All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

5 Perjalanan “Jadi Teman Yang Baik”

Kan sudah saya bilang, jiwa pertemanan saya itu tinggi *songong mode on* jadi ya sedikit-sedikit ada lah melakoni beberapa perjalanan untuk menunjukkan bahwa saya adalah teman yang baik *apa sih*. Nah berikut ini, saya pilih 5 perjalanan ketika saya “menjadi teman yang baik”. Hahahaha..

1. Wonosari (akhir 2007 atau 2008, saya lupa)

Jadi ceritanya, teman saya BBC punya pacar (sekarang istri) namanya CSA. Si CSA pulang ke rumah dengan bis dan hendak balik membawa motor dan nggak boleh bawa motor sendiri dari Wonosari. Jadilah Bapaknya CSA bilang supaya BBC yang mengambil motor itu.

Dan muncullah request ke saya, anterin ke Wonosari.

Hmmm, jadi deh Bang Revo saya yang kinyis-kinyis dibawa melaju ke Wonosari di sebuah tempat berinisial K. Hahaha..

Akhirnya?

Ya karena requestnya adalah mengambil motor, jadi deh, saya di belakang mengikuti pasangan pacaran ini dari belakang. Hmmm, semacam bikin pengen.. Hahahaha..

2. Pengantar Ke Bandara (sepertinya sih 2011)

Pak DJ, seperti biasa, 2 pekan sekali mengunjungi istri ke Jakarta. Waktu itu masih pasutri LDR. Nah, pada suatu pagi, saya bangun tidur lalu ke WC. Pulang-pulang dari WC (apa coba…), saya mendapati 2 missed call dari Pak DJ. Lha aneh, dia kan flight jam 6, kenapa jam segitu malah telepon?

Lalu saya telepon balik.

Dan ternyata, Pak DJ telat bangun! Hangus deh itu tiket. Jadilah saya mengantar Pak DJ ke bandara karena supir pribadinya (Koko Aliem) harus masuk di hari Sabtu.

Lumayan, ditraktir makan sama Pak DJ yang selalu baik hati kalau urusan traktir. Hehehe..

3. Kondangan Boris (1 Januari 2012)

Ini sampai dimarahin emak, sampai bikin Pak Uda Wilson tidak berulang tahun bersama keluarga pula. Tapi demi pertemanan, apa sih yang nggak? Hehe..

Jadi ceritanya, entah bagaimana pilihannya, si Boris nikah tanggal 1 Januari, padahal seminggu sebelumnya saya bertualang di belantara Sumatera. Hasrat ingin bertemu banyak teman akhirnya membuat saya mengambil opsi apik.

First flight dari Padang dan sampai Jogja jam 11, masih dapat resepsinya. Dan pakai Garuda agar ketepatan waktunya terjamin.

Dampaknya?

Jam 3 pagi, di dinginnya dini hari, saya berangkat dengan ortu dan Pak Uda dari Bukittinggi. Tapi seru juga sih. Seumur-umur baru itu bermalam tahun baru di jalan Bukittinggi-Padang. Di Jogja-nya ketemu banyak teman lama pula.

Joss!

4. Apartemen Merah (suatu hari di awal 2009)

Transaksi jual beli motor BE Robert sudah dilakukan di Lampung. Tinggal serah terima fisik yang belum. Nah, untuk keperluan ini, Robert perlu bantuan diantarkan menuju ke pembeli, seorang maba asli Lampung.

Jadi deh saya lagi yang kena.

Bang Revo yang tentunyaย  mulai tumbuh dewasa ikut mengantar si BE Robert ini. Janjiannya di depan Apartemen Merah, Jogja. Semacam transaksi apa pula ini, sampai pakai janjian di suatu tempat terbuka pula.

Akhirnya?

Motor penuh kenangan (yang pernah saya putuskan tali gasnya itu) beralih tangan. Robert lantas jadi tuna motor. Minjam motor kemana-mana.

5. Jus Jambu Untuk Boni (suatu waktu di 2009)

Nasib seorang BCP adalah langsung opname pada kesempatan pertama. #eaaaa

Sebagai sesama sebatang kara di perantauan bumi Sriwijaya, saya dan Ando plus Agung ikut sibuk dengan opname-nya BCP. Salah satu yang utama adalah mengurus surat pertanggungan pembayaran dari kantor, dan tentu saja memberikan kebutuhannya.

Mulai dari membawakan pakaian hingga minuman-makanan.

Dan karena diagnosanya DBD, maka opsinya adalah membelikan jus jambu. Mudah?

Ternyata nggak!

Berkeliling ke beberapa mini market (waktu itu di Palembang belum ada -mart) nggak ada. Nyari di JM Kenten pun tak ada (which is itu adalah pertama dan sekali-kalinya saya masuk JM Kenten). Akhirnya putar sana, putar sini, jam besuk lewat.

Untunglah, kita membawa kartu keluarga penunggu. Jadi meskipun sudah nyaris jam 9, masih bisa masuk. Ya maaf kata, anak DSP itu sibuk cuy, jadi baru bisa pulang jam 7-an. *nggaya mode on lagi*

Tentu banyak kisah lainnya, tapi ini yang saya pilih sebagai 5 perjalanan ketika saya mencoba menjadi teman yang baik ๐Ÿ™‚

5 Perjalanan Paling Absurd

Hiyah, nggaya bener. Hidup belum lama, traveling belum kemana-mana, pake nggaya nulis beginian. Eh, tapi saya ini ya termasuk kadang-kadang jalan-jalan ya. Jadi, ada lah beberapa perjalanan yang buat saya lantas berlangsung absurd. Entah absurd jadinya, prosesnya, atau apapun itu. Tapi, meski absurd, saya harus BERSYUKUR pada Tuhan, bahwa saya masih selamat. Itu yang jauh lebih penting ๐Ÿ™‚

1. Perjalanan Berangkat Merantau (29 Juni – 2 Juli 2001)

Ini bukan pertama kali saya melakoni perjalanan jarak jauh, tapi paket komplet perjalanan berangkat merantau ini otomatis menjadi salah satu perjalanan paling DIINGAT dalam hidup saya. Dimulai dari Jumat siang yang sedih, saya naik Gumarang Jaya dari Bukittinggi bareng Bapak. Mobil berlogo kuda ini akan membawa saya ke Jakarta. Nah, keesokan harinya sampailah di Pulau Jawa, dan hampir tengah malam ketika kemudian saya tiba di terminal Kampung Rambutan.

sumber: google maps

Dari terminal ini, saya dan Bapak naik bis entah-apa-namanya ke Cirebon, waktu itu mau mampir ke tempat Pakde sebelum lanjut ke Jogja. Bis dari Cirebon ini formasi 3-3, entah masih ada atau tidak di jaman sekarang ini. Udah kotor, buluk, banyak pengasong, banyak yang ngerokok pula. Lengkap deritanya.

Sampai Cirebon dini hari dan lantas menuju tempat Pakde.

Nah, sisi paling absurd dari perjalanan ini adalah waktu step terakhir hendak menuju Jogja. Saya dan Bapak naik kereta api entah-apa-namanya dari Stasiun Cirebon dengan tiket bisnis. Saya sih curiganya ini Senja Utama, tapi pastinya lupa.

