All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Media Sosial dan Kisah Kecerdasan Jempol

Picture1

Salah satu problema dalam hidup nan kekinian selain antre beli bubur ayam di belakang mbak-mbak yang orderannya custom (nggak pakai kacang, kacangnya dipisah, nggak pakai daun bawang, nggak pakai lama, dll) sejatinya adalah perihal kecerdasan di media sosial. Benda yang 10 tahun silam baru sebatas bahan menggebet dengan mengunduh seluruh foto gebetan dari Friendster dan menjadikannya desktop background, kini telah menjadi begitu menggurita sekaligus menjadi medium bagi banyak orang untuk memperlihatkan kecerdasannya.

Kenapa saya perlu menaruh perhatian tertentu tentang kecerdasan? Sebenarnya sepele, suatu kali saya diberi tahu oleh salah satu awardee beasiswa paling hits di Republik Indonesia perihal status Facebook seorang awardee lain yang kebetulan sama-sama berada di suatu negara di Eropa. Status Facebook itu berkaitan dengan bencinya si awardee lain itu pada Presiden kita, Joko Widodo. Kadang-kadang geli juga, masalah Jokowers, Cebongers, dan kawan-kawan itu tadinya saya pikir hanya perdebatan di dalam negeri. Kiranya saya salah karena bahkan mahasiswa S2 di tanah Eropa asal Indonesia saja ikut-ikutan begitu.

Saya merasa perlu membawa-bawa Presiden Jokowi dalam konteks bermedia sosial. Sepele saja, sebelum Jokowi muncul, seingat saja Facebook itu adem, Twitter itu tenang, apalagi Path, belum dikenal. Begitu Jokowi muncul, media sosial mendadak menjadi dunia nan terbelah. Salah satu yang patut diingat adalah penyebaran berita tentang ibunda Jokowi yang orang Kristen. Ketika sang penyebar dan ternyata adalah seorang raja dikonfirmasi, dia bilang asal informasinya adalah dari internet. Ya, wadah media sosial berada. Salah satu yang juga ramai adalah perihal luasan wilayah banjir yang dibandingkan antara saat Jokowi menjabat dengan sebelumnya. Entah bagaimana media sosial yang tadinya tenang bak kolam renang hotel menjadi penuh gejolak bagaikan Pantai Panjang di Bengkulu yang ombaknya besar-besar.

Selengkapnya!

Waspada! Ini Daftar Air Minum Dalam Kemasan Yang Berbahaya! Sebarkan!

WASPADA

Air mineral, kiranya kita tidak akan sadar bahwa produk yang dalam regulasinya bernama air minum dalam kemasan alias AMDK ini adalah bentuk kapitalisme. Waktu saya muda, yang kira-kira bertepatan dengan Perjanjian Renville, nggak akan kepikiran bahwa air minum yang dibotolin akan menjadi kebutuhan kekinian. Sampai saya cabut dari rumah sebagai anak rantau dalam kesendirian, saya masih minum dari air kran yang direbus. Ketika saya dinner di Cassis Kitchen, saya hampir trenyuh begitu melihat harga air putihnya yang setara dengan ongkos taksi di Bengkulu sesuai Peraturan Menteri Keuangan tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016.

Begitulah, dengan harga yang puluhan ribu seliter itu kita bahkan bisa mendapatkan Shell V-Power sekian liter. Bayangkan kala air minum lebih mahal daripada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi yang telah diolah jadi bensin itu. Ngeri kan?

Selengkapnya!

Mencari Solusi di HAI DJPBN

DJPBN

Di negara yang pintar memutarbalikkan fakta ini, sedang ramai isu rasionalisasi PNS yang berkembang bias dan kagak dikendalikan dengan baik. Begitu beredar di grup WhatsApp, ada yang deg-degan, ada yang bersyukur, ada yang malah berharap PNS-PNS yang pernah menyusahkan mereka untuk menjadi korban rasionalisasi. Ngomong-ngomong, yang berharap itu PNS juga, sih. Rata-rata adalah PNS yang baru menikah dan dipersulit sama Catatan Sipil. Heuheu.

