmin Elektra dan Paimin. Kenapa keren? Karena cukup dengan sedikiiiittttt saja menuang serbuk ini, warna merah sudah bisa diperoleh. Dan di formularium juga ditulis penggunaannya yang sedikit. Sepertinya sih agar suppositoria yang didapat tidak coklat-coklat amat, alasan estetika.

Oya, di meja F1, selain saya, Tintus dan Andrew, ada Budiaji, Finza, Maria, dan Ita. Sejauh mata memandang, nggak ada yang agak benar dikit, selain Andrew. Bahkan mejanya BA–begitu Budiaji biasa disapa–dan Finza nggak kalah berserakan dibandingkan meja saya dan Tintus. Syukurlah, ada temannya untuk bagian kerapian dapat C.

Jam demi jam berlalu, campuran suppositoria tadi sudah dibekukan dalam cetakan dan sudah siap untuk diambil. Fiuh, akhirnya bisa juga saya praktikum agak bener. Setidaknya waktu diskusi, saya bisa membawa dua bentuk sediaan sesuai tugas yang diberikan di panduan praktikum. Dan bentuknya, setelah saya bandingkan dengan punya Andrew, nggak bubrah-bubrah amat.

Saatnya diskusi!

Diskusi dihelat bersama kakak kelas yang sudah tua, yang menjadi asisten praktikum. Kalau di kuliahan lain dikenal adanya asisten dosen, kalau di tempat saya kuliah adanya asisten praktikum doang sih. Apapun namanya, yang pasti mereka sudah tua.

Waktu diskusi ini, setiap mahasiswa harus mengeluarkan bentuk sediaan yang dihasilkan untuk kemudian dibahas bersama dan dituliskan di laporan untuk dikumpulkan pekan depannya. Begitu saja terus, sampai ujian praktikum alias responsi.

Ita, Maria, Andrew, Tintus, dan saya melewati bagian ini dengan cukup baik, yah ada masalah sedikit karena suppositoria punya saya agak retak-retak. Mungkin kurang benar waktu proses sebelum mendinginkan dan mengeraskan.

Tibalah giliran BA mengeluarkan suppositorianya.

……

….

“Hahahahahaha.”

Dan satu F1 ngakak melihat suppositoria buatan BA. Soalnya warnanya merah banget, persis lipstik!

Sumber: ceriwis.com
Sumber: ceriwis.com
Sumber: intanjait.blogspot.com
Sumber: intanjait.blogspot.com

“Kamu pakai karmin berapa banyak?” tanya Kakak Asisten.

“Satu sendok.”

* * *

Setelah praktikum suppositoria, kelompok F1 harus bertemu dengan Unguenta-Cremoris, serta Solutio-Mixtura.

Namanya aneh-aneh ya? Tapi itu semua familiar banget kok dengan kita. Unguenta itu nama tenarnya adalah salep, sedangkan Cremoris itu nama populernya adalah krim. Kalau sering pakai obat oles luar, ya pastinya dari kedua jenis ini.

Solutio dan Mixtura, apalagi itu? Keduanya adalah bentuk sediaan obat bertipe larutan. Katanya sih, kalau solutio diberikan kepada sediaan yang hanya mengandung 1 bahan terlarut, kalau banyak namanya mixtura.

Nah, di praktikum Solutio-Mixtura ini, anak F1 diberikan dua resep yakni obat batuk hitam dan larutan penyegar. Ditunjang oleh skill praktikum yang mulai terasah, maka praktikum bisa dimulai dengan riang gembira.

Saya dan Tintus kemudian asyik bercumbu dengan timbangan, yang masih saja belum ganti jadi timbangan digital. Kali ini rada seru karena yang ditimbang adalah bahan berbentuk cairan. Yeah, menimbang cairan dengan menggunakan timbangan logo pengadilan.

Di sebelah kanan, saya melihat Andrew dengan cekatan dan lugas mencampur-campur segala bahan tanpa sedikitpun menyentuh timbangan logo pengadilan itu.

Kok bisa ya?

“Udah kelar lo?” tanya Tintus.

“Udah dong.”

“Kok bisa? Gue aja baru nimbang.”

“Ngapain juga ditimbang?”

Saya dan Tintus lantas keheranan. Terus kalau nggak ditimbang, diapain dong?

Andrew kemudian membuka lemari kaca di bawah meja kerja dan mengambil sebuah benda yang belum pernah saya sentuh selama kami praktikum: gelas ukur.

“Disitu suruh timbang berapa?”

“100 mililiter,” jawab saya sambil ngecek ke formula standar.

“Tinggal tuang disini kan? Ada garisnya 100 mL,” terang Andrew sambil menunjuk ke garis yang ada di badan gelas ukur.

Sumber: nurindasarii.blogspot.com
Sumber: nurindasarii.blogspot.com

Iya juga ya? Di panduan dan di formula kan cuma disuruh timbang sekian, dan nggak dibilang nimbangnya pakai apaan. Dan mungkin ini efek praktikum-praktikum sebelumnya yang menggunakan bahan dasar padat, yang memang harus menggunakan timbangan neraca.

Kadang orang kalau terlalu biasa, jadi nggak kepikiran out of the box yah?

Segera sesudah dapat ilmu dari Andrew soal ‘menimbang’ dengan menggunakan gelas ukur, pekerjaan saya dan Tintus menjadi lebih cepat. Ya karena memang bagian yang paling makan waktu sebenarnya adalah menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Eh, salah. Menyeimbangkan timbangan kiri dan kanan.

Obat batuk hitam jadi dengan aroma Succus Liquiritiae yang manis-manis gimana gitu. Sekarang saatnya membuat mixtura, berupa larutan penyegar. Mas penunggu lab alias laboran sudah menyediakan botol soda bekas, sekaligus penutup dan talinya, karena sediaan ini akan mengeluarkan CO2 sehingga kalau nggak ditutup dan ditali, maka tutupnya akan terbang dan lepas bebas ke angkasa.

