Sore Hari Di Tepi Sungai Itu

Cuaca yang khas di sungai ini, sebuah kondisi yang sinonim dengan kerinduan. Dahulu aku sering berlama-lama di tepi sungai ini. Okelah aku tidak bisa berenang, tapi memandang air mengalir, pun kapal-kapal yang berjalan silih berganti di atasnya, adalah suasana yang dirindukan.

“Ngeliat apa?”

Suara manismu mengusik sore penuh memori. Yah, di tempat ini, aku dan kamu, duduk memandang air bergerak di depan sana.

“Nggak. Nggak ngeliat apa-apa kok.”

“Nggak baik ngelamun. Kesambit ntar.”

“Loh, aku kan sudah kesambit hatimu.”

“Gubrak!”

“Kenapa?”

“Dasar gombal.”

Kita tertawa lepas, dan segera ditelan oleh angin sore yang bertiup dengan riang. Tangan mungilmu, lengkap dengan jam tangan anak-anak yang membalut lenganmu, menggantung manis di sisi kananku. Kutautkan saja tangan nganggur itu dengan tanganku yang juga tanpa pegangan.

“Hayo, pegang-pegang.”

“Nggak boleh?”

“Nggak.”

“Lha kok nggak dilepas?”

“Lha kan kamu yang megang.”

“Trus?”

“Hmmmmm…”

“Hahahaha…,” tawaku kembali lepas. Berdua denganmu selalu menjadi saat yang menyenangkan.

“Eh, kamu tahu nggak?”

“Tahu apaan?” Wajahmu beralih menatap wajahku, meninggalkan pemandangan sungai di sore hari ini.

“Tahu nggak, kalau cinta itu misteri?”

“Maksudmu?”

“Yah, kayak kita sekarang ini. Bisa duduk disini, berdua, gandengan. Siapa yang ngira bisa begini?”

“Ehm, ya mungkin memang begitu.”

“Setidaknya aku punya pemikiran baru.”

“Apakah?”

“Ya itu, dalam hidup yang begini ini, kita nggak perlu melawan kehendak Tuhan. Dulu aku pikir, apa yang aku rencanakan itu sesuai, tapi nyatanya Tuhan punya cara lain.”

“Maksudmu?”

“Ya, kalaulah aku tidak meninggalkan tempat ini dulu, maka mungkin jalanku nggak begini. Jadi memang aku waktu itu harus pergi, dan sekarang pada akhirnya disuruh kembali.”

“Yah. Jadi jalani saja. Bener kan?”

“Yup. Jalani saja sambil berdoa agar cintamu tetap untukku. Haha.”

“Apa coba?”

“Nggak apa-apa, sayang.”

“Cinta itu tetap kok. Tenang saja. Aku nggak akan nambah cinta untukmu.”

“Kok gitu?”

“Cinta itu harus pas. Kalau kamu dapat cinta berlebih, kamu bakal bagi-bagi ke orang lain. Kalau kamu dapat kurang, ehm, kamu nyari yang lain ntar. Iya kan?”

“Hmmm.. Iya juga. Pinter kamu ya?”

“Biasa aja ah. Lebay.”

Senyumku dan senyummu menghantarkan sore hari terindah sepanjang aku berdiri di tepi sungai ini. Keindahan ketika cinta dua hati menyatu dalam kesepahaman akan misteri Ilahi. Keindahan yang sederhana.

“Say?”

“Iya, kenapa?”

“Aku sayang kamu.”

Kamu tersenyum, menyandarkan kepalamu di bahuku. Ah, benar juga, indah itu sederhana, pun bahagia. Di sore hari, di tepi sungai itu, aku memeluk keindahan dengan bahagia.

🙂

 

Aku Cinta Kamu

Mengapa cinta itu membingungkan?
Ihwal mengapa cinta itu membingungkan saja sudah membuatku bingung.

Mengapa cinta itu abstrak?
Karena, bahkan jarak sekalipun ternyata tidak mampu mengalahkannya.

Mengapa cinta itu unik?
Ehm, cinta katamu harus pas, tidak kurang tidak lebih.
Kalau kurang, pasti akan mencari ke tempat lain.
Kalau lebih, akan membaginya dengan yang lain.

Mengapa pula cinta itu membuatmu memilihku,
membuatku memilihmu?

Aku yakin ini bukan perkara
merobek kertas
membalik telapak tangan
mengangkat gelas
menggerakkan gunting.

Ini perkara hati
Ketika pada akhirnya aku menatap hatimu
sebagai peraduan.

Ah, itu tadi hanya panjang lebar belaka.

Simpelnya?

Aku cinta kamu.

Tidakkah tiada yang lebih sederhana daripada itu?

Menghormati Prinsip

Kemarin, Sabtu, dapat telepon dari Bapak saya yang awesome 🙂 Selain pertanyaan mendasar seperti sehat dan lagi ngapain, tentunya ada pertanyaan soal pasangan hidup. Yah, namanya kemarin itu lagi nyari, masih aja ditanyain. Hedeh. Tapi satu yang pasti, Bapak menekankan, SEIMAN kan?

