Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

12 Tahun Merantau

Selalu begini deh. Selalu seminggu sebelumnya diingat-ingat, tapi pas hari H-nya lupa. Dulu juga begitu. Dasar manusia. Ya begitulah, saya masih manusia, bukan manusia milenium.

Lagian yang diingat sebenarnya nggak penting dan krusial sih, cuma merupakan tanggal menarik bagi manusia melankolis macam saya.

Iya, kemarin, 2 Juli 2013, adalah genap 12 tahun saya jadi anak rantau. :)))

Perkara 2 Juli ini sebenarnya baru saya temukan ketika saya packing-packing mau pindah dari Palembang. Tanggal itu adalah tanggal saya mendaftar SMA Kolese De Britto Jogja. Dan saya ingat benar bahwa pagi harinya saya baru menjejak Jogja dengan kereta Senja Utama Jogja. Jadi fix bahwa tanggal itulah pertama kali saya jadi anak rantau.

Well, 12 tahun.

Sebuah bilangan yang gila. Dan nyatanya saya bisa melakoni itu semua. Nyatanya saya bisa ‘hidup sendiri’ untuk rentang waktu yang sepanjang itu. Melihat orang-orang lain masih dengan mudah dan indahnya pulang kampung setiap minggu, sedangkan saya ya beginilah.

Saya jadi anak rantau di usia saya yang ke-14. *ketahuan deh umurnya… hedeh..*

Jadi, dua tahun lagi, setengah usia saya genap habis untuk merantau. Tiga tahun lagi, lebih dari setengah umur saya juga terhitung sebagai perantauan. Jadi mari menikmati 2 tahun lagi, ketika usia jadi anak rantau belum sampai setengah usia saya.

🙂

Seminggu yang Lalu

Baiklah. Saya gagal move on dari semua ini. Bahkan lebih gagal move on daripada Melody of Memory, yang mana kurang dari 10 jam sesudah turun panggung saya harus presentasi Kimia Medisinal tentang Furosemide. Juga lebih gagal move on daripada Konser Pamit KPS IV Unpar yang euforianya harus bertabrakan dengan Titrasi 2007 (colek Uut ^_^).

Gagal move on ini disponsori oleh kemajuan teknologi sih.

Iya. Seminggu semenjak turun dari panggung di TBY itu, media sosial buatan Mas Zuckerberg menjadi sarana foto-foto berseliweran. Belum lagi video yang beredar di Youtube, plus beberapa kicauan di burung biru. Belum lagi kalau baca blognya Mbak Linda dan blognya Bona. Apalagi ditunjang oleh pekan yang “mulus” dimana akhir bulan ini diwarnai oleh transaksi yang sudah pada kelar dan minim masalah. Jadilah, pikiran ini nggak bisa lepas dari Poelang Kampoeng.

Bentuk gagal move on yang paling jelas adalah ketika di kantor, sambil memandangi kotak dan angka itu, salah satu lubang telinga saya akan terhubung dengan speaker yang kontennya membunyikan lagu Hallelujah hasil unduhan dari Youtube 🙂 Gimana nggak mulyo itu seminggu full yang didengar cuma Hallelujah doang?

Saya hanya membayangkan, kalau tulisan di bawah ini nggak nongol di FB pada 13 Agustus 2012, apakah seminggu yang lalu itu akan terwujud?

:)

Tentu salut untuk ide dasarnya dari Mas-Mbak yang sudah nge-PSM di saat saya masih belum ngeh bunyiin Do itu gimana (sampai sekarang juga sih..). Karena tulisan inilah yang kemudian bergulir panjang, termasuk dengan sensus penduduk PSM CF yang membuat saya terkaget-kaget waktu mengkompilasinya. Keluarga ini adalah keluarga yang besar sekali.

Sebenarnya pengen banget ngabsen siapa aja sih yang ada di panggung dengan balutan ungu kemarin itu. Pengen banget semua detail dari sejarah ini terdokumentasi. Hmmm… Ini kepengenan karena gagal move on sepertinya.

Ya sudah. Mari kita melanjutkan hidup! 😀

Ada Yang Tertinggal di Jogja

Tadi pagi bangun jam setengah 6, seperti biasa. Tapi agak aneh juga, ketika saya mencoba tidur lagi adanya malah gagal. Aneh karena seharusnya waktu tidur saya akan menjadi sangat panjang mengingat hari-hari yang baru saja saya lalui.

Ini dia hari-hari itu.

Kamis, 20 Juni

Seperti biasa, ya kerja. Pagi-pagi ada receiving cacing, lanjut siang sampai sore beres-beres WO untuk produksi minggu depan, harus kelar hari itu karena besoknya saya mau cuti. Dan nyaris tenggo, saya pulang lalu packing dengan tas baru (hehehehehe…).

Makan mie sebentar, ehm agak lama sih gara-gara yang bikin mie yang punya warung–eksmud bank yang umurnya 26 dan buka warung (tertampar…plakkk..). Lalu jam 7 cabut ke penitipan motor Bang Iwan.

