Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Tentang Bahan Sosialisasi Pak Sekda

Salah satu hal yang menarik dari persiapan Pilkada tentu saja materi sosialisasi dari para calon. Sebagai orang Tangerang Selatan, yang saya lihat sehari-hari tentu tidak jauh-jauh dari beberapa orang yang siap maju. Beberapa diantaranya adalah Azmi Abubakar, Tomi Patria, Ruhamaben, serta tiga orang yang digadang-gadang sebagai calon paling kuat yaitu Pak Wakil Walikota, Pak Sekda, serta anaknya Pak Wakil Presiden.

Nah, salah satu bahan sosialisasi yang menarik dan sempat beredar di dekat Stasiun Jurangmangu pada bulan Desember 2019 adalah punya Pak Sekda ini. Dalam soal ini, saya rasa tim yang memasang alat peraga ini perlu diberi brief yang lebih jelas.

Pertama, tentu saja karena desainnya yang sangat biasa untuk profil setinggi Pak Sekda. Lebih gawat lagi tentu saja font-nya~ Banyak tim media sosial masa kini menggunakan Canva dan pilihan font-nya tentu jauh lebih mendingan.

Belum lagi penulisan nama dan gelar Pak Sekda yang nyaris tanpa tanda baca. Bpk Drs H itu masing-masing harus diakhiri oleh titik. Demikian pula gelar Pak Sekda itu tidak sembarangan nulis M.si. Kuliah S2 itu susah, coy. Nggak sembarangan lah nulis gelar.

Perihal tagline di paling bawah tentu tidak diragukan lagi. Namanya Sekda tentu merupakan orang yang bukan hanya mengerti, tapi paling mengerti kota tempatnya bertugas. Namun, alat peraga ini justru menimbulkan sedikit pertanyaan di kepala saya.

Begini, jikalau memang Pak Sekda adalah orang yang mengerti kotanya, mestinya tahu bahwa di kotanya itu banyak sekali tempat printing poster dan banner, tidak sedikit pula yang 24 jam bukanya. Di masing-masing tempat itu ada jasa desain pula dan untuk profil setinggi Pak Sekda nggak mungkin juga ditolak walaupun buru-buruk, kan?

Alat peraga yang semacam ini malah kontradiktif sekali. Meskipun tentu saja nggak ngaruh banyak. Pak Sekda, misalnya sudah berhasil mendapatkan rekomendasi dari salah satu partai yang dikenal sebagai partai anak muda. Partai anak muda mendukung Sekda. Sungguh sangat Mata Najwa, bukan?

Sementara calon-calon lain dengan desain poster lebih wow justru kalah kondang. Ya memang, sih, ini kan Pilkada yak, bukan lomba desain alat peraga~ Tidak jauh dari lokasi alat peraga ini, Pak Wakil Walikota petahana punya alat peraga yang lebih besar serta lebih rapi desainnya. Kalau kemudian nanti jadi bersua di medan laga, semoga alat peraganya lebih ciamik lagi ya Bapak-Bapak…

Pilih Nilai atau Nias?

Saya mau cerita agak pribadi sedikit. Alkisah, belasan tahun lalu, saya lulus S1 dengan IP pas-pasan. Kalau saya nggak salah, IPK saya adalah yang paling rendah dari 20-an mahasiswa yang lulus 3,5 tahun. Iya, lulus tapi IP-nya ambyar. Saya kebanyakan sampingan sih ketika S1.

Untunglah saya masih diberi sarana lain untuk memperbaiki diri, yaitu karena ada jalur berikutnya Profesi Apoteker. Saya sangat niat ketika itu. Buktinya, dari seluruh mata kuliah di Semester 1 alias seluruh kuliah teori di program profesi itu, nilai saya hanya A dan B saja. B-nya juga cuma dua. Kalau saya nggak salah, nilai B itu adalah di Compounding and Dispensing serta Etika dan Perundang-undangan.

Sisanya A. Bahkan untuk kuliah CPOB juga A. Saya jadi ada peluang untuk tampil sebagai lulusan terbaik. Lha kan tinggal mengulang 2 ujian saja, kok.

Semuanya tampak baik-baik saja sampai kemudian 2 pekan sebelum ujian saya mendapat penawaran yang sangat menarik tapi penuh dilema. Ya, sebuah peluang untuk mendapatkan pengalaman baru sebagai asisten fasilitator bidang obat dan logistik medis di…

…NIAS!

Selain nilai uang yang sangat lumayan bagi uang saku saya ketika itu, bisa pergi ke Nias juga menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Apalagi, project itu adalah penutup kerja Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Gempa Aceh-Nias 2004.

Intinya, sih, kalau saya berangkat ke Nias maka saya melewatkan kesempatan mengikuti 2 ujian ulangan yang berarti akan meniadakan mimpi saya mendapat nilai sempurna untuk semua mata kuliah. Tapi kalau saya menolak kesempatan itu, entah kapan lagi saya akan bisa pergi ke Nias.

Gamang sekali saya ketika itu. Sebuah pilihan menarik hadir ketika saya hendak lulus sekaligus memberi gambaran berbagai pilihan yang ada di depan mata ketika dunia kerja menerjang. Pada akhirnya, di dunia kerja (kecuali PNS) kita kan berhadapan dengan berbagai pilihan. Pindah atau nggak pindah dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, daya tarik untuk ikutan di Nias mengalahkan ambisi saya untuk bisa lulus dengan IP 4. Ketika sedang kuliah lagi sekarang ini saya juga sempat berambisi untuk IP 4, tapi saya realistis saja mosok ya di UI orang seperti saya bisa IP 4. Wkwk. Jadi, saya targetnya yang penting lulus saja.

Yha, 2 bulan kemudian kelulusan, IP saya 3.88 alias memang hanya ada 2 nilai B. Nilai B yang terjadi karena saya tidak mengulang ujian. Sementara yang dipanggil maju adalah teman saya, Rissa, sebagai IP 4. Plus, beberapa teman lain sebagai IP 3.92 alias 1 nilai B. Kalau ada juara tiga ya saya pasti kepanggil, tapi kebetulan nggak ada. Heuheu.

Walau demikian, ambisi itu ditukar dengan berbagai pengalaman menarik dalam kurang lebih 2 pekan saya di Nias. Mulai dari brengseknya birokrasi, enaknya seafood di Nias, bisnis apotek yang sangat menggiurkan, hingga tentu saja sekali-kalinya saya bisa sampai di Teluk Dalam, Nias Selatan. Oh iya, satu lagi, dalam perjalanan Jogja-Nias ini pula saya seumur-umur bisa menikmati kelas Bisnis Garuda Indonesia. Sesuatu yang justru sekarang ketika saya bolak-balik naik Garuda, tidak pernah terjadi lagi. Ketika itu, saya bersebelahan dengan manajernya Eko Patrio. Di kelas yang sama, ada Eko dan Ivan Gunawan.

Hidup itu adalah pilihan dan dalam hal ini antara nilai dengan Nias, saya memilih Nias dan tentu saja saya tidak menyesalinya~

3 Atlet Bulutangkis Yang Wajib Dibuatkan Film Sesudah Susi Susanti

Dari sekian banyak olahraga yang beredar di Indonesia, harus diakui bahwa bulutangkis adalah olahraga yang konsisten dengan prestasinya sejak dulu kala. Kalaulah ada yang menemani dari sisi penyediaan prestasi tingkat dunia, mungkin angkat besi saja yang bisa. Paling terkenang tentu saja di London tahun 2012 ketika Triyatno meraih perak dan Eko Yuli Irawan bawa pulang perunggu Olimpiade. Pada tahun itu, bulutangkis Indonesia gagal total tanpa medali sama sekali.

