Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

Tristan

Kok ya mendadak saya ‘jatuh cinta’ dengan nama ini. Gara-garanya kemarin kenalan sama anak yang lucu bin imut. Seperti biasa, ditanya:

“Siapa namanya?”

“Isss.. Tan..”

“Hah? Setan?”

“Tristan.”

Anaknya–ya namanya juga anak-anak–nggak takut sama orang baru. Bisa gaul dengan cepat, dan tentu saja berlarian kesana kemari.

Dan kemudian saya jadi ingat nama striker Real Mallorca–kemudian Deportivo La Coruna–Diego Tristan Herrera. Ketika ada tim yang mendobrak kemapanan, maka saya suka, termasuk Super Depor-nya Tristan yang bisa mengusik El Clasico.

Yah, jadilah nama itu terngiang-ngiang. Dijadiin nama anak bagus kali ya?

Cuma masalahnya, belum ada emaknya ini.

Ternyata nama Tristan ini sangat terkait dengan sebuah kisah romantis bin pahit. *ealah, ujung-ujung e yo galau*

Romansa kisah cinta Tristan dijalin bersama Isolde (sumber lain menyebutkan Isolt). Kisah ini termasuk kisah jadul yang kesohor di kancah kesusasteraan Barat. Kisah Tristan sendiri dianggap didasari oleh mitologi Celtic Pursuit after Diarmand and Grainne, juga The Wooing of Emer. Di Yunani juga ada Theseus and Labyrinth, serta di Persia ada Wis and Ramin.

Karya awal yang menyangkut Tristan ini kira-kira adalah Tristan yang ditulis oleh Thomas (Inggris) dalam Anglo-Norman. Juga ada puisi Le Roman de Tristan yang digarap penyair Norman, serta Tristrant oleh orang Jerman Eilart von Oberg.

Disebutkan bahwa legenda soal Tristan memasukkan referensi legenda Raja Arthur. Jadi, perjalanannya nggak serta merta Tristan ini terkait dengan legenda Raja Arthur yang juga tidak kalah kesohor itu.

Salah satu versinya, seperti dikutip dari sini, bercerita sbb.

Tristan–yang terkadang disebut Tristram–adalah keponakan Raja Mark of Cornwall. Ada yang bilang bahwa Tristan merupakan saingannya Maya Hasan dalam main harpa *oke lupakan kalimat ngawur barusan*

Disebutkan bawa Raja Irlandia mengirim seorang jawara–setaraf Si Pitung–bernama Morholt. Tapi tugasnya Morholt ini untuk menuntuk upeti dari Cornwall. Kelanjutannya adalah duel Tristan vs Morholt. Tristan berhasil membunuh Morholt, tapi dia kenal racun yang ada di pedang Morholt. Suara-suara sekitar bilang bahwa di Irlandia ada seorang putri bernama Isolde yang ahli dalam penyembuhan. *sebut saja apoteker jaman King Arthur*

Tentu saja Tristan menyamar kesana. Gile aje sudah membunuh utusan Irlandia, lalu minta penyembuhan ke Irlandia tanpa menyamar. -___-

Setelah sembuh, Tristan kembali ke Cornwall dan memuji Isolde habis-habisan dan kemudian merekomendasikan Raja Mark untuk menikahi Isolde. Raja Mark setuju dan minta Tristan balik ke Irlandia untuk mendapatkan Isolde, demi sang raja.

Tristan, ketika sampai di Irlandia, mendapati kondisi bahwa Irlandia sedang diteror naga. *tuh kan ketahuan mitologinya*

Dengan kekuatan bulan, Tristan bisa membunuh naga itu. Dan pada saat yang sama, Isolde sadar bahwa Tristan inilah yang membunuh Morholt pamannya.

Catatan: di versi lain, disebutkan bahwa Isolde justru akan dijodohkan dengan Morholt, dan malah ‘senang’ dengan kematian Morholt. Juga di versi lain dibilang bahwa Tristan tidak datang tiba-tiba ke Irlandia, tapi hanyut dibawa perahu, dan ditemukan Isolde yang lagi galau karena disuruh kawin sama Morholt.

*sik bener sik ngendi mboh*

Ujung-ujungnya, Isolde berhasil dibawa oleh Tristan ke negaranya. Nah, nah, nah, jatuh cinta dimulai disini. kabarnya ibunya Isolde (di versi lain disebut bahwa ibu Isolde sudah mati jauh lebih awal), menyiapkan minuman ajaib agar Isolde berbagi ramuan dengan calon suaminya supaya mereka saling mencintai selamanya.

*boleee kakaaa ramuannyaaaa…*

Berikutnya adalah pertanyaan, “piye perasaanmu le?” terhadap Tristan yang harus melihat Isolde (yang dicintai dan mencintainya) harus nikah sama Mark, dan dia harus selalu ada disitu–namanya juga pegawai.

