All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

PKL, 4 Tahun Yang Lalu

Tengah malam terbangun, membaca sebuah whatsapp, semacam request menulis. Hahahaha..

Jadi yang ngirim whatsapp bilang kalau dia PKL di tempat yang sama dengan saya menimba ilmu dahulu. Hmmm, baiklah..

Tentunya ada note yang jelas bahwa kondisi pabrik itu pada tahun 2008 adalah berbeda bermakna dengan kondisi pabrik itu saat ini. Kalau nggak percaya, mari kita tanya ahlinya. Ya kan kang? Hahaha…

Okehhh, sekitar 4 tahun silam saya mendapat jatah untuk PKL di sebuah pabrik ternama di Jalan Raya Bogor. Sebenarnya saya yang minta PKL disitu dan syukurlah dikabulkan sama yang nyusun jadwal. Hehehe..

Buat yang PKL disana pasti senang karena ada seorang bocah tua nakal (waktu itu belum tua) yang baik hati dan rajin mentraktir. Kebetulan memang calo sampai bisa ada PKL disana ya memang beliau ini, si ahlinya itu tadi.

Saya kos di sebuah tempat bernama MABESKOSMAR, detailnya bisa dikulik-kulik disini. Tempat yang memang mirip kebun binatang karena banyaknya jenis hewan yang tersedia, tapi juga memberikan suasana yang menarik karena aspek penghuni-penghuninya. Kos ini cukup homy memang, apalagi penghuni lain pada baik-baik sama anak-anak unyu macam saya dan tiga teman lainnya.

Hari pertama PKL, langsung dihadapkan pada Plant Manager yang ganas tapi gila. Lah iyo, dia itu apoteker, tapi ngakunya Sarjana Ekonomi dari UNIVERSITAS TUGU MUDA, yang disingkat UNTUMU plus Sarjana Hukum dari INSTITUT SEBELAS APRIL yang disingkat I(h)SEBELAP(oteker). Po ora edan Bapak iki? Tapi pelan-pelan saya tahu kalau beliau ini adalah sosok yang LUAR BIASA. Siapa dia? Inisialnya SI. Hehehehe..

Lalu mulai berpraktek, kebetulan saya dapat di Quality bagian Packaging Material, kerjanya ya sampling-periksa-buang, sampling lagi-periksa lagi-buang lagi, sampling terus-periksa terus-buang terus. Ya ternyata kerja ya emang gitu itu, sebuah sesuatu yang bernama RUTINITAS.

Dan karena itulah saya setiap hari ke gudang. Menyaksikan gudang yang tingginya belasan meter, dan sesekali naik pakai forklift yang mantap bikin gemetar. *apalagi pas giliran ambil data logger di pucuk rak*

Siapa sangka saya lantas ‘punya’ gudang sendiri dibawah tanggung jawab sendiri, SEKARANG? Besarnya beda, tapi tingginya mirip, bentuknya mirip juga. Ah, dasar hidup!

Rutinitas ini berbarengan dengan anak PKL lain dari Swiss German University memang, tentu dengan perspektif yang beda. Kalau ditanya saya dapat apa, ya ilmu tentang sampling akar N plus 2 itu ya baru nemu di tempat saya PKL ini. Belum lagi soal pemeriksaan kemasan, bahan kertas (ivory/duplex), lipatan, pemeriksaan leaflet, lem, hingga pemeriksaan botol.

Satu hal yang paling ingat ketika saya TANDA TANGAN di form pemeriksaan alu foil E*ev*t. Wuihh, serasa pengen fotokopi lalu pajang di dinding. *waktu itu*, kalau sekarang? *setumpuk isinya tanda tangan sendiri* Hahahaha..

Lebih menarik lagi ketika bisa futsal bersama dengan tim yang ada di plant ini. Seru, seru banget. Dan disinilah saya merasa hidup itu ya seperti itu. Pada saat yang sama juga melihat bagaimana rasanya di-off via kejadian orang teknik waktu itu. Bagaimana rasanya kontak habis via seorang analis yang pamitan pada waktu yang sama. Bagaimana rasanya kuliah sambil kerja dari analis lain yang ada.

Sungguhpun itu sebuah pengalaman menarik. Dan setahu saya nih, orang-orang yang ada dulu sudah lepas satu persatu. Termasuk bocah tua nakal tadi itu. Bahkan saya pernah baca suatu status yang sifatnya mengeluh, dari staf yang masih ada disana. Entahlah, saya nggak campur urus sih, tapi bagaimanapun tempat itu pernah menjadi kenangan bagi saya sendiri. Dan lewat itulah saya tahu dunia nyata-nya farmasi itu ya seperti itu 🙂

Jadi bagaimana saudari? Kalau belum paham bisa tanya sama bocah tua nakal ini lho… Hehehehe…

🙂

Setiap Orang Punya Hidupnya Sendiri-Sendiri

Entah! *oalah, tulisan opo iki, awal-awal kok wis entah*

Jadi begini, dalam hidup saya yang fana ini memang saya sering mendapat jatah mendengar cerita orang-orang. It’s OK. Malah saya bersyukur banget bisa mendengar banyak referensi hidup dari banyak orang. Dan itu kemudian terefleksi dalam hidup saya sendiri, dan satu hal yang lantas saya sadari: bahwa setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri.

