All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Konsep Beda Belanja Online via Shopious

Sejujurnya, saya mengenal belanja online itu sudah lama, setidaknya waktu itu masih periode pacar kedua–sekarang tentu saja sudah jadi mantan. Nah, sejak saat itu, yang namanya belanja online sudah menjadi kegiatan kekinian yang harus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi. Beberapa benda yang pernah saya beli adalah DVD game, mouse, sampai backpack andalan yang sudah dibawa ke Kendari, Manado, sampai Kupang dan kemungkinan menyusul kota-kota lainnya. Yah, walaupun memang baru belakangan saya bertualang ke ITC Cempaka Mas dan menemukan banyak vendor online shop disana, tapi saya mah orangnya gitu, malas repot. Ke depan ya bakalan ngonline lagi.

shopious.com

NAH! Salah satu jenis belanja kekinian yang digandrungi oleh teman-teman kantor yang rerata adalah mahmud alias mamah-mamah muda adalah belanja via Instagram. Konsepnya sih di Instagram ada lapak, ada kontak WhatsApp atau BBM, berkomunikasi kemudian transaksi. Agak beda dengan pelapak besar yang sering saya sambangi di internet. Beberapa toko bahkan sempat nongol di reply-an Instagram saya karena perkara hashtag yang kebetulan sejalan dengan dagangan.

Eh, ternyata hidup itu selalu berkembang seiring dengan banyaknya manusia yang berkembang biak. Salah satu perkembangan itu tampak dari perbedaan. Dan salah satu yang berbeda itu bernama Shopious, yang punya tagline ‘Media Iklan Toko Online’.

Bedanya dimana?

Shopious, sesuai taglinenya adalah media iklan, bukan toko. Jadi Shopious melakukan seleksi ketat terhadap toko-toko yang masuk ke mereka. Nggak asal toko juga bisa masuk karena harus mendaftar, membayar membership, plus Shopious juga melakukan review dan mengajak bicara (…terus ditembak, cieee…) para pemilik toko untuk mengetahui apakah online shop itu terpercaya atau tidak.

Di Shopious kita akan melakukan klik pada foto barang atau nama toko untuk membuka halaman barang atau toko, dan kemudian nanti ada kontaknya. Disitulah kita bisa menghubungi langsung. So, intinya Shopious cuma mengiklankan.

Loh? Terus apa untungnya?

Dengan skema ala Shopious ini tentu kita nggak usah berlelah-lelah cek aneka IG. Selama ini kalau di IG kan carinya via username atau hashtag tertentu. Iya, kalau ketemu. Kalau nggak? Galau sambil garuk-garuk aspal, gitu? Dengan skema seperti ini, maka tersedia barang yang banyak, bervariasi, dan tentu saja berkualitas tinggi. Soal selera juga diperhatikan karena barang banyak dan pengunjung juga banyak. Shopious mengembangkan software atau program yang bikin mereka mampu memahami selera beradasarkan barang yang di-vote up atau down. Dengan demikian, bisa lebih banyak pilihan yang kekinian untuk dipilih kemudian di-BBM untuk membelinya.

Itulah sebabnya saya menyebut bahwa belanja online via Shopious ini adalah konsep yang berbeda, karena memang bukan dia yang jual, lebih kepada etalase. So, model begini juga boleh jadi cara dan motivasi para pemilik online shop untuk tumbuh dan berkembang dalam usahanya meningkatkan jumlah wirausahawan-wirausahawati di Indonesia. Begitu? Begitu!

Tentang Beras Plastik: Mari Belajar Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

Oke, negara ini memang super. Super sekali, bahkan. Banyak makanan absurd–selain makan teman–yang boleh jadi pada akhirnya meningkatkan jumlah penderita penyakit aneh-aneh. Pewarna pakaian jadi pewarna es, boraks jadi barang yang justru wajib ada supaya kenyal, dan pacar harus ada meskipun tidak cinta. Pelik sekali. Semakin pelik ketika lantas muncul yang namanya OOM ALFA, eh, beras plastik.

