Category Archives: Cerita Yang Pendek

Sedikit mencoba menulis fiksi..

Pilihan Hati

“Lu putus bro?”

Panji hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata menerawang ke langit ke tujuh.

“Ngapain lu pake acara putus segala?”

Berondongan pertanyaan masih nggak berhenti keluar dari mulut Bara yang semakin tajam melotot ke muka Panji. Padahal Panji-nya matanya ke langit. Ini semacam pandangan tak berguna.

“Udah nggak cocok bro!”

“Jiah, gue sebagai yang merekomendasikan lu sama Cindy, merasa terhina nih. Dari nama aja udah cocok tuh. Pan dan Ji, Cin dan Dy. Mukanya dia juga bukannya pasaran, cakep abis.”

“Gue yang putus kenapa lu yang rempong, Bar?”

“Lha, abisnya, gue kan ikut andil, tanggung jawab nih.”

“Udahlah, bro. Udah putus, selesai, titik.”

“Nggak ngerti gue,” ujar Bara sambil berdiri dan meninggalkan Panji sendirian dengan tatapan mata yang masih ke langit, entah mencari apa ia disana.

Panji terdiam, tangan kanannya memegang tepat di depan heparnya.

Sementara Bara, masih bergumam sepanjang jalan, “Kurang capek apa coba, kurang baik apa pula, bodoh banget tu bocah.”

* * *

“Dapat salam tuh, dari Chika,” ujar Bara sambil melihat telepon genggamnya, “Salam balik nggak?”

“Nggak usah,” jawab Panji, singkat-dalam-tenang.

“Songong banget jadi laki boz!”

“Biarinlah.”

Dan Bara hanya garuk-garuk kepala, tak habis pikir.

* * *

“Ini pada ngomong apa sih? Gue yang jomblo aja biasa wae,” kata Panji sambil menyeruak dari balik kerumunan lelaki-lelaki yang bersuat-suit pada rombongan gadis-gadis manis yang baru lewat.

“Ya iyalah, lu jomblo songong,” timpal Bara.

“Apa coba?”

“Nah, yang mau banyak, nggak mau. Punya pacar oke, diputusin. Labil ah.”

“Ah, itu perasaan Om Bara saja.”

“Huuuu….”

Panji, Bara, dan yang lainnya menikmati saat-saat pemandangan bagus ciptaan Tuhan itu lewat. Semuanya tampak biasa saja sampai kemudian lewatlah Atha.

Panji tetap berupaya mengimbangi teman-teman lainnya, tapiiii… tatapan matanya tidak bisa menipu kalau ia lebih dari sekadar mengamati seorang gadis yang sedang lewat. Tatapan ini punya kandungan nilai yang jauh lebih dalam.

“Cieeee, yang mantannya lewat,” teriak Bara sambil menyenggol Panji.

Yang disenggol hanya terdiam.

* * *

“Daripada perkara hati kita berkelanjutan, lebih baik kita sudahi saja ya Mas.”

Kalimat miris itu terucap dari bibir manis Atha, diselingi suara hujan, dan hawa panas kopi yang baru saja mampir di meja.

“Bener juga sih, Tha.”

“Ya, gimana Mas. Aku sayang sama kamu, banget. Tapi faktanya kan kita nggak bisa bersatu. Daripada kita memupuk cinta ini sampai besar, nanti akhirnya dipotong juga. Berbahaya jika diteruskan.”

Panji terdiam selagi aroma kopi menembus hidungnya, menuju alveoli di paru-parunya dan memberikan makna lain terhadap pehamaman sebuah perkataan.

“Semoga demikian, Tha. Semoga perkara hati ini bisa kita atasi. Kadang dia nggak bisa dibohongi soalnya,” ujar Panji sambil tersenyum.

“Yah, semoga ya Mas.”

Keduanya tersenyum, perbedaan ini memang tidak bisa disatukan. Kadang jadi lucu ketika perbedaan yang adalah ciptaan Tuhan justru menjadi hal yang tidak bisa mempersatukan sesama ciptaan Tuhan. Apa yang telah direncanakan Tuhan untuk dipersatukan, nyatanya bisa dipisahkan oleh perbedaan yang mendasar.

* * *

“Kalau mau jujur, aku nggak bisa melupakanmu, Tha.”

Panji menarikan jemarinya di atas keyboard, menuliskan sebuah pesan pribadi di Direct Message Twitter

Jari-jarinya menari lagi di kolom Tweet, baris-baris kata kembali terbentuk, “Ada banyak hal yang mudah, tapi hati memilih yang sulit.”

Tweet!

Dan kalimat ini muncul di timeline.

Sebuah notifikasi masuk ke Twitter Panji, dan sebuah balasan DM.

“Aku juga, Mas. Mungkin hati kita memang sudah memilih yang sulit.”

Panji tersenyum membaca balasan itu. Sederhana, punya makna dalam di hati, tapi nyatanya tak akan memiliki makna di realita. Kadang hati memang seperti itu. Dan kebetulan, kini Panji yang mengalami perkara bernama “pilihan hati”.

* * *

Kisah Kedua

Aku sedang asyik dengan ponselku ketika kudengar bunyi pintu dibuka. Kulihat seorang gadis masuk dan berdiri dua meter dari pintu. Aku bergegas menutup semua aplikasi yang kubuka dengan ponsel Android-ku dan kemudian bergegas memegang kertas order.

Gadis itu menuju sebuah meja di pinggir jendela. Aku melihat itu dari kejauhan dan bergegas menyusulnya. Bagaimanapun pelayanan kepada pelanggan itu sangat penting. Bagiku, kalau perlu pelanggan tidak perlu memanggil pelayan jika hendak melakukan pemesanan, biarlah pelayan yang mengerti maunya pelanggan.

“Selamat sore, Mbak,” sapaku ramah pada seorang gadis yang baru saja duduk. Aku segera menghampiri tempat dengan nomor 7 itu untuk menyambut pelanggan yang datang sendirian ini.

“Sore,” balasnya tak kalah ramah.

“Mau pesan apa?”

“Caffee Latte. Satu.”

Dengan sigap aku menuliskan pesanannya di kertas order yang kupegang. Sesudah selesai menulis ‘Caffe Latte’ aku bertanya kembali, “Ada lagi?”

“Itu dulu.”

“Baik, ditunggu ya Mbak.”

Aku segera berlalu dari meja nomor 7 itu dengan memegang sehelai kertas order. Aku melangkah pasti ke dapur untuk meletakkan kertas order. Sementara itu, aku kembali berdiri tegak di pos jagaku.

Aku seorang pemilik Café yang memposisikan diriku sebagai pelayan di tempat yang sudah dua tahun aku kelola ini. Tidak semua orang tahu kalau aku adalah pemilik, karena kalau briefing aku selalu memposisikan diri sebagai supervisor yang seolah-olah punya atasan lagi. Aku memang terbiasa melakoni itu sejak masih bekerja sebagai supervisor di perusahaan farmasi. Lima tahun melakoni aktivitas yang sama membuat pola itu terpatri dalam benakku sebelum kemudian aku keluar dan mendirikan Café ini.

Café yang aku kelola ini kunamai Cafi Café. Syukurlah, tempat ini cukup laris. Setidaknya aku selalu terkapar kelelahan setiap malam setelah Café tutup. Itu berarti aku memang banyak bergerak untuk melayani pembeli.

“Kringggg.”

Petugas di dapur membunyikan lonceng yang terpasang di tempat serah terima pesanan. Aku menoleh sedikit dan melihat sebuah gelas putih dengan asap yang mengepul tipis ada di tempat itu. Itu tanda pesanan sudah tersedia. Aku segera berjalan ke tempat pesanan diletakkan dan mengambil nampan serta kelengkapan lain untuk melayani pelanggan di meja nomor 7.

Sembari menyiapkan nampan dan kelengkapan lainnya aku melihat ke pelanggan di meja nomor 7. Sekilas kulihat ia adalah sesosok gadis muda yang lumayan cantik. Rambutnya lurus tergerai sampai ke pundaknya. Sebuah bando warna biru menempel dengan cocok di kepalanya. Kulitnya putih bersih membalut tubuhnya yang agak kurus. Dari tadi ia sendirian di meja nomor 7.

Perihal pengunjung yang sendirian, buatku bukan hal yang aneh. Itu pula sebabnya aku menyediakan lebih banyak meja yang hanya memiliki dua kursi daripada empat atau enam kursi. Aku mencoba memahami pelanggan. Sekarang begini, kalau kita naik bus formasi 2-2 pun, pasti kecenderungannya kita akan mencari tempat yang kosong terlebih dahulu agar bisa sendirian, meskipun itu letaknya jauh di belakang. Aku mencoba mengerti itu dan nyatanya memang tidak sedikit pengunjung yang datang ke Café ini hanya untuk duduk sendirian, minum kopi, merokok, asyik dengan laptopnya, dan kemudian membayar lalu pulang. Aku tidak dalam kapasitas hendak mencari tahu segala kegiatan pengunjung. Aku hanya mengamati segala sesuatu yang terjadi di Café ini.

Kuletakkan gelas putih dengan asap tipis penanda pesanan ini masih panas ke atas nampan. Kusiapkan sedotan kecil, sendok, dan dua bungkus kecil gula. Tidak lupa kuletakkan tisu berwarna putih dan bertuliskan Cafi Café di atas nampan. Pesanan ini sudah siap untuk diantarkan.