Dalam legenda 1200-an dikisahkan kaitan Tristan dengan legenda King Arthur. Disini pula muncul kontras Raja Mark yang awalnya pria terhormat, lantas digambarkan sebagai raja kejam dan pengecut.

Tristan kemudian meninggalkan negeri asalnya, lalu ke Britania dan menikah disana. Cuma, cinta dalam hatinya tetap untuk Isolde. Suatu kali ada pertempuran dan dikirim kembali ke Cornwall berharap bisa disembuhkan oleh apoteker masa jadul yang bernama Isolde.

Kisah berikutnya adalah Tristan nggak kuat berdiri karena kesakitan, dan bertanya ke istrinya, Isolde mau bantu nyembuhin apa nggak. Dasarnya istrinya cemburu (ah, dasar wanita), dia malah bilang nggak.

Karena galau, Tristan akhirnya meninggal. Tapi kemudian Isolde datang, dan begitu tahu Tristan meninggal, eh dia ikut meninggal juga.

Edisi meninggal dalam kesedihan ini semacam kisah di novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yah. Ckckck.

Begitu tahu kisahnya yang ini, kok jadi ngenes ya? Hehehe.

Cuma poinnya, kelihatan sekali bahwa Tristan ini adalah seorang ksatria, yang bahkan rela mengorbankan perasaannya sendiri. Aslinya sih ngenes, tapi termasuknya mulia kan ya.

Kalau mau informasi tambahan untuk kisah ini, ada webnya loh. Sila klik. Referensinya banyak dan beragam. Sumber yang tadi itu hanya salah satunya saja. Ada juga ulasan film-nya nih, boleh klik.

Yah, sebuah rasa penasaran pada sebuah nama membongkar kisah cinta yang (menurut saya) wagu, tapi tiadalah wagu dalam cinta. *tsahhhh*

Soalnya, kisah cinta berujung sama-sama mati itu nggak cuma Tristan.

Ada Romeo – Juliet (sama-sama mati minum racun)
Cleopatra -Mark Antony (mati karena bunuh diri gegara gosip nggak jelas)
Lancelot – Guinevere (nggak langsung mati sih, cuma keduanya selibat sampai matinya)
Paolo -Francesca (dibunuh sama kakaknya Paolo yang adalah suaminya Franceesca, ya iyalah, lagian selingkuh gitu.. hedeh..)
Thiebe – Pyramus (ini paling konyol, kan mereka janjian di taman, Thiebe ketemu singa yang habis makan, lalu sembunyi tapi selendangnya jatuh dan kebawa singa. Nah si singa ketemu Pyramus. Perpaduan mulut berdarah si singa dan selendang Thiebe bikin Pyramus malah bunuh diri. Lah piye to iki? Giliran Thiebe keluar dari sembunyi, dia liat Pyramus mati dengan pedang di dada, itu pedang dicabut lalu ditusuk sendiri).

Komentar terakhir saya, dasar cinta :p

Tentang Lovefacture (3)

Komentar dan masukan adalah aspek yang sangat berharga bagi seorang penulis, apapun itu baik atau buruk.

Ingat di awal-awal bahwa si Tere yang membaca dan membongkar siapa sih tokoh sebenarnya di balik Lovefacture. Alhamdulilah ini memang fiksi semata, jadi dikorek-korek gimana juga ya fiksi. Beda sama Alfa. Hehe.

Ingat juga ketika si Coco, nyaris tengah malam nge-whatsapp, berkomentar soal status Alex dan Bayu, berikut Grace dan Eta. Kalau sampai tahu, berarti baca. Dari situ saya senang juga.

Tentu lebih ingat lagi ketika si Tere (lagi) berkomentar soal alur yang agak sedikit janggal. Well, namanya kritik dan tidak dipuji itu teringat banget, apalagi buat si melankolis ini. Tapi itu oke, sudah saya catat untuk jadi masukan ketika hendak mengedit.

Lalu juga ketika Desti, yang namanya saya pinjam buat tokoh kasih komen kalau bab putusnya Alex dan Eta itu apik. Lha, putus ngono tok kok apik? Hehe. Terserah, itu kan komentar pembaca.

Barusan juga kang DP kasih komen apik pada Lovefacture. Sebuah komen yang mengingatkan saya bahwa sesudah menuntaskan bab 41, saya belum mengedit kompilasinya. *haduh*

Senangnya bahwa saya punya pembaca, apalagi pembaca yang dengan rela hati mentions, nge-FB, atau bahkan nge-whatsapp saya sekadar ngomongin cerita Lovefacture ini. Sesungguhnya, hal itu bermakna banyak buat saya.

