Membalas Email

E-mail, electronic mail, alias surat elektronik alias surel adalah bentuk kekinian teknologi. Sekarang bos-bos yang saya lihat di beberapa kesempatan di bandara, kerjanya ya hanya membalas email. Hehehe..

Tapi gini, email dibalas kan tentu ada isinya, itulah kerjanya. Jadi? Email adalah bentuk komunikasi (seharusnya) dua arah dalam bentuk resmi dan tertulis.

Untuk menulis email tentu melihat level, kalau mau kirim ke level top management, tentu mengetiknya harus pakai keringat dingin dulu. Kalau selevel superior, juga kudu hati-hati. Jarang yang salah soal ini meski saya juga pernah dapat email berisi dua kata singkat padat jelas, “SANGAT MENGENASKAN!” Hehehe..

Jadi begini, yang jadi problem adalah ketika kita menulis email untuk orang yang selevel. Saya selalu berprinsip sama, kecuali sama bawahan ya. Sebisa mungkin pakai format baku. Kalau saya:

Dear Penerima,

Bla Bla Bla Bla Bla

Terima kasih

Best Regards,
Pengirim

NAH! Kalau email baik-baik begitu, layaknya dibalas dengan baik juga to ya? Bagaimana? Nggak usah seribet saja, tapi bisa disingkat:

Dear Penerima,

Bla Bla Bla Bla Bla,

Thanks,
Pengirim

atau

Rgds,
Pengirim

Simpel kan?

Dear sebagai pembuka dan Regards/Thanks/sejenisnya sebagai penutup akan membuat email tampak lebih manis dan yang menerima juga lebih enak dan komunikasi pastinya lebih lancar.

Jadi, ini simpel banget kok. Silahkan diterapkan ya.. Hehehe..

Battleship: Menjual Pertarungan

Battleship disutradarai oleh Peter Berg dengan skenario oleh Jon dan Erich Hoeber. Menampilkan Taylor Kitsch, Alexander Skarsgard, Brooklyn Decker, Rihanna, Liam Neeson, Tadanobu Asano, Peter MacNicol, Josh Pence, Stephen Bishop, John Tui, John Bell, Hamish Linklater, dan Adam Godley. Film berdurasi 131 menit digarap keroyokan Battleship Delta Productions, Film 44, Hasbro, Ponysound, dan Stuber Productions dalam lindungan Universal.

sumber: http://danieldokter.wordpress.com

Peter Berg adalah pengampu Hancock (2008) dengan Will Smith dan Charlize Theron sebagai bintang. Taylor Kitsch sebagai bintang utama adalah lakon di film John Carter.

Dari awal, film ini sudah jelas fiksi karena mengambil setting masa yang sudah lewat yakni 2005/2006. Bagian paling aneh sebenarnya adalah karakter Alex Hopper (Kitsch). Pada awal kisah tampak Stone Hopper (Skarsgard) kuat karakter kakak-nya. Ia begitu tidak suka dengan tingkah laku Alex, adiknya. Terutama terakhir sekali membuat masalah dengan membongkar mini market dalam rangka janji 5 menit menyediakan Chicken Burrito kepada Samantha (Decker). Sam sendiri adalah anaknya dari Laksamana Shane (Neeson), bosnya Stone.

Guliran plot aneh memang sudah kelihatan. Mulai dari Sam yang tersenyum dengan Chicken Burrito yang diberikan. Lalu Alex yang tidak ditangkap. Dan terakhir yang sangat tanda tanya bagi saya adalah bagaimana mungkin Alex bisa tiba-tiba jadi perwira dengan pangkat lumayan di Angkatan Laut. Dan tahu-tahu juga sudah berpacaran dengan Sam. Bagaimana mungkin juga, apa mungkin mentang-mentang pacar anaknya bos, Alex bisa seenaknya telat apel. Yah, konsen-konsen logika yang tidak masuk akal memang. Tapi Battleship tidak menjual itu.

Satu hal yang juga tidak jelas adalah alur cerita membawa Alex sebagai karakter yang smart tapi tidak rendah hati. Buktinya? Tidak ada. Karakter itu hanya dibawa dalam pembicaraan dengan Stone dan Admiral Shane. Tidak ada yang lain. Stone sendiri diperankan dengan sangat apik sebagai kakak yang sabar dan penuh perhatian pada adiknya yang bengal.

Perseteruan dengan Nagata (Asano) juga aneh. Seorang tentara dengan latar berseteru akibat tackling pas main bola, mungkin itu mentalitas yang aneh untuk level latihan militer tingkat dunia. Tapi namanya juga film.