Semuanya masih tampak baik-baik saja hingga di pool bis Lorena, jadwalnya jam 8 dan biasanya nih dari dua pengalaman sebelumnya, bis ini cukup ontime. Nyatanya? Jam 9 mau setengah 10 baru nongol.

Bis berjalan, dan disinilah saya akan menjalani petualangan unik 18 jam 🙂

Jumat, 21 Juni

Dimulai dari rumah makan di Pamanukan, persis pada saat pergantian hari. Mulai dari si Andreas bule Austria yang entah kenapa kok naik bis, yang komplain soal AC, saya malah jadi banyak ngobrol sama dia. Soal si Andreas ini saya akan kisahkan dalam posting terpisah deh.

Sekeluarnya dari restoran, eh sudah macet aja. Si pak supir langsung putar arah dan kemudian melewati Subang dan seterusnya sampai kemudian saya bangun sekitar jam 5. Termasur rekor bahwa saya bisa tidur di bis untuk durasi hampir 4 jam tanpa terbangun.

Dan saya baru ngeh, kalau di matahari terbit gini masih lewat Brebes, sampai Jogja-nya KAPAN???

Dan jadilah. Dari estimasi saya sampai Jogja jam 9, atau mentok-mentoknya 12, saya sampai Terminal Giwangan jam 3 sore. Langsung ngojek ke Taman Budaya dengan 20.000 rupiah. Berhubung di Cikarang 20.000 itu cuma dapat Jababeka-CTC, jadi ya saya ambil saja deal itu.

Sekitar setengah 4 saya akhirnya bergabung dengan penyanyi lain di Panggung Poelang Kampoeng yang lagi GR. Dan GR terus berlangsung sampai pukul setengah 11 (kira-kira). Dan bekal saya hanya gorengan di Brebes seharga 5000 rupiah sebelum akhirnya makan jam 8-an malam.

Dan saya kuat lho saudara-saudara. Hehehe.

Pulang jam 11-an, saya balikin si Cici dulu ke Paingan lalu rencananya mau ke kos si Dani. Eh, malah disuruh cari hotel sama curut yang satu itu. Ya sudah, akhirnya ambil hotel deh di dekat-dekat situ, untungnya masih dapat. Sambil setting-setting OFM dll, saya baru tidur jam 2 di hari Sabtu. Total waktu tidur saya di hari itu, ya hanya 4 jam. Mungkin tambah sisa-sisa di perjalanan ke Jogja, ya bisa 5 jam deh.

Sabtu, 22 Juni

THE DAY! YEAH! Dan saya belum hafal lagunya! Yeah lagi!

Saya bangun jam 6. Jadi ya tidurnya 4 jam kira-kira. Sarapan dulu, terus mandi-mandi tanpa kembang, lalu cabut dari hotel jam setengah 9 ke Stasiun Tugu buat nukerin tiket. Jam setengah 10-nya saya ke kos si Dani bareng-bareng mau terima raport.

Jadi wali murid lagi euy. Hahaha. Sesudah dulu saya jadi wali murid unyu di usia 18 tahun. Delapan tahun kemudian, ya saya ikut rapotan lagi. Dan seperti biasa, banyak hal-hal yang disampaikan dan sebenarnya malas untuk saya dengarkan. Saya lebih fokus menghafal Cantate Domino -____-;

Rapotan berlangsung sampai kira-kira jam 1. Dan si Dani minta makan pulak. Ampun dah! Ya ladeni dulu. Akhirnya saya sampai di TBY jam 2 kurang dan lantas make up sesudah sedikit mengeringkan keringat yang bercucuran. Cur…cur..cur..

Make up-cek panggung-ganti baju-pemanasan-lalu show. Hebring dah. Walau memang ini tidak penuh seperti konser CF yang lainnya, tapi tetap saja bikin hepi.

Sesudah bla-bla-bla, saya minggat jam setengah 1. Ke kosnya Dani lagi, lalu mengikuti kehendaknya untuk makan McD. Kasihan, orang susah, ya dibeliin dah. Balik lagi jam 2, persis ketika kick off Italia-Brazil.

Saya kemudian tidur, dan bangun lagi pas evaluasi pertandingan, kira-kira jam 4. Jadi saya tidur selama 2 jam. Hore!

Minggu, 23 Juni

Pagi jam 6 sudah cabut ke Paingan, jemput Cici dengan muka kantuknya. Lalu ke Tugu untuk kembali ke ibu tiri. Ibukota kan Jakarta, lah Cikarang anggap saja Ibu Tiri.

Persis 7.15, kereta Fajar Utama meluncur ke barat. Dan dengan niat kukuh saya pengen tidur. Tapi nyatanya, ya nggak tidur-tidur juga. Hamparan sawah hijau bikin nggak bisa tidur karena isinya mirip lagu Nusantara. Hahahahaha.