*brb ngedit*

*deadline melanda*

😀

Tentang Lovefacture (2)

Senangnya melihat Lovefacture bisa tembus 50-an visit dalam sehari. Entah hari apa itu. Pokoknya menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi ketika ada yang masukin keyword Google lovefacture 31, atau lovefacture 35. Nggak nyangka judul ngawur saya ini akan ada yang nyari di Google. Yeah, walaupun itu pasti mereka yang ada di Twitter saya. Follower di Twitter hanya 200-an, dan memang posting Lovefacture hanya di Twitter, tidak di FB. Padahal di FB temannya 1000-an.. hehehe..

Mulai banyak pertanyaan, soal nama tokoh, atau siapa sih sebenarnya Alex, Bayu, Destia, dan Wilson. Mulai ada aja yang menyambung-nyambungkan. Nama sih pasti saya ambil dari nama orang di sekitar saya atau yang pernah saya temui. Alex jelas pakai nama saya–tapi bukan berarti tokoh itu saya kan? Bayu dari nama temen kos, Destia dari nama temen (pdhl adek kelas jauh banget), yang nama panjangnya sebenarnya juga ngambil nama temen kantor. Mau tahu nama panjangnya Destia di Lovefacture? Cari aja ya. Hehehe.. Juga Wilson, itu nama sepupu saya. Lalu Grace? Itu adalah nama yang dulu sering disebut di kos-kosan. Terus Eta? Itu nama perusahaan farmasi yang obatnya banyak nongol pas baksos. Nama lengkapnya mengacu ke nama seorang teman guru, yang juga blogger tapi blognya kok makbedunduk ilang. Terus, Rafa? Selain itu nama Pak RT di dekat kos, itu juga nama ex partner dari departemen pembelian. Ifa? Itu juga nama saudara saya, saudara jauuhhhh banget.

Bosen dong pakai nama yang ada di ‘Kebelet Kawin, Mak’ atau di ‘Radio Galau FM Fans Stories’. Kali-kali butuh refreshing. Hehehehehe…

Soal cerita, yang kenal saya pasti paham latar belakang saya dan memang settingnya adalah mixing dari kehidupan saya selama 4 tahun terakhir. Ingatnya setting tempatnya. Ada mess, ada cikarang, ada palembang, ada damri, ada bandara, ada jombor. Ya semacam itulah.

Tinggal 2 bab tersisa. Jangan lupa menantikan ending dari Lovefacture 🙂

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Pelaksanaan dan Penyelesaian Tindak Lanjut Audit

PENYELESAIAN AUDIT

Audit diselesaikan jika segala aktivitas audit yang direncanakan terlaksana, atau disetujui bersama dengan klien audit (contoh, mungkin ada situasi yang tidak diharapkan yang mencegah audit selesai dari rencana).

Dokumen untuk proses audit hendaknya disimpan atau dimusnahkan dengan persetujuan antara partisipan sesuai dengan prosedur program audit dan persyaratan lain yang relevan.

Kecuali tidak disyaratkan secara hukum, tim audit dan personel yang mengelola program audit hendaknya tidak membuka muatan dokumen, segala informasi lain yang diperoleh selama audit, atau juga laporan audit kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari klien audit atau jika perlu persetujuan auditee. Jika pemaparan itu dipersyaratkan, klien audit dan auditee hendaknya diinformasikan sesegera mungkin.

Pelajaran yang diperoleh dari audit hendaknya masuk ke dalam perbaikan berkelanjutan dari sistem manajemen organisasi yang diaudit.

PELAKSANAAN TINDAK LANJUT AUDIT

Laporan audit—tergantung tujuan auditnya—dapat mengindikasikan kebutuhan koreksi dan/atau korektif, pencegahan atau perbaikan. Beberapa tindakan umumnya diputuskan dan dilakukan oleh auditee di dalam rentang waktu yang disetujui. Jika dimungkinkan, auditee hendaknya tetap memberikan informasi status aksi kepada personel yang mengelola program audit dan tim audit.

Penyelesaian dan efektivitas tindakan hendaknya diverifikasi. Verifikasi dapat menjadi bagian dari audit berikutnya.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Persiapan dan Distribusi Laporan Audit

Persiapan Laporan Audit

Ketua tim audit hendaknya melaporkan hasil audit dalam tujuannya dengan kesesuaian terhadap program audit.

