All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Pria Yang Punya Rasa

“Jangan pernah mau disentuh-sentuh cowok, apalagi yang lebih jauh,” ujar temanku berkali-kali, dan kebetulan diulang lagi.

“Emang kenapa?”

“Pasti nanti diceritain sama temen-temennya. Eh, gue udah nyium dia, gue uda ngapa-ngapain dia.”

Aku terdiam. Selintas kemudian, aku bersyukur. Setidaknya aku berada di pergaulan yang benar.

“Nggak semua cowok kayak gitu kali.”

Nggak semua, karena proses pendewasaanku mengajari demikian. Cerita antar lelaki yang aku tahu adalah tidak jauh-jauh dari rasa, bukan nafsu. Karena, ada yang bilang, sesejati-sejatinya lelaki, adalah lelaki yang mengandalkan rasa alih-alih nafsunya.

Nah, mau tahu tipe-tipe obrolan cowok berbasis rasa. Berikut paparannya.

1. Labil sesi 1

“Piye, Bon?” tanya Chiko sambil menepuk bahu Bona.

“Mbohlah.”

“Lha piye?”

“Yo, mboh.”

“Putus wae po?”

“Nggak. Kalo nggak sama dia, mending aku jadi homo.”

Beberapa hari kemudian, Chiko dan Bona bertemu lagi.

“Piye?”

“Wis ah, sekarang realistis wae,” ujar Bona, dengan pandangan tetap menerawang.

Cowok yang punya rasa memiliki kecenderungan labil, antara mempertahankan atau realistis.

2. Kurang Ajar edisi 1

“Ko, pinjem motor?” teriak Roman dari depan kos.

“Meh nangndi?” tanya Chiko, sambil tetap tiduran.

“Sono.” Roman menunjuk arah utara.

“Belok kiri opo kanan?”

“Lha ngopo emang?”

Cowok yang punya rasa, pasti akan berpura-pura soal ini. Ya begitulah, ke kanan itu menuju arah kos Adel. Kalau ke kiri itu menuju kos Eny, TTM-nya Roman.

“Kiri kanan?”

“Kiri lah,” rapal Roman sambil menyambar kunci motor Chiko.

Cowok yang punya rasa, cenderung tidak menutupi sesuatu atas nama kepura-puraan, meskipun itu tetap kurang ajar namanya.

3. Labil sesi 2

“Kowe masih kontak sama Irin?” tanyaku terkejut.

“Iyo. Udah putus kok dia.”

“Setelah yang dia lakukan sebelumnya.”

“Iyo bro. Kalau nggak sama dia, aku nggak bakal nyari yang satu fakultas lagi.”

“Tak catet omonganmu, Ko.”

Beberapa bulan kemudian, sisi labil terungkap.

“Wis ora?”

“Lha aku dicuekin terus. Pengen ketemu, terus tak sudahi wae,” ujar Chiko.

“Iyolah.”

Dan tak sampai 3 bulan.

“Wis jadian po kowe?”

“Wis.”

“Sama Cintia?”

“Iyo.”

“Lha, katanya nggak mau yang satu fakultas lagi.”

“Ya, setiap hal ada perkecualiannya lah,” kekeh Chiko, ala playboy. *halah*

Cowok yang punya rasa tidak akan punya keputusan yang menetap, semuanya relatif, termasuk perkecualiannya.

4. Kurang ajar edisi 2

“Lha Alin ki duwe bojo?”

“Iyo.”

“Ngopo kowe deket-deket?” berondong Chiko.

“Nggak apa-apa toh?”

“Pacar orang kuwi.”

“Iyo. Ngerti,” sahutku.

Hari-hari berikutnya.

“Masih kontak sama Alin?”

“Masih.”

“Awas wae kena batunya kowe.”

Dan cowok yang punya rasa itu hampir pasti kena batunya. Termasuk aku menemukan batu yang itu. Gede pula.

5. Konsisten

“Lha kowe ngopo kudu golek suku kuwi?” selidikku.

“Panjang ceritanya,” sahut Prima. Dengan tenang, panjang kali lebar kali tinggi, ia menjelaskan perihal seleranya terhadap cewek dari satu jenis ras.

“Yo terserah sih. Saranku sih, realistis wae.”

“Yo iki, wis realistis cah.”

Dan berikutnya, yang kudapati adalah Prima belum pernah berhasil mendapatkan kekasih dari etnis yang ia tetapkan. Cowok yang punya rasa itu cenderung konsisten. Meskipun outputnya adalah konsisten ditolak.

6. Tidak Percaya Sebelum Melihat

“Eh, eh, aku ono cerito,” bisik Bayu. Aku mendekat mendengarkan.

“Tadi, aku ke kosnya Putri. Malah ketemu Danu. Mana Putri lagi tidur di pahanya Danu pula.”

“Lha ngopo juga kowe kesana?” tanyaku.

“Ya, pengen aja.”

“Udah denger kan kalau Putri sama Danu?”

“Ya, pengen lihat.”

“Abis lihat? Terus galau kan?”

“…….”

Yah, meski pahit, cowok yang punya rasa cenderung ingin memastikan sendiri. Sekalian ingin memecahkan hatinya sampai berkeping-keping untuk kemudian membangunnya kembali.

Kira-kira begitu 🙂

 

Sebutlah Itu Panggilan

Cah! Aku nemu skenario Jomblo Box!”

Sebuah pesan singkat masuk di handphoneku yang bututnya minta ampun. Persis ketika pesan singkat dari Adan masuk, handphone-ku mati. Jadilah aku membuka baterai sejenak kemudian menyalakannya kembali. Selalu demikian setiap kali aku menerima pesan singkat. Selalu menderita. Dan jangan pula melakukan panggilan telepon denganku. Kecuali handphone-ku sedang tersambung charger, maka panggilan telepon akan membuatnya mati segera.

