Juju: Sebuah Kisah Makanan Enak

Juju.

Entah saya nulisnya bener apa nggak, yang pasti saya diperkenalkan dengan nama itu. Kata Juju kemudian merepresentasikan sebuah tempat penjualan makanan.

Apa yang istimewa dengan Juju?

Sebentar, sebelum berkisah, mari saya ceritakan dulu sejenak kisahnya.

Warung Juju ini terletak di dalam kawasan industri Jababeka II. Kalau dari Pintu Jababeka II, masuk terus, ketemu bundaran kuda masih lurus, lalu ke kanan sampai ketemu Mattel (Pabrik Barbie) lantas ke kiri, terus aja sampai ke tulisan Pecenongan Square. Setelah ini ambil kanan masuk ke kawasan Jababeka II yang beneran. Begitu sampai di perempatan pertama dekat klinik ambil kanan, ikut terus jalannya, ada beberapa belokan. Nanti akan ketemu Jalan Industri Selatan V, jalan aja terus sampai perempatan. Pas disini ambil lurus mentok sampai jalan yang seolah-olah buntu. Nah warungnya ada di kiri jalan. Atau kalau mau lebih mudah, ambil dari Kalimalang, masuk pintu 10 Jababeka, belok kiri, lalu ketemu perempatan belok kiri lagi. Disitulah dia berada.

Warung ini sejatinya ya serupa warung yang lain. Kalau di dekat De Britto dulu ada yang namanya Tenda Biru. Apa persamaannya?

Hehehe.. Harap maklum, keduanya sama-sama warung yang mungkin akan bikin ilfil orang yang (maaf) jijikan. Kalau tenda biru itu, iya dapur, iya pembuangan, iya tempat nggoreng, iya tempat nyuci, iya tempat ngiris, dan lain-lain. Kalau Juju ini modelnya gubuk, lantai tanah. Di dapurnya segala sesuatu jadi satu, mirip dengan tenda biru. Pokoknya kalau terbiasa makan di tempat yang oke macam Hoka Hoka Bento, dijamin ilfil.

Untunglah saya dididik makan murah di tenda biru. Hahaha..

Uniknya dari Juju, terutama yang terjadi dengan beberapa teman kantor saya, adalah: banyak penggemarnya! Masih biasa? Oke, ini fakta berikutnya, beberapa dari penggemar itu belum mengetahui bentuk warung Juju yang sebenarnya. Mereka rata-rata delivery (alias titip beli). Yah, apakah nanti kalau melihat bentuk warungnya masih akan suka Juju?

Tidak ada yang bisa menerka.

Seringkali dalam hidup itu kita suka begitu. Kita menyukai sesuatu yang enak, tapi nggak ngerti latar belakangnya, tahunya ya enaknya. Coba ingat-ingat apakah kita suka dengan sebuah mobil yang bagus yang dimiliki seseorang, tapi kita nggak tahu apa itu diperoleh dari usaha yang halal atau hasil bagi-bagi proyek (lho, malah nyindir? hehe..). Apakah kita berlaku seperti seorang raja yang duduk manis, tanpa peduli orang-orang yang ada di belakang kita? Apakah kita begitu jumawanya saat ini dengan pencapaian saat ini dan lantas lupa latar belakang kita mencapainya?

Yah, ini bukan soal melihat ke belakang tapi ini soal melihat ke dalam. Kita kadang lupa sesuatu yang mendasar dan malah puas terlena pada sesuatu yang enak, yang sudah kita nikmati saat ini. Pada akhirnya? Lupa bersyukur deh. Penyakit kronis saya pribadi itu. Apakah ini penyakit teman-teman juga? Semoga tidak.

Jadi, ada baiknya yang belum pernah lihat warung Juju, segeralah kesana melihat. Siapa tahu ada perubahan perspektif. Hehehehe…

Semangat!!!

Career and Treadmill

Menjadi seseorang yang bekerja di industri atau bolehlah dikatakan profesional skala ecek2, adalah hal yang baru. Latar belakang kehidupan di masa kecil sebagai anak guru membuat jenjang karir itu adalah hal yang baru dalam hidup. Maaf-maaf kata, kehidupan yang saya tahu, tataran guru adalah di golongan, jabatannya ya tetap guru.Jabatan macam Kepsek dan sejenisnya itu fungsional. Itu setahu saya lho.. Maaf kalau sekarang sudah beda. Jadi dari jaman dulu kala, bapak saya ya guru, dengan golongan yang terus meningkat dan tentunya gaji yang terus bertambah, sesekali jadi wakil kepsek atau kepsek. Begitu yang dulu saya tahu.

Maka ketika sampai di karir semacam ini agak kagok juga. Di kota macam bukittinggi dan pergaulan di lingkungan pendidikan, siapa yang pernah dengar jabatan manager? Makanan macam apa itu?

Tapi intinya saya sekarang berada di lingkungan yang baru itu.

Well, kemarin baca-baca tentang filosofi treadmill dan relevansinya terhadap karier. Maka mau sedikit berbagi saja disini.

