Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Tahap Berikutnya

Spirit judul ini adalah hendak meniru judul bukunya Ariel dkk yang “Kisah Lainnya”. Tapi kayaknya nggak masuk ya? Ya, sudah suka-suka saya lah.. hahaha..

Kemarin, saya memasuki tahap baru dalam hidup ini. Pengurangan usia dari jatah yang diberikan Tuhan pada saya–yang entah berapa. Sebuah tahap yang seharusnya membuat saya menjadi terus dan terus membaik. Sebuah tahap yang dinamakan oleh banyak orang sebagai ULANG TAHUN.

Ada banyak pilihan untuk merayakan ulang tahun. Dan entah kenapa Tuhan memilih memberikan saya hadiah berupa sebuah tantangan bernama audit dari lembaga regulasi. Awal mula mungkin saya bergumam kesal terhadap pilihan hadiah ini, sampai kemudian dalam perjalanan pulang dari kantor kemarin, saya menyadari makna hadiah ini.

Terima kasih kepada Pakbos di tempat yang lama, yang memberi saya kesempatan ikut turun ke gudang menemani auditor, hanya beberapa bulan sebelum saya cabut dari tempat lama. Itu sungguh sebuah pengalaman yang keren, yang lantas saya ekstrapolasikan menjadi beberapa kesimpulan, yang kebetulan kebanyakan benarnya.

Bahwa saya tampaknya mengambil porsi terlalu dalam hingga kemudian seorang auditor bertanya, “kamu ini bagian apa sih?”

Maaf soal itu.

Tapi, entah kenapa, mungkin karena memang faktor ulang tahun, saya seperti ‘di atas angin’ kemarin. Kesimpulan ‘memiliki sistem yang mampu telusur’ adalah jawaban dari sebuah tantangan seorang lead auditor, dan berhasil saya buktikan. Nggak rugi saya pegang sistem ini sejak awal mula berdarah-darahnya, sampai ikutan proyek migrasi sangkuriang sampai jam 11 malam dua hari berturut-turut. Yeah!

Jadi apa hadiahnya? Bukan itu semua.

Hadiah terbesar dari Tuhan adalah sebuah keberanian. Ia memberikan sebuah keberanian kepada saya untuk menyampaikan sesuatu yang menurut saya penting. Sebuah masukan yang sebelah sisi hati saya bilang itu nekat, tapi sebelah yang lain bilang itu harus diungkapkan. Sebuah pernyataan yang bisa jadi mempengaruhi nasib saya ke depan. I dont know. Hati ini pasti paham arah dan tujuan keinginannya.

Sebuah keberanian yang tidak bisa saya pahami sampai sekarang, tapi akhirnya saya maknai sebagai hadiah dari Tuhan. Dan syukurlah, keberanian itu diberikan pada saat yang (menurut saya) tepat.

Semoga memang demikian.

Happy Birthday to me. Doakan saya terus berjuang menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

🙂

2012: Yang Sudah Berlalu

Mengawali tahun 2012 dengan sebuah perjalanan jauh (Bukittinggi-Jogja, start jam 3 pagi), saya mengakhiri tahun yang sama juga dengan sebuah perjalanan (Cikarang-Jogja-Jakarta-and then-Bandung). Dua perjalanan itu mengapit rangkaian peristiwa yang saya lewati di 2012.

Banyak hal–tentu saja–yang terjadi di tahun yang katanya bakal kiamat itu. Ada pencapaian bagus, ada pula kegagalan yang berharga mahal. Yah, namanya juga hidup. Bukan begitu?

Di tahun 2012 ini saya putus dua kali. Penting? Nggak juga kali ya. 🙂

Di tahun 2012 ini saya semakin akrab dengan bis, alih-alih pesawat. Frekuensi saya naik pesawat jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi berbanding terbalik dengan frekuensi saya naik bis. Tanda ngirit? Maybe.

Di tahun 2012 ini juga saya akhirnya bisa ‘menyumbang’ tulisan di dua buah buku antologi cerpen. Setidaknya saya sudah pernah melihat buku yang di dalamnya ada tulisan saya, di toko buku.

Di tahun 2012 ini pula saya merasakan pelajaran besar bermakna tentang KEKECEWAAN terhadap sebuah KESUKSESAN. Sebuah refleksi atas pencapaian yang disikapi dengan sombong oleh seseorang. Dan, yah, sejak itu saya hidup tanpa passion, sama sekali.

Di tahun 2012 ini saya kembali ke panggung yang menakutkan, dan ‘cukup’ berhasil menaklukkannya. Ada di bagian lain blog ini tentang panggung itu. Sebuah trauma hampir 3 tahun bisa saya hilangkan. Saya juga berhasil meraih juara 1 (yang mana entah kapan saya terakhir kali menjadi juara 1) bersama tim happy puppet. Saya juga dengan senang hati ikut–lagi–lomba choir dan syukurlah berhasil.