Mau beli baru? Tidak bisa. Maklum, sejak aku memutuskan untuk keluar dari farmasi dan beralih ke keguruan, minta duit ke orang tua menjadi tabu bagiku. Ah, keputusan ajaib itu.

“Kamu mau pindah jurusan?” tanya Papa dengan suara tinggi.

“Iya Pa,” jawabku berusaha tenang.

“Bahkan uang untuk kamu masuk farmasi saja belum lunas, Leon!”

“Baik Pa, nanti Leon ganti kalau sudah ada uang.”

“Memangnya apa masalahmu?”

“Leon nggak enjoy Pa. Sangat sangat tidak menikmati. Leon nggak bisa bergaul dengan apalah itu namanya reaksi kimia. Nggak bisa, Pa.”

“Itu kan baru dasar Leon. Nanti ke depan pasti lebih menarik.”

“Nggak Papa. Buat Leon jadi guru lebih menarik dan menantang.”

“Maksudmu Leon?”

“Aku mau pindah keguruan Pa!”

“Jadi guru?”

“Ya!” ujarku mantap.

“Ya ampun Leon. Kapan kamu kaya kalau cita-cita kamu begitu?”

“Emang hidup hanya untuk kaya ya Pa? Nggak Pa. Hidup itu lebih dari itu!”

“Anak kecil ngomong hidup. Nggak usah sok-sokan Leon. Nggak ada cerita kamu pindah jurusan, apalagi ke keguruan. Titik.”

“Tapi, Pa..”

“Tidak ada sanggahan. Tidak adalah tidak.”

Aku beranjak. Entah apa yang ada di pikiran Papa sehingga aku tidak boleh pindah jurusan. Tapi aku adalah aku, sama kerasnya dengan Papa.

“Tidak adalah tidak juga berlaku untuk Leon, Pa.”

“Ngeyel kamu?” bentak Papa.

“Untuk kebaikan Leon sendiri. Leon akan tetap pindah jurusan.”

“Anak durhaka.”

Aku pergi. Dan sejak itu, pulang ke rumah serasa pulang ke kuburan. Sunyi. Tidak ada hubungan yang apik antara aku dan Papa, antara anak dan orang tuanya. Aku tahu, Papa masih sering mencari tahu tentang kemajuan akademisku dari Mama.

Yah, hanya Mama yang memberi sedikit kehangatan di tempat aku tumbuh besar ini. Dan Mama sendiri takluk pada kerasnya Papa, sehingga cenderung tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kamu punya uang Leon? Ini kan sudah semester baru,” tanya Mama suatu kali saat tiba-tiba masuk ke kamarku.

“Tenang Ma. Leon sudah menyiapkan semuanya.”

“Kamu yakin?”

“Pasti Ma. Tenang saja.”

“Baiklah, kalau kamu ada kesulitan, bilang sama Mama ya. Berapa IP kamu semester kemarin.”

“Lumayan Ma. IPS-nya 3.88, jadi IPK Leon 3.50. Belum Cum Laude Ma. Semester depan Leon usahakan.”

“Anak Mama memang pintar. Sayangnya, keras kepala,” risau Mama sambil mengelus-elus kepalaku.

“Sama kayak Papa. Turunan persis. Iya kan?” kataku sambil tersenyum, “Percaya Ma. Leon pasti akan berhasil di sini. Tenang saja.”

“Kamu keras, tapi kamu kuat Leon. Nggak sia-sia Papa kasih nama kamu Leonard.”

Aku tersenyum, berupaya tampak tak ada masalah dalam hidupku. Mama lantas beranjak pergi. Aku kembali dalam lamunanku di atas kasur.

Michael Leonard, itulah nama lengkapku. Kalau kata Mama, kedua nama itu adalah gabungan nama dua petinju terkenal. Michael itu diambil Papa dari Michael Moorer, petinju kelas berat. Sedangkan Leonard diambil dari nama Sugar Ray Leonard, legenda tinju pada masanya. Dan begitulah, Michael Leonard melekat pada akte kelahiranku, meski lantas panggilanku menjadi imut, Leon.

Etimologis nama itu tampak juga mempengaruhi karakterku. Aku keras, persis petinju, dan persis Papa. Jadi, kalau sudah berdebat dengan Papa, maka rumah akan menjadi sangat bising. Seringkali Mama menengahi dengan memintaku untuk mengalah, sesekali meminta Papa yang mengalah. Tapi, dua keras yang bertemu tentu tidak akan dengan mudah mengalah, meski demi Mama sekalipun.

Aku tahu, pada dasarnya Papa keras padaku karena sayang. Tidaklah ada orang tua yang membenci anaknya, separah apapun kelakuan anaknya. Untuk keputusanku pindah ke keguruan, aku yakin itu hanya kesalahan perspektif Papa saja. Papa sampai sekarang adalah seorang guru, namun entah mengapa perspektifnya berbeda dengan guru-guru lain. Teman-teman Papa dengan rela dan suka hati menyekolahkan anaknya yang bercita-cita menjadi guru, tapi Papa tidak.

“Pendidikan itu bisnis Leon. Nggak usah kamu ikut dalam arus macam ini,” sebut Papa dalam suatu diskusi keras bersamaku.

“Tapi bukankah itu pengabdian, Pa?”

“Apakah kamu bilang pengabdian kalau konsep-konsep ujian nasional, remidi, dan segala pendekatan yang mendewakan siswa itu dilakukan?”

“Bukankah pendidikan itu untuk memintarkan siswa, Pa?”

