Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

C.I.N.T.A = L.O.V.E

Well, hari ini senang nimbrung upload-an sebuah foto (screenshot) profil BBM seorang teman. Ya senang saja. Kalau teman senang kan kita ikut senang. Kalau teman diece, kan kita juga ikut senang. Bukan begitu?

Yah, teman saya yang menjelang uzur *eaaaaa* tampak banget sedang jatuh cinta. Yak, screenshot BBM yang di upload di FB sudah menjelaskan sesuatu, dilengkapi dengan status di Whatsapp-nya. Ya, ya, ya.. Tampak sekali dia sedang jatuh cinta! Hahahaha..

Turut senang, itu pasti 🙂

Well, soal cinta dan jodoh ini memang kadang rumit. Dalam hal ini mari kita colek bocah rantau. Hehehehe..

Soalnya nih, belakangan ini ada dua teman saya yang putus setelah usia pacaran seumur anak masuk TK, lantas mendapatkan cinta yang baru, yang uniknya, masih satu fakultas juga. Sudahlah, namakan saja ini misteri cinta. Bukan begitu? Kenapa nggak terjadi 4-5 tahun silam? Kenapa terjadi sesudah sekian tahun? Kenapa dan kenapa yang lainnya..

Ya begitulah, bahkan cinta itu sejalan hidup, sebenar-benarnya misteri.

Hmmm, kalau teman-teman saya sudah menemukan jawaban atas misterinya. Saya bagaimana ya? *garuk-garuk* 🙂

Selamat pren! 😀

*judul dikutip dari pernyataan teman yang baru jadian*

*halah*

Eh, Penerbangan Saya Masuk Berita

Googling bin googling eh malah ketemu nih..

LINK INI *nulis sambil marah-marah*

Jadi tertulisnya begini:

Menurut pantauan Posko Angkutan Lebaran Terpadu 2012, ada 11 jadwal penerbangan yang mengalami delay jadwal kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada H+1 atau Selasa (21/8/2012) kemarin. Maskapai yang mengalami delay adalah Batavia Air, Sriwijaya Air, Lion Air, Citilink, dan Indonesia AirAsia. Keterlambatan itu terlihat sepanjang pemantauan Posko yakni dari pukul 08.00 WIB sampai 18.00 WIB.

Maskapai Batavia Air, misalnya, mengalami keterlambatan kedatangan domestik paling lama dari maskapai lainnya, yakni penerbangan Y6-0584 dari Bandar Udara Minangkabau, Padang, menuju Bandara Soekarno-Hatta selama 2 jam 39 menit.

Keterlambatan paling singkat yakni Lion Air JT-0347 dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dengan 32 menit dari jadwal semula. Sementara Sriwijaya Air adalah maskapai yang paling banyak mengalami keterlambatan jadwal kedatangan di Bandara Soetta. Ada lima penerbangan dengan tujuan Jakarta yang telat.

Saya bingung nih, itu 2 jam 39 menit dari mana yak? Wong saya antri di pintu boarding aje tulisannya 13.10, padahal saya itu antrinya jam 17.10, itu juga 10 menit sebelumnya dibilang “pesawat akan siap 30 menit lagi..” yang langsung mengundang komplain banyak penumpang.. Jadi 13.10 ke 17.10 itu ternyata 2 jam 39 menit?

Ehm, bisa dipahami sih, kalau dihitung normal, 4 jam itu kompensasi 300 ribu. See? Bayangkan aja rugi di peak season mudik begitu. Rugi bandar cuy. Ah, ya sudahlah… Huhuhuhu…

Antologi Mayor Berikutnya

Kalau teman-teman sekalian melihat pojok kanan atas blog ini, dan teman-teman sekalian adalah pengunjung setia blog sederhana ini, pastinya ngelihat ada perbedaan.

Yup, ada gambar lain yang muncul disana, tidak hanya foto buku “Kebelet Kawin, Mak!”. Ada tambahan, namanya “Radio Galau FM Fans Stories”.

Syukur kepada Tuhan bahwa saya disempatkan untuk ngecek TL ketika lomba “Radio Galau FM Fans Stories” ini di-tweet. Kala itu, saya sudah capek menulis galau. Tapi, saya lantas berpikir, nggak apa-apalah, sekali-sekali ini. Kalau masuk, kan bisa jadi buku.

Maka, saya hanya membuka sebuah cerita di blog ini juga, tanpa mengganti judulnya. Silahkan search FOTO DALAM DOMPET. Yak, cerpen mini di tanggal 24 Januari 2012 itu yang saya rekarasa untuk kemudian dikirim ke penerbit Wahyumedia.