Saya tidak banyak ketemu dengan orang-orang baru di tahun 2012 ini, selain anak kos baru. Hehe.. Saya lebih banyak duduk/tidur manis di kos dan menerawang di TL. What the fuck!

Saya juga merasakan makna GAGAL KETIKA KITA SUDAH BERUSAHA (dan keluar modal banyak). Fiuhh.. Syukurlah saya nggak menangis untuk itu. Tapi saya mulai merasakan indahnya mewujudkan mimpi (dan diberi wujud yang dilebihkan) via menjadi dirigen di lingkungan. Wong mimpi saya itu cuma ikutan koor lagi kok, malah dikasih lebihan. Hehe..

Hmmm, ya sudah.. Sudah lewat ini. Saya harus berubah, ada banyak ide di kepala, semoga bisa dituntaskan dengan aksi NYATA. Amin!

Selamat tahun baru.. 🙂

Kondangan

2012 ini tahun yang menyadarkan bahwa saya sebenarnya sudah ‘cukup’ umur, ditandai dengan terselenggaranya pernikahan 3 orang teman yang duluuuuu pas kuliah sekumpulan di UKF Dolanz-Dolanz.

Agak unik juga pernikahan 3 teman saya ini. Lebih unik lagi kalau dipadu padankan dengan perjalanan saya mencapai tiga tempat itu.

Boriz menikah 1 Januari 2012, Budi (alias Yoyo) menikah 30 Juni 2012, dan terakhir Sisil menikah 29 Desember 2012. Kalau dibuat pola, udah awal-tengah-akhir itu kan?
Soal tempat resepsi juga representatif. Boriz di UNY (Sleman–sepertinya), Budi di sebuah balai desa di Gunungkidul, dan Sisil di Madukismo (Bantul).
Lalu soal perjalanan saya mencapai ketiga kondangan ini, ehm, ada sedikit PENURUNAN. Hahaha.. Kalau Boriz dulu saya berangkat dari Padang, lalu dua kali naik Garuda, lalu naik Trans Jogja, lalu naik ojek, lalu nebeng Robert. Yah, poinnya di PESAWAT ya. Pas Yoyo, saya berangkat dari Cikarang naik bis ke Senen, lalu lanjut Senja Utama ke Jogja, lalu naik sepeda motor ke Ceria, lalu nebeng Boriz ke Gunungkidulnya. Poinnya sih KERETA API. Nah, yang kemarin, saya naik sepeda motor ke tol Cikarang Barat, lalu naik Lorena ke Jombor, terus naik BANG REVO ke lokasi. Poinnya sih naik BUS. Ehehehe, dari pesawat, KA, lalu bis. Penurunan perlahan sepertinya.

Yang eksis hadir, setahu saya nggak banyak. Setidaknya hanya Rian (Bunting), Chandy, dan Cawaz. Boriz mungkin bisa dihitung eksis, tapi kan kondangan pertama dia hadir sebagai yang dikondangi. Wkwkwk..

Begitu saja, sedikit posting nggak penting menutup tahun 2012 ini. Yuk lanjut! 😀

Choir

Yeah, what is choir?

Haha.. Nggak usah dijawab. Ya, sebagai contoh nih, lihat di page yang ada di blog ini bahwa saya pernah ikut lomba Christmas Choir Competition. Ada choir kan disitu? Anggap saja paduan suara.

Dua kali ikut lomba choir di dua pekan belakangan membuat saya sedikit ‘terbuka’ tentang profil choir yang ada–terutama di Jakarta.

Dipikir-pikir, uang yang berputar sebenarnya cukup besar. Kalau dulu di Jogja, setahu saya levelnya sekitar 600 ribu-an, di Jakarta bilangan sudah jutaan. Kualitas? Don’t ask. Saya bisa pastikan bagus, karena ya memang bagus.

Kapan ya, saya bisa ikut lagi choir yang ‘bener’?

Maksudnya, yang kualitasnya bagus, yang latihannya rutin, yang tugasnya rutin, dan yang MENAMBAH INCOME. *butuh duit mode on*

Iya, saya emang ‘ngelatih’ (mungkin lebih tepatnya milihin lagu sama jadi dirigen, i am not really sure that i am a choir coach) di lingkungan. Tapi, aih, boro-boro. Yang latihan 20, yang tugas 40. KEMANE AJE???

Kualitas apa sih yang diharapkan kalau begitu? Kualitas asal tahu lagu? Entahlah.

Saya lomba choir bareng CFX, alias Ex-CF. Lha tapi gimana latihan yang baik dan benar dan rutin dan lainnya kalau personelnya se-Jabodetabek. Sekali latihan (contoh di Gading Serpong), saya bisa habis 50 ribu ongkos doang, belum kalau kelaparan, belum lagi ada orang dekil masuk ke bis, makan silet, lalu minta duit. *dasar edan* Choir semacam ini sangat mengandalkan kualitas individu dan rekam jejak masa silam untuk saling mengenal. *tapi gitu-gitu juara satu lohhh…*

Kapan ya? Sesungguhnya, saya rindu suasana choir yang sebenarnya 😦

CFX: Perpaduan Kualitas dan Kehendak Tuhan

Entah dari mana saya harus mulai posting ini.