Campur, campur dan campur. Akhirnya sampai juga pada tahap menutup botol dan mengikatnya. Beres deh. Sediaan berwarna putih bening kayak soda itu sudah bisa dibawa ke diskusi.

“Boleh diminum, Mbak?” tanya saya kepada Mbak Asisten sesudah diskusi berakhir.

“Boleh aja kalau mau.”

Yah, kelihatannya enak. Padahal siapa yang tahu tanggal kadaluarsa bahan-bahan yang ada di lab itu? Bahkan air yang digunakan untuk bahan utama, meskipun namanya aquades, tapi diambil juga dari jerigen. Cuma kok nggak kepikiran aja sampai disitu. Yang terlintas cuma kelihatannya enak, dan boleh dong sekali-sekali nyicip hasil kerja sendiri. Kalau kemarin-kemarin, yang dibuat Pilulae obat jantung sama Suppositoria. Males banget kalau mau nyobain.

Anak-anak F1 segera memposisikan botol menghadap ke taman di depan lab. Menurut teori, isi botol ini akan banyak CO2, jadi begitu tali pengikat dilepas, tutup botol akan terbang dengan tekanan tertentu.

“Plup. Plup. Plup.”

Benar saja, tutup botol berterbangan dengan radius beberapa meter dari tempat kami berdiri. Andrew, Maria, dan Ita segera membuang isi botol tersebut ke wastafel.

Saya malah mendekatkan mulut botol itu ke mulut sendiri.

Cicip.

“Enak juga.”

Rasanya memang mirip larutan penyegar serbuk yang sekarang ramai dijual, dan iklannya mulai saling merendahkan satu sama lain. Karena juga sudah siang dan haus, maka satu botol mixtura itu habis juga. Lumayan ngirit nggak usah beli es teh.

Sementara itu di wastafel lab…

BA berdiri dengan mulut botol masih menutup, dan menghadapkannya ke dalam wastafel. Jadi jarak tutup botol dengan dinding wastafel bahkan kurang dari 30 cm.

Kalau tadi tutup botol saya bisa terbang 5 meter. Berarti yang ini kalau dilepas….

“Plup.”

“Budi!”

Suara tutup botol lepas, diiringi gemercik air di lantai, diakhiri suara marah Bu Agatha.

“Kamu bersihkan sekarang!” lanjut Bu Agatha, masih marah.

Ya iyalah, Bud. Kalau di luar tadi tutup botol bisa terbang 5 meter. Gimana di wastafel? Kalau di luar tadi saja, air di botol masih nyiprat dikit meskipun posisi botol sudah 45 derajat miring mengadap ke atas, gimana kalau botol 45 derajat menghadap ke bawah?

Air di dalam botol soda itu akhirnya ya nyiprat kemana-mana. Lab yang sudah dibersihkan oleh masing-masing praktikan menjelang berakhirnya praktikum kini basah karena mixtura punya BA.

“Iya Bu.”

Saya dan Tintus ngakak habis sambil meninggalkan lab untuk makan siang, karena jam 1 ada praktikum lagi, Kimia Dasar. Bukannya senang karena teman menderita loh, tapi yang dilakukan BA itu benar-benar lucu, apalagi kalau lihat tampangnya yang mirip tampang pengantin bom unyu, sesaat sebelum menarik detonator, eh… menarik tali penutup, sampai kemudian terdengar suara, “plup.”

Satu jam kemudian, kelompok F sudah berkumpul kembali di lab bersiap praktikum Kimia Dasar. Dan ada yang aneh dengan BA.

“Bud, jas lo kok kotor?” tanya Tintus.

“Iya tadi ngepel.”

“Lo ngepel pakai jas lab?”

“Iya.”

“Hahahahahaha.”

Bukannya belajar buat pre-test–tes sebelum memulai praktikum–seantero kelompok F malah ngakak nggak berhenti-berhenti mengetahui kalau BA baru saja mengepel lab Farmasetika dengan jas labnya yang putih bersih itu.

* * *

Malam Hari

Badan saya mendadak panas, pusing melanda, dan pada akhirnya tidak bisa tidur sepanjang malam. Awal mula mimpi Halle Berry, terus kemudian Halle Berry-nya menjelma menjadi Berry Prima. Gimana saya bisa tidur kalau gitu?

Baiklah. Mencicipi sediaan buatan sendiri cukup kali ini saja.

Cerita Farmasi: Farmasetika (1)

Jalan nasib akhirnya membawa saya sebagai mahasiswa baru di fakultas farmasi, dengan sebuah bekal sepele: tukang obat. Udah, ngertinya itu doang. Sebuah bekal yang luar biasa suram untuk mengarungi belantara perkuliahan yang berat. Iya, kuliah saya sudah berat, ini kuliah farmasi pula.

Dan tidak ada waktu untuk bulan madu menjadi mahasiswa. Sesudah ospek, paralel dengan menempuh mata kuliah dasar, kami sudah harus melakoni kegiatan yang adalah trademark mahasiswa farmasi. Sebut saja kegiatan itu sebagai bunga, eh… praktikum.

Semua hal yang sifatnya pertama itu memang selalu seru. Waktu kita baru pertama kali bisa jalan, orang tua akan sorak-sorak kegirangan. Waktu kita pertama kali jatuh cinta, berjuta rasanya. Waktu kita pertama kali putus cinta, rasanya ingin mati saja. Waktu kita pertama kali berhasil menahan diri untuk tidak pipis di celana, orang tua malah tambah girang soalnya pengeluaran pampers sudah bisa dialihkan untuk nomat berdua saja.

Termasuk pertama kali praktikum ini. Nggak heran kalau jas-jas yang warnanya putih bersih mengalahkan iklan pemutih pakaian, plus bau toko yang menyeruak kemana-mana, adalah kondisi wajar di hari Rabu pagi, di depan lab Farmasetika.

Iya. Kami hendak melakoni praktikum Farmasetika Dasar.

Dan bahkan saya belum tahu apa itu arti dari Farmasetika.