Seperti biasa, begitu sudah masuk soal beginian, maka segera telunjuk, kelingking, jari tengah, sampai jempol kaki menunjuk pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Sampai ada judul-judul nan super bingit, semisal yang ini:

Picture1

Selengkapnya!

(Mencoba) Menelaah SKP Apoteker

Ini ceritanya mau nulis agak serius sedikit, jadi tolong pembaca blog ini yang biasa menikmati pedihnya LDR maupun yang berasal dari kalangan jomlo menahun yang berkerak bisa klik lambang X di pojok kanan atas daripada kuciwa. Sengaja saya nulisnya di blog ini, bukan di blog lain karena jiwa dari posting ini sejalan dengan tagline blog ini: sebuah perspektif sederhana. Selain itu, saya nggak mau cuma menjadi Apoteker yang mentertawakan kegilaan masa kuliah via tulisan 97 Fakta Unik Anak Farmasi tanpa lantas memberikan masukan positif.

Entah bagaimana mulanya, tetapi beberapa hari terakhir grup-grup WhatsApp yang berisi apoteker-apoteker harapan bangsa dan mertua mulai menggelar diskusi berat tentang SKP. Salah satunya yang memicu–kalau di linimasa saya–adalah status FB dari seorang bapak yang fotonya terpampang di ruang rapat pimpinan Badan POM. Rasanya nggak perlu saya jelaskan disini karena toh sudah beredar di sebuah website. Hiks, saya gagal menangkap peluang, bahwa cukup copy paste status FB Pak Sampurno saja sudah lebih dari cukup menarik viewer dan disharingkan kemana-mana, Alexa naik, invoice berdatangan.

Selengkapnya!

Kajian Lirik Lagu ‘Dekat Di Hati’ RAN Menurut Jenis-Jenis LDR

Jadi ceritanya dua minggu yang lalu saya dan kawan-kawan karaokean di Ekalokasari Plaza alias Elos, tepatnya di salah satu karaokean keluarga yang kurang terkenal namanya, apalagi jika dibandingkan dengan Inul Vista, Happy Puppy, Nav, dan Diva. Tapi nggak apa-apa, karaokean terkenal tidak menyediakan karaoke 2 jam bonus 1 jam.

Nah, salah satu lagu yang dinyanyikan ketika itu adalah ‘Dekat Di Hati’ dari RAN. Kenapa bisa ada? Karena saya yang milih. Kenapa saya pilih? Karena nada dasarnya pas. Kalau saya pilih lagunya Aerosmith, sesudah karaoke saya bisa masuk RSUD Ciawi karena salah urat. Pas lagu itu diputar, eh, ada kawan saya yang LDR Jakarta-Ambon mendadak gundah gulana. Lagu ‘Dekat Di Hati’ ini memang sedang dinobatkan sebagai lagunya anak LDR.

sumber: youtube.com
sumber: youtube.com

Berhubung saya juga lagi LDR Jakarta-London, saya juga lumayan sering menyanyikan lagu ini entah sambil pipis, sambil kerja, sambil menggalau melihat awan di pesawat kalau lagi dinas, hingga sambil nunggu gaji naik. Sesudah ditelaah ternyata lagu ‘Dekat Di Hati’ ini tidak sepenuhnya relevan dengan seluruh jenis LDR. Ah, kok bisa? Bisa saja, makanya saya mau membuktikan dengan melakukan kajian terhadap potongan lirik lagu ‘Dekat Di Hati’ dari RAN ini yang disesuaikan terhadap 5 Jenis hubungan jarak jauh alias LDR.

Selanjutnya!

4 Alasan Cowok Farmasi Adalah Calon Suami Ideal

Sudah lama ya saya tidak menulis sesuatu yang berguna untuk perkembangan dunia kefarmasian. Di sela-sela polemik SKP yang lumayan meruncing dengan terjadi polarisasi, maka ada baiknya sebagai pemilik ijazah apoteker yang tidak mengurus SKP karena tidak melakukan praktek kefarmasian, saya mencoba menengahi dengan tulisan yang visioner dan membangun. Dari judul ini, kira-kira tampak visioner nggak ya?