“Papa akan sangat setuju kalau kamu jadi guru pada jaman Papa, bukan sekarang. Ada berapa banyak siswa kurang ajar sekarang? Ada berapa banyak siswa yang menganggap tidak mengerjakan PR itu biasa? Ada berapa banyak siswa yang datang ke sekolah hanya untuk pameran mobil barunya? Ini realitasnya Leon. Papa tahu, dan Papa ingin kamu hidup lebih baik.”

“Bagaimana kalau ini panggilan Leon, Pa?”

“Panggilan itu soal mendengar dan melakukan Leon. Kamu bisa saja mendengar, tapi toh kamu tak harus melakukan. Percaya sama Papa, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa.”

Sebagian dari kisah Papa pada akhirnya aku temui benar. Aku tidak dapat menyalahkan Papa sepenuhnya soal ini. Aku membiayai kuliahku dengan mengajar privat kimia. Sebagai mahasiswa keguruan kimia, tentu tidak sulit bagiku mendapat anak didik. Bahkan aku sampai menolak tawaran privat, saking padatnya jadwal.

Aku mengamati fenomena anak didik yang betul-betul tidak peduli pada tugas yang diterimanya di sekolah. Aku juga mengamati rasa malas-malasan sepulang dari sekolah. Aku menangkapnya dengan jelas. Tapi bukankah itu bisa diubah? Itulah panggilanku, maka aku memilih berdiri di tempatku sekarang.

Wey sombong. Ora bales SMS!”

Pesan singkat lagi, kali ini handphone-ku tidak mati karena memang sedang bertemu charger. Handphone butut ini sudah semacam telepon rumah. Kalau telepon rumah tidak bisa lepas dengan kabel koneksi, maka handphone ini tidak lagi bisa lepas dari charger. Maka, buatku, charger adalah kebutuhan primer keempat selain sandang, pangan, dan papan. Anak-anak lesku juga paham soal ini karena aku selalu mencari colokan listrik setiap kali sampai ke rumah mereka.

Ngerti dewe hp-ku. Lha piye? Digawe po?”

Pesan singkat balasan dariku meluncur ke Adan.

“Hahaha.. Biasa.. Isu tanpa konsep. Itulah kita.”

Ya, itulah kita, selalu begitu balasan Adan. Aku, Adan, Ola, dan Yo adalah pertemanan yang penuh dengan ide, namun minim realisasi. Tapi aku menikmati pertemananku dengan mereka, meski sekarang statusku adalah adik kelas mereka.

Adan dan aku adalah teman satu kelompok waktu inisasi fakultas. Aku sendiri sekelas dengan Ola dan bahkan satu kelompok praktikum dengan Yo. Ketika aku memutuskan keluar farmasi sesudah semester dua, mereka sempat kaget.

“Yakin kowe?” tanya Ola lembut, sesuai takdirnya sebagai satu-satunya hawa dalam persahabatan kami.

“Kudu yakin, La.”

Ora eman?” kali ini Yo yang bertanya, “Tukang cuci kayak aku wae bertahan kok. Nanti yang gawe laporan siapa nek kowe keluar Le?”

Yo, dalam kemalasannya, memang menjadi tukang cuci alat gelas ketika praktikum dan selalu meminjam laporanku untuk dicontek pada H-1 pengumpulan laporan.

“Diatur wae Yo!” tandasku ringan.

Adan menambahkan, “Ya, kalau itu pilihanmu Le, silahkan saja. Aku sih bisanya bilang gitu. Sebutlah itu panggilan, yo kudu dituruti Le.”

“Sip! Kalian memang teman paling joss sedunia.”

Pria Yang Setia Pada Janjinya

Adit tampak gundah, tangannya sesekali mampir ke kepala dan merusak tatanan rambutnya. Raut mukanya juga lesu. Betul-betul tanpa gairah sama sekali. Sendirian, ia berjalan tanpa arah dan tujuan di taman belakang kampus.

Tiba-tiba kakinya seperti terantuk sesuatu.

“Asem!” teriaknya. Mahasiswa Jogja memang selalu punya cara untuk mengakomodasi umpatan sehingga tampak lebih halus.

Adit menunduk, memegangi kakinya yang hanya tertutup sepatu sandal. Bagaimanapun, itu sakit. Untunglah Adit tidak melihat adanya luka pada kakinya. Menyadari kakinya baik-baik saja, Adit penasaran pada benda yang mendadak mampir ke kakinya. Adit hobi jalan-jalan sendiri di taman belakang kampus dan paham setiap detail di tempat ini. Baginya, terantuk sesuatu di tempat yang sangat dikenal, adalah keanehan.

Raut muka gundah dan lesu segera bertambah ekspresi penasaran. Rasa itu muncul ketika Adit melihat sebuah kotak kayu kuno tergeletak manis ditutupi dedaunan.

“Sejak kapan ada barang begini disini?” gumam Adit sambil membersihkan kotak itu dari dedaunan. Tangannya menelusuri setiap bagian dari kotak kayu kuno dan mendapati sebuah buah gembok disana.

“Kotak itu akan menjawab mimpimu, anak muda.”

Adit kaget sejadi-jadinya melihat seorang pria berjenggot putih 1 meter sudah ada di hadapannya. Alih-alih bertanya lebih lanjut, Adit mengambil langkah seribu. Kabur.

Dengan nafas terengah-engah, Adit terkapar di Lorong Cinta yang terletak di tengah kampus. Kepalanya sesekali menoleh ke belakang berharap pria berjenggot putih 1 meter itu tidak mengikutinya. Kampus di sore hari pada hari Minggu tentu saja sepi. Adit berada di area maha besar itu sendirian.

Ketika nafasnya mulai tertata rapi, Adit mengambil posisi duduk yang lebih nyaman, bersandar pada pilar Lorong Cinta. Tangannya menimang kotak kayu kuno dengan sebuah gembok. Pikirannya melayang pada perkataan pria berjenggot putih 1 meter.