Well, silahkan berargumen soal copy paste dan lainnya. Bagi saya, ini cerita saya yang tulis, jadi ya suka-suka saya mau diapakan. Iya kan?

Dan saya memilih untuk mengganti tokoh dalam cerita itu plus mengganti endingnya. Ending itupun ditemukan persis ketika mengetik. Ya, saya memang penulis dengan inspirasi sambil jalan. Sungguh berbanding terbalik dengan keseharian saya sebagai orang planning.

Lama, dan lamaaaaaa… akhirnya ada pengumuman. @ariesadhar menembus lomba itu. Syukurlah. Tapi lama dan lamaaaaa baru dapat kabar. Sebenarnya saya bahkan hampir lupa sebelum kemudian ada yang SMS minta alamat untuk pengiriman hadiah. Terus saya kepo ke linimasa, dan ternyata itu buku sudah ada sejak tengah bulan. KEMANE AJE?

Hmmm, pas kemarin saya ke Central Park, ada reuni sama anak-anak PSM CF. Jadi mampir ke Gramedia, dan menemukan buku itu. Seperti biasa, saya beli lebih dari 1, walaupun nanti pasti dapat bukti terbit dan saya toh nggak dapat royalti (karena sudah include di hadiah), tapi saya ya begitu memang. Nanti buku itu kan bisa saya kirim ke ortu, buat nambah-nambah koleksi di rumah. Cinta Membaca (indie) dan Kebelet Kawin, Mak! (Gradien) juga saya kirim ke rumah kok.

Uniknya, buku ini ada di rak BEST SELLER. Wew! Setelah saya berburu “Kebelet Kawin, Mak!” di rak TERBARU Plaza Semanggi, kini saya menemukan buku yang ada tulisan saya-nya di rak BEST SELLER Central Park.

Oke. Masalahnya sekarang, tidak ada lagi pendingan lomba yang saya punya. Sejak Mei saya kehilangan sentuhan menulis. Harus bagaimana ini? Bagaimana dengan cita-cita saya punya buku sendiri?

Itu juga ada kisahnya. Agak sedih sih. Tapi, penulis bagus-pun pernah ditolak kan? Ya anggap saja ini jalan menjadi penulis bagus.

Masalahnya, 2 bulan sesudah mengirim naskah buku, saya ditelepon sama editor, katanya naskahnya oke, tapi menunggu meeting dulu. Karena saya sabar, jadi ya saya tunggu. Dan sampai sekarang saya menunggu. Akhir Agustus itu persis 4 bulan naskah saya dikirim. Artinya? Ya itu bermakna penolakan. Ya sudah. Mari berkarya lagi kalau begitu 🙂

Oh iya, soal tokoh, saya harus mengucapkan terima kasih kepada teman saya yang namanya saya pakai sebagai tokoh di kedua cerpen, baik di “Kebelet Kawin, Mak!” dan di “Radio Galau FM Fans Stories”. Thanks a lot! Apa itu bermakna namanya harus dipakai sebagai tokoh di novel supaya buku saya bisa diterima? Hehehe, entahlah.

Ada Apa Dengan PNS?

Ini posting suka-suka saya ya.. Please jangan ada yang tersinggung apalagi ternungging..

Bapak saya PNS, lebih tepatnya menjadi PNS setelah beberapa tahun jadi guru swasta, dan tetap mengajar di sekolah yang sama (swasta). Jadi bisa dibilang PNS itu hanya status, toh ngajarnya tetap swasta. Oh iya, gaji juga ding.

Nah, memang sih, saya melihat beda signifikan gaji Bapak dan Mamak yang notabene mengajar di yayasan yang sama dengan status berbeda. Satu guru swasta, satunya PNS. Gaji Bapak memang jauh lebih mantap.

Tapi…..

Semantap-mantapnya gaji Bapak selama 34 tahun ternyata sama saja secara nominal dengan gaji saya bekerja selama 3 tahun 4 bulan. So?

Kata Mamak, yang penting masa depan. Nah, saya mikir lagi, apa iya di swasta ini saya nggak punya masa depan? Entahlah..

Lagian kalau mau resign jadi PNS, bayar 50 juta. Kalau resign dari swasta ketika sudah jadi tetap? Nggak bayar. Lah kok enak swasta?

Hmmm, apalagi ketika melihat sendiri SK CPNS seorang teman yang gajinya menurun drastis ketika pindah dari swasta ke negeri. Inikah yang dimaksud masa depan?

Lah saya tambah bingung.

Apalagi ketika dibilang PENSIUN hendak dihapuskan. Matilah saya. Kalau saya masuk sekarang, mungkin di jaman saya pensiun nanti, sesuatu bernama UANG PENSIUN itu sudah dihapuskan.

