Tag Archives: kelar

Fa, Semoga Nasibmu Sekarang Lebih Baik

Saya punya sebuah naskah. Iya, naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku pertama yang bisa saya selesaikan. Yang kedua baru kelar tanggal 2 kemarin, buat ngirim ke lomba novel. Naskah kedua itu sebenarnya ya bukan utuh naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku sih, karena itu lebih berupa kompilasi posting-posting di blog ini.

Jadi, mari kita bicara sedikit tentang naskah pertama itu.

Ditulis dari mid 2011, dan baru selesai hampir mid 2012. Sebuah waktu yang sangat panjang untuk menulis. Tapi sebuah kebanggaan juga karena ada 1 dari sekian banyak file naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku yang beneran jadi. Yang berhenti di halaman 5? Ada. Di halaman 10? Ada juga. Di halaman 40? Juga tersedia.

Nah, karena saya ini NIAT dan kebetulan baru dapat bonus, saya bertekad memperlakukan naskah pertama ini dengan maksimal. Jadi, sudah saya putuskan untuk mengirimkannya ke penerbit yang oke (tidak sembarangan), punya rekam jejak bagus untuk genre naskah itu. Dan saya juga lantas memperlakukan naskah itu dengan optimal dalam hal mencetak.

Iya, saya BELI PRINTER, khusus buat ngeprint naskah doang. Kenapa sih? Entah, mungkin banyak yang menilai jelek. Tapi saya hanya hendak menghargai karya pertama saya yang beneran jadi. Saya juga jilid dengan spiral plus buat cover dengan mencetak di kertas foto ukuran A4.

Saya hendak bikin dia eksklusif. Itu saja.

Dan untuk menggenapi perlakuan istimewa saya pada naskah itu, maka saya meluangkan 1 hari cuti di 26 April 2012 untuk mengantarkan langsung naskah itu ke penerbitnya. Cerita itu ada di bagian lain blog ini, sila cek.

Dan, bagian yang harus dicamkan dalam hal pengiriman naskah buku oleh pemula adalah:

JUST WRITE, SEND, AND FORGET IT

Itu menurut saya lho. Karena kalau kita ingat-ingat terus, nggak akan muncul karya-karya lainnya ntar. Contohlah saya, sejak naskah pertama itu, belum ada lagi naskah yang oke. Memang ada sebagian yang sudah outline, tapi kemudian pupus lagi-pupus lagi.

Dan memang naskah itu saya lupakan, sampai kemudian saya dapat telepon dari editor dan bilang ‘tertarik’ untuk naskah itu. Okesip. Lalu? Tunggu kabar selanjutnya.

Ada hal yang menarik dari nasib naskah saya ini. Secara langsung, editor bilang kalau naskah saya ‘cukup menarik’. Tapi tidak serta merta itu langsung akan diterbitkan. Dan uniknya lagi, tidak pula ditolak 🙂

Saya sempat mentions di Twitter dan karena telat lihat mentions, jadi obrolan saya dengan admin Twitter-nya kandas. Lalu, saya email-lah ke redaksi soal naskah itu. Bukan apa-apa sih, kali kalau penerbit itu mau ISO 9001 (anggap begitu), naskah saya bisa jadi temuan. Kenapa? Karena di-state waktu X bulan untuk disposisi naskah, sementara naskah saya sudah lebih dari X bulan itu. Saya sih cuma nggak mau memperibet masalah.. Hehehe.. Kalau emang nggak diterima, silahkan, saya rela hati dan sadar diri. *kira-kira itu konten email saya ke redaksi*

Tapi di lubuk hati terdalam saya sangat ingin naskah saya diterbitkan disana. Itu dia makanya saya bahkan nggak pernah mengirim naskah yang sama ke penerbit lain. Saya bukan penulis yang butuh-duit-banget, karena toh saya punya pekerjaan yang lumayan. Saya adalah penulis yang menulis karena saya cinta menulis. Dan lagipula, ini naskah pertama saya. Masalah sejenis ini pastilah terjadi untuk setiap awalan. Bahkan saya termasuk beruntung, sampai umurnya yang hampir 10 bulan ini, naskah itu tidak ditolak.

