Category Archives: Cerita Yang Pendek

Sedikit mencoba menulis fiksi..

Cerita Lama

pablo (1)

“Hai! Udah gede anaknya?”

“Iya nih. Masak kecil terus?”

“Hahaha, iya juga ya.”

Aha! Aku melihatmu, dengan anakmu. Ya, kamu, yang bertahun silam adalah cerita lamaku.

* * *

“Hey kamu, yang gemetar waktu mau jatuh. Siapa namanya?” tanyaku pada seorang gadis yang barusan kutangkap, persis di bagian pantatnya. Siapapun tahu, ketika jatuh dalam keadaan terlentang, sejatinya titik tumpu beban itu ya ada di pantat. So, bayangkan beban yang harus kutanggung dari permainan “Trust Me” ini.

“Ngece ya.”

“Haha, nggak kok. Alan. Kamu?”

“Nanda.”

“Oh, dari SMA mana?”

Dan percakapan berjalan selayaknya dua mahasiswa baru pertama kali berkenalan.

* * *

Nandani, Call.

Bukan mau telepon beneran, ini hanya missed call. Pulsa mahasiswa tidaklah cukup untuk telepon, apalagi beda provider.

Aku sudah bilang ke Nanda kalau akan membuat missed call jika aku sudah sampai di depan rumahnya. Setidaknya itu penanda, dan aku tidak harus mengetuk pintu rumahnya. Menurut pengalamanku sebelumnya, mengetuk pintu rumahnya adalah salah satu dari 10 hal sia-sia di dunia selain menegakkan benang basah.

Pintu di lantai dua itu kemudian terbuka.

“Udah lama?”

“Ya kira-kira dari dua abad yang lalu.”

“Ngaco kamu. Ya udah, tungguin.”

Tak lama, Nanda yang barusan keramas itu membuka pintu. Pakaiannya simpel, pakaian rumah. Ia menyambutku seperti biasa. Dan, seperti biasa juga, kami mengobrol banyak di teras lantai 2 rumahnya.

* * *

“Hey, Lan!”

“Apa?”

“Nanda bukan pacarmu po?”

“Bukan, emang kenapa?”

“Pantes, kemarin aku liat dia gandengan sama Doni.”

“Iya, dia pacaran sama Doni kali.”

“Lha itu kamu suka main ke rumahnya.”

“Emang teman nggak boleh main ke rumah temannya? Ada-ada aja ah kamu ini.”

“Oh, okelah kalau begitu,” kata Jane, mengakhiri pembicaraan.

Jane pergi, dan jantungku mendadak sesak. Nanda pacaran dengan Doni?

* * *

Yah, kukatakan dengan indah, dengan terluka, hatiku hampa. Sepertinya luka menghampirinya.

Segala yang terjadi antara aku dan Nanda tampaknya kuanggap berbeda. Ada beda bermakna antara pikiran Nanda dan pikiranku sendiri.

“Kau beri rasa, yang berbeda. Mungkin ku salah mengartikannya, yang kurasa cinta!” gumamku perih sambil melajukan sepeda motorku melewati rumah Nanda, untuk ke delapan kalinya dalam waktu 30 menit. Aku memang hanya mondar-mandir disana dari tadi.

“Tetapi hatiku, selalu meninggikanmu. Terlalu meninggikanmu,” desahku lagi. Ah, kenapa pula aku jadi begini.

Kuhentikan sepeda motorku persis di depan rumah Nanda. Ia sepertinya nggak ada, lantai 2 itu sepi. Berkali-kali kesini, aku paham penanda Nanda ada di rumah atau tidak.

Tapi mendadak perasaanku nggak enak. Maka kulajukan sepeda motorku perlahan.

“Kau hancurkan hatiku,” gerutuku pelan sekali.

Sebuah mobil kemudian masuk dan parkir di depan rumah Nanda. Yak benar, Nanda keluar digandeng oleh seorang lelaki, mungkin ini yang bernama Doni.

“Kau hancurkan lagi. Kau hancurkan hatimu tuk melihatmu.”

* * *

“Lan, mau makan apa? Sini tak masakin.”

“Baek bener kamu, Nda. Uda nggak usah repot.”

“Apa sih yang nggak buat kamu, Lan? Hahaha.”

“Cewek kok gombal.”

* * *

“Kau terangi jiwaku, redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu.”

Semuanya pedih, semuanya luka, tapi semuanya kukatakan dengan indah.

Aku melanjutkan perjalananku, pulang. Mungkin ini hanya serpihan jalan bagi hatiku untuk melihat sebuah luka dengan indah.

* * *

#cerpenpeterpan
Kukatakan Dengan Indah
@ariesadhar

-*-

123 Bulan

Bis tampan warna hitam itu akhirnya sampai di Terminal Mangkang.

“Mangkang… Mangkang…”

Marlon menggeliat sejenak dari tidurnya dan sedetik kemudian sadar bahwa ia sudah sampai tujuan. Secepat kilat ia bangkit dari bangkunya dan bergegas turun dari pintu tengah.

Pagi sudah mewarnai Semarang. Tentunya panas. Ah, ternyata dimana-mana sama. Panasnya Semarang sama saja dengan kawasan industri yang hobi demo di sebelah sana, pikir Marlon. Mungkin Marlon lupa, di kota ini juga banyak kawasan industri. Jadi ya pantas kalau sama saja.

Ia melangkahkan kaki ke sisi terminal yang berisi bis-bis ke kota Semarang. Telepon genggamnya yang smart sudah tidak lagi smart karena kehabisan baterai. Jadi, ia menggunakan ponsel jadulnya, memencet beberapa angka yang tampaknya sudah dihafal.

“Halo..” Suara imut dari seorang anak kecil terdengar dari ujung sana.

* * *

“Mas, kita temenan udah lama lho. Nggak sayang tuh?” tanya Aira.

“Memangnya kenapa?” Marlon bertanya balik.

“Ya, simpel lah. Kita temenan udah lama banget. Malah yang keluarga kita udah kenal juga. Kamu kenal orang tuaku. Aku juga begitu. Dan itu kan sebagai teman, Mas. Dan kamu nggak sayang kalau itu semua hilang?”

“Itu malah salah satu bahan pemikiranku, makanya aku begini, Ai.”

“Mas, teman itu hubungan yang lebih abadi dari apapun. See? Kamu gundah sama yang dulu, cerita ke aku. Aku galau sepanjang waktu karena yang dulu juga, cerita ke kamu. Nggak ada yang lebih berharga dari itu lho Mas.”

“Hmmm, jadi sebenarnya?”

“Yah, kamu itu ya temanku, Mas. Mungkin malah lebih kayak Masku sendiri. Kamu tahu-lah kalau aku nggak punya sosok Mas yang bisa melindungiku. Dan aku dapat itu dari kamu.”

“Haha, tapi kalau adik cewek, aku udah punya, Ai.”

“Iya sih. Ya begitulah intinya.”

“Apa?”

“Ya, kamu itu Masku. Dan nggak mungkin buatku menerima kamu jadi pacarku, Mas. Biar berjalan seperti biasa aja yah.”

“Yah, kamu memang cewek berprinsip. Appreciate.”

“Nah itu kamu kan tahu prinsipku kayak apa. Masih nekat.”

“Siapa tahu, manusia berubah, Ai.”

“Kayaknya nggak sih. Hehehe.”