Oke, lepas dulu dari urusan rasionalisasi dan beranjak ke urusan ke-PNS-an. Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari, secara tiba-tiba makhluk antah berantah bernama auditor yang akan melakukan aksi osak-asik pawuhan. Orang lagi asyik-asyik main voli kerja, eh, ada auditor datang minta data. Sungguh mengganggu, bukan?

Well, menjadi auditor itu pada dasarnya memiliki kesusahannya sendiri. Salah satu yang sering dikeluhkan adalah betapa peraturan di Indonesia ini sedemikian banyak dan sedemikian beragam pula sumbernya. Lebih penting lagi, perubahan paradigma kekinian dari auditor yang bukan lagi underdog watchdog menimbulkan perkara tersendiri. Salah satunya adalah memberi solusi. Sama halnya dengan konsultan cinta, kala menemukan masalah harus jelas rekomendasinya putus, gantung, selingkuh, atau kawin lari. Sekarang adalah nggak mutu ketika auditor hanya bilang ini atau itu salah, tapi nggak jelas pengatasannya gimana.

Selengkapnya!

Sebuah Pagi Bersahaja di Pantai Sanur

photogrid_1464103239473.jpg

Pagi hari, berbekal perut penuh babi guling yang enaknya setengah mati, saya terjaga. Pagi yang biasa di sebuah kota nan tidak biasa, namun lama-lama ya biasa juga. Mungkin yang bikin tidak biasa adalah karena begitu saya terjaga dan melangkah keluar kamar, tanah bisa langsung dijejak dengan sempurna. Kota kesebelas, baru kali ini dapat kamar yang menempel langsung pada tanah. Bukan mengawang strata title layaknya di kota-kota lainnya.

Sebuah pagi yang kesekian ribu dalam hidup. Namun pagi yang semacam ini selalu berbeda, tentu saja karena tempatnya berbeda. Di kota pertama, Kendari, saya memberanikan diri untuk keluar hotel sendirian menyusuri pantai teluk yang penuh sampah, semata-mata hendak menikmati matahari yang terbit begitu tenangnya. Di Manado saya beranjak pagi-pagi buta untuk mencari Tuhan, yang ternyata ada persis di sebelah hotel. Di Jayapura, saya melintas sepinya hari sabat untuk merasakan pagi yang berbeda di pulau surga. Sebuah pagi pada prinsipnya selalu berbeda, apalagi ketika pagi itu tiba ketika kita sedang berada dalam sebuah perjalanan.

Maka, pagi itu kedua kaki saya lantas menempel pada sandal hotel berwarna khas, karena saya memang tidak membawa sandal. Langkah demi langkah kemudian membawa saya melintasi gerbang lapangan golf, homestay-homestay kecil, sisa-sisa malam nan belum berakhir, dan aroma laut yang tiada bisa ditipu. Semuanya khas pagi yang saya rindukan. Pagi yang tidak tergesa-gesa, pagi yang sunyi dan tenang, pagi yang bersahaja.

Tidaklah cukup jauh kaki saya melangkah untuk kemudian jejak pada aspal berpindah menjadi jejak pada pasir. Ya! Pantai! Aroma laut, angin khas penuh lembab, hingga desir ombak menjadi satu di dalam otak melalui panca indera.

photogrid_1464102893272.jpg

Inilah Pantai Sanur. Sebuah nama yang bertahun-tahun silam hanyalah sebuah mimpi bagi saya. Menginjakkan kaki di Bali adalah suatu ketidakmungkinan pada suatu masa, namun lantas menjadi sebuah probabilitas yang begitu mudah pada masa lainnya. Dan kini saya telah menginjak Bali, setelah terlebih dahulu melihat Jalan Mandara dari atas langit. Jalan yang hanya tinggal diisi tanah saja, sudah bisa mengubah tol tengah laut menjadi tol pinggir laut. #TolakReklamasiBali

Matahari terbit dengan jelas, meski langit tidaklah cerah benar. Perlahan dia tampak naik, meski sebenarnya bumi yang berputar. Terang perlahan-lahan membuat dirinya paripurna sebagaimana hakikatnya. Sementara itu, saya menyibukkan diri dengan menghirup segar udara pantai. Ah! Surga nan sederhana.

