Ayo Beli Rumah Harga Murah di Kota Ramah Anak Jawa Barat!

Kota Layak Anak (KLA) secara awam bisa dijelaskan sebagai kota yang memenuhi semua kriteria standar untuk memenuhi segala kebutuhan tumbuh kembang buah hati dari segala aspek dan sisi. Misalnya dengan adanya fasilitas serta sarana prasarana ramah anak sampai kemudahan mengurus dan mendapatkan urusan administrasi si kecil.

Tapi sayangnya, diantara sebegitu banyak kota dan wilayah di Indonesia, belum semua titik menjadi kota ramah anak disebabkan banyak faktor misal kendala uang dari pemerintah atau memang pemerintah yg belum berfokus terhadap hal tersebut. Tahun 2018 saja, baru ada sekitar 177 daerah yang mendapat anugerah kota layak anak dari pemerintah pusat.

Padahal, KLA sangat penting tuk diwujudkan karena secara langsung maupun tidak, tumbuh kembang anak Indonesia tergantung dari kualitas serta standar – standar KLA. Sehingga sangat penting sebenarnya bagi orang tua untuk secara cermat menentukan dimana sebuah keluarga bakal bermukim, agar si kecil bisa mendapatkan fasilitas serta hak tumbuh kembang terbaik dimulai dari lingkungan sekitar.

Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki titik ramah anak cukup banyak dengan ketersediaan jual beli rumah murah cukup berlimpah adalah Provinsi Jawa Barat. Tahun 2017 saja, sudah ada 15 titik yang mendapat predikat layak anak dan jumlah itu terus bertambah.

Ariesadhar.com - Pixabay

Tertarik buat melirik jual beli rumah murah di provinsi yg juga ramah anak ini? Berikut ulasan beberapa titiknya:

Bogor

Hanya berjarak sekitar 40 menit dari Ibukota, Bogor merupakan opsi utama bagi orang tua yg ingin jual beli rumah murah di areal layak anak. Sebab, meski dekat tetapi bisa dirasakan sekali perbedaannya mengenai kualitas udara dimana tingkat polusinya jauh lebih rendah dari DKI. Maka dari itu tingkat stressnya pun lebih rendah daripada Jakarta.

Stok rumah dijual di Bogor pun melimpah, tidak hanya landed house mewah saja tetapi Anda juga bisa rumah dijual di Bogor dengan harga miring dengan sangat mudah. Mau cari rumah dijual di Bogor tipe subsidi? Jangan khawatir, sebab stok hunian seperti itu juga banyak sekali.

Bandung

Dikenal sebab keindahan dan keberagaman tempat wisata, Bandung memang menawarkan sesuatu yg berbeda. Udara jauh lebih sejuk dan bersih dari Bogor. Plus setelah sempat dipimpin oleh Bapak Ridwan Kamil, makin banyak ruang terbuka serta taman yg bisa dijadikan tempat bermain buat anak. Tentunya dengan begitu aspek edukatifnya pun bakal lebih terasa.

Tapi untuk urusan jual beli rumah, tak berbeda jauh dengan rumah dijual di Bogor. Terdapat banyak opsi beli rumah serta range dan variasi landed house buat segera dimiliki. Tak peduli hunian murah maupun hunian mewah, tetap semuanya dikelilingi oleh ragam fasilitas serta infrastruktur buat mendukung segala perkembangan buah hati Anda. Ya, Bandung memang selalu istimewa.

Advertisements

Teman Lama

Handphone android-ku yang bisa instagram itu mendadak bergetar. Kuraih si Ace itu dengan malas, lingkaran hijau tampak di sudut kirinya. Sebuah pesan whatsapp. Jempolku menari di 9 titik pembuka lock dan ‘menarik’ panel navigasi dari bagian atas layar. Ah, canggihnya teknologi berhasil membuat semuanya damai dalam satu sentuhan.

“Bang, itu mbak Ola jomblo loh :D”

Sebuah pesan penuh makna dari Adan, adik tingkatku waktu kuliah dulu. Ola itu teman seangkatanku yang sekarang jadi manager purchasing di perusahaan tempatnya bekerja. Cantik sih. Dan dia dulu adalah pacarnya teman akrabku, jadinya aku lumayan akrab sama dia.

Dan entah mengapa cecunguk bernama Adan ini mengabari info yang semacam ini. Bahkan aku sendiri tak yakin dia kenal dengan Ola.

“Emang kowe kenal?”

“Yo ora sih. Tapi hari gini kan di dunia maya semua orang berkenalan Bang. Hohoho.”

Aku bangun dari pose tidur indahku di sore hari penuh ketenangan ini. Perihal jodoh memang sudah jadi isu besar dalam hidupku. Usiaku sejatinya belum tua benar, lagipula cowok seumuranku masih banyak yang belum menikah. Dua puluh delapan bukanlah angka yang menakutkan bukan?

“Pungguk merindukan bulan bro..”