Satu hal yang pasti, kami para peserta praktikum, atau yang kerap disebut praktikan, sudah diminta membawa panduan praktikum yang dapat difotokopi sendiri di tempat-tempat fotokopi terdekat, yang kalau tidak difotokopi segera, maka harganya akan naik besok Senin. Hampir sama dengan apartemen sih.

Jadi intinya, saya akan melakoni sebuah praktikum bernama Farmasetika Dasar, dengan jas putih yang masih bau toko dan tentu saja warnanya akan sangat kontras dengan warna kulit saya. Dan judul praktikum saya hari pertama itu adalah Pulvis, Pulveres, dan Capsulae.

Saya masuk dengan pengetahuan yang teramat sangat minim soal dunia kefarmasian. Jadi, ketika dengan benda-benda di depan mata ini, jadinya ya bingung.

Sejauh mata memandang, ada timbangan yang sejak jaman batu digunakan sebagai lambang pengadilan. Iya, masih yang kiri kanan gitu. Seandainya lambang pengadilan sudah digantikan oleh timbangan jarum atau digital, mungkin timbangan di lab ini akan diganti. Lalu ada juga mortir dan stamper. Mortir ini tentu saja bukan alat perang, tapi ya kalau jatuh ke lantai pasti akan bikin masalah karena bentuknya yang seperti mangkok namun jauh lebih tebal. Adapun stamper adalah jodohnya, berupa bentuk batang dengan ujung membulat. Pasangan romantis ini digunakan untuk mencampur bahan obat. Mirip alat buat ngulek sambel, tapi yang ini warnanya putih.

Sumber: protinal.com
Sumber: protinal.com

Di bagian bawah meja praktikum itu, ada sederet alat gelas. Ada gelas ukur, berupa gelas bermulut kecil tapi tinggi langsing dengan garis-garis ukuran di sepanjang bodinya yang seksi. Ada beker gelas yang semacam gelas biasa saja. Keduanya tersedia dalam berbaai ukuran.

Sumber: nurindasarii.blogspot.com
Sumber: nurindasarii.blogspot.com

Tugas dalam praktikum hari ini adalah membuat sediaan yang bernama Pulvis, Pulveres, dan Capsulae itu. Jadi kisahnya, di kali pertama saya menyentuh bahan obat ini, saya langsung disuruh membuat obat. Tapi tentu saja, hasil praktikum ini nggak akan dikonsumsi, kecuali oleh orang-orang yang berniat bunuh diri.

Ibarat membuat masakan yang enak, buat obat juga perlu resep campurannya. Dan untuk tiga macam obat itu, saya harus mengacu pada sebuah buku kuno yang bernama Formularium Medicamentorum Nederlandicum. Melihat bentuk buku yang ada di perpus lab itu, sepertinya buku itu sudah melalui masa-masa di bawah penjajahan Belanda dan Jepang. Mungkin juga menjadi saksi masuknya Sekutu yang boncengan. Plus ikut serta dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama.

Buku itu, bersama beberapa buku resep lainnya, adalah kumpulan penyembuh dari masa silam, ketika orang-orang belum mengenal tablet, sirup, apalagi sediaan injeksi. Dan benar juga sih bahwa anak-anak farmasi baru harus diperkenalkan pada sejarah dengan memegang buku-buku dari jaman Mbah saya masih main layangan itu.

Oke. Resep siap. Panduan siap. Hati yang nggak siap.

Saya sederet dengan Tintus dan Andrew. Kalau Tintus, dari muka udah kelihatan kalau bakal senasib sama saya, sama-sama nggak bisa. Beda sama Andrew yang lulusan SMF, dan pasti nggak akan kesulitan meracik obat macam begini. Jadilah, ketika saya keringat dingin, si Andrew malah tampak biasa saja.

Itu perbedaan mendasar lulusan sekolah umum dan sekolah kejuruan. Skill-nya beda banget..nget..nget…

Sediaan pertama yang saya garap dari tiga serangkai topik hari ini adalah Pulveres. Kalau kening pada berkerut mendengar nama ini, yakinlah ini bukan saudaranya petinggi Israel yang namanya Simon Peres. Juga bukan salah satu teknik mengeringkan cucian selain Memeres. Pulveres ini lebih dikenal sebagai puyer. Pernah dapat obat yang dibungkus kertas, dan isinya setengah mati pahitnya? Itulah pulveres.

Sumber: intranet.tdmu.edu.te.ua
Sumber: intranet.tdmu.edu.te.ua

Sediaan kedua yang menjadi garapan adalah Pulvis. Ini juga nggak ada kaitannya sama polis asuransi. Dan tentu saja bukan sejenis sama gulai pakis. Paling gampang menyebut pulvis ini kalau sudah menyebut bedak. Iya, bedak yang ditaburkan pada ketek karena baunya menggoda iman, itu adalah pulvis.

Sediaan terakhir yang menjadi pelengkap penderita saya adalah Capsulae. Ini pasti lebih familiar, karena nama Indonesia-nya sering diperdengarkan. Iya, kapsul. Sediaan obat yang sebenarnya berupa serbuk, tapi dibungkus oleh dua cangkang kapsul yang biasanya berwarna warni dan dibuat dari gelatin.

Benang merah dari tiga derita hari ini adalah mencampur serbuk. Ya kali gampang cuma tinggal kayak ngaduk tepung terigu sama gula kan?

Saya lempar mortir kalau sampai ada yang bilang gitu.

Masalah pertama sudah jelas, menimbang bahan. Seperti saya bilang tadi, timbangannya adalah lambang pengadilan, jadi benar-benar butuh keseimbangan. Misalkan kita hendak menimbang 100 gram laktosa, kan nggak mungkin kita naruh laktosa langsung di atas timbangan? Jadi kita taruh dulu wadah untuk meletakkan laktosa di sisi kanan. Nah, itu timbangan otomatis serong ke kanan dong? Maka saya harus menambahkan butir-butir besi yang beratnya sama dengan si wadah agar timbangan itu seimbang.

Sesudah seimbang, baru deh saya meletakkan anak timbang 100 gram di sisi kiri, lalu kemudian mengisi wadah dengan laktosa sampai timbangan itu seimbang kembali, kiri dan kanan.