Casting yang menarik tentu saja Reakes (Rihanna) sebagai anak buah yang dikisahkan smart dan bertugas di bagian eksekusi misil. Agak aneh sih, melihat Rihanna yang kurus kering itu ditaruh mengoperasikan senjata kelas berat. Tapi lagi-lagi, namanya juga film.

Ada banyak logika-logika sederhana yang tidak dipenuhi di film ini, namun masih permisif karena jualan di sini adalah efek pertarungannya. Namun ada satu link yang nggak nyambung. Ketika sinyal dikatakan sampai ke planet G, dan datang kunjungan balasan ke bumi, itu alien mau ngapain sih? Apa benar mereka mau merusak? Ada ketidakkonsistenan juga saat alien itu ketemu manusia, ada yang langsung libas, ada yang mendeteksi jantung dan mata. Jadi kadang aneh tampaknya.

Lalu juga saat di malam hari ada pergerakan itu aneh bin ajaib. Kenapa ketika dua kapal menyerang, si kapal alien nggak rusak, giliran dua biji misil bisa menghancurkan kapal alien hanya karena pelampung tsunami? Entahlah. Biar seru mungkin.

Film ini baru memperlihatkan karakter Alex saat di dalam kubah pembatas milik alien. Keputusan yang awalnya neko-neko mulai bijak. Pilihan-pilihan yang ngawur juga mulai benar. Terutama ketika berhasil menghancurkan dua kapal alien terakhir yang tersisa.

Dalam hal ini ada logika-logika ilmiah yang diperoleh. Penalaran mekanis untuk penghancuran kapal terakhir bisa diterima akal. Hanya masih aneh juga saat ledakan-ledakan besar tidak memberi pengaruh pada ombak. Apa iya?

Plus, apakah iya, kapal Missouri yang sudah 10 tahun jadi museum itu bisa menyala dalam waktu sangat singkat? Masih bisa menembak dengan dahsyat? Masih bisa berjalan kokoh? Tidak ada yang tahu.

Dalam percakapan yang minimalis dan kurang berisi, masih ada beberapa quote menarik dari Alex, “kita akan mati, tapi bukan hari ini.”

Boleh juga.

Dan di bagian akhir, bagaimana Sam dan Mike Canales–seorang mantan tentara yang pakai kaki robot karena korban perang–turun dari puncak bukit yang ada satelit alien, tidak dikisahkan sama sekali. Tahu-tahu keduanya sudah ada di penyerahan gelar.

Dibalik logika yang tidak nyambung, spesial efek di film ini lumayanlah.

Namun buat saya, ada pelajaran menarik. Ketika diprediksi bahwa panggilan ke luar angkasa itu akan membuat dunia jadi mirip Indian, itu sudah tanda. Janganlah kita neko-neko ke dunia luar sana. Tidak ada yang tahu. Lalu juga, ketika Missouri dipakai kembali, jelaslah bahwa yang tua, yang uzur, masih bisa berkarya. Dua pelajaran yang bisa dipetik dari film yang tampaknya berbudget besar ini.

Begitu sekilas review dari saya. Satu hal, saya sarankan jangan menonton film ini ketika anda sedang membaca novel Dewi Lestari yang Partikel. Dipastikan konsep anda tentang alien akan kacau. Jadi tuntaskan satu-satu, agar lihat film enak, baca novel enak. Konsep alien masih misteri bagi kita, dan setiap orang berhak menerjemahkannya, apalagi dalam ranah fiksi. 🙂

Pintar

“Pinter cucu kakek,” ujar Pak Tino kepada cucunya, Mora,  setelah lelaki mungil itu mengambilkan asbak.

“Pinter itu sebenarnya apa kek?” tanya Mora.

“Pinter itu kalo kamu mengerjakan sesuatu dengan fasih, Mora. Selain itu, pintar itu kalau kamu bisa mengatasi masalah dengan baik.”

“Bukannya di sekolah dibilang, kita sekolah biar pintar kek?”

Pak Tino mengambil rokok klobotnya, sambil menggulung benda keramatnya itu ia berkata, “Sekolah tinggi-tinggi nggak ada gunanya Mora, kalau kamu tidak bermanfaat bagi orang lain. Pintar itu lebih dari sekadar sekolah. Memangnya yang sekolah tinggi-tinggi itu bisa nge-sol sepatu? Nggak kan?”

“Iya sih kek. Lalu gimana caranya biar Mora tetap pintar? Kan katanya tadi Mora pintar?”

“Cucu kakek pandai juga bertanya ya. Gampang kok Mora. Kalau kamu sudah pintar, tetaplah mendengarkan orang lain. Di dunia ini orang pintar itu banyak, tapi sebagian terjebak.”

