All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Poelang Kampoeng

Ada suatu masa yang telah berlalu, yang kemudian memberi warna, makna, dan rasa pada kehidupan kita. Itu sudah pasti. Dan pernahkah kita merindukan masa-masa itu?

Saya yakin, pernah.

Dan mungkinkah kita kembali ke masa itu?

Tentu kita nggak akan menjadi muda kembali. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa sejenak pulang dan merasakan kembali masa yang telah berlalu itu.

Yup. Sejenak pulang. Sebuah terminologi yang kurang lebih bermakna ‘kembali’. Sebuah diksi yang sejatinya tidak akan bermakna lebih tanpa kehadiran manusia di dalamnya.

Ya anggaplah dulu kita pernah tinggal di suatu tempat, lalu bertahun-tahun kemudian kita kembali ke tempat itu, tapi kita tidak menemukan orang-orang yang dulu ada di tempat itu bersama kita. Makna pulang jadi kurang terasa.

Maka, apa jadinya ketika orang-orang dengan kerinduan yang sama, memutuskan untuk pulang dalam satu waktu yang sama?

Pastinya sangat monumental.

Dan disinilah itu akan terjadi.

poelang kampoeng

Bermula dari sebuah tantangan sang pelatih yang langsung disambut antusias, maka terjadilah event ini:

Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Namanya juga konser reuni, maka yang akan ada di panggung adalah orang-orang yang dulu pernah berjuang bersama di PSM Cantus Firmus, dan kini sudah tersebar di berbagai tempat, yang khusus pulang untuk konser ini.

Mereka datang dari tempat-tempat yang berjauhan, dari barat Indonesia, juga dari timur Indonesia, pun dari sekitar ibukota, hingga dari belahan dunia yang berbeda.

Mereka datang, untuk pulang.

Pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?

Untuk itu, jangan lewatkan Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 2013.

Untuk reservasi tiket bisa melalui Mbak Niken (08985554109). Sistem pemesanannya juga sudah canggih, jadi bisa memilih bangku yang hendak direservasi hanya dengan klik disini 🙂

Tunggu apalagi? Masih hendak melewatkan peristiwa istimewa ini?

🙂

Yang Terlihat Tak Seperti Yang Dikira

Bahwa pepatah lawas, jangan menilai buku dari sampulnya, itu masih sangat relevan di masa kini. Itu poin dari judul saya.

Kalau nggak salah saya pernah cerita bahwa ada seorang tetangga yang terhitung baru meninggal setelah bergulat dengan gagal ginjal selama beberapa tahun. Sesudah sang bapak berpulang, saya memang belum berkunjung, semata karena yang saya lihat dari luar, keluarga itu sudah tampak baik-baik saja.

Saya lupa bahwa ada 3 anak perempuan disana..

dan mereka merindukan bapaknya.

Alkisah beberapa hari yang lalu, malam-malam, terdengar tangisan dari luar, si anak kedua. Ternyata, si anak bungsu sedang luka berdarah-darah di dalam sana gegara habis jatuh bersama si anak sulung.

Okelah, perkara jatuh dan berdarah-darah, mari kita skip saja. Toh malam harinya si anak bungsu sudah bisa pulang kok, habis ditangani di rumah sakit.

Poin saya justru ada dua.

Ketika bercerita kronologisnya, sambil menangis, si sulung bilang begini:

“Kan aku lihat ada mobil kayak mobil aku, langsung aku kebayang kalo bapak masih hidup, bisa kita naik mobil lagi. Tau-tau ada lubang di depan..”

Dan ketika di rumah sakit, si anak kedua menangis sambil bilang begini:

“Bapak, pulang pak. Jangan disana aja. Kesini bantuin adek.”

Opo ora trenyuh aku kuwi?

They miss their father. Very much.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik soal ini. Banyak sekali.

5 Hal yang Bikin Nggak Jadi Resign

“Kalau gini terus, lama-lama gue resign juga nih!”