Mungkin saya hanya tidur 1 jam sepanjang jalan itu. Dan tentunya nggak bisa tidur juga dengan taksi dan bis Jababeka yang membawa saya beneran kembali ke Cikarang.

Begitu sampai, pengen tidur, ya nggak bisa juga. Akhirnya malah makan di Saung Air. Kelar jam 9, baru deh saya pulang dan tidur.

Fiuh. Dari Kamis malam ke hari ini yang mana seharusnya waktu tidur normal adalah 32 jam, saya hanya tidur 5  tambah 4 tambah 2 tambah 8 alias 19 jam. Artinya masih ngutang setengah hari. Entahlah, mungkin panggung terlalu mengeuforia sampai kemudian untuk tidur saja saya lupa. Hehehe..

Sungguh, itulah yang tertinggal di Jogja 🙂

Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata

9 Oktober 2010, nyaris tiga tahun yang lalu, saya menghadiri konser pamit rombongan PSM Cantus Firmus yang hendak berangkat ke Palangkaraya. Waktu itu saya sudah bekerja di Palembang, dan rada dipaksa oleh adek saya untuk nonton. Satu pertanyaan muncul di benak saya ketika itu: kapan saya akan ada lagi di panggung itu?

Dua tahun sebelumnya, akhir November 2008, saya baru pulang PKL dari ibukota ketika lantas menjadi tukang parkir untuk konser Reoeni Senandoeng Waktoe di Taman Budaya. Sedikit iri hati–tentu saja–karena saya ‘hanya’ sempat ikut konser dua kali, dan keduanya di lingkungan USD: Melody of Memory di Hall Lt. 4 Paingan dan Konser Pamit KPS Unpar IV di Kapel Mrican. Saya nggak pernah tampil di pentas sekaliber Taman Budaya Yogyakarta. Dan sembari menyalami para penyanyi, terselip pula tanya di benak saya: kapan saya akan ada di panggung itu?

Kedua tanya itu hampir menjelma menjadi tambahan daftar harapan hidup yang akan terus menjadi harapan, sampai kemudian hampir 1 tahun silam muncul sebuah posting di grup PSM CF. Posting yang tidak biasa karena ditulis oleh Mas Mbong dan berupa ide gila yang sungguh-sungguh menantang. Ya, jelas saja demikian karena isinya semacam menantang seluruh alumni PSM CF yang sudah berada di belahan bumi manapun untuk berkumpul dan konser bersama.

Tantangan semacam itu, rupanya semacam pengusik rindu yang sedang terlelap di sudut hati yang tersembunyi. Posting tantangan itu lantas dihiasi oleh berbagai tanggapan yang mayoritas bilang “berani!”, “setuju!”, sampai “hajar!”

Semuanya lantas bergulir bagaikan bola salju yang menggelinding ke bawah. Sebuah tantangan yang tadinya kecil itu menggelinding mengumpulkan sisa-sisa mimpi para alumni Cantus Firmus di seluruh belahan bumi hingga kemudian lewat proses yang sangat panjang dan berliku, tadi malam saya bisa berdiri di panggung Taman Budaya Yogyakarta, bisa bernyanyi lagi di panggung, dan akhirnya bisa konser dengan dirigen Mas Mbong sendiri.

Bahkan saya sendiri nyaris tidak percaya bahwa pertanyaan berbasis iri hati saya bertahun-tahun silam, akhirnya bisa terjawab tadi malam.

Melihat isi panggung tadi malam, saya bisa bilang butuh lebih dari sekadar mimpi dan tantangan untuk bisa mewujudnyatakan komposisi yang ada itu. Sekarang bagaimana kisahnya, saya bisa satu panggung dengan Mas dan Mbak dari generasi 90-an? Bagaimana pula saya bisa bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah tidak saya temui bertahun-tahun lamanya? Bagaimana ceritanya sampai orang-orang yang sudah bekerja di berbagai kota di Indonesia itu bisa memberikan tanggal 22 Juni untuk bisa bertemu bersama?

Tapi nyatanya ya bisa!

Gila! Edan! Luar Biasa!

Melalui posting ini, saya ingin memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua orang bercap CF di hati dan otaknya, yang telah memberikan dirinya sepenuhnya untuk mewujudkan mimpi ini. Seperti yang Mas Mbong bilang tadi malam, konser ini mempersatukan banyak orang-orang yang keras, dan nyatanya yang keras-keras itu bisa lumer juga. Hehehehe. Terima kasih banyak ya teman-teman 🙂

Setahu saya, belum ada konser semacam ini. Belum pernah saya lihat ada konser paduan suara yang penyanyinya baru datang dan berkumpul bersama ya di H-1 dan hari H, karena memang semua berasal dari berbagai kota. Perkara ini, saya sendiri punya cerita unik bersama CFX (Cantus Firmus Extraordinary)–perkumpulan manusia CF di belantara Jabodetabek, yang entah bagaimana ceritanya bisa meraih juara 1 Mix Choir Competition dalam pembukaan sebuah Mall. Saya menyebutnya perpaduan kualitas dan kehendak Tuhan, karena bisa jadi juara 1 dengan anggota paduan suara yang selama latihannya nggak pernah lengkap dan baru tampil komplet pertama kali ya di panggung pas lomba, dan menang.