Kelas boleh bisnis. Ketika itu kereta nyampe, sama sekali nggak ada tempat duduk! Dan inilah salah satu momen ter-ghoib dalam hidup saya. Seorang anak unyu-unyu yang hendak menempuh pendidikan, terjongkok manis di sambungan antar gerbong sambil bersandar pada tas yang berisi barang bawaan dari Cirebon sampai Jogja.

Apa saya bisa tidur kalau begitu? Nggak! Dan ini salah satu momen saya berasa kalau jam itu nggak berputar sama sekali, saking nggak nyampe-nyampe-nya. Ya memang waktu nyampe-nya molor dari estimasi.

Dan belum cukup kegilaan ini, saya disuruh langsung mendaftar sekolah! Syukurlah saya tidak dites intelegensi, karena kejadian sebelumnya akan sangat berpengaruh pada kemampuan saya yang aslinya sudah pas-pasan ini *apa coba*

Dan syukurlah, lewat proses yang “tampak” mudah (karena amat sangat lancar sekali), saya diterima di SMA Kolese De Britto Jogjakarta ๐Ÿ™‚

2. Perjalanan Menembus Erupsi (November 2010)

Ehm, ini perlu diceritakan nggak ya? Hahahaha.. Ah, namanya juga cerita. Toh, Tuhan itu menciptakan peristiwa itu pasti ada gunanya kan?

Jadi ceritanya sejak jauh-jauh waktu saya sudah izin cuti sama Pakbos untuk menghadiri wisudanya seseorang yang waktu itu jadi pacar saya. Bulan November wisudanya, saya izin dari awal September. Saking susahnya cuti kalau sama Pakbos. Huhuhu…

Mulai galau ketika saya beli tiket Palembang-Jogja, kok rasa-rasanya berat itu pas mbayar. Eh, ternyata mulai kerasa. Dua hari sesudah saya beli tiket, ada berita kalau gunung Merapi mulai beraktivitas tinggi hingga kemudian berita Mbah Maridjan tewas dilewati wedhus gembel dan segala berita lain sesudahnya.

Saya masih mencoba biasa saja, toh penerbangan belum ada masalah.

Apa iya? Iya, setidaknya sampai sebelum saya berangkat.

sumber; tribunnews.com

Jumat pagi jam 4 saya bangun dan siap-siap karena penerbangan pertama dari Palembang. Begitu menunggu Mas Sigit bangun, eh ada berita kalau Merapi baru meletus, terbesar selama berapa ratus tahun.

“Ow ow…”

Saya tetap berangkat, lha piye meneh. Penerbangan Palembang-Jakarta mulus pastinya, hingga sampai di ruang tunggu untuk transit ke Jogja.

“Penumpang sekalian, karena bandara di Jogja ditutup maka penerbangan dibatalkan.”

MATEK! Saya akhirnya memasuki fase mantap. Saya ikutan nongkrong sabar di depan loket Lion Air di terminal 1A Cengkareng. Saya sempat diwawancarai Bali TV. Dan saya capek. *halah*

Berikutnya saya capcus ke stasiun Senen untuk berharap ada tiket ke Jogja dari kereta tambahan, tentunya bersama kakaknya yang mau wisuda. *untung ada temennya* Akhirnya saya sampai Jogja pas di hari H, molor sehari. Hotel yang sudah dibayar akhirnya sia-sia semalam. Ya sudahlah. Sesudah menghadiri wisuda, saya segera ke stasiun beli tiket kereta, dampak dari firasat masih buruk. Saya dapat Senja Solo Extra. Padahal saya masih punya tiket pesawat Jogja-Palembang loh.

Ternyata saya benar! Minggu pagi saya dapat SMS kalau penerbangan dari bandara Jogja masih ditutup. Untung udah beli tiket. Tapi masalah belum kelar, saya kudu beli tiket baru Jakarta-Palembang supaya proses refund-nya ga ribet. Maklum, tiketnya Lion Air itu kan transit. Jadilah saya nggaya, beli tiket Jakarta-Palembang Garuda, 800 ribu. Hahaha.. *sok kaya*

Dari Jogja ke Senen mulus karena keretanya eksekutif. Saya lanjut ke Gambir dan dari sana ke bandara. Hmmm, kalau sadar urutannya, maka pasti kelihatan kalau saya belum mandi. Yak, saya adalah penumpang Garuda yang nggak mandi. Heuheuheu..

Mendarat di SMB II jam 12, sampai mess jam 13, saya langsung kerja. *maklum, pegawai teladan*

Selesai? Nggak juga, karena di bulan November itu saya kudu mati-matian bertahan hidup. Lha duit’e ntek kabeh je.. ๐Ÿ˜ฆ

3. Kondangan Ke Belitang (Februari 2011)

Jiwa persahabatan saya memang tinggi. *congkak* Saking tingginya, waktu dinas ke Jakarta, saya sempatkan untuk langsung pulang ke Palembang pada flight terakhir karena besoknya mau pergi kondangan. Sampai Palembang itu sekitar jam 11 malam dan sebelum jam 6 sudah mau berangkat ke tempat yang katanya 6 jam jauhnya dari Palembang.

Kondangan ini didukung sama kantor dengan support mobil plus supir (Zul). Saya berangkat bersama Pakbos DJ, Koko Aliem, Koko Ahen (ini koko jadi-jadian), Pakbos Zae, dan Ando69 naik Kijang yang mirip punya ortu di rumah.

koleksi pribadi pake HP LG ๐Ÿ™‚

Perjalanan ini panjang dan saya terpaksa nggak tidur (walau capek) karena harus meladeni obrolan asyik sepanjang jalan. Hahaha..

Sisi absurd-nya adalah ketika masuk Belitang. Kita-kita pada mikir kalau start gambar di undangan itu adalah jalan masuk Belitang. Ternyata….

Bukan.

Tanya sana, tanya sini. Berhenti sana, berhenti sini. Akhirnya petunjuk didapat.

“Abis ini ada nusa… nusa… nusa… baru nusa tenggara..”

Ebuset. Jauh aja ternyata!

Dan ternyata rumahnya itu memang masih jauh. Yah, peta yang mungil ini jadi tampak menipu. Hehehe.. *piss kak kus*

Sampai di tempat, rencana awal mau ikut misa udah nggak kekejar. Malah acara syukurannya udah mau kelar. Jadilah kita langsung ganti baju batik di dalam mobil dan kemudian turun lalu muntah-muntah eh salaman. Nongkrong 1,5 jam, lantas kita pulang. Rada nggak rela sebenarnya, masak 6 jam di jalan, di tempatnya 1,5 jam, apa kata dunia?

Dan ini menjadi satu-satunya perjalanan jauh di atas 12 jam pp yang saya tidak tidur sekejappun ๐Ÿ™‚

4. Kantor Bernas-Rumah Simbah (2001)

Ini kayaknya pernah saya tulis di blog sini (kayaknya loh), waktu nulis soal Alfa. Ini terjadi waktu saya masih pakai sepeda dan masih jadi wartawan jadi-jadian di koran Bernas. Jadi ceritanya kumpul sabtu siang ke sore untuk pembekalan. Pulangnya udah malam gitu.

Nah, asyik-asyiknya saya mengayuh sepeda di sekitar UGM, tiba-tiba itu sepeda pedalnya los. Jadi mau diputer kayak gimana juga, nggak akan bikin rantainya ikut berputar.

