Tag Archives: hati

Pulang, Ke Hati Yang Bertuan

Aku pulang
setelah pencarian akan sebuah peraduan
setelah penyadaran akan sebuah kenyataan
setelah peringatan yang (mungkin) datang dari Tuhan

Aku pulang
setelah aku tidak menemukan tujuan
setelah aku tidak melihat masa depan
setelah aku tidak merasa nyaman

sumber: socialmediaforsmartpeople.com

Aku pulang
ke tempat yang masih sama
ke ruang yang tetap tiada
ke hati yang tetap tidak terbuka

Aku pulang
karena cinta memintaku pulang
karena hati ini merindu ruang
karena jiwa ini merasa sayang

Aku pulang
ya, aku pulang

Aku pulang
ke hati yang bertuan
ke hati penuh buncah kerinduan
ke hati pencari kesetiaan

Aku pulang
ke tempat yang tuannya bukan aku
ke tempat yang tidak merinduku
ke tempat yang tidak mencariku

Aku pulang
karena aku ingin pulang
karena aku masih berharap akan sebuah ruang
karena aku merasa menyerah sebelum berjuang

Aku pulang
untuk sebuah rasa yang tak terkatakan
pada sebuah hati yang jelas-jelas bertuan
demi sebuah rasa yang tak tertahankan

Aku pulang,
demi cinta.

Dalam sebuah permenungan, 030912

Menanti Hati

Hati itu..

Anang sudah menentukan hati
Lembu telah berucap dari hati
Andra malah sudah main hati
Dan aku masih menanti

Ketika nada-nada berpadu dalam hati
Hati yang menanti getir
Meratap galau menyusun rangkaian kata
Untuk kemudian, tergolek lemah kehilangan daya

Lantas apa yang aku nanti?

Aku tergolek disini bukan sekadar menanti
Aku meracau disini sambil berharap
Ketika ada ruang di tempat yang aku nanti
Sehingga aku bisa berdiam tenang disana

Masih adakah ruang disana?

Seuntai kata yang tercekat bahkan sekadar untuk diracaukan
Lemas..

Dan aku masih terdiam disini, menanti..

Hati itu..

Menyoal Helm

Pagi-pagi bangun,

(skip)

aku pergi ke bandara. Naik motor. Giliran sudah sampai di tempat yang agak joss buat ngebut, tiba-tiba ingat suatu fenomena, yang buatku cukup menarik.

Kalau nggak percaya, boleh dicoba.

Lakukan perjalanan membonceng dengan menggunakan helm standar. Lalu lakukan juga perjalanan yang sama dengan menggunakan helm ciduk, atau tidak pakai helm.

Memangnya kenapa?

Ya boleh dicoba dulu, tapi berdasarkan pengalaman, mengobrol dengan menggunakan helm standar lebih mudah, dan itu terjadi semata-mata karena telinga lebih mudah menangkap informasi yang disampaikan orang di belakang.

Agak unik menurutku, karena secara logika helm standar menutupi telinga kita, tapi kenapa bisa mendengar dengan lebih baik dibandingkan telinga yang tidak ditutup?

Sebenarnya sederhana saja, informasi suara itu berupa gelombang. Ketika telinga kita dibatasi, maka ada medium yang direduksi benar kemampuannya: udara. Jadi ketika informasi disampaikan, lubang kecil yang ada di sela-sela helm standar mampu menjadikan telinga kita fokus menangkap informasi yang ada. Bedakan saat telinga itu bersentuhan dengan udara bebas, maka telinga kita masih harus menghadapi udara dan segala gelombang lain yang terbawa olehnya. Which is mean informasi yang seharusnya bisa kita terima dengan mudah, jadi terhambat.

Well, poin yang menarik disini sebenarnya tak kalah simpelnya. Kala kita mendengar, ada baiknya kita fokus mendengarkan suara yang ingin kita dengar. Jangan sampai suara itu tertutupi oleh faktor luar yang menyebabkan pada akhirnya kita tidak mendapatkan informasi yang kita inginkan.

Anggaplah suara itu adalah suara hati.

Beranikah kita memakai helm standar, agar kita betul-betul mendengarnya dengan baik?

Demi hidup yang lebih baik, Semangat!! 🙂