Maka tidak heran jika bulutangkis menjadi topik menarik untuk dibuatkan filmnya. Film yang cukup kondang dari ranah bulutangkis adalah ‘KING’ yang begitu diingat pada zaman sekarang karena menampilkan Jonatan Christie dan Kevin Sanjaya cilik.

Begitulah. Indonesia itu sangat bisa bersatu ketika olahraga, kala lawannya adalah negara lain dan bulutangkis adalah salah satu cabang yang bisa menjanjikan kemenangan. Terbukti ketika cebong dan kampret bersatu padu membela negeri di Asian Games 2018. Eh, sekarang cebong sama kampret apa kabar, ya?

Pada 24 Oktober 2019 lalu, giliran film ‘Susi Susanti’ yang tayang. Harus diakui, Susy Susanti—yang benar adalah pakai ‘y’—adalah salah satu nama yang nyaris selalu mewarnai prestasi Indonesia sejak akhir 1980-an. Susy belia memperpanjang nafas Indonesia di Piala Sudirman 1989 setelah menang 12-10 di game kedua atas Lee Young-suk, untuk kemudian menang dengan skor afrika 11-0 di game penentuan. Dua laga selanjutnya direbut Indonesia dan itu adalah pertama kali dan hingga kini satu-satunya momen Indonesia memenangi Piala Sudirman.

Gold Medal Indonesia GIF - Find & Share on GIPHY

Susy juga peraih medali emas perdana Indonesia di kancah Olimpiade sesudah mengalahkan Bang Soo-hyun di final. Alan Budikusuma—suaminya—juga adalah peraih medali emas, tapi rasanya agak berbeda karena yang dilawan di final adalah teman sendiri. Selain itu, Susy juga turut membawa pulang Piala Uber ke Indonesia pada 1994 dan 1996 setelah lama sekali piala itu tidak mampir dan sampai sekarang ya nggak mampir-mampir lagi.

Begitu sekarang jadi perpanjangan tangan Wiranto di lapangan sebagai Kabid Binpres, Susy juga menjadi orang Indonesia pertama yang memegang Piala Suhandinata, sebelum menyerahkannya ke Febriana Dwipuji Kusuma dan Leo Rolly Carnando. Yes, belum lama ini, Susy menjadi manajer tim Indonesia pada Kejuaraan Dunia Junior 2019 yang berlangsung di Kazan.

Dengan begitu harumnya nama Indonesia di kancah bulutangkis, sesungguhnya masih ada deretan atlet lain yang punya potensi untuk dibuatkan film dan punya potensi laris manis di pasaran.

Taufik Hidayat

Kalau Susy meraih medali emas di Olimpiade 1992, maka Taufik Hidayat adalah peraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena. Sejak 1992 dan selain 2012, Indonesia memang selalu meraih satu medali emas dan selalu dari bulutangkis. Taufik remaja mulai dikenal publik sesudah turut serta dalam tim di Asian Games 1998 yang meraih medali emas beregu putra.

Taufik Hidayat Smash 2 GIF | Gfycat

Soal kontroversi untuk dijadikan film, tentu saja Taufik punya banyak kisah. Dengan sederet prestasinya, Taufik yang sangat dikenal dengan backhand mematikan tersebut sempat berada dalam suasana kisruh dengan PBSI antara lain terkait dengan sosok pelatihnya, Mulyo Handoyo. Sampai sekarang hampir berumur 40 tahun dan terjun ke politik, Taufik juga dikenal dengan komentar-komentar pedasnya terutama untuk sektor tunggal putra.

Sebagai sosok bergelimang gelar, tentu saja setiap kritik dari legenda akan jadi pembahasan. Salah satu yang paling dikenang adalah dalam waktu singkat sesudah dikritik Taufik, dua tunggal putra andalan Indonesia, Anthony Ginting dan Jojo langsung bikin all-Indonesian final di Australia.

Dengan segala kontroversi yang melekat tapi tampang yang sangat baik-baik, Iqbaal Ramadhan adalah tokoh yang cocok untuk memerankan Taufik Hidayat.

Hendra Setiawan

Dewa Hendra adalah idaman kita semua dengan seluruh gelar yang sudah diraih dalam dua periode keemasan dan tiga kali keluar Pelatnas Cipayung. Julukan ‘Dewa’ sendiri bahkan diberikan oleh netizen Tiongkok yang sudah terlalu pasrah jika andalan mereka ketemu Hendra di lapangan.

Juara Dunia, Ahsan/Hendra Masih Sulit Samai Catatan 2013
Sumber: CNN Indonesia

Hendra juga sekarang sedang jadi kesayangan netizen pasca dua gelar bergengsi, All England dan Kejuaraan Dunia, pada tahun 2019, berikut lima kali bikin all-Indonesian Final bareng Minions, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang bikin netizen Indonesia bisa selalu jumawa pada tiap kejuaraan.

Film tentang Hendra Setiawan juga dijamin laku seiring kemunculan akun ‘Hendra Setiawan’ di YouTube dengan subscriber sudah puluhan ribu. Belum setara Atta Halilintar, sih, tapi pertambahan subscriber-nya terbilang eksponensial untuk sebuah akun yang foto profilnya saja masih huruf H.

Nama Ernest Prakasa adalah tokoh yang cocok untuk menggarap film ini sekaligus jadi bintang utama. Alasan utamanya adalah Ernest selalu menggarap film dengan konsep berbeda dan biopik sejenis Susi Susanti yang dikerjakan oleh Daniel Mananta belum ada dalam daftar karyanya.

Fitriani

Sejak Susy pensiun dan kemudian disusul pindahnya Mia Audina ke Belanda. Indonesi nyaris tidak punya tunggal putri yang mumpuni. Secara kebetulan pula Fitriani muncul pada saat yang salah, di era netizen dengan komentar tanpa adab.

Fitriani ikut di Piala Uber 2016 dalam usia 18 tahun, langsung jadi tunggal kedua sesudah Maria Febe Kusumastuti. Pada tahun itu dan sebenarnya sampai sekarang, sektor putri Indonesia masih agak bermasalah. Karena adanya cuma Fitri, maka dalam periode sejak 2016 itu hingga munculnya Gregoria Mariska Tunjung, Fitri hampir selalu dikirim ke berbagai kejuaraan internasional dan hampir selalu kalah di putaran pertama atau kedua.

Fitri muncul bersamaan dengan ramainya akun bulutangkis di media sosial sekaligus kelahiran Minions. Jadi, satu rombongan Indonesia ke kejuaraan manapun akan selalu diperhatikan, termasuk ketika nyaris selalu hanya sisa Minions di hari Minggu dengan Fitriani yang selalu kalah di awal.

Kondisi itu bikin Fitriani selalu jadi korban perundungan kejamnya netizen—yang sebenarnya kalau dites bisa servis dengan baik atau tidak ya paling belum tentu bisa. Padahal, ya kondisinya Fitriani dikirim karena yang bisa dikirim memang cuma dia. Dan kalaupun kalah, ya namanya juga atlet muda. Nggak semua atlet muda bisa semoncer Susy Susanti atau An Se-young, atlet remaja Korea yang tahun ini lagi gila-gilanya.

Fitriani baru dapat teman sesama dirundung netizen pasca Jorji naik kelas ke senior. Jorji menjadi lebih seksi untuk dirundung karena dia naik dengan status juara dunia junior tunggal putri dan punya pacar artis. Jorji dalam setahun sukses menyalip Fitriani namun penampilannya cenderung menurun tahun 2019 ini. Sementara itu, Fitriani sempat menghentak netizen julid lewat gelar di Thailand Masters pada awal tahun 2019. Gelar pertama di sektor tunggal putri sesudah sekian purnama.