Suatu ketika Mas Mbong menulis di FB, menantang seluruh alumni CF untuk konser bersama berkedok reuni. *halah*
Lalu, dalam rangka nyari duit, pas ada lomba, pas lomba natal, dan segala pas-pas lainnya, akhirnya Oon bikin invitasi, siapa yang hendak turut.

Sampai disini, saya hanya sebagai pemirsa.

Kemudian datang lagi invitasi lanjutan, dan melihat list yang mau ikut, saya tertampar sendiri. Kalau si Nana (Bekasi) dan si Sammy (Bogor), serta Mas Alex (Depok) mau ikut, masak saya nggak?

Ya  sudah, akhirnya ikut.

Tentu ada pengorbanan waktu beberapa orang untuk mengurusi administrasi lomba. Juga pengorbanan tenaga untuk mempersiapkan teks yang ternyata harus dikonversi dari not balok. Saya, lagi-lagi, menjadi pemirsa saja. Dan terima beres.

Dalam hati terus berpikir. Bagaimana ceritanya, orang-orang yang ada di JAkarta, BOgor, DEpok, TAngerang, dan BEKasi ini bersatu dan latihan macam dulu? Kalau dulu semudah mengumpulkan di Mrican dan Paingan. Sekarang?

Sekadar melatih lagu pertama (The Twelve Days of Christmas) saja rasanya sudah setengah mati. Lagu dengan modulasi berkali-kali itu susah, apalagi birama 120. Sampai suatu hari kita membanting teks itu dan berteriak, “Mas Mbongggg..”

Itu di latihan pertama di Taman Suropati. Jangan ditanya juga bagaimana ceritanya mengumpulkan orang-orang di Taman Suropati itu. Satu hal, tidak lengkap.

Latihan kedua, di tempat yang sama, saya nggak hadir gegara hujan dan macetnya ibukota. Juga latihan di Gading Serpong, nggak hadir juga.

Saya baru nongol lagi ketika latihan di Gereja di belakang Sarinah. Dari siang sampai sore. Ini juga tidak lengkap. Malah ada yang baru pertama kali latihan, ya disini ini. Hehe.. Dan syukurlah, disini juga birama 120 itu pertama kali dinyanyikan dengan benar.

Latihan terakhir, di sebuah sekolah internasional di Gading Serpong. Ini latihan yang HAMPIR lengkap alias ya nggak lengkap juga. Sudah mulai benar nyanyi dan geraknya. Ehm, saya dari Gading Serpong jam 4, sampai Cikarang jam 7. Suwi men rek.

Dan itu adalah latihan terakhir, saudara-saudari!

Saya nggak berasa hendak ikut lomba. Ikut latihan cuma 3 kali, sangat tidak terbandingkan dengan yang saya alami lima tahun silam di Jogja.

Sampailah hari H, 8 Desember 2012, di sebuah kampus di Semanggi. Nomor undian 6. Orang-orang dari Jabodetabek yang nggak pernah komplit latihan itu akhirnya berkumpul komplit.

Jadi, paduan suara ini baru berkumpul semuanya lengkap, ya pas hari H.

Masuk ke Ruang Siaga 2, hanya 1 lagu yang bisa terlatihkan, ya lagu pokok. Dan si solo tenor (Jati) sempat luput. Sampai kemudian mukanya berubah tegang begitu. Hehehe.. Mana birama 120 itu ternyata buyar.

Sampailah saat terakhir, Siaga 1 (backstage). Rasanya aneh, hendak ikut lomba lagi. Sejujurnya lomba itu jauh lebih ganas daripada sekadar show peresmian pabrik. Show peresmian pabrik, sejelek apapun kita pasti ditepukin. Kalau lomba? Nilai jelek. Hal yang sangat berbeda.

Langkah pun dilakukan di atas panggung. Tidak banyak penonton, ada sedikit rasa syukur disana. Hehe.. Setidaknya mengurangi grogi. Habis foto-foto mulailah, orang-orang yang baru sekali ini tampil bersama komplit itu beraksi. Ya, pertama kali tampil komplit, ya pas di panggung. Entah buat yang lain, tapi buat saya itu gila.

Dan, kehendak Tuhan terasa benar. Ya, solis-solis tampil mulus, bahkan birama 120 yang mengenaskan itu akhirnya bisa terlewati dengan baik. Baik sekali malah. Asli mulus.

Dan penampilan ini sudah cukup membuat lepas di 2 show berikutnya. Yah, Sigulempong sama Jingle Bells Rock dilibas abis dengan gokil. Sampai-sampai di komentar juri tertulis “Great Showmanship“. Hehehe.. Bangga juga..