Ngomongnya gampang banget. Giliran lagi nimbang, adanya gemes tingkat kotamadya. Bagaimana nggak gemes ketika kita dikejar waktu, sementara timbangan itu masih saja menggalau dengan tidak mau seimbang? Itu kalau yang ditimbang satu macam serbuk, berhubung ini 3 bentuk sediaan, maka setidaknya ada 9 jenis serbuk yang harus ditimbang, tentunya dengan bobot yang berbeda-beda pula.

Yah, di era modern, menuang butir besi itu sudah digantikan dengan tulisan ‘TARE’ di timbangan digital. Saya segera berdoa agar logo pengadilan segera diganti dengan timbangan digital, siapa tahu menimbang jadi lebih cepat.

Serbuk-serbuk tadi lantas dicampur sesuai resepnya masing-masing, di dalam mortir yang ukurannya sesuai. Dan dasar pemula, saya salah memperkirakan ukuran mortir yang digunakan. Ini sama saja dengan mau makan bakso pakai mangkok soto kudus alias muatannya lebih gede dari wadahnya.

Ya sudah, tumpah-tumpahlah serbuk putih yang berisi campuran entah apa itu di atas meja praktikum. Meja saya sudah jauh lebih kotor daripada dapur restoran pinggir jalan. Apalagi kalau kemudian melihat ke mejanya Andrew di sebelah yang mulus tanpa serbuk sedikitpun di atas mejanya.

Tiga jam berlalu, dan pada akhirnya saya gagal menuntaskan Capsulae sesuai jumlah yang diinginkan. Pulveresnya sih jadi dengan lipatan kertas yang antah berantah. Hanya Pulvis yang agak beres karena toh tinggal mencampur sebagian besar serbuk bernama Talkum dengan Asam Salisilat, lalu masukin ke wadahnya. Si Capsulae? Saking groginya, tangan saya mengeluarkan keringat yang kemudian menempel manja di cangkang kapsul. Jadinya proses mengisi serbuk ke dalam cangkang kapsul menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan, bahkan lebih sulit dari move on.

Sudah dapat dipastikan bahwa praktikum perdana saya ini gagal total. Yang harus dilakukan sesudah praktikum ini adalah pergi ke jalan raya sambil garuk-garuk aspal tanda penyesalan yang mendalam. Tentunya harus dihentikan sebelum dinas perhubungan menangkap saya karena dianggap merusak fasilitas umum.

Nggak apa-apa, namanya juga pertama.

Satu-satunya hal yang menarik dari praktikum pertama ini adalah mulai cairnya hubungan dengan rekan-rekan satu kelompok praktikum. Maklum, habis lepas dari SMA masing-masing, masih pura-pura jaim, padahal hingga bertahun-tahun ke depan orang-orang inilah yang akan menyertai perjalanan pendidikan menjadi apoteker.

Next time better.

Seminggu yang Lalu

Baiklah. Saya gagal move on dari semua ini. Bahkan lebih gagal move on daripada Melody of Memory, yang mana kurang dari 10 jam sesudah turun panggung saya harus presentasi Kimia Medisinal tentang Furosemide. Juga lebih gagal move on daripada Konser Pamit KPS IV Unpar yang euforianya harus bertabrakan dengan Titrasi 2007 (colek Uut ^_^).

Gagal move on ini disponsori oleh kemajuan teknologi sih.

Iya. Seminggu semenjak turun dari panggung di TBY itu, media sosial buatan Mas Zuckerberg menjadi sarana foto-foto berseliweran. Belum lagi video yang beredar di Youtube, plus beberapa kicauan di burung biru. Belum lagi kalau baca blognya Mbak Linda dan blognya Bona. Apalagi ditunjang oleh pekan yang “mulus” dimana akhir bulan ini diwarnai oleh transaksi yang sudah pada kelar dan minim masalah. Jadilah, pikiran ini nggak bisa lepas dari Poelang Kampoeng.

Bentuk gagal move on yang paling jelas adalah ketika di kantor, sambil memandangi kotak dan angka itu, salah satu lubang telinga saya akan terhubung dengan speaker yang kontennya membunyikan lagu Hallelujah hasil unduhan dari Youtube 🙂 Gimana nggak mulyo itu seminggu full yang didengar cuma Hallelujah doang?

Saya hanya membayangkan, kalau tulisan di bawah ini nggak nongol di FB pada 13 Agustus 2012, apakah seminggu yang lalu itu akan terwujud?

:)

Tentu salut untuk ide dasarnya dari Mas-Mbak yang sudah nge-PSM di saat saya masih belum ngeh bunyiin Do itu gimana (sampai sekarang juga sih..). Karena tulisan inilah yang kemudian bergulir panjang, termasuk dengan sensus penduduk PSM CF yang membuat saya terkaget-kaget waktu mengkompilasinya. Keluarga ini adalah keluarga yang besar sekali.

Sebenarnya pengen banget ngabsen siapa aja sih yang ada di panggung dengan balutan ungu kemarin itu. Pengen banget semua detail dari sejarah ini terdokumentasi. Hmmm… Ini kepengenan karena gagal move on sepertinya.

Ya sudah. Mari kita melanjutkan hidup! 😀

Feel Their Happiness

Baru sadar, sudah lebih dari 6 bulan nggak mengupdate cerita soal Dolanz-Dolanz. Uhuk. Rencana saya sih, tulisan ini akan jadi kompilasi yang menarik jika sebelumnya saya sudah jadi penulis yang terkenal. Dan pada akhirnya teman-teman saya yang gokil-gokil itu akan jadi terkenal juga. Sayangnya, sampai hari ini pageview saya ya masuk 100-an aja per hari.

Kapan terkenalnya?

Ya sudah. Populer tentu saja bukan tujuan. Tapi berkarya adalah keharusan. Bukan begitu?

Jadi, mari kita teruskan.

* * *

Hidup itu kadang runyam ya. Makin runyam lagi urusan perlelakian di sesama dolaners. Selain Bona yang terus bertahan menerjang badai lautan bersama kekasihnya sejak SMA, dolaners lelaki yang lain adalah peserta penggalauan massal yang digelar secara rutin oleh yang lainnya.