“Pada apa kek?”

“Terjebak dalam diri sendiri, sudah merasa pintar sendiri.”

“Lalu kek?”

“Lalu mereka nggak ada mudah menerima perubahan. Padahal bumi saja berputar. Artinya perubahan itu adalah bagian dari hidup.”

“Jadi kek?”

“Selalu dengarkan orang lain, Mora. Pikirkan pendapat orang lain, olah dengan kepintaran kita, dan cari yang terbaik. Kita manusia Mora, pasti nggak sempurna.”

Mora mantuk-mantuk ringan. Pak Tino tersenyum simpul sambil menyalakan rokok klobotnya.

Karyawan Biasa

“Yak, selamat siang bapak dan ibu sekalian. Kali ini kita mau rapat tentang pengelolaan keuangan kantin sekolah.” Pak Kepala Sekolah membuka acara rapat.

“Kita perlu panggil Pak Joko, pengelola kantin sekolah?” tanya Pak Wakil Kepala Sekolah Bidang Keuangan.

“Nggak usah. Dia kan sampah,” sebut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.

“Baiklah. Jadi sesuai ide dari Pak Wakasek Keuangan, pengelolaan keuangan kantin yang dipegang oleh bawahan Pak Joko yakni Susi akan ditarik dan disentralisasi ke Mila di perpustakaan dalam rangka pengiritan. Bagaimana setuju?”

“Pada prinsipnya setuju Pak,” ujar Wakasek Kesiswaan.

Meeting-pun berjalan dengan hangat.

Keesokan harinya, Pak Joko bertanya, “Pak, ini keuangan kantin nggak ada yang ngurus. Apa benar Susi di-PHK?”

“Iya. Hasil rapat kita kemarin Pak Joko,” jawab Wakasek Keuangan.

“Rapat?”

“Iya, bersama kepala sekolah.”

“Saya nggak diundang?”

“Buat apa Pak? Ada urgensinya?”

Pak Joko hening, ia memilih putar arah kembali ke kantin. Baru sampai kantin, Wakasek Keuangan melepon.

“Halo Pak?”

“Pak Joko. Itu stok air mineral kok saya hitung bisa habis dua tahun. Anda pasti kebanyakan belinya ya?”

“Data darimana Pak?”

“Ya, ini saya ada dapat data. Tentunya terpercaya.”

“Itu untuk kepentingan event cerdas cermat bulan depan Pak. Dan sebagian besar lain untuk Porseni di sekolah kita dua bulan lagi. Saya order dalam rangka perintah dari Pak Kepala Sekolah untuk menekan ongkos kantin.”

“Ah, anda pasti salah hitung.”

“Ya memang begitu Pak.”

“Baik. Saya catat. Tapi tolong besok laporkan dengan baik.”

Pak Joko menutup telepon dengan hening. Ada cara-cara yang signifikan hendak menyingkirkan dia, seorang karyawan biasa di kantin sekolah.

“Kiranya Tuhan menolong saya,” gumam Pak Joko, sambil melanjutkan tugasnya, melayani di kantin.

Mudik

Ini bukan mau cerita nama dessa di Gunungsitoli, Nias sana ya. Ini mau berkisah tentang suka duka jadi anak (pertama) yang mudik dan bertemu keluarga.

Awalnya sih karena banyak yang tanya, long weekend kemana? nggak mudik? dan banyak pertanyaan lainnya. Ini tentu nuansa lain. Di Palembang dulu, mana ada yang tanya begitu waktu long weekend. Spare waktu itu biasanya untuk lembur (*hadohhh..) atau bersuka ria bersama sesama perantauan.

Kalau di Cikarang Jaya sini? Yah, bis ke Jawa Tengah dan sekitarnya penuh sesak menjelang long weekend. Dan saya memutuskan untuk menikmati Paskah di Cikarang saja.

Soal mudik, kenapa saya nggak mudik ke Bukittinggi?

Banyak faktor. Jujur saya agak kurang mantap kalau mudik hanya untuk ketemu Bapak Mamak saja. Adek saya ada tiga, pengennya itu ya ketemu semua. Jadilah kemarin sempat saya gilirin. Agustus 2011 ke Magelang ketemu si gadis dan si bontot. November ke Surabaya ketemu si gondrong dan sekilas ketemu si gadis dalam perjalanan pulangnya.

Dan sempat ketemu lama (seminggu, itu lama lho..) waktu mudik massal Desember silam.

Dan percayalah, bahwa berbagai mudik yang saya lakoni sejak punya GAJI, selalu berakhir dengan OVERBUDGET.

