Manusia Dibentuk Oleh Kebiasaan

Ini judul klasik, tapi baru saya sadari barusan ini. Iya, emang beneran baru ngeh.

Ngeh apa sih?

Kalau hidup saya sekarang, benar-benar sudah ‘dipengaruhi’ segala hal yang saya kerjakan selama hampir 4 tahun ini. Sebuah masa ketika saya menjadi manusia yang terlibat di bidang perencanaan produksi.

Teori perencanaan produksi itu sebenarnya kan sederhana. Dimulai dari teori (S)-I-P-O-(C). Ada Input, yang di-Proses, menghasilkan Output. Input diperoleh dari Supplier. Dan Output akan diteruskan kepada Customer. Nah, perencanaan adalah menjamin alur itu berjalan baik timbal balik. Jadi apa yang dipasok oleh Supplier itu benar-benar untuk pemenuhan Customer. Dan apa yang diperlukan Customer sesuai dengan yang dipasok Supplier.

As simple as I write, but it’s a f*ckin’ difficulties 🙂

Itu kerjaan saya. Termasuk di dalamnya perencanaan produksi (Master Production Scheduling), perencanaan kapasitas (Capacity Planning), sampai bagian yang dulu paling saya benci tapi nyatanya saya malah menggila ketika jadi bagian itu, perencanaan kebutuhan material (Material Requirements Planning).

Hubungannya dengan kebiasaan?

Nah, ini yang saya mau cerita.

Sejak menjadi ‘orang planning’ hampir pasti saya berpikir terlalu banyak. Iya, karena misalnya ketika hendak berencana ke suatu tempat, saya sudah pikirkan segala halnya. Ketika hendak membeli sebuah benda, saya berpikir benda-benda lainnya yang mendukung.

Misal, ketika saya (dulu) pp Palembang-Jogja. Saya selalu beli tiket Jogja-Palembang terlebih dahulu. Memastikan bahwa saya bisa kembali ke Palembang. Intinya, saya sudah memastikan hendak naik apa aja. Atau ketika saya membolang ke Semarang, itu segala survei sudah saya lakukan via dunia maya dan dunia nyata untuk memastikan bahwa saya nggak akan kesasar disana.

Atau ketika hendak beli laptop dan motor. Percaya atau tidak, saya bahkan sudah beli tas laptopnya terlebih dahulu sebelum punya laptopnya. Saya punya helm, mantel, kanebo, dan gembok jauh sebelum saya punya sepeda motornya. Buat saya intinya (recipe-nya) adalah ‘memiliki sepeda motor’. Supaya aman dan damai, maka komposisinya adalah sepeda motor, helm, mantel, kanebo, dan gembok. Percayalah, di dunia farmasi pun begitu. Paracetamol hanya akan jadi serbuk kurang bernilai ketika nggak ada laktosa, misalnya. Nggak akan jadi obat juga. Punya sepeda motor tanpa punya helm jadinya juga demikian.

Dan saya nggak yakin akan berpikir sedemikian banyak kalau saya nggak jadi manusia planning. Terkadang hal macam ini bikin nambah pikiran, tapi terkadang juga justru sangat berguna.

🙂

“I am paying back now”

Sejujurnya saya kudu berdoa dulu sebelum nulis judul di atas, takut ngawur. Ya, kan malu kalo ngawur, secara saya punya adik (mantan) guru Bahasa Inggris dan calon adik ipar juga lagi sekolah Bahasa Inggris. Tapi di catatan saya tertulis begitu. Semoga bener ya 🙂

*ini kok malah salah fokus*
*kembali ke topik*

Ini sebenarnya sama persis ketika lebih dari setahun silam saya dikasih tahu teman soal ‘memberi bantuan’ pada yang membutuhkan. Waktu itu saya urunan ‘hanya’ 60 ribu rupiah per bulan untuk uang sekolah dua orang anak di Magelang. Sekarang, karena sudah naik kelas, malah hilang. Nanti hubungin Bu Sum lagi deh, supaya lanjut lagi.

Sama persisnya dimana?