Aku melangkah perlahan di sela-sela meja-meja lainnya yang ada di Café ini dan segera sampai di meja nomor 7.

“Selamat sore, Mbak. Caffee Latte?” tanyaku ramah. Meskipun ini terkesan retorika karena aku juga yang menuliskan pesanan itu di kertas order, bagiku proses konfirmasi keinginan pelanggan adalah hal yang tidak kalah penting.

“Iya, betul.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan mulai menyajikan segelas Caffee Latte di depan gadis itu. Sekilas kulihat sebuah bungkusan kecil terletak di kursi yang tidak ia duduki. Kulihat juga dua buah ponsel tergeletak di meja tempat aku menyajikan pesanan. Salah satu ponsel tampak masih menyala karena baru saja diletakkan oleh gadis itu ketika aku datang. Aku melihat home screen ala anak muda. Sebuah foto pasangan ada disana.

Masih dengan sekilas pandang aku menerjemahkan bahwa gadis itulah yang ada di home screen ponsel itu. Parasnya jelas mirip meski objek yang ada di home screen tidak mengenakan bando biru. Aku bisa melihat kesamaannya dari mata, hidung, dan bibir.

Foto home screen itu juga memuat sesosok lelaki yang menurutku tidak tampan. Kulitnya hitam, berbeda bermakna apabila kubandingkan dengan gadis manis di sebelahnya. Tangan si lelaki memeluk bahu si gadis. Latar belakang foto itu perlahan kukenali sebagai Sungai Musi karena aku melihat dengan jelas tulisan Ampera di antara dua kepala yang ada di foto itu.

Aku tidak asing dengan pemandangan itu karena aku pernah dua tahun bermukim di daerah yang terkenal dengan hidangan pempek itu. Berfoto dengan latar belakang Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah keasyikan tersendiri. Aku sendiri hendak bertanya latar belakang ke-Palembang-an gadis ini, tapi tentu tidak layak karena itu berarti aku sudah melihat home screen dari ponsel pengunjung. Aku menganggap ini sebenarnya tindakan kurang ajar. Jadi daripada aku harus bermasalah dengan pelangganku sendiri, biarlah aku melakukan penyimpulan atas sesuatu yang sejatinya tidak penting-penting amat ini.

Demikian yang tertangkap oleh mataku sebelum kemudian layar ponsel itu padam dengan sendirinya dan memasuki fungsi lock. Aku mengecek kembali layanan yang telah kuberikan kepada pelanggan di meja nomor 7 ini. Sepertinya tidak ada yang tertinggal.

“Sudah, Mbak. Ada lagi yang bisa dibantu?”

“Belum, Mas. Terima kasih.”

“Mari, Mbak. Selamat menikmati.”

Gadis itu tersenyum. Manis juga senyumnya. Setelah ia tersenyum padaku, belum pula aku berlalu, tangannya sudah kembali meraih ponsel yang sempat aku intip home screen-nya itu. Aku mencoba berdiri diam sebentar sambil mundur dua langkah menjauh dan melihat senyum yang lebih manis merekah dari bibir gadis itu sembari asyik dengan ponselnya.

Aku geleng-geleng kepala saja melihat ekspresinya. Sungguh riang dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Senyum tidak lupa menyertai gelengan kepalaku menyikapi kejadian sederhana yang baru saja aku lihat.

Badanku kembali berdiri di tempat aku seharusnya menunggu. Aku melihat pelanggan keluar dan masuk dari pintu koboi yang kupasang di Café yang aku kelola ini. Tempat ini memang mampu membuatku melihat banyak hal. Aku sering menemukan pasangan yang tentu saja berlainan jenis kelamin datang dan kemudian duduk berhadap-hadapan. Kadangkala keduanya bisa diam selama berjam-jam sampai beberapa kali melakukan pemesanan ulang minuman. Ada pula yang sampai berteriak lepas karena tampaknya terlalu gembira. Kutaksir itu sebuah proses penembakan atau bahkan lamaran. Sesekali juga kulihat tangis dari beberapa pelanggan sesudah obrolan panjang berjam-jam yang menghabiskan beberapa gelas kopi. Sungguh, berbagai macam suasana.

Suasana itulah yang menghidupiku di Café ini. Perlahan aku sadar kalau Café ini menjadi penanda penting bagi beberapa orang. Ya, ada beberapa pengunjung belia yang bilang kalau mereka baru saja jadian di Café ini. Aku juga sering mendengar kata “putus” ketika berjalan melewati sepasang kekasih yang sedang tegang. Ekspresi sejatinya memang tidak bisa menipu.

Aku juga pernah melihat proses lamaran informal di depan mataku sendiri. Waktu itu Café sudah hendak tutup sebelum kemudian seorang lelaki berlutut di depan pasangannya yang sedang berdiri kaku di dekat pintu Café. Ah, ada-ada saja dunia ini.

Itulah hal-hal manusiawi yang membuatku tetap menjadi manusia. Melihat hal-hal yang manusiawi sungguh mampu mempertahankan jadi diri kemanusiaaan kita. Aku sadari benar hal itu dan aku mencoba mempertahankannya dengan melihat kejadian-kejadian di Café ini. Hal-hal yang mungkin buat orang lain tidak penting, tapi menjadi sangat penting bagi yang melakoninya. Bukankah hidup memang seperti itu adanya?

Tampaknya Café sedang agak sepi, sehingga aku bisa berdiri agak lebih lama disini. Pandangku ternyata belum puas menyikapi objek di meja 7. Aku melempar pandangan ke sekeliling dan kenyataannya memang tidak ada objek lain yang bisa diperhatikan kecuali gadis yang memesan segelas Caffee Latte tadi. Tentu saja, aku memandangi lingkungan Café ini setiap hari selama lebih dari 8 jam. Setiap sudut dari Café ini sudah kuhafal. Jadilah aku butuh pemandangan baru untuk menyegarkan pandangku.

Ia cantik, aku sangat mengakui itu, setelah melihat wajahnya pada jarak yang lebih dekat dan sekaligus melihat fotonya. Hawa ceria jelas tampak begitu aku mendekatinya. Entahlah, tapi yang pasti pipinya menjadi merah merona, pandangannya menjadi terang benderang, sedangkan bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah ekspresi yang bernama senyum. Satu hal yang menjadi pertanyaan bagiku adalah ‘mengapa ia sendirian?’.

Gadis itu kini masih tersenyum, tapi dengan posisi yang berbeda. Ponsel yang dari tadi melekat di tangannya kini ada di atas meja. Tangan kirinya ada di atas meja sedangkan tangan kanannya menopang dagunya. Kepalanya beredar ke kiri dan ke kanan ditopang oleh tangan kanannya. Senyum masih tidak lepas dari bibir itu. Matanya seperti sedang mengamati satu demi satu objek di Café ini.

Kepalanya bergerak kecil tanpa tergelak begitu mengamati karikatur yang ada di atas pintu masuk. Itu karyaku sendiri yang kukerjakan selama semalam suntuk. Oh iya, semua pajangan yang melekat di dinding Café ini adalah karyaku sendiri. Aku betul-betul ingin Café ini penuh dengan sentuhan yang asli dari pemiliknya.

Kepalanya kiri semakin ke kiri. Lagi-lagi gadis itu tergelak melihat patung badut berdasi yang kuletakkan di sudut Café. Patung itu kubuat dengan posisi memegang sebuah papan. Disitulah aku biasa menulis promo-promo yang aku buat di Café ini.

Sudut kepalanya tampak sudah mentok ke kiri. Kini kepala itu beralih ke sebelah kanan. Gadis itu duduk di tepi jendela sehingga begitu ia melempar pandang ke kanan, maka yang terlihat adalah halaman Café. Satu hal yang kulihat tidak lepas dari kepala itu adalah senyum yang mengembang di bibirnya.

Tiba-tiba pintu masuk Café bergerak, seorang lelaki dan seorang perempuan masuk. Aku segera bersiap untuk melayani pesanan. Dua orang pengunjung itu masuk sambil bergandengan tangan. Ketika dua meter dari pintu, pengunjung perempuan berhenti dan memandang mesra pada pengunjung yang kutaksir adalah pasangannya itu.

Benar saja, begitu pengunjung yang laki-laki mendekat, pengunjung perempuan segera menggelayutkan tangannya ke leher pengunjung laki-laki sambil bertanya, “duduk mana, honey?”

Tidak bisa diragukan lagi, kalaulah bukan sepasang suami istri, keduanya adalah sepasang kekasih. Sapaannya sudah memperlihatkan kemesraan yang terjadi.

“Di situ aja, honey?” ujar pengunjung yang laki-laki sambil menunjuk meja nomor 6. Persis di sebelah gadis yang memesan Caffee Latte tadi.

“Boleh,” jawab pengunjung perempuan sambil menggandeng pasangannya menuju meja yang ditunjuk.

Pengunjung laki-laki itu segera menuju meja nomor 6 dan menarik kursi sambil mempersilahkan pasangannya duduk. Wah, romantis sekali, pikirku.

Thanks, honey,” kata pengunjung perempuan dengan suara yang terdengar manis.