Why?

Ada perasaan hendak membelanjakan segala harta di depan keluarga. Entah ini sombong atau ingin berbakti, tipis sekali saya rasa. Tapi menjadi absurd kalau saya sudah bergaji, masih minta traktir sama orang tua, rasanya miris bagaimana gitu. Apalagi gaji saja sudah selevel sama gajinya bapak. Saya kerja 3 tahun, bapak 30 tahun. Waw yak? Hahahaha…

Misal mudik pertama lebaran 2009, budget sudah diatur sekian juta. Nyatanya bablas juga. Lalu mudik berikutnya Desember 2009, bablas banget sampai THR saya musnah seketika.

Lantas di 2010 pertengahan, sudah siap-siap budget dengan jumlah yang jauh lebih besar dari dua mudik sebelumnya. Yang ini bukan mudik sih, kumpul di Jogja saja. Hasilnya? Tetap overbudget 30%.

Lalu April 2011, seluruh bonus saya kerahkan untuk menikmati hidup indah bersama keluarga lengkap. Masih bolong juga. Gaji kepakai juga akhirnya.

Demikian pula, meski sudah berkali-kali mudik,  bahkan Desember silam saya masih bablas dalam hal budget. Hanya saja, saya sudah antisipasi. Jadi ada budget level satu dan level dua. Sebutkan X Juta untuk level satu, kalaulah masih tembus, ada level dua Y Juta. Totalnya X tambah Y adalah budget sebenarnya. Setidaknya, yang Y itu nggak sepenuhnya habis. Untunglah. Manusia kan harus belajar dari ‘kesalahan’.

Dan ini pasti terjadi pada mudik orang-orang pekerja baru, sekitar 1-2 tahun bekerja. Ini saya yang agak pekok sampai nyaris 3 tahun masih overbudget saja.

Dan yang pasti over itu kalau ketemu adik-adik dalam tour ke Magelang. Hahaha.. Tapi it’s oke. Buat saya sih, beberapa ratus ribu itu nilainya masih kalah daripada kebersamaan dengan keluarga. Bahwa saya di perantauan sendirian itu menjelaskan fakta bahwa kadang keluarga itu dirindukan. Ya begitulah dunia.

Jadi, ini cuti saya masih 4, dan akan habis 1 bulan lagi (kurang). Perlu mudik? Atau perlu agenda khusus? Semua tergantung UANG-nya. Hahaha..

Salam mudik! 🙂

Petualangan Pio

Langkah terseret-seret dengan nafas terengah-engah menjadi nuansa yang tampak di tempat yang sepi itu. Bahwa itu adalah satu-satunya benda bergerak di tempat yang sama sekali tanpa gerakan adalah fakta yang tak terbantahkan. Pio masih saja menyeret langkahnya dalam kelelahan yang amat sangat. Tapi kata orang-orang di bawah sana tadi, kalau ada halangan apapun tetap berjalan, kalau nggak bisa berabe. Jadilah Pio memaksakan langkah yang sudah tanpa energi itu.

Di sekeliling Pio hanya ada batu dan batu, semuanya batu. Bahkan lumut pun tidak ada. Batuan itu kering sama sekali, mungkin sudah tiga purnama tidak ada hujan di tempat itu.

“Apapun, demi Lena,” gumam Pio dalam lelahnya.

Pio kemudian sampai di sebuah tebing dengan kemiringan 92 derajat alias miring ke arahnya. Pio mendongak sekilas, ada lubang disana. “Pasti itu gua-nya. Lena, tunggu aku,” teriak Pio heroik macam di tivi-tivi.

Pio mengulurkan tangannya untuk memanjat tebing batu yang curam itu.

“Darrrrrr….”

Baru dua langkah naik, Pio terjatuh. Sebuah ledakan kecil terjadi hanya 5 cm dari jemari Pio yang menggapai-gapai.

“Huahahahaha.. Berani juga kau kesini, Pio!” tawa dengan suara dalam terdengar menggema di bebatuan.

“Acarbos?” bisik Pio lemah.

“Sudahlah Pio. Hentikan pencarianmu pada Lena. Jangan habiskan hidupmu sia-sia. Hahahahaha.”

“Tidak. Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Kalau kau bisa. Silahkan saja.”

Pio tampak seperti ngobrol dengan batu. Suara Acarbos hanya menggema di seluruh bebatuan tanpa jelas sosok itu ada di sebelah mana. Pio tahu, kalau memanjat konvensional, dia pasti tidak akan berhasil menuju lubang di atas tebing. Pio lantas menunduk dalam, penuh konsentrasi. Beberapa detik kemudian tangannya terangkat ke atas dan Pio berteriak, “Ubidekarenontranexa.”