Dan kemarin saya dapat SMS lagi dari penerbit, dengan note yang sama dengan telepon berbulan-bulan silam.

Saya tidak hendak berharap lebih, karena semakin hari saya semakin sadar bahwa berharap lebih sejatinya hanya akan berujung derita. Jadi saya hanya berharap, semoga kali ini nasib naskah itu lebih baik.

Oiya, naskah itu sebagian ada di blog ini, di tag ceritaalfa. Dan saya menamakan naskah itu dengan ‘alfa’, nama tokoh di naskah saya 🙂

Kenapa Saya Aneh

Ini mungkin sudah kejadian beberapa tahun silam, tapi ya mungkin memang belum pernah diklarifikasikan. Ketika dulu saya dengan nekat berpindah di jurusan di tahap paling akhir kuliah.

Hemmmm..

Okelah, mungkin saya bisa dicap pembelot atau sejenisnya. Oke, fine. Saya terima. Dan faktual tampak demikian. Saya hanya belum pernah menjelaskan alasan yang sebenarnya atas keputusan aneh saya itu.

Jadi ceritanya 3 Januari 2008, sore hari, saya ikut berdiskusi dengan dua dosen terkait data hasil penelitian saya. Ehm lagi, tampaknya bahwa data yang saya punya itu bisa dibilang ‘sayang’ alias eman-eman. Bahwa saya bisa menghitung prevalensi dengan proses yang saya lakukan dan bahkan saya nggak perlu mencari orang yang sama dua-tiga kali dalam rangka memperoleh data. Diketahui sehari sesudah ujian tertutup. Miris buat saya pribadi.

Dan sejujurnya motivasi saya menjadi nol, atau mungkin minus.

Saya akhirnya memilih untuk menyelesaikan saja studi ini, dan entah mau kenapa sesudah itu. Demikian faktanya.

Saya kemudian mencari-cari jalan ke depan saya. Mau terus di minat yang sama, sungguh saya nggak punya motivasi. Sayang banget uang orang tua saya tergerus dengan kuliah saya yang minim motivasi. Buat apa?

Nggak diterusin, udah separuh jalan mau kelar ini. Lebih sayang lagi kan?

Akhirnya saya nekat saja, tentu sesudah tanya-tanya boleh atau tidak. Kebetulan saya masih ada celah yang memungkinkan untuk bertindak aneh. PINDAH MINAT.

Pindah minat pasti akan jadi jelek di mata orang lain? Ya terpaksa. Daripada duit orang tua saya habis untuk kuliah yang tidak bermotivasi?

Dan tentu ada konsekuensinya.

Saya belajar beneran. Saya bahkan melepas PSM, dimulai dari tugas di Bank Mandiri, demi tetap kuliah dengan baik. Saya juga belajar dengan sangat keras di 6 bulan pertama. Bagaimana lagi? Itu konsekuensi. Dan setidaknya saya punya motivasi. Itu yang jauh lebih penting.

Hasilnya? Ehm, bukan mau sombong. Tapi di ujian CPOB, saya satu dari dua yang tidak ngulang. Buat saya itu prestasi, lha jarang-jarang saya bisa begitu. Lebih lanjut, meski saya kena di kompre, eh pada akhirnya saya bisa dapat IP rangking 3. Kalau Rissa nggak dapat IP 4, pasti saya udah ikut dipanggil penghargaan. Hahahaha..

Dan pada akhirnya saya menemukan teman-teman yang pindah minat ketika di dunia kerja. Salah? Nggak! Saya hanya perlu belajar lebih dulu, dan itu saya ambil di kuliah. Saya agak lambat belajar soalnya.

Hasilnya?

Saya bisa bekerja di salah satu perusahaan farmasi terbesar Indonesia, nyaris promosi (hehehe…), belajar banyak hal baru di industri, dan sejauh ini punya penghasilan yang lumayan.

Saya aneh, tapi saya punya alasan untuk itu. 🙂