Resep Fitriani Juarai Thailand Masters 2019 - Ragam Bola.com

Sebelum dibikin film, sebenarnya sinetron azab lebih dahulu bisa dibuat untuk konteks Fitriani. Tentunya jalan ceritanya menyangkut para netizen kejam di komentar-komentar Instagram dan livechat streaming di YouTube. Beberapa usulan saya adalah “Sering Nanya Fitriani Kapan Main, Seorang Netizen Meledak Karena Ditanya Kapan Nikah” atau “Azab Menyuruh Fitriani Ngulek Bawang di Dapur, Seorang Netizen Pingsan Ketiban Ulekan”.

Seriusan, khusus Fitriani, perundungan di linimasa itu sangat kejam. Untungnya, Fitriani sendiri tidak punya media sosial dan sebagaimana testimoni Putri KW, Fitriani adalah atlet senior yang paling rajin saat latihan.

Kalau ada aktris yang bisa dicoba untuk memerankan Fitri, kemungkinan adalah Rina Nose. Pertama-tama tentu karena Rina adalah aktris yang tabah luar biasa dalam menjawab komentar-komentar tidak beradab di media sosialnya.

Segitu dulu. Jangan tanya soal Kevin atau Jojo, yha. Nanti kapan-kapan tentu ada pembahasannya.

Corona yang Mengembalikan Fungsi Orang Tua

Sekolah-sekolah di banyak tempat ditiadakan. Bukan libur, melainkan belajar dari rumah. Berhubung ini era modern, maka belajarnya juga menggunakan yang online-online. Dalam 2 hari awal saja, KPAI langsung turun tangan sebagai orang-orang tua yang merasa mewakili anak-anak. Katanya, banyak siswa stres selama program belajar di (atau dari?) rumah. Sementara belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kaget bahwa di Indonesia banyak yang belum punya listrik apalagi televisi.

Nadiem Makarim Investigasi Ambruknya Bangunan Sekolah di Pasuruan ...
Sumber: NET Z

KPAI kayaknya belum tahu, bahwa orang tua justru lebih stres. Sebagian teman-teman saya yang mamak-mamak, menuju hipertensi hanya dalam sepekan. Sebagian lainnya mulai merasa bahwa program belajar dari rumah ini bisa bikin renggang hubungan dengan anak. Soalnya sepanjang waktu si orangtua bertensi tinggi terus sama anaknya.

Seorang teman, PNS yang sedang kuliah alias tugas belajar, punya 2 anak yang masih SD dan dua-duanya terkena program belajar dari rumah. Jadwalnya, astaganaga, padat betul. Aslinya mirip dengan sekolah, hanya saja gurunya ada nun jauh di sana, dilengkapi dengan tugas-tugas yang bikin stress itu tadi.

Nah, ini juga musim Ujian Tengah Semester (UTS). Saya lalu bertanya kepada teman tersebut, “tugas kuliahmu bagaimana, Mbak?”

Jawabannya tentu saja: TIDAK TERPEGANG.

Stressed GIF by SpongeBob SquarePants - Find & Share on GIPHY

Yha, selama ini kesehariannya adalah mengantar anak ke sekolah, lantas menuju kampus untuk kuliah atau sesekali mlipir ke kafe untuk mengerjakan tugas. Si anak ada di sekolah, bersama gurunya, jadi dia bisa fokus kuliah dan garap paper.

Sekarang? Selain masak dan mengurus rumah, dirinya harus mengelola dua anak SD dalam pembelajaran jarak jauh, sementara dirinya sendiri juga harus kuliah jarak jauh. Belum termasuk tugas paper yang mendekati tenggatnya.

Saya sih belum mengalami kondisi seperti itu. Anak saya baru 2 tahun lebih banyak. Hanya saja, paralel dengan sekolah, daycare anak saya juga ikutan tutup. Sementara istri saya adalah pekerja rumah sakit. Musim COVID-19 ini justru adalah medan perang baginya. Walhasil, saya yang sedang kuliah ini juga harus mengasuh bayi sembari mengerjakan tugas dan tentu saja harus nongol di kamera dalam perkuliahan jarak jauh.

OK COMPUTER SOLUTION: MASALAH KEYBOARD TAK BOLEH TEKAN | REPAIR ...

Kadang-kadang saya membatin, alangkah kuatnya para aunty pengasuh anak saya di daycare. Dengan 12 anak, aunty hanya berempat. Saya anak satu, anak sendiri pula, kadang naik darah dengan kelakuannya, bagaimana dengan para aunty?

Hal yang sama juga terjadi pada hubungan orangtua dan guru. Dengan anak belajar di rumah, orangtua jadi tahu bagaimana keseharian anak sebenarnya ketika belajar dan mendapati tugas-tugas. Biasanya kan selama berjam-jam anak dilepas bersama guru. Beberapa guru senior bahkan bilang, “Lha, baru 3 hari sudah naik darah? Kami lho 3 tahun bersama mereka.”

Problematika serupa tentu juga dirasakan para pelaku Work from Home (WFH). Bekerja di rumah itu jelas auranya beda. Sudahlah auranya mager—namanya juga di rumah—eh ada anak juga yang harus ditongkrongi belajarnya, pekerjaan sendiri juga harus diselesaikan. WFH kalau dijodohkan sama School from Home (SFH) kayaknya jadinya adalah WTF.

Belum lagi paket data yang harus disediakan. Dalam kasus saya, paket data itu harus dikali dua karena harus standby YouTube BabyBus, Pinkfong, maupun Tayo untuk sang buah hati.

Tayo Gif GIF | Gfycat

Dilema juga dirasakan para guru dan dosen. Sebagian guru tetap disuruh masuk ketika muridnya libur dan mereka menggelar pembelajaran jarak jauh dari kantor. Para guru itu kemudian bikin soal pilihan ganda yang cukup viral perihal alasan guru tetap disuruh masuk ketika pandemi Covid-19 dengan pilihan antara lain: guru adalah virus Corona itu sendiri, guru adalah profesi yang kebal virus Corona, serta guru termasuk umbi-umbian.

Bagi para guru dan dosen yang bisa bekerja di rumah, perkaranya juga tidak mudah. Kalau dosen S2 okelah, rata-rata kan beasiswa atau orang-orang bekerja yang kuliah lagi. Sederhannya, punya duit. Beda kasus dengan dosen anak D3 dan S1 yang notabene sebagian mahasiswanya adalah anak kosan yang paket internetnya harian dan biasanya sepanjang waktu juga mengadalkan WiFi Kampus. Kalau harus pembelajaran dari rumah, repotnya setengah mati karena nggak semua mahasiswa cukup mampu untuk menyediakan paket data yang memadai untuk konsep kuliah tatap layar.

Kalau KPAI bilang banyak anak stres, percayalah bahwa kalau ada Komisi Perlindungan Orangtua Indonesia, maka ada banyak orangtua yang juga stres, ya karena faktor pekerjaan, faktor anak-anak juga. Jadi, ya sama saja.

Akan tetapi, kita pada akhirnya kembali pada fitrah. Bukankah seharusnya belajar anak itu adalah tanggung jawab orangtua? Dalam konteks saya yang anaknya masih batita, bukankah memang mengasuh anak sehari-hari juga adalah tugas orangtua?

Kala anak saya nongol di layar ketika kuliah sedang berlangsung, saya kemudian menyadari bahwa ya beginilah konsekuensi menjadi pekerja atau mahasiswa sekaligus menjadi orangtua. Jika selama ini saya lebih banyak menyerahkan tumbuh kembang anak ke aunty sementara saya santai garap tugas di kafe, kini sayalah yang sepanjang waktu bertanggung jawab pada perkembangan buah hati sendiri. Sulit? Pasti.