Pengunjung laki-laki itu tidak menjawab, hanya langsung memegang dagu pengunjung perempuan itu selama sedetik. Ia kemudian menarik kursinya sendiri dan lantas duduk. Aku bergegas mendekati pasangan itu.

Sembari berjalan menuju meja nomor 6, aku melihat ke gadis di meja nomor 7. Paras ayunya menyiratkan sesuatu melihat pasangan yang sedang duduk di meja nomor 6. Senyum masih ada disana, tapi aku melihat hal yang lain. Semacam perasaan iri atau sejenisnya. Aku sedang berupaya mendefinisikan itu.

Aku pun sampai di meja nomor 6 dan segera melayani pelanggan yang tampaknya sedang dimabuk asmara itu.

“Selamat sore,” sapaku dengan ramah, “Mau pesan apa?”

“Kamu pesan apa, honey?” tanya pengunjung perempuan.

“Aku coklat panas aja. Kamu apa?”

“Apa ya? Aku bingung.”

Aku diam. Hal ini sangat biasa dalam pelayanan terhadap pengunjung perempuan. Seringkali mereka sulit memutuskan minuman yang hendak dipesan. Aku pun melirik sekilas ke gadis di meja nomor 7. Kulihat lirikan kecil di matanya. Ia melirik pengunjung di meja nomor 6. Bibirnya komat kamit menyebutkan sesuatu.

Mataku mencoba fokus pada gerak bibir manis itu. Kucerna sedikit demi sedikit. Ah! Akhirnya aku bisa menyimpulkan sesuatu. Dalam penafsiranku, komat kamitnya berbunyi, “mau pesan aja repot.”

Senyum simpulku keluar ketika berhasil mencerna ucapan gadis di meja nomor 7. Sungguhpun sejak keduanya masih di pintu, aku sudah merasa bahwa gadis di meja nomor 7 ini berpikir kurang baik. Bisa jadi kemesraan berlebihan ini menimbulkan iri hati, atau perasaan lain yang sejenis. Dan kini aku menemukan kalimat ketus yang sedikit banyak nyambung dengan konteks yang aku pikirkan.

“Apa?” tanya pengunjung laki-laki itu kepada pasangannya.

“Apa ya?”

“Sama aja ya?” tawar pengunjung laki-laki itu. Aku merasa ia sudah tidak nyaman membuatku berdiri diam selama lima menit sejak ia menyebut pesanannya.

“Iya deh,” ujar pengunjung perempuan dengan mata masih melihat ke menu. Aku—sedikit banyak—tahu perihal ini dan langsung melirik ke pengunjung laki-laki. Kudengar ia bergumam, “dari tadi kenapa?”

Aku kembali tersenyum dengan kejadian yang aku lihat. Yah, hal-hal semacam ini memang mampu menyunggingkan senyum. Untunglah pengunjung Café belum terlalu ramai sehingga aku masih bisa mengamati fenomena yang terjadi.

“Coklat panas dua ya Mas,” ujar pengunjung laki-laki.

“Ada lagi?”

“Itu dulu deh.”

“Baik, ditunggu ya Mas.”

Aku berlalu dengan membawa kertas order bertuliskan dua Hot Chocolate. Pesanan yang simpel tapi mampu membuat senyumku tersungging beberapa kali. Kertas order itu kuletakkan di meja serah terima. Aku—seperti biasa—kembali tegak di tempat semula dan kembali memandangi gadis cantik di pinggir jendela yang duduk manis di meja nomor 7 itu.

Kulihat ponselnya kini kembali ke tangannya. Jemarinya dengan lincah menekan keypad di ponselnya tersebut dan lantas memindahkannya segera ke telinganya. Oh, ia sedang melakukan panggilan telepon.

Satu kali, kulihat ponsel itu kembali ke tangan. Dua kali, jemari itu kembali menekan keypad yang ada di ponsel dan ponsel itu kembali berada di dekat telinga. Tidak lama, gadis itu kembali meletakkan ponselnya.

“Paling nggak diangkat,” gumamku. Lama-lama aku menjadi pengamat beneran dalam kondisi yang seperti ini.

Tampaknya gadis itu tidak lelah berjuang dan berusaha. Diambilnya ponsel yang satu lagi, dilakukannya hal yang sama, dan ponsel itu kembali berada di dekat telinganya, kali ini di dekat telinga kiri. Tidak lama kulihat secercah senyum muncul.

“Nyambung kalau begini,” bisikku ringan.

“Dimana lu?” Suaranya ternyata cukup besar untuk bisa kudengar di tempatku berdiri. Kulirik sedikit ke meja nomor 6, kali ini pengunjung perempuan yang merasa terganggu dengan suara panggilan telepon yang cukup besar itu.

“Oh, gitu. Iya nih, gue udah bawa hadiahnya kok. Sesuai yang lu bilang waktu itu.”

Aku masih mencoba mendengarkan dengan saksama. Badanku bersandar ke meja yang ada di depanku guna menunjang badanku yang agak condong ke depan.

“Kringggg.”

Bel di meja serah terima berbunyi. Dua gelas coklat panas sudah tersedia disana. Aku bergegas menyiapkan nampan dan berbagai kelengkapan lainnya. Di sela-sela itu aku masih mencoba mendengarkan percakapan gadis di meja nomor 7.

“Ya iyalah. Tiga tahun. Itu kalau umur anak udah masuk TK kali,” kata gadis di meja nomor 7 itu sambil lantas tergelak besar sekali. Aku yakin pengunjung di meja nomor 6 sudah semakin terganggu dengan percakapan telepon ini.

Apapun, itu hak setiap pelanggan.

Kubawa dua gelas coklat panas dengan nampan, berikut kelengkapan lainnya. Sedotan, tisu, sendok, hingga gula sudah ada di atas nampan itu.

“Nggak tahu tuh. Katanya sih sudah berangkat tapi ini gue BBM belum dibaca,” cerocos gadis di pinggir jendela dengan volume suara yang masih besar.

“Coklat panas?” tanyaku begitu sampai di meja nomor 6.

“Iya.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan segera kupindahkan dua gelas berisi coklat panas ke depan masing-masing pengunjung Café itu. Tidak lupa sedotan, sendok, tisu, dan gula segera menyertai. Kulihat sekilas, dan aku merasa seluruhnya sudah terlayani, lalu aku bertanya, “Ada yang lagi bisa dibantu?”

“Sudah, Mas.”

“Baik, selamat menikmati,” tutupku sambil meninggalkan pasangan yang sedang asyik berbincang sendiri, namun volume suaranya kalah dengan meja sebelahnya itu.

Aku berjalan perlahan memutari meja nomor 6 dan menuju meja nomor 9 karena pelanggan yang sebelumnya ada disana sudah pulang. Aku perlu memberesi meja itu. Letak meja ini masih cukup dekat dengan percakapan telepon yang terang benderang terdengar dari meja nomor 7.

“Iya. Doakan saja. Siapa tahu aja gue langsung dapat cincin. Jadi gue bisa nyusul lu deh.”

Aku masih asyik dengan aktivitas mengelap meja nomor 9 dan mulai mencerna makna dari beberapa hal yang kulihat dan kudengar dari tadi. Senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, sebuah home screen ponsel, dan beberapa konteks percakapan membuatku kembali berusaha meyimpulkan sesuatu.

“Iya deh. Iya. Tenang aja. Eh, baby lu apa kabar? Nggak mau nambah?”

Percakapan telepon masih berlanjut, kali ini soal bayi. Ah, makin bingung aku. Lebih baik aku memang tidak menyimpulkan apapun dari percakapan ini. Daripada aku berpikir terlalu keras untuk hal yang sepertinya kurang penting.

Meja 9 sudah selesai kubereskan. Aku segera kembali ke meja tempatku menanti. Entah bagaimana ceritanya, percakapan telepon dari pengunjung di meja nomor 7 itu masih saja membuat kepalaku berputar. Yah, aku memang sering memikirkan hal-hal yang tidaklah perlu aku pikirkan.

“Oh begitu. Ya udah kalau begitu. Makasih ya. Bye.”

Gadis itu akhirnya menutup percakapan teleponnya. Ponsel hitamnya kembali mendarat di meja, bersebelahan dengan gelas putih yang kini tidak lagi mengepulkan asap tipis. Sudah ada durasi waktu yang cukup untuk membuat hidangan itu dingin dan bisa dinikmati. Kopi panas memang mempunyai pesona tersendiri, termasuk ketika kopi itu dicampur dengan berbagai varian yang menciptakan berbagai variasi rasa. Itulah yang aku jual di Café ini.

Aku melempar pandang lagi ke sekeliling. Sesekali berada di tempat ini hanya untuk mengedarkan mata ke kiri dan kanan bisa membuatku bosan. Tapi tidak kali ini. Setidaknya aku mendapatkan suatu puzzle sederhana yang bisa membuatku kehilangan rasa bosan.

Pandanganku sedang asyik menatap karikatur yang kubuat persis di atas pintu koboi ketika pintu itu terbuka. Seorang laki-laki mendorong pintu itu dengan keras dan masuk ke dalam Café. Hampir sama seperti pengunjung lainnya, ketika masuk ke dalam Café, yang pertama kali dilakukan adalah berdiri dua meter dari pintu dan memandang ke sekeliling. Laki-laki yang baru masuk ini pun melakukan hal yang serupa.