Fuihhh, jadilah saya menuntun itu sepeda perlahan tapi pasti *pasti capek* menuju rumah simbah. Jadi ada agak 6-7 kilometer saya menuntun sepeda dengan baju seragam (waktu itu di JB hari Sabtu masih pakai seragam), dan itu terjadi di MALAM MINGGU. APA NGGAK BIKIN GALAU ITU? *keyboard mendadak caps lock semua*

5. Jogja-Wates (pada suatu hari di tahun 2007)

Ini mungkin paling absurd bagi saya dari sisi keamanan. Kenapa? Karena di perjalanan inilah saya pernah tidur sambil nyetir motor. Jadi ceritanya karena hasil pengundian abal-abal skripsi menujukkan sampling dan wawancara harus dilakukan di daerah Wates maka saya harus kesana. Anggota tim yang cewek ngekos disana. Saya dan Fandy nglaju.

Nah, kok ya pas skripsi ini, pas saya ada persiapan KPS Unpar di Bandung. Jadi, pas pulang dari ambil data *pasti capek lah wong keliling kampung* saya ikut latihan PSM *ini jelas nggak kalah capeknya*. Sampai kos tinggal tepar. Berikutnya? Besok bangun lagi, melakukan rutinitas yang sama.

Nah, yang tak tertahankan ketika pada hari kesekian, saya membawa Bang Revo dengan Fandy bonceng di belakang. Kalau pernah lewat Jalan Wates pasti tahu lurus-lurusnya mantap kan? Nah, ketika disitu, di sekitar Rewulu saya merasakan mata saya menjadi berat… berat… berat… dan lalu merem 1-2 detik.

Lanjut melek dikit, eh berat lagi.. merem lagi sejenak. Dan itu motor masih melaju 70-80 km/jam. Sampai sekarang saya bingung soal ini. Itu kenapa kalau jalan jauh saya prefer pakai headset. Setidaknya saya bisa nyanyi-nyanyi supaya nggak merem.

Hehehe..

Sebenarnya ada banyak perjalanan lain, mulai dari mengantar teman ke tempat pacarnya, perjalanan sama anak dolan-dolan, dan lainnya. Tapi ini adalah 5 kisah terpilih untuk kategori ABSURD. Hahahahaha… ๐Ÿ˜€

Jadi Dirigen Itu Sulit, Jenderal!

Di awal-awal kehidupan baru blog ini, saya sempat menulis soal DIRIGEN. Ceritanya mau kritik plus refleksi. Dan itu sudah lama. Dirigen yang itu di Sanfrades Palembang, dan kini saya sudah di Cikarang.

Dan, yak, saya kena batunya.

Kenapa?

Menjadi dirigen itu nggak mudah, bahkan cenderung sulit. Makanya saya bilang, jadi dirigen itu sulit loh!

Okeh, hal ihwal pertama saya mengenal soal dirigen itu adalah waktu kehabisan air di rumah karena PAM mati. Eh, itu jeringen. Maaf, salah.

Dulu banget, karena saya anak rajin yang bakal ‘habis’ kalau malas-malasan ke gereja, maka saya selalu bertemu sosok dirigen di hari minggu. Lantas juga di sekolah. Dan saya bingung, sebenarnya ini orang ngapain sih. Pakai acara menggoyang-goyangkan tangannya segala. Buat apa?

Percaya atau tidak, saya baru paham makna dan guna dirigen itu di kelas 2 SMP, sewaktu kelas 2A memenangkan lomba vokal grup se-Xaverius dengan lagu ‘Keliru’ dari Ruth Sahanaya. Hehehe… What a… Bisa jadi itu memalukan, tentunya memalukan karena kedua orang tua saya adalah dirigen rutin di gereja ๐Ÿ˜ฆ

Sesudah itu saya mulai paham makna dirigen itu mengarahkan ketukan, menunjuk bagian mana yang hendak dinyanyikan, dan cuma sebatas itu. Baru ketika di-dirigen-i Mbak Ina, saya mulai tambah sadar gunanya dirigen itu ke arah ‘roh’ sebuah lagu yang lantas disebut DINAMIKA.

Dan anda harus percaya bahwa saya menyadari itu pada saat kuliah semester 2.. *tambah memalukan*

Dan berikutnya saya join ke PSM CF. Disinilah mulai intensif ketemu lagu, dinamika, tempo, dan tetek bengek lainnya *kasiannya sampe bengek*

Sesekali Mas Mbong waktu latihan juga memberikan teori musik. Nah, disitulah saya sedikit-sedikit belajar soal beda ketukan 4/4 dengan 3/4, dan berbagai ilmu lain yang dulu ketika SMP benar-benar saya abaikan karena emang nggak suka. *nyesel itu selalu belakangan*

Tugas demi tugas membuat saya semakin paham pentingnya dirigen dalam menyanyi. Apalagi kemudian di tahun 2009, saya mendapat insiden memalukan yang bikin nyaris trauma. Waktu itu nyanyi ber-10, tanpa dirigen! Dan benar-benar mati gaya. Alamak!

Berjalan dan terus berjalan, entah bagaimana cerita, tiba-tiba saya menjadi dirigen untuk tugas koor lingkungan.

*langsung pingsan*

Yak, tanggal 8 kemarin saya berdiri di atas podium 20 cm dan menggoyang-goyangkan tangan. Sesuatu yang belasan tahun silam saya anggap nggak bermakna. Sesuatu yang perlahan saya pahami di usia yang sudah sangat terlambat. Sesuatu yang 1,5 tahun lalu saya kritik.

Ya begitulah. Apalagi, si newbie ini bertemu langsung dengan lagu-lagu berketukan 2/2 (pembukaan), 3/4 (kudus), 2/4 (TK), dan baru ketemu 4/4 di persembahan. Salah ngabani pulak. Heleh.

Yak, begitulah. Saya mengenal soal paduan suara saya sudah terlambat. Mengenal not juga terlambat. Mengenal musik dan dinamika, apalagi, terlambat banget. Tapi entah kenapa, Tuhan Yang Maha Baik itu selalu memberi dengan tepat. Ya, tepat. Saya nggak akan bisa jadi dirigen kalau belum belajar curi-curi dari Mbak Ina, Ulit, Cik Lan, Mas Mbong, Bu Jin, Babi, Oon, sampai Santo. Saya nggak akan ngerti beda 4/4 dan 3/4 kalau nggak ikut latihan PSM. Dan dikasihnya sekarang ini. Kesempatan yang mungkin hanya akan terjadi 1 kali seumur hidup saya, karena apa? Hehehe.. Ada deh..

๐Ÿ™‚

Eh, Penerbangan Saya Masuk Berita

Googling bin googling eh malah ketemu nih..

LINK INI *nulis sambil marah-marah*

Jadi tertulisnya begini:

Menurut pantauan Posko Angkutan Lebaran Terpadu 2012, ada 11 jadwal penerbangan yang mengalami delay jadwal kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada H+1 atau Selasa (21/8/2012) kemarin. Maskapai yang mengalami delay adalah Batavia Air, Sriwijaya Air, Lion Air, Citilink, dan Indonesia AirAsia. Keterlambatan itu terlihat sepanjang pemantauan Posko yakni dari pukul 08.00 WIB sampai 18.00 WIB.