Saya, misal, di usia 14 tahun sudah menggembel di Jogja, di usia 17 tahun sudah jadi mahasiswa, dan di usia 22 tahun sudah jadi pekerja. Di sisi lain? Ada yang bahkan dari usia belum 10 sudah banting tulang cari duit, dan ada juga yang hingga usia lebih dari 22 masih menempuh pendidikan. So? Ya memang itulah jalannya sendiri.

Dan karena itulah, sejatinya tidak setiap hal itu bisa dibandingkan, namun memang bisa dijadikan referensi. Sekali lagi, kalau di pembuatan skripsi kita nggak membandingkan, tapi menggunakan referensi. Iya kan?

Misal nih, ketika adik saya sekarang usia 17 tahun dan kemudian memasuki hidup barunya di sekolah baru di usia 17 tahun. Saya kadang berpikir bagaimana ini anak bisa hidup. Tapi ketika hidup saya sendiri tak jadikan referensi, lha kok membalik sendiri. Umur segitu saya luntang lantung nyari kampus, dan sudah survive 3 tahun dengan badan yang (syukurlah) tambah kurus dan tambah kering.

Itu satu contoh.

Lalu kadang saya mencoba membandingkan masa silam saya yang penuh heroisme hidup lewat es mambo! Hahahaha.. Bener, dulu saya sore-sore kerjanya bungkusin es mambo buat dijual buat jajan. Kalau mau dibandingkan dengan teman lain yang lebih kaya, ya iri. Tapi saya lantas baru sadar setelah jadi orang pabrik begini, dengan penghasilan ortu mereka yang tinggi, konsekuensinya, waktu mereka lebih sedikit untuk interaksi. Sementara saya? Sepenuhny saya memiliki waktu bersama orang tua sejak pulang sekolah.

Jadi, bener kata stand up comedy kemarin yang saya tonton, kalau ada reality show yang mempertontonkan keperihan hidup, sebenarnya itu juga referensi saja. Lha begini, yang hidup aja nggak nangis kok, kenapa malah host-nya yang nangis? Hayo, kenapa coba? Hmmm..

Jadi memang, setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri, latar belakangnya sendiri-sendiri. Dan itu tidak bisa diubah. So? Tinggal bagaimana kita saling bertukar referensi untuk hidup yang lebih baik.

Salam Pessy! *opo jal*

Tangisan Berbuah Dolan-Dolan

Odong-odong merah memasuki Pok-We, biasanya hal ini akan disambutstanding oviation oleh para Dolaners. Yak, di musim demam berdarah, sebuah fogging gratis dari knalpot sepeda motor dua tak berkecepatan maksimal 40 km/jam mungkin adalah berkah tersendiri.

Biasanya begitu, tapi kali ini kok berasa aneh.

“Kowe sih Ko.”

“Lha ngopo aku? Kowe kuwi Bon.”

Yak, permainan voli tanggung jawab antara Chiko dan Bona memang adalah hal biasa. Cuma kok yang ini suasana agak sunyi senyap. Nggak dolan-dolan banget deh. Aku segera mengambil kesimpulan kalau aku baru saja melewatkan sesuatu yang penting.

“Ono opo kie?” tanyaku.

Sunyi, semua berpandang-pandangan kecil ke Aya. Hmm, ini seperti ada sesuatu. Untuk waktu itu Syahrini belum tenar dan belum mengeluarkan istilah sesuatu banget, apalagi jambul anti badai dan bulu mata gorong-gorong jalan sudirman.

Tidak ada kata dan penjelasan yang aku dapat di Pok-We kali itu selain, “besok dolan ke Ketep!”

“Lha, dolan PS e piye?” Aku bertanya lagi.

“Yo tetep.”

Aneh lagi nih, nggak pernah sekali-kalinya Dolaners membuat dua acara dalam 1 rentang waktu yang pasti akan berakhir dengan tidur bersama. Ya iyalah, dolan itu capek loh, apalagi kalau dolan plus-plus.

Sungguhpun aku mendapati sebuah misteri dari rencana esok hari ini.

* * *

Siang hari menjelang, dan masih di Pok-We, sebuah tempat yang mungkin bosan dengan Dolaners. Bagaimana tidak? Kalau pembeli lain mungkin akan membeli menu-menu mahal. Kalau anak Dolanz-Dolanz sebangsa aku dan Yama misalnya, pakai metode lain. Yah kalau di menu itu, di sisi kiri ada nama makanan dan di sisi kanan ada harganya, maka mata kami segera menatap ke kanan tanpa peduli yang ada di sisi kiri. Kalau memang menu itu tertempel di dinding, maka tangan kiri segera menutup yang di sisi kiri.

Ketika harga yang paling masuk akal ditentukan, barulah mata melihat ke nama menu. Dan biasanya sih nggak jauh-jauh dari tahu goreng, tempe goreng, atau maksimaaaallll banget telur goreng. Demikian adanya.

Dan juga, durasi nongkrong anak Dolanz-Dolanz di Pok-We itu kadang nggak mengenal toleransi. Bisa dari siang sampai sore, dan mengambil slot meja yang banyak. Belum lagi gojek kere yang kadang membuat orang lain yang nggak kenal risih sendiri.