Itu satu.

Nah barusan ini telepon lagi sama Mamak saya yang tak kalah awesome. Rada hebat ya saya punya dua orang tua yang sangat-sangat awesome, hebat, dan terkadang gila. Gila-gila nekat malah. Mamak sih nggak nanya soal ada atau belum. Ya, tampaknya sudah tahu perasaan saya yang ogah ditanyai begituan. Tapi intinya, Mamak menekankan lagi, harus SEIMAN dan Mamak maunya UMURNYA di bawah saya (lebih muda).

Well, meski saya termasuk ngeyelan, tapi untungnya dalam hal ini orang tua saya berhasil membuat saya tidak membantah mereka. Saya menerima syarat mereka dengan tanpa protes. Yak, SEIMAN dan LEBIH MUDA. Nggak banyak syarat lain. Mungkin karena Bapak dan Mamak berasal dari dua suku yang berbeda, mereka nggak mempermasalahkan suku mana. Toh, kalau dari suku selain Batak dan Jawa, maka keluarga saya akan menjadi sangat meng-Indonesia. Iya kan?

Yang saya heran, adalah orang lain di luar saya dan keluarga. Pertama, kalau saya single, apa coba urusannya? Okelah, even saya pun kadang menjodoh-jodohkan, tapi saya selalu berusaha melihat respon. Kalau yang dijodoh-jodohkan nggak suka, ngapain diterusin? Bikin orang sakit hati, nambah dosa malah. Huhuhu…

Dan kedua, ketika DENGAN TERPAKSA saya berkoar tentang dua kriteria utama tadi, masih ada saja yang MEREMEHKAN.

“Halah, nanti kan juga bisa berubah kriteriamu.”

“Nanti kan juga bisa diajak.”

Sungguh ya, saya nggak habis pikir soal ini. Soal Agama, saya angkat jempol dengan orang-orang yang mampu memfasilitasi perbedaan mendasar itu. Bos DP misalnya, dengan sip menceritakan itu di berbagai posting blognya. Masalahnya, secara psikis saya nggak bisa. Jadi mosok ya kudu dipaksakan? Soal ajak mengajak juga, wah, secara psikis saya nggak bisa. Itu aja masalahnya.

Lalu soal ketidakmauan saya menjadi brondong, itu juga mendasar kan? Salut deh buat yang bisa memfasilitasi perbedaan usia itu, tapi lagi-lagi, saya pribadi nggak bisa. Lha kalau saya nggak bisa, masak mau dipaksa?

Setiap orang kan punya levelnya sendiri-sendiri.

Ini mungkin yang bikin saya bergerak perlahan, secara ya, di dunia kerja sekarang yang saya temui hanya kayu manis dan cacing tanah. Hahahahaha..

Satu hal, dialog, gojeg, dan sejenisnya itu sangat diperkenankan, TAPI kalau sudah menyinggung soal prinsip, buat saya pribadi, ini bukan hal yang layak untuk diperbincangkan. Saya hormati prinsip situ, jadi kita sama-sama menghormatilah. Nggak susah sebenarnya, kalau sama-sama mau.

Ehm, terlepas dari itu, saya bangga pada ORANG TUA SAYA yang LUAR BIASA! 🙂

Yang Puasa Dua, Yang Buka Banyak

Oke, dalam ranah pergaulan Dolaners memang tidak mengenal perbedaan. Ehm, kalaupun perbedaan dikenali, itu adalah sebagai bahan ejekan. Halah. Ya, tapi memang itu yang terjadi. Selain itu, perbedaan juga dimaknai sebagai sumber oleh-oleh. Jadi ada kalanya, aku datang dari Bukittinggi membawa kaos gambar jam gadang, ditukar dengan kaos Toraja-nya Lani. Ada juga sandal Kalimantan-an Rani yang dibagi-bagi dan kemudian raib karena di kosku ternyata ada 4 sandal yang sama. Haduh.

Dan soal perbedaan agama, nggak signifikan juga. Waktu ke Ngobaran, aku dengan tenang bertapa di dekat sumur menunggu Ano selesai jumat-an. Semoga aku masih dilihat sebagai manusia, meski memang secara tampak agak sulit membedakan antara aku dan makhluk jadi-jadian.

Dan satu yang paling menyenangkan dari perbedaan ini adalah ketika bulan puasa, waktu Ano dan Chica berpuasa. Yak! Keduanya akan berada di lingkungan setan. Sungguh pahala mereka tinggi, karena selalu dirayu dan digoda. Bahwa setan-setan ini dosanya bertambah, anggap saja itu amal.

Bener? Bercanda ah!