Dan nyatanya kemudian adalah paduan suara ini masuk final. Bersama 7 paduan suara lain yang (beberapa) dari nama sudah mengisyaratkan 1 tempat (lokasi) dan pasti nggak ada ceritanya baru sekali-kalinya komplit yang pas di panggung.

Apakah ini disebut well prepared?

Mungkin tidak.

Tapi kenapa bisa lolos?

Buat saya ini perpaduan dua hal, yakni kualitas dan kehendak Tuhan. Kualitas individu mungkin memang sudah cukup, secara mayoritas dulu digembleng di kawah candradimuka CF, belum lagi mengembangkan diri di choir lainnya. Lalu kehendak Tuhan?

Tentu saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas perjuangan orang-orang ini untuk bisa berkumpul, dengan jarak yang jauh-jauh untuk niat mulia menambah dana konser reuni tahun depan. Ya, Tuhan memang LUAR BIASA!

Mau tahu yang lebih luar biasa?

Dengan formasi yang lebih sedikit, tim yang sama akhirnya bisa JUARA 1! Saya nggak ikut final karena harus opening meeting. Andai saja meeting ini bisa ditunda (apa dibatalkan sekalian). Fiuhh.. Tapi rasa ikut senangnya, LUAR BIASA!

Buat saya, ini bukan sekadar kemenangan. Nilainya lebih kepada pertemuan kembali (dengan luar biasa–karena faktor jarak) dan berkumpul kembali di panggung, setelah sekian lama.

Awesome..

Menjelang Lomba

Bahwa saya mungkin nekat ketika mengiyakan ajakan kawan2 lama saya di CF untuk ikut lomba Choir. Ya, nekat.

Pertama, karena kebanyakan mereka berbasis di Tangerang dan sebagian lain Jakarta. Tapi begitu ada 1 orang Bekasi dan 1 orang Bogor ikutan, saya lalu berbisik, “Mosok sih aku nggak ikut?”

Kedua, dengan personel yang ting jlentreng di Jabodetabek, tentu intensitas latihannya nggak sering, dan harus pula berkualitas. Well, soal kualitas, tentu saya percaya kualitas teman-teman saya yang digembleng dengan batako di CF dulu. Hahaha..

Pada akhirnya saya setujui, dan saya sukses bolos beberapa latihan. Saya ikut 1 kali latihan di Taman Suropati, 1 kali di Gereja Theresia (Sarinah), dan 1 kali di Sekolah Stella Maris Gading Serpong. See? Hanya 3 kali! Kalau mau membandingkan dengan yang saya alami ketika ikut KPS Unpar IV tentu jauhhhh banget. Tapi, ya begitulah adanya.

Itu saja, saya sudah gila-gilaan. Ya, perjalanannya nggak semudah itu. Cikarang ke tempat-tempat itu bukan pula mudah. Ada cerita saya nunggu K67 di Blok M sampai 1,5 jam. Ada kisah saya menyaksikan hujan di dalam Agra Mas untuk perjalan Tangerang-Cikarang. Ada pula cerita dikasih tarif ojek yang alamakjang.

Dan lusa lombanya.

Dan pas pula, sudah 2 hari ini saya cumleng nggak karuan. Asli, langsung teringat kejadian lima tahun yang lalu.

2007.

Saya masih jadi panitia Titrasi dan sukses jatuh sakit di Sinolewah. Lalu? Ya, saya tetap berangkat menuju Bandung untuk lomba. Waktunya pas banget. Jadi pas lomba saya hanya perlu OBH untuk ekspektoran (sisa-sisa batuk).

Lha ini?

Entahlah. Memang sedang musimnya, karena seminggu ini saya sudah hujan-hujanan beberapa kali. Nanti juga sembuh.

Sebagai apoteker, saya sudah mendapat banyak pelajaran tentang sakit. Satu hal, sakit selalu ada penyebabnya. Sakit juga selalu memberikan dampak pada tubuh manusia. Dan tidak semua sakit bisa disembuhkan. Sakit bagi saya adalah keadaan tidak setimbang yang terjadi pada tubuh.

Misal, ketika sekarang, common cold menyerang saya. Ya ini karena si virus itu masih hidup. Nanti juga mati (kan self limiting). Sakit menjadi terasa benar karena kemudian saya HARUS kerja dan saya menjelang lomba.

Ya, semoga saya bisa. Ini lomba pertama sejak terakhir kali Desember 2007, alias sudah 5 tahun berlalu. Ini juga pertama tampil (lagi) sejak Maret 2011. Nyaris 2 tahun silam.