Dulu waktu di Palembang sempat ikut fitness, salah satu alat yang dipakai adalah treadmill. Alat yang memungkinkan orang berjalan hingga berlari di tempat yang sama, karena nggak mungkin tempat fitness menyediakan lintasan lari.

Apa khasnya?

Treadmill itu akan selalu di tempat yang sama, orang yang naik akan berjalan atau berlari mengikuti irama yang ada di treadmill. Kecepatan bisa ditingkatkan, elevasi bisa dinaikkan, keringat deras akan mengucur sejadi-jadinya.

Bayangkan dalam konteks karier, sudah berjalan, berlari, berkeringat susah payah, apakah ada perubahan tempat? TIDAK. Itulah kalau kita berjuang di atas treadmill. Kita memang dibentuk dengan kuat oleh tempaan yang ada, namun kalau tidak ada peluang untuk maju, buat apa?

Coba bayangkan kelemahan lain treadmill. Ketika kita sudah susah payah berjuang lalu lemas, lalu kita ditendang oleh orang untuk turun dari treadmill itu, ada dimana kita? Yap, tepat di tempat yang sama ketika kita naik dalam keadaan masih segar-bugar.

Apa artinya?

Dalam berkarier, janganlah memilih tempat seperti treadmill. Kalau itu anak muda baru lulus mungkin tidak masalah, namanya juga belajar. Tapi ketika sudah berkaitan dengan kemajuan diri, ngapain kita lama-lama di treadmill, kapan kita majunya? Kita hanya akan menguras keringat sampai tepar untuk kemudian harus terus berkeringat agar orang yang siap menendang kita di sebelah itu tahu kalau kita tetap memakai treadmill-nya.

Kalau kita di lintasan? Mungkin di depan kita akan menemui batu, mungkin rintangan lain, tapi pada saat tertentu kita akan sampai pada tempat yang baru dan tentunya kemungkinan yang baru. Umpama kita ditendang dari lintasan, apakah kita sudah berubah dari awal berlari? Tentu saja sudah. Kita ditendang, tapi tetap beberapa langkah lebih maju dari sebelumnya.

Sekadar refleksi, bagaimana kondisi di tempat kerja anda sekarang? 🙂

Kutipan Tentang Wim

Wim Rijsbergen jadi topik di kalangan suporter Indonesia. Bukan prestasi tentunya. Ini soal tindak tanduknya yang mengundang gemas kala sangat sering menulis catatannya. Status banyak orang di FB pada saat pertandingan Indonesia-Bahrain menandakan tindak-tanduk yang itu jadi perhatian rakyat banyak.

Kedua, tentu soal pernyataannya. Awal-awal ada banyak pernyataan optimis bahkan over confidence. Lama-lama si pelatih malah menyalahkan pemain yang ada. Mereka memang tidak bisa maen simple football, sesuai kata Pak Wim, tapi siapa yang seharusnya menyuruh pemain timnas maen simple football kalau bukan Pak Wim?

Dan jangan lupa sejarah dia walaupun hanya sekejap mata di Indonesia.

“Kita tidak siap untuk sepak bola level internasional. Lagi pula, ini bukan skuat yang saya pilih. Sesaat setelah kompetisi mulai, saya akan lihat pemain baru yang lebih segar,” kata Wim, seusai pertandingan, Selasa (6/9).  (Wim Rijsbergen Tolak Bertanggung Jawab)

“Masalahnya, mereka tinggi. Kita seharusnya bermain bola bawah dan bergerak. Jika Anda main lambung maka tidak efektif. Pemain harus siap menerima bola. Tetapi bermain bola bawah juga tidak mudah,” lanjutnya. (KO, Beda Postur Tubuh Jadi Alasan Pelatih Timnas)

Comment: kalau tahu nggak siap, kok mau ngelatih Indonesia?

“Selama ini, Wim sering mengomel dan minta dipulangkan ke Belanda. Bagi kami, tidak ada masalah melepas Wim karena sejak awal memang tidak enjoy dengan materi pemain PSM,” kata Husain. (Pengamat Heran Keputusan PSM Pecat Wim)

Comment: wah, kok di lapangan jarang ngomel?

Saat diberitahukan mengenai hal ini di Hotel Sultan usai laga, bomber muda Ferdinand Sinaga terlihat cukup kesal. “Ya semua pemain memang cukup kesal dengan sikap yang ditunjukkan Wim kepada kami. Tak seharusnya seluruh kesalahan dibebankan pada para pemain,” kata Ferdinand kepada INILAH.COM.

Tak mampu membendung kekesalan, Firman Utina pun menulis lewat twitternya, @FirmanUtina_15, “Saat skarang kami bagaikan anak ayam yg di tinggal induknya. Tapi harus di ingat kita adalah 1 tim yg harus 1 dan tidak bercerai berai, Seharusnya kita cari solusinya sama”menir,” tulis Firman.

