Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

Tentang Baris Berbaris

SIAAAAAAPPPPP GRAAAAAKKKKKK!!!!

Hari ini bertepatan dengan Hari Pramuka dan entah kenapa semesta sedang hobi main-main bersama kenangan saya. Pekerjaan yang baru saya tekuni beberapa bulan ini memang mendekatkan diri saya lagi dengan upacara, dan tentu berkorelasi langsung dengan baris-berbaris. Ehm, terminologi baris-berbaris ini jangan digunakan pada logika jomblo-menjomblo ya. Nggak masuk soalnya.

Latihan beraroma baris-berbaris beberapa hari belakangan membuat saya melemparkan diri ke sebuah masa yang sudah cukup lama, 14 tahun silam. Sebagai gambaran, anak-anak yang lahir pada masa itu sekarang jadi murid Bapak saya di kelas 9. Pasangan yang menikah pada tahun itu pasti sedang bosan-bosannya menikah sekarang #ups. Luar biasa sekali waktu berjalan.

PhotoGrid_1408026033677

Tersebutlah sebuah lomba bernama LASP3 2000 yang kalau tidak salah memiliki kepanjangan Lomba Antar Satuan Penggalang Penegak Pandega. Maaf kalau keliru, waktu itu saya masih jomblo soalnya, jadi tidak terlalu mengenang. Lomba ini digelar oleh Polres Agam sehingga pesertanya tidak cuma dari Bukittinggi, tapi juga sampai Payakumbuh dan sekitarnya lagi.

Mbohae!

Anakku, Di Mana Kamu?

Saya orang yang percaya pada kebetulan semesta. Saya percaya pada aneka peristiwa bisa jadi merupakan pertanda untuk hal lainnya. Seperti saya kisahkan di buku saya, OOM ALFA, saya membaca soal penyelamatan diri terhadap gempa pada malam sebelum gempa Jogja 2006, pada saat seharusnya saya membaca tentang Farmakognosi Fitokimia. Entah berkorelasi atau tidak, tapi kemarin saya mengalami sebuah peristiwa yang begitu mirip dengan yang saya alami 10 tahun lalu. Sebuah kisah orangtua yang ‘kehilangan’ anaknya.

Memang, kisah ini bukan ‘hilang’ dalam konteks diculik atau sejenisnya. Sepuluh tahun silam, sudah ada handphone dan ‘hilang’ yang saya maksud berkorelasi tentang itu. Dua kisah ketika ada orangtua yang mencari anaknya karena anaknya tidak bisa dihubungi. Kisah 2004, orangtua menelepon anaknya tapi tidak diangkat. Kisah 2014, handphone sang anak mati dan orangtua bingung untuk menghubungi anaknya.

IMG_5220

Sepuluh tahun yang lalu saya sedang nongkrong galau di Lorong Cinta dalam rangka menunggu mantan calon gebetan selesai praktikum. Bukan pengen ngobrol atau apapun, cuma pengen melihat. Melihat sudah merupakan kegembiraan paling pilu dari pelaku cinta diam-diam. #tsahhh

Mbohae!

Tentang Membuang Sampah

Saya baru saja mengakhiri perjalanan yang biasa disebut mudik. Meski saya tidak berlebaran, tapi karena SKB 3 Menteri menitahkan untuk berlibur, maka saya lantas menjadi salah satu manusia yang terlibat dalam pergerakan massa bernama mudik lebaran. Well, sejatinya saya tidak terlalu suka untuk mudik di kala lebaran. Tentu saja bukan karena teror pertanyaan ‘kapan kawin?’ yang melanda kaum-muda-usia-matang-tapi-belum-kawin-kawin kayak saya, melainkan karena kampung halaman saya namanya Bukittinggi.

Bukittinggi adalah kota mini di deretan bukit barisan. Saya sebut mini karena dari rumah saya yang di pinggir kota sampai ke tengah kota itu paling cuma butuh 5-10 menit karena jaraknya paling cuma 4 km. Saking mininya, dalam durasi 30 menit, saya bisa putar-putar Bukittinggi hingga Kantor Pos sebanyak 4 kali, sudah melebihi talak cerai. Bukittinggi menahbiskan dirinya sebagai kota wisata dengan objek andalan bernama Ngarai Sianok, Panorama, Lubang Jepang, Jam Gadang, hingga yang terbaru Great Wall (atau mungkin bisa disebut tembok gadang kalau diterjemahkan secara bebas).