Sesungguhnya saya rindu menjadi berkualitas.
Semoga bisa 🙂

“Aku Ingin Keterima Farmasi USD”

Salah satu keseharian saya dengan si lappy adalah mengecek dashboard blog ini. Lalu melihat berapa kali blog ini dilihat dalam sehari, posting mana saja yang dilihat, dan sesekali melihat search engine terms yang digunakan orang di Google, Yahoo, Bing, atau apapun hingga kemudian masuk atau (mungkin) kesasar ke blog saya ini.

Dan hari ini saya melihat sebuah search engine terms yang unik.

Beneran nih?
Beneran nih?

Ya, sebuah search engine terms berbunyi “aku pengen ketrima farmasi usd”.

Sebegitu dahsyatnyakah almamater saya itu sehingga kemudian sampai ada orang yang memasukkan terminologi itu ke search engine?

Waktu saya masuk kuliah tahun 2004, saya mungkin kurang kontemplasi. Saya hanya merasa agak terjebak oleh nama dan kemudian atas dasar nama itu, saya lalu memilih fakultas yang termahal karena biasanya termahal itu terbaik. Ya, so simple. Dan pada akhirnya saya masuk, berkuliah di tempat yang kemudian ditulis di search engine itu.

2004 itu 8 tahun yang lalu. Dan selama 8 tahun tentu banyak yang berubah dan berkembang. Kebetulan, saya ikut serta di beberapa kesempatan pertumbuhkembangan almamater saya itu. Mulai dari akreditasi (2005) ketika saya diwawancara asesor dengan pertanyaan pertama “kenapa kamu suka Inter Milan?” dan percakapan kedua “kemarin abis menang lho lawan Roma (bukan Irama)”. Lalu juga ikutan beberapa rapat-rapat persiapan program hibah. Dan ikut juga dalam assessment hibah. Ya meskipun saya lulus dengan IP yang teramat sangat pas-pasan *hiks* tapi saya menikmatinya.

Dan tentunya ikut bangga, sampai segitunya ada yang desperate menulis search engine terms seperti judul tulisan ini. Hehehe..

Ya sudah, begitu saja kok. 🙂

Opname: Sebuah Cerita

Hari itu hari KAMIS, saya dengan pede datang ke meja bos hendak minta cuti karena orang tua saya akan datang ke Jogja guna mengantar adik saya masuk SMA. Sebuah momen langka, kumpul keluarga, harus bisa dikejar. Maka saya lantas mengajukan cuti.

Di saat yang sama, load di kantor memang lagi tinggi. Sangat tinggi malah. Bukan load nya yang terutama, tapi sebuah tuntutan karena adanya perubahan menjadikan bos menganggap sebaiknya saya tetap di kantor.

Dan perpaduan dua paragraf di atas menghasilkan kesimpulan: saya nggak boleh cuti.

Saya lalu galau. Tapi hidup kan terus berjalan. Masalahnya, saya itu melankolis yang hobi galau. *halah*

Maka kemudian saya tetap ikut melihat anak kedua Pak Fiks yang baru lahir. Nggak ada masalah sesudah itu. Saya yang kelaparan juga lantas mengorder mie tek-tek yang kebetulan lewat di depan mess. Lagipula pikiran saya sudah di pertandingan sepakbola melawan Stripping, dimana dua pekan sebelumnya saya–untuk pertama kalinya–ada di bawah mistar dengan hasil clean sheet.

Tapi, ya itu, keluarga buat saya penting. Meski saya berusaha tenang, nyatanya itu masuk dalam pikiran. Dan entah dipadukan dengan mie tek-tek atau tidak, maka terjadilah rangkaian peristiwa absurd di JUMAT pagi.

Saya bangun. Semuanya beputar.

PUSING. PUSING sekali.

Saya lalu mencoba fokus pada 1 titik, dan gagal. Saya lalu memejamkan mata, dan semuanya masih terasa bergoyang. Semua berputar dan saya mulai tidak kuat. Saya mencoba seperti biasa, keluar, nonton tivi, mandi. Teman saya kebetulan lagi di mess, keluar kamar dan menyapa saya.

Saya diam, bukan sombong ya, tapi karena saya berusaha fokus pada televisi yang saya tonton. Dan percaya atau tidak, televisi itu lagi tampak berputar. Matek dah!

Dan akhirnya tubuh saya nggak kuat, sesuatu mendesak dari dalam perut, dan saya… muntah.

Om Markus yang melihat saya begitu akhirnya membawa informasi saya ke orang GA, dan tidak lama kemudian mobil GA sudah datang dan saya diantar ke Rumah Sakit Charitas. Believe or not, tidak ada GA yang seperhatian itu pada staf yang sedang sakit. Setahu saya, dibandingkan kantor-kantor lainnya.

Saya menahan muntah dalam perjalanan dan berhasil. Saya lalu akhirnya masuk ke UGD RS Charitas Palembang sebagai pasien, setelah sebelumnya hanya menemani teman yang bergantian menjadi pasien. Seorang dokter jaga menyuntikkan sesuatu yang saya duga sebagai anti-vomit karena rasa mual mau muntah saya hilang dengan segera.