Dan tentu saja termasuk aku.

Tapi penggalauan itu bisa jadi nggak runyam, ketika satu persatu kabar gembira muncul. Yah, kabar gembira buat anak kuliahan selain jam kosong adalah…

teman punya pacar.

Ketika akhirnya teman sepergalauan itu punya pacar, rasanya sudah ikut senang. Walaupun aku masih juga tidak punya pacar. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan teman menggalau ria sambil nonton bokep yang di-fast forward. Nah, berikut beberapa kisahnya, dan mohon maaf kalau akan terlalu banyak melibatkan Chiko. Iya, dia yang paling playboy soalnya.

Playboy kok galauan?

Chiko – Eka

Ini berita yang sifatnya syahdan. Apalagi Eka itu kakak kelas, dan aku sudah mengenalnya sejak aku masih SMA. Kabar kabur sudah muncul sesudah perhelatan Pharmacy Performance yang merupakan embrio terbentuknya UKF Dolanz-Dolanz.

Dan sebagai anak yang masih polos, aku tidak terlalu paham bahwa Chiko dan orang yang aku panggil Mbak Eka itu sudah dekat. Lah manggil Mbak soalnya kakak kelas. Iya to?

Begitu mendengar kabar kalau Chiko jadian sama Eka, perasaannya sih, “ohhh…”

Dan berhubung UKF Dolanz-Dolanz belum terbentuk, perasaan ikut bahagianya masih sedikit. Belum kelihatan, kayak mukaku.

Chiko (lagi) – Tina

Baiklah, untuk sebuah sebab musabab yang akupun tidak mengerti apa, Chiko putus sama Eka. Dan seiring dengan rencana perhelatan besar dolaners, maka tertiup kabar yang oye, Chiko sepertinya sedang dekat sama Tina.

Perhelatan besar ini adalah silaturahmi ke Pantai Ngobaran, season 2. Setelah season 1 yang agak kurang sukses, namun kemudian sukses menjadi momen berdirinya UKF Dolanz-Dolanz. Disebut besar karena direncanakan dengan lebih matang, dan dengan peserta yang jauh lebih banyak. Dua kali lipat rasanya.

“Kowe karo sopo, Ko?”

Pertanyaan mendasar ini, karena di petualangan sebelumnya Chiko memboncengkan Mami Aya, sekaligus sebagai korlap, koordinator ngelap. Perlu ditanyakan karena Tina juga termasuk angkatan kita, jadi siapa tahu hendak turut.

“Bonceng Tina, lah.”

“Lah uwis jadian po?”

Dan playboy itu diam seribu bahasa. Oke, baiklah. Nanti juga ketahuan.

Chiko pada akhirnya membawa Tina di perjalanan 70 kilometer ke selatan, yang bukan dilakukan untuk mencari kitab suci. Di perjalanan menggunakan sepeda motor yang kalau nggak salah namanya Gita itu, dolaners silih berganti menguntit kebersamaan dua sejoli itu.

“Eh, lah uwis jadian po?”

Bisik-bisik terjadi di pasukan sepeda motor di belakang Chiko-Tina.

“Lha mboh.”

“Nek uwis, kok ora dipeluk?”

Kala itu harga bensin masih di bawah 4.500, jadi wajar kalau anak mudanya beda kayak sekarang. Sekarang mah pacar juga bukan, tetap aja main peluk-pelukan.

“Ngko wae takon.”

Informasi sudah jadian itu ternyata dimiliki beberapa orang di dalam rombongan, namun memang belum tersebar luas. Dan pemandangan 70 kilometer pp tadi, plus adegan di pantai akhirnya membongkar fakta tersebut.

Cihuy, turut bergembira. Bahkan turut nggarapi di pantai. Fotonya? Ada. :p

Bayu – Putri

Sejujurnya hubungan Bayu dan Putri ini termasuk absurd tingkat kotamadya. Bayu temanku SMA, Putri temanku waktu ospek fakultas. Dan sebagai rangkaian dari proyek gagalku mencari pacar yang adalah temannya Putri, maka ditemukan efek samping yang lebih poten. Putri ternyata suka sama Bayu.

Ini juga cihuy. Proyek yang menarik. Apalagi melihat bahwa Bayu ini tampaknya belum suka wanita. Waduh. Padahal, kurang apa dia? Tampang lumayan, nyaingi si Chiko deh. Otak? Jelas ada. Saking adanya, Bayu bisa tidur sepanjang kuliah namun kemudian ketika bangun bisa melontarkan pertanyaan yang relevan dengan kuliah yang disampaikan sepanjang dia tidur tadi. Bahkan beberapa kali pertanyannya dapat pujian dari dosen.

Entah bagaimana ihwalnya, sampai kemudian Bayu yang nggak suka sama Putri, terus kemudian bisa dekat, teruusss, teruuuusss, dan teruussss sampai terdengar kabar bahwa mereka sudah jadian.

Sebagai salah satu pelopor-ingat, dia efek samping proyekku yang gagal-tentu saja aku ikut senang!

Roman – Adel

Nah ini, termasuk yang menjadi catatan turut senang milikku. Adel adalah korban yang berhasil aku gaet untuk kuliah di Farmasi. Dia teman agak lama, ketemunya waktu sama-sama ikut sanggar menulis yang sukses untuk gagal menelurkan buku. Ealah.

Roman sendiri adalah salah satu tempat peraduan untuk berteduh, selain kosannya Toni. Kebetulan nih, Adel sering SMS-an sama aku dan sebenarnya bilang kalau dia nge-fans sama Toni dengan rambut gondrongnya yang penuh dilema.

Tapi mungkin peletnya Roman lebih kuat, mereka kemudian bisa janjian. Sebuah janjian yang monumental, di tempat gorengan. Sepuluh meter dari kamar Roman.