“Kotak ini akan menjawab mimpimu!”

“Kudu dibuka kalau gitu,” kata Adit, tentu kepada dirinya sendiri, “Tapi piye?”

Adit membolak-balik kotak kayu kuno itu, berharap ada metode lain membuka kotak tersebut tanpa harus mendapatkan gemboknya. Lima belas menit dan puluhan kali bolak-balik, Adit berhenti pada keputusasaan.

“Dit!” Tiba-tiba Vita datang dan menepuk bahu Adit dari belakang.

“Eh!” Antara kaget, malu, senang, dan bingung, Adit kehilangan diksi.

“Ngapain di kampus minggu-minggu?” tanya Vita sambil melontarkan senyum manisnya.

Sebuah senyum yang menjadi mimpi Adit.

“Nggak apa-apa. Maklum lagi galau.”

“Pantes tak cari ke kos nggak ada. Aku mau balikin kunci lab nih,” ujar Vita sambil menjulurkan tangan putihnya yang bertaut serenteng kunci.

“Oke! Habis ini mau kemana, Vit?”

“Ya pulang kos lah. Kenapa?”

“Tunggu sebentar.”

Vita menatap bingung. Adit dengan tergesa-gesa mencoba satu persatu dari serenteng kunci yang diberikan Vita untuk membuka gembok kota kayu kuno yang ada di hadapannya.

“Kamu ngapain, Dit?”

Adit tidak menjawab, fokusnya tertuju sepenuhnya pada kotak kayu kuno dan mimpinya untuk memiliki senyum manis Vita.

“Yes!” teriak Adit. Kunci ke-17 alias percobaan terakhir dari serenteng kunci dari Vita berhasil membuka kotak kayu kuno itu. Vita semakin mengernyitkan dahinya, bingung. Adit semakin bersemangat membuka kotak itu.

“Tidak ada mimpi yang terwujud tanpa sebuah langkah. Jikalau mimpi itu harus dikejar, kejarlah. Jikalau mimpi itu butuh pengorbanan, berkorbanlah. Jikalau mimpi itu harus diungkap, ungkaplah.”

Adit terkesiap. Vita kebingungan. Dua fenomena makhluk hidup yang tampak absurd untuk terjadi pada saat yang sama.
“Kalau mimpi itu harus diungkap, ungkaplah,” bisik Adit.

“Ngomong apa, Dit?” tanya Vita heran.

“Aku sayang kamu.”

“Apa?”

“Aku sayang kamu, Vita.”

Lorong Cinta, Adit, Vita, dan sebuah ungkapan mimpi. Angin bertiup ringan menembus dedaunan, memberi kesejukan untuk sebuah penantian akan jawaban.

Aku menyunggingkan senyum termanis. Tangan dan mataku belum bisa lepas dari selembar kertas yang kupegang. Mataku mulai berkaca-kaca kala kembali memandangi judul yang tertera pada selembar kertas itu, JOMBLO BOX.  Pikirku lantas melayang ke masa  lampau.

Cah, gawe film yuk!” kata Yo sambil tiduran di kasurku.

“Sok. Gawe tugas wae nggak kelar-kelar,” sergah Ola sambil tetap asyik main Snake.

“Hiburan, La. Mosok hidup dengan tugas terus,” ujar Yo membalas argumen Ola.

“Tapi boleh juga tuh. Dan, gawe skenario yo!” timpal Leon sambil tetap asyik memandangi layar monitor yang sedang beralih fungsi jadi televisi.

“Tenan yo! Ojo jadi isu tanpa konsep ini.”

“Justru kamu yang bikin konsepnya, Dan,” racau Yo di balik guling.

Dua bulir air mata menyelinap turun membasahi kulit wajah gelapku, seorang pria sentimentil. Rekaman percakapan asal muasal cerita yang barusan kubaca membawa kenanganku kembali ke masa silam, tepatnya tiga tahun yang lalu.

Film Jomblo Box itu tidaklah pernah menjadi realisasi. Bahkan naskahnya saja terselip manis di dalam tumpukan laporan praktikum di dalam kardus. Aku memang hobi menyimpan semua dokumen, meskipun pada kenyataannya sebagian besar adalah sampah. Setidaknya, ketika aku membongkar kamar, aku bisa sejenak tersenyum seperti ini. Konsekuensinya, kamarku menjadi laksana gudang atau mungkin tempat sampah.

Biarlah, nyatanya tiga sahabatku bisa dengan tenang beristirahat di ruangan 3 kali 3 meter ini. Kamar ini adalah peraduan dari empat orang yang berusaha memulai mimpi dengan langkah, persis seperti yang kutulis di naskah Jomblo Box. Meski cerita itu menjadi isu tanpa konsep, setidaknya aku berhasil menemukan sebuah frase yang menguatkan. “Tidak ada mimpi yang terwujud tanpa sebuah langkah” kemudian menempel manis di styrofoam orange yang melekat di dinding kamarku.

“Rrrrttttttt…. Rrrrrttttttt….,” kasurku bergetar.

Sebuah pesan singkat dari Nia, pacarku.

“Say, udah makan?”

Pertanyaan klasik standar yang selalu dipakai untuk memulai percakapan.

“Udah say. Lagi ngapain?” balasku. Ini juga menu standar.

Aku dan Nia bertemu di awal kuliah dalam sebuah kepanitiaan lintas fakultas.  Itu sudah tiga tahun yang lalu. Sudah setahun ini Nia bekerja di Palembang. Pendidikannya sebagai guru SD yang hanya butuh dua tahun tentu berbeda denganku yang masih harus berkutat dengan teori di kampus. Ketika Nia berkisah tentang realita kerjanya, aku hanya bisa menjawab dengan kutipan buku-buku. Sungguh tidak berimbang.