Tapi kenapa banyak yang berbondong-bondong kesana?

Ada apa sih disana? Kenapa?

Sumpah saya bingung.

Pengalaman Pertama

Ada banyak penyesalan dalam pilihan hidup. Kenapa menyesal? Karena seharusnya ada pilihan yang lebih baik.

Dan salah satu penyesalan terbesar saya dalam hidup adalah melewatkan kesempatan bergerilya dengan musik, tepatnya menyanyi.

Dulu saya juara 2 loh, lomba nyanyi di SD Fransiskus, kalah sama Abe alias Abrar Zaki. Dan itulah kali terakhir saya bernyanyi di depan umum dalam kompetisi. Berikutnya, bahkan untuk menyanyi di depan kelas pun saya malas. Kalau adik-adik saya di level SMP sudah mazmur di gereja, saya memilih untuk tidak. Bagian terburuknya adalah kala tugas nyanyi di SMP, dengan suara puber, saya gagal membawakan bagian “kita jadi bisa menulis dan membaca, karena siapaaaaa…” dengan baik. Haduh. Tapi vokal grup saya di SMP sempat menang loh. Kelas 2 dan kelas 3. Itulah bekal terakhir.

Adapun di pelajaran musik, saya sama sekali abai dengan 1 2 3 4 5 6 7 itu. Nggak suka, entah kenapa.

Ujungnya, di SMA ketika ada tawaran ikut paduan suara, saya memilih nggak ikut, dengan mantap.

Sebatas itu, sampai kemudian saya mengenal Paduan Suara Fakultas Farmasi yang bernama Veronica. Semata-mata teriming-imingi makan dan snack gratis, saya ikutan nyoba menyanyi, tanpa paham banget kalau 1 itu bunyinya do yang seperti ini. Saya buta benar-benar. Saking butanya, saya nyemplung di tenor. Sebuah opsi gaib yang kadang bikin saya geleng-geleng.

Di bawah asuhan Mbak Ina yang keren banget, saya belajar soal not sampai akhirnya bisa menyanyikan lagu dari notasi angka-angka. Saya baru menyadari indahnya angka-angka itu di semester 1 saya kuliah, di usia 17 tahun. SEBUAH AWAL YANG SANGAT TERLAMBAT!

Tapi bagi saya, lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Maka saya mencoba serius di PSF ini dengan mengikuti semua kegiatannya. Saya hanya luput 1 waktu perpisahan Romo Andalas, karena harus makrab Dampok Insadha 2005. Jadi dari seluruh tugas di periode 2004/2005, saya hanya bolos sekali. Dan saya semakin menyukai hal ini.

Dan sebuah godaan besar muncul ketika saya membawa anak kelompok 24 Insadha 2005 ke stand PSM Cantus Firmus. Well, melihat teman-teman macam Rinto, Shinta, Finza, hingga Daru membuat saya pengen ikutan. Jadi kalau rata-rata orang mendaftar PSM CF itu di semester 1, saya di semester 3. Telat lagi.

Modalnya nekat bener, nggak bisa apa-apa. Saya dites not sama Mas Dede dan Mbak Citra dan mereka tampak geleng-geleng. Dari sisi intelegensi, saya mungkin NOL BESAR. Tapi entahlah, nyatanya saya masuk.

Di CF inilah saya ditegaskan sebagai pemilik suara BASS MURNI. See? Bahkan saya ngawur masuk tenor. Ibarat kata, melanggar kodrat. Di CF juga saya semakin memperdalam soal not, soal akord, soal bagaimana berlatih, soal bunyi do re mi dan seterusnya, hingga kemudian tampil dan tampil lagi.

Pelan-pelan angka-angka itu menjadi kesukaan. Misal nih, untuk bagian Sing Haleluya Clap Your Hands itu bunyinya la do la do re mi re do la. Lalu ada beberapa lain yang saya pelan-pelan hafal. Di PSM CF inilah saya dilatih sama pelatih paling berkarakter yang saya tahu dari karier singkat paduan suara saya, Mas Mbong. Di PSM CF sendiri ada Cik Lani dan Mbak Prima sampai Bu Jin yang bergantian memimpin latihan.

Paralel, saya juga masih kukuh di PSF karena saya nggak pengen meninggalkan tempat saya belajar baca not itu. Waktu itu dibawah asuhan Ulit alias Fitri hehehe…

Dari pelatih-pelatih itulah saya mencoba belajar dan terus belajar, utamanya mengatasi ketertinggalan saya bertahun-tahun karena baru ngeh soal musik ini di usia 17 tahun sementara yang lain mungkin sebelum belasan sudah pakar.