Siapapun yang pernah kerja di perusahaan pasti pernah mendengar kalimat macam ini. Saking seringnya didengar, soalnya ternyata yang mengucapkan kalimat adalah orang yang sama, selama 35 tahun, dan sebenarnya ya dia nggak resign-resign. Memang pada umumnya orang yang kebanyakan berkoar inilah yang nggak resign-resign nantinya.

images (8)

Begitulah kelakuan karyawan. Sudah susah-susah apply, kemudian ujungnya resign juga.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Ber-apply-apply dahulu
Lalu resign kemudian

Eh tapi resign ya nggak semudah itu juga. Kayak saya ini, walaupun disenggol sama beberapa PMA, tapi ya masih teguh kukuh berlapis baja untuk bertahan pada panji-panji yang sama (waktu itu). Ada banyak pemikiran yang kemudian menyebabkan munculnya pernyataan di awal tulisan ini. Berikut lima diantaranya.

1. Nggak Dapat Company yang Cocok Tempatnya

Kayak saya nih, waktu di Palembang, pabrik yang bergerak di bidang itu ya cuma satu itu. Kalau udah kebetulan menetap disana, sudah KPR rumah, sudah ini dan itu, mau pindah kemana lagi dong? Namanya pekerjaan dengan ilmu spesifik apalagi. Jadilah kadang ada orang sarjananya Apoteker, kerjanya di Bank. Sarjananya Enjinir, kerjanya di Bank. Kalaupun jadi pindah, ya harus mempertimbangkan aneka faktor termasuk KPR rumah lagi, cari rumah lagi, hingga cari istri lagi.

images (9)

Dan ada teman juga yang sudah nyariiiiisss banget pindah, dan baru ngeh kalau kantor pusatnya ada di tengah kota Jakarta. Mengingat macet sudah begitu menggila, maka yang nyaris tadi berubah menjadi nggak jadi. Pada dasarnya tempat memang sangat krusial.

2. Merasa Akan Sama Saja di Company Berikutnya

Kadang sudah interview, sudah ditanya-tanya, sudah akan oke. Tapi kok perasaan bilang lain ya. Ini yang disebut intuisi. Ada nih teman sudah interview dan pengen pindah karena di tempat lama isinya lembur melulu. Begitu interview, ketahuan kalau bakalan lembur juga.

Jadi ya sudah. Nggak resign deh. Tetap saja lembur di tempat yang lama dengan segala kepastian indahnya jadi karyawan tetap.

3. Apply-an Nggak Ada yang Tembus

Ini nasib. Sudah berencana pengen resign, lalu masukin apply-an kemana-mana, dan pada akhirnya.. nggak ada yang manggil.

images (10)

Daripada jadi pengangguran, ya sudah deh, resign-nya kapan-kapan aja.

4. Dapat Pacar di Company Sekarang

Satu hal yang bisa mempertahankan keadaan adalah ketika tiba-tiba dapat pacar di lokasi yang nggak enak sekarang. Bermula dari pengen resign, akhirnya lupa kalau pernah pengen resign. Ya kurang enak apa kalau sekantor sama pacar? Bisa berkasih-kasihan dengan indah dibawah naungan owner. Misalnya, memadu kasih bisa dilakukan di dalam gudang, di atas pallet pada level ke-7.

images (11)

Resign-nya ntar aja kalau salah satu diantaranya nikah. Atau kalau memang tidak ada peraturan company yang melarang nikah sesama, ya terusin aja. Kapan lagi bisa sekantor sama laki atau bini, sementara jutaan orang lain LDR?

5. Sukses Dirayu Petinggi

“Kamu yakin? Saya bisa naikkan gaji kamu loh.”