TENTU TIDAK!

58199935

Ya, memang. Kontribusi saya bagi dunia kefarmasian paling mentok adalah membuat para apoteker tertawa dan mengenang masa silam, semisal lewat tulisan 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Begitu saja, kok. Makanya sekarang saya mau melakukan tinjauan tentang posisi cowok farmasi–yang langka itu–dalam perspektif calon suami karena setelah saya renungkan di taksi dari Salemba ke Palmerah, ternyata ada alasan sahih yang membuat anak farmasi dapat dikategorikan sebagai calon suami yang ideal. Apa saja itu? Ini dia~~!

Selengkapnya!

78 Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Ketika Prajab

1. Melakukan demo agar prajab dipindah ke villa di Puncak.

2. Yang penjaganya kuplukan dan senteran.

3. Membawa setrika, milik tetangga, tanpa ijin.

4. Membawa hewan peliharaan.

5. Membawa pasangan baik sah maupun belum sah ke dalam kamar.

6. Mempersilakan rekan sekamar membawa pasangan sah maupun belum sah ke dalam kamar.

7. Memesan pasangan ke RA dengan tarif 80 juta short time.

8. Menyuruh rekan sekamar nge-BBM RA untuk minta diskon agar 80 juta bisa semalam suntuk.

9. Menurut ngana, CPNS sanggup bayar?

10. Gaji wae 1,8 juta sebulan. Heu.

11. Berdemo minta sekamar dengan lawan jenis.

12. Membawa kompor gas, milik tetangga, yang dagang nasi goreng.

13. Membawa tabung gas 3 kilogram, 1 lusin.

14. Anda sedang Prajab, bukan bakulan!

15. Membawa meja biliar ke dalam kamar.

16. Makan pagi-siang-malam dengan hanya memakai sandal jepit

17. Makan pagi-siang-malam dengan sebelah kaki diangkat ke kursi

18. Lu kate warteg!

19. Membungkus sisa makan pagi-siang-malam.

20. Membungkus snack sisa coffee break dan tidak membagi-baginya kepada rekan satu kamar.

21. Ijin ke bank untuk menyekolahkan SK.

22. Woi! SK PNS aje belum dapat, lu mo ngegadaiin SK apaan?

23. Ijin ke Korea untuk ketemu Won Bin.

24. Ijin ke Jepang untuk berfoto bersama Rin Sakuragi.

25. Atau Maria Ozawa.

26. Bermain voli pantai, lengkap dengan bikininya.

27. Memanggil Berty Tilarso untuk senam.

28. Tenang, sudah ada instruktur senam sendiri di lembaga diklat.

29. Datang dan pergi sesuka hatimu.

30. Uwow! Kejamnya dikau. Kejamnya dikau.

31. Menggunakan sepatu berduri Farhat Abbas.

32. Memanjangkan rambut seperti Ki Joko Bodo.

33. Memakai kupu-kupu sebagai dasi.

34. Mengenakan rok itu dilarang, terutama jika anda adalah lelaki.

35. Cinta lokasi, dengan peserta lain yang sudah jadi bini orang.

36. Cinta lokasi dengan Widyaiswara yang adalah emaknya orang.

37. Ijin keluar kelas untuk menyimpan ASI, padahal kamu kawin juga belom.

38. Merokok di dalam kelas.

39. Mengambil InFocus dan menjualnya.

40. Menatap mata Widyaiswara dengan belas kasihan.

41. Membawa umbul-umbul.

42. Ngobrol dengan Widyaiswara pada saat orang lain presentasi. Helo! Etika lo dimana?!

43. Makan sambil kayang.

44. Apalagi makan teman sambil kayang.

45. Menuliskan kenangan di papan tulis, tanpa disuruh oleh Widyaiswara.

46. Menyatakan cinta pada Widyaiswara.

47. Menyatakan cinta pada Mamang Bakso.

48. Membeli bakso kemudian lari tanpa membayar.