Sama persis karena saya diberikan kesempatan untuk bisa membayar semua yang pernah saya terima atas nama pendidikan. Saya yang dulu cuma bisa oek-oek, bisa ngetik blog ini juga karena pendidikan. Saya sampai sekarang bisa mengelola kotak-dan-angka (pekerjaan sehari-hari saya) juga karena pendidikan. Lebih jauh saya juga hutang budi sama pendidikan karena isi perut saya sejak lahir dipasok dari ‘bisnis’ pendidikan. Iya, kedua orang tua saya adalah guru 🙂

Dan ketika saya kemudian mendapat email di grup farmasis muda tentang Kelas Inspirasi, plus kemudian berseliweran di Twitter, maka rasa pengen ikut itu muncul juga. Asli, begitu saya baca konsep Kelas Inspirasi, yang terbayang di benak saya adalah kejadian bulan Oktober silam ketika saya menunggui Mama mengajar, persis di depan kelasnya. Oya, beliau guru kelas 4 SD. Dan lantas terpikir, sepertinya seru juga. Saya lantas mendaftar saja di web Kelas Inspirasi. Dan saya juga tulis di essay yang diminta bahwa kedua orang tua saya termasuk yang menginspirasi saya ikut Kelas Inspirasi ini.

Kebetulan saya pasang push mailjadi setiap email yang masuk perlakuannya sama dengan SMS. Nah, waktu itu kan katanya diemail dari jam 19.00 sampai 22.00. Sampai jam 9 itu masih nggak ada email dari Kelas Inspirasi.

*mulai putus asa*

Tapi beberapa menit kemudian, saya dapat email yang dimaksud. Dan isinya ‘TERPILIH’. Sip! Dan di briefing kemarin saya baru ngeh kalau pendaftarnya ada 1000-an, artinya yang terpilih adalah separuhnya saja. Terima kasih atas kesempatannya.

Kemarin saya datang di briefingnya, bertempat di Gedung Indosat. Sebagai makhluk yang agak jauh tinggalnya, saya berangkat jam 9 pagi dari Cikarang. Untungnya jalanan bisa dibilang lancar jaya. Dan meskipun sempat dibohongin Google Maps, akhirnya saya sampai juga di Gedung Indosat, tentunya dengan berkeringat 🙂

Saya bergabung dengan ratusan profesional muda hingga senior di sebuah ruangan sambil duduk bersila. Ehm, sebenarnya saya nggak kuat lama-lama bersila. Efek gaya hidup buruk membuat saya gampang ‘kesemutan’ plus loro boyok. Tapi masak ya anak 26 tahun kalah sama yang senior. Jadi ya, dikuat-kuatkan 😀

Bagian pertama yang bikin merinding adalah ketika ratusan manusia di ruangan itu bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lha saya ini nyanyiin mars De Britto, hymne Sanata Dharma, sama mars kantor aja trenyuh, apalagi nyanyi Indonesia Raya?

*dasar melankolis*

Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)
Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)

Bagian kedua yang cukup mengena adalah speech dari Pak Anies Baswedan. Sebenarnya materi yang dibawakan oleh Pak Anies itu simpel loh. Cuma memang kebanyakan itu kurang disadari. Hal simpel misalnya. Bangsa ini didirikan oleh IURAN pendahulu kita. Pahlawan yang mati di medan perang itu iuran nyawa kan? Mbah saya dulu juga iuran tenaga dalam masa perang kemerdekaan. Itu iuran. Dan karena iuran itu terbentuklah Indonesia. Nah, lantas kita mau iuran apa?

Lalu juga soal terminologi ‘korban pendidikan’. Ini juga benar. Dan yang ditekankan oleh Pak Anies adalah sesuai judul yang saya tulis di atas. Terhadap semua yang sudah kita terima, ini saatnya kita membayarnya. Dengan apa?

Nah ini dia. Dengan apa?

Dalam video yang diputar sebelum speech dari Pak Anies ada quote. Think big (please koreksi, yang benar think atau dream hehe..), start small, ACT NOW. Poin terakhir, ACT NOW. Jadi kita membayarnya dengan bertindak.