Buka puasa bersama adalah agenda rutin bin wajib Dolaners. Dan berhubung Ano adalah perantauan agak riskan melakukan ritual buka puasa bersama di rumahnya, paling-paling ya beli kolak di pinggir jalan juga dia. Maka, Dolaners beralih ke rumah Chica, yang ada di bawah naungan orang tua yang baik hati. Plus, rumahnya nggak jauh-jauh benar dari sekitar kampus.

“Kapan ki buka puasa bersama?” tanya Chiko, ehm, masih si playboy kandas.

“Puasa ora, melu buka thok,” racau Roman.

“Halah, kowe yo ngono,” sergah Bona.

Dan obrolan macam ini nggak akan selesai kalau hanya di kalangan cowok-cowok. Maklumlah, meski tampan-tampan dan tampak pintar, tapi sejatinya isi otak kaum ini diragukan kebenarannya.

“Keburu lebaran lho,” ujar Aya. Nah, kalau kaum cewek Dolaners sudah berkata, baru deh agak lurus suasana.

Obrolan nggak jelas itu kemudian berakhir pada nggak bisa. Yah, memang, kesibukan sebagai mahasiswa dan (beberapa) sebagai pacar bukan hal yang mudah ditinggalkan. Para Dolaners sudah di semester 7, nggak semudah waktu membuat acara seperti ini di semester 3 atau 5. Ada yang kudu skripsi, ada yang kudu asisten, ada yang kudu latihan paduan suara, ada yang kudu ngopeni pacar.

Halah.

“Ayo cah. Kapan ke rumah?” tanya Chica, sesudah lebaran. Ketika para intelektual muda nan gamang ini berkumpul di tempat yang selalu sama, Pok-We.

“Lho, masih berlaku ki?” tanyaku.

“Yo orapopolah.”

“Mari direncanakan saudara-saudara,” ujar Chiko lantang. Hemmm, tampaknya lelaki ini sudah kelaparan. Hidangan-hidangan khas lebaran di rumah Chica tampak menarik untuk dikelola dalam perut.

Dan akhirnya event bertajuk Buka Puasa Bersama itu dihelat sesudah bulan puasanya lewat. Ehm, jadilah ini namanya makan-makan di rumah Chica sebagai pengganti buka puasa bersama. Ya, tampak lebih manis ya?

Maka di suatu sore yang gundah, karena cacing-cacing di perut mulai berteriak. Berangkatlah satu per satu ke rumah Chica.

Aku beranjak dari kos dengan Bang Revo, yang masih mulus, sambil kelelahan. Aku baru saja putar-putar Jogja mencari responden yang sakit kepala. Tampaknya tiada skripsi paling pusing daripada mencari orang pusing hingga pusing sendiri. Ah, kenapa ada topik itu sih?

Beberapa missed call sudah masuk, tandanya anak-anak Dolaners sudah berkumpul manis di rumah Chica. Perjalanan ke rumah Chica nggak jauh, hanya karena melewati persawahan jadi harus berjuang melawan ternak-ternak yang beterbangan di jalanan dan mengincar bola mata siapapun yang melintas.

Di kompleks perumahan dosen, di utara Jogja, aku membelokkan Bang Revo. Pada sebuah rumah yang banyak terparkir sepeda motor di depannya aku berhenti. Ada Grand AD AV, ada beberapa Supra Fit, beberapa sepeda motor yang aku kenal. Dan, eh, kok ada Satria F disini?

Yak, tampaknya ada Dolaners yang baru beli motor.

Aku, yang sudah telat, memasuki arena yang masih kosong dari makanan.

“Motore sopo kuwi?” tanyaku.

“Chiko kuwi,” ujar Prima, masih dengan tampangnya yang penuh kebajikan.

“Wooo.. Ngeriii.. Sugih.. Nyembah aku,” ujarku. Kemarin-kemarin memang Bang Revo jadi yang termulus di kalangan Dolaners, sekarang ada gantinya.

Makanan mulai datang silih berganti. Mama Chica mensuplai dengan lancar dari dapur. Kami duduk ngemper di garasi sambil menikmati hidup. Ah, ini sudah semester 7, mungkin ini terakhir kali bisa begini. Iya kan?

“Eh, Yama. Kowe nek noleh biasa wae loh,” kata Bona sambil menunjuk Yama yang lagi kesulitan menoleh alias tengeng.

“Asem.”

“Wo, ngapuro kowe Bon. Keno azab meneh ngko,” ujar Chiko. Yak, menurut catatan medis, atlet bernama Bona ini pernah mengalami dengkul mlingse tidak lama sesudah ngece Yama. Sejak itulah, kami menganggap bahwa menghina Yama itu ada azab. Tapi, mulut mana yang tidak hendak tertawa melihat Yama yang tegang leher itu susah payah hendak menengok ke belakang?

Inilah godaan duniawi.

“Eh, eh. Iki sik wis jadian urung do ngaku.” Prima membuka topik baru.