Tapi, dunia ini masih berputar.

Sebuah keputusan dibuat, OPNAME. Dan saya akan opname, ditinggal seorang diri di UGD RS Charitas. MANTAPPP!!!

Saya akhirnya antri, dengan pemandangan yang nggak oke. Seorang bapak yang DM (terlihat dari kakinya) sedang menggigil, persis di ranjang sebelah saya. Ini saya sakit tapi saya yang kasihan loh. *apa coba*

Hingga kemudian, bos saya dan tim datang. Persis jam makan siang saya akhirnya mendapat kamar. Sebuah penantian yang tidak panjang. Untung saya sudah karyawan tetap sehingga punya kartu asuransi. Tapi yang level saya penuh, maka saya di-up dulu 1 sebelum menanti yang level saya kosong.

Saya cuma modal pakaian di badan dan sebuah HP kala itu. Dan masuk ruangan ya begitu. Dan seumur-umur, inilah opname pertama kali yang saya dapat ingat. Iya, dulu saya pernah opname, tapi jaman bayi. Mengingat saya adalah bayi labil dengan penyakit step. Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkan nyawa saya dulu itu.

Ketika terbangun, seorang adik kelas dan seorang kakaknya teman, kebetulan karyawan sana, sudah nangkring di dekat ranjang saya. Huffttt.. Kok bisa-bisanya tahu ya? Hahaha..

Tak lama, Mas Sigit dan Jack datang membawa perbekalan saya. Entah bagaimana mereka bisa menemukan semuanya itu di kamar saya yang jelas-jelas berantakan. Tapi setidaknya saya punya cawet untuk beberapa hari ke depan.

Sore harinya, mengingat itu hari Jumat, harinya anak mess menggila malam hari, datanglah anak-anak mess, bergantian. Waktu itu Om Markus datang sama, ehm, ada deh.. hahahaha..

Akhirnya saya menghabiskan malam sendirian di kamar Elisabeth (kalau nggak salah) 14 itu. Ya, sendirian. Tidak ada yang perlu menunggui saya karena toh saya sadar, cuma PUSING.

Dan satu hal penting, saya memang tidak memberi tahu orang tua saya karena belum lama adik saya sakit DBD dan dengan secepat kilat Mamak saya sudah ada di Jogja. Saya nggak mau aja, tiba-tiba Mamak nongol di Palembang dan saya bikin repot orang tua yang punya tanggungan pekerjaan disana. Kalau adik saya mungkin perlu karena urusannya duit opname. Kalau saya toh saya ada asuransi dan duit gaji. Jadi masih bisa. Lagipula, si Boni bisa opname dengan sukses tanpa ditunggui, masak saya nggak?

Dan lima hari saya ada disana, dengan kunjungan silih berganti dari teman-teman. Serta kebaikan hati sesama sebatang kara di Palembang. Really thanks a lot for  Mas Sigit, Jack, dan Boni. Tentunya juga really thanks to Pak Bos yang bahkan datang membawakan sate kambing. *opo ora edan ki?*

Saya pulang dengan mengurus administrasi sendiri, ya benar-benar sendiri. Saya hanya minta tolong Jack menjemput karena saya takut pusing kalau naik angkot. Saya naik sendiri ke ruang pembayaran dengan sekali tersandung di tangga terakhir. Maklum, masih pusing.

Sampai di mess, saya menulis cerita di FB Notes. Waktu itu blog ini belum bangkit. Dan sejurus kemudian, saya bilang ke Mamak kalau saya baru saja pulang opname. Hehehe..

Yah, demikianlah. Secuil cerita kehidupan saya di salah satu kota rantau. Selalu ada cerita dalam kehidupan rantau. Dan percaya atau tidak, entah ada hubungannya atau tidak, cuti saya di-approved.

Jadi sebenarnya saya pusing itu karena mie tektek, karena nggak boleh cuti, atau karena kerjaan yang berat? Bahkan sampai sekarang saya bingung. Dan mengingat itu kali kedua dalam hidup saya seperti itu, maka resmilah saya menjadi penderita VERTIGO.

Astaga!

Kontraktor

Sesungguhnya saya punya masa kecil yang maha asyik. Kenapa? Karena saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah, sejak lahir hingga kelas 3 SD. Ah, cuma 8 tahun kan ya? Well, 8 tahun mungkin sebuah rentang waktu yang singkat, dan saya bersyukur itu bisa berhenti di angka 8. Tapi dalam 8 tahun tumbuh kembang saya, kemudian muncul berbagai cerita.

Kenapa saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah? Ya, semata-mata karena orang tua saya memilih untuk mengontrak rumah sebagai pemenuhan kebutuhan primer keluarga. Sesederhana itu kok.

Nah, kemarin waktu mudik sejenak, saya mencoba menapaktilasi beberapa kenangan yang saya punya dalam rentang waktu hidup 8 tahun itu.