Ketika lulus, saya satu kerinduan saya kemudian adalah bernyanyi. Sempat sih di Palembang beberapa kali, tapi ya jujur, saya sendiri kurang total keluarnya. Saya jadi sadar kalau saya itu orang gandulan. Maksudnya, dulu di PSF ada Rudi, di PSM ada Oon dan Brondang. Ketika mereka nyanyi besar, saya bisa tampil besar. Ketika di Palembang, tidak ada yang besar, saya ikutan nggak besar. Padahal jelasnya di CV saya tampil tuh Golden Voice dan KPS Unpar yang menandakan saya seharusnya bisa jadi gandulan. Nyatanya? Tidak.

Dan di Cikarang ini, ketika saya kehilangan paduan suara sama sekali, eh saya malah dapat macam-macam kesempatan. Mulai dari ikut pegang mike dan dapat part sendiri waktu di Titan (fals pulak.. huhuhu..) sampai yang terbaru dan lumayan bikin bingung ini.

Jadi suatu ketika saya pergi menemui teman lama yang datang ke Cikarang, lalu pulang-pulang dapat kabar kalau saya dan Agung diminta melatih koor karena pelatih lawas pindah rumah. BUSET! Saya sepanjang hidup itu cuma jadi anggota, solis saja tidak pernah, paling mentok nyanyi mazmur “Ya Tuhan aku datang melakukan kehendakMu”. Udah. Mau disuruh ngelatih koor?

Waduh.

Dan, barusan ini, saya berdiri di depan podium dan belagak menjadi pelatih. Astaga. Menjadi pelatih itu ternyata tidak sesederhana yang mungkin saya duga. Saya dulu paham kalau jadi pelatih itu sulit, tapi kok sepertinya nggak sesulit ini. Tapi nyatanya ya sulit. Saya ini hanya melatihkan lagu unisono loh. Belum yang 2, 3, apalagi 8 suara. Di lagu pertama sudah cukup bikin keringat dingin. Grogi sumpah. Memang rasanya belum mengalahkan tampil pom-pom, tapi serupa dengan tampil di lomba. Fiuhhh…

Untunglah, menurut saya, debut hari ini lancar. Ah, semoga berikutnya juga demikian.

Terima kasih untuk para inspirator saya, Mbak Ina, Ulit, Mas Mbong, Mbak Prima, Cik Lani, Bu Jin, lalu juga yang sempat ngelatih saya macam Romo (dulu Frater) Ardi, Mas Selsi, sampai Santo. Kalian semua hebat! 😀

Elegansi Sebuah Tindakan

How to manage issue?

Isu, apapun, besar-kecil, pastinya akan menjadi hal ihwal yang penting dan mendesak untuk diselesaikan. Kenapa? Sebuah isu itu akan menjadi bara yang memanaskan suasana.

Dan yang dibutuhkan untuk menangani isu itu adalah tindakan.

Nah, persoalannya adalah bagaimana bertindak elegan agar suatu isu tidak berkembang menjadi masalah, apalagi masalah besar.

Hal elegan alias cantik alias luwes dalam menyelesaikan masalah sebenarnya dimulai dari melihat fakta-fakta dan data-data secara komprehensif. Utamanya melihat seluruh data dalam definisinya masing-masing. Komprehensif juga setidaknya mengerti makna dari data-data yang terkandung.

Saya pernah punya bos dengan tindakan yang elegan, tentu juga pernah ngawur. *hehehe, sorry loh pak*

Jadi suatu kali, gudang itu penuh minta ampun. Sederhananya, miss plan. Nah ketika nilai inventori menggunung, dapur produksi belum maksimal, isunya adalah what to do? Ada yang langsung laporan ke atas, ada yang mencerna dulu masalahnya baru laporan.

Dan kejadian waktu itu, dua-duanya terjadi.

Saya ikutan mempersiapkan datanya siang dan malam, termasuk proyeksi bagaimana membuatnya normal dalam time phase 6 bulan. Tampak mustahil, tapi bukan bermakna nggak bisa.

Dengan bekal data itulah, lantas pakbos menghadap, menghadapi pertanyaan besar kenapa ini terjadi dan bagaimana ini dikelola. Saya pusing, dan saya yakin pakbos saya lebih pusing. Tapi tim kami bertindak dengan elegan. Maksud saya, mainnya cantik. Saya ingatnya menjadi semacam pertarungan data. Yang satu membahas dari sisi kekinian, yang satu dari perspektif masa depan. Dua-duanya saya padukan dalam satu report yang niscaya kemudian menjadi kelegaan terbesar saya dalam hidup.

Yah.. Elegansi, keluwesan, keindahan dalam bertindak menjadi kuncinya. Elegansi bukan ABS, alias Asal Bapak Senang. Elegansi adalah bertindak dengan manis, dengan janji yang oke tapi realistis, dan yang pasti bertindak atas dasar data yang jelas dan definisi yang pasti.