“Ya sudah. Aku hargai itu. Oya, selamat ulang tahun ya,” ujar Marlon sambil menyerahkan sebungkus kado.

Sebuah obrolan ringan di teras KFC Banyumanik, pada sebuah bulan muda, ketika senja menjelang.

* * *

“Ai, nggak nonton konser?” tanya Marlon ketika berpapasan dengan Ai di teras laboratorium Steril.

“Nggak dapat tiket, Mas.”

“Oh. Kehabisan ya?”

“Iyo.”

Aira berlalu, Marlon juga. Namanya aja berpapasan, jadi ya ngepas ketemu dengan kepentingan masing-masing. Marlon bergegas berjalan menuju tempat gladi bersih konser paduan suaranya, di hall kampus. Aira tampaknya hendak menuju lab lantai 4.

Sebuah pertemuan kadang hanya sekejap mata, di bulan belasan, masih menjelang senja.

* * *

“Wuih, yang mau jadi eksmud. Congkak nian,” kata Aira sambil menepuk pundak Marlon, yang sedang membaca pengumuman di kampus.

“Wuih yang udah jadian, nggak bilang-bilang. Hayo, congkak mana?”

“Heh? Siapa bilang?”

“Gitu ya sekarang, jadian nggak bilang-bilang. Giliran galau aja bilang-bilang aku, kalau seneng nggak. Nggak CS ah..”

“Ehm, nggak gitu kali Mas.”

“Terus gimana hayooo.”

“Yah, nantilah diceritakan. Kapan berangkat ke ladang mencari segenggam berlian?”

“Tanggal 4 pagi, Ai. Doakan saya ya. Hahaha.”

“Siap bos!”

Aira berlalu menuju kelas kuliahnya, Marlon menatap gadis itu dari belakang dengan pilu. Tampak sebongkah pilu dan sekarung sesal di mukanya. Sebuah pertemuan terakhir di bulan muda.

* * *

“Hey, kamu farmasi kan?”

“Iya, Mas. Kenapa?”

“Lha ya sama. Kayaknya pernah liat waktu inisiasi. Marlon. Kamu?”

“Aira.”

“Enjoy ya. Nggak banyak anak farmasi yang bisa eksis disini. Tuh, aku aja mencoba eksis dengan itu,” ujar Marlon sambil menunjuk setumpuk laporan di mejanya.

“Bakal gitu Mas?”

“Ya, biar bisa sama-sama eksis. Kalau nggak gini, kapan lagi ngerjain laporannya. Hahaha.”

“Oh gitu. Okelah Mas.”

Sebuah percakapan kala malam turun sempurna, di bulan menjelang tua. Ketika pertemuan memulai rasa. Ketika semuanya berjalan mulai angka 1.

* * *

“Gimana ya Mas?” tanya Ai dengan gundah.

“Lha kamu seneng nggak?”

“Ya, sepertinya sih.”

“Trus?”

“Ya, gini-gini kan aku cewek. Masak aku yang bilang kalau suka?”

“Ya jangan sih,” kata Marlon, “Pasti ada jalannya. Cowok kan tinggal dikasih tanda-tanda jaman aja. Hehehe.”

“Lha itu tanda-tandanya gimana?”

Marlon berkisah bak konsultan, Aira bercerita bak counselee. Keduanya berbicang diatas hijau rerumputan ketika pagi baru saja menyapa dunia.

* * *

“Silahkan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepaktan kalian di hadapan Allah dan GerejaNya.”

“Saya, Marlon Simamora, memilih engkau Cicilia Dinaira menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Saya, Cicilia Dinaira, memilih engkau Marlon Simamora, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Semoga Tuhan memperteguh janji yang sudah kalian nyatakan dan berkenan melimpahkan berkatNya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia.”

Tiga orang anak manusia di depan altar mengucap baris-baris kata, di pagi hari ketika matahari menyapa dunia di bulan muda.

* * *

“Ai, sudah selesai baca bukunya?”

“Sudah, Mas.”

“Siplah. Sesuai janjiku, kalau aku ditolak, buku ini akan aku buat. Untunglah laku. Jangan-jangan banyak yang senasib yak.”

“Apa coba?”

Marlon mengaduk-aduk Caramel Machiato-nya, Aira asyik dengan Java Chip-nya. Sebuah buku, novel, berjudul Yang Terindah, tergeletak diantara mereka.

“Jadi, pada intinya, kamu memang yang terindah, Ai.”

“Bisa aja kamu, Mas.”

“Ya begitulah. Jadi kalau aku bilang cinta lagi sama kamu, kira-kira diterima nggak ya?”

“Hmmmm..”

“Aku sayang kamu, Ai. Dan aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Maukah kamu melakukannya denganku?”

“Mas?” Aira terdiam sambil memegang gelas Java Chip-nya.

Marlon menatap Aira dalam-dalam.

Aira bernapas dalam.

Marlon tersenyum manis.

Jam serasa berhenti.

“Iya, Mas.”

Malam baru saja meliputi siang ketika dua anak manusia ini bertaut hati satu sama lain, di sebuah bulan tua yang penuh pesona.

* * *

“Ai?”

“Iya Mas?”

“Aku udah di tol, bentar lagi sampai.”

“Oke Mas.”

Aira bergegas mencari kunci mobilnya, hendak menuju exit tol dan menjemput suaminya.

“Ayo Al, kita jemput papa.”

Anak 2 tahun itu mengikuti Aira masuk ke dalam mobilnya.

Aira melajukan mobil dan berhenti di SPBU yang tepat berada di exit tol.

“Papaaaaaa..”

Al bergegas berlari menuju sesosok pria yang baru turun dari bis itu.

“Selalu begini, dua minggu nggak ketemu, dan pasti kangen. Sini sayang.”

Marlon mengangkat jagoannya tinggi-tinggi. Aira mendekat.

“Tuhan itu baik ya Ai?”

“Kenapa?”

“Dia menyuruhku bermimpi tentang kamu, Dia kasih waktu bertahun-tahun. Dan Dia mempersatukanku dengan kamu. Tambah jagoan satu ini pula. Aku nggak bisa berharap dan berdoa yang lebih baik dari ini.”

Aira tersenyum, tangannya menggandeng Marlon.

Marlon, Aira, dan Al berjalan ke mobil, melanjutkan siklus hidup sesuai yang digariskan, 123 bulan sejak semua mulai berjalan dari 1. Bahwa hidup ini berjalan untuk sebuah kebahagiaan.

🙂

Tangisan Berbuah Dolan-Dolan

Odong-odong merah memasuki Pok-We, biasanya hal ini akan disambutstanding oviation oleh para Dolaners. Yak, di musim demam berdarah, sebuah fogging gratis dari knalpot sepeda motor dua tak berkecepatan maksimal 40 km/jam mungkin adalah berkah tersendiri.

Biasanya begitu, tapi kali ini kok berasa aneh.

“Kowe sih Ko.”

“Lha ngopo aku? Kowe kuwi Bon.”

Yak, permainan voli tanggung jawab antara Chiko dan Bona memang adalah hal biasa. Cuma kok yang ini suasana agak sunyi senyap. Nggak dolan-dolan banget deh. Aku segera mengambil kesimpulan kalau aku baru saja melewatkan sesuatu yang penting.

“Ono opo kie?” tanyaku.