Tapi bukankah dalam kondisi sekarang, hanya ini yang bisa dilakukan?

Semoga sesudah semuanya ini berakhir, nggak ada lagi orangtua yang ngamuk-ngamuk ke guru kalau mendengar kabar anaknya didisiplinkan, karena sudah tahu benar bahwa dirinya sudah naik darah duluan dengan kelakuan anaknya ketika belajar.

5 Hal Krusial Jika Jadi Penampung Dalam Penggalangan Dana

Saya baru menyelesaikan sebuah penggalangan dana kecil-kecilan, hasil pembahasan dengan beberapa teman. Dalam penggalangan ini, rekening saya jadi penampungnya. Artinya, ini kali kedua saya mengurusi penggalangan dana. Yang pertama bahkan cukup masif. Ketika itu seorang teman terkena kanker dan atas inisiatif pribadi, saya dan beberapa teman melakukan penggalangan dana. Meskipun begitu membesuk sang teman, kami malah dimarahi.

Ya, sang teman bukanlah orang yang susah-susah amat. Tapi ya tetap saja namanya teman gitu lho.

Belajar dari pengalaman itu, maka melalui tulisan ini saya mencoba membagikan beberapa hal penting agar bisa menjadi penampung dalam penggalangan dana yang baik dan benar.

Itu Uang Orang

Dalam penggalangan dana yang pertama itu posisi saya masih CPNS dan belum gajian 3 bulan. Gaji swasta saya sudah mau tamat pula. Terus kebayang dong uang puluhan juta masih ke rekening dalam waktu sepekan. Pengen digesek saja rasanya.

Untuk itu, pertama-tama yang harus kita ingat bahwa uang itu adalah uang orang lain yang justru dipercayakan kepada kita. Saya selalu percaya bahwa integritas itu mahal nilainya. Ketika kita jadi penampung dan kitanya ambyar, ya sampai mati boleh jadi kita nggak akan dipercaya.

Akuntabel

Dalam dua penggalangan dana itu, teman yang sama-sama menggalang sama sekali tidak mengecek datanya. Jadi, semua dipercayakan kepada saya. Untuk itu, secara berkala lakukanlah update, tanpa diminta! Tapi, sebaiknya ngupdatenya adalah nama saja, lalu kemudian nominalnya boleh tapi cukup total atau urutan bisa cuma diacak lagi sehingga nggak ketahuan yang punya nama itu nyumbang berapa. Biarlah itu menjadi data di kita saja, plus tidak perlu juga disebar-sebarkan lagi.

Untuk bisa akuntabel, tentu pencatatan harus lengkap. Jadi secara berkala saya buat di Google Sheet sehingga saya bisa melakukan update dimanapun, plus kalau ada teman sepenggalangan butuh datanya segera bisa di-share.

Kalau Bisa Rekening Kosong

Kebetulan sekali, saya itu dari dulu hobi punya rekening banyak walaupun uangnya nggak banyak. Bisa dicek di LHKPN uang saya berapa. Haha. Tapi, saya punya rekening pernah sampai 13 biji. Sekarang sih–karena ada wajib lapor LHKPN saya baru ngerasa ribetnya punya rekening banyak–jadi hanya tinggal beberapa saja.

Nah, kalau bisa untuk penggalangan dana ini pakailah rekening yang kosong alias nggak campur dengan uang pribadi kita. Kalau dulu kan pas CPNS jadi BCA saya buat gaji di swasta sudah idle, rekening itu yang saya pakai. Demikian pula sekarang BCA itu juga buat nampung orderan postingan yang seret sekali di musim pandemi, jadi saya pakai lagi. Sementara rekening pribadi saya di Mandiri, yang untuk mengelola gaji dan tunjangan, tidak digunakan untuk penggalangan dana.

Ada Internet Banking

Karena updatenya akan sangat cepat, maka kita butuh internet banking. Masalahnya, ada sebagian rekening lawas yang kadang sengaja nggak dibuat internet bankingnya dengan berbagai alasan. Kalau ada rekening seperti itu, walaupun kosong ya jangan dipakai. Internet Banking itu diperlukan untuk bisa akuntabel.

Kubu BCA, Kubu Mandiri

Jadi kalau dulu nih mazhabnya dua. BCA sama Mandiri. Karena memang kedua bank itu tahun 2014 kayaknya belum terhubung. Dulu saya bahkan punya BRI demi bisa menghubungkan kedua bank ini. Jadi, kalau bisa sih penggalangan dana juga relevan dengan kedua kubu ini. Sebisa mungkin lebih dari 1 rekening. Itu sebenarnya akan lebih meningkatkan potensi orang nyumbang.

Sekali lagi, jadi penampung dan pengelola itu ujian integritas. Karena ketika ada yang menyumbang sejuta dan nggak dicek, kita lapor ke teman-teman bahwa sumbangannya 800 ribu, sementara 200 ribu buat beli pulsa, misalnya, bisa-bisa saja. Tapi tentu saja, ora ilok, kata orang Klaten.

Segitu dulu, yha. Bhay!

Beberapa Bentuk Kekristenan

Ini ceritanya saya sedang ikutan course di edX yang berjudul Christianity Through Its Scriptures. Salah satu materinya adalah tentang rupa-rupa bentuk kekristenan. Bagi yang takut kristenisasi bisa meninggalkan posting ini dalam 3..2..1…

Gereja Ortodoks

Keluarga gereja-gereja Timur, yang sekarang disebut Gereja Ortodoks Oriental dan Gereja Ortodoks Timur, kembali ke periode awal Kekristenan. Selama empat abad pertama, Kekristenan telah menyebar tidak hanya ke Kekaisaran Romawi dan Bizantium, tetapi juga ke Timur Tengah saat ini, Afrika Utara, dan India. Setelah Konsili Khalsedon pada tahun 451, kontroversi kristologis yang dipimpin oleh Nestorius dan Cyril memberi pengaruh pada perpecahan besar pertama di gereja. Sekelompok komunitas yang akhirnya dikenal sebagai Gereja Ortodoks Oriental menolak dekrit bahwa sifat Kristus dipersatukan sebagai satu, alih-alih mempromosikan gagasan bahwa sifat-sifat manusiawi dan ilahi Kristus tetap berbeda. Orang-orang Kristen di Mesir, Etiopia, Suriah, Armenia, India, Irak, dan Iran secara formal mengikuti orang-orang ini ke dalam perpecahan atau diam-diam jatuh dari radar Yunani-Romawi karena jarak yang jauh dan medan yang sulit. Lebih jauh lagi, pada abad-abad berikutnya, kerenggangan yang tumbuh antara orang-orang Kristen Roma dan Yunani pada akhirnya menyebabkan perpecahan besar kedua tahun 1054, dengan memuncak dalam suatu krisis ketika Paus Roma dan Patriark Konstantinopel saling berkomunikasi satu sama lain. Lembaga-lembaga yang dipimpin oleh masing-masing dikenal masing-masing sebagai Gereja Katolik (Romawi) dan Gereja Ortodoks (Timur).

Sumber: Comintour.com

Teologi dan liturgi khas gereja-gereja Ortodoks terus berkembang menjadi abad kedua puluh satu. Salah satu sikap teologis yang khas dari peristiwa Kristus menurut perspektif Ortodoks adalah penekanan pada inkarnasi Kristus sebagai sarana untuk meningkatkan sifat manusia kepada Yang Ilahi. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan Athanasius pada abad keempat, “Anak Allah menjadi manusia sehingga manusia bisa menjadi Allah.” Penekanan “menjadi ilahi” ini sangat kontras dengan penekanan besar pada keberdosaan manusia yang hadir dalam banyak teologi gereja-gereja Barat.