49. Melakukan tawuran dengan peserta prajab lainnya.

50. Mengukur tinggi rok peserta yang di atas lutut, tanpa ngajak saya.

51. Memakai celana training, kemeja, dasi, dan sandal jepit pada saat bersamaan.

52. Melepas nametag saat beredar di sekitar lokasi Prajab.

53. Berharap bahwa sepulang dari prajab, tanpa diurus, status sudah naik jadi PNS.

54. RAUSAH NGIMPI!!!!

55. Melakukan akad nikah di ruang kelas.

56. Melakukan resepsi di ruang kelas.

57. Melakukan malam pertama di ruang kelas.

58. Menyembelih kambing domba di ruang kelas.

59. Melakukan demo karena ternyata prajab pola baru nggak perlu botak.

60. Bergerak senam sajojo ketika musiknya poco-poco

61. Atau bergerak poco-poco ketika musiknya Senam Jantung Sehat Seri 2

62. Gantung diri dengan dasi.

63. Menggunakan sesi bertanya di forum selama 1 jam hanya untuk menanyakan tugas sendiri. Ingat teman yang lain, cuy!

64. Menggadaikan laptop rekan sekamar.

65. Mandi bersama sambil membandingkan ukuran, sebaiknya jangan.

66. Memilih tidur lagi ketika dibangunkan oleh piket. IT’S A BIG O! Eh, NO!

67. Menyalakan sirine piket pada pukul 1 pagi, lagi prengas-prenges bilang nggak sengaja.

68. *sambit sepatu pantofel 3 senti*

69. Membicarakan kementerian/lembaga lain sambil bisik-bisik di depan CPNS yang bekerja di kementerian/lembaga tersebut.

70. Tidak mengikuti kelas lebih dari 9 JP (1 hari).

71. Mengisi lembar ujian dengan sesuka hati, apalagi menggambar bentuk alat kelamin.

72. Copy Paste rancangan aktualisasi dari teman yang berbeda kementerian.

73. Copy Paste slide rancangan aktualisasi dari teman yang berbeda lembaga.

74. Meminta cheerleader pada saat seminar rancangan aktualisasi.

75. Meminta seminar rancangan aktualisasi ditayangkan live streaming via YouTube.

76. Membiarkan hawa nafsu berkembang liar.

77. Melupakan nilai-nilai dasar ANEKA, terutama ketika mendapatkan sertifikat keikutsertaan.

78. Dan malah mengenang nilai-nilai dasar OOM ALFA.

Raun Ke Rawamangun

Sesudah kabur ke Ciawi, Bogor dalam rangka menghilangkan huruf C yang memperseret kemajuan peredaran darah di dompet–dan bukan dalam rangka raun alias jalan-jalan, akhirnya saya kembali lagi ke Jakarta yang royo-royo. Karena masih lelah oleh hasil internalisasi nilai-nilai ANEKA, akhirnya saya melanjutkan #KelilingKAJ ke tempat yang dekat-dekat saja, yang penting kesinambungan project ini terjaga. So, saya akhirnya mampir ke Gereja Keluarga Kudus Rawamangun.

Sesuai dengan #KelilingKAJ sebelum-sebelumnya, sebisa mungkin saya mencapai lokasi dengan menggunakan kendaraan umum. Kali ini bukan masalah idealisme, namun masalahnya memang sepeda motor saya rusak. Ah, ini semacam dejavu. 2005 saya hidup dengan sepeda motor penuh dilema yang delapan tahun kemudian tertuang kisah kampretnya di dalam buku OOM ALFA. 2015, saya kini harus berhadapan dengan si BG. Memang dari sisi umur dia layak bermasalah, sih. Tapi sebenarnya dia motor yang jelas jauh lebih tangguh daripada OOM ALFA, dan yang lebih penting dari semuanya, si BG ini saya beli dengan setengah mati menggunakan uang sendiri.

selengkapnya!