Awalnya begitu. Maka kemudian keyakinan tinggi berlapis emas ketika maju ke bos bilang resign, kandas seketika. Apalagi kalau kemudian gajinya sebelas dua belas juga. Yah akhirnya bilang ke calon Company baru. Nggak jadi ya. Huiks. Tapi kalau yang begini nggak akan berlaku buat yang resign jadi PNS. Company juga bingung mau nawarin apa. Nggak akan tega juga nawarin gaji 1,7 juta, dari aslinya 8 juta. Simpel to?

Jrenggggggg…. poin-poin untuk resign itu tergantung kekerasan hati yang mau resign. Kalau memang sudah mentok, ya sudahlah. Apalagi kalau sudah disingkirkan sama teman selevel. Memberi ruang karier pada orang lain itu kadang-kadang tergolong berbuat baik kok.

Semangat!

5 Hal yang Disia-siakan Karena Terlalu Memilih

pablo

Alhamdulilah yah. Seburuk-buruknya tampang saya ini, kok ya masih saja ada yang ngefans. Cihui. Mungkin orang-(orang) yang nge-fans itu sedang terbutakan mata hatinya oleh cinta. Tsahhh. Bukan sotoy lho ini, tapi mendapat input dari orang-orang yang bisa dipercaya. Saya pas dikasih tahu juga kaget. Kok bisa-bisanya?

Tapi menjadi masalah buat saya ketika kemudian perfeksionisnya Capricorn Melankolis nongol. Mintanya yang sempurna. Padahal muka sendiri sudah jelas jauh dari standar, apalagi sempurna, gimana cara mau minta yang sempurna. *lempar kaca*

Ketika menggalau berjomblo ria, sudah nyaris setahun ini, hal yang kemudian jadi soal adalah: apakah saya terlalu memilih? Dipadukan dengan berbagai pengalaman orang lain, berikut lima hal yang disia-siakan oleh manusia akibat terlalu memilih pasangan.

1. Status Aman

Orang-orang yang terlalu memilih itu ya bakalan jadi jomblo. Mereka lupa bahwa jomblo itu adalah status yang tidak aman. Iya dong. Jomblo adalah status yang mempermudah orang untuk menjodoh-jodohkan. Which is, saya amat sangat tidak suka dijodoh-jodohkan. Jomblo juga bisa dengan mudah menjadi bahan cerita orang, bahkan ketika hanya sekadar pergi makan berdua dengan lawan jenis. Para jomblo–apalagi kantoran–juga cenderung akan jadi korban rayuan dan pendekatan dari orang-orang lain yang mengetahui bahwa mereka jomblo. Status taken sejatinya adalah perisai (emangnya kapten Amerika?) untuk pendekatan tahap awal dari orang-orang nakal. Hiyuh.

2. Kesempatan Belajar

Orang terlalu memilih karena ada yang tidak sesuai. Kalau saya misalnya, punya 2 patokan utama. Usia dan Agama. Itu nggak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebab saya pernah jadi bajingan yang melewatkan seorang gadis hanya karena ternyata dia beda agama sama saya. -___-“

Atau juga karena ketidaksesuaian sikap. Ada kan cewek nggak suka kalau cowoknya terlalu polos. Ada cowok nggak suka kalau ceweknya terlalu mudah dekat lelaki.

Padahal kalau mau ditelaah nih, bukankah itu kesempatan belajar yang besar? Seorang posesif begitu bertemu seorang yang berpikiran bebas, akan ada pembelajaran yang besar disana. Sama halnya dengan seorang yang tepat waktu, ketemu yang suka moloran. Saya belajar banget dari ketidaksesuaian karakter kedua orang tua saya. Satu Jawa, satu Batak. How come? Tapi nyatanya, perbedaan itu bisa menjadi kesempatan belajar yang baik untuk membentuk rumah tangga yang sa-ma-ra.

3. Kemungkinan Belaian

Jomblo-jomblo itu kalau di FB apa Twitter aja nggaya ngeluh kesepian. Giliran ada yang deketin, eh dicuekin. Giliran ada yang nyuekin, eh digalauin. Susah jadi jomblo yah.