Laporan audit hendaknya menyediakan catatan audit yang lengkap, akurat, ringkas, dan jelas serta mencakup:

–       Tujuan audit

–       Ruang lingkup audit, khususnya identifikasi organisasi dan unit fungsional atau proses yang diaudit

–       Identifikasi klien audit

–       Identifikasi tim audit dan auditee  yang ikut serta di dalam audit

–       Tanggal dan lokasi proses audit dilakukan

–       Kriteria audit

–       Temuan audit dan bukti yang terkait

–       Kesimpulan audit

–       Pernyataan derajat pemenuhan terhadap kriteria audit

Laporan audit dapat mencakup atau mengacu hal berikut, sebagaimana diperlukan:

–       Rencana audit mencakup jadwal

–       Kesimpulan proses audit, termasuk segala rintangan yang menurunkan reliabilitas kesimpulan audit

–       Konfirmasi tujuan audit tercapai dengan ruang lingkup audit dalam kesesuaiannya dengan rencana audit

–       Segala area yang tidak tercakup dalam ruang lingkup audit

–       Kesimpulan yang mencakup kesimpulan audit dan temuan utama yang mendukung

–       Segala perbedaan pendapat yang tidak terselesaikan antara tim audit dan auditee

–       Peluang perbaikan, jika dispesifikkan dalam rencana audit

–       Praktek kesesuaian yang ditemukan

–       Tindak lanjut yang disetujui

–       Pernyataan kerahasiaan muatan audit

–       Segala implikasi terhadap program audit atau audit berikutnya

–       Daftar distribusi laporan audit

Laporan audit dapat dibuat sebelum closing meeting.

Distribusi Laporan Audit

Laporan audit hendaknya dikeluarkan dalam periode yang disetujui. Jika tertunda, alasan harus dikomunikasikan kepada auditee dan personel yang mengelola program audit. Laporan audit hendaknya memiliki tanggal, ditinjau, dan disetujui, sesuai dengan prosedur program audit.

Laporan audit hendaknya didistribusikan kepada penerima yang terdefinisi di dalam prosedur audit atau rencana audit.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Pelaksanaan Aktivitas Audit

Umum

Aktivitas audit secara normal mengikuti klausul ini, perbedaan dapat terjadi tergantung kondisi spesifik audit.

Pelaksanaan Opening Meeting

Tujuan opening meeting adalah untuk:

–       Melakukan konfirmasi persetujuan dengan seluruh pihak terhadap rencana audit

–       Pengenalan tim audit

–       Pemastian seluruh aktivitas audit yang direncanakan dapat dilaksanakan

Opening meeting hendaknya dilaksanakan dengan manajemen auditee dan jika perlu orang-orang yang bertanggung jawab dengan fungsi dan proses yang diaudit. Selama meeting, peluang untuk bertanya hendaknya disediakan.

Derajat detail hendaknya konsisten dengan fimiliaritas auditee dengan proses audit. Dalam organisasi tertentu, seperti internal audit di organisasi kecil, kpening meeting dapat dengan sederhana mencakup komunikasi audit yang hendak dilaksanakan dan menjelaskan proses audit.

Untuk situasi audit lainnya, meeting dapat dilakukan dengan formal dan catatan kehadiran harus disimpan. Meeting hendaknya dihelat oleh ketua tim audit, dan hal-hal berikut harus dipertimbangkan:

–       Pengenalan partisipan, mencakup observer dan pemandu, serta perannya

–       Konfirmasi tujuan audit, ruang lingkup, dan kriteria

–       Konfirmasi rencana audit dan segala pengaturan lain yang relevan dengan auditee, seperti tanggal dan waktu closing meeting, segala meeting interim antara tim audit dengan manajemen, dan segala perubahan yang terjadi belakangan

–       Presentasi metode yang digunakan untuk melaksanakan audit, mencakup pemberitahuan pada auditee bahwa bukti audit akan didasarkan pada sampel dari informasi yang tersedia

–       Pengenalan metode untuk mengelola resiko terhadap organisasi yang dimungkinkan terjadi oleh kehadiran tim audit

–       Konfirmasi jalur komunikasi formal antara tim audit dan auditee

–       Konfirmasi bahasa yang digunakan selama proses audit

–       Konfirmasi bahwa selama audit, auditee akan selalu mendapatkan informasi pada progess audit

–       Konfirmasi bahwa sumber daya dan fasilitas yang dibutuhkan oleh tim audit tersedia

–       Konfirmasi aspek terkait kerahasiaan dan keamanan informasi

–       Konfirmasi prosedur kesehatan, keamanan, tanggap darurat dan keamanan untuk tim audit

–       Informasi metode pelaporan temuan audit dan pemeringkatannya jika ada

–       Informasi tentang kondisi jika audit dihentikan

–       Informasi tentang closing meeting

–       Informasi tentang kesepakatan temuan selama proses audit

–       Informasi tentang segala sistem untuk umpan balik dari auditee pada temuan dan kesimpulan audit, mencakup komplain atau banding.

 

Pelaksanaan Tinjauan Dokumen Dalam Pelaksanaan Audit

Dokumentasi yang relevan dengan auditee hendaknya ditinjau untuk:

–       Mengetahui kesesuaian sistem, sejauh terdokumentasi, dengan kriteria audit

–       Mendapatkan informasi untuk mendukung aktivitas audit

Tinjauan dapat dikombinasi dengan aktivitas audit lainnya dan berlangsung selama audit, serta tidak mengganggu efektivitas proses audit.