Beginilah aku dan Nia sekarang, puluhan pesan singkat terkirim setiap hari. Kalau malam menjelang, aku dan Nia akan menghabiskan waktu hingga kuping panas atau salah satu dari kami tertidur. Realita Long Distance Relationship. Untunglah hubungan ini masih bisa bertahan.

Tidak ada balasan dari Nia. Mungkin pacarku itu sedang sibuk mengajar atau koreksi. Aku berusaha memahaminya, seperti Nia memahamiku. Mungkin itulah yang menyebabkan hubungan pisah laut yang kami lakoni bisa bertahan.

Cerita Jomblo Box tadi tiba-tiba menggelorakan niatku untuk memasukkannya ke dunia maya. Aku blogger aktif yang sayangnya belum punya laptop dan modem sendiri. Maka aku dengan rutin dan senang hati menghabiskan uang kirimanku untuk sekadar 1-2 jam berkelana di dunia maya. Blogku dikunjungi setidaknya 50 kali per hari. Aku ingin pengunjung di blogku membaca kisah lama yang tidak pernah terwujud itu.

Pandanganku terhenti sejenak pada kondisi kamar yang lebih parah daripada kapal pecah. Tadinya aku hendak mengumpulkan bahan-bahan selama kuliah Profesi Apoteker guna persiapan ujian komprehensif. Tapi tampaknya menulis blog menjadi hal yang paling menarik saat ini. Perkara kamar berantakan biarlah diurus nanti.

Beginilah kehidupanku, Adan Setia Dharma. Entah mengapa orang tuaku tidak memakai saja istilah umum untuk menamaiku. Adan itu sejatinya sama dengan Adam. Mungkin orang tuaku tidak menginginkanku berkumis macam Om Adam suaminya Tante Inul.

Namaku tidaklah mengandung arti yang sangat berat. Orang tuaku hanya menginginkanku menjadi seorang pria yang setia pada janjinya. Itulah prinsip yang selalu aku junjung tinggi karena bagaimanapun seluruh dunia akan menangkap langsung dari namaku bahwa aku ini selalu setia pada janjiku sendiri. Itulah sebabnya aku berusaha lulus secepat mungkin untuk bisa mewujudkan janjiku membantu orang tua. Adikku empat dan masih sekolah semua, jadi aku harus cepat-cepat menjadi apoteker, cepat-cepat bekerja, dan cepat-cepat membantu orang tua.

Aku selalu merasa kesasar setiap kali hendak lulus karena jiwaku sejatinya bukanlah di farmasi. Seperti karyaku yang terselip di dalam tumpukan, aku lebih nyaman menulis. Bahkan mimpiku adalah menjadi penulis, sungguh tidak nyambung dengan keadaanku sebagai calon apoteker.

Kadang memang hidup harus realistis. Aku selalu berusaha memahami itu sambil tetap berupaya mencari langkah untuk mewujudkan mimpiku.

Telepon genggamku bergetar lagi. Nia membalas pesan singkatku.

“Lagi kangen kamu, sayang :)”

Pulang, Ke Hati Yang Bertuan

Aku pulang
setelah pencarian akan sebuah peraduan
setelah penyadaran akan sebuah kenyataan
setelah peringatan yang (mungkin) datang dari Tuhan

Aku pulang
setelah aku tidak menemukan tujuan
setelah aku tidak melihat masa depan
setelah aku tidak merasa nyaman

sumber: socialmediaforsmartpeople.com

Aku pulang
ke tempat yang masih sama
ke ruang yang tetap tiada
ke hati yang tetap tidak terbuka

Aku pulang
karena cinta memintaku pulang
karena hati ini merindu ruang
karena jiwa ini merasa sayang

Aku pulang
ya, aku pulang

Aku pulang
ke hati yang bertuan
ke hati penuh buncah kerinduan
ke hati pencari kesetiaan

Aku pulang
ke tempat yang tuannya bukan aku
ke tempat yang tidak merinduku
ke tempat yang tidak mencariku

Aku pulang
karena aku ingin pulang
karena aku masih berharap akan sebuah ruang
karena aku merasa menyerah sebelum berjuang

Aku pulang
untuk sebuah rasa yang tak terkatakan
pada sebuah hati yang jelas-jelas bertuan
demi sebuah rasa yang tak tertahankan

Aku pulang,
demi cinta.

Dalam sebuah permenungan, 030912

Batak Itu Satu Keluarga

Berawal dan bermula dari mau bikin rancangan plot yang sudah jelas bab 1-nya, tapi terkendala masalah plot lanjutan berikut kejutan yang maunya ada surprise. Hmmm… malah lari ke sejarah BATAK. Hahahaha..

Eh, tapi Batak itu unik loh. Asli. Sejak kapan orang yang tidak saling kenal bisa ‘dianggap’ bersaudara semata-mata karena kesamaan marga? Ehm, ternyata dari sononya, memang sudah begitu. Nggak percaya?

Saya coba kulik-kulik dari sini dan mencoba menerjemahkannya dalam excel. Heleh, kotak lagi 🙂

Jadi Si Raja Batak punya dua anak yakni Raja Tatea Bulan dan Raja Isombaon. Nah, turunan Raja Tatea Bulan adalah sbb:

sumber: reka-reka @ariesadhar

Kalau dari Raja Isombaon, sebagai berikut:

sumber: reka-reka @ariesadhar

Jadi silahkan dicari marga masing-masing. Itu yang kuning itu sebenarnya satu rangkaian tapi bakal jadi rempong kala saya deret ke bawah, puanjanggg.. Kalau mau lebih jelas, silahkan datang ke lapo-lapo terdekat, biasanya ada TAROMBO yang bisa dilihat.