Sunyi, semua berpandang-pandangan kecil ke Aya. Hmm, ini seperti ada sesuatu. Untuk waktu itu Syahrini belum tenar dan belum mengeluarkan istilah sesuatu banget, apalagi jambul anti badai dan bulu mata gorong-gorong jalan sudirman.

Tidak ada kata dan penjelasan yang aku dapat di Pok-We kali itu selain, “besok dolan ke Ketep!”

“Lha, dolan PS e piye?” Aku bertanya lagi.

“Yo tetep.”

Aneh lagi nih, nggak pernah sekali-kalinya Dolaners membuat dua acara dalam 1 rentang waktu yang pasti akan berakhir dengan tidur bersama. Ya iyalah, dolan itu capek loh, apalagi kalau dolan plus-plus.

Sungguhpun aku mendapati sebuah misteri dari rencana esok hari ini.

* * *

Siang hari menjelang, dan masih di Pok-We, sebuah tempat yang mungkin bosan dengan Dolaners. Bagaimana tidak? Kalau pembeli lain mungkin akan membeli menu-menu mahal. Kalau anak Dolanz-Dolanz sebangsa aku dan Yama misalnya, pakai metode lain. Yah kalau di menu itu, di sisi kiri ada nama makanan dan di sisi kanan ada harganya, maka mata kami segera menatap ke kanan tanpa peduli yang ada di sisi kiri. Kalau memang menu itu tertempel di dinding, maka tangan kiri segera menutup yang di sisi kiri.

Ketika harga yang paling masuk akal ditentukan, barulah mata melihat ke nama menu. Dan biasanya sih nggak jauh-jauh dari tahu goreng, tempe goreng, atau maksimaaaallll banget telur goreng. Demikian adanya.

Dan juga, durasi nongkrong anak Dolanz-Dolanz di Pok-We itu kadang nggak mengenal toleransi. Bisa dari siang sampai sore, dan mengambil slot meja yang banyak. Belum lagi gojek kere yang kadang membuat orang lain yang nggak kenal risih sendiri.

Dan satu-satunya alibi adalah karena ada 3 Dolaners yang ngekos disana, maka tempat itu segera menjadi meeting point yang paling ideal dalam janjian.

Dan hari ini, perjalanan menuju ke KETEP PASS, Magelang.

Formasi ditentukan dengan 12 personil yang ikut serta. Roman berhasil mengajak Edo, Dolaners yang hilang. Ano bareng Chica, lalu Chiko bareng Aya. Duo tak terpisahkan Bona dan Richard (nama ini sesuai request lho.. hehehe..) masih eksis berdoa. Aku memboncengkan Lani dengan sepeda motor barunya. Dan terakhir, Soe Hok Gie wanna be, Yama bersama Toni dengan motor Honda Grand legendaris AD AV.

“Berangkat ki?” tanya Chiko.

“Iyolah. Ngko ndak ono sik nangis meneh,” ujar Bona.

“Bonaaaa…,” sergah Aya.

Dan percakapan singkat ini sudah memberi tanda bahwa perjalanan dadakan ini dilakukan karena Aya menangis kemarin! Aha! Aku memang detektif jempolan, jempol kaki nan kapalan. Yah, lagian mana mau anak-anak lelaki liar ini diganggu jadwal PS yang sudah ter-planning lama itu dengan aktivitas yang melelahkan kalau nggak benar-benar kepaksa? Yak, kepaksa karena Aya nangis. So sweet sekali.. *sweet darimana yak?*

Perjalanan dimulai dengan rute standar yang jelas-jelas dipahami bersama. Yah kalau cuma dari Paingan sampai Magelang, Dolaners sejati pasti paham sak jalan tikuse. Hehehe.

Jalan ke arah Magelang sana sih sudah biasa pakai banget buat pelaku sekelas Dolaners, lha wong lurus-lurus wae. Bagian ini berubah ketika sudah belok kanan dan segera menanjak menuju puncak gemilang cahaya, menggapai cita seindah asa. Ini disorientasi dengan akademi fantasi sepertinya.

Aku beruntung dapat jatah motornya Lani yang notabene masih baru gress hingga gigi 2 pun masih kuat melibas tanjakan. Sementara Edo dengan mantap melibas jalanan karena emang punya cc yang juga gede dan termasuk baru juga. Sisanya? Aku nggak lihat. Bawa anak orang, yang punya motor pula, motor baru pula, jadi kudu eling lan waspada.

Ketep Pass sejatinya ‘hanyalah’ sebuah tempat ketika kita bisa menyaksikan puncak Merapi dari sisi yang berbeda. Tapi melihat pemandangan secakep itu tentu penyegaran tersendiri di masa ujian sisipan. Yah jelas aja, wong ujian nggak bisa garap, pasti butuh penyegaran kalau begitu.

Merapi View (Dokumentasi Pribadi)

Dan ketika motor kami satu per satu masuk ke area parkir, obrolan khas Dolaners mulai mengemuka.

“Lha kuat to Ton?” goda Chiko pada Toni yang membawa motor legendaris Yama.

“Lha iyo. Gigi 1 karo tak elus-elus.”

Yama selaku yang punya motor senyam senyum saja, pura-pura nggak tau kalau senyumnya itu sama sekali nggak manis, sepet lagi ada.

Chica lantas mengeluarkan benda legendaris lainnya dari Dolaners, kamera digital! Di era teknologi belum maju, benda bernama camdig yang boros baterai itu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga cemara. Beneran deh. Dan kebetulan, Dolaners adalah MAGITO alias…

Hayo tebak apa? Yak, benar! *apa coba*, MAGITO adalah manusia… gila… hayo to-nya apa..

Betul! MAGITO adalah manusia gila magito!

Eh, salah.. Hehe. Manusia Gila Foto! Ini baru bener.

Tiupan angin kencang di Ketep Pass sanggup membuat rambut Toni berkibar-kibar layaknya bendera di pucuk tiang. Namun tak sanggup menggoyahkan rambut Edo yang bagai bonsai beringin.

“Jagung yo cah?” ajak Chiko.

Dan seperti biasa pula, satu beli, yang lain juga. Tapi nggak semua sih. Jagung bakar itu tidak layak konsumsi kalau nggak bawa bekal minum dan tusuk gigi. Tapi ya aku beli juga.

Obral-obrol, eca-ece, gojak gajek, plendas plendus kami lakoni di dekat parkir motor itu. Tentunya sambil makan jagung. Dan perpaduan gojek kere bersama dengan tiupan angin itu lantas membuat jagung yang lagi dipegang dan dikerokoti Bona bersua dengan tanah.

“Waduh tibo.”

“Huahahahaha.. rasakno.”

“Belum lima menit.”

Bona lantas mengambil jagung itu dan melanjutkan kerokotannya. Sungguh tidak layak ditiru untuk kategori anak farmasi!

Hampir tidak ada yang dilakukan di ketinggian itu selain menikmati angin yang semakin lama semakin bisa bikin Yama melayang bak layangan dan menikmati keindahan pemandangan. Mau nambah jagung, kantong tipis.

“Muleh?” tanya Yama.

“Mampir sik omahku,” ajak Edo.

“Mangan ki?”

“Siap!”