Dan Kelas Inspirasi adalah salah satu cara bertindak sekarang 🙂

Ya, daripada menonton berita di negeri ini, Si Itu ketangkap disini, Si Anu kena kasus itu, bukankah lebih baik kita menyalakan mimpi melalui ruang-ruang kelas? Daripada mengutuk kegelapan, bukankah lebih baik menyalakan lilin? Pak Anies sih agak nyindir juga. Misalnya waktu ngomong soal integritas. Tanpa integritas, kita nggak akan sampai ke world class. Kalau jadi bupati sih masih bisa :p

Sebuah hari yang istimewa bagi saya. Apalagi kemudian bisa bertemu rekan-rekan dari aneka ragam profesi. Saya ada di kelompok 2, bersama orang-orang dari beragam profesi. Terbukti, dari kartu namanya saja sudah macam-macam. Hehehehe…

Semoga hari kemarin menjadi awalan baik, untuk beberapa hari lain ke depan, sampai tanggal 20 Februari, ketika HARI INSPIRASI berlangsung.

Oya, ada yang bilang, niat yang baik itu akan diberkati jalannya. Ketika kemarin saya pulang kok agak ngerasa ada keberuntungan. Waktu acara briefing, sekitar Gedung Indosat hujan. Pas pulang, sudah reda. Lalu katanya lagi ada banjir di beberapa tempat dan jalanan padat (misalnya di TolDalKot). Tapi saya tidak ketemu sama sekali dengan macet/padat sedari Gedung Indosat sampai Halte Benhil dan kemudian dari Semanggi ke Cikarang. Kalau sekadar berdiri dari Jakarta-Cikarang, itu wajar di malam minggu. Ketika sampai Cikarang, hujan malah sudah reda. Keberuntungan? Bisa jadi 🙂

Dari briefing ini saya mulai berpikir banyak hal. Mulai dari materi yang akan disampaikan pas HARI INSPIRASI besok, sampai ingin membuat hal yang mirip dengan Kelas Inspirasi, setidaknya di sekolah tempat kedua orang tua saya mengajar di Bukittinggi sana.

Kiranya Tuhan menolong saya, seluruh relawan Kelas Inspirasi lainnya, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia.

BANGUN MIMPI ANAK INDONESIA!

Jenis-Jenis Cinta Diam-Diam

Seperti sudah sering diutarakan dalam blog ini, bahwa cinta diam-diam adalah bentuk kriminalisasi terhadap diri sendiri. Sebuah perbuatan yang jauh lebih kejam daripada kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Dan sangat jauh lebih lebih kejam daripada krimbatisasi rambut keriting.

Nah, sekilas marilah membahas jenis-jenis cinta diam-diam yang ada di dunia nan fana serta fanas (panas -red) ini.

Cinta Sama Sahabat

Pada sebagian kasus, terlalu lama bersama hingga terlalu akrab bisa menumbuhkan benih-benih cinta secara perlahan. Ya memang tidak secepat boneka horta menumbuhkan benihnya, tapi cinta jenis ini termasuk mendalam. Kita tentu mengetahui bagaimana Riani memendam perasaan pada Zafran (dalam novel 5 cm), plus Genta memendam hal yang sama pada Riani. Ini kan jenis cinta sam sahabat sendiri. Mau ditembak, takutnya ditolak, dan terus persahabatannya bubar deh. Ketakutan kehilangan ini yang menyebabkan bara cinta yang terpendam diguyur perlahan pakai air, tapi sesekali pakai alkohol juga. Berusaha dipadamkan, tapi kadang tetap dipelihara. Ya, pada akhirnya sih, tetap tidak dinyatakan.