(Bomber Timnas: Jangan Cuma Salahkan Pemain, Wim!)

Comment: ini tanda-tanda perpecahan! Bahaya!

Wilhelmus (“Wim”) Gerardus Rijsbergen (lahir di Leiden, Zuid-Holland, Belanda, 18 Januari 1952; umur 59 tahun) adalah seorang pelatih sepakbola dan mantan pemain bertahan yang berasal dari Belanda. Rijsbergen adalah asisten Leo Beenhakker pada Piala Dunia 2006 di Jerman, dan menjadi pelatih Trinidad dan Tobago setelah Piala Dunia berakhir. Per Desember 2007, posisinya sebagai pelatih diberhentikan sementara waktu oleh Federasi sepak bola Trinidad dan Tobago selama (6) bulan, sampai akhirnya digantikan pada 4 June 2007 (Wim Rijsbergen)

Comment: inikah yang disebut pelatih berprestasi?

Ini preseden buruk bagi kita, setelah loyo di era sebelum Alfred Riedl, penampilan timnas di piala AFF telah menghasilkan euforia bahwa Indonesia Bisa! Lihat penampilan kita saat melawan Malaysia di Senayan pada final. Kita kalah agregat, tapi semangat juang yang luar biasa hingga menang 2-1 meskipun akhirnya tetap kalah, membuat pemain tetap memuji dan berharap ada peningkatan. Hanya sesederhana itu.

Pak Wim datang dengan keluhan-keluhannya. Kalau mau ngelatih yang siap, yang posturnya bagus, yang keren, Bert van Maarwijck itu kayaknya mau resign habis Euro 2012, silahkan Pak Wim apply kesana.

Pak Wim juga bermasalah di timnas Trinidad Tobago, Pak Wim menyalahkan pemainnya, ini BURUK. Jose Mourinho saat kalah dalam perebutan Juara Premier League mendatangi bangku fans, menunjuk ke para pemainnya, meletakkan tangannya dalam posisi mengangkat dagu. Apa artinya? DIA BANGGA dengan pemainnya. Mou juga selalu membela pemainnya, bahkan kalau perlu menjadikan dirinya sebagai kambing hitam. Pun dengan Alex Ferguson, kala membela performa David De Gea. Pep Guardiola juga demikian kala mengangkat Victor Valdes. Pelatih besar selalu membela pemainnya di depan orang lain (mungkin memang memarahinya di kamar ganti).

Jadi apakah Pak Wim ini bisa kita anggap pelatih besar?

Saya jadi bertanya-tanya.

Satu yang pasti, Riedl telah ilfil sama Indonesia. Jangan berharap ada Riedl. Menurut saya sih, kasih kesempatan Pak Wim ini membuktikan sorak sorainya untuk mencari pemain di kompetisi. Kasih 2 pertandingan, buktikan, kalau nggak mari kita goyang ramai-ramai.

Permainan atraktif lawan Turkmenistan jelas bukan karya Wim. Pondasi Riedl dan sentuhan Rahmad Darmawan jelas terlihat disana. Sumbangan Wim adalah mengganti Firman dengan Toni, bukan dengan Eka. Sehingga lantas Indonesia bermain tanpa arah dan tujuan dan kebobolan 2 gol lawan 10 pemain lawan.

Rakyat kadung berharap setelah nyaris pupus sebelum era Riedl. Pak Wim mau nggak mau harus menerima itu, bukannya menyalahkan pemain, postur, lama-lama nanti salahnya suporter, wasit, dan lapangan pula. Itu sifatnya given, nggak bisa diutik-utik.

Saya juga pernah kecewa kok sama Riedl. Jauh2 nonton Indonesia-Turkmenistan ke Jakabaring malah disuguhi kekalahan. Tapi yang patut dicatat adalah semangat dan cara bermain para pengguna merah putih di lapangan, itu beda dengan yang kelihatan di Senayan kemarin Selasa.

Well, ini sekadar catatan saya si penggila bola.

Larva

Sekarang yang namanya kartun ini ngirit ya. Sejak kemunculan kartun jenis Shaun The Sheep dan Oscar Oasis mendadak nongol berbagai jenis kartun lainnya. Kali ini saya mau bahas sedikit tentang LARVA.

Larva ini tayang pagi-pagi jelang saya berangkat ke kantor. Penayangannya betul-betul tanpa percakapan dan lagi tokohnya hanya buntelan berlidah. Tapi menurut saya cukup sulit membuat cerita tanpa percakapan dan penonton melihat maknanya. Jadi kalau kita bisa tertawa melihat Larva itu berarti pembuatnya sukses.

Larva bercerita tentang dua ekor belatung yakni merah dan kuning yang hidup di saluran air yang jarang jadi perhatian orang. Kadang-kadang saja ada barang jatuh ke saluran itu macam permen karet, es krim, koin atau cincin.