Aku dan Bayu sempat membuka-buka HP Roman sesudah itu, maklum jaman itu belum ada smartphone, jadi semuanya phone masih bisa dibodohi, termasuk untuk dibuka-buka SMS-nya. Jadi deh kami tahu bahwa Roman dan Adel janjian di gorengan.

Dan persis ketika Dolaners plus-plus melakukan perjalanan ke Sri Ningsih, Roman dan Adel ikutan berangkat. Tanpa perlu disimpulkan, itu namanya sudah jadian.

Lah, kok bisa-bisanya Adel pindah kiblat dari Toni ke Roman? Mboh. Sebagai teman main dan teman lama, ikut senang juga pastinya.

Riono alias Richard – Riana

Sesungguhnya ya, kata orang Jerman, witing tresno jalaran soko kulino dan sesekali dapat diterjemahkan menjadi witing tresno jalaran soko ora ono sik lio, dan sekali-kali juga dapat menjadi witing tresno jalaran soko telo (emang e getuk?). Dan pepatah warga Jerman tadi dipakai banget oleh Richard untuk mendapatkan Riana.

Pendekatannya sih sudah dari awal. Ibarat kata sudah ditakdirkan oleh yang berkuasa di Biro Akademik. Riana punya nomor mahasiswa 87 dan Richard 88. Namanya juga mahasiswa, jadilah mereka selalu bersama, dalam suka dan duka, dalam kelompok apapun yang dibagi berdasarkan nomor absen. Hore!

Tapi momen mereka jadian sedikit lenyap karena Dolaners sibuk bekerja di berbagai tempat karena gempa. Aku di Bethesda, lanjut ke JRS. Roman dan Adel banyak di Bantul, demikian juga Bayu plus Putri. Oya, pada periode ini Bayu dan Putri sudah menjadi mantan kekasih, dengan realita yang miris. Kalau dulu Putri ngebet sama Bayu sekarang kebalikannya. Seandainya mereka saling ngebet pada saat yang sama.

Kabar kabur mulai terasa sesudah masuk lagi demi menyelesaikan ujian. Dan memang Riono dan Riana sudah menjadi sejoli pada periode menjadi relawan gempa.

Somebody said, “berkah gempa.”

Meski aku kurang setuju dengan istilah itu, ya sudahlah. Ikut senang! Senang melulu, aku kok nggak jadian-jadian ya?

Nasib.

Toni – Tini

Aku dan Toni kebetulan sekelas, dan di kelas anak Klinis, lelaki adalah manusia yang sama langkanya dengan Panda di dunia. Plus, entah darimana pula ada ide terkutuk untuk lomba Pom-Pom Boys se-farmasi. Huaaaa…

Mau nggak mau, aku, Toni, dan beberapa lelaki yang ada terpaksa terjun payung, termasuk menerjunkan tingkat kemaluan ke level terbawah untuk mewakili kelas Klinis ini.

Persiapan.. Persiapan.. Akuakuakuakua.. Mijonmijonmijon..

“Aku isin cah.”

“Aku yo iyo.”

“Lha aku ora po?”

Begitulah. Lelaki pun bisa malu, apalagi disuruh Pom-Pom Boys.

“Nek aku jomblo selamanya, kowe-kowe kudu tanggung jawab,” ujar Toni.

“Matamu,” timpal yang lain.

Pergelaran itu akhirnya berlalu juga, tentunya dengan sedikit meninggalkan kemaluan yang tersisa. Ya sudahlah, semoga adek-adek yang saya asisteni tidak melihat aib yang terjadi tersebut. Maluk euy.

Itu hari Kamis.

Seninnya, aku datang ke kosnya Toni. Dan karena sudah menganggap kos Toni adalah milik sendiri–sama halnya dengan Dolaners yang lain–maka aku langsung melihat di depan pintu yang terbuka itu ada…

sandal wanita.

Tercekatlah aku di depan pintu, begitu melihat Tini ada disana lagi ngobrol sam Toni. Sambil mengeluarkan flashdisk, aku melangkah mundur, lalu pura-pura menyapa Bambang di kamar sebelah.

Yah, teman yang nomor mahasiswanya denganku ibarat Riono-Riana itu sudah punya pacar juga. Ikut senang. Hore. Hore.

*menangis pilu dalam hati*

Bayu – Putri (season 2)

Hari terakhir ngampus. Akhirnya! Dan keesokan harinya aku hendak pulang kampung ke kampung yang sudah tidak pernah aku injak sejak aku jadi mahasiswa. Gile ya, toyib sekali aku ini.

Di hari terakhir ini, aku masih bertemu Chica dan Bayu di kampus. Maka ngobrollah kami di tangga depan hall kampus.

Dan si Chica yang polos habis, dan cenderung oon, tapi kalau kuliah pinter ini tanpa tedeng aling-aling bertanya ke Bayu, “Wis jadian urung karo Putri?”

Memang, beberapa pekan belakangan, mereka tampak akrab kembali. Sebuah petualangan 1 tahun yang keren sekali. Ya meskipun aku sudah menangkap perubahan pesat dalam diri Putri, yang kemudian sedikit menjauhkanku darinya. Selain tentunya karena nggak ada proyekan lagi gitu.

“Uwis,” jawab Bayu sambil cengegesan.

Haiyah! Ada pula pacaran season 2 selang setahun? Cinta memang gila, segila cinta fitri yang berseason-season itu. Meski sudah nggak setuju. Turut senang deh.

Yama – Lia

Boleh baca kisah Dolaners yang lain untuk tahu seberapa strategis posisi Yama di UKF Dolanz-Dolanz. Dan ketika dia kemudian termasuk jomblo, maka itu juga jadi isu. Apalagi umurnya waktu itu sudah mau 22 tahun.

Tapi ya, walaupun tampangnya begitu, yang ngefans yang tetap saja ada. Heran saya. Pesonanya sungguh luar biasa.

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian Chiko memberi kabar padaku di akhir bulan Januari itu, bahwa Yama sudah jadian sama Lia! Oya, Lia ini teman satu kosnya Adel.

Weitz!

“Percoyo ora kowe?” tanya Chiko

“Sakjane ora sih.”

