All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

2013

Haloh, para pembaca ariesadhar.com, yang setia maupun yang kesasar oleh tag “video bokep”, saya selaku pemilik rumah kecil ariesadhar.com mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014! Tahun baru sudah tiba dan saya masih jomblo aja.Hih!

Tahun 2013 yang barusan saya lewati di rumahnya Mbak Upi, secara umum memberikan makna hidup yang banyak. Secara karier tentu saja nggak ada apa-apanya, soalnya pas pergantian tahun 2012 ke 2013, saya adalah officer. Pas dari 2013 ke 2014?

Apa hayo?

Beda Acara Televisi Dulu dan Sekarang

Sebelumnya, saya hendak mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Haji Sulam, si tukang bubur yang naik haji. Dan saya baru sadar bahwa selama ini saya salah orang, saya pikir yang Haji Sulam itu si Haji RW. Maklum, walaupun jumlah episodenya sudah melebihi jumlah bulu dada Rhoma Irama, saya hampir nggak pernah nonton sinetron itu sampai ada anak kos baru yang lantas menguasai TV dan remote-nya, serta dengan setia menyaksikan kiprah Haji Sulam di layar kaca.

Haji Sulam adalah profil tayangan televisi masa kini, yang tentu saja beda dengan zaman kuda gigit besi. Kalau dulu, sinetron semacam Panji Manusia Milenium atau Janjiku atau Bulan Bukan Perawan itu ditayangkan seminggu sekali. Jadi kalau tulisannya sudah “bersambung…” itu berarti minggu depan baru dapat sambungannya. Kalau sekarang? Besok juga sudah ketahuan kelanjutannya.

images

Lanjut!

Jadi Anak Sulung, Enak Nggak?

Anak itu tercipta lewat pertemuan sel telur dan sperma yang lagi iseng pengen main-main ke ovarium. Nah, anak pertama adalah sperma pertama yang kebetulan ketemu dan jodoh dengan sel telur yang ditemuinya. Anak kedua? Tentu saja adalah sperma kedua yang sukses bertemu jodohnya di dalam sana.

Nah, jadi bisa dipastikan bahwa nggak ada satupun anak di dunia yang bisa memilih pengen jadi anak nomor sekian. Jadi semisal si sperma X ini punya angka favorit 7 karena menggemari Cristiano Ronaldo, dia nggak bisa milih bakal jadi anak ke-7, soalnya orangtuanya sudah KB. Bakal susah juga kalau dia penggemar JKT48, karena di era modern ini nggak ada orangtua yang anaknya sampai 48.

Yup, menjadi anak sulung adalah sebuah fakta, kenyataan yang kudu dihadapi. Siap atau tidak siap. Saya sendiri mungkin bisa dibilang nggak siap jadi anak sulung. Salah satu yang pernah dikisahkan oleh ahli-ahli sejarah kepada saya adalah bahwa saya pernah dengan tangisan maksimal meminta orangtua membuang adik saya.

“BUANGGG!!!”

Apakah yang terjadi?

[Review] Tulang Rusuk Susu – Indra Widjaya

Setelah dibawa kemana-mana, akhirnya buku “Tulang Rusuk Susu” ini kebaca juga. Fiuh. Ada untungnya juga buku ini saya bawa ke Jogja, karena akhirnya terbaca juga sembari menunggu jodoh bis Pahala Kencana di Terminal Jombor. Saking lamanya menunggu, saya hampir mengganti nama bisnya jadi PHP Kencana.

picture008Memang si Tristan nggak pernah jago kalau disuruh motret, jadinya ya kayak gambar di atas ini deh.

YUK!

[Review] NGENEST Ernest Prakasa

Bermula dari upaya menjadi abang yang baik, akhirnya saya mengantarkan si Dani ke Toga Mas. Oh, iya, soal menyoal bagaimana cerita saya di Jogja, itu ada juga ceritanya. Tentang naik apa saya ke Jogja, juga ada kisahnya.

Nah, namanya pecinta buku, kalau masuk ke Toga Mas, sudah pasti tergoda. Godaan pertama tentu saja godaan ngamuk karena buku saya nggak ada di situ. Godaan kedua adalah godaan beli. Godaan beli itu juga jadi penting karena sebenarnya di kos juga masih ada setumpuk buku yang belum kelar dibaca. Ah, jangankan di kos. Di dalam si PG yang saya bawa ke Jogja saja ada dua buku, Past and Curious sama Tulang Rusuk Susu.