Aku mulai bersiap-siap untuk melayani pengunjung yang satu ini. Seperti aku bilang tadi, aku terbiasa dengan pelanggan perorangan. Mereka inilah yang biasanya menghabiskan lebih banyak waktu di Café alih-alih orang yang datang berdua atau lebih. Mereka ini biasanya mencoba menikmati hidupnya dengan kesendirian. Setidaknya itu kesimpulanku hingga saat ini.

Pengunjung lelaki itu kemudian menatap terpaku ke meja nomor 7. Edar pandangnya berakhir di titik itu, persis di tepi jendela. Badannya terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian kulihat senyum terbentuk di wajahnya.

Aku mulai merasa aneh. Perasaanku bilang kalau aku pernah melihat orang ini. Tapi perasaanku juga gagal menjawab pertanyaan perihal tempat aku pernah melihat orang ini. Aku malah jadi bingung sendiri.

Lelaki itu kemudian berjalan bergegas menuju meja nomor 7. Pengunjung di meja nomor 6 melirik sedikit, tapi sepertinya mereka sedang asyik dengan dunianya sendiri. Gadis di meja nomor 7 mendongak dari keasyikannya dengan ponsel yang sedari tadi melekat di tangan. Mulutnya sedikit membuka, pandangannya kosong. Perlahan mulut itu melengkung membentuk senyum yang sama manisnya dengan yang kulihat sedari tadi.

Hal yang kulihat memang sederhana. Pandangan mata itu menjadi ceria. Pipi gadis itu menjadi merah merona. Senyumnya menjadi merekah indah. Aku masih berusaha menyimpulkan semuanya.

* * *

Bahkan saya sendiri nggak paham apa inti cerita sepanjang ini -___-“

Hidup Untukmu

“Udahlah, udah jelas nggak bisa juga.”

Panji menggumamkan frase tersebut sambil terus menerus menampar pipinya kiri dan kanan sampai berwarna merah merona. Belum cukup sesekali dicubitnya juga pipi kurus itu. Dan tanpa sadar disiramkannya air keras ke mukanya, ehm, maksudnya es batu sih.

Menjadi pemandangan unik ketika seorang pria duduk di meja kerjanya, dengan tumpukan dokumen di kiri-kanan-depan-belakang, tapi ia tidak sibuk dengan dokumen itu melainkan asyik menampar dan mencubit diri sendiri.

“Permisi, Pak!”

“Ealah, kenapa sekarang Tuhan? Belum siap saya,” bisik Panji dalam hati.

Suara bening Aline ketika bilang permisi itu berhasil membuatku tak berdaya, batin Panji. Tapi bagaimanapun, sebagai seorang atasan, ia harus bersikap profesional. Maka Panji berkata, “Ya, Aline. Kenapa?”

“Muka Bapak basah.”

Buset, perhatian bener ini anak, batin Panji lagi.

“Oh, iya. Kepanasan tadi,” jawab Panji asal. Dalam hati ia mengutuk perbuatannya sendiri mengoles-oles es batu ke muka,semata-mata hendak menyadarkan diri sendiri.

“Iyakah Pak? Perasaan AC disini adem,” ujar Aline sambil celingak celinguk.

“Iya, hati lagi panas. Halah. Iya, ada apa?”

“Oh, habis meeting sama marketing ya Pak? Hehe.. Ini mau minta approval slip permintaan bahan baku.”

“Yah gitu deh, tahu sendiri kalau habis meeting sama marketing rasanya kayak gimana, mana dokumennya?”

“Iya Pak, saya aja tobat Bapak aja meeting waktu itu.”

“Lha saya tobat berkali-kali dong? Haha.. Bagian dari proses saja ini,” cerocos Panji sambil menandatangani slip yang dibawa Aline.

“Iya kali Pak ya,” timpal Aline sambil tersenyum manis.

Buset lagi, suara bening itu muncul pada saat yang tidak tepat, bisik Panji dalam hati. Ingin sekali rasanya menampar pipinya lagi untuk menyadarkan diri.

“Ini,” ujar Panji netral, menyerahkan slip tanpa memandang Aline.

“Baik Pak, terima kasih.”

Aline berbalik dan meninggalkan ruangan penuh dokumen itu.

“Fiuhhh.”

Panji mengeluarkan seluruh Co2 yang ada di paru-parunya dengan gundah. Matanya sibuk menerawang dan tangannya siap menampar pipinya lagi.

sumber: jimjjg.blogspot.com

* * *

Kejadian barusan adalah akumulasi penyadaran yang butuh waktu. Admin-admin baru disini pasti melihat dari balik kaca ruangan dengan biasa saja. Tapi pasti rasa berbeda ada pada OB tua yang lewat barusan. Turn Over yang tinggi di kantor ini sedikit banyak menyelamatkan Panji dari omongan orang-orang.

Ya, sesuatu pernah terjadi antara Panji dan Aline. Di masa lalu.

* * *

“Makanya kalau naik motor itu pelan-pelan, Mas,” ujar Aline dengan manis sambil menyeka luka Panji yang mengerang sok manis di tempat tidurnya.

“Itu nggak kencang-kencang kok,” kata Panji, masih ngeles.

“Masih ngeles tak tinggal lho Mas.”

“Iya, iya. Ampun lah kalau gitu.”

“Dek Aline, makan dulu.”

Tiba-tiba Ibu Kos di tempat Panji tinggal sudah nongol di depan pintu, menawarkan makanan pula.

“Iya Bu, sebentar lagi.”

Kos tempat Panji tinggal sudah benar-benar seperti rumah sendiri. Mungkin hanya 1 dari sejuta kos-kosan di dunia yang menyediakan makan gratis bagi penghuninya. Mungkin juga hanya 1 dari seratus ribu kos-kosan di dunia yang menyediakan pelayanan yang sangat homy macam ini. Kalau Ibu Kos lain akan mencak-mencak jika ada lawan jenis yang masuk kamar, yang ini malah ditawari makan.

“Nggak sholat, Dek?”

“Iya Mas, bentar lagi. Ini nanggung lukanya.”

Panji terdiam, memandang Aline yang dengan telaten merawat lukanya. Kekasih hatinya ini paling mantap kalau urusan merawat, maklum lulusan perawat. Cuma nasib saja yang membawanya jadi admin di pabrik. Panji masih terdiam, mensyukuri sekaligus mengutuk kondisi ini. Ada jurang besar diantara mereka.

* * *

Sebuah undangan warna merah terkapar di meja. Seonggok tisu terkapar pula di sebelahnya. Panji? Ikutan terkapar di lantai. Kamar kos yang sudah pengap itu mendadak sendu. Butiran air mata mengalir mulus di wajah Panji, seorang kepala seksi di sebuah pabrik, seorang staf yang selalu galak di depan mesin Marchesini, seorang auditor yang ditakuti oleh supplier-supplier, kini terkapar menangis.

Undangan warna merah itu tampak sederhana, tapi tentu maknanya jauh dari sederhana bagi Panji. Tentu saja, karena nama yang tertulis di undangan itu adalah Aline Fitriani. Dan bagian terburuk dari semuanya adalah disana tertulis bahwa Aline Fitriani akan menikah dengan sebuah nama, yang tentu saja bukan Kristoforus Panji.

Kalau saja operatornya melihat Panji sedang guling-guling di kamar macam ini, maka wibawanya akan musnah seketika. Tapi Panji kan juga manusia, menangis dan sedih adalah hak seluruh umat manusia. Panji pun terkapar sampai pagi tiba, dengan mata yang mulai bengkak.

* * *

“Mutasi, Bu?” tanya Panji pada Ibu Sum, manajernya.

“Bukan mutasi, Panji. Ini promosi. Bagaimana?”

“Promosi? Kenapa ke bagian lain?”

“Hahaha, kamu ini. Kalau mau tetap disini, mau nunggu kapan kamu jadi manajer?”

Panji terdiam. Promosi adalah perihal bagus kalau bicara soal gaji dan fasilitas. Tapi tentu saja beban kerja dan beban hidup mengikuti. Dan yang paling parah, mutasinya bukan ke tempat lain di pabrik itu, melainkan ke departemen Planning. Bukan perihal kerjanya, tapi tentang admin di departemen itu. Iya, namanya Aline Fitriani.

“Kalau gitu saya pikir-pikir dulu Bu. Terima kasih tawarannya,” jawab Panji sambil tersenyum.

* * *

“Sadar.. Sadar.. Udah jelas nggak bisa ini,” gumam Panji sambil tetap menampar-nampar pipinya.

Ada suatu masa ketika Panji sadar dengan kenyataan, tapi ada suatu masa lain ketika Panji merasa gila dan bodoh atas perjalanananya selama ini. Atas hubungannya selama 3 tahun dengan Aline yang berakhir tidak menyenangkan. Atas hidupnya yang penuh dengan Aline, bahkan hingga sekarang.

Sayup-sayup terdengar di telinga Panji,

“Tak pernah kumengerti, aku segila ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah kusadari, aku sebodoh ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu.”