Cinta Sama Saudara

Oke, bukan maksud SARA loh ini. Tapi ini berkaca dari pengalaman saya yang separuh Batak (tolong dinyanyikan ala NOAH ya). Seorang Simamora itu tidak boleh flirting dengan sesama Simamora, bahkan juga dengan beberapa suku lainnya. Kenapa? Karena kesamaan marga itu berarti kita bersaudara. Dan sekarang coba bayangkan seorang lelaki Simamora yang tampan bertemu seorang gadis Simamora yang cantik jelita, dan sebelum saling menyatakan cinta, mereka mengetahui kalau mereka 1 marga alias bersaudara. Daripada dinyatakan dan kemudian malah bikin heboh urusan peradatan, jadi alangkah lebih baik kalau perasaan itu dipendam dan nanti kalau pas mudik ke Toba, perasaan itu ditenggelamkan di Danau Toba saja.

Cinta Sama Pacar Teman

Nah, jenis ini adalah bentuk perasaan paling sontoloyo. Okelah kita tahu kalau kata novel Perahu Kertas, hati itu DIPILIH, bukan MEMILIH. Dan kalau kebetulan hati itu pas nyangkut pada seseorang yang sedang menjadi pacarnya teman, masih mau menyebut dipilih dan memilih? Mumet pasti. Pada umumnya, hal ini akan berdampak dua. Pertama, seorang yang cinta sama pacar teman akan diam-diam saja sehingga kemudian direkrut tanpa interview sama sekte Cinta Diam-Diam. Kedua, seorang yang cinta sama pacar teman akan segera memepet, menggesek, menelikung, menyabet, menyaut, dan kemudian membawa lari pacar teman. Hilang teman, dapat pacar. Ya, ketika karma eksis, hal yang sama akan terjadi. Bukankah kalau begini lebih baik jadi pecinta diam-diam saja? Hehehe.

Cinta Sama Pacar Orang Lain

Agak beda tipis (tololnya) dengan jenis sebelumnya. Kalau yang di atas kecenderungannya nggak enak sama teman, kalau yang nggak kenal begini bakal lebih enteng. Kalau ditelikung dan kemudian dapat, kan nggak akan kehilangan teman juga. Hanya saja, sifat gentle yang diletakkan disini. Cowok kalau tahu si cewek punya pacar, dan masih dideketin juga, itu ngawur namanya (pengalaman -red). Jadi, ketika sifat gentle itu ada, maka dengan demikian eksislah kaum pecinta diam-diam di dunia yang menggila ini.

Cinta Sejenis

Ini mungkin hanya terjadi di negara dengan tingkat keberterimaan pasangan sejenis yang rendah. Hal simpel deh, seseorang penyuka sesama yang eksis di negeri Indonesia Raya Merdeka-Merdeka ini cenderung akan main bawah tanah karena perkara citra dengan luaran. Termasuk ketika memendam rasa dengan sesama jenis. Lagipula, kalau diumbarpun, jatuhnya bakal nggak lazim di masyarakat. Plus, iya kalau yang disuka sama-sama suka? Kalau yang disuka malah ngibrit gimana? Kemungkinan yang sangat besar dalam kelaziman sesuatu yang disebut norma (ini bukan norma peserta bukan dunia lain ya).

Ya, kira-kira demikian jenis-jenis cinta diam-diam. Meski berasal dari genre yang berbeda-beda, tapi sebenarnya mereka satu jua, sama-sama PECUNDANG yang nggak bisa membela hati mereka sendiri.

Ehm, mereka? Oke, salah. Kami mungkin lebih tepat. Atau kita?

🙂

Pada Akhirnya

“Nus, ikut ya?”

“Ini nanya, atau?”

“Retorika.”

“Ehm, baiklah. Perbuatlah yang kamu mau, Kak.”

Kak Rina segera memasukkanku ke dalam ranselnya. Kemarin Karin–nama panggilanku untuknya–bilang ini hari terakhir berada di kamar nan elit sebelum kemudian kembali ke kehidupan normal.

“Sebenarnya mau kemana sih?” tanyaku persis sebelum Karin menutup ranselnya.

“Katanya perbuatlah yang aku mau. Pakai nanya nih?”

“Ya, nggak jadi deh. Silahkan. Hehehe.”

Ransel menutup dan akupun menatap dalam gelap. Kuharap gelap ini tidak berlangsung lama.