Dalam pikiran saya yang egois, saya mungkin akan selalu bilang, “hanya CF yang bisa begini.”

Begitulah. Terlepas dari perjalanan Cikarang-Jogja yang 18 jam, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang luar biasa ini. Sebuah pelajaran besar, bahwa mimpi yang besarpun pada akhirnya kalau diperjuangkan, pasti akan bisa jadi nyata.

Beberapa jam yang lalu saya ada di atas panggung dan beberapa jam lagi saya akan berada di atas gerbong kereta yang akan mengembalikan saya ke realita–ketemu lagi sama cacing dan kayu manis -_____-“. Yah, apapun, sebuah kehormatan besar bisa menjalani ini semua.

Terima kasih teman-teman! Kita semua memang makhluk biasa, tapi dengan mimpi dan karya yang luar biasa!

CF

*tidak banyak tulisan yang ditulis dengan mata berkaca-kaca, dan posting ini salah satunya*

🙂

Cocok

Ada banyak hal yang disebut cocok dan tidak, di dunia ini. Sebutlah saya (apalagi) dengan mantan yang nomor 3, dari sisi warna kulit dan kesukuan sudah bisa dibilang tidak cocok.

*menebar misteri*

Tapi ada ketidakcocokan yang sifatnya kekal bagi saya, dan itu adalah soal pedagang makanan. Ehm, kekal sih, tapi ada beberapa yang tidak mutlak, plus beberapa yang mutlak.

YANG MUTLAK

1. Beli makanan di Lapo, dan dilayani oleh orang JAWA

Saya nggak diskriminatif, karena di dalam diri saya ada darah Batak dan Jawa. Tapi coba deh, datang ke Lapo, lalu melihat orang-orang ngobrol dengan bahasa, “uopoo kowe? edan po?”

Kenikmatan sayur pucuk ubi tumbuk itu akan lenyap seketika. Saya buktikan sendiri di Cikarang sini.

2. Beli makanan sejenis gudeg, dan yang jual orang BATAK

Ini juga nggak diskriminatif. Tapi coba bayangkan opung-opung berulos yang melayani penjualan gudeg? Bayangkan sajalah, saya sih sudah akan kabur kalau begitu. Ada esensi yang hilang dari kehidupan. Gudegnya mungkin nggak akan manis lagi.

Ini prediksi, maklum belum pernah ketemu.

YANG TENTATIF TAPI KADANG MENGGANGGU

1. Beli Sate Padang, yang jual orang Jawa

Ini terjadi ketika saya coba-coba refresh bahasa, dengan menggunakan bahasa Minang ketika membeli. Dan ditimpali dengan bahasa Jawa. Nggak ada larangan orang Jawa jualan sate Padang, tapi hak konsumen dong untuk memilih penjual sate Padang yang asli Padang. Haha.

2. Beli Nasi Padang, yang jual orang Jawa

Ini buanyakkkkk. Dan mau nggak mau saya akan makan disana. Tapiiiiii, kalaulah saya bisa memilih, maka saya akan pergi ke pedagang Nasi Padang yang asli Padang. Persis di tempatnya Nova, yang ironisnya mau tutup, disitu rasanya beda. Padang abis.

3. Beli Pempek, yang jual bukan orang Palembang

Ada 2 pempek jalanan yang pernah saya beli, dan saya selalu tanya, “asli Plembang?”. Yang satu asli, yang satu cuma dagang pempek doang. Kalau yang ASLI, walaupun cuko-nya tetep asem, tapi entah kenapa rasanya jadi beda. Hahaha. *wagu ncen*

Ini tidak hendak diskriminatif kok, karena saya Jawa Batak, dan pernah hidup di Minang plus Palembang. Karena sudah tahu nyicipin aslinya, pasti ada kehilangan kalau tahu yang jual itu nggak asli orang sana.

Sekali lagi, nggak salah kok orang kerja, jualan, dan sebagainya. Tapi ini hanya hak konsumen untuk memilih mana yang cocok. 😀 😀

2 Tahun

Memperingati 2 tahun saya jadi penghuni Cikarang.

Mengingat sebelumnya saya juga 2 tahun jadi penghuni Palembang. Berarti saatnya cabut inih? Hahahahaha.

Nggaklah. Walaupun saya dapat anugerah mudah beradaptasi terhadap tempat. Pindah itu makin lama makin bikin malas. Itu berarti saya betah? Nggak juga.

Tinggal lebih lama bukan berarti betah, itu bisa saja lebih berarti pasrah.