Larva dirilis tahun 2011 sebagai animasi 3D, jadi ini masih baru benar. Larva diproduksi bersama oleh Studio Animasi Korea Tuba Entertainment bersama Synergy Media. Penulis naskah dan direktur produksi nya adalah Meang Joo-gong, produsernya Ahn Sung-jai, dan pemimpin animasinya Kim Byoung-sun. Jangan lupa bahwa Tuba juga yang memproduksi Vicky and Johnny, Oasis, Me and My Robot, serta Yeti.

Larva merah sedikit lebih antagonis karena cenderung kasar, sedangkan si kuning cenderung bodoh. Konfliknya bermain-main disana. Ada tokoh lain macam kumbang dan kodok.

Begitu dulu review untuk Larva.. hehehe…

Pangan Aman, Puasa Nyaman

Oleh: Alexander Arie SD, Apoteker, Alumnus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta*

SEBAGAI negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, datangnya bulan suci Ramadan tentu memberi dampak besar pada pola kehidupan secara global. Beberapa pekan sebelum memasuki Ramadan, harga bahan pangan mulai merangkak naik. Penyebab klasik adalah kenaikan permintaan pasar. Sesuai hukum ekonomi, kenaikan permintaan dengan pasokan yang tidak paralel otomatis akan menaikkan harga.

Permintaan akan bahan pangan yang meningkat tentu terkait erat dengan budaya masyarakat. Bulan penuh rahmat ini memang ditandai dengan berpuasa sehari penuh. Di sisi lain, hidangan istimewa telah menjadi rutinitas untuk berbuka puasa. Aspek inilah yang memberi dampak pada tingginya permintaan.

Besarnya permintaan tentu harus menjadi perhatian tersendiri bagi konsumen. Kewaspadaan akan bahan pangan yang tidak memenuhi standar keamanan perlu ditingkatkan. Di hari-hari awal bulan ini, berita-berita tentang ayam tiren (mati kemaren) dan sapi gelonggongan sudah mulai muncul. Titik kritis ini sejatinya menjadi perhatian bersama. Aspek keamanan pangan sejatinya merupakan isu global.

Salah satu yang masih hangat adalah soal wabah bakteri Escherichia coli di Eropa. Bakteri yang sejatinya merupakan flora normal di dalam tubuh manusia ini berbalik menjadi sumber penyakit. Tentu, menjadi pertanyaan ketika bangsa-bangsa Eropa yang memiliki perhatian lebih pada aspek keamanan pangan justru kecolongan.

Salah satu yang wajib menjadi alat bersama untuk bersikap waspada adalah standar keamanan pangan. Badan Standarisasi Nasional (BSN) sendiri telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) ISO 22000:2009 mengenai Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Standar nasional ini hendaknya dapat menjadi alat bantu terwujudnya keamanan pangan.

Standar keamanan pangan di dunia beragam. Sebut saja British Retail Consortium (BRC), The International Food Standard (IFS), The Safe Quality Food Programme (SQF), Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP), The Global Food Safety Initiative (GFSI), dan ISO 22000. Berbagai standar yang ada ini pada prinsipnya memuat tiga aspek penting, yakni: program persyaratan dasar, analisis bahaya titik kendali kritis, dan sistem manajemen.

Apabila mengacu pada SNI, bisa jadi cakupannya meluas. SNI sendiri membahas hingga ke aspek dokumentasi dan penarikan kembali–suatu proses yang identik dengan proses yang ada di industri. Namun, apakah kita tidak bisa menerapkan aspek-aspek dari SNI dalam upaya mewujudkan keamanan pangan? Tentu saja bisa. Seperti disebutkan sebelumnya, sistem keamanan pangan terbagi menjadi tiga aspek penting yang saling terkait. Hubungan keterkaitan ini diperoleh melalui identifikasi terhadap proses yang terjadi secara urut. Sebut saja jika yang dibahas adalah distribusi daging sapi, maka identifikasi yang dilakukan adalah mengenali tahapan-tahapan sejak sapi mulai dipotong hingga sampai ke konsumen untuk siap dikonsumsi.

Seluruh proses yang terjadi di sepanjang rantai pangan sejatinya mengandung aspek bahaya, namun tidak seluruhnya perlu dikendalikan. Aspek bahaya bisa saja muncul namun pada probabilitas atau tingkat keparahan yang kecil. Suatu bahaya dapat saja sering terjadi, namun tingkat keparahannya kecil. Atau sebaliknya, bisa saja jarang terjadi, namun sekali terjadi, tingkat keparahannya tinggi.

Kombinasi antara probabilitas dan tingkat keparahan akan menentukan signifikansi dari suatu aspek bahaya. Signifikansi sendiri akan menentukan pengendalian dari aspek bahaya yang dimaksud, lewat pembahasan “pohon” keputusan. Hasil dari pembahasan di pohon keputusan inilah yang membagi suatu aspek bahaya menjadi program persyaratan dasar atau titik kritis.