* * *

“Hey! Udah lama?”

Aku mendengar suara itu, milik Karin. Siapa yang dia sapa?

“Belum kok. Baru juga nyampe. Silahkan duduk.”

Kali ini aku mendengar suara laki-laki. Dan sesungguhnya aku tidak mengenali suara itu sama sekali. Sejauh ini suara laki-laki yang aku dengar hanyalah lelaki yang pernah bertandang ke kos-kosan Karin, baik itu di Cikarang, Jogja, dan Solo. Tidak ada yang serupa itu.

“Repot-repot amat, Bang.”

Ah! Aku mengenal sapaan itu. Aku sangat berharap Karin membawaku untuk alasan yang lebih baik daripada berada di dalam ransel sambil menebak-nebak lawan bicara Karin.

“Besok jadinya jam berapa?”

“Jam 9 lewat 10, Bang. Nggak jadi reschedule flight.”

“Wah, sayang sekali.”

“Emang kenapa?”

“Mau tak ajak keliling ibukota. Hehehehe.”

“Ah, waktu aku PKL di pedalaman Cikarang kan udah putar-putar ibukota. Lagian polusi semua ini, mau lihat apa? Mending juga Jogja.”

“Yah, kalau Jogja mah nggak usah ditanya. Disana hanya kurang kendaraan umum doang. Lainnya udah oke. Ngomongin Jogja jadi ingat DM kamu dulu banget, Rin.”

Eh, sebentar. Ngomong Jogja, lalu ingat DM. Ini kok semacam mulai nyambung.

“Yang kapan?”

“Yang waktu kamu mau pindah ke Solo. Yang katanya mau lepas poster aja galau.”

“Hahaha. Tahu sendiri Bang, sebagai sesama sentimentil, kamu harus paham.”

Makin dekat, makin jelas. Aku kan membaca DM itu dengan saksama dan sebaik-baiknya. Rasanya nggak mungkin ada DM lain deh.

“Karin, keluarkan saya dari sini,” gumamku lirih.

“Eh, mana punyamu?” tanya suara laki-laki tersebut.

“Ada, bawa kok. Punyamu?”

“Bawa juga dong. Masak lupa, kan udah janjian.”

Karin segera menarik resleting ranselnya dan aku mulai melihat secercah cahaya yang perlahan membesar. Lalu tangan mulus Karin segera menjamahku dan menarikku keluar dari pengapnya ransel ini.

“Kak?”

“Ini, Bang. Kenalin, namanya Neptunus.”

“Hahahaha, kamu tiru-tiru Kugy dong, Rin?”

“Iya. Seru kan? Kalau Kugy harus tulis surat di perahu kertas supaya sampai ke Neptunus, aku bisa panggil dia kapanpun. Sampai pergi seminar ke Jakarta aja aku bawa. Eh, kamu jadinya beli kapan?”

“Belum lama. Setelah ditimbang-timbang masak-masak baru beli.”

“Untuk gaji seorang esmud di ibukota, nggak mungkin menimbang-nimbang karena perkara finansial. Bohong banget kalau begitu,” kata Karin, penuh dugaan.

“Hahaha. Alasannya sudah aku tulis di blog kok.”

Heh! Aku baca lho! Kalau benar bahwa lelaki di depan mataku ini adalah pemilik akun @alfabege yang diblok Karin sekian bulan silam sih.

“Hmmm, kayaknya aku baca. Jadi mana punyamu?”

“Oh iya, lupa.”

Lelaki itu kemudian ganti merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku bercover hijau dengan judul yang sama persis denganku. Perahu Kertas.

“Namanya?”

“Luhde.”

“Hahaha, tiru-tiru juga kamu Bang.”

“Nggak apa-apa. Luhde kayaknya cakep. Kata Kugy, kayak malaikat. Lagian nggak mungkin juga kasih nama Remi.”

Aku menatap buku yang barusan diletakkan di sebelahku, dari kiri ke kanan.

“Hai. Kita sama ya?” tanya buku itu.

“Iya. Aku Neptunus. Kamu?”