Berbekal niat teguh, akhirnya saya sampai ke kasir dengan satu buku persiapan SNMPTN IPS, satu buku persiapan UN 2014 IPS, dan…

…sebuah buku warna kuning. Judulnya NGENEST.

coverdepan

 

Baca lanjut!

Choir Instan

Tidak hanya mie yang instan di jaman sekarang ini. Sesuatu yang berlabel instan sudah menggejala di segala sisi kehidupan. Sebut saja artis-artis yang hamilnya instan. Dengan prengas-prenges sana sini nikah bulan Januari, eh bulan Mei sudah punya anak pertama. Begitulah contoh hamil instan. Tapi anak pertama itu nggak prematur juga sih. Jadi, ya saya bingung.

Salah satu jenis instan yang lantas saya cicipi adalah dengan menjadi anggota choir instan!

Jadi ceritanya saya diajakin sama seorang teman untuk ikut koor paroki, dalam rangka mau ikut sebuah lomba yang bahkan saya nggak tahu lomba apaan. Berhubung kebetulan jadinya tanggal 7 kemaren saya kosong jadwalnya, ya sudah saya ikut. Apalagi sebagai seorang jomblo berkualitas, malam minggu saya juga kosong. Nah, konfirmasi saya ikut itu adalah tanggal 6 jam 4 sore. Lalu saya baru ikut latihan pertama dan terakhir tanggal 6 jam 8 malam. Dan naik panggungnya? Tanggal 7 jam 12 siang.

Kalau mau dirunut kembali, saya mulai gabung tanggal 6 jam 8 malam, sampai kemudian turun panggung di tanggal 7 siang, itu bahkan belum 24 jam saya bergabung dengan koor ini. Benar-benar instan. Orang PDKT aja nggak banyak yang secepat itu langsung jadian.

Jadian? Hah?

[Interv123] Blessed Survivor

Interv123 baru nongol bersama Bu Bidan, tanggal 20 kemaren. Seharusnya akan nongol lagi tanggal 10. Tapi hari ini saya terpaksa melanggar ketentuan saya sendiri karena tamu Interv123 hari ini buat saya sungguh luar biasa. Dan adalah kerugian besar bagi saya kalau harus egois menahan isi wawancara ini sampai tanggal 10. Lagipula, wawancara dilakukan tanggal 1. Mengetiknya antara tanggal 1 sampai tanggal 2, bulan 12, di tahun 2013. Baca lagi, 1-12-13 ke 2-12-13. Semuanya masih beraroma 123. Jadi pelanggaran masih diperkenankan. Seperti yang saya tulis di salah satu halaman skripsi: setiap hal ada pengecualiannya.

Semuanya bermula dari sesorean tadi–sepulang jadi apoteker beneran, sekali dalam sebulan–saya iseng mengecek TL Twitter. Sebagai penulis yang followernya nambah 3 tapi kurang 5, saya harus eksis bercicitcuit. Saya lalu mendarat di posting Derita Mahasiswa berjudul Tuhan Punya Rencana Lain. Awalnya sih biasa saja, sampai kemudian saya membaca hingga akhir posting itu. Begitu selesai? Saya terhenyak, karena ternyata saya pernah membaca nama di dalam posting itu sebelumnya.

Penulis favorit saya, beberapa bulan yang lalu menulis cerpen berjudul Anak Lelaki di Samping Jendela. Di akhir cerita, ada tulisan begini:

Caramel Macchiato

Ya, tokoh di dalam posting Derma dan tokoh di dalam salah satu cerpen dari penulis favorit saya itu merujuk pada 1 orang yang sama: @shiromdhona.

:)
🙂

Mbohae!

Cara Mengelola Sepeda Motor Butut

Sebagai teman kos seorang engineer pabrik sepeda motor terbesar di Indonesia, saya lumayan sering ngobrol soal motor di kos-kosan. Jadi tahu deh kalau dalam 1 menit bisa dicetak 3 buah sepeda motor. Pantas saja jalanan tambah macet tiada terkira, semacet jodoh.