Contoh, dalam proses pembuatan kolak guna berbuka puasa, seorang konsumen yang memiliki kewaspadaan atas keamanan pangan akan melakukan pemantauan sederhana perihal aspek bahaya. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul: apakah bahan baku yang digunakan masih batas shelf-lfe yang tertera? Apakah bahan baku yang dipakai disimpan dalam keadaan baik? Apakah proses yang terjadi akan mengurangi aspek bahaya yang mungkin timbul? Apakah model penyajian yang dilakukan berpotensi menambah aspek bahaya?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini akan menuntut konsumen pada aspek-aspek yang nanti perlu dikendalikan keamanannya. Misal, dalam menggunakan santan kelapa instan, harus memperhatikan waktu kedaluwarsa, atau melakukan pemanasan sampai suhu optimal agar bakteri yang thermofobik mati.

Aspek lain yang sering terlupakan dalam konteks ini adalah sanitasi dan kesehatan. Dalam melaksanakan proses yang berhubungan dengan pangan, sanitasi dan kesehatan personel yang terlibat tentu menjadi aspek penting guna menjamin personel tersebut tidak menjadi penyebab ketidakamanan pangan. Hanya saja, soal ini, konsumen sering terlena oleh bantuan sistem imunitas tubuh.

Penanganan yang tidak memperhatikan sanitasi dan kesehatan yang tidak menimbulkan penyakit dianggap sebagai suatu kewajaran. Namun hal ini tentu bukan kebiasaan yang layak diteruskan. Kewaspadaan pada proses dan penjaminan sanitasi dan hygiene yang baik dalam rangkaian proses dan rantai pangan tentu menjadi alat bantu yang manjur guna penegakan standar keamanan pangan.

Suatu masalah dalam menjalankan ibadah puasa ketika akibat suatu proses yang tidak sesuai dengan keamanan pangan, konsumen terserang penyakit. Keadaan sakit kadang memaksa orang mengonsumsi obat yang agaknya dapat mengganggu hikmat beribadah puasa, atau bahkan membatalkan puasa itu sendiri.

Dalam upaya mencapai keadaan yang baik dalam berpuasa, maka peran produsen dan konsumen penting. Produsen, dengan kemungkinan tambahan pendapatan dari peningkatan permintaan, tentunya perlu mengontrol aspek-aspek bahaya dalam rantai proses yang terjadi. Sedangkan konsumen sebagai bagian akhir dari rantai pangan perlu meningkatkan kewaspadaan atas potensi bahaya yang dapat terjadi dan melakukan penanganan yang sesuai.

*Artikel ini dimuat Harian Jurnal Nasional, Jum’at 12/08/2011

link ke sini

Angry Bird

Gara-gara habis install Google Chrome, mendadak main Angry Bird yang bisa offline. Wah, seperti game-game pada umumnya, bikin ketagihan, dan menyebabkan deadline menulis kandas. Astaga.

Dan berhubung page view blog sudah terus menurun, mungkin baik juga kiranya menulis tentang Angry Bird ini.

Pada awal 2009, staf di Rovio (pengembang game ini) mulai melakukan kajian game yang potensial. Salah satu proposal datang dari desainer senior Jaakko Iisalo yang membuat simulasi burung marah tanpa sayap dan kaki yang tampak. Bentuknya waktu itu cuma gambar saja, tapi sudah bikin naksir. Walhasil game-nya dibangun di sekitar karakter si burung marah itu. Layaknya game-game pada umumnya, tentunya perlu musuh. Nah, bertepatan dengan epidemi flu babi, ide babi sebagai musuh akhirnya mencuat.

Insiprasi game ini muncul dari game sejenis Crush The Castle. Biaya pengembangannya mencapai 100.000 Euro. Agak mahal juga, karena nggak mencakup updatenya. Game ini menjadi terkenal sejak nampang di Apple iOS version, dan kemudian muncul juga di Android, dan belakangan di Facebook.

Ada 4 karakter burung utama, yang pertama burung merah yang jadi ikon game ini. Kemampuannya standar. Lalu di level tertentu muncul burung biru kecil yang bisa membelah diri jadi 3 dan spesialisasinya memecahkan es. Lalu ada pula karakter burung segitiga kuning yang spesialis di pembelahan kayu dan bisa menambah kecepatan. Ada lagi burung bom yang bisa meledak. Dan terakhir kali burung bertelur yang bisa menjatuhkan telur.

Sepintas saya main Angry Bird ini mirip game online jaman dahulu kala, Gunbound. Sebenarnya kemiripannya cuma di kurva lengkung yang harus dibuat untuk menembak sih. Tapi entah kenapa malah jadi teringat. Hehehe..

Untuk main offline, pertama kali bisa install Chrome dulu. Lalu di tokonya bisa diunduh Angry Bird yang bisa dimainkan offline. Lumayan seru. Saya masih berkutat di 3-20. Dua level menuju selesai. Doakan saya!

 

Farewell Letter Samuel Eto’o

Agak terharu membaca surat perpisahan ini. Samuel Eto’o, salah satu dari beberapa persona kunci pembuat perubahan di Inter sudah pergi ke Anzhi, sebuah tim di Rusia yang datang ke home-nya 2 minggu sekali.