Dua tahun yang lalu, pagi-pagi saya cabut dari mess, lanjut bandara, naik Singa, lanjut Damri, sampai kemudian terdampar di kehidupan baru bernama Pavilion A2/2, dengan bibik penuh dilema.

Ah, sudah dua tahun lewat rupanya.

Ada banyak hal yang mungkin bisa disesali, dan ada banyak hal yang harus disyukuri. Begitulah hidup, karena hidup tidaklah lepas dari pilihan-pilihan yang paket konsekuensi yang menyertainya. Dan kamar panas, tanpa AC, RH 77%, suhu nggak pernah di bawah 32 derajat Celcius, itu nyaman?

Nggak.

Tapi aksesnya (ke Jakarta, bandara, Jogja, dll) yang mudah. Teman sekos yang kebetulan pas asyik-asyik. Makanan di sekitar kos yang syukurlah masih murah, serta sederet hal lain masih mampu menyertai ketidakenakan.

Bukankah itu hidup? Mana mungkin kita hidup ketika semuanya enak. Iya kan?

Jadi, mari kita nikmati saja hari-hari yang akan berjalan, dengan keyakinan penuh bahwa semuanya akan dilancarkan oleh Tuhan.

Amin.

 

Belajar Main Gitar

Umur 26, dan nulis blog dengan judul ‘Belajar Main Gitar’?

Maluk samak mukak!

*ah luweh*

Tapi ya begitulah. Di dalam hikayat keluarga, memang saya doang yang punya kemampuan bermain alat musik amblas. Termasuk juga kemampuan menyanyi yang gagal. Meskipun saya ini dirigen di Lingkungan Theresia, tapi jika dibandingkan dengan orang tua dan adek-adek saya, aslinya saya ini nggak ada apa-apanya.

Bapak saya bisa gitar, dan tentu saja organ. Mamak saya tentu saja bisa main gitar, karena background anak tukang pakter. Sementara 3 adek saya juga jago main gitar, at least mereka sudah pernah tampil ngeband.

Untuk nyanyi jugak. Sudah pernah dicoba di happpup Seturan, dan memang cuma saya yang nyanyi-nya penuh mlengse.

Jadi, kalaulah kalian lihat saya lagi nge-dirigen, itu semata-mata karena belum ada pilihan lain saja. 😀

Dan ya saya juga bukannya sama sekali nggak bisa main gitar. Kalau sebatas C, D, E, Em, F, F#m, G, Gm, G#m, A, Am, B, Bm mah saya bisa. Yang nggak saya bisa adalah memainkan sebuah lagu tanpa harus donlot chord di internet dan lantas menghafalkannya.

Jadilah sekarang saya lagi usaha supaya bisa main gitar. Untungnya di kosan ada pemain-pemain gitar yang lumayan handal. Lumayan membantu, setidaknya untuk nyetem gitar yang baik dan benar. Kebeneran habis mudik kemaren, saya berhasil mancilok sebuah gitar dari rumah. Dibawa naik Garuda, jadi saya semacam musisi saja rupanya.

Begitulah, ada standar kehidupan masing-masing. Belajar main gitar bagi saya memang bukan urusan belajar bahwa kunci D atau G itu seperti itu, tapi lebih kepada membiasakan diri hingga dapat mengenali nada dan kunci tanpa perlu menghafalkannya. Karena menghafal sejatinya adalah keparahan dalam hidup. Sila bayangkan rasanya lupa (akibat menghafal) terhadap sesuatu, rasanya gemes gilo geli gimana gitu.

Semoga lancar ya. *nulis dengan jari kapalan*

Salah

Barusan baca twit seorang teman–yang kebetulan baru kerja beberapa bulan.

“Lagi-lagi salah, lagi-lagi dimarahi…”

Paling seru memang mengamati proses seseorang dari kondisi fresh graduate dan kemudian masuk terjun nyelam nyebur di dunia kerja yang keras. Seru, karena ternyata tidak sedikit yang kurang ketahanannya. Itu dia, kenapa kemudian ada yang 1-2 minggu masuk kerja, sudah resign, kabur, atau jenis menghilang lainnya.

Kebetulan, bulan Mei ini adalah bulan yang penting untuk karier saya. 5 Mei 2009 adalah kali pertama saya berubah status dari pengangguran jadi pekerja. Dan 11 Mei 2011 adalah kali pertama saya pindah kantor. *walaupun masih 1 entity*

Baca twit di atas, saya mendadak ingat bulan-bulan awal bekerja. Itu mungkin masa-masa paling suram dalam kehidupan saya. Bekerja itu excited pada awalnya, lalu 1-2 minggu kemudian gundah, dan 1-3 bulan berikutnya adalah mulai pusing penuh penyesalan. Hahaha. Nggak berlaku umum kok, tenang saja.