Maskapai Batavia Air, misalnya, mengalami keterlambatan kedatangan domestik paling lama dari maskapai lainnya, yakni penerbangan Y6-0584 dari Bandar Udara Minangkabau, Padang, menuju Bandara Soekarno-Hatta selama 2 jam 39 menit.

Keterlambatan paling singkat yakni Lion Air JT-0347 dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dengan 32 menit dari jadwal semula. Sementara Sriwijaya Air adalah maskapai yang paling banyak mengalami keterlambatan jadwal kedatangan di Bandara Soetta. Ada lima penerbangan dengan tujuan Jakarta yang telat.

Saya bingung nih, itu 2 jam 39 menit dari mana yak? Wong saya antri di pintu boarding aje tulisannya 13.10, padahal saya itu antrinya jam 17.10, itu juga 10 menit sebelumnya dibilang “pesawat akan siap 30 menit lagi..” yang langsung mengundang komplain banyak penumpang.. Jadi 13.10 ke 17.10 itu ternyata 2 jam 39 menit?

Ehm, bisa dipahami sih, kalau dihitung normal, 4 jam itu kompensasi 300 ribu. See? Bayangkan aja rugi di peak season mudik begitu. Rugi bandar cuy. Ah, ya sudahlah… Huhuhuhu…

Masalah Klasik Anak Kos

Lagi merenung, meratap, dan meresap. *halah*

Dan tiba-tiba kepikiran nasib sendiri. Yah, nasib saya yang sudah lebih dari 11 tahun melarikan diri dari pangkuan orang tua. Eh, tepatnya dilarikan, disuruh pergi, tapi emang demi kehidupan dan penghidupan yang lebih baik.

Dan tiba-tiba lagi terkenang pahit manis-nya jadi anak kos. Kok terkenang? Lha wong saya ini juga masih jadi anak kos. Heleh.

Ya pada intinya, berikut masalah klasik anak kos, berdasarkan pengalaman saya.

1. Antri WC

Ini semacam sepele tapi ternyata penting loh. Bayangkan rasanya kebelet, sudah lari-lari dari kamar, dan lantas mendapati kalau WC tertutup? Ini kayaknya mirip dengan mau kawin tapi terus calon kabur sama mantan. Dan rerata WC di kos-kosan itu jumlahnya nggak banyak, paling 1 atau 2 biji saja.

Belum lagi nih, kos saya yang legendaris di Mbah Mardi sana itu menerapkan konsep WC untuk semua, termasuk untuk mencuci. Jadi bayangkanlah rasanya mules, kebelet, sudah di ujung, eh di dalam WC tiba-tiba lagi asyik ngucek sambil bernyanyi riang? Bayangkanlah! Bayangkanlah! *lebay*

2. Ketika Gebetan Jadi Pacar Teman Sekos

Ini asli, asli bukan pengalaman saya. Tapi ada nih temen yang bernasib buruk dalam bercinta. Sebut aja si Roni. Roni ini nggebet si (sebut saja) Mawar Melati Semuanya Indah. Hasil pendekatan beruntun berbuah kandas.

Dan tiba-tiba…

Mawar Melati Semuanya Indah jadi rajin berkunjung ke kos si Roni. Tapi bukan ke kamar Roni, melainkan ke kamar di sebelahnya! Ihiks, gimana gitu rasanya sendiri galau pulang ke kos, lihat sandal si gebetan di depan kamar sebelah. Lalu dengar cekakak-cekikik pujaan hati, juga dari kamar sebelah.

#eaaaa

3. Nginapers dan Nebengers

Kalau ini asli pengalaman saya. Sebagai orang yang ngekos, dan punya banyak teman yang berumah di Jogja, ini konsekuensi logis. Main ke kos sih nggak masalah. Tapi kadang-kadang bikin gundah gulana.

Ada kala ketika lagi asyik sama pacar *asyik nonton TV loh* eh datang teman hendak berkunjung. Ini mah bukan pengalaman saya saja, lebih seringnya saya malah jadi pengunjung *hihihihi..*

Ada kala juga, sudah malam-malam, capek, sudah membayangkan enaknya kasur di kamar. Eh, begitu sampai kos, kamar sudah ramai dengan temannya teman. Jadi ada teman yang mengajak temannya mengerjakan tugas di kamar saya. Ini juga mirip mau malam pertama, tahu-tahu mertua ikut tidur seranjang. Ehm, gini-gini saya juga pelaku setia! Haha…

Ada juga nih, sedang asyik-asyik mimpi sama Halle Berry di sesi tidur siang, tiba-tiba kamar diketuk, dan rombongan manusia masuk, ngerusuhi. Ealah, kabur dah itu Halle Berry.

Tapi ya, kalau nggak ada yang begitu, kadang rasanya sepi. Itu kan prinsip dasar manusia, begitu ada males, begitu nggak ada malah kangen.

4. Sakit Maag

Ini penyakit wajib anak kos dan ditandai utamanya karena ketiadaan dana, terutama di akhir bulan. Wajib deh, bener. Asli bukan anak kos kalau nggak maag *apa coba?*

Menurut yang saya pelajari di kuliah, mayoritas maag itu ya disebabkan dari kesalahan pola makan. Yang dampak lain, misal pemberian obat berlebihan di masa kecil atau perlukaan lambung, itu kecil sekali.

Dan kesalahan pola makan itu terkait kesalahan manajemen keuangan. Ya, intinya mah, kalau anak kos, tanggal 1 itu makannya sate kambing, kalau tanggal 31 makannya tusukan sate kambing. Kalau tanggal 1 minum soda gembira, tanggal 31 minum air putih dari botol soda (sambil) sedih.

5. Pak Kos dan Bu Kos

Ini asli saya paling sebel. Saya pernah tuh berdiri di sebuah pintu depan kos-kosan, menunggu teman cewek. Dan saya dimarahi sama yang punya kos. “Jangan berdiri di situ!”

Ebuset, lha saya ini cuma berdiri, apa salah? Apa salah saya? *mbrebes mili*

Jadi ada yang emang galak, ada yang rese, ada juga yang menyenangkan. Tapi rerata ortu akan senang yang galak dan jam-nya terbatas, karena itu anak pasti terjamin.

Ah, apa iya? Nggak juga. Di kos cewek adik saya, masih ada juga gadis-gadis yang memanjat pagar semata pintu tinggi itu sudah digembok. Ini mah perkara manusiawi juga. Hehehe..

Yah, sekian dulu. Nanti disambung lagi. Itu tadi lebih ke pengalaman di Jogja sih. Kalau pengalaman di Cikarang dan Palembang, nanti di-share terpisah.

Okeeee… Oyeeeeee… *salaman*

Pria Yang Punya Rasa

“Jangan pernah mau disentuh-sentuh cowok, apalagi yang lebih jauh,” ujar temanku berkali-kali, dan kebetulan diulang lagi.

“Emang kenapa?”

“Pasti nanti diceritain sama temen-temennya. Eh, gue udah nyium dia, gue uda ngapa-ngapain dia.”

Aku terdiam. Selintas kemudian, aku bersyukur. Setidaknya aku berada di pergaulan yang benar.

“Nggak semua cowok kayak gitu kali.”