Dan satu-satunya alibi adalah karena ada 3 Dolaners yang ngekos disana, maka tempat itu segera menjadi meeting point yang paling ideal dalam janjian.

Dan hari ini, perjalanan menuju ke KETEP PASS, Magelang.

Formasi ditentukan dengan 12 personil yang ikut serta. Roman berhasil mengajak Edo, Dolaners yang hilang. Ano bareng Chica, lalu Chiko bareng Aya. Duo tak terpisahkan Bona dan Richard (nama ini sesuai request lho.. hehehe..) masih eksis berdoa. Aku memboncengkan Lani dengan sepeda motor barunya. Dan terakhir, Soe Hok Gie wanna be, Yama bersama Toni dengan motor Honda Grand legendaris AD AV.

“Berangkat ki?” tanya Chiko.

“Iyolah. Ngko ndak ono sik nangis meneh,” ujar Bona.

“Bonaaaa…,” sergah Aya.

Dan percakapan singkat ini sudah memberi tanda bahwa perjalanan dadakan ini dilakukan karena Aya menangis kemarin! Aha! Aku memang detektif jempolan, jempol kaki nan kapalan. Yah, lagian mana mau anak-anak lelaki liar ini diganggu jadwal PS yang sudah ter-planning lama itu dengan aktivitas yang melelahkan kalau nggak benar-benar kepaksa? Yak, kepaksa karena Aya nangis. So sweet sekali.. *sweet darimana yak?*

Perjalanan dimulai dengan rute standar yang jelas-jelas dipahami bersama. Yah kalau cuma dari Paingan sampai Magelang, Dolaners sejati pasti paham sak jalan tikuse. Hehehe.

Jalan ke arah Magelang sana sih sudah biasa pakai banget buat pelaku sekelas Dolaners, lha wong lurus-lurus wae. Bagian ini berubah ketika sudah belok kanan dan segera menanjak menuju puncak gemilang cahaya, menggapai cita seindah asa. Ini disorientasi dengan akademi fantasi sepertinya.

Aku beruntung dapat jatah motornya Lani yang notabene masih baru gress hingga gigi 2 pun masih kuat melibas tanjakan. Sementara Edo dengan mantap melibas jalanan karena emang punya cc yang juga gede dan termasuk baru juga. Sisanya? Aku nggak lihat. Bawa anak orang, yang punya motor pula, motor baru pula, jadi kudu eling lan waspada.

Ketep Pass sejatinya ‘hanyalah’ sebuah tempat ketika kita bisa menyaksikan puncak Merapi dari sisi yang berbeda. Tapi melihat pemandangan secakep itu tentu penyegaran tersendiri di masa ujian sisipan. Yah jelas aja, wong ujian nggak bisa garap, pasti butuh penyegaran kalau begitu.

Merapi View (Dokumentasi Pribadi)

Dan ketika motor kami satu per satu masuk ke area parkir, obrolan khas Dolaners mulai mengemuka.

“Lha kuat to Ton?” goda Chiko pada Toni yang membawa motor legendaris Yama.

“Lha iyo. Gigi 1 karo tak elus-elus.”

Yama selaku yang punya motor senyam senyum saja, pura-pura nggak tau kalau senyumnya itu sama sekali nggak manis, sepet lagi ada.

Chica lantas mengeluarkan benda legendaris lainnya dari Dolaners, kamera digital! Di era teknologi belum maju, benda bernama camdig yang boros baterai itu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga cemara. Beneran deh. Dan kebetulan, Dolaners adalah MAGITO alias…

Hayo tebak apa? Yak, benar! *apa coba*, MAGITO adalah manusia… gila… hayo to-nya apa..

Betul! MAGITO adalah manusia gila magito!

Eh, salah.. Hehe. Manusia Gila Foto! Ini baru bener.

Tiupan angin kencang di Ketep Pass sanggup membuat rambut Toni berkibar-kibar layaknya bendera di pucuk tiang. Namun tak sanggup menggoyahkan rambut Edo yang bagai bonsai beringin.

“Jagung yo cah?” ajak Chiko.

Dan seperti biasa pula, satu beli, yang lain juga. Tapi nggak semua sih. Jagung bakar itu tidak layak konsumsi kalau nggak bawa bekal minum dan tusuk gigi. Tapi ya aku beli juga.

Obral-obrol, eca-ece, gojak gajek, plendas plendus kami lakoni di dekat parkir motor itu. Tentunya sambil makan jagung. Dan perpaduan gojek kere bersama dengan tiupan angin itu lantas membuat jagung yang lagi dipegang dan dikerokoti Bona bersua dengan tanah.

“Waduh tibo.”

“Huahahahaha.. rasakno.”

“Belum lima menit.”

Bona lantas mengambil jagung itu dan melanjutkan kerokotannya. Sungguh tidak layak ditiru untuk kategori anak farmasi!

Hampir tidak ada yang dilakukan di ketinggian itu selain menikmati angin yang semakin lama semakin bisa bikin Yama melayang bak layangan dan menikmati keindahan pemandangan. Mau nambah jagung, kantong tipis.