Sebagai bagian dari tradisi spiritual dan liturgis yang kaya, gereja-gereja Ortodoks juga mengembangkan penggunaan ikon bergambar Kristus, Perawan Maria, dan orang-orang kudus. Ikon-ikon ini dipahami sebagai jendela ke makna sakral dan kehadiran tokoh-tokoh ini, bukan sekadar representasi mereka. Konsili Nicea yang kedua pada tahun 787 menegaskan peran ikon dalam menghadapi kritik pedas dari orang-orang yang keberatan dengan citra visual dalam ibadat.

Selama abad ketujuh, agama Kristen menghadapi tantangan Islam, sebuah tradisi agama baru yang berkembang di Palestina, Suriah, dan Mesir, dan dari Anatolia ke Spanyol. Kuil besar Kubah Batu selesai dibangun di Yerusalem pada tahun 692. Delapan abad kemudian, Kekaisaran Bizantium, yang berpusat di Konstantinopel, jatuh ke tangan orang Turki Ottoman pada tahun 1453. Pusat-pusat besar Ortodoks, termasuk Konstantinopel, menjadi pusat pemerintahan Islam, dan gereja-gereja agungnya menjadi masjid. Selama ratusan tahun, perjumpaan dengan Islam sangat penting dan mendesak untuk gereja-gereja Ortodoks Timur dan Ortodoks Timur.

Saat ini, gereja-gereja Ortodoks Timur membentuk keluarga gereja terkait, termasuk gereja-gereja Yunani, Rusia, Bulgaria, Rumania, dan Suriah, masing-masing dengan sejarah yang kaya dan bentuk-bentuk liturgi yang khas. Gereja-gereja Ortodoks Oriental termasuk Gereja Apostolik Armenia, Gereja Koptik Mesir, Gereja Eritrea, Gereja St. Thomas di India, dan Gereja Antiokhia Syria di Jacobite.

Sumber: ABC Australia

Katolik Roma

Orang-orang Kristen awal berbicara tentang gerakan mereka sebagai “katolik”, sebuah kata yang berarti “universal.” Saat ini, gereja-gereja Kristen masih menegaskan “satu gereja suci, katolik, dan apostolik” tetapi istilah Katolik dengan huruf besar “K” juga berlaku dalam bahasa yang sama dengan Gereja-gereja di dalam Komuni Katolik, yang berpusat di Roma. Umat ​​Kristen sudah dapat ditemukan di Roma pada abad pertama. Gereja Roma mengklaimnya didirikan oleh para rasul Petrus dan Paulus pada abad pertama. Ketika itu berkembang, penekanannya pada otoritas pusat dan keutamaan uskup Roma, Paus.

Sumber: Catholic Virginian

Menjelang abad kesebelas, Gereja Katolik memutuskan hubungan dengan Gereja Bizantium di Timur karena masalah otoritas dan doktrin, meskipun beberapa upaya telah dilakukan untuk memulihkan persatuan dan untuk menyembuhkan luka-luka perpecahan di antara Gereja-Gereja. Pada awal abad ke-15, misalnya, banyak orang di Gereja Roma menganggap invasi Turki terhadap Kekaisaran Bizantium sebagai “karya” untuk mengikat kekristenan yang terpecah menjadi satu. Sebagai tanggapan, Konsili Florence membayangkan persatuan dalam skala muluk tidak hanya dengan gereja-gereja Bizantium Yunani tetapi juga dengan orang-orang Koptik, Etiopia, Armenia, dan Nestoria. Meskipun ada hampir 700 perwakilan Timur dan 360 perwakilan Latin dan debat yang terjadi kemudian, reuni tidak tercapai.

Sementara itu, gereja yang didominasi Romawi terus mengembangkan tradisi monastik yang kuat yang dimulai dengan Benediktus (480-550) yang menulis “Aturan St. Benediktus” di mana ia menggambarkan prinsip-prinsip doa, pekerjaan, dan studi yang penting untuk kehidupan biara. Bahkan di awal abad ke-21, dokumen ini terus menjadi dasar bagi kehidupan komunitas Benediktin di seluruh dunia. Banyak misionaris gereja adalah para biarawan. Pada awal Abad Pertengahan, biara-biara Benediktin menjadi pemilik tanah besar dan kekuatan kuat dalam ekonomi lokal. Melalui kekacauan Abad Pertengahan, setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, mereka memainkan peran penting dalam menjaga kehidupan spiritual, artistik, dan intelektual gereja.

Pada abad kedua belas, ordo-ordo lain berkembang yang menolak kehidupan biara yang tertutup dan terkadang kaya, dipisahkan dari masyarakat. Model komunitas Kristen yang lebih terlibat pada masyarakat lebih disukai. Fransiskus dari Assisi (1182-1226) dan ordo Fransiskan menekankan kemiskinan, kesederhanaan, dan pelayanan individual dan komunal. Poinnya tidak terpisah dari orang-orang, tetapi di antara mereka. Dominikus (1170-1221) dan ordo Dominikan menekankan pendidikan, khotbah, dan pengajaran. Para anggota ordo ini juga sering reformis, menyerukan pembaruan monastisisme dan gereja secara keseluruhan.

Pada abad ke-16, sebuah gerakan yang disebut Reformasi Protestan memicu “Kontra-Reformasi” Katolik. Konsili Trente (1545-1563) diikuti dengan reformasi praktik korupsi di dalam Gereja Katolik dan menegaskan kembali otoritas Gereja Katolik Roma yang terlihat, hierarkis, dan terstruktur. Periode pembaruan Katolik ini membangkitkan kembali semangat pendidikan dan misi dari gereja dengan pendirian Serikat Yesus, juga disebut Yesuit, yang didirikan oleh Ignatius Loyola (1491-1556).

JRS

Saat ini, Katolik berpusat di Vatikan di Roma, tetapi sinode-sinode, konsili para uskup, dan paroki-paroki setempat menjalankan kehidupan dan karya gereja di setiap benua. Sekitar setengah dari orang Kristen di dunia adalah Katolik. Konsili Vatikan II menganggap serius peran baru gereja di dunia modern. Di antara banyak keputusan Dewan adalah untuk meninggalkan massa yang didominasi Latin mendukung ibadah dalam bahasa dan dalam bentuk budaya masyarakat setempat. Fokus lain adalah pada keterbukaan baru terhadap tradisi agama lain sebagaimana diwakili dalam dokumen Nostra Aetate (In Our Time). Fokus ketiga adalah bagaimana gereja harus menekankan tidak hanya khotbah dan sakramen, tetapi misi yang kuat untuk orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

Kekristenan Ethiopia

Sumber: ancient-origins.net

Kekristenan datang ke Ethiopia pada abad-abad awal, dan indikasi dari sejarah yang luas ini dapat ditelusuri ke tulisan suci Kristen. Menurut tradisi Etiopia, Ratu Sheba yang mengunjungi Raja Salomo adalah orang Etiopia, yang dengannya ia memiliki seorang putra. Melalui dia, garis kekuasaan raja didirikan yang mengikat Etiopia dengan garis kerajaan Daud. Selain itu, tulisan suci memberi tahu seorang pejabat pengadilan dari Ethiopia mengunjungi Yerusalem dan dalam perjalanan pulang menemui rasul Filipus. Ia menerima pesan Filipus tentang Yesus, dibaptis, dan, menurut tradisi Ethiopia, menyebarkan iman ini ketika ia kembali ke rumah. Pada abad keempat, agama Kristen telah mapan, dan akhirnya, berbagai tulisan Kristen diterjemahkan ke dalam Ge’ez, bahasa klasik yang masih merupakan bahasa liturgi Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia. Orang-orang Kristen Ethiopia percaya bahwa kemanusiaan dan keilahian Yesus tercakup dalam satu sifat ilahi, dan posisi teologis ini tercermin dalam dimasukkannya gereja “tewahedo” dalam namanya, yang berarti “persatuan” di Ge’ez. Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia memberi keunggulan lebih besar pada tradisi-tradisi Yahudi awal daripada lembaga-lembaga Kristen di Barat. Gereja ini terus berkembang di Ethiopia bahkan ketika para penganutnya sekarang hidup di banyak bagian dunia.