Nah, pas pula saya punya pengalaman bersama sepeda motor butut bernama Alfa, yang saya tuangkan dalam buku berjudul “Oom Alfa”, diterbitkan oleh Penerbit Bukune.

Lalu apa hubungannya?

Begini, sekarang-sekarang ini saya mulai jarang mendapati motor jadul berkeliaran bebas di jalanan. Kemungkinan pertama, mereka keder karena sudah tidak sesuai dengan fashion jalanan. Atau kedua, mereka dilarang berkeliaran karena sudah masuk bengkel. Atau ketiga, mereka sudah dipreteli dan dijual lepasan untuk kanibal. Jadi, kalau ada, tentu merupakan sebuah kesempatan besar.

Kesempatan apanya? Yah, orang punya motor butut itu ada 2 opsi. Satu, kolektor. Kedua? Karena mampunya ya beli yang butut. Jadi, sasaran saya di tulisan ini adalah orang-orang yang hanya mampu punya motor butut. Oke? Simak deh.

Preventive Maintenance

Ini istilah asli pabrik. Waktu saya punya Alfa, mana ada saya kenal istilah ini? Buatlah ceklist pribadi perihal bagian-bagian yang harus dicek rutin dalam kendaraan. Misalnya kalau Alfa dulu ya oli samping. Kalau habis, ya berabe. Seperti yang termaktub dalam bab 1 Oom Alfa. Hal ini berguna untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat sesuatu yang sebenarnya bisa dihindarkan.

Sediakan Aneka Kunci di Jok

Memang, jok motor jadul nggak menyediakan tempat yang cukup. Beda sama motor terkini yang lama-lama kulkas juga bisa masuk. Tapi nggak ada salahnya bagi pemilik motor butut untuk menyediakan aneka kunci dan perkakas sepeda motor. Untuk apa sih? Tentu saja untuk melakukan penanganan segera ketika motor mendadak macet. Tidak ada yang tahu kapan motor butut akan macet selain motor itu sendiri dan Tuhan. Kayak saya pernah kena Alfa mandek nggak bisa apa-apa jam 21.30 di perempatan concat Jogja, 6 kilometer dari kos. Nggak bawa kunci apapun. Ya sudah, selamat mendorong. Memang, begitu sampai kos-kosan, otot-otot kaki saya sudah sebesar Hulk.

Sedia Busi Cadangan

Busi adalah salah satu bagian penting yang bisa diutak-atik dengan mudah. Dan busi juga kendala umum sepeda motor butut. Umumnya sepeda motor jadul businya bisa diakses dengan mudah. Kayak Alfa, businya persis berhadapan dengan ban depan. Jadi sekali keciprat, selesailah kejayaannya. Nah, karena mudahnya untuk diakses air dan aneka gangguan, maka sediakanlah busi cadangan. Jadi kalau dia mati karena gangguan itu, kita bisa memperbaikinya dengan mudah.

Selalu Amati Montir Saat Servis

Dulu Alfa kalau ke bengkel itu sudah ibarat nge-date. Kadang seminggu bisa tiga kali. Dan dia nggak bosan-bosan melakukan itu. Nah, dalam rangka merawat motor butut, perhatikan setiap pekerjaan yang dilakukan montir, sehingga kita tahu root cause dari kerusakan motor. Siapa tahu kita bisa mengelolanya sendiri kelak. Saya, misalnya, sudah bisa menangani sedikit perihal karburator yang bocor dan api yang tidak sampai ke busi. Kalau dalam istilah apoteker, ini namanya pengobatan sendiri.

Banyak Berdoa

Namanya barang jadul, kita nggak bisa menerka apa kehendaknya. Terkadang dia tampak lelah dengan riak-riak dunia dan ingin istirahat. Nggak mikir kalau kita lagi di tengah-tengah jembatan Suramadu. Kalau kita sudah menyiapkan preventive maintenance, juga sudah bawa kunci pas satu lemari, dan juga sudah hafal titik-titik kerusakan, maka yang kita perlukan berikutnya adalah berdoa. Supaya dia, kalaupun rusak, tidak di tempat yang menyusahkan, misalnya di tengah kuburan, atau di hati mantan.