Rumah pertama keluarga kami ada di Inkorba, saya pernah sekali ditunjukkan rumah itu tapi tidak bisa mengingat letak rumah itu sebenarnya karena ya memang saya terlalu kecil untuk ingat. Jadilah saya tidak pergi ke rumah itu, karena memang tidak tahu.

Rumah kedua yang dikontrak oleh orang tua saya terletak di dekat kantor walikota Bukittinggi. Saya aslinya ya nggak ingat, tapi ketika Bapak bilang bahwa rumah di Belakang Balok ini nggak jauh dari kantor walikota, saya pun segera ke tempat itu, dan ada lah sedikit memori yang masih nyangkut. Setahu saya, periode tinggal disini sekitar 1988-1989. Well, umur yang belum bisa mengingat apapun. Hehehe.. Dan karena itu saya juga nggak tahu pasti rumahnya yang mana, saya coba ambil foto salah satu rumah saja, karena lainnya mirip kok.

image
dokumentasi pribadi

Kemudian keluarga kami pindah ke sebuah rumah di jalan Guru Hamzah. Fotonya ada di bawah ya nanti. Rumah ini terdiri atas 2 bagian, depan dan belakang. Pada sesi 1, sekitar 1990-an, kami tinggal di rumah bagian depan (lihat fotonya di bawah nanti). Tidak cukup lama juga sih.

Rumah berikutnya tidak jauh dari rumah lama, letaknya tak jauh dari Simpang Tarok. Di rumah ini saya mulai merekam berbagai memori. Bagian terburuk dari semuanya adalah, dari sederet rumah yang ada, hanya ada 1 tempat buang air besar. Sungguh saya harus bilang WOW kalau sekarang, tapi kalau dulu ya biasa aja. Tempatnya bahkan teramat mungil hingga berdiri pun tidak bisa. Di rumah ini pula keluarga kami berbagi sumur dengan tetangga. Pernah pula ada kasus pintu tidak bisa dibuka, dan yang terjadi kemudian adik saya masuk ke rumah melalui sumur tetangga. HEBAT! Oya, di rumah ini pula saya terserang vertigo untuk pertama kalinya 😦

image
dokumentasi pribadi

Nah, rumah di bawah ini adalah rumah yang dikontrak (berikutnya). Kalau dulu di bagian depan, ya yang ada seng hijau itu. Itu rumah depan. Pada sesi dua disini keluarga kami mengontrak di bagian belakang dengan kondisi yang *ehm* mungkin bisa dibilang parah. Hal yang paling saya ingat adalah ketika malam hari, mati lampu, dan ember berserak dimana-mana karena atap pada bocor.

image
dokumentasi pribadi

Rumah kontrakan terakhir keluarga kami ada di Kompleks Kehutanan Bukittinggi. Saya berputar-putar dulu sebelum akhirnya sampai ke tempat ini kemarin. Tentunya karena kondisinya sudah sama sekali lain. Jalan masuk kompleks yang dulu luas semakin menyempit oleh pembangunan pasar. Nggak ada lagi akses langsung ke ‘tabek’ tempat warungnya nenek si Sari. Setahu saya, kami tinggal disini sekitar 1994 karena ingat bener bahwa mulai nonton Piala Dunia disini, dan saya menyaksikan Roberto Baggio menendang ke atas gawang (gagal masuk). Itu kan final Piala Dunia 1994?

Rumah ini mungkin paling ironis, atau mungkin menjadi ironis karena usia saya sudah semakin besar untuk bisa mengingat sesuatu. Ya, di rumah ini saya kenalan sama lipan karena seringnya hewan ini masuk rumah. Di rumah ini juga saya kembali bertemu dengan kondisi WC bersama untuk buang air besar. Bahkan sering kejadian WC bersama itu mampet. Dan, terjadilah, harus cari akses lain untuk sekadar buang air besar. Hufftttt… Di rumah ini juga saya punya 1 ruangan yang saya takuti, letaknya antara kamar dan dapur, dan digunakan untuk meletakkan rak sepatu. Entah kenapa, saya ngeri setiap kali memasuki ruangan itu.

Tapi, di kompleks inilah saya menemukan makna berteman. Satu-satunya pergaulan publik yang terjadi selama tinggal di rumah, ya di kompleks ini. Saya ingat dulu tetangga depan rumah punya warung, saya suka beli godok atau permen yang bungkusnya mirip rokok.. Hehe.. Tapi yang paling diingat tentu saja tetangga sebelah rumah, namanya Ade, yang cantik jelita pada usia itu. Hahahahaha..

Saya sempat pangling dengan suasana rumah sebelum kemudian saya melihat ke bagian belakang rumah. Dan benar, saya ingat benar, pernah tinggal di tempat ini setelah melihat bentuk di bawah ini.

image
dokumentasi pribadi

Tahun 1995, keluarga kami pindah ke sebuah rumah kecil, yang syukurlah, milik sendiri. Cicilannya belasan tahun, dan sepertinya sih belum 2-3 tahun ini lunasnya. Hehe..