Ini mirip sebuah lagu: aku Batak, kamu juga Batak, kita Batak yang satu keluarga… *nyanyi mode on*

🙂

Antologi Mayor Berikutnya

Kalau teman-teman sekalian melihat pojok kanan atas blog ini, dan teman-teman sekalian adalah pengunjung setia blog sederhana ini, pastinya ngelihat ada perbedaan.

Yup, ada gambar lain yang muncul disana, tidak hanya foto buku “Kebelet Kawin, Mak!”. Ada tambahan, namanya “Radio Galau FM Fans Stories”.

Syukur kepada Tuhan bahwa saya disempatkan untuk ngecek TL ketika lomba “Radio Galau FM Fans Stories” ini di-tweet. Kala itu, saya sudah capek menulis galau. Tapi, saya lantas berpikir, nggak apa-apalah, sekali-sekali ini. Kalau masuk, kan bisa jadi buku.

Maka, saya hanya membuka sebuah cerita di blog ini juga, tanpa mengganti judulnya. Silahkan search FOTO DALAM DOMPET. Yak, cerpen mini di tanggal 24 Januari 2012 itu yang saya rekarasa untuk kemudian dikirim ke penerbit Wahyumedia.

Well, silahkan berargumen soal copy paste dan lainnya. Bagi saya, ini cerita saya yang tulis, jadi ya suka-suka saya mau diapakan. Iya kan?

Dan saya memilih untuk mengganti tokoh dalam cerita itu plus mengganti endingnya. Ending itupun ditemukan persis ketika mengetik. Ya, saya memang penulis dengan inspirasi sambil jalan. Sungguh berbanding terbalik dengan keseharian saya sebagai orang planning.

Lama, dan lamaaaaaa… akhirnya ada pengumuman. @ariesadhar menembus lomba itu. Syukurlah. Tapi lama dan lamaaaaa baru dapat kabar. Sebenarnya saya bahkan hampir lupa sebelum kemudian ada yang SMS minta alamat untuk pengiriman hadiah. Terus saya kepo ke linimasa, dan ternyata itu buku sudah ada sejak tengah bulan. KEMANE AJE?

Hmmm, pas kemarin saya ke Central Park, ada reuni sama anak-anak PSM CF. Jadi mampir ke Gramedia, dan menemukan buku itu. Seperti biasa, saya beli lebih dari 1, walaupun nanti pasti dapat bukti terbit dan saya toh nggak dapat royalti (karena sudah include di hadiah), tapi saya ya begitu memang. Nanti buku itu kan bisa saya kirim ke ortu, buat nambah-nambah koleksi di rumah. Cinta Membaca (indie) dan Kebelet Kawin, Mak! (Gradien) juga saya kirim ke rumah kok.

Uniknya, buku ini ada di rak BEST SELLER. Wew! Setelah saya berburu “Kebelet Kawin, Mak!” di rak TERBARU Plaza Semanggi, kini saya menemukan buku yang ada tulisan saya-nya di rak BEST SELLER Central Park.

Oke. Masalahnya sekarang, tidak ada lagi pendingan lomba yang saya punya. Sejak Mei saya kehilangan sentuhan menulis. Harus bagaimana ini? Bagaimana dengan cita-cita saya punya buku sendiri?

Itu juga ada kisahnya. Agak sedih sih. Tapi, penulis bagus-pun pernah ditolak kan? Ya anggap saja ini jalan menjadi penulis bagus.

Masalahnya, 2 bulan sesudah mengirim naskah buku, saya ditelepon sama editor, katanya naskahnya oke, tapi menunggu meeting dulu. Karena saya sabar, jadi ya saya tunggu. Dan sampai sekarang saya menunggu. Akhir Agustus itu persis 4 bulan naskah saya dikirim. Artinya? Ya itu bermakna penolakan. Ya sudah. Mari berkarya lagi kalau begitu 🙂

Oh iya, soal tokoh, saya harus mengucapkan terima kasih kepada teman saya yang namanya saya pakai sebagai tokoh di kedua cerpen, baik di “Kebelet Kawin, Mak!” dan di “Radio Galau FM Fans Stories”. Thanks a lot! Apa itu bermakna namanya harus dipakai sebagai tokoh di novel supaya buku saya bisa diterima? Hehehe, entahlah.

Ignasius Jonan Dan Semangat Perubahan

29 Juni saya ke Pasar Senen, ini pertama kalinya saya naik sepur sesudah November 2011, kala itu naik Turangga dari Surabaya ke Jogja. Agak kaget karena hendak duduk masuk ke dekat rel, eh nggak boleh. Jadi masalah, karena tiket saya dibawa sama Robert yang hampir bisa dipastikan akan datang mepet. Kalau nggak, bukan Robert namanya. Ya begitulah.

Usut punya usut, ternyata ada yang namanya sistem BOARDING. Ciee, udah kayak naik pesawat aja nih. Jadi udah minim tuh tangis-tangisan di atas kereta laiknya yang sering saya lihat zaman masih mungil dulu. Perubahan yang terjadi sejatinya sangat signifikan. Saya naik Senja Utama dan tidak ada orang ngemper di lantai. Ada sih ada, tapi itu lebih karena hendak terkapar, dia punya tiket dan punya nomor kursi kok. Lha saya ingat banget tiket Cirebon-Jogja saya tahun 2001 itu kelas Bisnis tanpa nomor, jadinya?

NGGAK DUDUK CUYY!!! Perubahan ini beda banget ketika saya naik waktu erupsi Merapi. Itu hampir nggak bisa nafas saking ramainya.