Jika dokumentasi yang baik tidak bisa disediakan dalam rentang waktu yang diberikan pada rencana audit, ketua tim audit hendaknya menginformasikan kepada auditee dan personel yang mengelola program audit. Tergantung pada tujuan dan ruang lingkup, keputusan hendaknya dibuat apakah audit hendak dilanjutkan atau dihentikan sampai konsen dokumentasi ditangani dengan baik.

 

Komunikasi Selama Audit

Selama audit, penting untuk membuat pengaturan formal untuk komunikasi dengan tim audit, sebagaimana juga auditee, klien audit, dan juga dengan pihak eksternal, terutama jika persyaratan legal mensyaratkan pelaporan ketidaksesuaian.

Tim audit hendaknya berunding secara periodic untuk pertukaran informasi, penilaian program audit, dan penunjukkan tugas antara anggota tim, jika diperlukan.

Selama audit, ketua tim audit hendaknya melakukan komunikasi periodik selama audit dan segala konsen kepada auditee dan klien audit, jika diperlukan. Bukti yang dikumpulkan selama audit yang dapat memberikan dampak segera dan signifikan kepada auditee hendaknya dilaporkan tanpa jeda kepada auditee dan jika perlu kepada klien audit. Segala konsen tentang isu diluar ruang lingkup audit hendaknya dicatat dan dilaporkan kepada ketua tim, untuk komunikasi kepada klien audit dan auditee.

Jika bukti audit yang tersedia mengindikasikan tujuan audit tidak tercapai, ketua tim audit hendaknya lemaporkan alasan kepada klien audit dan auditee untuk menentukan langkah yang sesuai. Beberapa tindakan hendaknya mencakup rekonfirmasi atau modikasi rencana audit, perubahan tujuan audit atau ruang lingkup audit, atau juga penghentian audit.

Segala kebutuhan perubahan untuk rencana audit yang tampak jelas selama proses audit hendaknya ditinjau dan disetujui oleh orang yang mengelola program audit dan auditee.

 

Pemberian Peran dan Tanggung Jawab Pemandu dan Observer

Pemandu dan observer (cth: regulator atau pihak lain yang terkait) dapat bergabung dengan tim audit. Mereka hendaknya tidak memberi pengaruh pada pelaksanaan audit. Jika hal ini tidak bisa dijamin, ketua tim audit memiliki hak untuk mencegah observer ambil bagian dalam aktivitas audit terkait.

Bagi observer, segala hak yang berhubungan dengan kesehatan, keamanan, keselamatan, dan kerahasiaan hendaknya dikelola bersama klien audit dan auditee.

Pemandu, yang ditunjuk oleh auditee, hendaknya membantu tim audit dan bertindak sesuai dengan permintaan dari ketua tim audit. Tanggung jawab mereka mencakup:

  1. Membantu auditor untuk mengidentifikasi individu untuk ikut serta dalam interviewa dan konfirmasi waktu
  2. Mengatur akses ke lokasi spesifik
  3. Memastikan peraturan yang terkait dengan prosedur keselamatan dan keamanan lokasi telah diketahui dan dipatuhi oleh anggota tim audit dan observer

Peran dari pemandu juga dapat mencakup:

  1. Menyaksikan audit sebagai pihak auditee
  2. Menyediakan klarifikasi atau membantu dalam pengumpulan informasi

 

Pengumpulan Dan Verifikasi Informasi

Selama audit, informasi yang sesuai dengan tujuan audit, ruang lingkup dan kriteria, mencakup informasi terkait hubungan fungsi, aktivitas, dan proses hendaknya dikumpulkan dengan tujuan yang sesuai, serta diverifikasi. Hanya informasi yang dapat diverifikasi yang disetujui sebagai bukti audit. Bukti audit menjadi dasar untuk temuan audit yang didokumentasikan. Jika selama pengumpulan bukti, tim audit menjadi sadar akan adanya keadaan atau resiko baru atau berubah, hendaknya dikoordinasikan di dalam tim dengan segera.

 

 

Metode pengumpulan informasi mencakup:

–       Wawancara

–       Observasi

–       Peninjauan dokumen, mencakup catatan

 

Menghasilkan Temuan Audit

Bukti audit hendaknya dievaluasi terhadap kriteria audit dalam upaya mendapatkan temuan audit. Temuan audit dapat mengindikasikan kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan kriteria audit. Jika diminta spesifik di dalam rencana audit, temuan audit individual hendaknya mencakup kesesuaian dan praktek yang sudah baik dengan dukungan bukti, peluang perbaikan, dan rekomendasi lain kepada auditee.