Akhirnya memang, Oktober, misi nyaris mustahil itu tercapai. Overload bisa turun. Saya ingat benar setiap hari berharap conditional formatting yang saya buat merah itu segera menjadi putih, pertanda kapasitas sudah oke. Setiap hari saya nggak lelah menarik data dan mencernanya.

Rong-rongan ada, jelas, tapi dengan basis data dan tindakan yang bermakna dari pakbos, meski tentu di sisi tertentu saya sebel dengan cara-cara ala manusia planning (ini kan jenis manusia paling dibenci di pabrik manapun.. huhuhuhu…), tapi hasilnya oke. Isu yang besar itu dikelola dan tidak menjadi lebih besar, tapi lantas diselesaikan dengan cara yang manis.

Saya tersenyum melihat angka 4 di BSC. Bagi saya itu awesome.

Nah, saya bukan mau menggurui siapapun dengan posting ini. Saya hanya berefleksi pada salah satu momen terburuk dan terindah saya dalam hidup. Terburuk karena itu momen saya pulang jam 11 malam dan datang lagi jam 7 pagi. Terburuk ketika saya setiap hari mimpinya bahan baku. Terburuk karena dering telepon itu ibarat lonceng kematian bagi saya.

Tapi terbaik ketika saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa. Ketika kemudian orang-orang tahu, siapa kami, siapa saya. Ketika semuanya lantas mengerti bahwa performa itu tidak berdasar sekadar bacot atau arogansi, tapi tindakan nyata yang membuahkan hasil yang jelas.

Nah, kalau masalah besar begitu.

Hari ini saya komunikasi dengan beberapa rekan lama, sedikit nostalgia keadaan. Yah, bahwa kadang saya dirindukan sebagai salah satu personil yang kompromistis. Bagi saya, bagian planning itu harus kompromi, itu pasti. Apapun yang kompromi dengan tujuan tercapainya pemenuhan forecast. Jadi aspek-aspek administrasi, kadang saya tuntaskan tanpa melewati pakbos, asal kadarnya sesuai. Itu cara saya. Dan syukurlah, kompromi itu kemudian menjadi perkara kecil yang tidak perlu raise issue sehingga lantas jadi heboh nggak penting. Toh sudah ada heboh besar ketika inventori menggunung, cukuplah. Nggak usah disertai kehebohan lain lagi, apalagi yang remeh.

Kenapa saya berani? Ya karena saya cukup tahu definisi. Artinya, dengan bekal yang saya tahu-walau sedikit-ya saya bisalah melakukan tindakan dengan luwes, tanpa perlu menjadikan ini isu dan kemudian masalah besar.

Misal nih, kalau cuma sekadar permintaan bahan baku untuk trial di produksi, apa iya harus ditolak? Trial itu kan kaitannya untuk proses, iya kan? Proses nanti bakalnya ngeluarin produk juga. Padahal inti dari seluruh bisnis, ya produk. So? Apa lagi? Kalau memang permintaan itu mengurangi stok signifikan, putar otak lagi. Kalau mau ya beli lagi. Gitu aja siklusnya.

Dan Pakbos saya baru tahu soal masalah itu, ketika ia approve permintaan pembelian yang saya buat.

“Ini buat apa?”

“Begini, begini, begini…”

Hanya 5 menit, dengan logika yang oke, dan report yang jelas (tentu include data), disetujuilah permintaan itu.

Begitulah.. Tidak semua isu akan berkembang menjadi masalah kalau dipadamkan segera. Tapi tindakan yang tidak elegan, justru akan menyulut bara api tadi jadi api beneran.

Dan kalau kemudian sudah jadi api, semua sudah kebakaran, mau bilang apa? Apalagi ketika kemudian dibuktikan bahwa seharusnya itu nggak jadi hal besar? Misal kita kepanasan di sauna, itu bukan bermakna di luar ruang sauna itu ada kebakaran kan? Logikanya sih begitu.

Hmmm, macam menggurui kali tulisan ini. Tapi ini beneran refleksi saja, hasil kenang mengenang hari ini. Sekali lagi, bahwa saya kemarin juga habis bikin masalah sendiri, sehingga lantas kehilangan. Kenapa? Ya karena saya mengelola isu yang kecil dengan cara yang salah, jadilah ia api yang besar dan hancur.

Refleksi pribadi saya, ditunjang hasil mengenang hari ini, dan disertai pengamatan. Begitulah, pada akhirnya, semua masalah tidak akan besar jika ditangani dengan cara yang elegan.