Nah, siapa sosok di balik perubahan itu? Usut punya usut, ternyata Bapak yang satu ini: Ignasius Jonan.

sumber: http://www.hidupkatolik.com

Pak Jonan dilantik jadi Dirut KAI pada 25 Februari 2009, ketika mentri BUMN-nya masih Pak Sofyan Jalil. Latar belakangnya? Akuntansi. Lha?

Lahir pada 21 Juni 1963 di Singapura sudah menjadi profil masa muda Pak Jonan. Ya, dia pasti anak orang kaya. Ayahnya Jusuf Jonan adalah pengusaha, ibunya putri seorang pejabat tinggi Singapura. Sampai umur 10 tahun, hidup di Singapura dan berlanjut ke Surabaya. Ia kemudian kuliah Akuntansi di Universitas Airlangga, Surabaya, setelah sebelumnya sekolah di SMA St. Louis, Surabaya. Pilihan SMA dan namanya sebenarnya sudah menjelaskan latar belakang religi Pak Jonan.

Sebagai anak orang kaya, yang mapan di dunia finansial, terjun di pelayanan publik tentu jadi masalah sendiri. Tapi kemudian, masalah itu dihadapi dengan cara khusus. Beliau berkata, “Saya selalu membawa ini. Saya kalau berdoa itu: Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Tapi, ya praktiknya susah. Saya sebagai manusia tidak bisa pasrah 100 persen.”

Apakah benda itu? Sebuah Rosario dan medali bergambar suci 🙂

Lulusan International Relations and Affairs, Fletcher School of Law and Diplomacy dan Harvard Law School, US ini pernah berkarier di PT. Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia dan Citi Grup. Jadi benar-benar urusannya tidak ke transportasi. Jonan berhasil mengubah perusahaan rugi Rp. 83,4 M pada 2008 menjadi untung Rp. 153,8 M pada 2009 dan seterusnya di atas Rp. 200 M. Banyak terobosan dilakukan, meski diakui kadang tidak sempurna.

Kalau buat saya sih yang paling OK itu bisa pesan tiket online, kereta cenderung juga lebih bersih. Meski memang yang jualan “akua kua kua, mijon, mijon, mijon, pecel, pijet-pijet” itu masih ada. Tapi overall, numpak sepur itu sudah jauh lebih nyaman. Kenapa sih, berani melakukan perubahan? Ternyata karena secara umum memang tidak punya interest pribadi, jadi perubahan itu mengacu pada aturan yang ada.

Dan yang pasti, iman. Katanya, ”kalau saya tidak punya iman, saya mungkin tidak akan berani. Saya ini manusia kok, bukan robot. Kalau ditanya mengapa masih di sini, saya tidak tahu. Karena Gusti Allah, saya berada di kereta api. Saya percaya kalau yang Maha Kuasa menghendaki saya di sini, saya tetap di sini”.

Dan gairah utamanya kini adalah manfaat. ”Bagi saya, yang penting pekerjaan ini bermanfaat buat banyak orang”.

Nah, cuma seperti yang pernah disentil Pak Dahlan Iskan, Bapak Jonan ini perokok berat. Jadi sesuai doa pak DIS, mari kita doakan Pak Jonan berhenti merokok juga. Hehehe..

Sumber: Suara Karya OnlineKompas.comHidup Katolik

Dan Aku Pulang: Air

“Udah komputernya?”

“Udah.”

Mamak pun bergegas menyalakan pompa air. Tuas untuk mengalirkan listrik ke pompa air diarahkan ke atas dan segera deru mesin pompa itu terdengar. Keran kamar mandi mengeluarkan deru air yang deras.

Dan aku mendadak teringat sesuatu.

* * *

“Ambil dulu air, Nak.”

Aku bersungut-sungut, entah adikku. Tapi bagaimanapun, aku dan adikku harus membawa jerigen putih andalan ini ke sumber air yang terletak di dekat sungai di bagian bawah kompleks, mengisinya dan lantas membawanya kembali ke atas.

Air PAM sudah berbulan-bulan tidak mengucur normal, sementara pembayaran terus dilakukan. Entah apa maksudnya. Apa karena kompleks ini berada di ketinggian? Apa karena tempat ini jauh?

Aku nggak ngerti, tapi siapa aku bisa menangani ini. Yang aku tahu, keran itu mengucur pada jam-jam tertentu dalam debit yang minimal, dan lebih sering tidak mengucur sama sekali. Yang aku tahu, aku kesulitan untuk mandi, buang air, dan lainnya. Air itu kebutuhan primer manusia, dan tidak banyak air yang masuk ke rumah ini.

Dan setiap hari, jeringen putih andalan itu menjadi teman setia berangkat ke sekolah. Air diisi dari keran sekolah, dan pulang sekolah dibawa pulang kembali. Inilah air yang menjadi konsumsi sehari-hari. Sementara air untuk mandi-cuci-dan-lainnya menggunakan air yang mengucur pada dini hari.

Perlahan, air itu semakin tidak mengucur. Bolak balik ke sumber air di bawah kompleks mulai menjadi melelahkan. Hingga kemudian, pilihan terakhir muncul.

“Itu air hujannya ditampung ya.”

Sejak itu, air untuk mandi-cuci-dan-lainnya menggunakan air tampungan hujan dalam drum besar di depan rumah. Aku bahkan bisa berubah menjadi gembira ria ketika hujan turun karena aku bisa menampung air lebih banyak dari rumah kosong di depan rumah, agar bisa mandi-cuci-dan-lainnya.

Ya, itulah saat-saat ketika air hujan menjadi semacam berkat. Saat-saat ketika aku belum paham bahwa air hujan itu cenderung korosif, tidak sehat, dan lainnya. Kami hanya perlu air, dan air itu datang dari langit. Namanya air hujan.