“Lha?”

“Ora level lah.”

“Ya siapa tahu Bang. Level kan nggak cuma soal tinggi badan. *ups… Maksudku, kalian kan yo wis saling kenal.”

“Trus?”

“Usia juga serupa dan pasti dikejar target menikah to? Nek wis kenal kan nggak usah pacaran suwi-suwi. Hehehe. Sekadar usul lho Bang.”

“Hahaha. Aku kan ora ngepek konco, Dan.”

“Ya, siapa tahu faktor usia membuat prinsip berubah Bang.”

“Pinter tenan persuasimu.”

“Yo iki kan demi kemaslahatan umat.”

Diksi apa pula itu? Bah, adik tingkatku ini memang punya pilihan kata yang super absurd sejak buku-bukunya mulai laris di pasaran.

“Pokokmen nek isu dipertimbangkan Bang. Menurutku ini ide menarik.”

“Yo. Maturnuwun idenya. Iki pungguk tak ngimpi sik.”

“Jiahhh bang. Kowe ki wis tinggal lompat udah jadi bos juga. Podo-podo bawa stang bunder ngko.”

“Hahahaha…”

“Yowis yo. Aku tak bedah buku sik. Nglarisi dapur.”

“Yo. Sukses bro.”

“Sip.”

Sebuah percakapan antah berantah dengan ide yang menurutku gila. Secara tinggi badan saja aku sudah tidak memadai, bagaimana mungkin aku bisa mendekati Ola. Lagipula biasanya orang Purchasing itu galak, meski di beberapa company tempat lompat-lompat ada juga yang kalah galak dari PPIC. Tapi sebagai teman lama, masak sih Ola galak padaku?

Iseng-iseng, aku tertarik dengan ide cecunguk Adan ini. Sebenarnya aku masih sering kontak-kontak ringan dengan Ola. Jadi sebuah kontak bukanlah isu yang besar.

“Olala, piye kabare?”

Sebuah pesan whatsapp melayang pada Carola Tyana.

“Sae bro. Kowe?”

Dan bahkan obrolan kami adalah ala Jawa sekali, pakai kata ganti ‘kowe’. Ini jelas pertanda teman sejati.

“Mestinya demikian. Sibuk ora? Tak telpon o.”

“Wahhhh.. Pucuk dicinta ulam tiba ki. Telpon waee.. Lagi butuh konco curcol.”

Buat asisten manager macamku, tentunya nggak boleh bermasalah soal pulsa. Sekali aku tidak berhasil menelepon supervisorku semata-mata tiada pulsa bisa menyebabkan produk 1 batch yang nilainya miliaran bubar jalan. Jadi aku punya spare sangat lebih untuk pulsa. Tentunya untuk sekadar menelepon Ola bukanlah perkara besar.

“Halo? Tumben niat nelpon kowe?”

“Feelingku kan apik. Ono konco lagi gundah.”

“Jiahhh.. Tapi pas tenan. Haha. Aku jomblo kie bro.”

“Lha kok pedhot?”

“Tentunya karena tidak cocok. Lha opo maneh. Padahal aku pengen tahun iki nikah sih.”

“Sama, Olala!”

“Huh, golek konco kowe yo.”

“Kan emang wis konco to La?”

“Iyo sih. Lha kowe isih jomblo-jomblo wae?”

“Yo ngene ki lah. Fokus golek harta sik wae.”

“Opo bro? Mobil nggak usah kan ya? Paling dapat dari kantor. Rumah mesti.”

“Lha kowe sik manager La, oleh mobil. Asman ki durung oleh. Yo coba-coba cari properti ki.”

“Lha kok sama lagi kita bro?”

“Eh? Sebelah mana?”

“Aku yo lagi cari-cari rumah.”

Ups, sama-sama jomblo, sama-sama pengen nikah tahun ini, plus sama-sama mau cari rumah. Bukankah kesamaan-kesamaan itu tampak sama untuk disamakan?

“Ehm, ayo nek ngono, golek bareng La.”

“Bolehhhh, kapan?”

“Kapan kowe iso lah. Nek orang pabrik kan cetho jam-nya. Purchasing kali ada meeting luar negeri.”

“Hahaha.. Ora lah bro. Weekend seloww saja. Next weekend?”

“Dicatat. Kowe jemput aku yo? Kan yang bermobil situ. Hahaha.”

“Huuuu.. Yowis, gapapa. Tak jemput mana? Lha kowe di Cibitung to? Adoh men aku le methuk.”

“Yo gampang. Ketemu di MM Bekasi saja. Kita searching daerah Bekasi dulu.”

“Pinter kowe bro. Sayang durung manager. Hehehe.”

“Ngece ki bu bos.”

“Ora.. ora.. bercanda pak Asmen. Okelah, sampai jumpa next weekend.”

“Siap bu bos. See you.”

Telepon ditutup, dan sepertinya aku bisa memulai sesuatu yang baru dari sini.