Tiba-tiba angin yang awalnya sepoi-sepoi ringan mendadak mengumpul membentuk pusaran di sekitar Pio. Matanya masih terpejam penuh konsentrasi. Pusaran angin itu perlahan mengangkat tubuh Pio ke udara.

“Darrrr… Darrrr…” Suara ledakan-ledakan terdengar di tebing batu. Tampaknya Acarbos tidak mempersiapkan perlawanan untuk upaya Pio yang satu ini. Lewat udara!

Pusaran angin itu berhasil membawa Pio sampai di atas tebing. Matanya seketika terbuka dan ia melompat sekuat-kuatnya menuju lubang besar di atas tebing. Sayang, lompatannya kurang sempurna, Pio mendarat dengan kepala dahulu. Darahpun sontak mengucur dari kepalanya.

Dari luar masih terdengar ledakan-ledakan dinding tebing dan sesekali menggoncang landasan tempat Pio berdiri.

“Lenaaaaaa…,” teriak Pio. Lubang itu ternyata awal dari lorong yang sangat panjang. Teriakan Pio lantas tenggelam oleh ruangan. Pio menoleh sekeliling, ekspresinya mulai menyiratkan putus asa.

“Darrrrr…”  Ledakan terjadi lagi, kali ini di dekat kaki Pio, sontak ia berlari sekencang-kencangnya.

“Acarbos? Mau apa kau?”

“Harusnya aku yang bertanya begitu? Mau apa kau di tempatku?”

“Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Hahahaha.. Cobalah kalau kau bisa!” Acarbos mengeluarkan pernyataan yang sama.

Pio berlari terus guna menghindari Acarbos. Sebuah pertaruhan karena Pio tidak tahu sama sekali ujung dari lorong yang ia lalui. Sepanjang jalan, sambil berlari, Pio berteriak, “Lenaaaa.. Lenaaaa…”

“Pio!”

Sebuah suara yang sangat Pio kenal terdengar memanggil. Pio berhenti dan melihat ke sekeliling. Pandangannya berhenti pada sosok gadis yang terikat di sebuah batu besar.

“Lena!”

Pio berlari mendekat, tapi ledakan kecil menghalangi langkahnya.

“Hahahaha.. Bagus sekali. Pioglitazon datang kesini mengorbankan dirinya untuk Adapalena. Sebuah kisah heroik. Luar baisa.” Suara yang sama dengan bauran gema di bawah tebing tadi terdengar lagi. Siapa lagi? Pastilah Acarbos.

Pio berdiri dengan kuda-kuda maksimal. Matanya awas ke sekeliling. Tiba-tiba ledakan-ledakan kecil tanpa jelas sumbernya terjadi di sekitar tempatnya berdiri. Pio melompat dan melangkah menyesuaikan ledakan yang terjadi. Perlahan Pio mendekat ke arah Lena.

Tapi aneh!

Setiap kali Pio mendekat ke arah Lena, batu besar itu tampak bergerak, sehingga Pio tidak pernah sampai ke tempat Lena berada. Pio mempercepat larinya, batu itu bahkan tidak tampak mendekat sekalipun. Pio perlahan menjadi lelah mengejar batu itu dan Lena yang terikat disana.

“Pio! Tolong aku!” teriakan Lena di ujung sana menggelorakan kembali semangat Pio.

Pio mulai berpikir kembali, dia harus memakai cara lain. Mantra. Tapi kalau mantra ini menghancurkan batu itu, tentunya Lena akan ikut hancur? Pio mendadak shock membayangkan kemungkinan itu. Tangannya mengepal tanda gemas dan bingung memilih solusi. Di balik kebingungannya Pio kembali mencoba berkonsentrasi.

“Hatimu yang menentukan, Pio. Hatimulah yang akan menang.” Tiba-tiba Pio teringat petuah Guru Besar Ceftrizidim.

“Hati! Hati! Hati!” gumam Pio, mencoba mencerna petuah Guru Besar Ceftrizidim. “Hatiku adalah Lena! Hyaaaaaa….”

Pio mundur doa langkah kemudian berlari maju tapi kali ini tubuhnya perlahan condong menjadi horizontal, tubuhnya juga berputar layaknya mata bor. Dalam pusaran tubuhnya Pio berteriak, “Klomifena Cisaxikam.”

Tubuh Pio melayang persis ke arah Lena terikat.

“Piooooo!” teriak Lena ketakutan.