Kalau tidak terlalu memilih, maka jomblo-jomblo itu tidak akan kekurangan belaian. Yah minimal belaian si Brown LINE (ala LDR).

4. Jodoh yang Dilewatkan

Ada kalanya orang terlalu memilih, saking kelewatnya, ternyata itu jodoh yang dilewatkan. Biasanya ini karena faktor prinsip. Misal suku dan agama. Dalam menjaring kandidat jodoh penghapus jomblo, apalagi usia 25 ke atas, maka suku dan agama menjadi faktor yang sangat penting. Soalnya, pikirannya udah ke kapan kawin, gimana bisa kawin, dll. Nggak ada tuh, “mari kita jalani dulu.”

Nah, begitu ketemu, beda suku misalnya. Langsung dilewatkan. Padahal, bisa jadi dialah sebenarnya jodoh kita. Emak saya dulu, juga dapat resistensi ketika menikah dengan orang Jawa. Kalau mau langsung memilih saklek kriteria, ya nggak jadi sama Bapak saya dong. Padahal nyatanya jadi.

Hayo, siapa yang sudah merasa melewatkan jodohnya cuma gara-gara suku dan agama? Hehehehe.

5. Kesempatan Bahagia Lebih Muda

Ada yang bilang, ketika sudah berdua, dan kemudian memutuskan untuk saling menerima, maka itu adalah jalan bahagia. Ada juga yang bilang ketika sudah berdua(an), dan kemudian memutuskan untuk saling berpelukan, maka disitu ada kemungkinan kejadian yang berlanjut pada organogenesis *halah*

Tapi ya gitu, apakah yakin kalau kita menunggu, akan dapat yang lebih baik? Atau malah akan dapat yang seadanya? Apakah yakin bahwa yang kita lewatkan sekarang itu tidak baik? Padahal, kalau dipilih sekarang, siapa tahu kesempatan bahagia lebih muda itu bisa diperoleh. Nggak urus lagi menggalau di FB dan Twitter kan?

Fiuh. Ini nggak lucu. Masuk kategorinya supaya sama dengan yang lain saja. Semoga jadi refleksi bersama. Amin.

😀 😀

Aneka Search Engine Terms yang Nyasar ke ariesadhar.com

Punya blog yang banyak isinya itu lumayan berguna ternyata. Minimal setiap hari ada 80-an pengunjung yang tiba di blog ini dengan status kesasar. Iya, kesasar karena ternyata banyak dari mereka yang tiba kesini dengan search engine terms yang sebenarnya kontennya nggak ada di blog ini.

Tapi ya banyak juga kok yang nyasarnya benar. Perihal bis Cikarang-Jogja, lalu juga soal shuttle bus Cikarang-Blok M, hingga soal-soal audit, itu rata-rata masuknya benar.

Nah, kalau yang benar itu sih kurang seru. Kalau yang nyasar ini yang suka mengundang tawa kalau saya lagi lihat dashboard. Berikut search engine terms terpilih 🙂

“cara menyimpan masalah tetapi raut muka tak kepikiran”

Picture2

Aslinya saya juga bingung ini nyasar ke posting mana dan apa pula tujuan mengetik deretan kalimat ini di Google. Tapi mari kita berpikir positif saja, siapa tahu yang mengetik SET ini memang lagi punya masalah, tapi nggak pengen kelihatan sama orang lain. Kali ya.

Ngenes Abis -> “Jatuh cinta diam-diam dengan teman sendiri”

Picture3

Ini pasti nyasar di aneka cerpen saya yang umumnya memang tentang cinta diam-diam. Tapi ya ngapain juga yang beginian diketik di Google? Saking desperado-nya apa yak? Terus jadinya kan malah baca cerpen saya yang tak kalah mengumbar kegalauan dong? Kasihan.