“Lha sopo? Kowe karo sopo Prim?” tanya Chiko.

“Asem lah. Yo dudu aku. Kowe kuwi.”

Beberapa mata mulai melihatku dan Chiko bergantian. Eh, eh, ini bukan bermakna aku dan Chiko yang jadian ya. Bagaimanapun aku masih normal, demikian pula playboy kandas yang satu itu.

“Ayo, konferensi pers nek ngene,” tukas Bayu.

Huh, ini bocah, mentang-mentang pendekatannya belum final, bisa teriak-teriak ya. Nantikan pembalasanku.

“Yo kowe sik Ko.”

“Kowe no.”

“Kowe wae lah.”

Dan,seperti biasa, meski sudah semester 7, kami masih saja tetap tidak cetho.

“Yowis. Tak dhisikan. Ya, seperti yang sudah diketahui. Aku wis jadian. September kemarin,” beber Chiko.

“Karo sopo Ko?” sergah Prima. Ah, bapak yang satu ini walaupun muka bajik, kepo juga.

“Cintia.”

Senyam senyum nggak jelas dari pemirsa konferensi pers ini memang menandakan bahwa mereka puas dengan wahana pengakuan ini. Jadi begini, kegagalan demi kegagalan cinta yang silih berganti kami alami membuat dalam hati ada tendensi untuk menyembunyikan kisah pendekatan sebelum kemudian launching ke muka publik. Jadi bukan koar-koar masa muda ketika bilang kalau sudah pedekate, tahu-tahu nggak jadi.

Dan ternyata itu bukan pikiranku saja. Chiko itu tanpa ada tanda-tanda, tahu-tahu sudah ujug-ujug pacaran. Dan aku…

“Kowe saiki,” suruh Chiko.

“Hedeh. Yo. Aku ya udah jadian. Baru sih, beberapa minggu.”

“Karo sopo?” Bapak bajik nan kepo kembali bertanya. Kali ini ditimpali yang lainnya.

“Yesi.”

Sorak sorai khalayak membahana, bukan apa-apa, karena Yesi sebelumnya ada kisah dengan Roman. Sehingga ini sedikit-sedikit ada hawa telikung teman. Padahal kan aku ya nggak ngerti kalau Yesi pernah dekat dengan Roman. Yah, anggap saja itu kebetulan. Kebetulan dapat. Halah.

Makanan berangsur luput oleh mulut besar orang-orang yang ada disini. Kegembiraan dalam balutan tajuk buka puasa bersama ini tidak dapt ditukar oleh apapun. Entah kapan lagi ada momen seperti ini.

Yang puasa dua, yang buka banyak. Yang dikenang? Bahkan aku tidak mampu menghitungnya.

Review Film: Soegija

Saya mendengar akan ada film Soegija sudah lama, sejak jaman penggalangan dana. Jujur saya awalnya meragukan Puskat dapat membuat film yang selevel dengan rumah produksi ternama yang biasa bikin film besar. Tapi fakta bahwa ini adalah film beraroma Katolik pertama yang tayang di 21 (yang saya tahu lho), membuat saya merasa harus nonton film ini, di hari pertama.

Kalau di The Avengers saya nonton pertama bener di Cikarang karena cuti, kali ini saya nonton penayangan ketiga dari empat slot. Meski di web Soegija dibilang tidak ada Cikarang, tapi karena saya cek di Cineplex ternyata ada, langsung deh lima kurang seperempat melajukan si BG ke Mall Lippo, nonton Soegija.

Oke baik, kita mulai review sekilasnya.

sumber: article.wn.com

Kisah ini berlatar masa perjuangan, mulai dari Belanda, Jepang, lanjut Sekutu, dan berakhir di masa sekitar KMB di akhir 1940-an. Jadi periodenya 40-an bener. Hmmm, setting awalnya bagus, memperlihatkan Romo naik sepeda unta. Ehm, Romo masa kini, maaf kata, ada yang minta ganti mobil ketika pindah paroki 😦

Kisah bergulir dengan sulit karena tampaknya film ini ingin menonjolkan beberapa kisah sekaligus dengan hubungan yang sekilas. Keluarga Ling-Ling membuat soto, dibawa oleh Mariyem-Maryono ke Romo Kanjeng. Lalu ada pula Robert dan Hendrick di tengah perjalanan itu. Ada lagi Nobozuki. Kisah ini kemudian diselingi oleh munculnya Koster Toegimin bersama Romo Kanjeng. Lalu ada pula Pak Besut. Dan kemudian, dua sosok paling menarik yakni si bocah kuncung dan si tukang gelut. Sebut saja begitu, saya nggak tahu namanya.

Kisah-kisahnya dimulai dan bermuara pada catatan Romo Kanjeng di sebuah halaman, dan rentang kisahnya 2-3 tahun. Hmmm, beberapa baris kata mengantar penonton pada parsial-parsial kemanusiaan yang berbeda, namun muaranya jelas.