Nggak semua, karena proses pendewasaanku mengajari demikian. Cerita antar lelaki yang aku tahu adalah tidak jauh-jauh dari rasa, bukan nafsu. Karena, ada yang bilang, sesejati-sejatinya lelaki, adalah lelaki yang mengandalkan rasa alih-alih nafsunya.

Nah, mau tahu tipe-tipe obrolan cowok berbasis rasa. Berikut paparannya.

1. Labil sesi 1

“Piye, Bon?” tanya Chiko sambil menepuk bahu Bona.

“Mbohlah.”

“Lha piye?”

“Yo, mboh.”

“Putus wae po?”

“Nggak. Kalo nggak sama dia, mending aku jadi homo.”

Beberapa hari kemudian, Chiko dan Bona bertemu lagi.

“Piye?”

“Wis ah, sekarang realistis wae,” ujar Bona, dengan pandangan tetap menerawang.

Cowok yang punya rasa memiliki kecenderungan labil, antara mempertahankan atau realistis.

2. Kurang Ajar edisi 1

“Ko, pinjem motor?” teriak Roman dari depan kos.

“Meh nangndi?” tanya Chiko, sambil tetap tiduran.

“Sono.” Roman menunjuk arah utara.

“Belok kiri opo kanan?”

“Lha ngopo emang?”

Cowok yang punya rasa, pasti akan berpura-pura soal ini. Ya begitulah, ke kanan itu menuju arah kos Adel. Kalau ke kiri itu menuju kos Eny, TTM-nya Roman.

“Kiri kanan?”

“Kiri lah,” rapal Roman sambil menyambar kunci motor Chiko.

Cowok yang punya rasa, cenderung tidak menutupi sesuatu atas nama kepura-puraan, meskipun itu tetap kurang ajar namanya.

3. Labil sesi 2

“Kowe masih kontak sama Irin?” tanyaku terkejut.

“Iyo. Udah putus kok dia.”

“Setelah yang dia lakukan sebelumnya.”

“Iyo bro. Kalau nggak sama dia, aku nggak bakal nyari yang satu fakultas lagi.”

“Tak catet omonganmu, Ko.”

Beberapa bulan kemudian, sisi labil terungkap.

“Wis ora?”

“Lha aku dicuekin terus. Pengen ketemu, terus tak sudahi wae,” ujar Chiko.

“Iyolah.”

Dan tak sampai 3 bulan.

“Wis jadian po kowe?”

“Wis.”

“Sama Cintia?”

“Iyo.”

“Lha, katanya nggak mau yang satu fakultas lagi.”

“Ya, setiap hal ada perkecualiannya lah,” kekeh Chiko, ala playboy. *halah*

Cowok yang punya rasa tidak akan punya keputusan yang menetap, semuanya relatif, termasuk perkecualiannya.

4. Kurang ajar edisi 2

“Lha Alin ki duwe bojo?”

“Iyo.”

“Ngopo kowe deket-deket?” berondong Chiko.

“Nggak apa-apa toh?”

“Pacar orang kuwi.”

“Iyo. Ngerti,” sahutku.

Hari-hari berikutnya.

“Masih kontak sama Alin?”

“Masih.”

“Awas wae kena batunya kowe.”

Dan cowok yang punya rasa itu hampir pasti kena batunya. Termasuk aku menemukan batu yang itu. Gede pula.

5. Konsisten

“Lha kowe ngopo kudu golek suku kuwi?” selidikku.

“Panjang ceritanya,” sahut Prima. Dengan tenang, panjang kali lebar kali tinggi, ia menjelaskan perihal seleranya terhadap cewek dari satu jenis ras.

“Yo terserah sih. Saranku sih, realistis wae.”

“Yo iki, wis realistis cah.”

Dan berikutnya, yang kudapati adalah Prima belum pernah berhasil mendapatkan kekasih dari etnis yang ia tetapkan. Cowok yang punya rasa itu cenderung konsisten. Meskipun outputnya adalah konsisten ditolak.

6. Tidak Percaya Sebelum Melihat

“Eh, eh, aku ono cerito,” bisik Bayu. Aku mendekat mendengarkan.

“Tadi, aku ke kosnya Putri. Malah ketemu Danu. Mana Putri lagi tidur di pahanya Danu pula.”

“Lha ngopo juga kowe kesana?” tanyaku.

“Ya, pengen aja.”

“Udah denger kan kalau Putri sama Danu?”

“Ya, pengen lihat.”

“Abis lihat? Terus galau kan?”

“…….”

Yah, meski pahit, cowok yang punya rasa cenderung ingin memastikan sendiri. Sekalian ingin memecahkan hatinya sampai berkeping-keping untuk kemudian membangunnya kembali.

Kira-kira begitu ๐Ÿ™‚

 

Sebutlah Itu Panggilan

โ€œCah! Aku nemu skenario Jomblo Box!โ€

Sebuah pesan singkat masuk di handphoneku yang bututnya minta ampun. Persis ketika pesan singkat dari Adan masuk, handphone-ku mati. Jadilah aku membuka baterai sejenak kemudian menyalakannya kembali. Selalu demikian setiap kali aku menerima pesan singkat. Selalu menderita. Dan jangan pula melakukan panggilan telepon denganku. Kecuali handphone-ku sedang tersambung charger, maka panggilan telepon akan membuatnya mati segera.

Mau beli baru? Tidak bisa. Maklum, sejak aku memutuskan untuk keluar dari farmasi dan beralih ke keguruan, minta duit ke orang tua menjadi tabu bagiku. Ah, keputusan ajaib itu.

โ€œKamu mau pindah jurusan?โ€ tanya Papa dengan suara tinggi.

โ€œIya Pa,โ€ jawabku berusaha tenang.

โ€œBahkan uang untuk kamu masuk farmasi saja belum lunas, Leon!โ€

โ€œBaik Pa, nanti Leon ganti kalau sudah ada uang.โ€

โ€œMemangnya apa masalahmu?โ€

โ€œLeon nggak enjoy Pa. Sangat sangat tidak menikmati. Leon nggak bisa bergaul dengan apalah itu namanya reaksi kimia. Nggak bisa, Pa.โ€

โ€œItu kan baru dasar Leon. Nanti ke depan pasti lebih menarik.โ€

โ€œNggak Papa. Buat Leon jadi guru lebih menarik dan menantang.โ€

โ€œMaksudmu Leon?โ€

โ€œAku mau pindah keguruan Pa!โ€

โ€œJadi guru?โ€

โ€œYa!โ€ ujarku mantap.

โ€œYa ampun Leon. Kapan kamu kaya kalau cita-cita kamu begitu?โ€

โ€œEmang hidup hanya untuk kaya ya Pa? Nggak Pa. Hidup itu lebih dari itu!โ€

โ€œAnak kecil ngomong hidup. Nggak usah sok-sokan Leon. Nggak ada cerita kamu pindah jurusan, apalagi ke keguruan. Titik.โ€

โ€œTapi, Pa..โ€

โ€œTidak ada sanggahan. Tidak adalah tidak.โ€

Aku beranjak. Entah apa yang ada di pikiran Papa sehingga aku tidak boleh pindah jurusan. Tapi aku adalah aku, sama kerasnya dengan Papa.

โ€œTidak adalah tidak juga berlaku untuk Leon, Pa.โ€

โ€œNgeyel kamu?โ€ bentak Papa.