Sebisa Mungkin Jangan Boncengan

Namanya juga sudah tua, sudah tidak kuat dengan beban hidup, ya kalau bisa jangan dipakai boncengan. Saya punya teman pemilik motor butut, yang dari 7 kali kesempatan dipakai boncengan 9 kali bocor ban. Selain untuk tidak menambah beban yang siapa tahu memaksa mesin memutar paksa melebihi kemampuan yang sudah menurun, ini juga dalam rangka tidak mengikutsertakan orang lain dalam kesusahan kita. Nggak asyik kan kalau orang nebeng tapi ujung-ujungnya bantu dorong? Kalau boncengan sama Hercules atau si vampir ganteng Twilight sih nggak apa-apa, malah bisa bantuin. Tapi jangan dicoba kalau boncengan sama Bernard Bear ya.

Hari gini kredit motor sudah begitu mudahnya. Motor butut umumnya hanya untuk dikandangkan, atau kalaulah dimiliki umumnya dalam rangka koleksi. Tapi nggak ada salahnya saya berbagi soal ini, karena saya nggak punya duit untuk dibagi. Lebih lengkap bisa dong baca buku saya, Oom Alfa 🙂

Jalan-Jalan ke Montong Edisi Tiga

Hari ini bisa dibilang melelahkan, tapi penuh dengan nasib baik. Masih nggak percaya kalau Tuhan itu betapa amat baiknya pada kita? Rugi ah.

Perjalanan pertama kali saya ke Jalan Montong adalah dalam rangka menyetor naskah Oom Alfa. Perjalanan kedua adalah ketemu sama editor, plus mengurusi beberapa printilan menjelang penerbitan. Perjalanan ketiga adalah hari ini, dalam rangka sebuah acara kumpul-kumpul yang disebut Sunday Meeting. Yah, percayalah, meski setiap bulan saya menghelat Monthly Production Planning Meeting, rasanya jelas beda dengan Sunday Meeting ini. Tentu saja saya tidak berharap bahwa meeting saya digelar di Sunday. Enak wae.

Pagi hari saya sudah cabut dari kos-kosan. Pengalaman dulu-dulu, saya menghabiskan waktu 3 jam dari Cikarang ke Montong. Cuma saya lupa kalau ada faktor hari Minggu. Nyatanya dari Pintu Tol Cikarang Barat sampai ke Komdak itu hanya 30 menit sajah saudarah-saudarah! Saya kok ya pas kebangunnya di Komdak, setelah sejenak tidur sambil mimpi punya pacar di atas bis 121A. Dengar-dengar yang 121 mogok, tapi nggak tahu juga sih.

Terbilang kepagian karena 7.15 sudah sampai Komdak, saya lalu melanjutkan perjalanan ke Halte Kuningan Barat/Timur untuk lanjut menuju arah Ragunan. Tidak, saya tidak hendak menyamakan muka dengan penghuni Ragunan. Sudah jelas lebih ganteng mereka. Kalau saya sih cenderung lebih ganteng dibandingkan dengan yang di Senayan. *if you know what i mean*

Perjalanan terbilang lancar–maklum, minggu pagi–sehingga saya sudah sampai di depan Cilandak Mall jam 8 pagi. Eleuh. Acara jam 10, jam 8 sudah hampir sampai? Memang saya ini teladan ya.

Dalam rangka niat suci mulia kebelet boker, saya akhirnya turun di tempat yang disebut Cimol ini, dan masuk ke salah satu tempat penjualan almarhum ayam. Tenang saja, saya tidak cukup nista dengan hanya boker disana lalu kabur. Saya tetap order kok. Air putih.

Jam 9 saya cabut ke Montong, kantor penerbit tempat saya bernaung. Sudah nggak kagok lagi seperti dua perjalanan sebelumnya. Sejujurnya, daerah Ciganjur, apalagi kalau sudah masuk Montong, nggak berasa Jakarta. Malah berasa di Kulonprogo. Termasuk tadi saya lihat ada orang pamit kerja sama tetangganya. Masih ada kok di Jakarta.

Saya lalu bertemu dan duduk semeja dengan 3 penulis GagasMedia, Purba, Anggun, dan Angel. Saya doang yang Bukune di meja itu. Meja orang-orang niat, dan orang-orang yang datangnya jauh-jauh. Purba dari Bandung, Anggun dari Tangerang, Angel dari BSD. Mereka-mereka ini berturut-turut adalah penulis Syarat Jatuh Cinta, After Rain, dan Tears In Heaven. HAYO BELI BUKUNYA!