“Aku yo ora. Tapi kuwi tenan.”

Dan bagian terbaik dari semua itu adalah ketika Chiko mendeskripsikan semua detail penembakan yang kemudian membawa kita sampai pada kesimpulan:

ORA YAMA BANGET! TAPI KUWI TENAN!

Well, muka dan keseharian tidak mencerminkan keromantisan rupanya.

Dan beberapa hari kemudian, Chiko datang ke kosan Roman, melingkari sebuah tanggal di kalender, dan bilang:

“Aku wis nembak. Tapi njawab e tak kon sebulan meneh. Ben mikir.”

Chiko (lagi-lagi dia) – Irin

Bahwa kisah pahit ternyata tidak mengendurkan apapun, kalau sudah cinta. Mau tahu pahitnya semacam apa? Klik aja disini.

Ya, dengan kepahitan yang macam itu, Chiko kemudian tetap dekat-mendekat-lebih dekat, dan akhirnya menembak (dor!) Irin. Waktu ditembak ini, si Irin sudah jomblo sih, jadi ya wajar saja.

Fiuh.

Mau jadi apa kowe, Ko?

Ya gitu deh, kalau sudah sama-sama dewasa. Your own risk. 🙂

Dan persis 1 bulan sesudah Yama dan Lia diproklamirkan, due date yang dipasang Chiko tadi terlewati. Jawaban diterima, dan mereka jadian.

Ikut senang! Ikut senang! Meski dalam hati tetap bertanya-tanya. Kok ya bisa sih?

*catatan: di sela-sela Yama – Lia dan Chiko – Irin, aku jadian, sebentar sih.. tapi lumayan sempat nyari kado bareng Yama di Mirota Kampus plus ketahuan Roman-Adel di perempatan Concat*

Chiko (masih ini anak! edan!) – Cintia

Nyatanya Chiko juga nggak awer sama si Irin. Maka kembalilah dia menjadi petualang cinta. Dan edannya, sesudah dia putus di Lotek, langsung pamer ke aku sekaligus meminta nomor HP target selanjutnya.

Dasar lelaki! Untuk aku tidak suka lelaki!

Aku memberikan 2 nomor kala itu. Cintia dan Marin. Yang Marin tidak direkomendasikan karena toh dia pacarnya temanku. Gile ape?

Dan melalui proses silent operations tahu-tahu 1 September alias hanya beberapa bulan sesudah permintaan nomor HP itu, Chiko sudah jadian sama Cintia.

Sumpah, dalam hal mencari pacar, makhluk ini memang perlu disembah, terus dibanting. Begitu.

*Catatan: sebulan sesudah Chiko jadian, lewat proses yang juga silent operations, aku bisa jadian juga. Fiuh.*

Bayu – Clara

Beberapa bulan sebelum aku lulus dan Dolaners menjadi semakin seret untuk ketemu, Bayu mulai menebar tanya soal seorang wanita. Nggak jauh-jauh sih. Adek kelas, yang sengit-nya minta ampun sama dia. Terbukti waktu jadi panitia, dan tahu sendiri pemikirannya Bayu itu antah berantah, banyak dilawan oleh adek kelas, termasuk Clara.

Sambil sesekali rapat SC, Bayu bilang kalau Clara itu lumayan.

Ehm.

Padahalnya di SC itu juga ada Dita yang sohibnya Clara banget. Kok ya nggak bilang sama Dita aja? Malah sama aku? Nanti kan repot. *apa coba?*

Iseng deh, waktu ketemu Clara, aku menitipkan salam. Dan tentu saja responnya sengit. Iya, mereka sempat debat terbuka waktu rapat panitia yang mana Bayu SC-nya dan Clara salah satu OC.

Tapi siapa sangka?

Sengit itu lama-lama juga bisa nyerempet jadi cinta loh.

Isu beredar ketika salah seorang OC, adek kelas, laporan mendapati Bayu dan Clara pergi berdua di suatu hari Minggu dalam rangka bertemu Tuhan. Kedok religi adalah mekanisme paling mendasar dalam PDKT terhadap wanita, khususnya anak Dolaners. Percayalah!

Isu itu berkembang seminggu lamanya sampai kemudian aku dan pacar pergi bertemu Tuhan dan tidak sengaja melihat sebuah objek menarik hanya 4 meter di depan kami. Iyah, Bayu dan Clara duduk berduaan, sebelahan.

Nah.. Nah.. Nah..

Aku yang sudah resmi tentu nggak masalah dengan itu, nah mereka? Pasti ini ada apa-apanya.

Keesokan harinya terkuaklah fakta itu. Bayu akhirnya jadian sama Clara, persis sesudah momen aku nge-gap mereka. Dan ironisnya, bahkan jadian saja pakai bawa-bawa namaku. Kira-kira begini:

“Eh, kata si Goz kita digosipin loh.”

“Iya ya?”

“Iya. Lha gimana?”

“Gimana apanya?”

“Apa dijadiin beneran aja, biar nggak jadi gosip?”

PLAKKKK!!!!

Lu kate gue bigos?

Ah, ya sudahlah, turut bangga saja namaku dibawa dalam proses penembakan.

* * *

Begitulah beberapa kisah mendapati teman jadian. Sejatinya, aku merindukan saat-saat itu. Tapi sekarang adanya mereka sudah pada nikah. Jadi nggak mungkin kan ada kabar macam itu lagi? Yang ada kabar bahwa Clara melahirkan, lah itu baru masuk akal. Hehehehehehehe….

Ada Yang Tertinggal di Jogja

Tadi pagi bangun jam setengah 6, seperti biasa. Tapi agak aneh juga, ketika saya mencoba tidur lagi adanya malah gagal. Aneh karena seharusnya waktu tidur saya akan menjadi sangat panjang mengingat hari-hari yang baru saja saya lalui.

Ini dia hari-hari itu.

Kamis, 20 Juni

Seperti biasa, ya kerja. Pagi-pagi ada receiving cacing, lanjut siang sampai sore beres-beres WO untuk produksi minggu depan, harus kelar hari itu karena besoknya saya mau cuti. Dan nyaris tenggo, saya pulang lalu packing dengan tas baru (hehehehehe…).