“Muleh?” tanya Yama.

“Mampir sik omahku,” ajak Edo.

“Mangan ki?”

“Siap!”

Yak! Inilah gunanya teman! Rumahnya Edo memang ada di sekitar Pakem yang tentunya dilewati kalau mau pulang dari Ketep ke Paingan. Dan, ehm, makan gratis? Wah, sungguh keindahan hidup yang luar biasa bagi anak rantau, anak kos, dan mahasiswa pas-pasan, misalnya semacam aku.

Kami bersiap pulang, menempuh jalur yang sama. Meninggalkan Ketep dengan sindiran mendasar, “uda nih, puas? Nggak nangis lagi kan?”

Dan Aya hanya tersipu saja.

Setidaknya tangisannya berhasil membuahkan sebuah perjalanan. Dan percayalah, itulah sebenar-benarnya teman 🙂

Hoki vs Kerja Keras

Pernah punya teman dengan hoki maksimal? Menurut saya, ada. Sebutlah begini, giliran ada agenda undi mengundi, hampir pasti orang ini dapat. Giliran yang lain galau menggalau jomblo, tanpa perlu kerja keras, orang ini bisa punya pacar. Giliran mencari kerja itu susahnya minta ampun, orang ini bisa dapat kerja dengan 1 kali melamar.

Dan kebetulan, saya nggak masuk golongan itu.

Yak, nama saya pernah masuk juara lomba caption foto Bola tahun 2004, tapi itu nama saya, dengan caption foto kreasi adik saya. Jadi itu bukan saya. Nah, jadi jelas lah, kalau namanya undian-undian itu, saya nggak pernah berharap. Kenapa? Hampir pasti saya nggak dapat. Seumur-umur dapat undian itu cuma tempat pensil berbalut batik. Enough.

Dan perlahan saya sadar relasinya adalah dengan kerja keras.

Why? Syukurlah saya punya beberapa prestasi. At least, saya bisa dapat beasiswa dulu plus beberapa kali dapat duit dari lomba menulis. Intinya? Saya nggak punya hoki tinggi sehingga saya harus kerja keras untuk mendapatkan yang saya mau. Sesederhana itu saja.

Dan kadang saya ngiri dengan betapa mudahnya orang hoki mendapatkan segala yang dimaui. Tapi perlahan saya sadar, bahwa sejatinya, itu hanya bentuk pengalihan. Aslinya saya harus bekerja lebih keras untuk memperoleh apa yang HARUS saya dapatkan.

Hehehe.. Semangat!

Penipu Tanpa Hati Nurani

Sebuah pesan singkat alias SMS masuk ke HP saya, begini bunyinya:

“Yank tlong isikan dlu plsa 20rb di no’As ygku pake ini, penting banget nanti aq jelaskan.”

Dikirim dari nomor +6282347006316

Percayalah wahai saudara-saudari bahwa jenis penipu macam ini sama sekali tidak memiliki hati nurani. Saya sih rutin mendapatkan SMS-SMS sejenis ini. Mulai dari SMS jaman dulu. Nah cuma kita bahas beberapa tipe-nya.

Penipu berbasis handphone sejuta umat

Layar pertama:
Selamat anda memenangkan hadiah berupa sebuah mobil baru. Hubungi nomor X untuk konfirmasi.

Layar kedua:
Pengirim
Provider
345

Layar ketiga:
(blank)

Layar keempat:
(blank)

Layar kelima:
Pengirim
+62 sekian-sekian

Ini jenis tipu-tipu ketika layar handphone masih sama semua, dan menyasar pengguna handphone-handphone sejuta umat. Ironisnya, ada aja yang ketipu. Padahal sudah jelas kalau di layar awal pesan bukan nomor provider, tapi nomor biasa.

Penipu jenis ini ada yang hemat, misal begini:

SelamatAndaMendapatkanSebuahMobilYangBaruSajaDiservisUntukLebihLanjutHubNoIni12345678

Sudah jelas bahwa itu adalah SMS terakhir yang ia mampu kirim, buat nipu pula.

Ada juga penipu tipe 4l4y. Misal nih:

5eLaM4t e4aa Kk. qMu d4PEt b01L B4rU LoH cY1nn..

Mungkin bulu mata kita mendadak menjadi keriting hingga kemudian mampu ditipu dengan mudah.

Tipe terkenal, Mama Minta Pulsa. Modusnya:

Contoh versi Jawa. Iki Ibuk, lagi nang kantor polisi. Tolong isikne nomor iki. Ngko ibuk ganti.

Contoh versi Ekspor. This is Mom, i am in office nya police. Help, entry number this. Soon, Mom pay.

Mungkin itu versi ekspor labil.

Nah, yang paling mengenaskan dari tipe ini adalah kalau si penipu nggak kenal latar belakang yang ditipu. Seorang teman saya, yatim piatu dikirimi SMS beginian, dan dia sontak update status, “KALAU MAU NIPU MBOK MADANG SIK!”

Ehm, ada hubungannya makan sama nipu ya bro? Entah juga sih.