Yak! Inilah gunanya teman! Rumahnya Edo memang ada di sekitar Pakem yang tentunya dilewati kalau mau pulang dari Ketep ke Paingan. Dan, ehm, makan gratis? Wah, sungguh keindahan hidup yang luar biasa bagi anak rantau, anak kos, dan mahasiswa pas-pasan, misalnya semacam aku.

Kami bersiap pulang, menempuh jalur yang sama. Meninggalkan Ketep dengan sindiran mendasar, “uda nih, puas? Nggak nangis lagi kan?”

Dan Aya hanya tersipu saja.

Setidaknya tangisannya berhasil membuahkan sebuah perjalanan. Dan percayalah, itulah sebenar-benarnya teman 🙂

Senyum Abadi

“Wer ewer ewer ewer ewer.. Ewer ewer…”

Suara pria separuh wanita–atau mungkin sebaliknya–itu membangunkanku dari tidur yang tidak enak. Yah, namanya juga kereta bukan eksekutif, mana bisa tidur enak. Lha kalau kereta eksekutif saja telingaku harus disibukkan oleh tawaran berbagai makanan, mulai dari nasi goreng hingga kentang goreng, juga minuman mulai dari es teh manis hingga kopi panas.

Apalagi kereta bisnis?

Mulai dari ratingdeng sampai mijon, dan bahkan hingga pijet, semuanya ada. Memang luar biasa. Tapi sesungguhnya semua itu mengganggu tidurku. Aku tidak bisa tidur dengan nikmat. Dan pagi ini aku dibangunkan oleh duo ewer-ewer.

Hmmm, tak masalah sih. Bagiku ewer-ewer ini justru menjadi pertanda jelas. Yak, ini sudah stasiun Wates. Tak lama lagi, Jogja.

Dan kereta api Senja Utama Jogja itu mendengus perlahan memasuki tempat-tempat yang perlahan makin aku kenal. Sawah di sisi kanan, hingga rumah kos di daerah Wates tempatku tinggal sebentar dulu. Perlahan dan perlahan lagi akhirnya sampai di kota Jogja, hingga aku lihat kewek.

Ini dia, stasiun Tugu.

Terakhir kali di tempat ini, aku diantar oleh seorang gadis, berpisah dengan pelukan manis. Ah, sebuah masa yang tak terkatakan.

Rombongan porter berebut masuk, bersamaan dengan penumpang yang keluar. Mukaku kusut kurang tidur, tapi aku paksakan untuk bangkit dan keluar.

Kaki kananku menjejak marmer putih di stasiun terkenal itu. Kuhirup sedikit dalam udaranya, dan aku mengerti bahwa ini Jogja. Kenangan merasuk ke dalam tubuh dan jiwaku. Inilah dia kota itu, ketika semua kenangan terkumpul jadi satu.

Aku keluar dari sisi Mangkubumi. Jalan cukup jauh ke depan, tentu dengan tawaran dari kiri dan kanan, mulai taksi (gelap), taksi (terang), hingga becak. Aku memilih untuk menolak semuanya, karena aku ingin mengenang.

Kenangan yang harus dipaksa untuk diingat, agar nanti aku segera lupa. Lelah aku untuk mengenang semuanya.

Langkah kakiku yang tertekuk semalaman satu persatu melangkah di sepanjang Mangkubumi. Ah, tempat ini sudah tak sedamai dulu. Jauh, jauh dan jauh lebih ramai dari 11 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali menjejak kota ini.

Tubuh lelah ini sampai di sebuah lapak gudeg pinggir jalan.

“Bu, setunggal, ngagem ayam.”

“Nggih Mas.”

Entah ini pemandangan apa, aku tak mengerti. Tapi buatku, gudeg itu yang sebenarnya adalah yang dijual oleh orang dengan level Mbah-Mbah. Kalau tidak, menurutku kurang enak. Ya sama persis ketika aku masuk ke warung berlabel warung Padang tapi dilayani dengan bahasa Jawa. Sensasi enaknya berkurang signifikan.

Gudeg, jalanan ini. Ah! Untung ini masih siang. Kalau saja ini sudah malam, maka kenangan itu akan semakin merajalela di pikiranku. Ya aku jarang beredar pagi-pagi, tapi kalau malam hari, jangan ditanya. Disitulah kenanganku terbentuk, satu persatu.

Perjalananku berlanjut, tubuh gontai ini menapak kembali langkahnya di kota tempat ia terbentuk menjadi manusia.

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”

Yak! Pengamen yang tiba-tiba ada di sebelahku dengan sukses menyibak tabir yang selama ini aku tutup, membuka kekelaman yang selama ini aku bungkam. Dengan sukses, ehm, sangat sukses bahkan!

* * *

“Sesungguhnya, ku tak rela…”

Tanganku terjulur memberikan sejumlah koin kepada pengamen bersuara indah ini. Tapi bagiku akan lebih indah kalau dia pergi. Aku butuh suasana tenang.

“Kok disuruh pergi?” tanya Raras.

“Nggak apa-apa. Galau lagunya.”

“Yah, kenapa? Ada hubungan dengan suasana?”

“Sedikit.”

“Oke. Jadi apa yang mau dibicarakan?”

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Nafas udara malam Jogja yang belum banyak kontaminasi.

“Aku sayang sama kamu, Ras.”

“Hmm, tapi mukamu sendu begitu?”

“Yah justru itu. Aku sayang sama kamu, tapi ternyata aku tidak bisa memiliki kamu sepenuhnya.”

“Masih masalah yang sama?” tanya Raras sambil melempar pandang ke sekeliling.

“Sepertinya masalah diantara kita hanya itu.”

“Dan itu yang terbesar, Jo.”

“Yah begitulah. Aku takut, semakin kita tidak mengindahkan masalah ini, semakin aku bertambah sayang pada kamu, dan semakin aku akan membuat hubungan ini menjadi penderitaan.”

“Maksudmu, Jo?”

“Yah, kalaulah kita menikmati kebersamaan kita, di saat sebenarnya kita tidak bisa bersatu. Pada akhirnya kita akan berpisah kan? Kalau itu terjadi nanti, ehm, akan sangat jauh lebih susah untuk melepaskanmu Ras.”

“Hmmmm, satu tembok ya Jo. Tapi memang terlalu tinggi.”

“Ini berat, Ras. Tapi akan jauh lebih baik buatmu. Memang sebaiknya kita berpisah.”

Raras terdiam, pandangnya masih di tempat yang sama. Nasi goreng sapi yang biasanya lahap disantapnya, kali ini terdiam manis dan malah digapai lalat.

“Mungkin memang begitu Jo. Setidaknya kita masih bisa menjadi teman yang baik.”

“Itu pasti, Ras. Kamu pasti akan jadi teman terbaikku.”

“Cinta itu ya begini kali Jo. Menggelitik. Bikin aku jatuh cinta pada kamu, tapi dengan pandainya membuat kita tidak bisa saling memiliki.”

“Mungkin iya, Ras. Sukanya main-main.”

“Atau mungkin kita yang mempermainkannya, Jo?”

Giliran aku yang terdiam. Bahwa tembok ini sudah aku tahu dari awal, dan tetap aku anggap tiada. Hingga kemudian aku sadar bahwa tembok ini ada dan nyata, tertulis jelas di KTP bahkan.

“Yah, mari kita lanjutkan hidup kita Ras. Pasti ke depan akan lebih baik.”