Dua meter sebelum mencapai tubuh Lena, Pio membelokkan arah dan mulai memutari batu tempat Lena terikat. Pio mengitari batu itu dengan secepat kilat.

“Arrrrgggghhhhhh…” terdengar suara Acarbos. Aha! Ternyata Acarbos adalah batu tempat Lena terikat!

“Sekarang saatnya!” ujar Pio pada putaran ke 173. Tangannya mulai bersiap menggapai Lena. “Tangan, Lena! Tangan!”

Tangan Lena yang terlepas ikatannya karena efek pusaran Pio menggapai ke atas. Pio melihatnya dengan jelas, lalu berteriak, “Risedrona Mekobala.”

Sesudah berteriak demikian, tangan Pio menggapai tangan Lena dan menariknya seketika ke arah atas, sementara Acarbos tampak mulai retak-retak dan kemudian meledak.

Pio dan Lena yang terkapar dalam kondisi berpelukan melihat kehancuran Acarbos dengan jelas. Nafas keduanya terengah-engah, Pio malah baru merasa pusing.

“See? Jadi siapa yang nekat pergi?” kata Pio sambil mengusap kepala Lena.

“Iya Pio. Aku telah melakukan langkah yang salah. Aku pikir pergi ke Negeri Terazoten adalah pilihan bagus.”

“Bagus sih, sampai kamu diculik di jalan sama batu-batuan. Lagian ngapain kamu pergi jauh-jauh hanya alasan mengejar cinta?”

“Tadinya itu dorongan hati, Pio.”

“Dan dorongan hati juga yang membawaku ke tempat ini, Lena. Aku cinta kamu.”

“Sayangnya aku baru tahu itu setelah aku nyaris mati Pio. Kenapa nggak bilang dari dulu?”

“Selama ini aku realistis Adapalena. Bagaimanapun kamu lebih dekat dengan Meglumin dan Promelo. Siapapun tahu kalau mereka jauh lebih tampan dan pintar daripadaku.”

“Dan mereka tidak ada disini, Pio. Yang aku butuhkan bukan kata-kata, tapi bukti nyata. Dan kamu berhasil membuktikannya. Aku yakin aku juga punya perasaan yang sama, Pio.”

“Jadi?”

“Jadi mari kita pergi dari sini. Aku takut.”

“Takut apalagi Lena?”

“Jadi kamu pikir apa yang akan dilakukan dua orang saling cinta di tempat yang sunyi macam ini Pio?”

“Owww.. Baiklah. Mari kita pergi.”

Lena berpelukan erat pada Pio yang sedang berkosentrasi.

“Akril Iz Opagla.”

Mantra terbang telah disebutkan, Pio terbang bak superman dengan Lena berpegangan erat pada punggungnya.

Teman Lama

Handphone android-ku yang bisa instagram itu mendadak bergetar. Kuraih si Ace itu dengan malas, lingkaran hijau tampak di sudut kirinya. Sebuah pesan whatsapp. Jempolku menari di 9 titik pembuka lock dan ‘menarik’ panel navigasi dari bagian atas layar. Ah, canggihnya teknologi berhasil membuat semuanya damai dalam satu sentuhan.

“Bang, itu mbak Ola jomblo loh :D”

Sebuah pesan penuh makna dari Adan, adik tingkatku waktu kuliah dulu. Ola itu teman seangkatanku yang sekarang jadi manager purchasing di perusahaan tempatnya bekerja. Cantik sih. Dan dia dulu adalah pacarnya teman akrabku, jadinya aku lumayan akrab sama dia.

Dan entah mengapa cecunguk bernama Adan ini mengabari info yang semacam ini. Bahkan aku sendiri tak yakin dia kenal dengan Ola.

“Emang kowe kenal?”

“Yo ora sih. Tapi hari gini kan di dunia maya semua orang berkenalan Bang. Hohoho.”

Aku bangun dari pose tidur indahku di sore hari penuh ketenangan ini. Perihal jodoh memang sudah jadi isu besar dalam hidupku. Usiaku sejatinya belum tua benar, lagipula cowok seumuranku masih banyak yang belum menikah. Dua puluh delapan bukanlah angka yang menakutkan bukan?

“Pungguk merindukan bulan bro..”

“Lha?”

“Ora level lah.”

“Ya siapa tahu Bang. Level kan nggak cuma soal tinggi badan. *ups… Maksudku, kalian kan yo wis saling kenal.”

“Trus?”

“Usia juga serupa dan pasti dikejar target menikah to? Nek wis kenal kan nggak usah pacaran suwi-suwi. Hehehe. Sekadar usul lho Bang.”

