Category Archives: Review

:)

Review: X-Men Apocalypse

xmenapocalypseimax-1

Sesudah menyaksikan manusia biasa dan manusia (?) dari Krypton berantem dalam Batman vs Superman, yang dilanjutkan dengan berantemnya Captain America dengan Iron Man, kini penikmat film disuguhi berantem dalam perspektif yang berbeda. Menyambung X-Men Days of Future Past yang bikin jaman terbolak-balik tak terhingga dan menghasilkan masa yang berbeda karena Wolverine berhasil kembali ke masa lalu untuk mengubah masa depan, maka kini muncul X-Men: Apocalypse yang meski tidak sewolak-walik jaman kayak film terdahulu, tetap saja bermain dengan periode waktu tertentu.

Kisah dimulai sekian ribu tahun sebelum masehi. En Sabah Nur (Oscar Isaac) hendak melakoni sebuah ritual untuk memperoleh kemampuan pemulihan diri ala Wolverine. Ritual dilaksanakan di piramida dengan mengandalkan sinar matahari. Apa daya, En Sabah Nur yang rupanya sudah melakukan banyak ritual sejenis dengan mengambil kemampuan dari banyak mutan lain itu malah dikhianati oleh beberapa manusia. Kemampuan itu berhasil diperolehnya, namun yang terjadi kemudian dia bobok panjang dalam reruntuhan piramida.

Klik disini untuk membaca selengkapnya!

20 Hal Tentang Ada Apa Dengan Cinta 2

aadc22

Bahkan perlu bantuan dari negara hingga akhirnya saya bisa nonton film yang so mainstream: Ada Apa Dengan Cinta 2. Iya, bantuan berupa uang harian sungguh mampu membuat saya membayar tiket bioskop plus tiket parkir di Taman Ismail Marzuki. Ah, duit dari negara, saya kembalikan Rp6.000 dalam bentuk uang parkir ke negara juga. Hidup Indonesia!

Sebagai penonton ke dua atau tiga atau malah empat juta sekian, tentu kurang pas jika saya harus menulis review tentang AADC 2 ini. Namun sebagai blogger nyaris bubrah, saya juga harus menulis karena WordAds saya menurun secara hore. Maka, saya mencoba menyajikan beberapa fakta unik yang mungkin baru kamu sadari, atau tidak kamu yakini kalau itu benar-benar ada sehingga kamu lantas mau nonton lagi, atau bahkan kamu yakini tidak ada dan saya hanya ngarang belaka.

Jadi, apa saja fakta-fakta unik itu? Monggo disimak hasil pengamatan saya sembari menahan cenut-cenut dampak kolesterol ketinggian hasil tujuh hari berturut-turut makan nasi Padang.

Selengkapnya tentang AADC2!

Make Up Pengantin Modern Jakarta

Setiap mempelai wanita menginginkan tampil cantik dan menawan pada hari pernikahannya. Banyak vendor make up artist (MUA) profesional yang memberikan berbagai paket penawaran yang menarik untuk rias pengantin. Tata rias wajah kini sudah berkembang dan semakin maju tidak hanya rias pengantin tradisional, namun sekarang sudah banyak yang menawarkan make up modern, salah satu studio make up pengantin modern Jakarta yang bisa menjadi referensi untuk make-up pengantin Anda adalah Virry Christiana – Makeup Artist Jakarta.

The Bride Make up Studio by Virry Christiana adalah salah satu dari sekian banyak make up artist Jakarta yang terpercaya dan berpengalaman. Berlokasi di Alam Sutera, Jakarta, Make up Studio by Virry Christiana ini banyak dicari oleh pasangan calon pengantin yang akan menikah dengan konsep pernikahan modern. Virry Christiana percaya bahwa setiap wanita itu cantik, dan polesan make up akan menonjolkan kecantikan yang lebih bagi setiap wanita. Bagi Virry Christiana setiap make up pengantin dengan sentuhan yang lembut akan membuat penampilan mempelai wanita lebih menarik dan menawan. The Bride Makeup Studio menawarkan make up pengantin yang dapat disesuaikan dengan setiap kebutuhan klien.

Make up bertujuan untuk membuat seseorang tampak lebih muda, fresh, dan kecantikannya akan terpancar. Riasan wajah bukan menjadikan seseorang terlihat seperti memakai topeng atau menjadi berlebihan. Virry Christiana pun mengerti bahwa untuk menghasilkan make up profesional yang cantik maka dibutuhkan produk kecantikan yang tepat pula. Di The Bride Makeup Studio hanya menggunakan produk make up yang berkualitas tinggi, seperti; Chanel, Makeup Forever, M.A.C, Estee Lauder, Givenchy, Urban Decay, dll. The Bride Make up Studio by Virry Christiana mementingkan kualitas dibandingkan kuantitas, maka dalam satu hari mereka hanya menerima satu klien make up dan memastikan mempelai pengantin secara detail mendapat perhatian yang layak dari awal hingga akhir acara pernikahan.