Aku menutup perpisahan di malam itu dengan mengalihkan pandangan ke nasi goreng sapi di depanku. Kutolehkan kepalaku sekejap, sebuah senyum manis Raras terkembang disana. Ah, senyum itu, masih sama dengan senyum yang membuatku jatuh hati padanya.

* * *

Langkahku masih sendirian saja, tidak akan yang menemani. Sebuah pertemuan, dan permainan yang aku ciptakan sendiri, lantas diakhiri dengan perpisahan yang juga aku buat sendiri. Semuanya terkuak di depan mata.

Dasar pengamen di sebelah ini tahu saja.

“… katamu hadirkan senyummu abadi..”

Raras, senyummu pasti abadi dalam hidupku. Selamanya.

* * *

Sebuah interpretasi dari lagu Jogjakarta-nya KLA Project.

Sebuah Percakapan

Aku datang, sendiri, ke tempat yang sangat aku rindukan ini. Sebuah tempat di ketinggian, dengan suasana sunyi senyap nyaris horror. Tapi meski ada dua pohon beringin disini, aku tidak merasa ketakutan. Sosok tersenyum yang menjulang di depanku membuatku tidak merasa takut sama sekali.

“Mengapa kau datang anakku?”

“Sekadar ingin bertanya.”

“Tanyakanlah.”

“Aku mensyukuri yang aku dapat sepenuhnya, terima kasih sepenuh hidupku untuk itu. Tapi ada sedikit yang aku heran.”

“Apakah itu?”

“Aku memohon untuk satu hal, namun yang datang kepadaku justru hal lainnya. Apakah maksud dari itu?”

Sosok itu tersenyum penuh ketenangan. Damai yang tidak pernah aku rasakan. Ah, mana ada damai di dunia yang semakin keras? Mana ada damai ketika semua sibuk mengetengahkan ego sendiri dengan dalil kepentingan bersama? Mana ada damai ketika semua sibuk membenarkan diri sendiri? Mana ada damai ketika setiap masukan yang diberikan dianggap sebagai aib?

Hanya senyum itulah yang menenangkan.

“Kamu bermasalah dengan yang datang itu?”

“Tentu tidak.”

“Kamu bersyukur?”

“Dengan sepenuh hidup.”

“Kenapa kamu masih bertanya?”

Aku terdiam. Sebuah pukulan balik untukku.

“Kamu berdoa sepanjang waktu untuk sebuah permohonan. Aku meyakini itu bukanlah yang terbaik untukmu.”

“Artinya aku mendapat yang lain, yang sejatinya lebih baik?”

“Aku hanya memberikan yang terbaik untukmu.”

“Terima kasih untuk itu.”

“Pulanglah. Nikmatilah berkatmu.”

Aku menunduk sedikit, lalu mundur. Kedamaian ini memang hanya berlangsung sebentar. Sedikit lagi aku akan menikmati lagi dunia tanpa damai. Ah, itu kan nanti.

Anak tangga yang kecil-kecil itu kupijak dengan santai. Setiap pijakan mengingatkanku pada percakapan tadi. Aku memohon dengan sangat untuk suatu hal, namun aku justru diberikan hal yang lain. Sebuah hal yang pada akhirnya menjadi nyata bahwa itulah yang terbaik untukku. Jadi untuk apa aku mempertanyakan?

Bahwa jalan terbaik untuk hidup adalah bersyukur. Aku perlahan mencoba memahami itu lewat anak tangga yang membawaku pada dunia yang sebenarnya.

Sore Hari Di Tepi Sungai Itu

Cuaca yang khas di sungai ini, sebuah kondisi yang sinonim dengan kerinduan. Dahulu aku sering berlama-lama di tepi sungai ini. Okelah aku tidak bisa berenang, tapi memandang air mengalir, pun kapal-kapal yang berjalan silih berganti di atasnya, adalah suasana yang dirindukan.

“Ngeliat apa?”

Suara manismu mengusik sore penuh memori. Yah, di tempat ini, aku dan kamu, duduk memandang air bergerak di depan sana.

“Nggak. Nggak ngeliat apa-apa kok.”

“Nggak baik ngelamun. Kesambit ntar.”

“Loh, aku kan sudah kesambit hatimu.”

“Gubrak!”

“Kenapa?”

“Dasar gombal.”

Kita tertawa lepas, dan segera ditelan oleh angin sore yang bertiup dengan riang. Tangan mungilmu, lengkap dengan jam tangan anak-anak yang membalut lenganmu, menggantung manis di sisi kananku. Kutautkan saja tangan nganggur itu dengan tanganku yang juga tanpa pegangan.

“Hayo, pegang-pegang.”

“Nggak boleh?”

“Nggak.”

“Lha kok nggak dilepas?”

“Lha kan kamu yang megang.”

“Trus?”

“Hmmmmm…”

“Hahahaha…,” tawaku kembali lepas. Berdua denganmu selalu menjadi saat yang menyenangkan.

“Eh, kamu tahu nggak?”

“Tahu apaan?” Wajahmu beralih menatap wajahku, meninggalkan pemandangan sungai di sore hari ini.

“Tahu nggak, kalau cinta itu misteri?”

“Maksudmu?”

“Yah, kayak kita sekarang ini. Bisa duduk disini, berdua, gandengan. Siapa yang ngira bisa begini?”

“Ehm, ya mungkin memang begitu.”

“Setidaknya aku punya pemikiran baru.”

“Apakah?”

“Ya itu, dalam hidup yang begini ini, kita nggak perlu melawan kehendak Tuhan. Dulu aku pikir, apa yang aku rencanakan itu sesuai, tapi nyatanya Tuhan punya cara lain.”

“Maksudmu?”

“Ya, kalaulah aku tidak meninggalkan tempat ini dulu, maka mungkin jalanku nggak begini. Jadi memang aku waktu itu harus pergi, dan sekarang pada akhirnya disuruh kembali.”

“Yah. Jadi jalani saja. Bener kan?”

“Yup. Jalani saja sambil berdoa agar cintamu tetap untukku. Haha.”

“Apa coba?”

“Nggak apa-apa, sayang.”

“Cinta itu tetap kok. Tenang saja. Aku nggak akan nambah cinta untukmu.”

“Kok gitu?”

“Cinta itu harus pas. Kalau kamu dapat cinta berlebih, kamu bakal bagi-bagi ke orang lain. Kalau kamu dapat kurang, ehm, kamu nyari yang lain ntar. Iya kan?”

“Hmmm.. Iya juga. Pinter kamu ya?”

“Biasa aja ah. Lebay.”

Senyumku dan senyummu menghantarkan sore hari terindah sepanjang aku berdiri di tepi sungai ini. Keindahan ketika cinta dua hati menyatu dalam kesepahaman akan misteri Ilahi. Keindahan yang sederhana.

“Say?”

“Iya, kenapa?”

“Aku sayang kamu.”

Kamu tersenyum, menyandarkan kepalamu di bahuku. Ah, benar juga, indah itu sederhana, pun bahagia. Di sore hari, di tepi sungai itu, aku memeluk keindahan dengan bahagia.