“Luhde.”

“Baiklah. Salam kenal. Yang punya kamu siapa?”

“Oh, ini Bang Alfa.”

Nah, sudah banyak dugaan yang menuju kenyataan. Tapi melihat momen di sekitar, aku jadi menebak akan terjadi sesuatu. Tempat itu ternyata romantis sekali. Sebuah kafe dengan rak buku di satu bagian dinding, lalu ruang bercahaya remang tapi dilengkapi lampu baca. Plus, lilin aromaterapi yang jaraknya hanya 10 sentimeter dari tempatku sekarang.

“Eh, De. Ini bosmu suka sama bosku ya?”

“Nggak tahu, Nus.”

“Kamu nggak sering kepoin dia?”

“Dia mah nggak bisa dikepoin. Aktifnya pakai HP. Nggak bisa ngintip aku.”

“Oh, begitu. Sayang sekali. Soalnya nih, dari dulu aku berpikir kalau sebenarnya bosmu ini suka sama bosku.”

“Rin,” kata Bang Alfa perlahan.

“Tadi bilang kalau baca blogku?”

“Iya.”

“Baca semua?”

“Lumayan.”

“Ehm, menurutmu itu fiksi atau nyata?”

“Fiksi dong.”

“Kok?”

“Kalau nggak fiksi, berarti kamu udah punya pacar berapa kali, Bang? Hehehe.”

Aku dan Luhde mulai bertatapan, tanpa suara, dan mengerti satu sama lain perihal sesuatu yang akan segera terjadi.

“Bisa aja. Menurutmu, kita ketemu lagi begini itu kebetulan bukan ya?”

“Bisa jadi. Kenapa Bang?”

“Kamu percaya kebetulan? Aku sih nggak.”

“Kadang percaya. Kenapa nggak?”

“Buatku sih kebetulan itu adalah persinggungan dua garis nasib. Dan nasib yang sudah diatur sama Tuhan. Jadi kebetulan itu kan kehendak Tuhan juga.”

“Lalu?”

“Ehm, entah sih, tapi semalaman aku berpikir soal ini. Kenapa kita ketemu lagi, kenapa bertemu kamu dalam keadaan sama-sama masih jomblo, kenapa dan kenapa lainnya. Dan sepertinya aku harus bilang sesuatu.”

“Apa?” tanya Karin perlahan, matanya sedikit melirik padaku.

“Ada banyak bagian dari posting di blogku yang sebenarnya adalah perasaanku sendiri, Rin. Perasaanku sendiri, ke kamu.”

Karin hening, bibir manisnya mengatup, tangannya malah memilih untuk mengaduk-aduk kopi. Sementara suara musik istrumen mengalun pelan di penjuru kafe.

“Sejak 7 tahun yang lalu, Rin. Sejak aku melihat kamu pertama kali, aku sudah merasakan ini. Tapi karena kemudian kita terlanjur dekat sebagai teman, jadi ya aku simpan saja. Dan kamu ingat kan pernah bilang sesuatu soal memendam cinta?”

“Memendam cinta adalah cara tercepat untuk patah hati.”

“Tepat sekali.”

“Dan bahwa aku sudah cukup patah hati ketika kemudian aku nggak bisa lagi menghubungi kamu. Kamu boleh bilang aku gila, tapi sebenarnya hadiah ulang tahunmu waktu itu, aku sendiri yang nganter ke kantor.”

“Bang? Serius?” tanya Karin dengan ekspresi yang berubah drastis. Kali ini dia benar-benar terkejut.

“Iya, aku ke Solo. Menghabiskan cuti sih, jadi sekalian gitu. Sudah sampai di depan kos-kosanmu malah. Sudah ngetuk pintu juga. Tapi akhirnya balik kanan pulang. Baru mampir ke kantormu, nitip hadiah itu. Kadang nyesel juga ngasih hadiah begitu kalau tahu akhirnya kamu malah menjauh begitu.”

“Asli, nggak nyangka Bang.”

“Buat lelaki, nggak ada yang aneh atau nekat kalau statusnya udah cinta, Rin.”