Cukup banyak orang yang menghabiskan waktu dengan berendam di Pantai Sanur ini. Tampaknya hidup mereka begitu selow, sementara saya sebentar lagi harus bergegas mandi, makan, berangkat, bekerja, kemudian kembali ke Jakarta. Adakah nanti kiranya waktu bagi saya untuk menikmati kehidupan layaknya mereka? Oh, saya rasa tiada perlu. Toh, saya sekarang justru tengah menikmati kehidupan via kesempatan yang diberikan untuk menjejakkan kaki di Bali.

photogrid_1464102953399.jpg

Sementara mentari bertambah tinggi, tampak anjing-anjing muda berkejaran satu dengan lainnya di sela-sela bebatuan yang ada di pantai. Ada yang tercebur ke laut, mencoba berenang sendiri dengan susah payah, namun lantas berhasil mencapai bebatuan dan bermain kembali tanpa tampak takut akan terjatuh lagi.

Begitulah. Sanur di pagi hari menawarkan kesahajaan. Entah jika saya datang lagi di siang atau sore hari. Entah pula jika saya datang ke Kuta pada pagi hari, mungkin saya bisa beroleh pagi nan bersahaja pula. Bukankah hidup ini adalah soal kesempatan yang mungkin kita dapat dan semaksimal mungkin usaha kita untuk mengelolanya?

Maka dengan paru-paru yang penuh saya berbalik pulang, pulang dalam terminologi pendek–tentu saja. Meninggalkan pagi yang bersahaja di Sanur, sambil berharap jiwa pagi itu bersemayam dalam hati nan penuh gegabah ini.

Tabik.

Mencari Jejak Kisah di Duren Sawit

Wew! Entah sudah berapa lama #KelilingKAJ tidak ditulis di blog ini. Saya malah takut project ini bubar jalan dengan sendirinya. Namun saya tetap berupaya agar project pribadi ini lanjut meski tertatih-tatih gegara dua pekan sekali saya ke Bandung dan otomatis tertangkap Romo Paroki melulu di Cimahi.

Kesempatan muncul ketika suatu pagi saya berangkat dari Bekasi ke Jakarta sembari mengantar Mbak Pacar ke Bandung dari Bekasi. Sembari mengandalkan angin bertiup saya akhirnya memutuskan untuk turun di Stasiun Klender, yang menurut gambaran adalah stasiun yang cukup dekat dengan Gereja Santa Anna di Duren Sawit. Masalahnya, saya agak-agak kurang paham sehingga lantas berjalan salah arah hingga Indomaret. Karena sadar bahwa saya nggak akan sampai tepat waktu kalau jalan kaki sampai Gereja yang ternyata masih jauh sekali. Gini dah kalau songong, nggaya mau jalan kaki.

Saya akhirnya menggunakan aplikasi kekinian bernama Gojek untuk menuju ke lokasi. Ternyata masih lebih dari 3 kilometer jauhnya. Nggak kebayang kalau saya maksa jalan kaki seperti #KelilingKAJ yang lain, bisa keburu jomblo saking lelahnya. Maka, mari berterima kasih pada teknologi. Salah satu patokan terdekat adalah Rumah Sakit Yadika, begitu habis RS ini tinggal belok kiri dan ikuti jalan sampai ramai-ramai khas rumah ibadah.

Gereja Santa Anna Duren Sawit ini terbilang sunyi apabila dibandingkan dengan Matraman hingga Bidara Cina yang persis di pinggir jalan besar. Sebagai Gereja yang berada di perumahan, ini adalah karakter yang khas, ya selayaknya Bojong Indah kalau mau dipersamakan.