Saya mencoba menapaktilasi semuanya, karena ini adalah milestones diri saya dan keluarga. Saya berada dalam posisi membangun semuanya, seperti yang dialami oleh orang tua saya dulu. Saya ingat bagian-bagian perjuangan orang tua saya mempertahankan kehidupan anak-anaknya, dengan gaji yang (waktu itu) nggak seberapa.

Well, ketika kemudian orang-orang selalu menuntut gaji jauh lebih besar, saya lantas teringat proses saya bisa menjadi sarjana, lalu apoteker, lalu seperti sekarang ini. Semuanya proses yang tidak mudah, tapi nyatanya bisa. Lalu saya bertanya, apakah kita harus selalu menuntut tanpa kemudian memilih berusaha terlebih dahulu?

Kontraktor adalah kisah masa kecil saya, dan saya ingat ketika adik saya pernah bilang, “Mak, ini terakhir kali kita pindah kan?”

Ah! Sebuah masa lalu memang untuk DIKENANG, bukan untuk DIULANG.

🙂

Teman

Apa yang harus disyukuri dalam hidup? Pasti banyak, bahkan bisa hidup itu harus disyukuri dalam setiap tarikan nafas. Tapi terkait kemajuan zaman, saya bersyukur berada pada masa yang tepat.

Yah, saya baru punya FB dan HP yang bisa internet 3G (bukan 3gp) pada Desember 2008. Pada saat itu di FB baru ada bule-bule gila. Kalimat itu milik Lussy Dugonk yang waktu itu jadi 1 dari sedikit teman FB saya. Pada Desember 2008 saya memasuki masa-masa akhir studi.

Kenapa tepat?

Karena saya nggak kebayang kalau saya dalam masa studi dan saya sudah punya ponsel pintar plus akses linimasa. IP saya di kuliah yang sudah jongkok akan semakin jongkok, bisa tiarap malah.

Berikutnya, ya, memang saya termasuk kurang mengikuti zaman. Kalau yang lain sudah ber-BB ria, saya malah nggak. Saya setia pada sebuah benda yang saya beli di IP Palembang seharga 1,4 juta bernama LG GW300. Benda itu saya pakai terus sampai kemudian godaan muncul.

Era Android sudah masuk, dan saya termasuk ketinggalan. Nah, teman-teman saya mulai menggunakan aplikasi Whatsapp. Interaksi saya dengan teman-teman memang tidak banyak. Kenapa? Ya karena saya memilih untuk kerja di Palembang, jauh dari teman-teman di Pulau Jawa. Pada awal-awal kerja, sekitar Juli 2009, sempat ada sebuah forum bernama ‘Ngalor Ngidul’ yang isinya email-email kantor berbagai perusahaan farmasi di Indonesia dan isinya ngomongin nggak jelas *halah*

Forum itu perlahan punah seiring pindahnya beberapa orang sehingga mengurangi member forum.

Lalu beralih ke FB, ada sebuah pesan FB isi banyak bernama ‘Jangan Sampai Putus Kontak’, sempat ramai, lalu musnah lagi.

Ketika saya mendengar ada Grup Whatsapp antar teman-teman yang nggak jelas ini, saya mulai goyah. Memang sih, keypad si GW300 sudah memintanya untuk diganti. Akhirnya dengan uang arisan (yang untungnya masih selamat) saya membeli sebuah HP Android, paling murah.

Akhirnya saya join grup Whatsapp. Hore juga. Memang timbul tenggelam, kadang ada, kadang nggak. Wajar, orang kan punya kesibukan masing-masing.

Pas lagi di mobilnya Boriz, saat berhenti menunggu Robert di perbatasan kota Wonosari, dibuatkan sebuah grup Whatsapp bernama UKF DLN2. Dari mana aja udah kelihatan kalau yang buat malas, namanya aja ngasal. 🙂

Tapi kemudian di grup itulah, saya bisa tertawa ngekek sendirian di kamar, atau bahkan di kantor. Hanya sebatas kata-kata yang tertulis, tapi kemudian mampu menyunggingkan senyum hingga membuat tawa terbahak-bahak. Asli ngekek.

Yah, ada yang di Pangkalpinang, ada yang di Pontianak, dan berbagai tempat lainnya, tapi bisa bersatu bercanda bersama di sebuah layanan yang disediakan Whatsapp. Ini hiburan ketika hidup mlai semakin pelik. Membaca sebaris dua baris kalimat di grup itu setidaknya mampu membuat ngekek. Yah, hinaan itu paralel dengan tawa dan canda plus paralel dengan kebersamaan. Jadi satu, tidak terpisahkan. Mungkin inilah yang namanya teman.

Bukan begitu? 🙂