โ€œUntuk kebaikan Leon sendiri. Leon akan tetap pindah jurusan.โ€

โ€œAnak durhaka.โ€

Aku pergi. Dan sejak itu, pulang ke rumah serasa pulang ke kuburan. Sunyi. Tidak ada hubungan yang apik antara aku dan Papa, antara anak dan orang tuanya. Aku tahu, Papa masih sering mencari tahu tentang kemajuan akademisku dari Mama.

Yah, hanya Mama yang memberi sedikit kehangatan di tempat aku tumbuh besar ini. Dan Mama sendiri takluk pada kerasnya Papa, sehingga cenderung tidak bisa berbuat apa-apa.

โ€œKamu punya uang Leon? Ini kan sudah semester baru,โ€ tanya Mama suatu kali saat tiba-tiba masuk ke kamarku.

โ€œTenang Ma. Leon sudah menyiapkan semuanya.โ€

โ€œKamu yakin?โ€

โ€œPasti Ma. Tenang saja.โ€

โ€œBaiklah, kalau kamu ada kesulitan, bilang sama Mama ya. Berapa IP kamu semester kemarin.โ€

โ€œLumayan Ma. IPS-nya 3.88, jadi IPK Leon 3.50. Belum Cum Laude Ma. Semester depan Leon usahakan.โ€

โ€œAnak Mama memang pintar. Sayangnya, keras kepala,โ€ risau Mama sambil mengelus-elus kepalaku.

โ€œSama kayak Papa. Turunan persis. Iya kan?โ€ kataku sambil tersenyum, โ€œPercaya Ma. Leon pasti akan berhasil di sini. Tenang saja.โ€

โ€œKamu keras, tapi kamu kuat Leon. Nggak sia-sia Papa kasih nama kamu Leonard.โ€

Aku tersenyum, berupaya tampak tak ada masalah dalam hidupku. Mama lantas beranjak pergi. Aku kembali dalam lamunanku di atas kasur.

Michael Leonard, itulah nama lengkapku. Kalau kata Mama, kedua nama itu adalah gabungan nama dua petinju terkenal. Michael itu diambil Papa dari Michael Moorer, petinju kelas berat. Sedangkan Leonard diambil dari nama Sugar Ray Leonard, legenda tinju pada masanya. Dan begitulah, Michael Leonard melekat pada akte kelahiranku, meski lantas panggilanku menjadi imut, Leon.

Etimologis nama itu tampak juga mempengaruhi karakterku. Aku keras, persis petinju, dan persis Papa. Jadi, kalau sudah berdebat dengan Papa, maka rumah akan menjadi sangat bising. Seringkali Mama menengahi dengan memintaku untuk mengalah, sesekali meminta Papa yang mengalah. Tapi, dua keras yang bertemu tentu tidak akan dengan mudah mengalah, meski demi Mama sekalipun.

Aku tahu, pada dasarnya Papa keras padaku karena sayang. Tidaklah ada orang tua yang membenci anaknya, separah apapun kelakuan anaknya. Untuk keputusanku pindah ke keguruan, aku yakin itu hanya kesalahan perspektif Papa saja. Papa sampai sekarang adalah seorang guru, namun entah mengapa perspektifnya berbeda dengan guru-guru lain. Teman-teman Papa dengan rela dan suka hati menyekolahkan anaknya yang bercita-cita menjadi guru, tapi Papa tidak.

โ€œPendidikan itu bisnis Leon. Nggak usah kamu ikut dalam arus macam ini,โ€ sebut Papa dalam suatu diskusi keras bersamaku.

โ€œTapi bukankah itu pengabdian, Pa?โ€

โ€œApakah kamu bilang pengabdian kalau konsep-konsep ujian nasional, remidi, dan segala pendekatan yang mendewakan siswa itu dilakukan?โ€

โ€œBukankah pendidikan itu untuk memintarkan siswa, Pa?โ€

โ€œPapa akan sangat setuju kalau kamu jadi guru pada jaman Papa, bukan sekarang. Ada berapa banyak siswa kurang ajar sekarang? Ada berapa banyak siswa yang menganggap tidak mengerjakan PR itu biasa? Ada berapa banyak siswa yang datang ke sekolah hanya untuk pameran mobil barunya? Ini realitasnya Leon. Papa tahu, dan Papa ingin kamu hidup lebih baik.โ€

โ€œBagaimana kalau ini panggilan Leon, Pa?โ€

โ€œPanggilan itu soal mendengar dan melakukan Leon. Kamu bisa saja mendengar, tapi toh kamu tak harus melakukan. Percaya sama Papa, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa.โ€

Sebagian dari kisah Papa pada akhirnya aku temui benar. Aku tidak dapat menyalahkan Papa sepenuhnya soal ini. Aku membiayai kuliahku dengan mengajar privat kimia. Sebagai mahasiswa keguruan kimia, tentu tidak sulit bagiku mendapat anak didik. Bahkan aku sampai menolak tawaran privat, saking padatnya jadwal.

Aku mengamati fenomena anak didik yang betul-betul tidak peduli pada tugas yang diterimanya di sekolah. Aku juga mengamati rasa malas-malasan sepulang dari sekolah. Aku menangkapnya dengan jelas. Tapi bukankah itu bisa diubah? Itulah panggilanku, maka aku memilih berdiri di tempatku sekarang.

โ€œWey sombong. Ora bales SMS!โ€

Pesan singkat lagi, kali ini handphone-ku tidak mati karena memang sedang bertemu charger. Handphone butut ini sudah semacam telepon rumah. Kalau telepon rumah tidak bisa lepas dengan kabel koneksi, maka handphone ini tidak lagi bisa lepas dari charger. Maka, buatku, charger adalah kebutuhan primer keempat selain sandang, pangan, dan papan. Anak-anak lesku juga paham soal ini karena aku selalu mencari colokan listrik setiap kali sampai ke rumah mereka.

โ€œNgerti dewe hp-ku. Lha piye? Digawe po?โ€

Pesan singkat balasan dariku meluncur ke Adan.

โ€œHahaha.. Biasa.. Isu tanpa konsep. Itulah kita.โ€

Ya, itulah kita, selalu begitu balasan Adan. Aku, Adan, Ola, dan Yo adalah pertemanan yang penuh dengan ide, namun minim realisasi. Tapi aku menikmati pertemananku dengan mereka, meski sekarang statusku adalah adik kelas mereka.

Adan dan aku adalah teman satu kelompok waktu inisasi fakultas. Aku sendiri sekelas dengan Ola dan bahkan satu kelompok praktikum dengan Yo. Ketika aku memutuskan keluar farmasi sesudah semester dua, mereka sempat kaget.

โ€œYakin kowe?โ€ tanya Ola lembut, sesuai takdirnya sebagai satu-satunya hawa dalam persahabatan kami.

โ€œKudu yakin, La.โ€

โ€œOra eman?โ€ kali ini Yo yang bertanya, โ€œTukang cuci kayak aku wae bertahan kok. Nanti yang gawe laporan siapa nek kowe keluar Le?โ€

Yo, dalam kemalasannya, memang menjadi tukang cuci alat gelas ketika praktikum dan selalu meminjam laporanku untuk dicontek pada H-1 pengumpulan laporan.

โ€œDiatur wae Yo!โ€ tandasku ringan.