🙂

 

Yang Puasa Dua, Yang Buka Banyak

Oke, dalam ranah pergaulan Dolaners memang tidak mengenal perbedaan. Ehm, kalaupun perbedaan dikenali, itu adalah sebagai bahan ejekan. Halah. Ya, tapi memang itu yang terjadi. Selain itu, perbedaan juga dimaknai sebagai sumber oleh-oleh. Jadi ada kalanya, aku datang dari Bukittinggi membawa kaos gambar jam gadang, ditukar dengan kaos Toraja-nya Lani. Ada juga sandal Kalimantan-an Rani yang dibagi-bagi dan kemudian raib karena di kosku ternyata ada 4 sandal yang sama. Haduh.

Dan soal perbedaan agama, nggak signifikan juga. Waktu ke Ngobaran, aku dengan tenang bertapa di dekat sumur menunggu Ano selesai jumat-an. Semoga aku masih dilihat sebagai manusia, meski memang secara tampak agak sulit membedakan antara aku dan makhluk jadi-jadian.

Dan satu yang paling menyenangkan dari perbedaan ini adalah ketika bulan puasa, waktu Ano dan Chica berpuasa. Yak! Keduanya akan berada di lingkungan setan. Sungguh pahala mereka tinggi, karena selalu dirayu dan digoda. Bahwa setan-setan ini dosanya bertambah, anggap saja itu amal.

Bener? Bercanda ah!

Buka puasa bersama adalah agenda rutin bin wajib Dolaners. Dan berhubung Ano adalah perantauan agak riskan melakukan ritual buka puasa bersama di rumahnya, paling-paling ya beli kolak di pinggir jalan juga dia. Maka, Dolaners beralih ke rumah Chica, yang ada di bawah naungan orang tua yang baik hati. Plus, rumahnya nggak jauh-jauh benar dari sekitar kampus.

“Kapan ki buka puasa bersama?” tanya Chiko, ehm, masih si playboy kandas.

“Puasa ora, melu buka thok,” racau Roman.

“Halah, kowe yo ngono,” sergah Bona.

Dan obrolan macam ini nggak akan selesai kalau hanya di kalangan cowok-cowok. Maklumlah, meski tampan-tampan dan tampak pintar, tapi sejatinya isi otak kaum ini diragukan kebenarannya.

“Keburu lebaran lho,” ujar Aya. Nah, kalau kaum cewek Dolaners sudah berkata, baru deh agak lurus suasana.

Obrolan nggak jelas itu kemudian berakhir pada nggak bisa. Yah, memang, kesibukan sebagai mahasiswa dan (beberapa) sebagai pacar bukan hal yang mudah ditinggalkan. Para Dolaners sudah di semester 7, nggak semudah waktu membuat acara seperti ini di semester 3 atau 5. Ada yang kudu skripsi, ada yang kudu asisten, ada yang kudu latihan paduan suara, ada yang kudu ngopeni pacar.

Halah.

“Ayo cah. Kapan ke rumah?” tanya Chica, sesudah lebaran. Ketika para intelektual muda nan gamang ini berkumpul di tempat yang selalu sama, Pok-We.

“Lho, masih berlaku ki?” tanyaku.

“Yo orapopolah.”

“Mari direncanakan saudara-saudara,” ujar Chiko lantang. Hemmm, tampaknya lelaki ini sudah kelaparan. Hidangan-hidangan khas lebaran di rumah Chica tampak menarik untuk dikelola dalam perut.

Dan akhirnya event bertajuk Buka Puasa Bersama itu dihelat sesudah bulan puasanya lewat. Ehm, jadilah ini namanya makan-makan di rumah Chica sebagai pengganti buka puasa bersama. Ya, tampak lebih manis ya?

Maka di suatu sore yang gundah, karena cacing-cacing di perut mulai berteriak. Berangkatlah satu per satu ke rumah Chica.

Aku beranjak dari kos dengan Bang Revo, yang masih mulus, sambil kelelahan. Aku baru saja putar-putar Jogja mencari responden yang sakit kepala. Tampaknya tiada skripsi paling pusing daripada mencari orang pusing hingga pusing sendiri. Ah, kenapa ada topik itu sih?

Beberapa missed call sudah masuk, tandanya anak-anak Dolaners sudah berkumpul manis di rumah Chica. Perjalanan ke rumah Chica nggak jauh, hanya karena melewati persawahan jadi harus berjuang melawan ternak-ternak yang beterbangan di jalanan dan mengincar bola mata siapapun yang melintas.

Di kompleks perumahan dosen, di utara Jogja, aku membelokkan Bang Revo. Pada sebuah rumah yang banyak terparkir sepeda motor di depannya aku berhenti. Ada Grand AD AV, ada beberapa Supra Fit, beberapa sepeda motor yang aku kenal. Dan, eh, kok ada Satria F disini?

Yak, tampaknya ada Dolaners yang baru beli motor.

Aku, yang sudah telat, memasuki arena yang masih kosong dari makanan.

“Motore sopo kuwi?” tanyaku.

“Chiko kuwi,” ujar Prima, masih dengan tampangnya yang penuh kebajikan.

“Wooo.. Ngeriii.. Sugih.. Nyembah aku,” ujarku. Kemarin-kemarin memang Bang Revo jadi yang termulus di kalangan Dolaners, sekarang ada gantinya.

Makanan mulai datang silih berganti. Mama Chica mensuplai dengan lancar dari dapur. Kami duduk ngemper di garasi sambil menikmati hidup. Ah, ini sudah semester 7, mungkin ini terakhir kali bisa begini. Iya kan?

“Eh, Yama. Kowe nek noleh biasa wae loh,” kata Bona sambil menunjuk Yama yang lagi kesulitan menoleh alias tengeng.

“Asem.”

“Wo, ngapuro kowe Bon. Keno azab meneh ngko,” ujar Chiko. Yak, menurut catatan medis, atlet bernama Bona ini pernah mengalami dengkul mlingse tidak lama sesudah ngece Yama. Sejak itulah, kami menganggap bahwa menghina Yama itu ada azab. Tapi, mulut mana yang tidak hendak tertawa melihat Yama yang tegang leher itu susah payah hendak menengok ke belakang?

Inilah godaan duniawi.

“Eh, eh. Iki sik wis jadian urung do ngaku.” Prima membuka topik baru.

“Lha sopo? Kowe karo sopo Prim?” tanya Chiko.

“Asem lah. Yo dudu aku. Kowe kuwi.”

Beberapa mata mulai melihatku dan Chiko bergantian. Eh, eh, ini bukan bermakna aku dan Chiko yang jadian ya. Bagaimanapun aku masih normal, demikian pula playboy kandas yang satu itu.

“Ayo, konferensi pers nek ngene,” tukas Bayu.

Huh, ini bocah, mentang-mentang pendekatannya belum final, bisa teriak-teriak ya. Nantikan pembalasanku.

“Yo kowe sik Ko.”

“Kowe no.”

“Kowe wae lah.”

Dan,seperti biasa, meski sudah semester 7, kami masih saja tetap tidak cetho.

“Yowis. Tak dhisikan. Ya, seperti yang sudah diketahui. Aku wis jadian. September kemarin,” beber Chiko.

“Karo sopo Ko?” sergah Prima. Ah, bapak yang satu ini walaupun muka bajik, kepo juga.

“Cintia.”

Senyam senyum nggak jelas dari pemirsa konferensi pers ini memang menandakan bahwa mereka puas dengan wahana pengakuan ini. Jadi begini, kegagalan demi kegagalan cinta yang silih berganti kami alami membuat dalam hati ada tendensi untuk menyembunyikan kisah pendekatan sebelum kemudian launching ke muka publik. Jadi bukan koar-koar masa muda ketika bilang kalau sudah pedekate, tahu-tahu nggak jadi.