Versi yang agak lucu ketika seseorang memanggil ibunya dengan Bunda, Mami, Mama, Umi, dan lainnya tiba-tiba dikasih pesan singkat bunyinya begitu. Lha ya jelas nggak masuk lah. Ini jenis penipuan yang penuh perjudian.

Dan anehnya, masih ada aja yang ketipu. Haduh.

Tipe Mama Minta Pulsa, ke Papa.

Yak, ini menyasar kaum pasutri. Jadi, ada pesan singkat kalau si Mama lagi kehabisan pulsa, dan minta ke Papa. Ada juga yang sebaliknya. Statusnya sih aneh, karena namanya pasutri yang baik dan benar mestinya mengenal dengan jelas tipe SMS pasangannya masing-masing. Kecuali kalau pasangannya lebih dari satu *eh*

Tipe ini juga tidak mengenal hati nurani. BAYANGKAN! Seorang cowok maskulin bin tampan mendapat SMS, “Ma, tolong isikan pulsa.”

Gimana itu handphone nggak mau dibanting seketika? Rugi fitness mahal-mahal plus perawatan.

Pun sebaliknya, cewek aduhai bin semlohai dikasih SMS, “Pa, ini Mama, tolong isikan pulsa.”

Dan itu cewek kabur dari salon sebelum sempat membayar.

Itu kalau sama-sama punya pasangan. Lha bayangkan kalau seseorang yang sudah menjomblo dua abad dan mengharapkan suami atau istri yang turun dari langit, tiba-tiba mendapat SMS itu. Sudahlah dapat suami atau istri dadakan, eh kerjanya minta pulsa pula. Sungguh kasihan.

Dan yang lagi kontekstual adalah tipe yang pertama kali saya kasih contoh, Pacar Minta Pulsa.

Kenapa saya bilang penipu jenis ini sangat tidak memiliki hati nurani? Bayangkanlah, kalau seseorang yang jomblo tiga abad dan berharap ada pacar yang bisa saling memanggil yank-yankan ala anak muda pinggir kali, tiba-tiba mendapat SMS macam itu. Ada beberapa opsi:

1. Si jomblo akan menelepon nomor itu, berharap itu benar jodohnya yang turun dari langit.
2. Si jomblo akan membalas SMS, dan bertanya, A/S/L *chatting mode on*
3. Si jomblo akan berteriak gembira karena tiba-tiba ada yang memanggilnya ‘Yank’
4. Si jomblo akan membanting handphone karena tahu ia ditipu dengan cara yang menyinggung perasaan.
5. Si jomblo sambil terseyum mem-forward SMS itu ke gebetan sambil bertanya, “Ini ada yang panggil aku Yank lho.Padahal aku maunya manggil itu ke kamu.” Dan mereka kemudian jadian. Sungguh penipuan yang menjad manis.

Yah begitulah kira-kira sedikit ulasan penuh kengawuran dari saya. Semoga dapat menggelapkan yang cerah.

Salam gerah!

Happy Wedding!

Entah ini kebetulan atau tidak, tapi semester 1 2012 diawali dan diakhiri oleh kondangan.

1 Januari 2012, saya lari-lari (baca: terbang) dari Padang menuju Jogja untuk menghadiri #1 pernikahan Dolaners atas nama Boris, dan 30 Juni 2012, saya ngesot (baca: nyepur) dari Jakarta menuju Jogja untuk menghadiri #2 pernikahan Dolaners atas nama Budi alias Yoyo.

Tapi saya nggak percaya ini kebetulan, karena ini adalah singgungan berbagai peristiwa pada titik yang tepat. Kenapa?

Karena dua teman yang habis nikah ini, sama2 JB nikah sama GNB. Hehehe..

Oke, bukan itu inti posting ini.

Kadang menjadi pertanyaan bagi emak saya tentang saya yang berkeliaran semata-mata kondangan. Ehm, bukan karena saya hendak mencuri bunga di keris atau pula menangkap bunga yang dilempar. Tidak sama sekali. Ini semata-mata soal pertemuan kembali.

Kalau di Januari berasa kurang unik karena saya sendirian dari Padang. Nah yang kemarin ini, karena yang nikah adalah anak 2004 dan 2005, maka berangkatlah belasan manusia dari Stasiun Senen dengan Senja Utama Solo. Belum cukup, yang Taksaka juga ada loh. Masih ada pula yang dari Bandung menuju Jogja. Semuanya akhirnya ketemu di Balai Desa Jatiayu (kalau nggak salah) untuk resepsi.

Well, kita nggak bicara soal nominal uang disini, meski itu juga penting. Sebagian dari peserta kondangan itu, hari Minggu pagi ini sudah balik ke lokasi meraup rupiah masing-masing. Intinya? Ya datang karena mau kondangan.

Yang menjadi note disini adalah ketika kita melihat teman di pelaminan, itu ada sensasi juga. Sensasi pengen? Ehm, ya iya juga sih. Hahaha.. Tapi ketika kita bertemu dengan teman-teman semasa kuliah, berkisah soal masa lalu, bercerita kembali soal masa silam, tertawa mengenang tragedi, dan semua aktivitas lain yang campur aduk jadi satu. Itu priceless. Sungguh.