1 bulan pertama bagi saya adalah full orientasi, via buku PPIC Pak Gasperz dan via peninjauan lapangan. Dasar saya itu orangnya kalau nggak ngelakuin, nggak paham, maka 1 bulan pertama saya berujung buyar. Iya, beneran buyar.

Setiap Jumat, yang ada saya ini PASTI dimarahi sama bos, karena hari itu adalah hari presentasi. Bahkan ketika presentasi di Produksi, saya digoblokin banget, dan down sekali habis itu. Ya sudah, untuk ada gaji pertama yang jadi mood booster.

Lalu di bulan Juni, di bulan kedua, saya sudah mendapat bahaya luar biasa ketika Production Planner existing cuti 2 minggu. Dan… saya si unyu-unyu labil inilah yang harus menggantikannya membuat jadwal produksi untuk perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Iya, saya, yang bahkan belum paham isi spreadsheet dengan berat 3 MB itu. Hasilnya? Saya sampai Rabu malam masih berkutat di kantor, biasanya Rabu sore planning itu sudah keluar. Hehehe. Dan selanjutnya, ada kasus ketika saya menciptakan inefisiensi saat menurunkan 2 WO yang isinya sama, tapi yang 1 nyusul, dan yang 1 kadung dikerjakan. Yeah! Bubar! Huft!

Masih di bulan yang sama, saya harus konversi MPS menjadi MRP. Di sela-sela proses yang sangat manual, saya sampai masuk hari Sabtu, seorang diri di office yang pas di posisi saya duduk itu dikenal horor. Untung nggak diganggu apapun/siapapun. Dan.. sudahpun begitu, saya masih lanjut bawa laptop kantor ke kos, untuk kemudian melanjutkan pekerjaan itu. Hasilnya? Ada produk toll di A, yang saya masukin ke B, ada produk toll di C, yang saya masukin ke F. Bubrah pokoknya. Dan.. saya masih menghela nafas sesudah itu.

Masuk kantor jam 06.30 dan pulang kantor jam 21.30 (itupun kalau saja angkot masih ada yang lebih malam, pasti saya pulang lebih malam). Dan lembur itu berakhir duka dengan kesalahan-kesalahan yang berulang. Dimarahin sih nggak, karena orang kantor paham saya masih unyu. Tapi dari nada, apalagi Mbak Tata yang ngomong biasa aja udah kayak marah-marah (piss mbak.. hehe..), berasa berdosa sih bikin kerja salah melulu.

Sungguhpun saya kadang heran kok masih bisa tahan ketika itu. Sudahlah saya nggak punya teman banyak, kerjaan salah melulu, dimarahin sana-sini (utamanya orang produksi), jauh dari rumah, dan lainnya ngumpul jadi satu. Tapi pada akhirnya saya sadar itu yang membuat kuat 🙂

Saya lalu mulai ‘bangkit’ dengan belajar dari setiap kesalahan, dan kebetulan lagi ada implementasi sistem enabler baru. Saya seriusin di situ, baru kemudian mulai berasa angkat nama.

Sempat agak tersinggung ketika Mbak Tata menawarkan saya jadi penggantinya untuk PIC sistem baru itu, tapi bos malah menunjuk nama seseorang yang baru akan masuk 1 bulan lagi. Agak tersinggung yang membawa nikmat karena akhirnya saya menjadi lebih terpacu untuk belajar sistem baru itu, dan hingga 2 tahun kemudian, saya bahkan bolak-balik kantor pusat buat ketemu konsultan pengembangan sistem itu.

Ini belum termasuk kengawuran saya membuat rolling forecast untuk aliansi ya. Nggak terhitung banyaknya kengawuran saya mengisi form milik aliansi-alinasi ternama di dunia itu, yang untungnya kefilter sama bos.

Puncak dari segala salah itu adalah di rolling forecast saya salah input data, dan kemudian berlanjut ke Marketing Head, dan saya dapat email yang paling saya ingat sepanjang masa.

sangat mengenaskan

Email singkat, padat, dan membunuh.. Hahahaha.. *sekarang aja ketawa, dulu mah nangis*

Sejak itulah, untuk setiap data yang diminta, pasti saya mikir berkali-kali sebelum diserahkan. Sejak itulah, untuk setiap tugas yang diberikan, saya akan review terus menerus sampai deadline-nya tiba. Cuma gegara nggak ingin dapat email “sangat mengenaskan” lagi. Hehehe.

Begitulah. Sampai sekarangpun saya ya masih suka salah. Cuma memang kadarnya lain. Sekarang saya kerjanya nyalah-nyalahin orang *loh*. Jika kemudian saya pindah company atau pindah entity, mungkin akan beda lagi kali ya. Ya memang pasti tidak secupu 4 tahun silam, karena siklus manufaktur sudah nempel di otak saya.