Ketidaksesuaian dan bukti audit pendukung hendaknya dicatat. Ketidaksesuaian dapat diberi pemeringkatan. Hal itu kemudian ditinjau bersama auditee dalam rangka menemukan kesepahaman bahwa bukti audit akurat dan ketidaksesuaian dipahami. Setiap usaha hendaknya dibuat untuk menyelesaikan segala pendapat divergen terhadap bukti audit atau temuan audit, dan segala poin yang tidak sepaham harus direkam.

Tim audit hendaknya bertemu guna membahas temuan audit pada tahapan yang sesuai selama audit.

 

Mempersiapkan Kesimpulan Audit

Tim audit hendaknya bertemu sebelum closing meeting guna:

–       Meninjau temuan audit, dan segala informasi yang dikumpulkan selama audit, terhadap tujuan audit

–       Menyetujui kesimpulan audit, dengan memperhitungkan ketidakpastian yang melekat selama proses audit

–       Mempersiapkan rekomendasi, jika dispesifikkan oleh rencana audit

–       Diskusi tindak lanjut audit, jika dimungkinkan

Kesimpulan audit dapat membahas isu-isu berikut:

–       Ruang lingkup kesesuaian dengan kriteria audit dan kekuatan sistem manajemen, mencakup efektivitas sistem manajemen dalam memenuhi tujuan yang ditetapkan

–       Implementasi yang efektif, pemeliharaan dan perbaikan sistem manajemen

–       Kapabilitas dari proses tinjauan manajemen untuk memastikan kesesuaian, kecukupan, dan keefektifan serta perbaikan yang berkelanjutan terhadap sistem manajemen

–       Pencapaian tujuan audit, cakupan ruang lingkup audit, dan pemenuhan kriteria audit

–       Akar masalah temuan, jika dicakup dalam rencana audit

–       Temuan yang sama, yang terjadi di area berbeda guna identifikasi tren

Jika dispesifikkan oleh rencana audit, kesimpulan audit dapat menjadi rekomendasi perbaikan atau aktivitas audit di masa depan.

 

Pelaksanaan Closing Meeting

Closing meeting difasilitasi oleh ketua tim audit, hendaknya dilaksanakan untuk mempresentasikan temuan audit dan kesimpulan. Partisipan di dalam closing meeting hendaknya mencakup manajemen auditee, dan jika perlu, orang-orang yang bertanggung jawab secara fungsi atau proses yang diaudit, dan juga klien audit atau pihak lainnya. Jika dimungkinkan, ketua tim audit hendaknya memberitahu auditee situasi yang akan terjadi selama audit yang dapat menurunkan kepercayaan diri di dalam kesimpulan audit. Jika didefinsikan dalam sistem manajemen atau persetujuan dengan klien audit, partisipan hendaknya setuju pada rentang waktu yang ditetapkan untuk tindak lanjut temuan audit.

Derajat detail hendaknya konsisten dengan familiaritas auditee pada proses audit. Pada kondisi tertentu, meeting dapat formal dan catatannya disimpan. Di dalam kondisi khusus, misal internal audit, closing meeting bisa jadi tidak cukup formal dan dapat berisi komunikasi perihal temuan audit dan kesimpulan audit.

Jika dibutuhkan, hal-hal berikut hendaknya dijelaskan kepada auditee di dalam closing meeting:

–       Memberitahu bahwa bukti audit dikumpulkan berdasarkan sampel terhadap informasi yang tersedia

–       Metode pelaporan

–       Proses penanganan temuan audit dan konsekuensi yang ditimbulkan

–       Presentasi temuan audit dan kesimpulan  untuk dapat dimengerti dan disetujui bersama

–       Segala aktivitas sesudah audit yang relevan (implementasi CAPA, proses banding, penanganan keluhan audit, dll)

Segala opini berbeda terkait temuan audit hendaknya didisukusikan dan jika mungkin diselesaikan. Jika tidak selesai, hal itu juga harus didokumentasikan. Jika diminta oleh tujuan audit, rekomendasi untuk perbaikan juga dipresentasikan. Perlu ditekankan jika rekomendasi ini tidak mengikat.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Penugasan dan Persiapan Dokumen Kerja

PENUGASAN KERJA PADA TIM AUDIT

Ketua tim audit, dengan konsultasi bersama tim audit, hendaknya menugaskan kepada setiap anggota tim tanggung jawab untuk mengaudit proses, aktivitas, fungsi, atau lokasi yang spesifik. Setiap penugasan hendaknya menyangkut dengan independensi dan kompetensi auditor dan penggunaan sumber daya yang efektif, sesuai dengan peran berbeda dan tanggung jawab auditor, auditors-in-training, dan tenaga ahli.

Briefing tim audit hendaknya dilakukan oleh ketua tim audit untuk memberikan alokasi penogasan dan memutuskan perubahan yang mungkin. Perubahan pada penugasan kerja dapat dilaksanakan dalam proses audit guna memastikan ketercapaian tujuan audit.