Yak, Romo Kanjeng ada di tengah kisah-kisah itu. Romo Kanjeng tidak bertemu dengan Robert dan Hendrick memang, tapi ia selalu ada ketika plot sedang menaikkan Mariyem. Romo Kanjeng juga muncul dengan dialog segar bersama Koster Toegimin. Ia juga muncul dengan Ling-Ling. OOT sedikit, Ling-Ling ini sungguh cacat alias calon cantik. Hehehe..

Yak, pada intinya memang perang itu tidak berguna. Even kemerdekaan pun tidak serta merta berguna karena ternyata kemudian banyak penjarahan. Si bocah tukang gelut mempertanyakan itu. Buat apa merdeka kalau sapi dicuri, ngapain? Sebuah pertanyaan besar hingga masa kini.

Tokoh-tokoh semacam Mariyem-Maryono, Nobozuki, Suwito, Robert dan Hendrick, muncul selang seling hingga terkadang memusingkan. Tapi intinya memang satu, sejatinya perang ini memang tiada gunanya. “Aku juga benci dengan perang ini,” begitu kira-kira kata Hendrick.

Penonton harus memadukan masing-masing kisah, tapi itu dibantu kehadiran Romo Kanjeng dalam slot tertentu yang kemudian membuat itu menjadi kesimpulan. Itu sisi positif film ini.

Dan sungguhpun namanya saja saya nggak ngerti, tapi si kuncung dan si tukang gelut sungguh memberi makna dari film ini. Ketika si kuncung yang dibilang sama Marwoto “anak setan”, dan ikut-ikutan melempari Hendrick di Hotel, hingga pada kenyataan bahwa ia bisa membacaa adalah kesegaran dalam alur yang kadang berat.

Termasuk si tukang gelut. Lakunya kadang membuat emosi, termasuk ketika (sepertinya) membunuh Nobozuki yang sedang bernyanyi dan (sepertinya) juga membunuh Robert yang sedang membacakan surat ibunya, tapi ia adalah warna berbeda. Termasuk kata-kata, “aku saiki iso moco: merdeka!”

Tentunya warna jelas adalah Butet yang tetap segar dalam guyon. Mulai dari bilang Romo Kanjeng hampir mirip Bajak Laut hingga saat curhat jomblo pada Romo Kanjeng.

Overall memang butuh mikir, tapi kesimpulannya jelas, sepenuhnya kemanusiaan. Angkat jempol untuk Garin Nugroho atas film-nya 🙂

Tapi.. Ehm, kritik sedikit boleh kan?

Adegan tembak-tembakan dan dor-doran di depan mata mungkin perlu, tapi ada beberapa yang terlalu ekstrim, termasuk Nobozuki mati. Kalau bisa dipoles seperti caranya Robert mati, mungkin lebih baik.

Dan kritik saya yang paling keras adalah adegan ketika Romo Kanjeng merokok. Ehm, terlepas dari argumen bahwa itu fakta, apakah memang seperlu itu membuat adegan Romo Kanjeng merokok. Saya takutnya, anak-anak yang nonton bilang, “tuh, Romo Kanjeng aja ngerokok lho.”

Okelah merokok bukan dosa, saya hormati, karena saya juga mantan perokok, tapi mungkin bukan wadahnya ketika hampir seluruh orang tua datang ke bioskop bersama buah hatinya. Sayang balutan apik itu terkendala oleh adegan yang menurut saya juga nggak penting-penting amat kalau harus berasap. Tanpa asap juga bisa.

Sungguh, setting Jawa banget dan ada Jogja-nya, membuat saya sepenuhnya kangen. Dialog Jawa yang membuat tertawa, hingga gereja Bintaran benar-benar bikin merindu masa silam. Ah, dasar.

Oya, sepertinya ada adegan di studio Puskat, semoga saya benar. Setidaknya saya dulu pemakai wisma dan studio alam Puskat untuk Makrab. Hahahaha… Dan satu lagi yang keren, sebagai bass sejati, saya sangat suka lagu yang sangat menonjolkan bass, dalam hal ini mari kita bernyanyi, “Kopi susunyaaa… dst..” *minta teks dong*

Angkat jempol! 100% Katolik, 100% Indonesia!

🙂

Kenapa Saya Aneh

Ini mungkin sudah kejadian beberapa tahun silam, tapi ya mungkin memang belum pernah diklarifikasikan. Ketika dulu saya dengan nekat berpindah di jurusan di tahap paling akhir kuliah.

Hemmmm..

Okelah, mungkin saya bisa dicap pembelot atau sejenisnya. Oke, fine. Saya terima. Dan faktual tampak demikian. Saya hanya belum pernah menjelaskan alasan yang sebenarnya atas keputusan aneh saya itu.