Salah itu pasti terjadi, sesempurna apapun kita berusaha. Tinggal bagaimana kita memastikan salah itu tidak terjadi lagi. Itulah peningkatan kinerja yang kita dapat rasakan. Sederhana, tapi manis. 😀

Tentang Istri

Ehm, followers setia blog ini pasti paham bahwa judul di atas tentu tidak mengacu pada si empunya blog. Yaiyalah, manusia yang membayar 250 ribu setahun untuk domain blog ini adalah manusia yang belum punya calon istri sekalipun. Eh, ada, tapi masih di tangan Tuhan. Hahahaha.

Jadi ini murni tentang perspektif.

Di kawasan industri yang fana ini saya mendapati fakta 50%-50%. Ada sebagian wanita tangguh yang bekerja, dan sebagian wanita lain yang tidak kalah tangguh yang memilih fokus di rumah menjadi ibu rumah tangga.

Pada saat yang sama, saya ingat kata-kata Mamak saya.

“Kalau nanti punya cucu, Mamak nggak mau jagain cucu. Enak aje.”

*tepokjidat*

*buru-buru cari mertua baik hati*

Hehehe. Itu kan perspektif. Jadi ya begitulah.

Artinya gini, ada sebagian wanita yang kemudian memilih untuk tetap bekerja setelah punya anak, dan itu otomatis akan mengacu kepada kebutuhan pengasuh. Nah, yang selalu akan jadi bahan pikiran mereka tentu saja begini.

kerja -> cari uang -> uang buat anak

kerja -> waktu habis -> nggak ada waktu buat anak

Bekerja–adakalanya menghilangkan waktu untuk anak, semata-mata mencari uang yang juga untuk anak.

Nah loh!

Sama juga ketika saya ngobrol sama Tere dan Tiwi di Dapur Coet tempo hari. Ngobrol tentang intensitas bos mereka ketemu anak yang bisa dibilang nyaris minim. Tapi, apakah iya, S1 Apoteker macam mereka hendak resign terus jadi ibu rumah tangga?

Jawabannya, nggak. Tapi kenapa? Tere bilang, karena dia dibesarkan di lingkungan ibu yang bekerja.

Lagi-lagi pengaruh masa silam itu penting, dan itu akan sangat berpengaruh pada pilihan.

Ada banyak kasus yang saya dapati selama saya lahir hingga sekarang. Beberapa teman saya memilih untuk tidak membiarkan istrinya bekerja, sementara dia banting tulang. Jadi, nggak ada isu sama sekali soal anak, karena istrinya ada di rumah dan sepanjang waktu untuk si anak. Bahkan dalam kondisi macam inipun, ada yang belum hendak menambah anak.

Tapi ada juga teman saya, suami-istri bekerja, kebetulan istrinya lebih tua, dan kariernya sedang moncer-moncernya. Sebulan, mungkin setengahnya dihabiskan di luar kota. Ketika ketemu, dengan ‘ironis’ dia memperkenalkan pengasuh anaknya, “kenalin, mamanya mereka.”

Ealah.

Juga ada kasus teman yang intensitas pergi jauhnya rendah, tapi karena sama-sama kerja, juga mempekerjakan pengasuh. Ya, ada-ada saja deh. Ada yang pengasuhnya benar, ada yang dua minggu terus resign, dan lain-lainnya. Bahkan kita juga berpikir seribu kali untuk memilih pengasuh bagi anak kan? Salah-salah anak yang dikasihi itu hilang.

Nah, jadi pilih mana?

Entah menurut yang lain, tapi bagi saya model rumah tangga orang tua saya adalah yang terbaik. Kadang-kadang nyesel jadi apoteker ya gini nih. Hehehe.

Orang tua saya keduanya guru, masuk jam setengah 7, pulang jam 2. Separah-parahnya ya pulang jam 4. Selagi kecil, saya dan adek-adek diserahkan pada pengasuh yang datang setengah hari. Yah, saya dulu di bawah asuhan Budhe Dalimin (almarhumah). Tapi proses mendapatkan Budhe juga nggak mudah. Saya yang masih unyu-unyu ini pernah terlempar dari beberapa pengasuhan. Saya pernah dititip ke Maktuo saya–yang kemudian menyerah mengelola saya. Kemudian dilempar ke seorang pengasuh berusia 12 tahun, yang kemudian bikin dada saya biru. Sampai kepada pengasuh yang nonton TV selagi menjemur saya (makanya saya hitam begini).

Terus saya yang belum dapat calon istri ini mikirnya kejauhan? Nanti saya gimana?

Hedeh.

Iya, model ideal rumah tangga orang tua saya itu hanya ideal ketika anak-anak sudah sekolah. Apalagi saya sekolah di tempat yang sama dengan orang tua saya mengajar. Jadilah, berangkat bareng, di sekolah ketemu, pulang nanti jam 4 sudah sampai rumah. Bikin PR, dll, saya sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang orang tua.

Tapi, untuk level menangani bayi?