Setengah Berharap, Separuh Ngimpi -> GEBETAN menjauh

Picture4

 

Lha buset, baru juga gebetan sudah diharap mau kembali? Emang lo sudah pernah ngapain aja sama gebetan? Kalau pernah pacaran, diharap kembali kan tergolong masuk akal. Eleuh. Susah amat hidup yak. Kalau yang di bawah itu rada ngenes, dia bawa-bawa suku. Yah, menggebet cewek Batak memang punya tren tersendiri. Saya sih tahu, tapi nggak pernah, berhubung dilarang oleh emak saya (asli Batak) gegara sinamot itu mahal. Heuheuheu.

MESUM ABIS!!!

Picture1

Bahkan untuk cara membawa pacar ke hotel secara diam-diam saja terus nanya ke Google? Saya heran dengan isi otak yang ngetik deh. Sudah jelas hendak berbuat mesum, masih saja nanya ke Google. Untuk saja blog ini tidak berisi tips berciuman yang baik, kalau nggak pasti kemana-mana tuh. Hahaha. Lha kalau cuma mau bawa pacar diam-diam ke hotel, ya tinggal masuk aja. Emang siapa yang bakal nanya juga? Itu mesti yang ngetik SET masih anak ababil. 😀

Ya begitulah, sedikit saja. Beberapa SET yang unik memang saya bahas disini, termasuk yang dulu “ingin keterima farmasi usd”. Setiap hari selalu ada SET yang absurd, 4 teratas adalah yang terpilih dalam SET 30 hari terakhir. Hehehe.

Jangan semua ditanyakan ke Google ya. Masih banyak jawaban lain di dunia ini. 🙂

 

 

Jogja

Kemaren dapat kirim lagu via whatsapp. Mengingat sejak sudah nggak sama Mbak yang itu, kebiasaan kirim mengirim lagu pakai whatsapp sudah tidak dilakukan lagi, mendadak ingat deh. Hahahaha.

Untung juga HP habis service dan data hilang semua. Setidaknya ada sela di memori, dan jumlahnya lumayan lega.

Nah, lagu yang saya dapat agak mengundang tanda tanya.

Lagu opo iki? Ora tau krungu.

Tapi begitu didengarkan, asyik punya! Beneran. Ini juga nulis posting sambil muter itu lagu.

Judulnya saja sudah monumental banget -> JOGJA. Dinyanyikan sama Ni-na. Dan pastinya bukan Oh Nina, karena itu kan band-nya cowok. Ini cewek. Baiklah, begini liriknya. Saya kutip dari sini. Ada link download-nya juga disana.

Kutemukan cinta di indahnya Jogjakarta
Buat hidupku berwarna terbuai asmara

Kunikmati cinta berdua selalu denganmu
Menyusuri kota budaya Jogjakarta

Tapi kini saatnya tiba
Ku harus tinggalkan dirimu
Meski hati kan selalu milikmu

Ada yang tertinggal di Jogjakarta
Saat kunaiki kereta
Semua kenangan cinta terajut asmara

Entah kapan lagi kita bertemu
Tak mungkin hatiku mendua
Bila nanti kujauh kan kudekap cinta

Ku tlah jatuh cinta pasrahkan diri padamu
Eratkan pelukan hangatnya Jogjakarta

Kunikmati cinta tak lepas diriku kau cumbu
Pelan habiskan malam romantisnya Jogjakarta

Walau diriku kini telah pergi
Hatiku kan selalu disini
Selamanya kan kubawa
Kenangan di Jogjakarta

 

Opo ra nggawe garuk-garuk aspal ki lagune? >.<”

Eniwei, keren abis. ABIS!

Kesengsaraan – Ketekukan – Tahan Uji – Pengharapan

Jadi ceritanya kemarin Sabtu itu lagi nongkrong di Truly 33 sama Coco, Elvan, dan RQ. Dapatlah saya whatsapp dari Mb Esti, diminta tugas Minggu sore. Berhubung jomblo jadwal kayaknya kosong, ya sudah, hayuk acc. Step berikutnya adalah berangkat ke rumah Yoyo di LeBai (baru tahu saya ini singkatan untuk Lembah Hijau.. -___-) untuk gathering lelaki 2004.