Jadi ceritanya 3 Januari 2008, sore hari, saya ikut berdiskusi dengan dua dosen terkait data hasil penelitian saya. Ehm lagi, tampaknya bahwa data yang saya punya itu bisa dibilang ‘sayang’ alias eman-eman. Bahwa saya bisa menghitung prevalensi dengan proses yang saya lakukan dan bahkan saya nggak perlu mencari orang yang sama dua-tiga kali dalam rangka memperoleh data. Diketahui sehari sesudah ujian tertutup. Miris buat saya pribadi.

Dan sejujurnya motivasi saya menjadi nol, atau mungkin minus.

Saya akhirnya memilih untuk menyelesaikan saja studi ini, dan entah mau kenapa sesudah itu. Demikian faktanya.

Saya kemudian mencari-cari jalan ke depan saya. Mau terus di minat yang sama, sungguh saya nggak punya motivasi. Sayang banget uang orang tua saya tergerus dengan kuliah saya yang minim motivasi. Buat apa?

Nggak diterusin, udah separuh jalan mau kelar ini. Lebih sayang lagi kan?

Akhirnya saya nekat saja, tentu sesudah tanya-tanya boleh atau tidak. Kebetulan saya masih ada celah yang memungkinkan untuk bertindak aneh. PINDAH MINAT.

Pindah minat pasti akan jadi jelek di mata orang lain? Ya terpaksa. Daripada duit orang tua saya habis untuk kuliah yang tidak bermotivasi?

Dan tentu ada konsekuensinya.

Saya belajar beneran. Saya bahkan melepas PSM, dimulai dari tugas di Bank Mandiri, demi tetap kuliah dengan baik. Saya juga belajar dengan sangat keras di 6 bulan pertama. Bagaimana lagi? Itu konsekuensi. Dan setidaknya saya punya motivasi. Itu yang jauh lebih penting.

Hasilnya? Ehm, bukan mau sombong. Tapi di ujian CPOB, saya satu dari dua yang tidak ngulang. Buat saya itu prestasi, lha jarang-jarang saya bisa begitu. Lebih lanjut, meski saya kena di kompre, eh pada akhirnya saya bisa dapat IP rangking 3. Kalau Rissa nggak dapat IP 4, pasti saya udah ikut dipanggil penghargaan. Hahahaha..

Dan pada akhirnya saya menemukan teman-teman yang pindah minat ketika di dunia kerja. Salah? Nggak! Saya hanya perlu belajar lebih dulu, dan itu saya ambil di kuliah. Saya agak lambat belajar soalnya.

Hasilnya?

Saya bisa bekerja di salah satu perusahaan farmasi terbesar Indonesia, nyaris promosi (hehehe…), belajar banyak hal baru di industri, dan sejauh ini punya penghasilan yang lumayan.

Saya aneh, tapi saya punya alasan untuk itu. 🙂

Cantik

“Oke, kita ketemu di ibukota ya!”

“Siap. Siapa takut?”

Cem menyunggingkan senyum sambil menyentuh layar ponsel pintarnya. Sebuah tantangannya pada seorang teman lama disanggupi. Sebenarnya justru karena berawal dari sama-sama ingin bertemu, kerinduan itu menjelma menjadi sebuah tantangan. Tantangan teman lama.

“Cem, berhubung kamu sudah esmud begitu, walaupun di pedalaman Andalas sana, kayaknya kamu perlu ditantang deh.”

“Kenapa Det? Apa sih yang nggak buat kamu?”

“Kita ketemu di ibukota, dalam posisi backpacker, dan nggak boleh naik pesawat. Soalnya kamu pasti bisa dengan mudah pakai burung besi itu Cem.”

Cem sedikit keder. Tapi nggak mungkin dia kalah sama Deta. Nyali Cem terpaksa dikuat-kuatkan. Jalan lintas Sumatera bukanlah jalan yang sepenuhnya ramah. Dicegat di jalan, dilempar batu, hingga digemboskan bannya pernah dialami Cem ketika masih belia. Dan hidupnya yang penuh fasilitas perlahan membentuk jiwanya menjadi manja. Cem aslinya takut hendak kembali ke masa seperti belianya. Tapi ya itu tadi, dia nggak mau kalah sama Deta. Masak esmud tambang kalah sama dosen muda? Mana ada?

“Deal, Cem?”

“Deal, Det. Lanjutkan.”

* * *

Cem memasuki pelataran loket bus Putra Remaja di Jalan M Isa. Hasil tanya kiri kanan mengarahkan Cem ke tempat ini. Panas-panas ngentang, Cem menaiki bis yang hendak membawanya ke ibukota. Ehm, sejatinya ini akan jadi sangat lebih mudah kalau dia naik taksi ke SMB II, lalu menggunakan penerbangan ke Soekarno Hatta, lalu taksi ke meeting point. Biasanya hidup Cem adalah sesederhana itu. Dan bagi Cem, bus ini sama sekali tidak sederhana.

“Posisi Det?”

“Otw, Tegal.”

“Naik apa kamu?”