Panji menundukkan kepalanya, berusaha tenang atas pergolakan laten yang sedang memasuki masa timbul kembali. Tangannya bergerak ke kening, dada, bahu kiri, dan kanan. Sebuah tanda ini sejenak membuatnya tenang. Nafasnya mulai ringan, wajahnya perlahan mencerah. Sebuah kesadaran ternyata bisa muncul berkali-kali untuk hal yang sama.

* * *

*sebuah interpretasi dari lagu NOAH-Hidup Untukmu Mati Tanpamu

Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Stalking adalah kegiatan yang tidak direkomendasikan bagi pecinta diam-diam. Stalking hanya akan menghanyutkan perasaan cinta jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dan penyebab yang paling utama adalah karena stalking tidak dapat mengubah apapun.

Teori stalking di atas adalah kesimpulanku untuk kegiatan yang kini sedang kulakukan sendiri. Yah, aku tahu stalking itu tidak baik, tapi akan halnya merokok, tidak stalking bisa membuatku gila.

Enam tahun, dan akan terus bertambah, aku diam dalam cinta diam-diam. Sebuah perasaan cinta yang berkembang menjadi tak menentu seiring berjalannya waktu. Pertahananku pada cinta diam-diam ini semata-mata perkara rasa. Aku sudah tiga kali berpacaran dalam periode enam tahun itu. Aku sudah mencoba menghilangkan rasa yang ada, namun sia-sia.

Laptopku masih menyala, tapi pandanganku lantas menerawang. Aku mulai berpikir soal kemungkinan-kemungkinan. Ah, untuk apa pula aku berpikir soal kemungkinan untuk sesuatu yang sudah berlalu? Tapi naluriku tidak bisa dibohongi oleh logika. Kadang-kadang itu terjadi juga. Nyatanya, kini aku semakin tenggelam dalam pengandaian dan kemungkinan. Perlahan, aku mulai menikmatinya.

Jemariku berhenti menarikan kursor di linimasa. Kursor kini mengarah ke folder foto. Kubuka folder dengan nama yang tersamar. Bagaimanapun laptopku bisa diakses oleh orang-orang yang bergantian memainkan Pro Evolution Soccer (PES) di kamarku. Folder dengan deretan angka yang sukar dimengerti, 111701038788. Siapa pula yang hendak iseng membuka folder bernama absurd ini?

Folder terbuka dan terhampar deretan foto dengan tokoh yang sama persis dengan yang terbuka di linimasaku. Yah, inilah gadis yang menjadi korban stalking-ku, inilah gadis yang menjadi cinta diam-diamku.

Foto itu bercerita banyak hal. Aku menyimpan foto itu sejak pertama kali aku mengenalnya. Dari deretan foto itu pula aku bisa melihat perubahan fisiknya selama 6 tahun terakhir. Satu hal yang pasti, ia bertambah cantik.

Pikiranku makin kacau setelah melihat rangkaian foto itu. Gerak tubuhku berubah acak. Jari-jariku menari entah kemana. Aku berusaha mengontrol diri dan berhasil. Kualihkan pandangku sejenak dari layar laptop menuju telepon genggamku.

“Saranku sih jangan, bang. Dia bukan tipe orang yang pacaran dengan teman.”

Sebuah pesan singkat dari adikku. Pesan singkat yang kemudian membunuh mimpiku perlahan-lahan. Pesan singkat yang menimbulkan timbunan penyesalan. Aku percaya benar pada adikku soal ini karena ia adalah teman akrab pemilik rangkaian foto yang sedang terhampar di layar laptopku.

Teman. Sebuah kata yang ternyata mampu menghabisi mimpi yang indah. Anganku berlari ke masa lalu, ketika aku mulai mendekati gadis ini. Sebuah pendekatan yang tidak biasa, karena arahnya kemudian berubah. Aku dan dia tidak menjadi sepasang kekasih, tidak pula menjadi mantan. Aku dan dia menjadi teman yang akrab. Cukup akrab untuk saling berbagi canda hingga berbagi masalah. Cukup akrab untuk saling bertukar visi tentang masa depan. Cukup akrab untuk sekadar berbagi sisi sentimental.

Satu kata itu, teman, benar-benar membunuhku. Aku merasa sangat nyaman di dekatnya sehingga aku tidak berani bertindak lebih lanjut. Aku sudah membayangkan kedekatanku dengannya akan musnah ketika aku mulai mendekatinya untuk dijadikan pacar. Aku sudah membayangkan rasanya memiliki hari-hari tanpa bertukar pikiran dengannya. Itu mungkin serasa neraka buatku. Maka aku memilih untuk tetap menjadi teman dan menahan rasa cinta yang membuncah dalam dada sekaligus mengolahnya menjadi cinta diam-diam.

“Coba dulu tak tembak aja,” gumamku sambil memandang kembali layar laptop.

Ketika otakku sudah berpikir tentang ini, maka diksi yang pasti muncul adalah ‘Coba dulu’ disertai lanjutannya. Yah, aku sering berpikir bahwa aku sudah bertindak keliru sejak awal. Aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya. Aku mendekatinya dalam upaya mencari cintanya juga, tapi kemudian aku memutuskan untuk berteman akrab saja dengannya. Sebuah pilihan yang membuatku segila sekarang.

sumber: transgriot.blogspot.com

Coba dulu aku tembak saja gadis manis itu. Aku mungkin akan ditolak pada kesempatan pertama. Bagiku itu tampak lebih mudah karena aku pasti hanya butuh 1-2 bulan untuk kemudian berpaling ke target lainnya. Atau mungkin aku sudah nyaman dengan dia sebagai kekasih hatiku tanpa perlu memendam cinta dalam kadar tertinggi ini. Atau bisa juga aku dan dia berpacaran lalu putus, itu juga mungkin akan lebih baik karena solusinya hanya move on.

Sekarang? Bagaimana mungkin aku akan move on ketika aku bahkan tidak bergerak sama sekali, sejak 6 tahun yang lalu? Aku masih disini, diam, melihat, mencintai, dan terus menerus seperti itu. Seandainya dulu aku bisa lebih nekat, pasti aku tidak disini sekarang. Ah, tapi mana bisa? Ini kan soal cinta, sesuatu yang perlu usaha lebih untuk dimengerti.

Seandainya juga dulu aku tidak melanjutkan pertemananku lebih intens, mungkin aku juga tidak akan segalau ini. Aku punya banyak teman, tapi hanya sedikit yang mengetahui sisi sentimentilku dan sebaliknya. Seandainya juga aku tidak memperkenalkan orang tuaku padanya dan sebaliknya. Seandainya pula kedekatan kami tidak sampai pada level berbagi masalah. Ah!

Semua kedekatan itu membuatku semakin mengenalnya. Seluruh intensitas itu mampu menancapkan citranya di hatiku. Dan kombinasi kedekatan itu, parahnya, membuatku semakin jatuh cinta padanya. Pada akhirnya, membuatku semakin tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih untuk berbuat berbeda. Aku tidak akan diam memendam rasa yang sama hingga bertahun lamanya. Aku akan mendekatinya perlahan, mencari celah di hatinya, mengungkap rasa, dan menikmati keputusannya.

Jika aku diterima, maka aku akan menjadi kekasih hatinya dan akan selalu membahagiakannya. Jika lantas di kemudian hari tidak ada kecocokan, maka aku akan melepasnya dengan bangga karena aku pernah punya mantan yang loveable. Jika kemudian aku ditolak, maka aku dengan pasti akan beralih mencari cinta yang lain.

Kalau aku bisa memutar waktu, aku hanya akan membuat satu perbedaan dalam hidupku. Satu hal kecil saja, aku hanya perlu mengungkapkan perasaanku padanya sebelum semuanya terlambat.

Kalau saja aku bisa membuat masa itu kembali lagi, aku piker hidupku akan jauh lebih baik dari ini. Hidupku tidak akan lekat dengan stalking di linimasa, tidak akan diam di hamparan foto dalam folder dengan nama tersembunyi, juga tidak akan mati dalam rasa yang tidak terungkapkan.

Perlahan pengandaian ini ikut membunuhku. Yah, semua sudah terjadi dan aku tidak bisa memutar waktu. Aku harus hidup dengan jalan ini. Dengan memendam cinta yang terungkap. Bukan untuk sebuah pernyataan “entah sampai kapan”, tapi untuk “selama-lamanya”.

Aku terdiam menatap lekat foto di layar laptop. Perlahan dua bulir air mata mengintip dari rongga dan bergegas turun. Cinta diam-diam adalah tataran tertinggi dalam mencintai, sekaligus paling menyakitkan.

Aku Ingin Jatuh Cinta

Jemariku belum lepas dari telepon genggam yang agak pintar ini. Sudah dua jam lebih aku terkapar di kasur sambil memegangi benda hitam mungil yang kubeli dari Tunjangan Hari Raya tahun lalu ini. Aplikasi yang dibuka sebenarnya tidak banyak, hanya Facebook, Twitter, dan beberapa portal berita. Ketika aku bosan, maka aku akan mengulang kembali aplikasi yang sama. Selalu ada yang baru di newsfeed FB dan timeline Twitter, jadi biasanya mampu membuatku tidak bosan.