 

PERSIAPAN DOKUMEN KERJA

Anggota tim audit hendaknya mengumpulkan dan meninjau informasi yang relevan dengan penugasan audit dan persiapan dokumen kerja, sesuai kebutuhan, untuk referensi dan untuk mencatat temuan audit. Dokumen yang harus dipersiapkan adalah:

–       Ceklist

–       Sampling plan untuk audit

–       Form untuk mencatat informasi, seperti halnya bukti pendukung, temuan audit, dan catatan rapat

Penggunaan ceklist dan form hendaknya tidak terbatas pada ruang lingkup aktivitas audit, yang dapat mengubah hasil informasi yang diperoleh selama audit.

Dokumen kerja, mencakup catatan yang dihasilkan dari penggunaan, hendaknya disimpan setidaknya sampai penyelesaian audit atau jika disebutkan spesifik dalam rencana audit. Retensi dokumen sesudah penyelesaian audit dideskripsikan dalam 6.6

Dokumen yang rahasia dan mengandung informasi khusus hendaknya disimpan dengan keamanan oleh anggota tim audit.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Mempersiapkan Aktivitas Audit

Melakukan Tinjauan Dokumen dalam Persiapan Audit

Dokumentasi yang sesuai untuk sistem manajemen hendaknya ditinjau guna:

–       Mendapatkan informasi untuk mempersipkan aktivitas audit dan dokumen kerja yang relevan, seperti proses dan fungsi

–       Membuat tinjauan terhadap ruang lingkup sistem dokumentasi untuk mendeteksi kesenjangan yang mungkin terjadi

Dokumentasi hendaknya mencakup, jika mungkin, dokumen dan catatan sistem manajemen, sebagai mana yang terdapat dalam laporan audit sebelumnya. Tinjauan dokumen hendaknya mencakup ukuran, kebiasaan, dan kompleksitas sistem manajemen dan organisasi yang ada pada auditee, serta terkait dengan tujuan dan ruang lingkupnya.

Mempersiapkan Rencana Audit

Ketua tim audit hendaknya mempersiapkan rencana audit berdasarkan informasi yang terdapat dalam program audit dan dokumentasi yang disediakan oleh auditee. Rencana audit hendaknya mempertimbangkan efek dari aktivitas audit terhadap proses auditee dan menyediakan dasar bagi persetujuan antara klien audit, tim audit, dan auditee terkait pelaksanaan audit. Rencana hendaknya memfasilitasi penjadwalan yang efisien dan koordinasi aktivitas audit dalam rangka mencapai tujuan secara efektif.

Jumlah dari detail yang disediakan dalam rencana audit hendaknya merefleksikan ruang lingkup dan kompleksitas audit, sebagaiamana efek ketidakpastian dalam pencapaian tujuan audit. Dalam mempersiapkan rencana audit, ketua tim audit hendaknya menaruh perhatian pada aspek-aspek:

–       Teknik sampling yang sesuai

–       Komposisi tim audit dan kompetensi kolektif

–       Resiko terhadap organisasi yang diciptakan oleh audit

Sebagai contoh, resiko organisasi sebagai akibat kehadiran tim audit dapat mempengaruhi kesehatan dan keamanan, lingkungan dan kualitas, serta kehadiran tersebut dapat menjadi ancaman bagi produk, servis, personel, maupun infrastruktur yang ada pada auditee (contoh: kontaminasi fasilitas ruang bersih).

Untuk audit kombinasi, perhatian penuh hendaknya diberikan pada interaksi antara proses operasional dan tujuan yang bersaing serta prioritas dari sistem manajemen yang berbeda.

 

Ukuran dan muatan rencana audit bisa berbeda, sebagai contoh, antara audit awal dan berikutnya, sebagaimana juga audit internal dan eksternal. Rencana audit hendaknya cukup fleksibel untuk memungkinkan perubahan yang bisa menjadi penting untuk kelangsungan aktivitas audit.

Rencana audit hendaknya mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Tujuan audit
  2. Ruang lingkup audit, mencakup identifikasi unit organisasi dan fungsional, sebagaimana proses yang diaudit
  3. Kriteria audit dan segala dokumen referensi
  4. Lokasi, tanggal, waktu dan durasi audit yang direncanakan, sesuai proses yang diaudit
  5. Metode audit yang digunakan, mencakup ruang lingkup sampling audit diperlukan untuk mendapatkan bukti audit yang sesuai dan juga rancangan sampling plan, jika diperlukan.
  6. Peran dan tanggung jawab anggota tim audit, sebagaimana pemandu dan observer
  7. Alokasi dari sumber daya yang sesuai untuk area kritis

Rencana audit hendaknya mencakup hal-hal berikut:

  1. Identifikasi perwakilan auditee untuk audit
  2. Bahasa kerja dan pelaporan untuk audit yang dilakukan dengan perbedaan bahasa auditor dan auditee
  3. Topik laporan audit
  4. Penatalaksanaan logistic dan komunikasi, mencakup pengaturan spesifik untuk lokasi yang diaudit
  5. Segala hal spesifik yang diperlukan untuk menanggulangi efek ketidakpastian pencapaian tujuan audit
  6. Hal-hal terkait kerahasiaan dan keamanan informasi
  7. Segala tindak lanjut dari audit sebelumnya
  8. Segala aktivitas untuk audit yang direncanakan
  9. Koordinasi dengan aktivitas audit lainnya, dalam kasus audit bersama

Rencana audit hendaknya ditinjau dan disetujui oleh klien audit, dan hendaknya dipresentasikan pada auditee. Segala keberatan oleh auditee pada rencana audit hendaknya diselesaikan antara ketua tim audit, auditee, dan klien audit.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

Tentang Lovefacture (1)

Bulan Desember lalu saya memulai proyek baru berjudul LOVEFACTURE. Sebuah proyek menulis yang saya buat blognya sendiri, jadi 1 blog isinya ceritanya doang. Dan sampai sekarang baru kelar 17 bab -___-”

Baru 17 bab? Iya, karena saya sadar ‘nafas’ saya yang pendek dalam bercerita, maka saya buat bab yang banyak dulu, untuk kemudian nanti diedit-edit lagi, kalau memang mau diperbaiki. Angka 17 ini bahkan belum setengahnya.

Ini mungkin proyek yang bisa dibilang paling rapi yang saya punya. Baru kali ini saya membuat outline dengan ‘sebegitunya’, semata-mata ingin hasil yang sempurna. Hanya saja, memang, pemilihan cara bercerita saya sungguh menimbulkan kelelahan. Terkadang saya menjadi delusional ketika menulis bab demi bab. Tentu saja karena pilihan sudut pandang yang saya ambil. Saya tahu itu sulit, tapi buat saya ini tantangan besar. Saya harus terus memaksa diri saya untuk push to the limit. HARUS!

Kalau luput agak lama, saya bahkan sampai lupa jalan dan bagaimana bercerita, maka saya kemudian harus baca ulang, juga tulis ulang. Dan saya amat yakin banyak yang belum sempurna dari proyek ini.

Satu hal, saya pernah dengar bahwa tulisan yang baik itu adalah tulisan yang SELESAI. Maka itu pula di blog ini mulai jarang cerpen, karena saya mencoba fokus di LOVEFACTURE dulu. Mohon doa agar proyek ini selesai, lalu bisa diedit, dan jika mungkin bisa menemukan rumahnya. Saya menulis posting ini semata-mata sedang lelah pasca penulis bab ke-17.

🙂

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Memulai Audit

Umum

Ketika audit dimulai, tanggung jawab untuk pelaksanaan audit tetap pada ketua tim yang telah ditunjuk sampai audit selesai. Untuk memulai audit, tahapan dalam klausul ini hendaknya dipertimbangkan, meskipun tahapan dapat berbeda tergantung auditee, proses, dan kondisi khusus dari audit.

Melaksanakan Hubungan Awal Dengan Auditee

Hubungan awal dengan auditee untuk pelaksanaan audit dapat dilakukan secara formal dan informal serta hendaknya dilaksanakan oleh ketua tim audit. Tujuan hubungan awal ini adalah:

–       Membuat komunikasi dengan perwakilan auditee

–       Konfirmasi otoritas untuk melaksanakan audit

–       Menyediakan informasi terkait tujuan audit, ruang lingkup, metode, komposisi tim audit, mencakup tenaga ahli

–       Permintaan akses terhadap dokumen yang sesudai guna kepentingan perencanaan

–       Mengetahui persyaratan yang legal dan kontrak serta lainnya yang sesuai dengan aktivitas dan produk auditee

–       Konfirmasi persetujuan auditee terkait ruang lingkup penyingkapan serta perlakuan terhadap informasi yang rahasia

–       Membuat pengaturan audit termasuk penjadwalannya

–       Mengetahui persyaratan spesifik lokasi untuk akses, keamanan, kesehatan, keamanan, dan lainnya

–       Persetujuan kehadiran obserber dan kebutuhan pemandu untuk tim audit

–       Mengetahui area yang terkait dalam hubungannya dengan audit yang spesifik

Menentukan Kelayakan Audit

Kelayakan audit hendaknya ditentukan untuk menghadirkan kepercayaan yang masuk akal bahwa tujuan audit dapat dicapai. Penetapan ini hendaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

–       Informasi yang cukup dan sesuai untuk perencanaan dan pelaksanaan audit

–       Kooperasi yang cukup dari auditee

–       Waktu dan sumber daya yang cukup untuk melaksanakan audit

Jika audit dinyatakan tidak layak, alternative hendaknya diajukan kepada klien audit, dengan persetujuan dengan auditee

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)