Apalagi ketika yang manten kemaren, menganggap saya comblang-nya. Hahaha.. Padahal ya saya biasa wae sih. Itu dulu kan kenakalan masa muda. Kalau pas jadi (pacaran) ya syukur. Tapi ada senangnya juga sih melihat pasangan yang mana kita terlibat dalam prosesnya, bisa berada di pelaminan. Turut berbahagia untukmu kawan.

Dan untuk pertanyaan: kamu kapan? saya punya refleksi tersendiri berdasarkan guyon bawah pohon.

Jadi gini, piala Donalers itu difoto lalu dipasang di DP BBM. Nah karena ada kode #2, maka teman lain komen, ” kir0-kiro aq nomor piro yo?”

Sebuah jawaban gojek kere: yo nek ora 17 yo 18 lah..

What a long time! Hahaha..

Tapi namanya juga guyon Dolaners, nggak boleh sakit hati. Kapan itu hanya akan dijawab oleh kesiapan. Kesiapan? Ini akronim, KEmauan untuk SIAP menempuh tANtangan. Kita nggak bisa menunggu, karena bakal lama juga. Yang penting mau untuk siap. Sisanya biarlah jalan ke depan. *Hasil obrol sambil sarapan*

Dan kini saya mengetik posting ini dari sebuah warnet di Paingan, sebuah desa penuh kenangan. Sentimentil sekali. Sebentar lagi bakal menuju tempat meraup rupiah, bertahan hidup. Sebuah siklus hidup mendasar manusia yang sejatinya sederhana.

Happy Wedding my friends!

Senyum Abadi

“Wer ewer ewer ewer ewer.. Ewer ewer…”

Suara pria separuh wanita–atau mungkin sebaliknya–itu membangunkanku dari tidur yang tidak enak. Yah, namanya juga kereta bukan eksekutif, mana bisa tidur enak. Lha kalau kereta eksekutif saja telingaku harus disibukkan oleh tawaran berbagai makanan, mulai dari nasi goreng hingga kentang goreng, juga minuman mulai dari es teh manis hingga kopi panas.

Apalagi kereta bisnis?

Mulai dari ratingdeng sampai mijon, dan bahkan hingga pijet, semuanya ada. Memang luar biasa. Tapi sesungguhnya semua itu mengganggu tidurku. Aku tidak bisa tidur dengan nikmat. Dan pagi ini aku dibangunkan oleh duo ewer-ewer.

Hmmm, tak masalah sih. Bagiku ewer-ewer ini justru menjadi pertanda jelas. Yak, ini sudah stasiun Wates. Tak lama lagi, Jogja.

Dan kereta api Senja Utama Jogja itu mendengus perlahan memasuki tempat-tempat yang perlahan makin aku kenal. Sawah di sisi kanan, hingga rumah kos di daerah Wates tempatku tinggal sebentar dulu. Perlahan dan perlahan lagi akhirnya sampai di kota Jogja, hingga aku lihat kewek.

Ini dia, stasiun Tugu.

Terakhir kali di tempat ini, aku diantar oleh seorang gadis, berpisah dengan pelukan manis. Ah, sebuah masa yang tak terkatakan.

Rombongan porter berebut masuk, bersamaan dengan penumpang yang keluar. Mukaku kusut kurang tidur, tapi aku paksakan untuk bangkit dan keluar.

Kaki kananku menjejak marmer putih di stasiun terkenal itu. Kuhirup sedikit dalam udaranya, dan aku mengerti bahwa ini Jogja. Kenangan merasuk ke dalam tubuh dan jiwaku. Inilah dia kota itu, ketika semua kenangan terkumpul jadi satu.

Aku keluar dari sisi Mangkubumi. Jalan cukup jauh ke depan, tentu dengan tawaran dari kiri dan kanan, mulai taksi (gelap), taksi (terang), hingga becak. Aku memilih untuk menolak semuanya, karena aku ingin mengenang.

Kenangan yang harus dipaksa untuk diingat, agar nanti aku segera lupa. Lelah aku untuk mengenang semuanya.

Langkah kakiku yang tertekuk semalaman satu persatu melangkah di sepanjang Mangkubumi. Ah, tempat ini sudah tak sedamai dulu. Jauh, jauh dan jauh lebih ramai dari 11 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali menjejak kota ini.

Tubuh lelah ini sampai di sebuah lapak gudeg pinggir jalan.

“Bu, setunggal, ngagem ayam.”

“Nggih Mas.”

Entah ini pemandangan apa, aku tak mengerti. Tapi buatku, gudeg itu yang sebenarnya adalah yang dijual oleh orang dengan level Mbah-Mbah. Kalau tidak, menurutku kurang enak. Ya sama persis ketika aku masuk ke warung berlabel warung Padang tapi dilayani dengan bahasa Jawa. Sensasi enaknya berkurang signifikan.

Gudeg, jalanan ini. Ah! Untung ini masih siang. Kalau saja ini sudah malam, maka kenangan itu akan semakin merajalela di pikiranku. Ya aku jarang beredar pagi-pagi, tapi kalau malam hari, jangan ditanya. Disitulah kenanganku terbentuk, satu persatu.

Perjalananku berlanjut, tubuh gontai ini menapak kembali langkahnya di kota tempat ia terbentuk menjadi manusia.