Beginilah aktivitasku sehari-hari. Sepulang dari kantor, aku hanya terpakar di kasur dan akrab dengan aplikasi yang tidak banyak. Aku tahu ini hanya upayaku untuk mengalihkan diri dari masa lalu tapi tampaknya aku bertindak dengan cara yang salah. Aku masih tetap memegang benda hitam mungil ini. Aku memang membuka aplikasi, tapi mata dan jariku sangat awas pada notifikasi Whatsapp di pojok kiri atas. Lingkaran hijau itu yang selalu mengingatkanku tentang masa lalu yang indah.

Nyatanya, lingkaran hijau notifikasi itu tidak pernah ada lagi. Hidupku memang tidak pernah sama lagi. Sejak aku dan dia memutuskan untuk berpisah karena perbedaan yang tidak lagi dapat menyatukan dua hati yang rindu, hidupku memasuki babak baru. Menurutku, ini babak baru yang suram.

Aku tidak lagi mampu mengerjakan sebuah laporan dengan cepat. Aku jauh lebih sibuk melihat telepon genggam yang nyata-nyata tidak pernah berbunyi lagi. Dalam setiap pandanganku ke layar monitor, aku tidak melihat forecast dan rencana produksi. Angka-angka itu, di mataku, menjelma menjadi teks percakapan Whatsapp plus emoticon yang menyertai.

Aku tidak lagi menempuh perjalanan dengan riang karena tidak ada lagi yang berpesan padaku seperti yang dia selalu lakukan dulu, “hati-hati ya”. Malah wajahnya terbayang di berbagai kejadian, entah itu lukisan di belakang truk hingga sekadar orang lewat. Aku selalu merasa sedang melihat wajahnya.

“Brakkkk.”

Terdengar suara pintuku dipukul keras. Ah, itu pasti Rian yang baru pulang kerja. Sudah menjadi kebiasaannya untuk berbuat barbar macam itu. Sudah hampir pasti juga kamarku menjadi sasaran karena terletak paling depan.

“Apa?” teriakku sambil tetap terguling sempurna.

“Nggak apa-apa. Makan?”

“Nanti.”

“Ya. Mandi dulu.”

“Ya.”

Aku serasa hidup di hutan kalau sedang ngobrol dengan Rian dalam posisi ini. Aku tergolek lesu di kamar, Rian duduk asyik di depan televisi yang jaraknya lima belas meter dari tempat aku berbaring sekarang. Rian tertawa riang karena baru jadian, aku tertunduk lesu karena baru putus.

Hawa panas di dalam kamar yang pengap ini akhirnya mampu membuatku bergerak. Dua jam terkapar dengan masih mengenakan seragam kantor adalah tabiat buruk yang tidak layak ditiru. Seragam kantorku—berikut kelengkapannya—sangat cocok untuk kantorku yang dingin ber-AC, tapi tidak untuk kamarku yang pengap dan lembab.

Aku bangkit, tapi tetap lemas. Mataku masih awas pada sudut kiri atas telepon genggamku, berharap notifikasi Whatsapp muncul. Satu menit mataku menatap awas ke arah itu, dan nihil. Segera kulepas seragam kantorku dan berganti dengan baju rumah.

“Jokowi atau Foke?” tanyaku pada Rian yang sedang asyik duduk di depan televisi, menonton Quick Count Pilkada DKI.

“Ini lagi nonton.”

“Nggak phonesex?”

“Belum.”

Tepat ketika Rian selesai menyebut “belum”, Blackberry-nya berbunyi. Rian bergegas masuk kamar, dan aku langsung menyimpulkan itu adalah pacarnya.

Perihal istilah phonesex, memang agak vulgar. Meski tidaklah ada diksi yang cukup kurang ajar di sebuah kos-kosan cowok yang berisi staf-staf muda di berbagai pabrik. Rian yang mencetuskan istilah itu ketika ia sering tiba-tiba berada di depan kamarku dan mendengarkan pembicaraan teleponku.

Kini dunia berbalik. Rian sering senyum-senyum sendiri. Staf di pabrik otomotif ini juga bisa berjam-jam bertelepon ria di dalam kamar. Dalam beberapa kali percakapan, ia mulai sering menyebut diksi “bojoku”.

Ah, ini pasti pertanda jatuh cinta. Sebuah keadaan yang mampu mengaduk-aduk emosi manusia. Sebuah perasaan yang mampu meningkatkan kadar senang dan sedih dalam hitungan detik. Sebuah kondisi yang bisa menyunggingkan senyum dan menorehkan luka lebih cepat dari membalik telapak tangan.

sumber: iamalittlemorethanuseless.blogspot.com

Rian sedang menikmati indahnya. Ia tersenyum sepanjang hari. Kalau jam 10 malam ia sudah keluar dari kamar, senyumnya bisa lebih mengembang. Saat main PES 2012 pun, ia hampir selalu menang karena bermain dengan riang gembira. Ketika mandi, ia bernyanyi paling keras, bahkan sampai terdengar ke kamarku. Indah sekali hidup seperti Rian ya?

Aku masuk ke kamar mandi, tetap dengan gontai. Kuletakkan peralatan mandi di pinggir bak dan kugantung handuk pada tempatnya. Kedua tanganku masuk ke bak dan basah seketika. Kuusap kedua belah tangan itu ke wajahku. Pikiranku melayang ke berbagai tempat. Sekelebat tampak Rian yang sedang riang gembira. Sedetik berikutnya  terbayang kesendirianku di dalam kamar. Sejurus kemudian berganti ke masa silam, ketika aku berada pada posisi yang sama dengan Rian.

Bahwa jatuh cinta itu indah, aku paham benar soal ini. Bahwa ada konsekuensi lain dari jatuh cinta, aku juga harus mengerti soal itu. Maka pikiranku melayang ke sebuah percakapan yang masih melekat erat di hidupku.

“Mas, aku mau kita udahan.”

“Kenapa?”

“Ya, kamu tahu kan. Kita nggak bisa bersatu.”

Aku terdiam, berpikir, dan mengeluarkan kata-kata yang menurutku ajaib bisa meluncur dari mulutku sendiri, “Kalau memang itu yang terbaik buat kamu, nggak apa-apa kok.”

Senyum tersungging kecil di bibirku, berharap itu dapat menyunggingkan senyum yang sama dari bibir lawan bicaraku.

“Aku sayang kamu, Mas. Tapi sepertinya memang harus begini. Ini bukan yang terbaik untukku. Akupun menangis karena ini.”

“Ini fakta kok, kita itu sukunya berbeda. Ya nggak ada yang bisa diubah.”

“Mas?”

“Iya?”

Dan yang kudengar selanjutnya ada isak tangis, dari gadis yang sangat kucintai ini. Perbedaan suku berhasil memisahkan dua hati ini.

Kusandarkan dua tanganku pada bak mandi, kupandang air yang menggenang di bak itu. Kulihat wajah gembira Rian disana, kulihat kebersamaanku dengan gadis manis yang aku cintai, kulihat tubuhku terkapar di dalam kamar.

Ah, seandainya aku bisa seperti Rian, yang sedang menikmati indahnya jatuh cinta. Seandainya waktuku menikmati indahnya jatuh cinta itu bisa lebih lama. Berbagai pengandaian lain mendadak bermunculan, sekaligus berupaya menepis kenyataan. Sebuah kesia-siaan, karena kenyataan tidaklah musnah oleh pengandaian. Ini tetaplah kenyataan.

Aku ingin jatuh cinta lagi, tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku sudah jatuh terlalu dalam di hatinya.

Tamu

“Kukuruyukkkkkk…”

Ah, pagi! Di era modern ini mungkin ayam asli sudah tidak berkehendak untuk berkokok subuh-subuh. Untunglah ada alarm yang punya bunyi seperti suara klasik pembangun tidur itu. Semata hendak mengenang masa lalu, maka bunyi itu yang kupilih untuk alarmku.

Aku berguling lemas, ini sama saja dengan pagi-pagi lainnya. Malas.

Yah, dulu pagiku penuh warna di ibukota, sampai kemudian sebuah perusahaan di kota ini menawariku pindah. Bosan dengan hiruk pikuk ibukota, akupun terbujuk.

Apa iya itu alasanku?

Tidak juga. Hal yang utama, karena Dila bekerja di kota ini. Mungkin menjadi hal absurd bagi seorang eksekutif muda berkarier gemilang memutuskan pindah dengan mempertimbangkan seorang gadis yang dicintai secara diam-diam.

Absurd? Bisa jadi. Akan tetapia aku percaya, dalam cinta, semua hal ada logikanya, termasuk hal absurd sekalipun.

Pagiku perlahan menjadi suram karena perlahan asa untuk mencintai itu semakin pudar. Dila bahkan memutuskan komunikasi denganku tanpa aku tahu sebabnya.

“Ilfil kali sama lu. Lagian, karier udah bagus-bagus disini, pake acara pindah gara-gara gebetan. Otak lu kemana bro?”

Demikian Joni, partnerku di tempat lama, pernah bilang kepadaku.

Tok.. Tok.. Tok..

Pintu apartemenku diketuk. Ah, siapa pula yang datang sepagi ini. Bahkan ini belum jam 7 pagi.

Sejak Dila memutuskan komunikasinya denganku, aku sungguh tanpa daya. Malas adalah nama tengah di setiap aktivitas yang aku lakoni. Semuanya berjalan, tapi tanpa jiwa. Semuanya selesai, tapi nyaris tanpa makna. Syukurlah aku masih bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik, meski tanpa jiwa dan makna.