Belanja Mainan di blanja.com

Sebagai lelaki kekinian yang belum ingin kawin, saya berada pada posisi dimana terdapat banyak teman-teman saya yang sudah memiliki anak bahkan ada yang sudah memiliki empat anak. Sungguh sebuah kondisi yang akan bikin keinginan mengelus dada begitu besar jika diperbandingkan. Maka, tolong jangan diperbandingkan. Kasihan saya. Please.

blanja.com

Nah, berlahirannya anak dari kawan-kawan, mulai dari kawan-kawan kantor, kawan-kawan eks kantor, kawan-kawan di pelayanan, hingga kawan-kawan lama tentu melahirkan sebuah kewajiban untuk membelikan hadiah. Syahdan, suatu hari saya pernah begitu gamang di Toko Progo Jogja karena pening memilih kado lahiran nan anti mainstream. Waktu itu sama mantan, sih, FYI aja deh, IMHO CMIIW BRB BPPOM dll. Kado lahiran sebaiknya adalah yang anti mainstream karena logika sederhana. Ketika seorang bocah diberikan sebuah kado mainan yang sesuai stok terbanyak di toko, boleh jadi orang lain sudah memberikan. Dengan begitu si bocah punya lebih dari 1 mainan yang sama. So, hampir pasti kalau hadiah sama, maka kado dari kita nggak terpakai.
Nah, saya sendiri terjebak pada masalah ini berkali-kali. Saya butuh merenung di Progo, di Semanggi, di Bintaro, hingga di Atrium Senen dan Pasaraya Manggarai semata-mata bimbang dan ragu untuk memilih kado lahiran. Ah, hal sepele ini saja saya bimbang, apalagi memilih pasangan hidup. Tsah. Untung sudah dapat dan tinggal dilegalisasi.

Untungnya sekarang sudah era kekinian sehingga ada pilihan untuk belanja online. Nah, di sela peliknya bertransaksi online yang semakin marak penipuan, kita tentu harus memilih online shop yang tepat, dan ternyata itu ditemukan di blanja.com

Yah, menurut ngana, kalau ada toko online yang merupakan Joint Venture antara Telkom Indonesia dan ebay, masak sih ragunya jadi banyak?

blanja.com menyediakan sebuah pilihan yang cukup unik. Kalau sekadar baju atau sepatu mah biasa kan ya, maka disediakanlah Jual Beli Mainan Online. Opsi yang tersedia juga nggak tanggung-tanggung, ada banyak deh pokoknya. Diskon tentu saja tersedia dan diberikan dengan baik hati sehingga dapat mempengaruhi kemudahan menghilangkan galau dalam memilih kado lahiran nan kekinian.

Untitled

Sebenarnya sih kalau mau dieksplorasi, nggak cuma mainan sebagai kado, namun juga perlengkapan lainnya tentang bayi. Jadi kalau nggak ingin si bocah terlalu banyak main hati ketika dewasa, tinggal masuk ke blanja.com dan memantau aneka mainan yang bisa dipilih, difavorit, serta dibandingkan untuk kemudian dibeli dengan sepenuh hati. Uye!

So, menjadi anti mainstream dan memastikan bahwa pemberian kita digunakan oleh si dedek-bayi-unyu-yang-belum-kenal-riak-riak-dunia itu ternyata mudah untuk dilakukan di blanja.com, klak-klik-klak-klik jadi deh, tanpa perlu harus gamang seorang diri kayak single menahun di Pasaraya Manggarai. Beli kado lahiran saja sudah pelik, apalagi beli mas kawin.

Beberapa Hal Yang Harus Diketahui Tentang Prajabatan Pola Baru

Absurdisme birokrasi Indonesia memang sudah sangat kronis dan mendarah daging. Memang, sih, pelan-pelan sudah mulai membaik dengan aneka perubahan berkepala e alias apa-apa dielektronisasi dan dionlinekan, tapi perbaikan itu kalah jauh dibandingkan peningkatan jumlah maling yang semakin berkompeten. Mungkin maling-maling berdasi ini pada masa remajanya nggak kesampaian jadi begal.

Nah, mungkin itu memutus bertumbuhnya kampret-kampret birokrasi, Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang bertanggungjawab pada urusan perdiklatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia ini mencoba melakukan terobosan. Salah satu terobosan yang kemudian mencoba mendobrak kemapanan adalah pada diklat prajabatan. Diklat ini cukup krusial, karena bisa jadi akan menjadi satu-satunya diklat yang dilakoni oleh seorang PNS seumur hidupnya. Atau salah dua, satunya lagi diklat Masa Persiapan Pensiun. Nasib PNS kan siapa tahu?