IMG_5199

Nah, kenapa saya malah malas pulang ke rumah ketika saya tahu bahwa kota kelahiran saya itu adalah kota tujuan wisata?

selengkapnya!

Kenapa Harus Tentang Kematian?

Senin pagi. Sesudah dua hari yang melelahkan kala weekend, saya terbangun di hari kerja itu dengan malas-malasan. Adalah sebuah panggilan telepon dari orangtua yang membangunkan saya, berhubung semalam saya lupa mengeset alarm. Dan pagi itu kabar yang datang justru buruk. Sepupu saya yang baru saja ulang tahun ke-25, meninggal dunia.

Hari itu kemudian menjadi hari yang agak sibuk. Kebetulan saya masih woles di tempat kerja baru, karena memang anak baru masih cupu. Saya hanya membayangkan kalau ini terjadi ketika saya di tempat lama, mungkin saya akan ditelepon terus kalau tidak ada di tempat. Pun, sekarang saya sudah tinggal di Jakarta. Kalaulah saya masih di Cikarang–atau bahkan Palembang–semuanya mungkin menjadi lebih tidak sederhana.

Saya kemudian janjian dengan adek dan 2 sepupu lain untuk melayat. Permintaan koordinasi janjian itu justru saya peroleh dari Maktua saya–orangtua kedua sepupu tersebut. Kami kemudian janjian di RS Dharmais karena sepertinya itu adalah tempat yang cukup tengah dibandingkan tempat-tempat lainnya. Sesudah sampai di lokasi, kami juga bertemu dengan sepupu lainnya, tentu saja termasuk 2 kakak dan 1 abang dari adek sepupu saya yang meninggal itu.

Seolah menjadi kebetulan yang aneh, sepupu saya yang lain dari Surabaya memang sudah ada jadwal untuk datang ke Jakarta karena ada proyek. Semuanya akhirnya dilengkapi oleh kehadiran orangtua saya dari Bukittinggi dan Maktua-Paktua dari Bandung. Plus, sepupu saya yang pas off dari jadwal terbang dan adek saya yang naik motor 3 jam dari Bekasi ke Tangerang. Formasi yang cukup banyak.

Anak-anak UKF Dolanz-Dolanz punya semacam ucapan satir bahwa orang-orang–dengan kesibukannya masing-masing–hanya akan bisa berkumpul kalau tidak di kawinan, ya pas kematian. Dan tetiba saya sadar dengan jelas soal fakta ini. Kematian adek sepupu ini mengumpulkan orang-orang yang sulit sekali untuk dipertemukan.

Ya, kalau bukan kawinan, ternyata kematian. Ucapan satir anak-anak Dolaners itu ada benarnya. Coba saja, dalam keadaan normal bukan kawinan atau kematian, lalu ada ajakan untuk bertemu, apa sih yang kita katakan? Maukah kita benar-benar meluangkan waktu?

Apalagi, pertemuan kembali orangtua sepupu saya yang meninggal ini dengan saudara-saudara perempuannya. Percayalah, ini hal yang sulit, tapi akhirnya terjadi juga. Saya jadi bersyukur membatalkan niat untuk langsung pulang dan kemudian memilih menginap di Bintaro dengan konsekuensi dua pagi harus berangkat kerja naik KRL dari Pondokranji. Nggak apa-apa, hitung-hitung belajar kalau nanti punya rumah di daerah Tangerang dan kudu naik KRL untuk bekerja. Pada akhirnya saya bisa menjadi saksi dari berkumpul kembalinya keluarga yang sudah terpencar-pencar ini.

Tentu saja, setiap kejadian mengandung hikmah masing-masing. Adalah suatu kehilangan besar ketika sepupu saya meninggal di usia yang masih muda. Sejujurnya, saya ketemu dia itu cuma di 3 peristiwa. Tahun 1997 dan 1999 ketika main ke rumahnya, serta tahun 2012 pada acara pernikahan kakaknya. Dari bocah kecil rambut lurus belah tengah, menjelma menjadi pria brewokan. Dan di pertemuan keempat, sepupu saya mengenakan pakaian yang sama dengan saat terakhir kali saya dan dia bertemu. Dua kejadian: perkawinan dan kematian.

