Tentang Baris Berbaris

SIAAAAAAPPPPP GRAAAAAKKKKKK!!!!

Hari ini bertepatan dengan Hari Pramuka dan entah kenapa semesta sedang hobi main-main bersama kenangan saya. Pekerjaan yang baru saya tekuni beberapa bulan ini memang mendekatkan diri saya lagi dengan upacara, dan tentu berkorelasi langsung dengan baris-berbaris. Ehm, terminologi baris-berbaris ini jangan digunakan pada logika jomblo-menjomblo ya. Nggak masuk soalnya.

Latihan beraroma baris-berbaris beberapa hari belakangan membuat saya melemparkan diri ke sebuah masa yang sudah cukup lama, 14 tahun silam. Sebagai gambaran, anak-anak yang lahir pada masa itu sekarang jadi murid Bapak saya di kelas 9. Pasangan yang menikah pada tahun itu pasti sedang bosan-bosannya menikah sekarang #ups. Luar biasa sekali waktu berjalan.

PhotoGrid_1408026033677

Tersebutlah sebuah lomba bernama LASP3 2000 yang kalau tidak salah memiliki kepanjangan Lomba Antar Satuan Penggalang Penegak Pandega. Maaf kalau keliru, waktu itu saya masih jomblo soalnya, jadi tidak terlalu mengenang. Lomba ini digelar oleh Polres Agam sehingga pesertanya tidak cuma dari Bukittinggi, tapi juga sampai Payakumbuh dan sekitarnya lagi.

Sesuai call card yang masih saya simpan, lombanya digelar akhir 29 Juli hingga 1 Agustus tahun 2000. Saya sendiri berasal dari Gugus Depan 175, pasangannya 176, asli dari SLTP S Xaverius yang letaknya di Jalan Bagindo Azischan nomor 11 Bukittinggi. Terus terang, waktu itu saya sih adalah pramuka aktif dengan gelar resmi berupa 2 lekuk alias penggalang rakit. Ya urutannya kan kelas 1 ramu, kelas 2 rakit, nanti kelas 3 jadi terap. Masih cukup logis.

Waktu itu belum ada Ujian Nasional. Menterinya tentu saja bukan yang sekarang ini. Jadi anak-anak kelas 3 nggak langsung distop aktivitas ekstrakurikulernya. Nggak kayak sekarang, dari jauh-jauh hari sekolah sudah mewanti-wanti kepada siswa untuk terus menerus belajar sampai jomblo. Bukan apa-apa, sistemnya yang meminta demikian. Terus mau apa? Bukan guru yang salah karena guru yang memaksa siswanya belajar terus menerus adalah korban dari sistem kacrut ini.

Oke kembali ke lomba. Meski digelar bulan Juli, tim PBB dari Xaverius sudah berlatih jauh sebelumnya. Mungkin ada sekitar 3-4 bulan saya menghabiskan siang hingga sore di sekolah. Dari yang awalnya 2 kali seminggu, meningkat 3, lanjut sampai 7 kali seminggu. Iya, bahkan minggupun datang ke sekolah cuma buat latihan PBB. Pelatihannya juga nggak sederhana. Saya ingat benar ada sesi ketika satu gerakan tambahan berbuah satu tamparan. Belum lagi ditambah hukuman push up untuk sebuah kesalahan.

Di sisi lain, orangtua saya dalam kondisi finansial yang mungkin paling buruk sepanjang saya memahami kondisi keluarga kami. Saya mengikuti latihan dalam bayang-bayang nggak punya sepatu. Oh, untuk lombanya, para peserta harus menggunakan sepatu yang seragam dan salah satu yang ternama adalah merk Shanghai. Sepatu jenis ini sama terkenalnya dengan Zara di kalangan sosialita Pasar Atas.

Perlombaan PBB ini menggunakan tongkat. Jadi tim kami akan menggunakan pakaian pramuka lengkap, bersama dengan tongkatnya. Well, PBB dengan tongkat itu tidak sederhana. Sapu di rumahpun saya gunakan untuk latihan, karena menurunkan tongkat dari kiri ke kanan saja bukan merupakan sesuatu yang gampang untuk dilakukan secara seragam.

Secara umum, pada masa itu Pramuka Xaver ‘bersaing’ dengan Pramuka SMP tetangganya yaitu SMP 1. Meski begitu, kami nggak pernah tawuran, kok. Nggak tahu kalau sekarang ya. Apalagi saya pernah baca ada anak dari SMP saya itu tawuran, pas Bapak saya jadi kepala sekolah dan lagi mengawal jawaban UN ke Padang, pula.

Tibalah hari lomba yang dibuka di kantor polisi dengan apel gede-gedean. Saya sendiri akhirnya mengenakan sebuah celana pramuka baru hasil jahit di Mekar Pasar Banto, bersama dengan sepatu Shanghai baru yang diperjuangkan secara luar biasa oleh Mamak saya. Cukuplah untuk mengikuti lomba. Sesudah apel, para peserta dibawa ke lokasi lomba. Ini nggak sesederhana yang dibayangkan ya.

Sekolah di Bagindo Azischan, untuk jalan ke kantor polisi yang dekat Lapangan Kantin mungkin masih wajar dan biasa banget untuk dicapai. Masalahnya adalah lombanya di sebuah SMP di daerah Ngarai, dan kami-kami peserta nan mungil itu dibawa ke daerah Ngarai menggunakan…

…truk.