10322-2014-10-27-16-17

Kalau kita nge-search tentang prajabatan yang akrab disapa prajab ini di Google, belum banyak yang menuliskan tentang pola baru. Ya maklum, polanya memang benar-benar baru karena Peraturan Kepala LAN-nya juga belum setahun nongol. Ditunjang dengan fakta bahwa hidup di birokrasi itu harus bisa mengurus dan memperjuangkan diri sendiri, maka akhirnya banyak CPNS yang akan prajabatan yang kemudian kecele. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para CPNS yang akan melakoni prajab dengan pola baru, agar tidak keblasuk nasib seperti senior-seniornya.

Lanjut, Gan!

4 Sisi Melankolis Lorong Cinta

Bagi anak Universitas Sanata Dharma alias Sadhar, tepatnya penguasa teritori Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman tentu sangat paham tempat yang bernama Lorong Cinta. Saya sendiri tidak tahu sejak kapan Lorong Cinta dibangun, pun Bapak Penunggu Pentingsari yang mengaku dulu ikut menggarap Kampus III Sadhar tidak cerita kapan Lorong Cinta dibangun, dia malah cerita tentang ular-ular yang dulu menghuni lahan calon kampus. Heu.

Lorong Cinta sejatinya adalah sebuah bangunan biasa. Namun sama halnya dengan kampus-kampus lain dimanapun berada, pun mungkin di negerinya PK, salah dua atau salah tiga tempat akan menjadi sebuah monumen yang tercipta dengan sendirinya. Di Paingan, monumen itu adalah Lorong Cinta, bukan OOM ALFA.

Bagi anak Sadhar Paingan, Lorong Cinta bukanlah semata-mata bangunan yang dibuat untuk menghubungkan gedung yang kebanyakan isinya laboratorium dengan gedung yang isinya kantor dan ruang kuliah. Lorong Cinta menjelma menjadi sebuah tempat yang penuh nyawa karena dihidupkan oleh sisi-sisi melankolis manusia yang tumpah pada dirinya. Dalam skema kesentimentilan yang penuh bumbu melankolisme, saya mencoba menelaah Lorong Cinta dalam perspektif khusus, maka muncullah 4 sisi itu.

Menunggu

Lorong Cinta terletak persis di depan sekretariat Fakultas Farmasi di ujung satu, dan sekretariat lainnya di ujung sananya lagi. Di masing-masing ujung Lorong Cinta ada tangga, dan ada lift. Ketika mahasiswa Farmasi kelar kuliah, mereka akan turun ke lantai dasar dan pasti akan memandang Lorong Cinta. Pun dengan yang akan kuliah, atau akan praktikum, pasti akan sangat intim bersama Lorong Cinta.

IMG_0037

Letaknya yang demikian ini lantas bersisian dengan sisi melankolis bernama ‘menunggu’.

Lorong Cinta adalah saksi sebuah aktivitas biasa. Kuliah jam 9, datang jam 8.30, kemudian duduk-duduk manis di Lorong Cinta sambil menunggu kuliah. Itu aktivitas dasarnya. Kalau mau dibongkat, aktivitas sederhana itu kemudian bisa dijelmakan dalam aneka rupa fantasi.

Lorong Cinta bisa menjadi saksi ketika malam sebelumnya sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah, namun setelah merenung semalam sang lelaki lantas menanti sang mantan kekasih yang baru udahan kuliah untuk kemudian membicarakan hal tertentu. Bisa jadi, kan?

Lorong Cinta juga adalah tempat bagi mahasiswa tingkat lanjut dan secara semester juga berusia lanjut untuk sekadar menanti. Kuliah sudah nggak, ngasdos juga jarang-jarang. Ke kampus mencari dosen, mencari literatur, dan sejenisnya. Karena pas di dekat sekretariat, ya menanti dosen paling pas adalah di Lorong Cinta.