Dua hari ini membuka mata saya lagi atas saudara-saudara yang saya miliki. Ompung saya memang keluarga besar, karena keluarga intinya saja ada 8 orang. Sebanyak 8 orang adalah cikal bakal dari sekitar 34 cucu. Plus beberapa juga sudah punya anak juga. Ya, intinya jelas: banyak. Dan sesudah dihitung-hitung, lebih dari 50% ada di Jabotabek. Selain banyak, ada satu kata lagi: dekat.

Tanpa bermakud bergembira di atas kepergian saudara saya, tapi jelas ada rasa syukur ketika kami berkumpul kemarin. Apalagi kemudian muaranya adalah momen rekonsiliasi. Sesuatu yang tidak mudah, apalagi kalau kita berbicara betapa kerasnya orang Batak dalam memegang prinsip diri sendiri. Syukurlah, di balik kejadian sedih ini, ada hikmah yang bisa diambil. Syukur juga saya tidak melewatkan momen itu, momen pertemuan yang terjadi jam 1 pagi dalam campuran derai tangis kesedihan dan haru pertemuan, disaksikan oleh sepupu saya dalam tubuh kakunya di peti.

Selamat jalan, Lae. Selamat bergembira bersama Bapa!

Kesaksian Ampuhnya Doa Melalui Santo Antonius

KesaksianAmpuhnyaDoa

Sebelumnya, mohon izin dulu untuk menulis sesuatu yang terkait dengan agama yang saya anut. Bukan apa-apa, sih, tapi saya kan pernah bilang kalau posting terkait agama bakal ditulis di blog yang lain. Hanya saja pengalaman kali ini terlalu ajaib untuk tidak dikisahkan di blog utama saya, ariesadhar.com. Ini dia ceritanya.

Bagi orang-orang yang mengenal saya di gereja, mungkin saya tampak sebagai orang yang religius. Apalagi waktu di Cikarang, saya itu nongol di koor, nongol di lektor, nongol di lingkungan ikut macem-macem, terakhir malah nongol di altar. Tapi nggak jadi Romo juga, sih. Hanya saja, itu pencitraan yang tampak saja. Pada dasarnya saya itu orang yang jarang berdoa.

Nah, pas lagi main ke rumah pacar beberapa waktu silam, tetiba Om Camer kehilangan sebuah sekrup kecil setengah sentimeter. Cari punya cari, akhirnya sekrup itu ketemu! Om Camer kemudian berkisah kepada saya soal ampuhnya doa kepada Santo Antonius. Saya dulu ikut legio, dengan topik pembahasan santo-santa setiap pekannya, jadi saya sudah tahu bahwa Santo Antonius itu sangat membantu untuk mencari barang-barang yang hilang. Saya tahu, tapi saya tidak pernah mempraktekkannya.

Full text!

Inspirasi Dari Matthew

Agak bingung hendak menulis posting ini di ariesadhar.com atau di blog lain saya yang judulnya “Catatan Umat Biasa”. Tapi karena sepertinya inpirasi dari seorang bocah ini bisa digeneralisasi ke agama lain, maka biar ditulis disini saja, hitung-hitung ngisi posting di bulan April yang kering ide ini.

Malam Paskah kemaren saya misa di gereja Maria Fatima di Lembah Karmel, Lembang, bersama keluarga pacar. Kebetulan berangkatnya agak cepat, jadi dapat duduk di dalam. FYI aja, gereja di Lembang ini terbilan kecil, jadi kalau datang telat sedikit yang duduk di luar. Buat saya, ke gereja dan duduk di luar itu ibarat pacaran tapi nggak cinta. Nggak sreg. Nah, kebetulan posisi bangkunya pas untuk 6 orang, sementara saya plus keluarga pacar hanya 5 orang. Otomatis satu tempat di sisi kanan saya itu kosong, sementara di sisi kiri ada mbak-mbak yang mirip bidadari. Mirip doang, kok. Jadilah saya boleh berharap bahwa yang akan menduduki 1 bangku kosong di kanan saya adalah seorang gadis muda kece badai berusia 17 tahun dan berbadan seksi.