Secara bisnis ini adalah keuntungan yang sangat besar bagi Inter. Bayangkan, Eto’o bisa dikatakan diperoleh dengan gratis. Ia adalah paket pembelian Zlatan Ibrahimovic oleh Barcelona. Sudah dapat uang, dapat Eto’o pula.

Dan apa yang terjadi? Treble Winner. Eto’o menjadi bagian dari perubahan signifikan bersama Wesley Sneijder dan Diego Milito. Mereka bertiga membungkam seorang bertato, berhidung panjang, dan merupakan brondong dengan sangat sukses.

Bagian yang terpenting adalah Eto’o pergi dengan perpisahan yang baik.

“I think it is right and fair to thank the people who have given me so much in these two fantastic years that I’ve spent at Inter. First of all, I would like to extend my heartfelt thanks and most cordial greetings to the president, Mr Massimo Moratti, and to his family for everything they have done and for the way they have helped me and those dearest to me. I will always feel a special bond with Mr Moratti for the respect and the affection that he has shown me in these marvellous years.

Then there are all my team-mates: I’m aware that without their encouragement and help on the pitch Inter wouldn’t have achieved so many important victories on a national and international level. A very special thank you, also, to all the Italian and foreign footballers who have enabled me to become a better player game after game.

A sincere thank you to the coaches who have been at Inter in these years and especially to Mr José Mourinho, who was so determined to have me at this club, for the opportunity he gave me by bringing me to Milan.

A fond farewell also to technical director Marco Branca, sporting director Piero Ausilio, team manager Andrea Butti and all the staff at F.C. Internazionale and at the Centro Sportivo Angelo Moratti in Appiano Gentile: doctors and physios, helpers, chefs and waiters, kit men and gardeners, and everyone who works at Inter Channel.

I will never forget the affection of the Inter fans (Mauro is the greatest of them all) who made me feel  like one of them and who always supported and helped me. Nor will I forget all the journalists I’ve had the pleasure of meeting.

I also feel I should thank my Italian ‘mamma’, Ciacia Guzzetti, for her help and my fantastic manager, Claudio Vigorelli, for his commitment and professionalism.

Thanks to a man who is an Interista through and through, Marco Materazzi, for making me feel ‘Italian’. Thanks big bro.

In the hope that I haven’t forgotten anyone, thanks again to every one of you!”

Samuel Eto’o

dikutip dari sini

Semoga sokses ya Eto’o!

Keengganan Meninggalkan Jogja: Sebuah Perspektif Sederhana

Beberapa hari belakangan, saya berkomunikasi dengan seorang teman tentang topik ini. Sebenarnya sih sudah dari beberapa pekan silam, waktu saya sedang di Semanggi malam-malam deg-degan menanti bus ke Cikarang. Yah, ini soal siklus hidup. Siklus itu bercerita tentang kita: lahir tidak bisa apa-apa, sekolah mulai mengerti apa-apa, sekolah lanjutan sampai mengerti riak-riak dunia, bekerja sampai muak dan muntah, sampai akhirnya mati dan masuk surga (amin…)

“Ini soal betapa hidup cepat berlalu dan perpisahan adalah 1 siklus yang harus dilalui dan perasaan kehilangan adalah hal lain yang tidak bisa dihindari”

Buat saya, quote di atas sangat menarik.

dibuat oleh Lorentius Agung Prasetya

Saya bercerita dalam perspektif saya sebagai orang yang 7 tahun sekian bulan hidup di Jogja. Mungkin yang lain bisa menerjemahkannya di tempat-tempat lain yang memberi banyak makna dalam hidup masing-masing. Karena kalau buat saya, Jogja-lah yang memberi banyak influence pada saya.

Dalam teori saya, kita mendapat banyak hal-hal prinsip di waktu kecil dari orang tua dan pergaulan. Tapi kita mendapatkan sebuah perspektif, pola berpikir, dan sejenisnya, itu adalah di bangku sekolah menengah dan kuliah, atau seusia itu. Itulah mengapa Jogja memberi influence besar, pada saya. Saya sangat yakin ini terjadi juga pada kita semua. Sebuah tempat yang memberi nilai pada kehidupan kita, sebuah tempat yang memperkenalkan kita pada realita. Kalau saya, Jogja sungguh memperkenalkan saya pada kehidupan. Bahwa hidup itu keras, bahwa setiap kata itu bermakna, bahwa setiap tindakan itu berpengaruh, bahwa pencapaian elok itu tidak selalu tampak baik bagi orang lain, bahwa persaudaraanpun tidak sepenuhnya abadi, bahwa menjatuhkan dan menginjak-injak itu ternyata bisa membangkitkan, bahwa cengkrama dalam suasana yang pas itu bernilai tinggi, bahwa hidup itu harus dinikmati, dan bahwa-bahwa yang lain, banyak yang saya pelajari di Jogja sana. Saya hakulyakin, dalam perspektif yang paralel, terjadi pada yang lain.