Dan ternyata itu bukan pikiranku saja. Chiko itu tanpa ada tanda-tanda, tahu-tahu sudah ujug-ujug pacaran. Dan aku…

“Kowe saiki,” suruh Chiko.

“Hedeh. Yo. Aku ya udah jadian. Baru sih, beberapa minggu.”

“Karo sopo?” Bapak bajik nan kepo kembali bertanya. Kali ini ditimpali yang lainnya.

“Yesi.”

Sorak sorai khalayak membahana, bukan apa-apa, karena Yesi sebelumnya ada kisah dengan Roman. Sehingga ini sedikit-sedikit ada hawa telikung teman. Padahal kan aku ya nggak ngerti kalau Yesi pernah dekat dengan Roman. Yah, anggap saja itu kebetulan. Kebetulan dapat. Halah.

Makanan berangsur luput oleh mulut besar orang-orang yang ada disini. Kegembiraan dalam balutan tajuk buka puasa bersama ini tidak dapt ditukar oleh apapun. Entah kapan lagi ada momen seperti ini.

Yang puasa dua, yang buka banyak. Yang dikenang? Bahkan aku tidak mampu menghitungnya.

Cantik

“Oke, kita ketemu di ibukota ya!”

“Siap. Siapa takut?”

Cem menyunggingkan senyum sambil menyentuh layar ponsel pintarnya. Sebuah tantangannya pada seorang teman lama disanggupi. Sebenarnya justru karena berawal dari sama-sama ingin bertemu, kerinduan itu menjelma menjadi sebuah tantangan. Tantangan teman lama.

“Cem, berhubung kamu sudah esmud begitu, walaupun di pedalaman Andalas sana, kayaknya kamu perlu ditantang deh.”

“Kenapa Det? Apa sih yang nggak buat kamu?”

“Kita ketemu di ibukota, dalam posisi backpacker, dan nggak boleh naik pesawat. Soalnya kamu pasti bisa dengan mudah pakai burung besi itu Cem.”

Cem sedikit keder. Tapi nggak mungkin dia kalah sama Deta. Nyali Cem terpaksa dikuat-kuatkan. Jalan lintas Sumatera bukanlah jalan yang sepenuhnya ramah. Dicegat di jalan, dilempar batu, hingga digemboskan bannya pernah dialami Cem ketika masih belia. Dan hidupnya yang penuh fasilitas perlahan membentuk jiwanya menjadi manja. Cem aslinya takut hendak kembali ke masa seperti belianya. Tapi ya itu tadi, dia nggak mau kalah sama Deta. Masak esmud tambang kalah sama dosen muda? Mana ada?

“Deal, Cem?”

“Deal, Det. Lanjutkan.”

* * *

Cem memasuki pelataran loket bus Putra Remaja di Jalan M Isa. Hasil tanya kiri kanan mengarahkan Cem ke tempat ini. Panas-panas ngentang, Cem menaiki bis yang hendak membawanya ke ibukota. Ehm, sejatinya ini akan jadi sangat lebih mudah kalau dia naik taksi ke SMB II, lalu menggunakan penerbangan ke Soekarno Hatta, lalu taksi ke meeting point. Biasanya hidup Cem adalah sesederhana itu. Dan bagi Cem, bus ini sama sekali tidak sederhana.

“Posisi Det?”

“Otw, Tegal.”

“Naik apa kamu?”

“Ini nunggu kendaraan ke Cirebon.”

“Heh? Nggak ada yang lebih mudah Det?” tanya Cem. Dalam hatinya, dia mengkhawatirkan seorang wanita muda penuh pesona yang sendirian hendak menuju Cirebon untuk sebuah pertemuan dengannya. Bagi Cem, ini juga sebenarnya bisa mudah. Apa susahnya naik pesawat dari Adisucipto ke Soekarno Hatta? Tak sampai 55 menit, jarak itu terbunuh.

“Hey Cem! Percaya kan bahwa hidup ini petualangan? Nikmatilah. Dimana kamu?”

“Baru masuk Lampung. Udah lewat tempat tentara nih.”

“Oke Cem. Lanjutkan!”

“Sip Det.”

Dan Cem mulai meresapi kata-kata Deta. Nikmatilah.

* * *

Bus yang membawa Cem sudah sampai di Bakauheni. Turunan perlahan dengan persewaan kapal di kiri dan kanannya sudah menandakan bahwa Bakauheni memang sudah dekat. Cem pun mulai bersiap, karena terakhir kali dia naik kapal penyeberangan ini, dia mabuk laut. Ah, kadang fasilitas justru membuat orang menjadi sangat-sangat manja. Meski sejatinya mereka bisa, tanpa fasilitas itu. Berbagai logika mulai berlari di otak Cem.

HP-nya bergetar. Smartphone bukan pilihan bagus untuk perjalanan jauh karena baterai hanya akan habis dalam setengah jalan. Jadilah Cem memakai HP lama-nya, jaman dia masuk berani naik angkot sendirian, jaman dia masih pede berdiri di atas bus, jaman dia belum terlena oleh fasilitas sebagai esmud.

Deta disana.

“Posisi bos?”

“Bakauheni. Situ?’

“Nggak ngerti juga saya. Hahaha.. Pokoknya di atas kereta. Nggak dapat kursi neh.”

“Berdiri???” tanya Cem terperanjat.

“Lha iya, kenapa?”

“Ehm, nggak apa-apa kok. Oke. Go ahead.”

“Siap bos.”

* * *

Cem sendiri masih bingung menerjemahkan makna permintaan Deta. Jadilah dia tidak hanya menghindari burung besi, tapi juga burung biru. Padahal dia adalah pelanggan tetap angkutan itu. Semata-mata mengikuti permintaan Deta.

“Bu bos?”

“Mari? Dimana Pak?”

“Pulo Gadung. Meeting point mana?”

“GBK kayaknya asik.”

“Yah, jauh aja Det.”

“Ya gpplah. Aku juga dari stasiun sini nggak dekat-dekat amat itu GBK.”

“Okelah Det.”

Dan Cem memasuki terminal besar itu, memasuki halte Busway dan kemudian masuk ke kerumunan orang, berdiri. Sepanjang jalan.

* * *

GBK. Patung memanah. Sungguh sebuah view yang indah untuk dijadikan titik pertemuan, apalagi ketika tempat bersejarah itu sedang sepi.

“Cem!” Sebuah teriakan terdengar dari arah belakang. Cem yang sedang memandangi megahnya GBK menoleh seketika.

“Det! Sampai juga kamu. Capek?”

“Enjoy Cem. Itu bikin nggak capek-capek amat. So, bagaimana perjalananmu?”

“Ehm, gila. Aku bilang kamu gila dengan ide ini.”

“Nggak lah Cem. Aku cuma mau ngetes. Apa kamu masih kuat menderita. Hahaha.”

“Gila kamu Det. Tapi kamu berhasil. Aku lulus kan?’

“Ehm, sepertinya sih gitu.”

Kedua teman lama itu kemudian duduk di rerumputan, memandang megahnya GBK dan cerahnya langit. Cem menoleh ke samping, tampak paras Deta. Penuh lelah dengan perjalanan antik Jogja-Cirebon-Jakarta yang mayoritas berdiri. Entah kenapa, Cem tiba-tiba hendak memuji Deta.