Sesederhana itu, tapi sulit banget. Mana saya baru 3 hari yang lalu bertindak tidak elegan. Huhuhuhuhu…

Nggak apa-apa, hidup itu belajar, jadi lebih baik 🙂

Semangat!

Teman Seperjalanan

Masih ingat lagunya Ratu, jaman dua emak-emak cakep itu masih akur?

Begini lagunya:
Aku punya teman (ah.. ah.. ah..)
Teman sepermainan (ah.. ah.. ah..)

Yang kalau direvisi menjadi:
Aku punya teman (uh.. uh.. uh..)
Teman seperjalanan (uh.. uh.. uh..)

Ya kira-kira begitu.

Soal teman seperjalanan ini memang paling mengundang ironi dalam hidup saya. KENAPA? Karena dari berbagai perjalanan yang saya lakoni, baik itu angkutan darat, air, dan udara, nyaris saya tidak pernah seperjalanan sama CEWEK CAKEP! Huhuhu, ini ratapan saya beneran loh.

Dimulai dari perjalanan dengan ALS tahun 1997, Bandung-Bukittinggi. Waktu itu, sekeluarga cuma pesan kursi 5, karena si Daniel masih mungil sehingga bisa masuk bagasi (lebayyy…). Nah, sebagai anak pertama, saya disuruh menduduki kursi ganjil itu. Jadi Bapak sama Mamak sama Dani. Si Beny sama si Cici. Dan saya? Dalam hati, di usia 10 tahun, saya sudah berharap akan bersebelahan dengan cewek cakep. Nyatanya? Emak-emak labil yang pergi seorang diri. Ampun dah.

Hmmm, berikutnya, lama kemudian saya baru berjalan-jalan sendirian lagi. Tahun 2004, ketika jadi orang unyu di bandara Soekarno Hatta karena baru pertama kali naik pesawat dalam keadaan sadar. Dulu pernah tahun 1989, tapi, apalah yang diingat bocah umur 2 tahun? Nggak ada.

Di Batavia Air Padang-Jakarta, lanjut Jakarta-Jogja, saya bersebelahan dengan keluarga yang curang. Lha jelas kursi saya di pinggir jendela, F. Eh, dia dudukin. Dan bodohnya, saya ikutin aja itu. Piye dong, namanya baru pertama kali.

Next, saya melakoni banyak perjalanan sendirian. Ada yang pakai Lodaya ke Bandung seorang diri, balik hari. Dan dua-duanya bersebelahan dengan MAS-MAS.

Dalam rangka pacaran Palembang-Jogja dulu, saya berkali-kali naik pesawat. Dan NGGAK PERNAH sebelahan sama CEWEK CAKEP sama sekali. Entah mungkin saya ini kurang doa atau bagaimana. Pernahnya, dengan MBAH-MBAH yang minta jatah kursi pinggir jendela. Yang bikin menderita kalau di pesawat adalah kalau di PINGGIR JENDELA dan bersebelahan dengan SEPASANG KEKASIH yang bermesraan dengan nikmat. Sumpah, mupeng tiada terkira itu.

Dan itu berlanjut, mulai saya naik Rosalia Indah, Lorena, Ramayana, Bejeu, sampai Muncul ya tetap aja sebelahan sama MAS-MAS. Saya naik Garuda, Lion, Mandala, Batavia, sampai (alm) Adam Air kalau nggak MAS-MAS, BAPAK-BAPAK, atau SEPASANG KEKASIH. Mau naik 121, AO, 122? Kadang malah banyak yang sebelahan *lha wong berdiri*

Jadi begitulah, Tuhan belum menghendaki saya sebelahan sama CEWEK CAKEP. Nggak apa-apa deh.

Dan satu-satunya pengalaman saya soal CEWEK CAKEP adalah waktu penerbangan Batavia dari Palembang ke Jakarta. Itu niatnya mau pacaran di Jogja, tapi dasar mata lelaki. DI SMB II uda liat-liatan sama cewek yang bawa boneka, saya bawa Candy. Sayang nggak sebelahan. Tapi waktu turun di Soekarno-Hatta, ngobrollah kita sedikit. Dannnn…. sayangnya dipisahkan di toilet oleh HIV si cewek tadi. Huffttt.. *lha ini kok malah nyesel ki piye*

Teman seperjalanan yang paling ribut itu pas naik Yoanda Prima, Palembang-Bukittinggi, seorang sales rokok bernama Febli. Sepanjang jalan cerito wae. Padahal kan saya ngantuk. Haduh. Jadi sampai rumah langsung tepar tiada terkira. Bayangkan saja 18 jam itu setengahnya dia cerita sementara saya hmmm.. hmmmm.. doang.