“Hahaha. Aku kan ora ngepek konco, Dan.”

“Ya, siapa tahu faktor usia membuat prinsip berubah Bang.”

“Pinter tenan persuasimu.”

“Yo iki kan demi kemaslahatan umat.”

Diksi apa pula itu? Bah, adik tingkatku ini memang punya pilihan kata yang super absurd sejak buku-bukunya mulai laris di pasaran.

“Pokokmen nek isu dipertimbangkan Bang. Menurutku ini ide menarik.”

“Yo. Maturnuwun idenya. Iki pungguk tak ngimpi sik.”

“Jiahhh bang. Kowe ki wis tinggal lompat udah jadi bos juga. Podo-podo bawa stang bunder ngko.”

“Hahahaha…”

“Yowis yo. Aku tak bedah buku sik. Nglarisi dapur.”

“Yo. Sukses bro.”

“Sip.”

Sebuah percakapan antah berantah dengan ide yang menurutku gila. Secara tinggi badan saja aku sudah tidak memadai, bagaimana mungkin aku bisa mendekati Ola. Lagipula biasanya orang Purchasing itu galak, meski di beberapa company tempat lompat-lompat ada juga yang kalah galak dari PPIC. Tapi sebagai teman lama, masak sih Ola galak padaku?

Iseng-iseng, aku tertarik dengan ide cecunguk Adan ini. Sebenarnya aku masih sering kontak-kontak ringan dengan Ola. Jadi sebuah kontak bukanlah isu yang besar.

“Olala, piye kabare?”

Sebuah pesan whatsapp melayang pada Carola Tyana.

“Sae bro. Kowe?”

Dan bahkan obrolan kami adalah ala Jawa sekali, pakai kata ganti ‘kowe’. Ini jelas pertanda teman sejati.

“Mestinya demikian. Sibuk ora? Tak telpon o.”

“Wahhhh.. Pucuk dicinta ulam tiba ki. Telpon waee.. Lagi butuh konco curcol.”

Buat asisten manager macamku, tentunya nggak boleh bermasalah soal pulsa. Sekali aku tidak berhasil menelepon supervisorku semata-mata tiada pulsa bisa menyebabkan produk 1 batch yang nilainya miliaran bubar jalan. Jadi aku punya spare sangat lebih untuk pulsa. Tentunya untuk sekadar menelepon Ola bukanlah perkara besar.

“Halo? Tumben niat nelpon kowe?”

“Feelingku kan apik. Ono konco lagi gundah.”

“Jiahhh.. Tapi pas tenan. Haha. Aku jomblo kie bro.”

“Lha kok pedhot?”

“Tentunya karena tidak cocok. Lha opo maneh. Padahal aku pengen tahun iki nikah sih.”

“Sama, Olala!”

“Huh, golek konco kowe yo.”

“Kan emang wis konco to La?”

“Iyo sih. Lha kowe isih jomblo-jomblo wae?”

“Yo ngene ki lah. Fokus golek harta sik wae.”

“Opo bro? Mobil nggak usah kan ya? Paling dapat dari kantor. Rumah mesti.”

“Lha kowe sik manager La, oleh mobil. Asman ki durung oleh. Yo coba-coba cari properti ki.”

“Lha kok sama lagi kita bro?”

“Eh? Sebelah mana?”

“Aku yo lagi cari-cari rumah.”

Ups, sama-sama jomblo, sama-sama pengen nikah tahun ini, plus sama-sama mau cari rumah. Bukankah kesamaan-kesamaan itu tampak sama untuk disamakan?

“Ehm, ayo nek ngono, golek bareng La.”

“Bolehhhh, kapan?”

“Kapan kowe iso lah. Nek orang pabrik kan cetho jam-nya. Purchasing kali ada meeting luar negeri.”

“Hahaha.. Ora lah bro. Weekend seloww saja. Next weekend?”

“Dicatat. Kowe jemput aku yo? Kan yang bermobil situ. Hahaha.”

“Huuuu.. Yowis, gapapa. Tak jemput mana? Lha kowe di Cibitung to? Adoh men aku le methuk.”

“Yo gampang. Ketemu di MM Bekasi saja. Kita searching daerah Bekasi dulu.”

“Pinter kowe bro. Sayang durung manager. Hehehe.”

“Ngece ki bu bos.”

“Ora.. ora.. bercanda pak Asmen. Okelah, sampai jumpa next weekend.”

“Siap bu bos. See you.”

Telepon ditutup, dan sepertinya aku bisa memulai sesuatu yang baru dari sini.