Karin terdiam lagi, melirikku lagi. Aku rasa dia mulai membenarkan perkataanku perihal sesuatu yang aneh kemarin. Salahnya juga nggak mendengarkan aku kan?

“Daripada aku panjang-panjang lagi, intinya sih hanya satu baris. Aku cinta sama kamu, Rin.”

Karinku tertunduk malu-malu, sementara Bang Alfa meraih tangan Karin yang sedari tadi tampak menggengam angin. Karin membuka genggaman jemarinya dan menerima lima jari Bang Alfa di sela-sela lima jarinya.

Aku dan Luhde terdiam saja melihat pemandangan seperti ini. Kejadian ini untuk dinikmati, bukan untuk dikomentari. Aku menikmati setiap saat ketika cinta dinyatakan, dan aku yakin Luhde demikian.

Badan Bang Alfa terangkat sedikit demi sedikit dari kursinya, kepalanya bergerak mendekati kepala Karin. Pemilikku itu kemudian mengangkat sedikit kepalanya, menyambut sebuah kecupan manis dari sebuah bibir yang baru saja menyebut cinta.

Luhde menatapku dan tersenyum penuh arti. Aku sendiri senang, karena pada akhirnya hipotesaku terbukti, seratus persen.

* * *

buatan minggu lalu, baru diunggah sekarang.. lagi niat.. hehehehe..

Fa, Semoga Nasibmu Sekarang Lebih Baik

Saya punya sebuah naskah. Iya, naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku pertama yang bisa saya selesaikan. Yang kedua baru kelar tanggal 2 kemarin, buat ngirim ke lomba novel. Naskah kedua itu sebenarnya ya bukan utuh naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku sih, karena itu lebih berupa kompilasi posting-posting di blog ini.

Jadi, mari kita bicara sedikit tentang naskah pertama itu.

Ditulis dari mid 2011, dan baru selesai hampir mid 2012. Sebuah waktu yang sangat panjang untuk menulis. Tapi sebuah kebanggaan juga karena ada 1 dari sekian banyak file naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku yang beneran jadi. Yang berhenti di halaman 5? Ada. Di halaman 10? Ada juga. Di halaman 40? Juga tersedia.

Nah, karena saya ini NIAT dan kebetulan baru dapat bonus, saya bertekad memperlakukan naskah pertama ini dengan maksimal. Jadi, sudah saya putuskan untuk mengirimkannya ke penerbit yang oke (tidak sembarangan), punya rekam jejak bagus untuk genre naskah itu. Dan saya juga lantas memperlakukan naskah itu dengan optimal dalam hal mencetak.

Iya, saya BELI PRINTER, khusus buat ngeprint naskah doang. Kenapa sih? Entah, mungkin banyak yang menilai jelek. Tapi saya hanya hendak menghargai karya pertama saya yang beneran jadi. Saya juga jilid dengan spiral plus buat cover dengan mencetak di kertas foto ukuran A4.

Saya hendak bikin dia eksklusif. Itu saja.

Dan untuk menggenapi perlakuan istimewa saya pada naskah itu, maka saya meluangkan 1 hari cuti di 26 April 2012 untuk mengantarkan langsung naskah itu ke penerbitnya. Cerita itu ada di bagian lain blog ini, sila cek.

Dan, bagian yang harus dicamkan dalam hal pengiriman naskah buku oleh pemula adalah:

JUST WRITE, SEND, AND FORGET IT

Itu menurut saya lho. Karena kalau kita ingat-ingat terus, nggak akan muncul karya-karya lainnya ntar. Contohlah saya, sejak naskah pertama itu, belum ada lagi naskah yang oke. Memang ada sebagian yang sudah outline, tapi kemudian pupus lagi-pupus lagi.

Dan memang naskah itu saya lupakan, sampai kemudian saya dapat telepon dari editor dan bilang ‘tertarik’ untuk naskah itu. Okesip. Lalu? Tunggu kabar selanjutnya.