Adan menambahkan, โ€œYa, kalau itu pilihanmu Le, silahkan saja. Aku sih bisanya bilang gitu. Sebutlah itu panggilan, yo kudu dituruti Le.โ€

โ€œSip! Kalian memang teman paling joss sedunia.โ€

Pria Yang Setia Pada Janjinya

Adit tampak gundah, tangannya sesekali mampir ke kepala dan merusak tatanan rambutnya. Raut mukanya juga lesu. Betul-betul tanpa gairah sama sekali. Sendirian, ia berjalan tanpa arah dan tujuan di taman belakang kampus.

Tiba-tiba kakinya seperti terantuk sesuatu.

โ€œAsem!โ€ teriaknya. Mahasiswa Jogja memang selalu punya cara untuk mengakomodasi umpatan sehingga tampak lebih halus.

Adit menunduk, memegangi kakinya yang hanya tertutup sepatu sandal. Bagaimanapun, itu sakit. Untunglah Adit tidak melihat adanya luka pada kakinya. Menyadari kakinya baik-baik saja, Adit penasaran pada benda yang mendadak mampir ke kakinya. Adit hobi jalan-jalan sendiri di taman belakang kampus dan paham setiap detail di tempat ini. Baginya, terantuk sesuatu di tempat yang sangat dikenal, adalah keanehan.

Raut muka gundah dan lesu segera bertambah ekspresi penasaran. Rasa itu muncul ketika Adit melihat sebuah kotak kayu kuno tergeletak manis ditutupi dedaunan.

โ€œSejak kapan ada barang begini disini?โ€ gumam Adit sambil membersihkan kotak itu dari dedaunan. Tangannya menelusuri setiap bagian dari kotak kayu kuno dan mendapati sebuah buah gembok disana.

โ€œKotak itu akan menjawab mimpimu, anak muda.โ€

Adit kaget sejadi-jadinya melihat seorang pria berjenggot putih 1 meter sudah ada di hadapannya. Alih-alih bertanya lebih lanjut, Adit mengambil langkah seribu. Kabur.

Dengan nafas terengah-engah, Adit terkapar di Lorong Cinta yang terletak di tengah kampus. Kepalanya sesekali menoleh ke belakang berharap pria berjenggot putih 1 meter itu tidak mengikutinya. Kampus di sore hari pada hari Minggu tentu saja sepi. Adit berada di area maha besar itu sendirian.

Ketika nafasnya mulai tertata rapi, Adit mengambil posisi duduk yang lebih nyaman, bersandar pada pilar Lorong Cinta. Tangannya menimang kotak kayu kuno dengan sebuah gembok. Pikirannya melayang pada perkataan pria berjenggot putih 1 meter.

โ€œKotak ini akan menjawab mimpimu!โ€

โ€œKudu dibuka kalau gitu,โ€ kata Adit, tentu kepada dirinya sendiri, โ€œTapi piye?โ€

Adit membolak-balik kotak kayu kuno itu, berharap ada metode lain membuka kotak tersebut tanpa harus mendapatkan gemboknya. Lima belas menit dan puluhan kali bolak-balik, Adit berhenti pada keputusasaan.

โ€œDit!โ€ Tiba-tiba Vita datang dan menepuk bahu Adit dari belakang.

โ€œEh!โ€ Antara kaget, malu, senang, dan bingung, Adit kehilangan diksi.

โ€œNgapain di kampus minggu-minggu?โ€ tanya Vita sambil melontarkan senyum manisnya.

Sebuah senyum yang menjadi mimpi Adit.

โ€œNggak apa-apa. Maklum lagi galau.โ€

โ€œPantes tak cari ke kos nggak ada. Aku mau balikin kunci lab nih,โ€ ujar Vita sambil menjulurkan tangan putihnya yang bertaut serenteng kunci.

โ€œOke! Habis ini mau kemana, Vit?โ€

โ€œYa pulang kos lah. Kenapa?โ€

โ€œTunggu sebentar.โ€

Vita menatap bingung. Adit dengan tergesa-gesa mencoba satu persatu dari serenteng kunci yang diberikan Vita untuk membuka gembok kota kayu kuno yang ada di hadapannya.

โ€œKamu ngapain, Dit?โ€

Adit tidak menjawab, fokusnya tertuju sepenuhnya pada kotak kayu kuno dan mimpinya untuk memiliki senyum manis Vita.

โ€œYes!โ€ teriak Adit. Kunci ke-17 alias percobaan terakhir dari serenteng kunci dari Vita berhasil membuka kotak kayu kuno itu. Vita semakin mengernyitkan dahinya, bingung. Adit semakin bersemangat membuka kotak itu.

โ€œTidak ada mimpi yang terwujud tanpa sebuah langkah. Jikalau mimpi itu harus dikejar, kejarlah. Jikalau mimpi itu butuh pengorbanan, berkorbanlah. Jikalau mimpi itu harus diungkap, ungkaplah.โ€

Adit terkesiap. Vita kebingungan. Dua fenomena makhluk hidup yang tampak absurd untuk terjadi pada saat yang sama.
โ€œKalau mimpi itu harus diungkap, ungkaplah,โ€ bisik Adit.

โ€œNgomong apa, Dit?โ€ tanya Vita heran.

โ€œAku sayang kamu.โ€

โ€œApa?โ€

โ€œAku sayang kamu, Vita.โ€

Lorong Cinta, Adit, Vita, dan sebuah ungkapan mimpi. Angin bertiup ringan menembus dedaunan, memberi kesejukan untuk sebuah penantian akan jawaban.

Aku menyunggingkan senyum termanis. Tangan dan mataku belum bisa lepas dari selembar kertas yang kupegang. Mataku mulai berkaca-kaca kala kembali memandangi judul yang tertera pada selembar kertas itu, JOMBLO BOX.ย  Pikirku lantas melayang ke masaย  lampau.

โ€œCah, gawe film yuk!โ€ kata Yo sambil tiduran di kasurku.

โ€œSok. Gawe tugas wae nggak kelar-kelar,โ€ sergah Ola sambil tetap asyik main Snake.

โ€œHiburan, La. Mosok hidup dengan tugas terus,โ€ ujar Yo membalas argumen Ola.

โ€œTapi boleh juga tuh. Dan, gawe skenario yo!โ€ timpal Leon sambil tetap asyik memandangi layar monitor yang sedang beralih fungsi jadi televisi.

โ€œTenan yo! Ojo jadi isu tanpa konsep ini.โ€

โ€œJustru kamu yang bikin konsepnya, Dan,โ€ racau Yo di balik guling.

Dua bulir air mata menyelinap turun membasahi kulit wajah gelapku, seorang pria sentimentil. Rekaman percakapan asal muasal cerita yang barusan kubaca membawa kenanganku kembali ke masa silam, tepatnya tiga tahun yang lalu.

Film Jomblo Box itu tidaklah pernah menjadi realisasi. Bahkan naskahnya saja terselip manis di dalam tumpukan laporan praktikum di dalam kardus. Aku memang hobi menyimpan semua dokumen, meskipun pada kenyataannya sebagian besar adalah sampah. Setidaknya, ketika aku membongkar kamar, aku bisa sejenak tersenyum seperti ini. Konsekuensinya, kamarku menjadi laksana gudang atau mungkin tempat sampah.