Selengkapnya!

Sedapnya Mi Aceh di Bendungan Hilir

SEDAPNYA MIE ACEH DI BENDUNGAN HILIR

Sejak Mbak Pacar resmi menjadi masyarakat Bendungan Hilir, sudah barang tentu saya jadi wira-wiri kesana dari Percetakan Negara. Bahkan saking romantisnya, saya pernah ke Benhil langsung dari Makassar. Semata-mata karena Jalangkote yang saya bawa kebanyakan dan perut luber saya tiada sanggup menampungnya sendirian.

Benhil jelas dikenal sebagai tempatnya makanan-makanan legendaris. Mau masakan Padang, mau gudeg, hingga ala-ala Sunda juga tersedia di sekitar Benhil. Dan salah satu yang sangat terkenal di Benhil adalah Rumah Makan Aceh Seulawah.

Berlokasi sekali naik bemo dari Pasar Benhil kalau mudah lelah kayak saya, dan tiada jauh benar dari Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, wong di depannya, tentu saja tempat ini terbilang mudah diakses oleh pecinta kuliner sepanjang jaman. Mi Aceh, sebagai panganan khas Aceh dan meng-Indonesia serta mendunia, adalah salah satu menu andalan di tempat ini. Berdiri sejak 1996–belum lama, berdirinya nggak selama Nyonya Meneer, jadi belum pegal–RM Seulawah adalah pelopor masakan Aceh di Jakarta. Kalau mau hikayat nan lebih jelas, sila datang saja dan baca deh copian koran lawas yang diperbesar dan dipajang di dinding.

Selengkapnya!

Makan Malam Romantis di Cassis Kitchen

GOUNELLE

Sebagai pemuda baik-baik, belum kawin, dan selalu menangis sekelarnya kencan di foodcourt mal mahal macam Grand Indonesia dan Plaza Senayan, makan mahal kiranya adalah sesuatu yang musykil buat saya. Tapi apa daya, saya diarahkan Tuhan untuk berkasih-kasihan dengan kekasih yang seleranya berkelas atas dan mumpuni. Sejak sama dia, saya yang biasanya makan di KFC saja sudah intip-intip dompet, bisa mulai sesekali nongkrong di kafe. Kala nongkrong itu, dia minum kopi, saya megangin gelasnya sambil membayangkan ‘kok iso ono kopi larang e koyo ngene‘. Bagian ini mungkin menjadi pembeda anak lulusan Jogja dengan lulusan Bandung. Sejauh analisis kami, sih demikian.

Nah, berkaitan dengan voucher yang diperoleh pacar, maka muncul ide untuk makan di tempat nan mahal. Orang-orang yang makan di tempat ini rerata menggunakan mobil, kalaupun naik taksi, Silver Bird. Dijamin tidak ada mamang Gojek yang berkeliaran layaknya di Martabak Pecenongan. Kalau Uber? Bisa jadi ada. Dan kalau pengen dapat Free Rides Uber ke tempat bernama Cassis Kitchen ini bisa unduh aplikasi Uber dan masukkan kode alexandera1517ue. Sip!

Berlokasi di antara Sudirman Park dan Citywalk Sudirman, alias tepatnya di Sudirman Pavillion, hanya ada sebuah papan kecil yang menunjukkan kata ‘Cassis’, dan mungkin satpamnya trenyuh begitu saya masuk bawa si BG dan mengaku hendak makan di Cassis. Mungkin saya dikira mau servis AC.

Selengkapnya!

[Review] Kung Fu Panda 3

Reviu Kung Fu Panda

“You don’t even know kung fu!”
“Then you will teach us.”

Yeah! Akhirnya kita bersua lagi dengan Po, Panda jagoan yang kelakuannya lumayan menyebalkan. Saya yakin kita mengikuti kiprah Po dari jaman dia belum bisa kung fu sama sekali di Kung Fu Panda hingga kemudian bisa mendapatkan ‘inner peace’ di Kung Fu Panda 2 yang sudah lima tahun silam itu. Ibarat anak tangga, sesudah Po belajar jadi ksatria naga dan menguasai ‘inner peace’, kini saatnya Po merambah gawean baru: seorang guru.