Eh di depan Carrefour, ada yang nelpon, Yoyo sih. Pas juga saya buka HP ada Mas Robert SMS minta tuker Minggu sore ke Sabtu sore, alias 2-3 jam lagi. Berhubung juga memang lagi di Lippo, ya sudah. Toh kumpul bocah-nya juga masih menanti kedatangan Boris, Blangkon, dan Cawaz.

Maka, jadilah saya tugas Sabtu sore. Sebagai lektor cupu, ini kali pertama saya tugas di hari Sabtu.

Dan kebeneran, dapat bacaan yang duluuuuuu (saking suwi ne) juga pernah saya baca. Dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma.

Nggak usah saya tulis semua, karena yang buat saya keren itu ada di ayat 3 sampai 5.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam KESENGSARAAN kita, karena kita tahu, bahwa KESENGSARAAN itu menimbulkan KETEKUNAN, dan KETEKUNAN menimbulkan TAHAN UJI, dan TAHAN UJI menimbulkan PENGHARAPAN. Dan PENGHARAPAN tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Dulu, yang jadi poin saja adalah “dan bukan hanya itu saja…”, makanya saya ingat banget kalimat ini sebagai penanda bacaan-bacaan yang pernah saya baca dulu.

Tapi dalam waktu review yang singkat, 30 menit sebelum tugas, saya malah mendapati ayat 3 sampai 5 itu sungguh menampar. Kok?

Lihat urutannya Kesengsaraan -> Ketekunan -> Tahan Uji -> Pengharapan.

Jadi, kalaulah kita sengsara, maka akan muncul ketekunan, dan kemudian yang muncul adalah tahan uji, dan kemudian berakhir pada pengharapan.

Kalaulah saya merasa saya sengsara, maka harusnya saya tekun kan? Dan harusnya saya tahan terhadap ujian-ujian yang diberikan kan? Dan akhirnya, saya akan bisa berpengharapan kan?

Nyatanya?

Tekun aja kagak. Gimana mau tahan uji?

Fiuh. Begitulah. Setiap kali tugas, dan setiap kali bacaan, selalu punya makna. Kalau nggak jadi lektor, mana ada cerita saya mikirin ayat kitab suci. Doa aja jarang. Hehehe.

Merawat Kamera DSLR

Punya aja belum, sudah nggaya posting beginian !

Nggak apa-apa, dalam waktu dekat, kalau perlu itu CC penuh balada akan saya gesek buat beli benda ini. Sudah lama sekali pengen beli. Heuheuheu.

Sumbernya inih adah beberapah yah, disini, disitu, dan disana.

DSLR adalah kependekan dari Digital Single Lens Reflect. Harganya, paling murah saja 4.5 juta. Yasalam.

Hindarkan kontak langsung dengan matahari

Ini mirip elektronik pada umumnya sih. Apalagi buat kamera murah, karena pasti ringkih. Cuma gimana kalau motret outdoor ya?

Hindarkan dari goncangan berlebihan

Pastinya harus ditaruh di tas khusus kamera, yang biasanya ada busa peredam benturan.  Ini must buy tool berarti.

Hindarkan dari kapur barus

Naftalena katanya dapat merusak konten kamera, termasuk ke Printed Circuit Board-nya.

Penyimpanan di tempat yang baik

Baik disini dalam artian kedap udara, sejuk, dan kering. Lemari penyimpanan pasti mahal. Jadi mungkin bisa di toples kaca yang tertutup rapat, plus dessicant untuk menyerap lembab. Huaaa.. Apa kabar Cikarang yang lembab-nya 80% lebih ini? Dan baik ini juga berarti bebas dari butiran debu.