Bagi orangtua zaman sekarang, sebagian diantaranya akan menuntut polisi karena melakukan tindakan membahayakan. Dulu? Tidak ada komplain sama sekali. Dan orangtua juga nggak ngerti anaknya ada di belahan dada dunia mana karena zaman itu HP belum cukup musim.

Lomba dimulai dan kami menyaksikan silih berganti penampilan pesaing sebelum kemudian tampil. Segala jurus dikeluarkan, termasuk belok kanan, haluan kiri, dan segala jenis gerakan PBB lainnya. Entah saking lamanya atau bagaimana, tapi seluruh teori PBB itu masih melekat erat di kepala saya, meski secara bodi, perut ini sudah tidak menunjang untuk dipaksa berdiri tegak. Maklum, sudah banyak makan asam garam dunia.

Sebagai perwakilan dari sebuah SMP swasta yang waktu itu mentereng bukan main, tentu saja saya dan teman-teman nggak bisa berlaku asal. Jadilah semua kemampuan dikerahkan dalam waktu yang kayaknya nggak sampai 10 menit itu. Lomba berakhir ketika matahari terbenam dan kami dikembalikan ke kota dengan menggunakan truk yang sama. Adapun pengumumannya digelar hari Selasa, tanggal 1 Agustus. Siang hari, di Ngarai juga.

Hari Selasa bagi anak Xaver adalah waktunya putih biru–kalau nggak salah. Jadi, tampak aneh ketika ada sebagian murid yang pakai baju pramuka. Nggak apa-apa, ini karena anak pramuka terpilih tersebut menyambut hari penting berupa pengumuman LASP3 2000. Dengan izin untuk tidak belajar, berangkatlah kami ke Ngarai dengan…

…berjalan kaki.

Anak SMP zaman saya sama sekali nggak peduli lelah. Kemaren liburan saya ke Ngarai dan ah, lelahnya bukan main. Faktor usia dan faktor dosa.

Ketika tiba saat pengumuman, secara kebetulan kami bersebelahan dengan SMP 1, si tetangga sekolah. Dengan hikayat persaingan kompetitif di aneka bidang lomba, kedua SMP ini memang yang terbaik di Bukittinggi pada masa itu, sebelum kemudian terjun bebas-bas-bas-bas. Beberapa bulan sebelum Bapak jadi kepala sekolah, saya dikasih tahu posisi almamater saya tercinta, dan saya trenyuh karena posisinya beneran sudah nomor sekian-entah-berapa, padahal dulu kalau nggak 1 ya 2.

Kami deg-degan, tentu saja karena ini soal perjuangan latihan yang panjang dan bikin otot terbentuk maksimal. Juga soal gengsi dengan sekolah sebelah. Pun dengan keinginan dasar manusia untuk jadi pemenang. Pengumuman dimulai dari juara 3. Kalau nggak salah PBB cewek duluan, tapi atmosfernya sama.

Sebuah SMP dari luar Bukittinggi, jadi juara 3. Tibalah saatnya panitia mengumumkan juara 2.

SMP 1!

Entah apa yang menjadi sebab musabab, tapi ketika SMP 1 diumumkan menjadi juara 2, bukan mereka yang bersorak, tapi kami. Sebegitu yakin bener kalau bakal jadi nomor 1! Padahal kalau tahu-tahu SMP lain yang menang, kayaknya saya bakal ikut terjun ke sungai di Ngarai Sianok karena malu.

Maka, diumumkanlah juara 1. Gelar itu kemudian jatuh kepada…

…Xaverius!

Wow! Sulit menggambarkan euforia yang terjadi 14 tahun silam, tapi nuansanya masih saya rasakan setiap kali saya menginjakkan kaki ke sekolah atau ke Ngarai sekalipun. Beberapa bulan yang lalu saya bahkan menyempatkan diri mencari sekolah tempat lomba dilakukan, sebatas hendak mengenang sebuah keberhasilan zaman dahulu kala.

Sekarang tim PBB itu sudah menyebar ke penjuru Indonesia. Beberapa jadi PNS, beberapa sudah jadi Bapak, beberapa masih belum kawin kayak saya. Kisah kemenangan tahun 2000 itu kemudian menjadi perpisahan saya dengan PBB karena saya lantas masuk ke SMA yang upacara saja setahun sekali plus nggak ngirim paskibra. Ingat suatu kali di MOS, saya menantang seorang kakak kelas karena mengajarkan PBB secara salah. Sebuah cara nekat untuk menunjukkan diri, apalagi kakak kelas saya itu cowok semua. Namanya juga anak muda, belum paham riak-riak dunia.

Begitulah Pramuka memberi kenangan bagi saya. Sebuah cerita yang manis ini tentu hanya secuil dari aneka kisah lainnya. Belum lagi membahas kemping horor yang seru kalau dikisahkan, atau sekadar cinta-cintaan anak Pramuka. Ya sudah, itu memang untuk dikenang.

Selamat Hari Pramuka!

2 thoughts on “Tentang Baris Berbaris

  1. Pingback: 17 Tips Menjadi Komandan Upacara yang Baik | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s