9 Summers 10 Autumns

image
sumber: dok pribadi

Judul Buku: 9 Summers 10 Autumns
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku ini saya peroleh dengan membeli (tentu saja!) di Pameran Buku di Istora. Sungguh Cikarang bukanlah tempat yang friendly dengan pencinta buku, maka untuk memuaskan hasrat saya harus lari-lari ke Jakarta. Ongkos pulang perginya bahkan sudah bisa beli buku 1 🙂

Saya mungkin telat membacanya, karena di buku itu sudah tertera “National Best Seller” tentunya sudah ribuan orang membeli buku ini sehingga lantas jadi Best Seller, tapi tidak ada kata terlambat untuk membaca buku. Saya sempat menimang lama buku ini karena budget saya hanya 200 ribu sementara di sini adalah ribuan buku yang semua bagus-bagus. Dengan tekad kukuh berlapis baja saya ambil buku ini.

Sebuah kisah yang inspiratif membuat saya tidak menyesal membeli buku ini. Saya ini kalau beli buku dan nggak suka, maka itu buku nggak akan habis dibaca. Jadi, kalaulah sebuah buku habis dibaca, itu artinya saya cocok. Sebuah kebiasaan yang absurd 🙂

Sudut pandangnya sebenarnya kisah-kisah global yang didetailkan. Misalnya, perkenalan siapa Bapak, siapa Ibuk, bagaimana masa kuliah, masa kerja, dan lainnya dibungkus bab demi bab dalam bentuk obrolan bersama si kecil yang sampai akhir nggak ketahuan siapa. Kalau saya tebak sih itu Mas Iwan versi kecil. CMIIW.

Dan saya terhenyak ketika ada yang meninggalkan posisi bagus di NY demi pulang ke rumah di Batu. Tapi itu sungguh pilihan hati. Dan tidak ada yang salah soal itu.

Konten menarik itu membuat saya menghabiskan buku itu segera dan menomorduakan borongan saya yang lain dari pameran. Hanya saja, secara alur yang menurut saya terlalu slow, sebenarnya membuat saya pengen buru-buru membalik halaman. Ini versi saya lho Mas Iwan hehehe..

Pada intinya ini buku bagus dan menjawab bagaimana perjuangan itu pasti ada buahnya. Dan sesudah membaca buku ini, saya segera menelurkan outline tentang masa-masa keluarga saya jadi kontraktor alias mengontrak rumah dari tempat satu ke tempat lain. Semoga kelak bisa dijadikan buku macam punya Mas Iwan ini. Sip!

Update:

Terima kasih Mas Iwan atas tanggapannya 🙂

34 Tips Menulis Baik

1. Perhatikan tanda baca!
2. Ikut di NaNoWriMo, dengan tantangan novel 50 ribu kata/bulan.
3. Jangan mengedit draft pertama sebelum semua kelar.
4. Menulis minimal 30 menit per hari.
5. Mempelajari aturan menulis baik dan pelajari cara membantahnya.
6. Membawa sebagian buku ke penulis favorit, meminta pendapat.
7. Jadilah pembaca yang baik terlebih dahulu.
8. Selalu baca dan ulas yang sudah tertulis.
9. Terima kritik.
10. Gunakan kata-kata baru.
11. Baca hasil tulisan sambil bersuara 🙂
12. Hindari bagian-bagian yang tidak perlu.
13. Bekerja seolah ada deadline.
14. Dapatkan ide baru kala menulis sesuatu, kembangkan di tulisan lain.
15. Menulis setiap hari.
16. Sebisa mungkin hilangkan kata kerja berlebihan.
17. Edit 1-2 hari setelah tulisan jadi.
18. Ekspresikan pandangan dengan diksi yang sesuai.
19. Baca karya penulis besar.
20. Jika satu kata bermakna sama dengan 3, ganti dengan 1.
21. Adaptasi penulis lain.
22. Alih-alih menambah keterangan pembicaraan, gunakan saja aksi atau kata percakapan untuk memuat keterangan itu.
23. Menulis sering untuk menyelesaikan jadwal yang realistis.
24. Fokus dan berpikir positif.
25. Gunakan kalimat penulis lain sebagai model dan sesuaikan.
26. Hindari kalimat panjang.
27. Pelajari perbedaan “Me, Myself, and I”
28. Jika proyek panjang, suruh editor diam, dan menulislah.
29. Hati-hati dengan ekspresi yang tidak perlu.
30. Cari kesalahan penulisan.
31. Baca tips, ikut grup penulisan, cari pelatih.
32. Tulis draft pertama spontan.
33. Buat plot.
34. Edit, edit, edit.

Dikutip dari dailywritingtips.com

Bapak Millennial