Berikutnya menjadi lebih terang benderang, karena sebuah modifikasi dilakukan. Sebuah pipa dari atap mengucur langsung ke bak mandi. Bak itu juga dimodifikasi dengan lekukan kecil sehingga kalau bak itu penuh, air bisa mengucur keluar untuk dibuang. Inilah bak mandi dengan sumber air dari langit. Langit ke atap, atap ke talang, talang ke paralon, paralon ke bak mandi. Inilah air yang membilas hidupku sehari-hari.

Bertahun-tahun, hingga aku pergi merantau, air hujan itu menjadi andalan untuk penunjang kehidupan. Belum ada dana untuk membuat sumur pompa, sementara air PAM semakin tidak bisa diharapkan.

* * *

“Kenapa dulu sehat-sehat aja ya?” tanyaku ke Bapak, sambil nonton santai.

“Kenapa?”

“Kita mandi air hujan loh.”

Yah, bertahun kemudian, ketika aku belajar tentang kesehatan, aku paham bahwa air itu tidaklah baik. Air itu bisa korosif. Air itu mengandung bakteri dan lainnya. Dan air itu digunakan untuk penunjang kehidupan, dan anehnya, aku sehat-sehat saja.

Kini sumur pompa sudah ada, tinggal dinyalakan ketika dibutuhkan. Talang yang menyalurkan paralon ke bak mandi sudah diputus-hubungan-kan. Air tanah mengalir ketika dibutuhkan. Semoga masih ada untuk hidup ke depan. Tapi mengingat tanah masih banyak untuk diresapi, kupikir sih nggak masalah.

* * *

Aku memasuki kamar mandi, siang hari, dan tetap dingin. Air itu segar dan tentunya sehat. Setidaknya jauh lebih sehat daripada air hujan.

Sesudah hujan pasti ada pelangi. Setelah mandi air hujan, pastilah ada hidup yang lebih baik. Sebaik dan seindah mandi air segar di kamar mandi yang sudah direnovasi menjadi lebih cantik.

🙂

 

Dan Aku Pulang: Dinding

“Kok masih foto wisudaku?” tanyaku setengah gemas begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah.

“Itu ada yang baru,” ujar Mamak.

“Ya, maksudku, yang baru itu yang digedein. Punyaku diturunin aja. Jelek.”

Apa pantas aku kecewa ketika foto wisudaku terpajang besar-besar di dinding ruang tamu? Aku bukan kecewa, mungkin sedikit malu saja. Foto itu dibuat dengan fotografer seharga 30 ribu untuk 2 foto. Apalah yang bisa diharapkan?

Dan aku berharap, foto wisuda adikku, foto keluarga di sebuah studio foto yang tarifnya lumayan mantap, bisa dipajang menggantikan fotoku nan buruk rupa itu.

Sebelum aku lanjut kecewa, aku melempar pandang ke sekeliling. Yah, dinding ruang tamu itu hampir penuh.

* * *

“Nah, yang pojok atas itu si abang,” tunjuk Mamak pada sebuah foto bayi yang berpose menembak. Itu fotoku.

Petunjuk berikutnya diarahkan ke foto yang terletak 45 derajat di bawah fotoku. Foto adikku, hampir full face. Lalu lanjut ke wajah putih bulat berbalut penutup kepala pink milik adikku yang cewek. Plus diakhiri sosok kecil keriting berdiri, dan ia tampan, ini foto si bungsu.

Empat foto itu adalah penguasa ruang tamu. Ketika dinding itu masih basah oleh cat. Yang mengecat siapa? Ya, bukan tukang, tapi Bapak. 🙂

Hanya empat foto itu, ditambah sebuah jam dinding, dan beberapa foto pernikahan orang tua, yang tertempel di dinding ruangan yang besar. Hmm, kosong, foto-foto itu hanya nuansa dari putihnya dinding yang luas.

* * *

Aku tertidur di sofa bagus. Kalau ini terjadi 11 tahun silam, aku pasti sudah dimarahi sama Mamak, berani-beraninya mengangkat kaki ke atas sofa bagusnya. Entah, kalau sekarang boleh tuh.

Pandanganku beredar ke sekeliling.

Tidak ada lagi empat foto bayi itu. Benda itu sudah pindah ke kamar. Sebuah pigura besar foto keluarga dengan aku mengenakan toga tertempel besar di sana. Di sisi-sisinya, foto latar putih dengan adikku yang mengenakan toga. Oh, ada pula fotoku ketika mengenakan jas, waktu pengambilan sumpah profesi.

Dinding itu tidak lagi sepi. Dinding itu perlahan menjadi saksi sebuah pencapaian. Dinding yang sama, yang dibentuk dengan bata dan semen yang dulu juga ikut diaduk oleh orang-orang yang fotonya tergantung disana.

Dinding yang sama, yang melihat sosok-sosok mungil berbaju seragam sekolah. Dinding yang sama, yang perlahan kehilangan sosok-sosok mungil itu.

Dinding yang itu pula, yang menjadi tempat tertempelnya sebuah rekaman pencapaian. Satu per satu. Dinding yang menyediakan dirinya sebagai tempat sebuah kebanggaan bisa dirayakan.

Ah, aku mengantuk. Melihat tampangku tanpa sentuhan Adobe Photoshop, bertoga, dan kurus kering, bikin mata ini ingin menutup saja. Hmm, setidaknya aku melakukannya dengan senyum.

Sebuah lekukan bibir yang terbentuk ketika mengenang perubahan dinding polos itu menjadi dinding penuh foto, penuh gambar, penuh kebanggaan.

Dan aku terlelap, terpejam, di dalam nyamannya sebuah tempat yang aku sebut RUMAH.

🙂