Acara kali ini buat saya berguna sekali. Maklum, penulis baru. Materi-materi disampaikan oleh trio editor, Abang Christian, Mbak Iwied, dan Mbak Gita, dengan caranya masing-masing dan muatannya masing-masing.

Nah, pas di sela-sela sesi saya baru nyadar. Dari SMA sampai sebelum Oom Alfa terbit, saya lumayan sering ikut sesi kepenulisan begini. Jadi sebenarnya hal-hal yang disampaikan oleh trio editor nggak baru-baru amat. Hanya saja, ada rasa yang berbeda ketika sekarang saya berada dalam pelatihan bukan sebagai orang-yang-kepengen-jadi-penulis-buku, tapi saya adalah penulis buku. Bedanya banyak, tentu saja. Salah satu yang utama adalah ketika sudah jadi penulis buku, ilmu yang disampaikan langsung nyambung dengan prakteknya. Iyalah, orang-yang-kepengen-jadi-penulis-buku tentu saja belum mengalami rasanya ‘diedit’, jadi nggak kebayang juga soal begini.

Satu hal yang pasti, sesi hari ini menjawab pertanyaan kenapa LOVEFACTURE punya saya gagal di lomba TYAR Bukune. HAHAHAHAHA.

Self-Editing pada kenyataannya adalah bagian penting dalam proses panjang penerbitan buku. Untuk itulah, bagi yang pengen menerbitkan buku, lakukan self-editing terlebih dahulu. Jangan selalu menganggap naskah kita itu langsung baik. Cek dan ricek berkali-kali sebelum kita kemudian mengirimnya ke penerbit. Termasuk juga yang agak ramai tadi adalah perihal penempatan tanda baca, huruf besar, sampai repetisi kata.

Hujan deras memang terjadi di sesi 3, sesudah makan siang. Bayangkan betapa indahnya hidup ketika habis makan siang, lalu sejuk karena hujan. Seandainya ada bantal disana. *dikeplakmbakgita*

Acara ditutup jam 2-an, sementara saya melanjutkan dengan pengundian arisan buku Gagas-Bukune. Nantikan saja videonya di YouTube. Tolong diperhatikan dengan cermat, ada nggak muka saya. Atau kalau nggak kelihatan, cari aja yang agak gelap-gelap sedikit, pasti ada saya disana.

14.30 saya cabut dari Montong, naik M20 sampai halte TransJ Departemen Pertanian. Saya mau mampir tanya kabar impor sapi, tapi kayaknya sih tutup, nggak jadi deh. Sempat terhenyak ketika masih bergelantungan di TransJ koridor 9, eh di kejauhan tampak bis bertuliskan Kota Jababeka. Tapi nyatanya hari ini seluruh dunia berkonspirasi mendukung saya. Hanya 10 menit saya menunggu di depan Plangi, datanglah Bis Lippo. Ah, seandainya menunggu jodoh semudah menunggu bis ke Cikarang. Dan entah kenapa pula, saya tidur dan terbangun persis di bawah jembatan layang Cikarang Barat. Jadi saya turun dulu, naik angkot, baru sadar 100%.

Dua kali tertidur, dan terbangun di tempat yang tepat. Masih ditambah sama sekali tidak ketetesan hujan, dan hanya melihat sisa-sisa hujan di sepanjang perjalanan. Trip hari ini sungguh keren.

Saya tahu bahwa saya masih pemula, bahkan terbilang terlambat menerbitkan buku. Untuk itulah saya harus mengejar ketinggalan itu dengan bekerja keras. Sekadar 2-3 jam perjalanan dari Cikarang ke Jakarta, lalu balik lagi–jadi total 5-6 jam–mestinya bukan halangan untuk bertumbuh kan? Saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk orang-orang yang berusaha, dan untuk itulah saya terus berusaha.

Terima kasih buat penerbit saya nan kece, Bukune, atas modal hari ini. Dijamin berguna deh.

*kemudian lanjut tidur*

*bukannya lanjut nulis*

*dikepruk editor*