Kalau mau dirunut, sepanjang dua edisi Kung Fu Panda, boleh dibilang kita hanya menemukan panda selain Po dalam konteks flashback. Dan kalau ingat, pada akhir Kung Fu Panda 2 muncul adegan sesosok panda tua yang merasakan bahwa anaknya masih hidup. Sambungan dari perasaan panda tua tadi baru muncul lima tahun kemudian. Gile, lama bener.

Selengkapnya tentang Kung Fu Panda 3!

Menikmati Martabak 65A Nan Legendaris

Jpeg

Sejujurnya, saya bukan sengaja hendak menjadi manusia tukang review martabak. Kalaulah postingan ini tidak begitu jauh jaraknya dengan postingan martabak yang lain, itu lebih karena saya doyan martabak kebetulan belaka. Kalau kata orang keren, cosmological coincidence. Tsah. Ini semua terjadi karena dua hal. Satu, saya ingin makan martabak. Dua, pacar ingin makan di Pecenongan. Supaya mengakomodasi keduanya, maka kami berdua akhirnya makan Martabak Pecenongan.

Bagi saya, martabak adalah suatu pertanda keberlangsungan perekonomian masyarakat. Pertama, martabak bukan makanan primer. Martabak tidak bisa disubstitusikan dengan nasi. Ya, menurut ngana sajalah. Kedua, harga martabak boleh dibilang tidak murah. Mungkin martabak mini di Pasar Genjing murah, 4000 perak saja. Tapi martabak dengan ukuran normal itu diatas 20-30 ribu untuk rasa yang paling plain, kacang coklat. Artinya, ketika masih ada manusia yang beli martabak, berarti ada uang berlebih yang menandakan perekonomian baik. Nah, bagaimana jika harga martabaknya tembus seratus ribu lebih, yang beli ngantre pula? Cukup bisa menyebut bahwa perekonomian masyarakat Jakarta–khususunya–berada dalam posisi tangguh, kan?

Jadi begini, pada suatu malam minggu nan cerah, pergilah saya dan pacar naik si BG dari Benhil ke Pecenongan. Melewati rute umum, Sudirman ke Dukuh Atas lanjut Pasar Rumput lantas Manggarai hingga Matraman dan Kramat Raya, si BG melaju terus via Gunung Sahari hingga melewati Mal Golden Truly. Nah, tinggal belok kiri, kami sudah disambut dengan gapura khas Pecenongan. Sejujurnya, saya tidak terlalu tahu Pecenongan. Bagi saya yang lama tinggal di Cikarang, Pecenongan adalah Jalan Kedasih dan Kasuari di sekitar Jababeka. Padahal, jelas-jelas pada tahun Pecenongan yang asli mulai tumbuh, Pecenongan di Cikarang mungkin masih jadi tempat jin buang anak.

Persis begitu belok kanan, di kanan jalan sudah tampak tulisan ini:
wp-1453124199068.jpegPatokan yang jelas untuk belok kanan dan lantas parkir. Tulisan itu menjadi pembeda karena persis sesudah warung itu ada banyak warung martabak yang lain, sama-sama pakai nomor pula. Namun karena Pacar bilang bahwa Martabak 65A ini adalah pelopor martabak premium, maka saya akhirnya memarkir si BG dengan tertib dan damai. Agak kaget, sih, awalnya karena pukul 20.00 lebih sedikit pelanggannya sudah sembilan puluh sekian. Saya tahunya ya karena petugas Martabak 65A memanggil nomor antrean yang sudah kelar. Kalau dibandingkan dengan martabak yang saya review sebelumnya ini malah dua kali lipat. Buka dua jam, pelanggan seratus. Saya jadi heran, kenapa bisa begini? Ini edan. Orang-orang dipaksa mengantre SATU JAM hanya untuk sebuah kenangan martabak.

Selengkapnya tentang Martabak 65A

[Review] Surat dari Praha

Menyaksikan acara Mata Najwa beberapa waktu yang lalu membuat saya geram. Ya, geram karena ada lho manusia keji yang bahkan rela meniadakan kewarganegaraan seseorang, hanya karena orang itu menolak dia. Kisah eksil tertolak karena stigma sosialis, komunis hingga kata sakti–PKI–itu bahkan masih ada SAMPAI SEKARANG. Po ora edan kuwi.

sumber: detik.com

Maka, ketika ternyata acara Mata Najwa itu mengarah pada iklan film terbaru Angga Dwimas Sasongko yang berjudul ‘Surat Dari Praha’, segera film itu masuk daftar untuk ditonton. Tentu saja tidak sendirian. Sedih amat, kak, nonton sendirian. Yha, seperti saya pas nonton The Avengers, sudah jomlo sendirian pula.