Malas itu merembet sampai ke pagi hari. Bergerak adalah kesulitan terbesar bagiku di pagi hari. Aku lebih baik berguling kesana kemari alih-alih berdiri dan menuju pintu.

Tok.. Tok.. Tok..

Ya ampun! Aku menggerutu pahit. Ini sungguh menggangguku. Jadilah aku menyeret badanku menuju pintu yang sebenarnya tidak cukup jauh dari tempat tidurku. Kuusap wajahku sekilas, siapa tahu kotoran-kotoran selama tidur bisa berkurang sedikit.

Tok.. Tok.. Tok..

“Sebentar,” gerutuku.

Tanganku menggapai gagang pintu, kantuk membuatku lupa mengintip terlebih dahulu di lubang yang ada di pintu apartemenku.

Ayunan tanganku dengan ringan membuat pintu bergerak, menuju arahku, dan itu sama saja dengan terbuka. Pintu itu terbuka, memperlihatkan objek yang tidak aku kira sama sekali.

“Kamu? Ngapain?”

“Hai! Mau sarapan bareng?”

Tiba-tiba otakku memainkan sebuah film pendek, menutup semua fakta yang berdiri di sekitarku. Film pendek itu bernama kenangan.

“Mas, tukeran mau nggak?” ujar Dila, yang berdiri persis di sebelahku.

“Curang. Hmm, ya udah, sini.”

Aku dan Dila lantas bertukar beban. Latihan fisik paduan suara ini begitu beratnya sehingga setiap orang harus membawa beban untuk dibawa sambil bernyanyi. Dan terkadang bebannya tidak tanggung-tanggung, bisa 3 buah barbel dimasukkan ke dalam tas.

Parahnya lagi, beban itu harus dipertukarkan antar anggota paduan suara.

“Baik hati sekali kamu, Mas,” kata Dila sambil mengunyah pecel lele. Aku dan Dila makan bersama sepulang latihan yang gila itu.

“Yah, apa sih yang nggak buat Dila.”

“Gombalnya kamu, Mas.”

Dila yang cantik ini selalu ada di dekatku, karena memang aku selalu berusaha mendekat. Tapi tak sedikitpun aku berani bertindak lebih selain dekat dan perlahan menjadi sosok kakak bagi Dila.

Dila yang sama yang menjadi pertimbanganku

Film pendek bernama kenangan itu perlahan memudar dan menjelma menjadi sebuah kenyataan. Dila persis berdiri di depanku, ngajak sarapan pula.

“Mas? Mas? Kamu sadar nggak sih?”

Dila bertanya menyelidik. Sebuah tanya yang pasti keluar karena melihat tampangku yang absurd. Senyum mengembang, tatapan kosong menarawang. Ah, aku yakin siapapun yang berada di posisiku, pasti akan berlaku serupa.

“Mas? Mas?”

Dan Dila masih terus bertanya.

 

UGD

Sahabat sejatiku
Hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi

Tiba-tiba lagu “Sahabat Sejati” terngiang di telingaku, semata-mata karena mataku menangkap rangkaian huruf “Diutus Untuk Berbagi” di mobil yang masuk parkir persis di depanku.

Semesta memang pintar mengatur situasi. Bahkan setiap kejadian di semesta itu penuh dengan sebab dan akibat, logika dan keniscayaan. Kini terjadi, lagu itu terlintas keluar dari arsip otak karena hal sepele tapi pada momen yang tepat.

Kulihat BB-ku, sudah berulang kali kulihat pesan yang sama di Whatsapp ini dalam satu jam terakhir.

UGD, dekat pintu tembus ke Elisabeth

Kuletakkan kembali BB-ku di dashboard mobil sambil menanti mobil di depan bergerak.

Dengan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku

Rumah sakit ini mungkin paling laku, hingga mencari tempat parkir mobil saja susahnya setengah mati. Mobil di depan beringsut perlahan. Aku menguntit dengan sabar.

Rumah sakit ini juga menyajikan setting yang kurang asyik. Begitu masuk ke area dalam, ada rumah duka di sisi kanan. Emosi langsung diaduk-aduk. Beberapa puluh meter kemudian, tampak makam para suster pada sisi yang sama dengan rumah duka. Ah, jadi ingat berita kecelakaan mobil bertahun silam yang menewaskan beberapa orang suster. Mereka beristirahat abadi di tempat ini.

Sampai titik ini aku belum mendapat tempat parkir. Itu berarti sebentar lagi aku akan melewati UGD. Aku pernah ada di tempat itu, jadi tahu tempat dan rasanya.

Sudah dimana?

Lewat UGD, nyari parkir 😦

Kita slalu berpendapat kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah

Aku raja kaupun raja, aku hitam kaupun hitam
Arti teman teman lebih dari sekadar materi

Lagu yang sama masih terngiang di telingaku ketika aku menemukan celah di dekat poli anak. Langsung kuparkir mobilku disana dan bergegas turun berlari ke UGD.

Sayup-sayup terlintas berbagai peristiwa yang terpisah satu sama lain, namun terkoneksi oleh tokoh. Yah, aku dan Adit.

Terbayang ketika aku diantar ke tempat ini, terhuyung lemas di depan pintu UGD dan bertumpu pada punggung Adit. Teringat ketika belum lama ini aku dan Adit ngobrol panjang di kafe dekat Kambang Iwak. Terlintas pula segala obrolan panjang lebar soal masa depan, mimpi-mimpi masing-masing, dan banyak hal lainnya.

Pegang pundakku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar
Remas sayapku jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang, terbang meninggalkanmu

Aku memasuki pintu UGD. Sebagai mantan pasien, dan pernah berkali-kali kesini, aku tahu benar celahnya. Pintu itu memang selalu tertutup, tapi bisa dibuka oleh siapapun tanpa kecuali. Siapa pula yang hendak menutup pintu yang menjadi tumpuan masa depan orang banyak itu? Siapa yang hendak menghilangkan harapan orang lain akan kesembuhan di tempat itu?

Aku slalu membanggakanmu, kaupun slalu menyangjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan sgalanya
Merdeka kita-kita merdeka

Lagu yang sama mengiringi langkahku mencari bed tempat Adit berada. Terlintas sedikit saat-saat bahagia aku dan sahabatku itu. Memori ini muncul di saat yang tidak pas!

May melambai, aku berlari menghampiri. Dan kulihat tubuh Adit di tempat itu. Sungguhpun aku tidak sanggup berkata-kata.

Tak pernah kita pikirkan ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan akhir perjalanan ini

*terinspirasi oleh lagu Sahabat Sejati (Sheila on 7)

Cinta

Mario berdiri mematung di dekat papan pengumuman kampus. Matanya awas memandang ke ujung lorong yang menuju ke tempatnya berdiri. Sudah dua puluh menit ia berdiam disana. Benar-benar berdiri diam sambil sesekali melihat pengumuman dan pada kali lain melihat jam tangannya.

Dua puluh dua menit sesudah Mario berdiri, yang dinanti tiba. Sesosok gadis berambut lurus, memakai behel, dan agak bungkuk muncul dari kejauhan. Mario bersiap, matanya tak lepas menatap gadis itu. Jantungnya berdetak lebih kencang pertanda sirkulasi darahnya meningkat. Ia hendak melangkah, namun mendadak tercekat.

Jarak Mario dan gadis itu tinggal sepuluh meter. Perlahan menipis menjadi sembilan, delapan, enam, empat, dua, satu, dan… satu, dua, empat, enam, delapan, sembilan, dan seterusnya.

Gadis itu berjalan, berlalu di hadapan Mario yang berdiri berdiam tercekat tanpa daya. Mario hanya menatap lekat gadis itu, dari kejauhan hingga dekat dan lantas menjauh lagi. Kepalanya mengikuti langkah gadis yang menjauh itu, kali ini dengan pemandangan tampak belakang. Hanya tas biru dongker dan rambut lurus yang tampak semakin mengecil, menjauh, dan perlahan hilang di kejauhan.

Itulah keseharian Mario. Berdiri di papan pengumuman dengan kaos panitia penerimaan mahasiswa baru, celana jeans longgar, dan tas sandang yang tidak pernah dicuci. Tidak sepanjang waktu Mario ada disana. Ia punya jadwal untuk itu, tentunya menyesuaikan jadwal kuliah gadis yang hendak dilihatnya.

Gadis itu tidak bisa dibilang cantik, tapi harus dibilang menarik. Ia bukanlah gadis yang mempesona dengan dandanan rapi. Lihatlah, hanya baju kaos, celana jeans, dan sepatu sporty. Tas yang dipakai juga jenis ransel. Tidak ada aksesoris berlebihan selain sebuah jam tangan di lengan kirinya. Sesederhana itulah definisi Mario tentang gadis yang menarik. Sesederhana itu pula definisi Mario terhadap jatuh cinta.

Mario beranjak dari tempatnya berdiri untuk duduk di kursi taman kampus. Ia bersiap untuk penantian 2 jam ke depan. Ya, 2 jam adalah waktu kuliah yang diambil gadis tadi. Mario akan menanti dengan sabar guna menyaksikan gadis menarik itu muncul dari kejauhan, mendekat ke arahnya, dan kemudian berlalu lantas pergi menjauh untuk kembali hilang di kejauhan. Mario menikmati hari-harinya. Ia sungguh nyaman dengan hanya memandang, mengamati, dan melakukan hal-hal lain dari kejauhan. Mario tahu benar, jatuh cinta tanpa tendensi memiliki akan tataran tertinggi dalam jatuh cinta.