Ada hal yang menarik dari nasib naskah saya ini. Secara langsung, editor bilang kalau naskah saya ‘cukup menarik’. Tapi tidak serta merta itu langsung akan diterbitkan. Dan uniknya lagi, tidak pula ditolak 🙂

Saya sempat mentions di Twitter dan karena telat lihat mentions, jadi obrolan saya dengan admin Twitter-nya kandas. Lalu, saya email-lah ke redaksi soal naskah itu. Bukan apa-apa sih, kali kalau penerbit itu mau ISO 9001 (anggap begitu), naskah saya bisa jadi temuan. Kenapa? Karena di-state waktu X bulan untuk disposisi naskah, sementara naskah saya sudah lebih dari X bulan itu. Saya sih cuma nggak mau memperibet masalah.. Hehehe.. Kalau emang nggak diterima, silahkan, saya rela hati dan sadar diri. *kira-kira itu konten email saya ke redaksi*

Tapi di lubuk hati terdalam saya sangat ingin naskah saya diterbitkan disana. Itu dia makanya saya bahkan nggak pernah mengirim naskah yang sama ke penerbit lain. Saya bukan penulis yang butuh-duit-banget, karena toh saya punya pekerjaan yang lumayan. Saya adalah penulis yang menulis karena saya cinta menulis. Dan lagipula, ini naskah pertama saya. Masalah sejenis ini pastilah terjadi untuk setiap awalan. Bahkan saya termasuk beruntung, sampai umurnya yang hampir 10 bulan ini, naskah itu tidak ditolak.

Dan kemarin saya dapat SMS lagi dari penerbit, dengan note yang sama dengan telepon berbulan-bulan silam.

Saya tidak hendak berharap lebih, karena semakin hari saya semakin sadar bahwa berharap lebih sejatinya hanya akan berujung derita. Jadi saya hanya berharap, semoga kali ini nasib naskah itu lebih baik.

Oiya, naskah itu sebagian ada di blog ini, di tag ceritaalfa. Dan saya menamakan naskah itu dengan ‘alfa’, nama tokoh di naskah saya 🙂

Cinta Sejati (OST Habibie & Ainun)

Asli, sudah jarang mendengar lagu dengan kompleksitas lirik macam lagu ini. Iya, lagu yang kompleks tapi keren. Asli keren abis, mendengar pertama mungkin bikin bingung, tapi begitu lihat liriknya, cuma bisa bilang WOW.

🙂

Oke, berikut liriknya, hasil dari mencerna lagunya. *semoga bener*

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta

Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Pola lagunya juga mulai jarang digunakan di era lagu semakin instan masa kini.

Ya, pada intinya keren lah.. *typeless*

Welcome My February

Selamat datang kepada bulan Februari. Sebuah bulan yang padat 🙂

Beberapa agenda yang sudah pasti adalah:
2 – 3 Februari 2013 ke Palembang (DONE with ehmmm…)
8 Februari 2013 malam latihan terakhir koor lingkungan (direschedule ternyata.. ^_^)
9 Februari 2013 ngikut persiapan Kelas Inspirasi (\^o^/)
9 Februari 2013 malam (kalo terkejar) latihan terakhir koor lingkungan
10 Februari 2013 tugas koor lingkungan (grrrrr…..)
17 Februari 2013 diminta tolong ikut bakti sosial (sekalian refresh ilmu apoteker ^.^, tapi kok ya adoh bangettttttt, pasiennya banyak bangetttttt juga…)
20 Februari 2013 ngikut Kelas Inspirasi (AWESOME DAY!!!!)
23 Februari 2013 ngikut refleksi Kelas Inspirasi

Dan pekerjaan yang lagi berkejar-kejaran.

Semoga Tuhan memberkati jadwal saya. Sungguhpun kejutan besar kemarin adalah ketika nama saya masuk ke peserta Kelas Inspirasi. Nama saya ada di daftar yang sama dengan beberapa orang terkenal macam Chef Vindex dan Ikrar Nusa Bakti. Bahkan saya satu kelompok dengan Jubing Kristianto 🙂

Doakan saya ya! 😀