Selengkapnya!

Ngalor Ngidul Fantasy Premier League Ultimate 2015/2016

NGALORNGIDUL

Namanya simpel, Ngalor Ngidul Fantasy Premier League Ultimate. Ini sebenarnya hanya 1 dari ribuan liga di permainan bagi kebanyakan laki-laki yang doyan berfantasi tentang Liga Inggris alias Premier League. Kebetulan, website resmi Premier League memang menyediakan permainan yang lantas jamak dikenal sebagai Fantasy Premier League.

Nah, sekumpulan anak manusia lantas berkumpul dan pada musim 2015/2016 ini memasuki musim ke-4. Tiga musim sebelumnya, seluruh liga dimenangi oleh satu tim saja, Berkah FC, utusan dari Tiongkok cabang Tegal. Di musim ke-4 ini, muncul ide untuk menambahkan unsur fulus dalam permainan. Tenang saja, ini bukan judi. Kenapa? Karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berjudi bermakna mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta yang lebih besar daripada jumlah uang atau harta semula.

Selengkapnya tentang Ngalor Ngidul FPL Ultimate!

Review: X-Men Apocalypse

xmenapocalypseimax-1

Sesudah menyaksikan manusia biasa dan manusia (?) dari Krypton berantem dalam Batman vs Superman, yang dilanjutkan dengan berantemnya Captain America dengan Iron Man, kini penikmat film disuguhi berantem dalam perspektif yang berbeda. Menyambung X-Men Days of Future Past yang bikin jaman terbolak-balik tak terhingga dan menghasilkan masa yang berbeda karena Wolverine berhasil kembali ke masa lalu untuk mengubah masa depan, maka kini muncul X-Men: Apocalypse yang meski tidak sewolak-walik jaman kayak film terdahulu, tetap saja bermain dengan periode waktu tertentu.

Kisah dimulai sekian ribu tahun sebelum masehi. En Sabah Nur (Oscar Isaac) hendak melakoni sebuah ritual untuk memperoleh kemampuan pemulihan diri ala Wolverine. Ritual dilaksanakan di piramida dengan mengandalkan sinar matahari. Apa daya, En Sabah Nur yang rupanya sudah melakukan banyak ritual sejenis dengan mengambil kemampuan dari banyak mutan lain itu malah dikhianati oleh beberapa manusia. Kemampuan itu berhasil diperolehnya, namun yang terjadi kemudian dia bobok panjang dalam reruntuhan piramida.

Klik disini untuk membaca selengkapnya!

20 Hal Tentang Ada Apa Dengan Cinta 2

aadc22

Bahkan perlu bantuan dari negara hingga akhirnya saya bisa nonton film yang so mainstream: Ada Apa Dengan Cinta 2. Iya, bantuan berupa uang harian sungguh mampu membuat saya membayar tiket bioskop plus tiket parkir di Taman Ismail Marzuki. Ah, duit dari negara, saya kembalikan Rp6.000 dalam bentuk uang parkir ke negara juga. Hidup Indonesia!

Sebagai penonton ke dua atau tiga atau malah empat juta sekian, tentu kurang pas jika saya harus menulis review tentang AADC 2 ini. Namun sebagai blogger nyaris bubrah, saya juga harus menulis karena WordAds saya menurun secara hore. Maka, saya mencoba menyajikan beberapa fakta unik yang mungkin baru kamu sadari, atau tidak kamu yakini kalau itu benar-benar ada sehingga kamu lantas mau nonton lagi, atau bahkan kamu yakini tidak ada dan saya hanya ngarang belaka.

Jadi, apa saja fakta-fakta unik itu? Monggo disimak hasil pengamatan saya sembari menahan cenut-cenut dampak kolesterol ketinggian hasil tujuh hari berturut-turut makan nasi Padang.

Selengkapnya tentang AADC2!