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”

Yak! Pengamen yang tiba-tiba ada di sebelahku dengan sukses menyibak tabir yang selama ini aku tutup, membuka kekelaman yang selama ini aku bungkam. Dengan sukses, ehm, sangat sukses bahkan!

* * *

“Sesungguhnya, ku tak rela…”

Tanganku terjulur memberikan sejumlah koin kepada pengamen bersuara indah ini. Tapi bagiku akan lebih indah kalau dia pergi. Aku butuh suasana tenang.

“Kok disuruh pergi?” tanya Raras.

“Nggak apa-apa. Galau lagunya.”

“Yah, kenapa? Ada hubungan dengan suasana?”

“Sedikit.”

“Oke. Jadi apa yang mau dibicarakan?”

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Nafas udara malam Jogja yang belum banyak kontaminasi.

“Aku sayang sama kamu, Ras.”

“Hmm, tapi mukamu sendu begitu?”

“Yah justru itu. Aku sayang sama kamu, tapi ternyata aku tidak bisa memiliki kamu sepenuhnya.”

“Masih masalah yang sama?” tanya Raras sambil melempar pandang ke sekeliling.

“Sepertinya masalah diantara kita hanya itu.”

“Dan itu yang terbesar, Jo.”

“Yah begitulah. Aku takut, semakin kita tidak mengindahkan masalah ini, semakin aku bertambah sayang pada kamu, dan semakin aku akan membuat hubungan ini menjadi penderitaan.”

“Maksudmu, Jo?”

“Yah, kalaulah kita menikmati kebersamaan kita, di saat sebenarnya kita tidak bisa bersatu. Pada akhirnya kita akan berpisah kan? Kalau itu terjadi nanti, ehm, akan sangat jauh lebih susah untuk melepaskanmu Ras.”

“Hmmmm, satu tembok ya Jo. Tapi memang terlalu tinggi.”

“Ini berat, Ras. Tapi akan jauh lebih baik buatmu. Memang sebaiknya kita berpisah.”

Raras terdiam, pandangnya masih di tempat yang sama. Nasi goreng sapi yang biasanya lahap disantapnya, kali ini terdiam manis dan malah digapai lalat.

“Mungkin memang begitu Jo. Setidaknya kita masih bisa menjadi teman yang baik.”

“Itu pasti, Ras. Kamu pasti akan jadi teman terbaikku.”

“Cinta itu ya begini kali Jo. Menggelitik. Bikin aku jatuh cinta pada kamu, tapi dengan pandainya membuat kita tidak bisa saling memiliki.”

“Mungkin iya, Ras. Sukanya main-main.”

“Atau mungkin kita yang mempermainkannya, Jo?”

Giliran aku yang terdiam. Bahwa tembok ini sudah aku tahu dari awal, dan tetap aku anggap tiada. Hingga kemudian aku sadar bahwa tembok ini ada dan nyata, tertulis jelas di KTP bahkan.

“Yah, mari kita lanjutkan hidup kita Ras. Pasti ke depan akan lebih baik.”

Aku menutup perpisahan di malam itu dengan mengalihkan pandangan ke nasi goreng sapi di depanku. Kutolehkan kepalaku sekejap, sebuah senyum manis Raras terkembang disana. Ah, senyum itu, masih sama dengan senyum yang membuatku jatuh hati padanya.

* * *

Langkahku masih sendirian saja, tidak akan yang menemani. Sebuah pertemuan, dan permainan yang aku ciptakan sendiri, lantas diakhiri dengan perpisahan yang juga aku buat sendiri. Semuanya terkuak di depan mata.

Dasar pengamen di sebelah ini tahu saja.

“… katamu hadirkan senyummu abadi..”

Raras, senyummu pasti abadi dalam hidupku. Selamanya.

* * *

Sebuah interpretasi dari lagu Jogjakarta-nya KLA Project.

Cowok Capricorn dan Cewek Virgo

pablo (2)

Yah, namanya program memuaskan orang tua, yang selalu bertanya calon menantu. Bukan kabarnya, tapi ada atau nggak. Hedeh dot com.

Ini sih buat suka-suka saja. Dikutip dari sini.

Capri dan Virgo punya hubungan yang baik dengan banyak berbagi dan memuji diantara mereka. Pasangan ini santai dan stabil. Keduanya menaruh perhatian pada akar hubungan yang kuat. Cowok Capri sangat ambisius dan keras kepala, dalam hal meraih mimpinya. Ia adalah pekerja keras dengan tekad keras dan kesabaran tinggi. Hal itu sangat penting bagi cowok Capri dalam rangka menggapai level lebih tinggi secara sosial dan finansial. Ia sering menaruh perhatian pada apa yang dipikirkan orang tentang dia. Cowok Capri juga sangat protektif pada orang-orang tersayang dan tentunya loyal. Gadisnya cowok Capri akan mendapatkan semua cinta dan perhatian jika ia mendedikasikan diri untuk si cowok dan keluarganya.

Cewek Virgo itu feminin dan intelek. Pada semua aspek, dia butuh struktur yang jelas dan efisiensi. Cewek Virgo adalah ibu dan istri yang baik. Jika ia mencintai pria, maka itu dilakukan dengan loyal dan memberikan cinta sepenuhnya.