Begitu dulu. Besok lagi, yha.

Tentang Pejabat Milenial

Tulisan ini tadinya dibuat sebelum kabinet Presiden Joko Widodo jilid II dibentuk dan begitu banyak wacana perihal menteri dari kalangan milenial. Sebagai orang yang mengklaim diri Bapak Millennial di judul blog, saya pikir bahwa boleh jadi saya bisa jadi pejabat milenial itu. Wkwkwk.

Pasca ditetapkannya Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih untuk periode 2019-2024, wacana selanjutnya kala itu adalah sebuah perkara tidak gampang tentang mengisi kabinet.

Komposisi menteri pada akhirnya menjadi perkara rumit sebab pertimbangannya lebih banyak daripada hendak berumah tangga. Ada pertimbangan dukungan politik, ada juga persoalan tentang kursi-kursi yang mau tidak mau harus diduduki oleh para profesional murni, seperti Menteri Keuangan dan Menteri Luar Negeri. Masih ada pula penyesuaian komposisi jumlah menteri wanita hingga upaya mengakomodasi perwakilan Sumatera, Sulawesi, hingga Papua.

Blackish Headache GIF - Blackish Headache Dre - Discover & Share GIFs

Seolah keribetan itu tidak cukup, muncul pula ide untuk mengangkat menteri dari kalangan milenial.

Berdasarkan buku (((Profil Generasi Milenial Indonesia))) yang diluncurkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2018 maka yang dimaksud dengan milenial itu kurang lebih berada pada rentang kelahiran tahun 1980 hingga 2000. Kala itu ada nama-nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono dan Diaz Faisal Malik Hendropriyono beredar. Padahal keduanya kelahiran tahun 1978. Sudah kepala empat. Keliru besar.

Menjadikan anak muda sebagai menteri sesungguhnya adalah hal yang cukup langka di Indonesia. Salah satu yang pernah terjadi adalah ketika Maria Ulfah diangkat sebagai Menteri Sosial Kabinet Sjahrir II dalam usia 34 tahun 6 bulan dan 11 hari. Selain itu, biasanya menteri hanya akan dijabat oleh orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas.

Mengenal Maria Ulfah, Advokat Bagi Kaum Perempuan yang Juga ...
Sumber: Good News From Indonesia

Dalam Kabinet Kerja dari periode pertama, beberapa menteri yang termasuk muda itu adalah Hanif Dhakiri, yang diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja pada usia 42 tahun. Ada juga Imam Nahrawi dan Puan Maharani, yang pada saat dilantik sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan sama-sama berusia 41 tahun.

Kasus Imam Nahrawi, KPK Panggil Kepala dan Staf Biro Keuangan ...
Sumber: Kompas.com

Publik Indonesia mulai tertarik dengan menteri yang agak muda pasca Mahathir Mohamad mengangkat Syed Saddiq Syed Abdul Rahman sebagai Menteri Belia dan Sukan Malaysia pada usia 25 tahun. Nyaris seperempat usia sang Perdana Menteri.

Sementara itu, rekor dunia sendiri dipegang oleh Shamma Al Mazrui menjadi Menteri Urusan Kepemudaan Negara di Uni Emirat Arab. Saat dilantik pada 2016, usianya baru 22 tahun dan baru setahun lulus S2 Magister Kebijakan Publik di University of Oxford. Ini adalah universitas tempat Staf Khusus Presiden, Billy Mambrasar berkuliah S2 yang kedua.

Jadi Menteri Termuda di Dunia, Shamma Al Mazrui Menginspirasi ...

Ya, ketika para pekerja newbie di Jakarta sedang galau bikin Instagram story bijak terus menerus karena keseringan dimarahi bos, maka dua orang itu malah mendapat gawean yang sangat prestisius: jadi menteri.

Menteri dari kalangan milenial dianggap menjadi salah satu solusi untuk kemajuan birokrasi di negeri yang proporsi terbesar penduduknya (33,75%) adalah kaum milenial. Presiden Jokowi sendiri menyebut bahwa saat ini dan ke depan, Indonesia perlu orang-orang dinamis, fleksibel, dan mampu mengikuti perubahan zaman yang sangat cepat. Hal itu, katanya, ada pada orang-orang muda.

Meski demikian, Presiden Jokowi juga memberi rambu-rambu bahwa mau muda sekalipun, orang-orang yang akan menjadi menteri tersebut harus mengerti manajerial serta mampu mengeksekusi program yang ada. Soalnya, banyak juga anak muda yang lebih sibuk dengan senja-kopi-senja-kopi-senja-kopi sampai kemudian maag.

The Best Coffee GIFs | National Coffee Association Blog

Tata pemerintahan hampir di seluruh dunia itu memang unik. Pemimpin yang terpilih secara politik akan menunjuk para menteri sebagai pembantunya. Menteri itu akan duduk di kursi nomor 1 sebuah kementerian. Sementara itu, pada saat yang sama, telah terbentuk struktur yang kompleks dengan terdiri dari para Pegawai Negeri Sipil pada berbagai level.

Di Indonesia, klasiknya, jabatan karir tertinggi untuk seorang PNS yang merintis dari bawah itu adalah pejabat Eselon I seperti Sekretaris Jenderal atau Direktur Jenderal. Saat ini, dengan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara, pintu untuk orang di luar birokrasi memegang jabatan-jabatan di struktural Kementerian/Lembaga sudah dimungkinkan, meski belum cukup banyak terjadi.

Kalaulah ada PNS yang betul-betul dari bawah itu bisa kita dapati dalam sosok Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, yang pasca lulus dari UGM langsung masuk ke PU. Di departemen dan kemudian kementerian PU tersebut, Pak Menteri ini bekerja, sekolah, bekerja lagi, promosi-promosi-promosi, hingga kemudian menjadi Inspektur Jenderal dan Direktur Jenderal. Berangkat dari jabatan terakhir, beliau diangkat menjadi menteri.

Lanjut Jadi Menteri, 7 Deretan Tingkah Kocak Basuki Buat Warganet ...

Sekali lagi, yang semacam itu ada, tapi jarang sekali. Sisanya, menteri itu adalah orang luar yang nemplok langsung di pucuk pimpinan sebuah kementerian mengepalai orang-orang yang sudah berpuluh-puluh tahun ada di tempat tersebut.

Menempatkan orang di pucuk pimpinan sebuah Kementerian adalah perkara yang tidak sepele karena selain harus bisa menerjemahkan kemauan Presiden, menteri juga harus bisa mengelola gerbongnya agar mau dibawa ke arah yang tepat. Jadilah, ada banyak paket yang harus dibawa sesuai syarat dari Presiden Jokowi. Leadership dan kemampuan manajerial saja tidak cukup karena harus didukung oleh dukungan politik, plus tentu saja kecerdasan.