Selain kisah saya tadi, kedua adik saya termasuk hoki karena orang tua saya sudah mendapatkan Budhe. Jadi ya bolehlah. Masalah kemudian muncul waktu si Dani nongol. Saya (di usia 9 tahun) mengalami gimana mencari penitipan si Dani. Mulai dari istri tukang sapu sekolah (yang dengan ironis kemudian kabur dari rumah–bertahun-tahun kemudian), terus ke penitipan anak di dekat sekolah (yang penuh nuansa dan dilema, termasuk ngurusi adek saya yang diare–padahal ya pengasuh disana itu dibayar), sampai kemudian dapatlah tetangga depan rumah. Adek saya yang berusia 2/3 tahun sudah akan berada dalam pengasuhan saya dan adek-adek yang lain sepulangnya kami dari sekolah.

Dan kemudian ada banyak hal yang menjadi pikiran saya untuk kemudian berumah tangga. Apakah hendak istri yang jadi ibu rumah tangga atau tidak? Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, adanya malah tambah galau.

Belum lagi, di era hedonisme macam ini, sumpeh deh, saya nggak kuat kalau hanya sendirian menopang keuangan. Bagi saya double income adalah keharusan. Realita mengharuskan demikian, ditambah masa lalu saya yang memang dilahirkan dari keluarga double income. Dobel wae kurang, ono meneh single.

Hingga akhirnya permenungan saya lari ke kisah Cinta Brontosaurus.

Heh? Apa pula ini?

Cinta Brontosaurus itu filmnya Raditya Dika beberapa pekan lagi. Konsep pikirnya adalah, kalau di era cinta monyet (jaman SMP) kita jatuh cinta itu murni karena jatuh cinta. Kalau sekarang? Sesudah lihat, kok cantik, lalu mikir, rumahnya jauh nggak kalau mau diapelin, agamanya cocok nggak, emaknya galak nggak, kakaknya ganas nggak, adeknya cantik nggak, dan seterusnya.

Dalam hal ihwal hendak berumah tangga, meskipun sama siapanya jelas masih kabur sampai sekarang, saya mungkin sudah berpikir terlalu jauh dengan menuliskan ratusan kata di atas. Pada akhirnya, cinta yang seharusnya menjadi dasar malah nggak murni. Bisa jadi demikian.

Begitulah, ada banyak hal yang harus dipikirkan, ada banyak yang hal yang musti direncanakan, dan kadang terlalu banyak hal yang belum perlu untuk dipikirkan dan direncanakan. Yang perlu sekarang adalah memilah dan memilihnya.

Tapi sebelum itu, mari kita cari calon istri dulu ya.

#eaaaaa

Mendadak Sedih

Ketika orang-orang yang kita cintai butuh bantuan, pengennya pasti kita ada disana kan?

Sama persis ketika adek saya opname, besoknya mamak saya ujug2 sudah sampai di Jogja. That’s why saya nggak pernah kasih tahu kalau saya sakit, cek darah, sampai opname sekalipun, KECUALI sudah sembuh kepada orang tua saya. Supaya tidak merepotkan saja sih.

Nah, sepagian tadi saya dikasih aneka link dan kode dan entah apa namanya dari mamak saya. Yang saya pahami sih, itu semacam akun untuk data keguruan di departemen yang duitnya paling melimpah sak Endonesa tapi ngegarap UN wae amburadul.

Kenapa saya sedih?

Karena orang tua saya pasti nggak bisa mengakses segala sistem yang ribet itu. Dan pasti mereka butuh bantuan anaknya. Untung saya ini manusia online, yang selalu online dimanapun karena jomblo.

Kalau lagi begini, pengen rasanya ada di rumah, ngajarin orang tua caranya online yang baik dan benar, menggunakan komputer yang sekarang terbengkalai, memakai kabel telkom yang bayaran bulanannya nggak sampai 80 ribu, dan segala fasilitas yang menjadi lengkap setelah anak-anak kabur dari rumah.

Hahaha.. Melow amat yak?!

Oya, sedikit kritik sih buat penyedia. Mengingat anggarannya yang 20% Endonesa Raya. Meng-IT-kan sistem itu baik. Tapi ada baiknya ditunjang dengan service yang oke juga. Mosok webnya lelet sak umur-umur? Ngalah-ngalahi Manajer Sepakbola di waktu padat? Kan bisa dikasih satu komputer di sekolah buat akses khusus itu. Jadi nggak perlu menyuruh guru mengecek sendiri dengan caranya masing-masing kan?

Lagian ini ya aneh, sertifikasi belum dapat karena ada yang kurang, kurangnya apa, cek sendiri di online. Lahdalah. Minimal yak, summary yang kurang yang bisa diprint, dicetak, distribusi, lalu dilengkapi. Masak sih anggaran yang 20% Endonesa Raya itu nggak bisa cover juga?

Ini mending ya orang tua saya yang punya anak manusia online, lha yang anaknya masih cupu cupu unyu dan ngartinya cuma facebook, gimane?

Mbohlah.