Pertemuan

Ada suatu kala ketika sepasang calon kekasih menghabiskan pertemuan pertama mereka yang berdua saja di Lorong Cinta, hari Sabtu, ketika kampus sepi. Angin yang bertiup agak kencang tidak dipedulikan, pun si cicak yang nggak kelar-kelar membaca.

Lorong Cinta juga menjadi tempat yang tepat untuk janjian, untuk rapat, untuk bertemu asisten dosen, hingga untuk janjian COD. Apalagi Lorong Cinta memberikan nuansa yang tepat untuk sebuah pertemuan. Bayangkan ketika sedang duduk menanti, lantas dari kejauhan muncul seseorang yang kita nanti-nanti, ketika dia menjelang tiba dan lantas merapat. Entah itu teman, entah itu mantan, entah itu kekasih, semua punya sisi yang menarik untuk dicerna.

Bagi para alumni yang sudah tidak kenal siapapun, nongkrong di Lorong Cinta adalah kegiatan yang tepat untuk sekadar bertemu dosen yang sedang berkeliaran. Tampak simpel, namun melihat dosen kemudian salaman dan lantas dosennya masih ingat nama si alumni, itu pasti keren. Masalahnya, diingat itu kontekstual, bisa diingat karena nakal, bisa pula diingat karena ketemu di perkuliahan 4 kali untuk materi dan nama kuliah yang sama. Pertemuan yang pedih.

Berharap

Lorong Cinta memang tidak menyimpan suatu monumen yang tampak untuk mencerminkan harapan. Namun, berada di Lorong Cinta, sejatinya adalah bentuk harapan yang akan terwujud. Ya, sesederhana berharap jadi sarjana kemudian dalam proses yang melelahkan itu, duduk merenung, beria-ria, dan kemudian berpikir bahwa masih ada harapan untuk menuntaskan perjalanan yang panjang itu.

Lorong Cinta juga menjadi tempat ketika nilai-nilai ujian dikeluarkan dan dipampang serta dibagikan. Semuanya akan mengumpulkan, menghitung, kemudian berharap bahwa nilai baik yang dimimpi-mimpikan itu kemudian muncul. Lorong Cinta juga menjadi saksi harapan baru ketika orang yang ulang tahun mengeringkan badan pasca menjadi korban hijaunya kolam Paingan.

Harapan nyatanya kebanyakan ada di dalam hati. Ada saja mahasiswa yang duduk di Lorong Cinta tanpa arah dan tujuan, hanya berharap bisa melihat Sang Pujaan Hati dari kejauhan, berlari imut menuju laboratorium dengan tas hitam dan sepatu ketsnya, kemudian sudah. Ah, ini pasti cinta. Derita yang tiada akhir. Apalagi itu cinta diam-diam, sebuah akhir yang tidak memiliki awal.

Bahagia

Ketika saya selesai ujian skripsi terbuka tanggal 22 Januari, persatuan tim Swamedikasi dan tim Teh lantas menghelat peringatan kebahagiaan dengan tumpengan persis di tengah-tengah Lorong Cinta. Lulus ujian skripsi adalah bentuk kebahagiaan dan itu sungguh kami rayakan di tempat kami menunggu, di tempat kami berharap, dan di tempat kami saling bertemu untuk saling menguatkan.

Lorong Cinta adalah saksi bahagia ketika praktikum selesai dan data diperoleh dengan baik. Lorong Cinta juga merupakan tempat yang didatangi oleh sepasang kekasih dengan manisnya, lantas duduk bersama di kursi kayu sepanjang lorong, dan keduanya memamerkan senyum bahagia.

Image(128)

Namun, sebenarnya bahagia paling utama terjadi ketika seseorang yang memiliki harapan untuk sekadar bisa melihat sang pujaan hati yang tidak bisa dimiliki menunggu dengan sabar di Lorong Cinta kemudian justru bertemu dan bertukar sapa sebelum sang pujaan hati kembali berlalu dari depan mata. Sebenarnya, bahagia memang hanya sesepele itu.