Cowok Capri meyakini bahwa cewek Virgo dapat masuk ke keluarganya degan baik.  Cewek Virgo akan membantu sekali dengan support dan nasehat-nasehatnya.  Cowok Capri sangat stabil dan membuat cewek Virgo nyaman dengan hubungan yang ada. Ia adalah penantang dunia yang akan membuat gadisnya bangga. Cowok Capri sangat kritis pada diri sendiri dan disiplin kalau tahu dia salah, dan ini butuh apresiasi dan feedback. Inilah yang didapatkan dari cewek Virgo. Mereka punya pemenuha yang sama untuk cinta. Ya kadang-kadang muncul sikap egois, tapi selalu dimaafkan. *baik bener yak…*

Terdapat pengertian yang tidak terucapkan antara keduanya sejak awal. Kejujuran Virgo membawa Capri masuk ke dalam harmoni yang asyik. Dengan kesamaan itu, Capri melindungi gadisnya dengan emosional mendalam. Cintanya tanpa harapan tinggi.

They don’t love to be loved; they love to love.

* * *

Yah ini cuma mengutip. Sambil ngiler. Hedeh.

#300

Buat saya ini gila.

Yah, ketika blog ini dimulai dengan memakai domain jadul kreasi 2008, siapa yang mengira jalannya akan semacam ini. Dan yang bikin agak unik, blog ini dimulai beberapa waktu sesudah ada tawaran menarik untuk karier, dan angka 300 juga tercapai tidak jauh dari hal yang sama.

Apa saya begini-begini saja?

Entahlah.

Ya, buat saya 300 itu angka yang besar untuk dicapai dalam waktu 1,5 tahun saja. Ehm, ada bulan-bulan ketika saya bisa menulis hingga 40 post, tapi untunglah sejak Januari 2011 itu, saya belum pernah putus menulis sebulan. Setidaknya kontinuitasnya bisa dilihat di sisi kanan blog ini.

Jadi apa makna 300 ini?

Nggak lebih dari karya. Saya punya 300 post yang total jenderal dilihat 35 ribuan kali. Masak yang begitu nggak disyukuri?

Jadi, terima kasih kepada SELURUH pembaca ‘Sebuah Perspektif Sederhana’. Meski perlahan isinya tidak lagi sederhana, setidaknya masih ada yang meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya.

Semoga saya bisa lanjut ke 400, 500, 1000, dan angka-angka milestones lainnya. SEMOGA!

Sebuah Percakapan

Aku datang, sendiri, ke tempat yang sangat aku rindukan ini. Sebuah tempat di ketinggian, dengan suasana sunyi senyap nyaris horror. Tapi meski ada dua pohon beringin disini, aku tidak merasa ketakutan. Sosok tersenyum yang menjulang di depanku membuatku tidak merasa takut sama sekali.

“Mengapa kau datang anakku?”

“Sekadar ingin bertanya.”

“Tanyakanlah.”

“Aku mensyukuri yang aku dapat sepenuhnya, terima kasih sepenuh hidupku untuk itu. Tapi ada sedikit yang aku heran.”

“Apakah itu?”

“Aku memohon untuk satu hal, namun yang datang kepadaku justru hal lainnya. Apakah maksud dari itu?”

Sosok itu tersenyum penuh ketenangan. Damai yang tidak pernah aku rasakan. Ah, mana ada damai di dunia yang semakin keras? Mana ada damai ketika semua sibuk mengetengahkan ego sendiri dengan dalil kepentingan bersama? Mana ada damai ketika semua sibuk membenarkan diri sendiri? Mana ada damai ketika setiap masukan yang diberikan dianggap sebagai aib?

Hanya senyum itulah yang menenangkan.

“Kamu bermasalah dengan yang datang itu?”

“Tentu tidak.”

“Kamu bersyukur?”

“Dengan sepenuh hidup.”

“Kenapa kamu masih bertanya?”

Aku terdiam. Sebuah pukulan balik untukku.

“Kamu berdoa sepanjang waktu untuk sebuah permohonan. Aku meyakini itu bukanlah yang terbaik untukmu.”

“Artinya aku mendapat yang lain, yang sejatinya lebih baik?”

“Aku hanya memberikan yang terbaik untukmu.”

“Terima kasih untuk itu.”

“Pulanglah. Nikmatilah berkatmu.”

Aku menunduk sedikit, lalu mundur. Kedamaian ini memang hanya berlangsung sebentar. Sedikit lagi aku akan menikmati lagi dunia tanpa damai. Ah, itu kan nanti.

Anak tangga yang kecil-kecil itu kupijak dengan santai. Setiap pijakan mengingatkanku pada percakapan tadi. Aku memohon dengan sangat untuk suatu hal, namun aku justru diberikan hal yang lain. Sebuah hal yang pada akhirnya menjadi nyata bahwa itulah yang terbaik untukku. Jadi untuk apa aku mempertanyakan?

Bahwa jalan terbaik untuk hidup adalah bersyukur. Aku perlahan mencoba memahami itu lewat anak tangga yang membawaku pada dunia yang sebenarnya.