Bukan apa-apa, sebagaimana yang sering disebut oleh Susi Pudjiastuti yang notabene berijazah SMP pada awal kepemimpinannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahwa di birokrasi level atas itu jumlah S2 dan S3-nya nggak sedikit. Bu Susi sendiri cenderung lebih mudah masuk ke dalam organisasi, antara lain karena umur yang kurang lebih sama dengan para pejabat di KKP. Selain tentu saja karena pengetahuannya tentang laut yang cukup mumpuni.

KKP sendiri, bersama dengan Kementerian Keuangan, dikenal sebagai sedikit kementerian yang dikenal sudah matang birokrasinya sehingga sering menjadi tujuan benchmark kementerian dan lembaga lainnya.

Dengan jenjang karir yang ada, usia para pejabat Eselon I dan Eselon II di seluruh kementerian dan lembaga kurang lebih adalah sama di sekitar 53 sampai 60 tahun. Artinya, jika tiba-tiba ada menteri dari kalangan milenial yang muncul, itu berarti kurang lebih sama dengan usia anak para pejabat itu.

Mom Dad GIF by The Boss Baby - Find & Share on GIPHY

Syed Saddiq, misalnya, dibantu oleh Doktor Waitchalla R. R. V. Suppiah sebagai Ketua Setiausaha, yang kira-kira setara Eselon I di Indonesia. Ibu ini punya gelar S2 dari George Washington University dan S3 dari University Putra Malaysia, serta bergabung dengan birokrasi di Malaysia saja tahun 1989. Pada tahun itu, Pak Menterinya yang sekarang bahkan belum lahir.

Syed Saddiq Menteri GIF - SyedSaddiq Syed Saddiq - Descubre ...

Di dalam KRL, saya sering mendengar curhat sesama PNS agak senior tentang kelakuan para PNS muda dari kalangan milenial. Persoalan attitude menjadi faktor utama yang sering dikeluhkan. Ah, jangankan mereka. Saya saja yang sama-sama milenial juga punya keluhan yang serupa tentang attitude sebagian PNS muda, sampai sering berpikir, “Waktu saya PNS baru, apakah saya seburuk ini attitude-nya?”

Apalagi birokrasi ini tidaklah seperti pabrik. Saat saya bekerja di pabrik, ada pembatasan struktur yang jelas antara operator dan staf. Para operator yang notabene lulusan sekolah menengah itu dari awal sudah tahu, bahwa kalau ingin melompat ke level staf ya harus meng-upgrade diri jadi sarjana. Sehingga, mereka sudah sangat paham melihat para supervisornya berganti-ganti dengan usia yang makin lama makin muda dari para operator tersebut.

Pada pekerjaan pertama saya sebagai fresh graduate, orang-orang yang jadi bawahan saya sudah bekerja lebih dari 10 tahun di pabrik tersebut. Akan tetapi, tidak ada resistensi dari mereka, bahkan kepada supervisor lulusan baru yang tidak tahu apa-apa sama sekali—seperti saya.

Saya juga kemudian bekerja di laboratorium riset yang isinya anak muda semua dari asisten peneliti hingga kepala penelitinya. Kala itu, ritme kerjanya memang kencang dan fleksibelnya minta ampun karena ekosistem kerjanya memang penuh kebebasan. Namanya juga riset.

Lab mad scientist GIF - Find on GIFER

Hasilnya juga nyata berupa jurnal hingga produk. Sistematika kerja itu kurang lebih setara dengan yang diterapkan di startup, hingga kemudian banyak orang-orang usia 30-an yang naik panggung jadi CEO.

Sayangnya, sistematika di birokrasi tidaklah semudah dan sefleksibel itu. Saya bersua banyak PNS baru yang dulunya sudah supervisor bahkan manajer di perusahaan swasta, namun begitu masuk birokrasi ya harus kembali ke nol lagi. Di kantor lama dihormati oleh para operator, di kantor baru harus rela antar surat, antar snack, hingga beli galon sekalipun.

Sekarang, mari bayangkan ada orang yang seumuran dengan anak-anak para Eselon I dan II alias juga seumuran dengan CPNS atau PNS level fungsional pertama yang tiba-tiba duduk langsung di kursi tertinggi sebuah institusi. Apakah hal itu akan cukup mudah diterima? Apakah sudah ada kajian keberterimaan elemen birokrasi untuk konteks ini?

Terlebih data BKN menyebut bahwa 67,1 persen PNS berada pada rentang usia 41 hingga 60 tahun, alias proporsi terbanyak. Belum lagi kalau mau mengungkit data yang sempat beredar pas sidang MK bahwa sebagian besar PNS justru tidak mendukung presiden terpilih ketika Pemilu.

Lagipula, di dunia ini baru saja ada contoh bahwa asal muda saja tidak menjadi solusi. Ada nama Sebastian Kurz yang sempat kondang. Tahun 2013, dalam usia 26 tahun, dia jadi Menteri Urusan Luar Negeri. Empat tahun kemudian, Kurz bahkan menjadi Kanselir Austria hingga kemudian sebuah skandal yang terkait dengan korupsi mengemuka dan membuat Kurz harus lengser bulan Mei 2019.

Best Sebastian Kurz GIFs | Gfycat

Pengganti pria 31 tahun itu siapa? Kepala Pengadilan Tinggi Austria, Brigitte Bierlein. Usianya? Bahkan lebih dari usia Kurz dikali dua.

Sebelumnya ada nama Aida Hadzialic, Menteri Menengah Sekolah Atas, Pendidikan Dewasa, dan Pelatihan di Swedia yang diangkat jadi menteri pada tahun 2014. Dua tahun pasca menjabat, Aida mundur karena diketahui menyetir dalam keadaan mabuk. Namanya juga anak muda.

Ide menteri dari kalangan milenial sejatinya adalah hal menarik dan menantang, sehingga butuh sosok personal yang betul-betul muda, matang, dan mumpuni untuk terjun ke dalam birokrasi dengan peran sebagai seorang pemimpin. Ketika justru ada resistensi, tujuan adanya milenial di posisi menteri bisa tidak tercapai.

Pada akhirnya hanya ada satu menteri dari milenial, namanya Nadiem Makarim. Paling muda tapi anggarannya paling besar. Di sisi lain, nama-nama muda justru muncul di Wakil Menteri, seperti di Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Serta tentu saja yang kemudian sama-sama kita ketahui keramaiannya: Staf Khusus Milenial~

Biodata Belva Devara, Staf Khusus Jokowi yang Mundur, Sukses di ...

Nasib Arena Permainan Anak Selepas Corona

Hampir tiap akhir pekan saya ke Giant atau Super Indo. Hanya itu hiburan saya ketika harus menjalankan aktivitas dari rumah sudah hampir 2 bulan. Sisanya, saya tentu saja menjaga anak di rumah, sementara mamaknya kerja di Rumah Sakit.

Setiap kali masuk ke dua toko itu, saya melihat arena bermain anak yang memang ada di tempat itu. Yha, ditutup. Di Giant dekat rumah bahkan jadi gudang tambahan. Begitu banyak mie instan ditumpuk di sela-sela mainan yang ada. Hal ini tentu berbeda sekali dengan 1-2 bulan sebelumnya.

Corona memang telah mengubah begitu banyak gaya hidup manusia. Dan salah satu yang tampaknya akan terdampak paling besar adalah arena permainan anak ini. Dulu saja, banyak orang tua enggan mengajak anaknya bermain di tempat seperti itu karena rawan ketularan pilek. Sekarang? Pilek itu bisa saja berarti kena Covid-19.