Senja

Butir-butir pasir itu terhempas pilu. Air garam dalam jumlah dan tekanan yang besar datang menghampiri dan menerpa tanpa ampun. Hanya  sisa debur yang membahana ke studio maha luas yang terhampar disana. Ada pula angin yang membelai lembut butir-butir pasir yang sudah terhempas tanpa ampun itu.

Kupandangi semua sudut dengan sendu. Mataku menyipit oleh terang. Cahaya terhampar begitu luasnya, tanpa dibatasi oleh apapun. Semuanya sampai ke mataku dan itu cukup menjadi alasan aku memicingkan mata. Tentunya, selain karena genangan air mata masih ada di sana, dalam jumlah yang cukup. Genangan itu sedang bersiap untuk tumpah.

Sudut demi sudut melintas di mataku lewat sebuah gerakan kepala melingkar. Ah! Selalu ada sudut yang siap menumpahkan genangan air mata yang volumenya semakin bertambah ini. Sebuah pondokan kecil, sebongkah batu besar, hingga sebiji kelapa yang terkapar manis di dermaga kecil. Tiga sudut itulah yang mampu meruntuhkan pertahanan akan genangan yang ada di kelopak mataku.

Terang perlahan meredup. Sebuah bongkahan kuning kemerahan tampak di ujung horison. Ujung inilah yang membuat Colombus pergi mencari kebenaran. Ujung inilah yang terus dilihat Colombus dalam setiap pencariannya. Ujung yang ternyata tidak berujung. Sebuah silogisme yang lantas menjelma menjadi kebenaran.

Ujung itu pula yang aku lihat, ketika berada di pondokan kecil yang bersebelahan dengan batu besar sambil memegang kelapa muda. Waktu itu aku tidak sendiri, tidak pula beramai-ramai. Aku dan dia, berdua, terdiam menatap ujung yang sama.

“Jadi kita selesai?” tanyaku sambil menunduk dan memutar-muar buah kelapa yang sudah kosong itu.

“Iya, Mas.”

“Nggak ada kesempatan untukku memperbaiki sesuatu?”

“Nggak. Aku sudah kasih kesempatan itu, tapi kamu masih mengulanginya.”

“Yah, baiklah.”

Momen yang sama. Tiupan angin, debur air asin yang bergantian sampai ke daratan, suasana, hingga warna menjelang temaram. Semuanya sama. Bedanya, aku kini sendirian. Tidak ada si cantik itu lagi di sebelahku. Aku hanya sibuk mengingat-ingat peristiwa yang seharusnya tidak diingat. Untuk apa sebuah kejadian pahit itu diingat? Bukankah lebih baik aku bangkit dan memperbaiki diri serta melanjutkan hidup?

Kalaulah hidup ini semudah berkata-kata, pasti aku sudah melakoninya. Akan tetapi, jiwaku masih pada si cantik itu. Itulah sebabnya aku kembali ke pantai ini, pada waktu yang serupa, pada suasana yang sama, saat aku harus melepaskannya.

Objek kuning yang terang itu semakin redup ditelan horison. Gelap mulai menggantikan hadirnya. Sebuah pertanda untuk meninggalkan tempat ini, dan memulai kehidupan baru yang sebenarnya.

“Mas, kok disini?”

Aku mengenali suara itu dengan jelas.

“Kamu juga, kok disini?”

Si cantik ada disini, di tempat yang sama ketika ia memutuskan untuk berpisah denganku. Jantungku berdegup kencang, mendadak asa membuncah dalam diri.

“Ngobrol yuk!” ajakku.

Si cantik mengangguk. Sisa-sisa terang membuatku masih bisa melihat anggukannya. Aku beranjak dalam harapan baru. Pada saat yang sama, sang mentari menghilang di ujung horison untuk datang lagi esok hari.

Pria Yang Punya Rasa

“Jangan pernah mau disentuh-sentuh cowok, apalagi yang lebih jauh,” ujar temanku berkali-kali, dan kebetulan diulang lagi.

“Emang kenapa?”

“Pasti nanti diceritain sama temen-temennya. Eh, gue udah nyium dia, gue uda ngapa-ngapain dia.”

Aku terdiam. Selintas kemudian, aku bersyukur. Setidaknya aku berada di pergaulan yang benar.

“Nggak semua cowok kayak gitu kali.”

Nggak semua, karena proses pendewasaanku mengajari demikian. Cerita antar lelaki yang aku tahu adalah tidak jauh-jauh dari rasa, bukan nafsu. Karena, ada yang bilang, sesejati-sejatinya lelaki, adalah lelaki yang mengandalkan rasa alih-alih nafsunya.

Nah, mau tahu tipe-tipe obrolan cowok berbasis rasa. Berikut paparannya.

1. Labil sesi 1

“Piye, Bon?” tanya Chiko sambil menepuk bahu Bona.

“Mbohlah.”

“Lha piye?”

“Yo, mboh.”

“Putus wae po?”

“Nggak. Kalo nggak sama dia, mending aku jadi homo.”

Beberapa hari kemudian, Chiko dan Bona bertemu lagi.

“Piye?”

“Wis ah, sekarang realistis wae,” ujar Bona, dengan pandangan tetap menerawang.

Cowok yang punya rasa memiliki kecenderungan labil, antara mempertahankan atau realistis.

2. Kurang Ajar edisi 1

“Ko, pinjem motor?” teriak Roman dari depan kos.

“Meh nangndi?” tanya Chiko, sambil tetap tiduran.

“Sono.” Roman menunjuk arah utara.

“Belok kiri opo kanan?”

“Lha ngopo emang?”

Cowok yang punya rasa, pasti akan berpura-pura soal ini. Ya begitulah, ke kanan itu menuju arah kos Adel. Kalau ke kiri itu menuju kos Eny, TTM-nya Roman.

“Kiri kanan?”

“Kiri lah,” rapal Roman sambil menyambar kunci motor Chiko.

Cowok yang punya rasa, cenderung tidak menutupi sesuatu atas nama kepura-puraan, meskipun itu tetap kurang ajar namanya.

3. Labil sesi 2

“Kowe masih kontak sama Irin?” tanyaku terkejut.

“Iyo. Udah putus kok dia.”

“Setelah yang dia lakukan sebelumnya.”

“Iyo bro. Kalau nggak sama dia, aku nggak bakal nyari yang satu fakultas lagi.”

“Tak catet omonganmu, Ko.”

Beberapa bulan kemudian, sisi labil terungkap.

“Wis ora?”

“Lha aku dicuekin terus. Pengen ketemu, terus tak sudahi wae,” ujar Chiko.

“Iyolah.”

Dan tak sampai 3 bulan.

“Wis jadian po kowe?”

“Wis.”

“Sama Cintia?”

“Iyo.”

“Lha, katanya nggak mau yang satu fakultas lagi.”

“Ya, setiap hal ada perkecualiannya lah,” kekeh Chiko, ala playboy. *halah*

Cowok yang punya rasa tidak akan punya keputusan yang menetap, semuanya relatif, termasuk perkecualiannya.

4. Kurang ajar edisi 2

“Lha Alin ki duwe bojo?”

“Iyo.”

“Ngopo kowe deket-deket?” berondong Chiko.

“Nggak apa-apa toh?”

“Pacar orang kuwi.”

“Iyo. Ngerti,” sahutku.

Hari-hari berikutnya.

“Masih kontak sama Alin?”

“Masih.”

“Awas wae kena batunya kowe.”

Dan cowok yang punya rasa itu hampir pasti kena batunya. Termasuk aku menemukan batu yang itu. Gede pula.

5. Konsisten

“Lha kowe ngopo kudu golek suku kuwi?” selidikku.

“Panjang ceritanya,” sahut Prima. Dengan tenang, panjang kali lebar kali tinggi, ia menjelaskan perihal seleranya terhadap cewek dari satu jenis ras.

“Yo terserah sih. Saranku sih, realistis wae.”

“Yo iki, wis realistis cah.”

Dan berikutnya, yang kudapati adalah Prima belum pernah berhasil mendapatkan kekasih dari etnis yang ia tetapkan. Cowok yang punya rasa itu cenderung konsisten. Meskipun outputnya adalah konsisten ditolak.

6. Tidak Percaya Sebelum Melihat

“Eh, eh, aku ono cerito,” bisik Bayu. Aku mendekat mendengarkan.

“Tadi, aku ke kosnya Putri. Malah ketemu Danu. Mana Putri lagi tidur di pahanya Danu pula.”

“Lha ngopo juga kowe kesana?” tanyaku.

“Ya, pengen aja.”

“Udah denger kan kalau Putri sama Danu?”

“Ya, pengen lihat.”

“Abis lihat? Terus galau kan?”

“…….”

Yah, meski pahit, cowok yang punya rasa cenderung ingin memastikan sendiri. Sekalian ingin memecahkan hatinya sampai berkeping-keping untuk kemudian membangunnya kembali.

Kira-kira begitu 🙂