Dan ketika tiba saatnya, siklus hidup memisahkan kita dengan tempat itu, memisahkan kita dengan seluruh kenangan dan pembelajaran yang melekat padanya? Bagi saya itu beratnya minta ampun. Sekadar melepas kertas jadwal kuliah dari styrofoam yang menempel di dinding. Sekadar melepas poster kiper-kiper di dinding kamar. Sekadar mengambil vandel dari tempatnya terpajang. Bahkan sekadar memandangi kertas-kertas hasil ujian. Selalu ada cerita dalam setiap upaya mengemasi masa kini. Setiap hal yang kita kemasi masa kini, ada masa lalunya. Tapi kata seorang teman, masa lalu itu tidak untuk dikonsumsi, hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Misalkan sebuah gelas dengan kriya bintang-bintang di kamar saya dulu. Itu ada latar belakangnya, itu ada sejarahnya, dan itu bernilai. Nilai itulah yang sedikit banyak memberi pengaruh pada tatanan besar perspektif hidup saya. Dan saya juga yakin, kita semua mengalami hal yang sama. Dan dalam kasus Jogja sebagai sebuah tempat, ia menjadi wahana seluruh peristiwa penuh nilai itu terjadi. Itulah yang membuat berat.

Well, ini bukan karena saya melankolis. Tapi sekadar merefleksikan saja mengenai beratnya meninggalkan sesuatu yang nyata-nyata memberi banyak nilai pada kita. Sejatinya nggak melulu Jogja, ketika saya memutuskan memulai sesuatu yang baru disini, saya juga berat meninggalkan yang lama. Kenapa? Karena disana saya punya banyak nilai sebagai input. Saya dulu bukan apa-apa, sekarang ada nilainya. Itulah, niscaya di setiap tempat kita akan demikian.

Nah, perpisahan itu terjadi, semata karena adanya keputusan. Ketika lulus, dan enggan meninggalkan Jogja, mudah saja, cari saja kerja di Jogja, beres. Tapi selalu ada keputusan, entah itu mencoba sesuatu di luar sana atau sejenisnya. Keputusan itulah yang menyebabkan perpisahan itu ada.

Keengganan meninggalkan sesuatu hanya ada saat perpisahan, tidak akan terulang lagi. Jadi, ketika ada perasaan itu, nikmati saja. Hanya itu cara melawan keengganan itu. Lagipula itu alamiah. Manusia yang normal pasti sama semua.

Kira-kira dapat nggak intinya? hehehe.. Sekadar refleksi sebelum kembali ke peraduan, mempersiapkan hari esok yang lebih gemilang.

Salam Semangat!

Cerita Klakson

Hufftt.. lama nggak masukin posting disini. Setelah di awal Juli membombardir dengan puluhan posting, saya sadar, bahwa kualitas itu tidak selalu paralel dengan kuantitas. Kadang kebanyakan kuantitas, orang jadi nggak merindukan lagi, disitulah maknanya kualitas. #sajakbijak

Ini cerita soal kelakuan si BG yang agak menarik.

Dua minggu lalu, saya pergi ke Lippo Cikarang. Nah, di jembatan tegalgede, ada cegatan minggu pagi (seperti biasa). Karena saya malas bertemu dengan polisi, meskipun sepenuhnya saya comply, saya memutar balik menyusur kalimalang. Lalu menuju Lippo Cikarang lewat jalur alternatif.

Jalan ini melalui sebuah jembatan tanpa pengaman, itu sudah bahaya. Hahaha.. Lalu masuk jalan kampung, melewati atas tol via jembatan mini yang lebarnya cuma 1 mobil. Lalu menyusur jalan berbatu yang belum diaspal karena kelihatannya ini proyek perumahan yang lagi proses. Lalu tembus ke tambal ban dekat Taman Beverli.

Bagian tersulit dari ini adalah goncangan di jalan berbatu yang menyebabkan klakson si BG mati total.

Nah, kemarin, dalam upaya menonton Harry Potter sesi terakhir, saya kembali melewati jalan yang sama. Terpaksa, daripada bertemu kemacetan di jalur Jababeka-Lippo. Dan terpaksa juga melewati jalan batu yang sama.

What next?

Klakson si BG menyala kembali, walaupun tidak sepenuhnya sempurna. Agaknya goncangan batu mengembalikan posisi kabel yang error ke tempat yang mendekati semula.

Apa yang saya dapat?

Kadang, ketika mendapati bahwa suatu jalan itu sulit, kita emoh melalui kembali jalan yang sama. Ketika jalan itu menimbulkan kesakitan, luka, dan sejenisnya, kita menolak untuk melaluinya lagi.

Tapi si BG tampil dengan cara yang berbeda. Ia saya paksa melalui kembali jalan yang sama, yang membuat klaksonnya rusak. Dan ternyata, meski tidak sempurna, bunyi klaksonnya kembali. Si BG berani melalui jalan batu itu dan sembuh.