Ngomong-ngomong, sebelum tayang, film ini sudah sempat mendapatkan masalah, karena judulnya yang sama persis dengan sebuah buku yang ditulis oleh Yusri Fajar. Bagi saya, tiga kata itu memang begitu komersial untuk dijadikan judul. Jadi wajar kalau dua karya menggunakan judul yang sama. Saya tidak bisa memberi justifikasi karena saya cuma tukang fotokopi belaka belum baca bukunya. Tapi menurut saya, Mas Yusri Fajar bisa lho mendapatkan keuntungan dari penjualan dengan memakai booming film Surat dari Praha ini. IMHO.

Selengkapnya, baca disini yah!

Jangan Makan Martabak Anaknya Jokowi!

Sesungguhnya saya terpancing trik duo Jokowi Junior yang bermain cuit-cuitan sehingga memancing portal media mainstream untuk memberitakan mereka. Yaelah, twit balas-balasan mah saya sama mantan dulu sering sekali, twit no mentions apalagi–kalau lagi marahan–tapi nggak pernah diliput media. Ya, bedanya sih itu. Kowe ki anak e sopo. Cuit-cuitan mereka pada ujungnya berakhir pada satu titik: martabak.

Sungguh, ini martabak!
Sungguh, ini martabak!

Karena sudah terpancing, maka dengan bijaksana saya akhirnya melajukan si BG nan kece karena ban depan isi nitrogen namun ban belakang isi udara kompresor mamang tambal ban ke Jalan Raden Saleh Raya. Jalan Raden Saleh Raya ini terletak antara Jalan Cikini dan Jalan Kramat Raya. Patokannya, kalau jalan dari Matraman menuju Senen, nanti kira-kira sebelum Bank BNI ada belokan ke kiri. Kalau dari Senen, ya cari lagi Bank BNI besar di kanan jalan, kurang lebih dekat Halte TransJakarta Kramat Sentiong NU.

Mengapa saya sampai ke Jalan Radeh Saleh? Tenang, saya nggak hendak menggugurkan kandungan. Sungguhpun saya buncit, bisa dipastikan isinya lemak semua. Lagipula saya berduaan sama teman saya, laki. Lakinya orang, pula. Jadi, saya sampai ke Jalan Raden Saleh itu untuk mencicipi martabak yang trending sekali pekan kemaren itu, ya karena cuitan Gibran dan Kaesang. Judulnya Markobar. Dengar-dengar adalah kependekan dari Martabak Kota Barat. Di Jalan Radeh Saleh itu tadi, letaknya di parkiran Hotel Puri Inn, sebuah hotel budget area Cikini. So, jangan makan Markobar kalau kamu-kamu tidak berada di Jakarta, Semarang, Solo, dan Jogja. Soalnya, emang Markobar sejauh ini baru ada di kota-kota itu.

Selengkapnya!

Menginap Asyik di Allium Batam

Batam, sebuah pulau yang punya spesialisasi di Indonesia. Dahulu, kalau masuk dari Batam, kita bisa main-main ke Singapura dengan mudah. Batam juga ternama sebagai tempat barang-barang murah–khususnya elektronik–hingga barang-barang duty free alias bebas pajak. Batam juga tetap menjadi akses yang memadai untuk pergi ke Singapura lewat laut. Batam juga menjadi pulau andalan di provinsi Kepulauan Riau, meskipun bukan ibukota. Polda Kepri saja adanya di Batam, bukan Tanjung Pinang. Heuheu.

Salah satu hotel legendaris yang ada di Batam adalah Hotel Allium. Hmmm, yang legendaris sebenarnya bukan Allium, tapi nama lamanya Hotel Panorama. Nama Allium digunakan saat pergantian kepemilikan, seperti biasa hotel-hotel lainnya. Umur hotel dengan nama Allium ini belum lama, namun wujud ‘lama’ itu jelas tampak ketika kita masuk ke kamar-kamarnya.

sumber: agoda.com

Lokasi Hotel Allium ini berada dekat sekali dengan Nagoya Hills nan legendaris itu. Kalau dari hotel, Nagoya ada di sisi kiri. Jadi belok kirilah, dan jangan belok kanan karena jika belok kanan yang ada adalah pasar kelas menengah ke bawah dengan harga yang juga miring. Jadi boleh dibilang, Hotel Allium ini tidak jauh juga dari tempat-tempat makan yang murah meriah namun tetap enak.

Selengkapnyah klik disinih!