Semoga ke depannya bisa dikasih sekali-kali cewek cakep gitu. Hehehehe…

🙂

PKL, 4 Tahun Yang Lalu

Tengah malam terbangun, membaca sebuah whatsapp, semacam request menulis. Hahahaha..

Jadi yang ngirim whatsapp bilang kalau dia PKL di tempat yang sama dengan saya menimba ilmu dahulu. Hmmm, baiklah..

Tentunya ada note yang jelas bahwa kondisi pabrik itu pada tahun 2008 adalah berbeda bermakna dengan kondisi pabrik itu saat ini. Kalau nggak percaya, mari kita tanya ahlinya. Ya kan kang? Hahaha…

Okehhh, sekitar 4 tahun silam saya mendapat jatah untuk PKL di sebuah pabrik ternama di Jalan Raya Bogor. Sebenarnya saya yang minta PKL disitu dan syukurlah dikabulkan sama yang nyusun jadwal. Hehehe..

Buat yang PKL disana pasti senang karena ada seorang bocah tua nakal (waktu itu belum tua) yang baik hati dan rajin mentraktir. Kebetulan memang calo sampai bisa ada PKL disana ya memang beliau ini, si ahlinya itu tadi.

Saya kos di sebuah tempat bernama MABESKOSMAR, detailnya bisa dikulik-kulik disini. Tempat yang memang mirip kebun binatang karena banyaknya jenis hewan yang tersedia, tapi juga memberikan suasana yang menarik karena aspek penghuni-penghuninya. Kos ini cukup homy memang, apalagi penghuni lain pada baik-baik sama anak-anak unyu macam saya dan tiga teman lainnya.

Hari pertama PKL, langsung dihadapkan pada Plant Manager yang ganas tapi gila. Lah iyo, dia itu apoteker, tapi ngakunya Sarjana Ekonomi dari UNIVERSITAS TUGU MUDA, yang disingkat UNTUMU plus Sarjana Hukum dari INSTITUT SEBELAS APRIL yang disingkat I(h)SEBELAP(oteker). Po ora edan Bapak iki? Tapi pelan-pelan saya tahu kalau beliau ini adalah sosok yang LUAR BIASA. Siapa dia? Inisialnya SI. Hehehehe..

Lalu mulai berpraktek, kebetulan saya dapat di Quality bagian Packaging Material, kerjanya ya sampling-periksa-buang, sampling lagi-periksa lagi-buang lagi, sampling terus-periksa terus-buang terus. Ya ternyata kerja ya emang gitu itu, sebuah sesuatu yang bernama RUTINITAS.

Dan karena itulah saya setiap hari ke gudang. Menyaksikan gudang yang tingginya belasan meter, dan sesekali naik pakai forklift yang mantap bikin gemetar. *apalagi pas giliran ambil data logger di pucuk rak*

Siapa sangka saya lantas ‘punya’ gudang sendiri dibawah tanggung jawab sendiri, SEKARANG? Besarnya beda, tapi tingginya mirip, bentuknya mirip juga. Ah, dasar hidup!

Rutinitas ini berbarengan dengan anak PKL lain dari Swiss German University memang, tentu dengan perspektif yang beda. Kalau ditanya saya dapat apa, ya ilmu tentang sampling akar N plus 2 itu ya baru nemu di tempat saya PKL ini. Belum lagi soal pemeriksaan kemasan, bahan kertas (ivory/duplex), lipatan, pemeriksaan leaflet, lem, hingga pemeriksaan botol.

Satu hal yang paling ingat ketika saya TANDA TANGAN di form pemeriksaan alu foil E*ev*t. Wuihh, serasa pengen fotokopi lalu pajang di dinding. *waktu itu*, kalau sekarang? *setumpuk isinya tanda tangan sendiri* Hahahaha..

Lebih menarik lagi ketika bisa futsal bersama dengan tim yang ada di plant ini. Seru, seru banget. Dan disinilah saya merasa hidup itu ya seperti itu. Pada saat yang sama juga melihat bagaimana rasanya di-off via kejadian orang teknik waktu itu. Bagaimana rasanya kontak habis via seorang analis yang pamitan pada waktu yang sama. Bagaimana rasanya kuliah sambil kerja dari analis lain yang ada.