Biarlah, nyatanya tiga sahabatku bisa dengan tenang beristirahat di ruangan 3 kali 3 meter ini. Kamar ini adalah peraduan dari empat orang yang berusaha memulai mimpi dengan langkah, persis seperti yang kutulis di naskah Jomblo Box. Meski cerita itu menjadi isu tanpa konsep, setidaknya aku berhasil menemukan sebuah frase yang menguatkan. โ€œTidak ada mimpi yang terwujud tanpa sebuah langkahโ€ kemudian menempel manis di styrofoam orange yang melekat di dinding kamarku.

โ€œRrrrtttttttโ€ฆ. Rrrrrtttttttโ€ฆ.,โ€ kasurku bergetar.

Sebuah pesan singkat dari Nia, pacarku.

โ€œSay, udah makan?โ€

Pertanyaan klasik standar yang selalu dipakai untuk memulai percakapan.

โ€œUdah say. Lagi ngapain?โ€ balasku. Ini juga menu standar.

Aku dan Nia bertemu di awal kuliah dalam sebuah kepanitiaan lintas fakultas.ย  Itu sudah tiga tahun yang lalu. Sudah setahun ini Nia bekerja di Palembang. Pendidikannya sebagai guru SD yang hanya butuh dua tahun tentu berbeda denganku yang masih harus berkutat dengan teori di kampus. Ketika Nia berkisah tentang realita kerjanya, aku hanya bisa menjawab dengan kutipan buku-buku. Sungguh tidak berimbang.

Beginilah aku dan Nia sekarang, puluhan pesan singkat terkirim setiap hari. Kalau malam menjelang, aku dan Nia akan menghabiskan waktu hingga kuping panas atau salah satu dari kami tertidur. Realita Long Distance Relationship. Untunglah hubungan ini masih bisa bertahan.

Tidak ada balasan dari Nia. Mungkin pacarku itu sedang sibuk mengajar atau koreksi. Aku berusaha memahaminya, seperti Nia memahamiku. Mungkin itulah yang menyebabkan hubungan pisah laut yang kami lakoni bisa bertahan.

Cerita Jomblo Box tadi tiba-tiba menggelorakan niatku untuk memasukkannya ke dunia maya. Aku blogger aktif yang sayangnya belum punya laptop dan modem sendiri. Maka aku dengan rutin dan senang hati menghabiskan uang kirimanku untuk sekadar 1-2 jam berkelana di dunia maya. Blogku dikunjungi setidaknya 50 kali per hari. Aku ingin pengunjung di blogku membaca kisah lama yang tidak pernah terwujud itu.

Pandanganku terhenti sejenak pada kondisi kamar yang lebih parah daripada kapal pecah. Tadinya aku hendak mengumpulkan bahan-bahan selama kuliah Profesi Apoteker guna persiapan ujian komprehensif. Tapi tampaknya menulis blog menjadi hal yang paling menarik saat ini. Perkara kamar berantakan biarlah diurus nanti.

Beginilah kehidupanku, Adan Setia Dharma. Entah mengapa orang tuaku tidak memakai saja istilah umum untuk menamaiku. Adan itu sejatinya sama dengan Adam. Mungkin orang tuaku tidak menginginkanku berkumis macam Om Adam suaminya Tante Inul.

Namaku tidaklah mengandung arti yang sangat berat. Orang tuaku hanya menginginkanku menjadi seorang pria yang setia pada janjinya. Itulah prinsip yang selalu aku junjung tinggi karena bagaimanapun seluruh dunia akan menangkap langsung dari namaku bahwa aku ini selalu setia pada janjiku sendiri. Itulah sebabnya aku berusaha lulus secepat mungkin untuk bisa mewujudkan janjiku membantu orang tua. Adikku empat dan masih sekolah semua, jadi aku harus cepat-cepat menjadi apoteker, cepat-cepat bekerja, dan cepat-cepat membantu orang tua.

Aku selalu merasa kesasar setiap kali hendak lulus karena jiwaku sejatinya bukanlah di farmasi. Seperti karyaku yang terselip di dalam tumpukan, aku lebih nyaman menulis. Bahkan mimpiku adalah menjadi penulis, sungguh tidak nyambung dengan keadaanku sebagai calon apoteker.

Kadang memang hidup harus realistis. Aku selalu berusaha memahami itu sambil tetap berupaya mencari langkah untuk mewujudkan mimpiku.

Telepon genggamku bergetar lagi. Nia membalas pesan singkatku.

โ€œLagi kangen kamu, sayang :)โ€

Pulang, Ke Hati Yang Bertuan

Aku pulang
setelah pencarian akan sebuah peraduan
setelah penyadaran akan sebuah kenyataan
setelah peringatan yang (mungkin) datang dari Tuhan

Aku pulang
setelah aku tidak menemukan tujuan
setelah aku tidak melihat masa depan
setelah aku tidak merasa nyaman

sumber: socialmediaforsmartpeople.com

Aku pulang
ke tempat yang masih sama
ke ruang yang tetap tiada
ke hati yang tetap tidak terbuka

Aku pulang
karena cinta memintaku pulang
karena hati ini merindu ruang
karena jiwa ini merasa sayang

Aku pulang
ya, aku pulang

Aku pulang
ke hati yang bertuan
ke hati penuh buncah kerinduan
ke hati pencari kesetiaan

Aku pulang
ke tempat yang tuannya bukan aku
ke tempat yang tidak merinduku
ke tempat yang tidak mencariku

Aku pulang
karena aku ingin pulang
karena aku masih berharap akan sebuah ruang
karena aku merasa menyerah sebelum berjuang

Aku pulang
untuk sebuah rasa yang tak terkatakan
pada sebuah hati yang jelas-jelas bertuan
demi sebuah rasa yang tak tertahankan

Aku pulang,
demi cinta.

Dalam sebuah permenungan, 030912

Batak Itu Satu Keluarga

Berawal dan bermula dari mau bikin rancangan plot yang sudah jelas bab 1-nya, tapi terkendala masalah plot lanjutan berikut kejutan yang maunya ada surprise. Hmmm… malah lari ke sejarah BATAK. Hahahaha..

Eh, tapi Batak itu unik loh. Asli. Sejak kapan orang yang tidak saling kenal bisa ‘dianggap’ bersaudara semata-mata karena kesamaan marga? Ehm, ternyata dari sononya, memang sudah begitu. Nggak percaya?

Saya coba kulik-kulik dari sini dan mencoba menerjemahkannya dalam excel. Heleh, kotak lagi ๐Ÿ™‚

Jadi Si Raja Batak punya dua anak yakni Raja Tatea Bulan dan Raja Isombaon. Nah, turunan Raja Tatea Bulan adalah sbb:

sumber: reka-reka @ariesadhar

Kalau dari Raja Isombaon, sebagai berikut:

sumber: reka-reka @ariesadhar

Jadi silahkan dicari marga masing-masing. Itu yang kuning itu sebenarnya satu rangkaian tapi bakal jadi rempong kala saya deret ke bawah, puanjanggg.. Kalau mau lebih jelas, silahkan datang ke lapo-lapo terdekat, biasanya ada TAROMBO yang bisa dilihat.

Ini mirip sebuah lagu: aku Batak, kamu juga Batak, kita Batak yang satu keluarga… *nyanyi mode on*

๐Ÿ™‚