“Ini nunggu kendaraan ke Cirebon.”

“Heh? Nggak ada yang lebih mudah Det?” tanya Cem. Dalam hatinya, dia mengkhawatirkan seorang wanita muda penuh pesona yang sendirian hendak menuju Cirebon untuk sebuah pertemuan dengannya. Bagi Cem, ini juga sebenarnya bisa mudah. Apa susahnya naik pesawat dari Adisucipto ke Soekarno Hatta? Tak sampai 55 menit, jarak itu terbunuh.

“Hey Cem! Percaya kan bahwa hidup ini petualangan? Nikmatilah. Dimana kamu?”

“Baru masuk Lampung. Udah lewat tempat tentara nih.”

“Oke Cem. Lanjutkan!”

“Sip Det.”

Dan Cem mulai meresapi kata-kata Deta. Nikmatilah.

* * *

Bus yang membawa Cem sudah sampai di Bakauheni. Turunan perlahan dengan persewaan kapal di kiri dan kanannya sudah menandakan bahwa Bakauheni memang sudah dekat. Cem pun mulai bersiap, karena terakhir kali dia naik kapal penyeberangan ini, dia mabuk laut. Ah, kadang fasilitas justru membuat orang menjadi sangat-sangat manja. Meski sejatinya mereka bisa, tanpa fasilitas itu. Berbagai logika mulai berlari di otak Cem.

HP-nya bergetar. Smartphone bukan pilihan bagus untuk perjalanan jauh karena baterai hanya akan habis dalam setengah jalan. Jadilah Cem memakai HP lama-nya, jaman dia masuk berani naik angkot sendirian, jaman dia masih pede berdiri di atas bus, jaman dia belum terlena oleh fasilitas sebagai esmud.

Deta disana.

“Posisi bos?”

“Bakauheni. Situ?’

“Nggak ngerti juga saya. Hahaha.. Pokoknya di atas kereta. Nggak dapat kursi neh.”

“Berdiri???” tanya Cem terperanjat.

“Lha iya, kenapa?”

“Ehm, nggak apa-apa kok. Oke. Go ahead.”

“Siap bos.”

* * *

Cem sendiri masih bingung menerjemahkan makna permintaan Deta. Jadilah dia tidak hanya menghindari burung besi, tapi juga burung biru. Padahal dia adalah pelanggan tetap angkutan itu. Semata-mata mengikuti permintaan Deta.

“Bu bos?”

“Mari? Dimana Pak?”

“Pulo Gadung. Meeting point mana?”

“GBK kayaknya asik.”

“Yah, jauh aja Det.”

“Ya gpplah. Aku juga dari stasiun sini nggak dekat-dekat amat itu GBK.”

“Okelah Det.”

Dan Cem memasuki terminal besar itu, memasuki halte Busway dan kemudian masuk ke kerumunan orang, berdiri. Sepanjang jalan.

* * *

GBK. Patung memanah. Sungguh sebuah view yang indah untuk dijadikan titik pertemuan, apalagi ketika tempat bersejarah itu sedang sepi.

“Cem!” Sebuah teriakan terdengar dari arah belakang. Cem yang sedang memandangi megahnya GBK menoleh seketika.

“Det! Sampai juga kamu. Capek?”

“Enjoy Cem. Itu bikin nggak capek-capek amat. So, bagaimana perjalananmu?”

“Ehm, gila. Aku bilang kamu gila dengan ide ini.”

“Nggak lah Cem. Aku cuma mau ngetes. Apa kamu masih kuat menderita. Hahaha.”

“Gila kamu Det. Tapi kamu berhasil. Aku lulus kan?’

“Ehm, sepertinya sih gitu.”

Kedua teman lama itu kemudian duduk di rerumputan, memandang megahnya GBK dan cerahnya langit. Cem menoleh ke samping, tampak paras Deta. Penuh lelah dengan perjalanan antik Jogja-Cirebon-Jakarta yang mayoritas berdiri. Entah kenapa, Cem tiba-tiba hendak memuji Deta.

“Det?”

“Kenapa?”

“…….”

“Kamu kenapa Cem?”

“Ehm, nggak apa-apa. Kamu terlihat cantik sekali.”

Deta tersenyum dan kembali memandang lepas ke langit.

Bahwa makna cantik itu tidak semata-mata soal paras.

Panggung Trauma

Oktober 2009, ketika gedung itu baru saja diresmikan, aku yang jelas dan lugas masih unyu itu tampil bernyanyi bersama (kalo nggak salah) 9 orang lainnya. Bangga? Waktu itu mungkin iya, bayangkan saja seorang bocah yang baru 5 bulan kerja sudah disuruh pergi ke kantor pusat, bukan untuk dinas meeting atau training, tapi untuk nyanyi.

Tapi siapa sangka nyanyi itu berujung trauma?