Makan mie sebentar, ehm agak lama sih gara-gara yang bikin mie yang punya warung–eksmud bank yang umurnya 26 dan buka warung (tertampar…plakkk..). Lalu jam 7 cabut ke penitipan motor Bang Iwan.

Semuanya masih tampak baik-baik saja hingga di pool bis Lorena, jadwalnya jam 8 dan biasanya nih dari dua pengalaman sebelumnya, bis ini cukup ontime. Nyatanya? Jam 9 mau setengah 10 baru nongol.

Bis berjalan, dan disinilah saya akan menjalani petualangan unik 18 jam 🙂

Jumat, 21 Juni

Dimulai dari rumah makan di Pamanukan, persis pada saat pergantian hari. Mulai dari si Andreas bule Austria yang entah kenapa kok naik bis, yang komplain soal AC, saya malah jadi banyak ngobrol sama dia. Soal si Andreas ini saya akan kisahkan dalam posting terpisah deh.

Sekeluarnya dari restoran, eh sudah macet aja. Si pak supir langsung putar arah dan kemudian melewati Subang dan seterusnya sampai kemudian saya bangun sekitar jam 5. Termasur rekor bahwa saya bisa tidur di bis untuk durasi hampir 4 jam tanpa terbangun.

Dan saya baru ngeh, kalau di matahari terbit gini masih lewat Brebes, sampai Jogja-nya KAPAN???

Dan jadilah. Dari estimasi saya sampai Jogja jam 9, atau mentok-mentoknya 12, saya sampai Terminal Giwangan jam 3 sore. Langsung ngojek ke Taman Budaya dengan 20.000 rupiah. Berhubung di Cikarang 20.000 itu cuma dapat Jababeka-CTC, jadi ya saya ambil saja deal itu.

Sekitar setengah 4 saya akhirnya bergabung dengan penyanyi lain di Panggung Poelang Kampoeng yang lagi GR. Dan GR terus berlangsung sampai pukul setengah 11 (kira-kira). Dan bekal saya hanya gorengan di Brebes seharga 5000 rupiah sebelum akhirnya makan jam 8-an malam.

Dan saya kuat lho saudara-saudara. Hehehe.

Pulang jam 11-an, saya balikin si Cici dulu ke Paingan lalu rencananya mau ke kos si Dani. Eh, malah disuruh cari hotel sama curut yang satu itu. Ya sudah, akhirnya ambil hotel deh di dekat-dekat situ, untungnya masih dapat. Sambil setting-setting OFM dll, saya baru tidur jam 2 di hari Sabtu. Total waktu tidur saya di hari itu, ya hanya 4 jam. Mungkin tambah sisa-sisa di perjalanan ke Jogja, ya bisa 5 jam deh.

Sabtu, 22 Juni

THE DAY! YEAH! Dan saya belum hafal lagunya! Yeah lagi!

Saya bangun jam 6. Jadi ya tidurnya 4 jam kira-kira. Sarapan dulu, terus mandi-mandi tanpa kembang, lalu cabut dari hotel jam setengah 9 ke Stasiun Tugu buat nukerin tiket. Jam setengah 10-nya saya ke kos si Dani bareng-bareng mau terima raport.

Jadi wali murid lagi euy. Hahaha. Sesudah dulu saya jadi wali murid unyu di usia 18 tahun. Delapan tahun kemudian, ya saya ikut rapotan lagi. Dan seperti biasa, banyak hal-hal yang disampaikan dan sebenarnya malas untuk saya dengarkan. Saya lebih fokus menghafal Cantate Domino -____-;

Rapotan berlangsung sampai kira-kira jam 1. Dan si Dani minta makan pulak. Ampun dah! Ya ladeni dulu. Akhirnya saya sampai di TBY jam 2 kurang dan lantas make up sesudah sedikit mengeringkan keringat yang bercucuran. Cur…cur..cur..

Make up-cek panggung-ganti baju-pemanasan-lalu show. Hebring dah. Walau memang ini tidak penuh seperti konser CF yang lainnya, tapi tetap saja bikin hepi.

Sesudah bla-bla-bla, saya minggat jam setengah 1. Ke kosnya Dani lagi, lalu mengikuti kehendaknya untuk makan McD. Kasihan, orang susah, ya dibeliin dah. Balik lagi jam 2, persis ketika kick off Italia-Brazil.

Saya kemudian tidur, dan bangun lagi pas evaluasi pertandingan, kira-kira jam 4. Jadi saya tidur selama 2 jam. Hore!

Minggu, 23 Juni

Pagi jam 6 sudah cabut ke Paingan, jemput Cici dengan muka kantuknya. Lalu ke Tugu untuk kembali ke ibu tiri. Ibukota kan Jakarta, lah Cikarang anggap saja Ibu Tiri.

Persis 7.15, kereta Fajar Utama meluncur ke barat. Dan dengan niat kukuh saya pengen tidur. Tapi nyatanya, ya nggak tidur-tidur juga. Hamparan sawah hijau bikin nggak bisa tidur karena isinya mirip lagu Nusantara. Hahahahaha.

Mungkin saya hanya tidur 1 jam sepanjang jalan itu. Dan tentunya nggak bisa tidur juga dengan taksi dan bis Jababeka yang membawa saya beneran kembali ke Cikarang.

Begitu sampai, pengen tidur, ya nggak bisa juga. Akhirnya malah makan di Saung Air. Kelar jam 9, baru deh saya pulang dan tidur.

Fiuh. Dari Kamis malam ke hari ini yang mana seharusnya waktu tidur normal adalah 32 jam, saya hanya tidur 5  tambah 4 tambah 2 tambah 8 alias 19 jam. Artinya masih ngutang setengah hari. Entahlah, mungkin panggung terlalu mengeuforia sampai kemudian untuk tidur saja saya lupa. Hehehe..

Sungguh, itulah yang tertinggal di Jogja 🙂

Bapak Millennial