Selalu bersihkan kamera dan lensa

Pembersihan dilakukan teratur dan berkala (udah kayak klausul ISO ajah..), body-nya dilap kering dan bersih, lap tidak kasar. Bagian dalam pakai blower yang biasanya dijual di toko kamera, bukan toko roti. Untuk membersihkan lensa dari noda, pakai tisu khusus juga. Beli lagi dong? -___-

Hindarkan goresan pada lensa
Bagusnya–katanya–ada filter permanen untuk melindungi. Untuk itu juga, usahakan selalu pasang penutup waktu lensa lepas dari body.

Sebaiknya jangan simpan di lemari pakaian

Apa kabar anak kos? Hedeh. Katanya bisa pakai wadah khusus bisa kaca, bisa fiber, atau lainnya. Dan alasnya empuk lho. Penggunaan dessicant kira-kira 2 bulan. Atau pakai KCl semacam serap air gitu (di kamar saya sebulan langsung penuh!). Bisa juga pakai teh yang ditaruh di wadah, lalu letakkan dekat kamera. Ini kayaknya sebelum beli kamera, saya harus beli wadahnya dulu. Kamera juga jangan ditaruh di dalam wadahnya dalam waktu yang lama. Sumpek kali ya.

Membersihkan kamera

Gunakan blower untuk meniup butiran debu dari body dan lensa, sebelum kemudian dilap dengan kain dan kertas yang semuanya khusus. DUIT LAGI!

Mengamankan LCD
Pakai alat pelindung dari sono-nya. Mahal nggak ya? Kalau pakai antigores HP bisa nggak ya?

Baterai

Jangan di-charge berlebihan. Segera cabut kalai penuh, dan juga lepas jika sedang tidak digunakan.
*malah jadi mikir ulang inih*

-_____-“

5 Kenikmatan yang Lepas Karena Lulus Cepat

Kemaren dapat whatsapp dari teman di Surabaya, katanya ada universitas disana yang mengadakan les! Yasalam, kuliah farmasi saja sudah ngenes, apalagi ada lesnya. Kapan mau pacaran kalau gitu ceritanya mah? Belum lagi, kalau lulus, apa bisa langsung struggle saat ‘dihajar’ oleh keadaan?

Mboh.

Tapi, sebagai salah seorang yang b(er)untung bisa lulus cepat 1 semester, saya hendak memaparkan 5 jenis kenikmatan yang lepas ketika kita memutuskan untuk lulus kuliah lebih cepat.

1. Nikmat Nongkrong di Kampus

Kalau status kita masih mahasiswa, nongkrong di kampus itu amat sangat diperkenankan. Lihatlah, mahasiswi-mahasiswi berkeliaran, dan mereka adalah adik-adik kelas yang muda-muda. Bukankah itu pemandangan yang bikin awet muda belia melanda?

Sekarang bayangkan ketika kita sudah lulus, lalu kemudian nekat datang ke kampus untuk nongkrong. Saya pernah, dan pertanyaan pertama, “sudah diterima dimana?”

Saya sebagai pengangguran waktu itu kemudian mendadak gundah gulana, lalu melipat muka dan menurunkan sandaran hati, serta membuka penutup jelaga, plus mengencangkan sabut kelapa. Maluw brow!

Jadi, selagi bisa nongkrong, kenapa nikmat itu harus ditinggalkan?

2. Nikmatnya Bangun Siang

Hari Senin, bangun jam 9. Hari Selasa, bangun jam 10. Hari Rabu, bangun jam 11. Itu kalau nggak mahasiswa, ya pengangguran. Lah, siapa yang mau dapat embel-embel pengangguran? Bukanlah lebih nikmat berlabel mahasiswa, lantas kemudian bisa bangun siang?

Orang yang sudah lulus memang bisa bangun siang, tapi itu juga kalau mereka sakit (potong cuti), cuti (ijin sakit), pura-pura sakit (karyawan nakal), atau paling masuk akal: shift 2.