Padahal, tempat-tempat bermain seperti itu baik mahal maupun murah sebenarnya juga ada agenda bersih-bersih. Di Ace Hardware itu sehari bahkan beberapa kali. Hanya saja, dengan model begini, membawa anak bermain ke suatu tempat untuk lantas berinteraksi dengan banyak anak lain dalam keramaian tampaknya akan menjadi hal yang dihindari oleh sebagian orang tua.

Ketika yang secuil di supermarket saja drop, kebayang dong itu yang di Lotte Avenue, misalnya? Yang sekali masuk bisa ratusan ribu? Bagaimana nggak bangkrut itu? Belum lagi ada sebagian tempat yang saya tahu sendiri bahwa mereka baru kelar renovasi. Baru kelar mengeluarkan modal untuk mengharapkan adanya experience baru dari pengguna dan kemudian mereka dihantam Corona.

Bukan apa-apa juga, selain faktor takut adanya penularan, sekarang kebutuhan manusia mendadak kembali ke dasar: sandang, pangan, dan papan. Dengan pendapatan yang mulai terbatas akibat Corona, hiburan juga menjadi hal nomor kesekian. Dan tempat-tempat itu, yang biasanya juga didatangi sebulan sekali pasca gajian, bisa jadi semakin dihindari.

Tempat-tempat seperti KidCity yang notabene menggabungkan lokasi permainan dengan tempat belanja (Transmart) juga bisa jadi goyah. Belanja sekarang nggak bawa anak. Kalaupun bawa anak, kembali ke awal tulisan ini, tampaknya orang tua masih enggan membiarkan anaknya memegang benda-benda yang entahlah habis dipegang orang kena Corona atau nggak.

Yha, perubahannya sedrastis itu. Bahkan untuk tempat yang gratis seperti di McD, saya pribadi juga sama dengan orang tua lain. Sampai batas yang entah kapan mungkin masih akan menghindarinya. Sebuah pilihan hidup yang sesungguhnya tidak pernah diduga. Ketika orang inovasi bicara disrupsi bla-bla-bla, Corona menghantamnya jauh lebih kuat.

Ngeri.

Mengapa Harga Hand Sanitizer Kembali Oke?

Bulan Maret lalu, dalam kegalauan, saya pernah beli hand satanizer, eh, sanitizer yang Dettol biasa digantung-gantung di tas itu sampai 65 ribu sebiji. Asem sekali. Saya juga beli Antis spray dengan harga 33 ribu sebiji. Kalau yang spray ini untuk cuci-cuci handphone.

Ya, saya beli di toko online. Soalnya, di lapak-lapak sekitar memang sudah tidak ada. Mau bagaimana lagi?

Saya sendiri menggunakan hand sanitizer itu untuk kalau ambil paket ke satpam–soalnya kompleks perumahannya lagi lockdown mandiri. Selain itu, paling buat istri. Akan tetapi, karena istri di Rumah Sakit, sebenarnya dia sudah dapat jatah sendiri dari kantornya.

Terus ya saya mikir-mikir lagi, buat apaan juga saya beli~

Pada akhirnya saya berhenti di Dettol 65 ribu itu. Kalau terus-terusan, saya bakal memperkaya spekulan. Kepada para pedagang dengan harga tinggi itu tidak pernah saya berikan komentar. Lagian, repeat order juga tidak bisa karena mereka kan stoknya juga secuplik doang. Beberapa bahkan tokonya sudah amblas sekarang. Mungkin kena banned dari marketplace-nya.

Saya berhenti karena berhasil mendapatkan Nuvo dengan harga normal, 3.700, ketika belanja di Hero. Dengan pembatasan tentu saja. Di lapak online, Nuvo itu dihargainya sampai 15 ribu padahal. Dengan 2 botol kecil hand sanitizer Nuvo itu kemudian saya lebih menikmati kehidupan sembari melihat perkembangan pasar.

Sesungguhnya saya termasuk yang tidak sepakat dengan mekanisme pasar. Saya inginnya pemerintah turun tangan melakukan pembatasan, terutama untuk masker. Sisi negatifnya, mekanisme pasar telah membuat banyak orang menjual hand sanitizer palsu yang asal campur dan labelnya dicetak sembarangan. Ada kan itu thread-nya sempat viral.

Di sisi lain, karena sebenarnya biaya pokok hand sanitizer ini terbilang murah sekali, pasti banyak orang yang minat. Terutama ketika cukai alkohol juga ada keringanannya dari pemerintah. Dan boleh dibilang, hal itulah yang menyebabkan hand sanitizer hari ini kembali baik-baik saja.

Sebagai gambaran, sampai dengan Desember 2019, hanya ada 359 jenis antiseptika/hand sanitizer bernomor izin edar PKD yang beredar di Indonesia. Itu tidak hanya hand sanitizer, yha. Termasuk tisu MamyPoko juga ada. Pokoknya semua antiseptik.

Dan kalian tahu berapa jumlah nomor izin edar baru untuk antiseptika/hand sanitizer yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan HANYA PADA BULAN MARET 2020? 202 produk dan pada umumnya adalah hand sanitizer baik berupa gel maupun spray~

Kenapa saya tahu? Karena saya melakukan riset untuk Ujian Tengah Semester. Dan mumpung kuliah, saya memang hendak eksplorasi sana-sini demi kebaikan bersama.

Masker sendiri tidak terlalu saya dalami, tapi konteksnya agak berbeda. Masker medis tadinya dilarang WHO sampai dibilang (((masker untuk yang sakit))) itu niatnya agar masker medis untuk tenaga medis. Sayangnya, manusia tidak bisa dikontrol dengan cara itu. Makanya masker kemudian kenaikan harganya paling aduhai, selain pembuatannya tidak semudah hand sanitizer.

Masker baru mulai normal ketika masker kain mulai digalakkan, ditunjang riset yang lumayan. Baru deh mulai baik-baik saja. Meski sebenarnya belum terlalu balik ke harga normal.

Jadi, ya, kira-kira demikian~

Lumayan #1 dari #31HariMenulis kelar. Heuheu.

Daftar Lomba Blog Desember 2019

Lomba blog masih ada dan masih banyak. Setelah kemarin-kemarin kalah, tentu tidak ada salahnya mencoba lagi pada ajang-ajang lainnya. Yuk!

Lomba Blog Cheria Holiday #9

Tema: Nge-Blog tentang Australia
Deadline: 2 Desember 2019

Hadiah:
Wisata Halal Singapore-Melaka-Singapore dengan kapal pesiar (termasuk tiket pesawat) dan uang saku untuk 3 finalis terbaik.
10 HP Xiaomi Redmi Note 6 Pro untuk 10 kontestan favorit.

Info Lengkap

Kompetisi Blog #BahagiaBersamaAirAsia

Screenshot_2022

Tema: Cerita pengalaman bahagia bersama AirAsia
Deadline: 16 Desember 2019

Hadiah:
Juara 1: 10 Juta Rupiah
Juara 2: 8 Juta Rupiah
Juara 3: 5 Juta Rupiah
Juara 4: 4 Juta Rupiah
Juara 5: 3 Juta Rupiah
20 Pengirim Pertama @ 300 Ribu Rupiah
Most Engaging Blog:
Peringkat 1: 5 Juta Rupiah
Peringkat 2: 3 Juta Rupiah
Peringkat 3: 1 Juta Rupiah

Info Lengkap

Rumah Web Blog Competition Periode 2

Tema: Bagaimana memanfaatkan domain untuk bisnis Anda?
Deadline 20 Desember 2019

Hadiah:
Juara 1: 3 Juta Rupiah
Juara 2: 2 Juta Rupiah
Juara 3: 1 Juta Rupiah
3 Orang Juara Favorit: 500 Ribu Rupiah

Info Lengkap