Mungkin, kalau kita tersakiti, ada kalanya kita perlu meretas kembali jalan itu, semata-mata berharap, mungkin disitu kita dapat penyembuhan. Toh, bila penyembuhan tidak didapat, kita bisa beroleh kekuatan untuk bertahan. Tidak ada yang buruk dari keduanya.

Begitu menurut saya.. 🙂

Ketika Saatnya Harus Melangkah

Bulan-bulan ini, pasti banyak mahasiswa-mahasiswi yang mulai berkemas karena telah menyelesaikan studinya dan berhak untuk melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik. Termasuk teman-teman saya di Jogja sana.

Tiba-tiba pula saya ingat ada seorang teman yang SMS, request ke saya untuk menulis cerita pindahan yang saya alami. Yah, mungkin bisa dipadu-padankan.

Kalau baru kenal saya, boleh klik page About Me di atas sana. Setidaknya, saya sudah pernah hidup dan menetap di Bukittinggi, Jogja, Jakarta, Palembang, dan kini Cikarang.

Ketika saya beralih kota, pastilah ada proses perpindahan disana. Dan ini bukan sekadar perpindahan, ini soal mengemasi semua yang kita punya, ini soal meninggalkan segala kemapanan kita disana, dan ini soal berpisah dengan orang-orang yang telah memberikan makna pada diri kita.

Dan ini sulit.

Saya memang punya kecenderungan tidak adaptif pada orang, tapi saya lumayan adaptif pada tempat. Saking adaptifnya, kalau saya pulang kampung ke Bukittinggi pasti demam. Itu akibat saya hidup di kota-kota yang panas. Yah, selain Bukittinggi, semua kota lain yang saya tinggali dianugerahi cuaca dan suhu berlebihan.

Oke, tahun 2001, saatnya saya lulus SMP. Saya harus meninggalkan kota kelahiran, rumah, orangtua, adik-adik, dan teman-teman. Well, karena alasan pribadi yang tidak perlu ditampilkan disini, saya memang harus menempuh SMA di kota selain Bukittinggi. Dan jadilah, dalam usia14.5 tahun, saya merantau ke pulau Jawa. Meninggalkan rumah bagi orang yang tidak minggat, selalu sedih. Dan itu yang saya alami. Salah satu yang menjadi penyesalan saya adalah kehilangan masa pertumbuhan adik terkecil saya. Tahu-tahu sekarang dia sudah menjulang, dan sudah berusia 16 tahun. Hmmm..

Disela-sela kuliah di Jogja, bertahun setelah perpisahan yang pertama, saya harus menjalani perpisahan yang kedua, di Jakarta. Sebenarnya cuma 2 bulan saya disana, tapi seluruh aktivitas dan kebersamaan yang ada membuat saya merasa berat meninggalkan tempat tinggal PKL itu. Tapi yang ini sudah disadari benar, karena saya nggak mungkin lulus kalau tetap disana. Iya kan? *polos..

Dan yang terberat, setelah nyaris 8 tahun di Jogja, kota yang selalu meletakkan magnet bagi orang yang sempat menghuninya, saya harus pindah. Ini paling sulit sejauh ini, karena disinilah saya ditempa benar. Saya datang dengan polos di usia muda. Dinamika yang membentuk saya ada disana. Pun dengan tragedi-tragedi serta kisah indah. Dan yang teramat sulit adalah teman-teman. Masalahnya hanya 1, saya nggak mungkin bertahan di Jogja sebagai apoteker pengangguran. Malu dong. Saya harus bergerak, meraih mimpi dengan modal yang sudah saya punya. Dan ketika satu per satu teman mendapatkan pekerjaannya, dorongan itu makin kuat. Saya harus pindah, meski itu berat.

Dua tahun kemudian, saya membuat pilihan. Kalau yang pertama, sedikit banyak karena pilihan orang tua, yang kedua karena memang harus kembali, yang ketiga apapun pilihannya adalah harus pindah (yang jadi soal, pindah kemana), yang keempat ini, saya punya pilihan untuk tidak pindah. Ini juga sulit. Saya yang benci perpisahan, atas dasar banyak pertimbangan, memutuskan untuk membuat sendiri perpisahan itu karena saya yang meminta. Fenomenanya sama dengan yang ketiga. Saya datang ke Palembang itu ternyata masih polos, nggak ngerti apa-apa. Sampai saya 2 tahun berkembang dan memiliki nilai. Dan sebenarnya saya masih bisa mendapatkan nilai lain dan perkembangan. Disinilah peran keputusan. Pada akhirnya, keputusan itu menuntun saya untuk membuat perpisahan saya sendiri, perpisahan yang terjadi semata-mata karena kehendak saya.

Ada saat kita harus diam, jalan di tempat, jalan lurus di jalan yang kita lewati. Ada kalanya kita harus berbelok lewat jalan lain untuk mencapai tujuan kita.

Itulah kehidupan.

Bapak Millennial