3. Nikmat Nggak Dimintain Duit

“Eh, sudah kerja dimana? Gajinya gede dong? Makan-makan ya.”

-____-

Paling semprul nih yang beginian, untung masa saya yang begitu sudah lewat. Tapi iya demikian, kalau sudah kerja, pasti dimintain makan-makan, duit dan semacamnya. Waktu saya kuliah, mana ada cerita adek-adek saya minta duit. Begitu sudah kerja?

“Bang….”

“Yoh…”

*elus elus dompet*

4. Nikmatnya Minta Duit

Sejalan dengan nikmat nomor 3. Maka status karyawan akan membatasi kita untuk minta duit ke orang tua. Udah kerja kok minta duit? Malu sama perusahaan! Pasti orang susah ya? -____-

Meninggalkan kesempatan untuk tetap nikmat minta duit, sebelum kemudian menjadi orang yang dimintain duit, itu adalah sebuah pilihan. Nah, nah, nah, sila diputuskan.

5. Nikmat Jadi Senior

“Hey, semester berapa kamu?”

“Dua, Bang.”

“Sini pacaran sama Abang.”

Itu kalau di kampus. Kalau di kantor?

“Hey, anak baru ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu angkat kesini.”

*dokumen setinggi 2 meter*

Kalau masih belum puas menjadi senior, orang yang dihormati, dikenali, dan lainnya, silakan memegang nikmat ini. Karena begitu lulus, apalagi jadi karyawan, maka kita akan serta merta jadi cupu kembali seperti semula. Jadi objek penderita lagi. Jadi kroco lagi, dan sejenisnya.

Yeah, dipastikan bahwa 5 hal diatas adalah nikmat yang nyata, namun tentu saja sesat. Jadi, mau ditiru atau tidak, silakan. Saya sendiri, lulus 3,5 tahun (plus 1 tahun apoteker), dan sejauh ini nggak menyesal kok meninggalkan 5 nikmat di atas. Tentunya karena selama 3,5 tahun saya benar-benar memanfaatkan nikmat yang ada tersebut.

😀

Limit

No. No. No. Ini bukan limit yang pelajarannya Pak Mantri di JB, yang mana saya hanya dapat 3 untuk setiap ulangan. Oya, nilai minimalnya Pak Mantri itu ya 3. Intinya?

Saya salah semua.

Bukan itu dong. Ini tentang batas dalam diri kita.

Kemarin saya psikotes, tentunya bukan dalam rangka interview di company lain, soalnya yang ngadain psikotes itu kantor sendiri. Nah loh. Untuk keperluan tertentu pastinya.

Satu tes yang saya dapat adalah Tes Pauli. Yang isinya kertas segede koran, lalu kemudian diisi penjumlahannya. Tes ini pertama kali saya temui saat amotrap. Dan syukurlah cukup bisa diikuti.

Lalu limit apa yang saya maksud?

Selama ini saya nggak pernah nembus 2 lembar untuk tes Pauli ini. Bahkan waktu tes PKL Pharos, hanya dapat 3/4 kalau nggak salah. Wajar sih, dulu itu psikotes sambil LAPAR (maklum mahasiswa..)

Nah, kemarin, saya mencoba menembus rekor itu. Sekali-kali kek, bisa nembus 2 lembar. Masak sih nggak bisa?

Dan untunglah, bisa. Walaupun ya di halaman kedua cuma kegarap sedikit. Yang penting batas psikologis untuk mengerjakan lembar kedua sudah dilewati. Well, pressure itu ternyata penting untuk menetapkan limit. Dan membuat saya sadar bahwa harus terus memberikan batasan pada diri saya, yang terus menerus ditambah agar bisa dapat hasil terbaik.

Itu hanya Pauli.

Semoga saya bisa melakukannya di hal-hal lainnya.

😀