Lagunya itu pakai minus one, dan ada interlude lumayan dengan isi instrumental ciduk-ciduk yang lumayan. Dan entah siapa yang salah, persis pada saat interlude itu, lagu DIMATIKAN!

Bayangkan saja kalau lagi nge-seks tapi belum klimaks. Mungkin kayak gitu, nggak tahu sih saya. Tapi itu lagu belum kelar, dan klimaks lagunya di belakang, dan itu tidak ada.

Cengak cengok di panggung bingung kenapa bisa begitu?

Lagu kedua kemudian berakhir bubar jalan. Cuk Mailang yang aslinya simpel itu menjadi lagu dengan nada yang lari kemana-mana. Tidak saya, tidak orang di sebelah saya, sama saja. Faktor psikis membuat mental bubar jalan. Parah. Saya sakit hati sama yang matiin itu musik. Dan lebih jauh, saya trauma tampil di panggung lagi.

Ehm, di PSM Cantus Firmus saya diajari benar bagaimana tampil di panggung. Mulai dari panggung Melody of Memory hingga ICC Mega Glodok Kemayoran lantai 10. Dan kemudian saya harus berakhir trauma di sebuah gedung di Bintaro itu?

Huffffttttttt…

Dan kemarin, dengan terpaksa, saya kembali ke panggung itu. Dengan nuansa yang lebih parah, cuma berempat, dan bernyanyi. Cukup? Tidak! Ada bagian khusus ketika saya harus bernyanyi sendiri. Saya itu orang paduan suara yang ada di bass dan tidak pernah dapat jatah solis. Dan saya harus menyanyi sendiri?

Meski itu hanya 2 kalimat, sudah cukup bikin merinding! Sumpah!

Dua lagu, Tanah Air dan Mengejar Matahari menjadi warna beda dalam upaya menghapus luka dan trauma. Kalau nggak begini, mau sampai kapan saya trauma sama panggung itu? Ya kan?

Syukurlah, tidak ada kejadian krusial macam 3 tahun silam. Banyak yang bilang bagus, meski saya tahu saya fals, dan itu diamini oleh teman saya sesama CF. Ehm, dalam hal ini anak CF memang selalu bisa objektif. It’s okay for me. Tapi apresiasi juga tentu saya terima dengan penuh rasa terima kasih.

Setidaknya saya tidak perlu trauma dengan panggung itu. Beberapa waktu terakhir saya banyak melawan ketakutan. Mulai dari naik Banana Boat, nonton di GBK, hingga tampil kembali di panggung itu.

Percayalah, tidak ada luka yang sejati, selama kita berniat menghilangkannya 🙂

Gembira

Rumah itu perlahan terbentuk. Pondasi jadi, dinding berdiri, daun pintu terpasang, bahkan marmer lantai juga sudah ada pada posisinya. Tukang-tukang bekerja dengan giat, kadang mandor datang melihat kinerja tukang. Ada pula arsitek yang merancang rumah itu, ikut pula ada disana.

“Wahai para pekerja, besok pemilik rumah ini akan datang, melihat rumah yang kita bangun ini. Persiapkan sebaik mungkin ya,” seru Mandor di sore hari menjelang tukang-tukang pulang.

Esoknya, para tukang bekerja banting tulang menyelesaikan bagian-bagian yang belum dipoles dari rumah indah itu. Beberapa kali spesialis tukang batu ikut ngecat demi menyelesaikan bangunan yang luas itu.

“Pasti oke ini rumah mah,” seru tukang spesialis listrik.

Tukang batu yang ikut ngecat tadi tersenyum simpul. Dia barusan ngecat di stop kontak yang belum terpasang. Dia juga baru ngecat langit-langit yang bolong karena paku kabel.

Akhirnya pemilik rumah datang, melihat-lihat. Mandor menemani pemilik rumah dengan ‘speak-speak’ yang mumpuni.

“Ini dari batu kali gunung Merapi Pak, langsung!” ujar Mandor berapi-api.

Tukang batu tadi menoleh sebentar, lalu geleng-geleng. Dia tentu masih sangat ingat kalau baru kemarin mengambil batu di toko batu langganan. Geleng-gelengnya berlanjut seiring ayunan tangannya pada kuas.

“Oke, bagus. Kinerja kalian luar biasa,” kata pemilik rumah dengan tersenyum bangga.

“Terima kasih Pak. Silahkan datang kali seketika, kami siap memuaskan Bapak,” seru Mandor.

“Baik. Karena kesuksesan kalian, saya kasih bonus!”

Tukang-tukang senang mendengar itu. Mandor dengan berapi-api mengucap terima kasih pada pemilik rumah. Tukang batu tadi mengoles cat terakhirnya dan melangkah keluar perlahan dari rumah tersebut.

Tukang-tukang yang lain berkerumun pada kabar bonus dari pemilik rumah. Tukang batu itu menjauh sambil menatap.

Selalu ada cara yang berbeda untuk gembira.

Bapak Millennial