*ini contoh gereja salah fokus*

Kembali ke laptop!

Menikahlah Dengan PNS, Karena…

Sumpah! Ini saya sudah jadi semacam blogger murtad. Memang bagian paling oon dari keputusan saya ngekos di tempat sekarang adalah nggak ngecek sinyal. Dan mana tahu kalau sama sekali nggak ada sinyal mapan dan eksis dari provider manapun. Ini saja saya nulis dari Sevel, dan wifi Sevelnya error, jadi tetap pakai modem sendiri. Sialan.

Yak, jadi begini. Berdasarkan info-info yang saya peroleh di dunia baru saya selama 11 hari ini, maka saya dapat menyimpulkan sesuatu. Apa itu?

Saya dapat menyimpulkan bahwa PNS adalah pasangan yang ideal…

…terutama jika kita menginginkan pernikahan yang satu dan tidak terceraikan.

Kenapa?

Jadi begini, mblo.

Gini mblo!

Kompilasi Berujung Pergi

Entah apakah tulisan ini layak ditayangkan, entah pula apa dampak yang akan terjadi kelak. Tapi sudah hampir 1 bulan sejak saya memutuskan pergi, jemari ini selalu gatal untuk menuliskan semuanya disini. Di rumah saya sendiri. Semua hal yang berpadu dan menjadi kompilasi sakti dengan ujung pergi.

Tiga hari sesudah saya memutuskan pergi, saya bertemu dengan salah seorang atasan di masa lalu saya. Percakapan berjalan biasa saja sampai kemudian muncul kata-kata yang cukup menohok.

“Gimana, sih, kamu ini? Sudah digadang-gadang kok malah pergi?”

Selengkapnya

Tentang Humor Jomblo

Seharusnya judul tulisan ini adalah ‘Tentang Humor Jomlo’, karena memang yang benar begitu. Tapi entah kenapa saya masih lebih enjoy menggunakan huruf B itu sebagai bagian dari kata-kata mutiara duniawi: JOMBLO. Dan kenapa harus soal ini? Tentu saja karena beberapa karya saya sangat berkorelasi dengan status manusia yang tidak manusiawi ini. Sebut saja cerpen saya ‘Jangan Main Api’ di buku ‘Kebelet Kawin, Mak!’ itu berkisah tentang Lodi, si jomblo galau. Geser ke ‘Radio Galau FM Fans Stories’, ada Ranu yang juga jomblo. Kalau di ‘Curhat LDR’ saya tulis ketika jomblo, sebagai evaluasi atas LDR yang gagal dan sudah menghabiskan ongkos belasan juta. Dan di buku ‘Galau: Unrequited Love’, saya menulis soal keberadaan comblang yang diperlukan oleh para jomblo.

Selengkapnya!

Beberapa Cara Mendapatkan Jodoh

Ada lagu yang bilang bahwa jodoh itu pasti bertemu. Pepatah lama juga bilang kalau namanya jodoh pasti nggak akan kemana. Nah, waspadalah di dunia yang sudah terbalik-balik seperti sekarang ini, kedua kalimat di atas juga bisa kebalik. Jadi Afgan akan nyanyi “jodoh pasti kemana”, dan pepatah anti mainstream akan bilang bahwa “kalau namanya jodoh pasti nggak akan bertemu”.

keep-calm-because-jodoh-pasti-bertemu

Well, jodoh adalah perkara besar. Misterinya sama dengan kelahiran dan kematian. Seperti juga pernah saya tulis bahwa orang yang suka bertanya “kapan kawin?” akan setimpal jika ditanyai “kapan mati?”. Kira-kira demikian. Nah, posting sotoy ini akan mengulas beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan jodoh.

Oya, satu hal yang pasti, saya selalu percaya bahwa jodoh itu akan ketemu kalau dicari. Kalau hanya diam di kamar sambil merapalkan doa jodoh, yang datang biasanya bukan jodoh, tapi cicik kos menagih bayaran kos. Jadi, apa saya yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jodoh?

Apa dong?