Sungguhpun itu sebuah pengalaman menarik. Dan setahu saya nih, orang-orang yang ada dulu sudah lepas satu persatu. Termasuk bocah tua nakal tadi itu. Bahkan saya pernah baca suatu status yang sifatnya mengeluh, dari staf yang masih ada disana. Entahlah, saya nggak campur urus sih, tapi bagaimanapun tempat itu pernah menjadi kenangan bagi saya sendiri. Dan lewat itulah saya tahu dunia nyata-nya farmasi itu ya seperti itu 🙂

Jadi bagaimana saudari? Kalau belum paham bisa tanya sama bocah tua nakal ini lho… Hehehehe…

🙂

Setiap Orang Punya Hidupnya Sendiri-Sendiri

Entah! *oalah, tulisan opo iki, awal-awal kok wis entah*

Jadi begini, dalam hidup saya yang fana ini memang saya sering mendapat jatah mendengar cerita orang-orang. It’s OK. Malah saya bersyukur banget bisa mendengar banyak referensi hidup dari banyak orang. Dan itu kemudian terefleksi dalam hidup saya sendiri, dan satu hal yang lantas saya sadari: bahwa setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri.

Saya, misal, di usia 14 tahun sudah menggembel di Jogja, di usia 17 tahun sudah jadi mahasiswa, dan di usia 22 tahun sudah jadi pekerja. Di sisi lain? Ada yang bahkan dari usia belum 10 sudah banting tulang cari duit, dan ada juga yang hingga usia lebih dari 22 masih menempuh pendidikan. So? Ya memang itulah jalannya sendiri.

Dan karena itulah, sejatinya tidak setiap hal itu bisa dibandingkan, namun memang bisa dijadikan referensi. Sekali lagi, kalau di pembuatan skripsi kita nggak membandingkan, tapi menggunakan referensi. Iya kan?

Misal nih, ketika adik saya sekarang usia 17 tahun dan kemudian memasuki hidup barunya di sekolah baru di usia 17 tahun. Saya kadang berpikir bagaimana ini anak bisa hidup. Tapi ketika hidup saya sendiri tak jadikan referensi, lha kok membalik sendiri. Umur segitu saya luntang lantung nyari kampus, dan sudah survive 3 tahun dengan badan yang (syukurlah) tambah kurus dan tambah kering.

Itu satu contoh.

Lalu kadang saya mencoba membandingkan masa silam saya yang penuh heroisme hidup lewat es mambo! Hahahaha.. Bener, dulu saya sore-sore kerjanya bungkusin es mambo buat dijual buat jajan. Kalau mau dibandingkan dengan teman lain yang lebih kaya, ya iri. Tapi saya lantas baru sadar setelah jadi orang pabrik begini, dengan penghasilan ortu mereka yang tinggi, konsekuensinya, waktu mereka lebih sedikit untuk interaksi. Sementara saya? Sepenuhny saya memiliki waktu bersama orang tua sejak pulang sekolah.

Jadi, bener kata stand up comedy kemarin yang saya tonton, kalau ada reality show yang mempertontonkan keperihan hidup, sebenarnya itu juga referensi saja. Lha begini, yang hidup aja nggak nangis kok, kenapa malah host-nya yang nangis? Hayo, kenapa coba? Hmmm..

Jadi memang, setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri, latar belakangnya sendiri-sendiri. Dan itu tidak bisa diubah. So? Tinggal bagaimana kita saling bertukar referensi untuk hidup yang lebih baik.

Salam Pessy! *opo jal*

Hoki vs Kerja Keras

Pernah punya teman dengan hoki maksimal? Menurut saya, ada. Sebutlah begini, giliran ada agenda undi mengundi, hampir pasti orang ini dapat. Giliran yang lain galau menggalau jomblo, tanpa perlu kerja keras, orang ini bisa punya pacar. Giliran mencari kerja itu susahnya minta ampun, orang ini bisa dapat kerja dengan 1 kali melamar.

Dan kebetulan, saya nggak masuk golongan itu.

Yak, nama saya pernah masuk juara lomba caption foto Bola tahun 2004, tapi itu nama saya, dengan caption foto kreasi adik saya. Jadi itu bukan saya. Nah, jadi jelas lah, kalau namanya undian-undian itu, saya nggak pernah berharap. Kenapa? Hampir pasti saya nggak dapat. Seumur-umur dapat undian itu cuma tempat pensil berbalut batik. Enough.

Dan perlahan saya sadar relasinya adalah dengan kerja keras.

Why? Syukurlah saya punya beberapa prestasi. At least, saya bisa dapat beasiswa dulu plus beberapa kali dapat duit dari lomba menulis. Intinya? Saya nggak punya hoki tinggi sehingga saya harus kerja keras untuk mendapatkan yang saya mau. Sesederhana itu saja.

Dan kadang saya ngiri dengan betapa mudahnya orang hoki mendapatkan segala yang dimaui. Tapi perlahan saya sadar, bahwa sejatinya, itu hanya bentuk pengalihan. Aslinya saya harus bekerja lebih keras untuk memperoleh apa yang HARUS saya dapatkan.

Hehehe.. Semangat!