“Det?”

“Kenapa?”

“…….”

“Kamu kenapa Cem?”

“Ehm, nggak apa-apa. Kamu terlihat cantik sekali.”

Deta tersenyum dan kembali memandang lepas ke langit.

Bahwa makna cantik itu tidak semata-mata soal paras.

Gembira

Rumah itu perlahan terbentuk. Pondasi jadi, dinding berdiri, daun pintu terpasang, bahkan marmer lantai juga sudah ada pada posisinya. Tukang-tukang bekerja dengan giat, kadang mandor datang melihat kinerja tukang. Ada pula arsitek yang merancang rumah itu, ikut pula ada disana.

“Wahai para pekerja, besok pemilik rumah ini akan datang, melihat rumah yang kita bangun ini. Persiapkan sebaik mungkin ya,” seru Mandor di sore hari menjelang tukang-tukang pulang.

Esoknya, para tukang bekerja banting tulang menyelesaikan bagian-bagian yang belum dipoles dari rumah indah itu. Beberapa kali spesialis tukang batu ikut ngecat demi menyelesaikan bangunan yang luas itu.

“Pasti oke ini rumah mah,” seru tukang spesialis listrik.

Tukang batu yang ikut ngecat tadi tersenyum simpul. Dia barusan ngecat di stop kontak yang belum terpasang. Dia juga baru ngecat langit-langit yang bolong karena paku kabel.

Akhirnya pemilik rumah datang, melihat-lihat. Mandor menemani pemilik rumah dengan ‘speak-speak’ yang mumpuni.

“Ini dari batu kali gunung Merapi Pak, langsung!” ujar Mandor berapi-api.

Tukang batu tadi menoleh sebentar, lalu geleng-geleng. Dia tentu masih sangat ingat kalau baru kemarin mengambil batu di toko batu langganan. Geleng-gelengnya berlanjut seiring ayunan tangannya pada kuas.

“Oke, bagus. Kinerja kalian luar biasa,” kata pemilik rumah dengan tersenyum bangga.

“Terima kasih Pak. Silahkan datang kali seketika, kami siap memuaskan Bapak,” seru Mandor.

“Baik. Karena kesuksesan kalian, saya kasih bonus!”

Tukang-tukang senang mendengar itu. Mandor dengan berapi-api mengucap terima kasih pada pemilik rumah. Tukang batu tadi mengoles cat terakhirnya dan melangkah keluar perlahan dari rumah tersebut.

Tukang-tukang yang lain berkerumun pada kabar bonus dari pemilik rumah. Tukang batu itu menjauh sambil menatap.

Selalu ada cara yang berbeda untuk gembira.

Satu, Dua, Tiga… Byurrrrr…

Ulang tahun memang layaknya dirayakan sebagai wujud syukur. Tidak melulu ulang tahun sendiri, tapi juga orang lain, apalagi teman. Kalau teman senang, tentunya kita ikut senang. Kalau teman menderita di hari ulang tahunnya, mungkin kita akan sama senangnya.

Sama persis dengan 16 Agustus ini, ulang tahunnya Soe Hok Gie wannabe, Yama. Meski tampilan muka jelas beda dengan Nicholas Saputra, tapi sisi aktivis-nya yang kita ambil sebagai Gie wannabe. Kalau muka mau disamakan sama Gie vesi film, mungkin perlu effort buat operasi plastik.

Aya, mami-nya anak-anak Dolaners sudah mempersiapkan agenda ini. Kebetulan, aku, Aya, Sinta, dan Rani yang sibuk di inisiasi tingkat universitas lagi libur karena besok acara dimulai. Pas kebetulan lagi bocah Dolaners lain yang ikut inisiasi tingkat fakultas juga lagi di kampus, menemani si gondrong Toni menjaga pendaftaran. Jadi cocok sekali.

Ini akan jadi perayaan ulang tahun yang oke buat Yama, mestinya.

“Lha ini Yama kesini nggak?” tanya Chiko sambil duduk-duduk ngangkang di lorong cinta. Lagi-lagi, tempat bernama lorong cinta menjadi tempat untuk berbuat, bertindak, dan lain sebagainya. Lorong ini memang saksi untuk berbagai kegiatan.

“Udah di-SMS?” tanya Rani.

“Udah. Katanya nanti mau kesini,” ujar Aya, yang ceritany jadi EO untuk perayaan ulang tahun ini. Kue yang lumayan besar sudah disiapkan, sungguh EO yang niat. Dalam hati aku curiga bakal ada iuran sesudah ini. Hmmm, tak apalah, orang tuaku barusan datang kok, kantong masih cukup tebal untuk sekadar kue gede ini.

Menunggu sosok semisterius Yama memang ngeri-ngeri sedap. Matahari kian meninggi, sosok gondrong mirip grandong ini nggak nongol-nongol juga.

“SMS lagi deh,” kataku.

“Kan nanti juga mau kesini. Mau ketemu Bu Yetty katanya, ngurus nilai ujian,” jawab Aya.

Ow! Aku agak paham dengan makhluk ini jadi pasti ia datang. Nilai Kimia Dasar itu begitu berharga untuk makhluk yang baru mengambil 13 SKS. Seperti halnya donor darah, setitik nilai begitu berharga.

“Kayaknya itu deh.” Si pintar Bayu menunjuk sosok kurus kering kerontang jalan dari kejauhan. Cara jalannya Yama itu spesial minta ampun, tidak ada yang nyamain, jadi hampir pasti itu Yama.

“Ho oh. Bener. Yo, dijamu dulu lah,” ujar Chiko.

Rambutnya melambai malas, mukanya juga sudah buat malas. Tapi dalam rangka hura-hura, rasanya tidak masalah menjamu makhluk ini terlebih dahulu.

“Kene sik. Duduk-duduk sik,” kata Chiko kepada Yama dengan muka playboy-nya. Yah, muka playboy kok diterapkan ke sesama cowok. Mungkin ini ada problem disorientasi.

“Aku arep ketemu Bu Yetty cah.”

“Yo kene sik lah. Ngobrol-ngobrol. Durung ono ibu e.”

Yama pun luluh lunglai, bokongnya mendarat manis di kursi lorong cinta. Formasi pesta sudah disiapkan. Chiko, Bayu, Toni, aku, dan segenap cewek-cewek penggembira.

“Ngopo kie?” Yama mulai curiga melihat makhluk-makhluk bertampang polos di sekitarnya berubah menjadi seringai ganas.

“Orapopo,” kataku.

Dan… Happpp..

Kedua tangan Yama dipegang erat, demikian pula kedua kakinya. Prosedur perayaan ulang tahun resmi diaktifkan!

Chiko merogoh seluruh saku Yama, maka dompet, handphone, dan kunci segera diamankan. Aya sebagai EO segera mengambil langkah pengamanan. Tidak ada rontaan berlebihan dari Yama. Ya, sebenarnya dengan berat badannya yang di bawah Body Mass Index, percuma juga mau berontak. Nanti salah-salah malah itu tulang belulang copot semua.

Setelah isi kantong dipastikan bersih, sandal juga dilepas. Seluruhnya diberikan kepada tim cewek satuan pengamanan barang. Sementara cowok-cowok bertugas menjadi eksekutor.

Jadi ini Yama mau dibawa kemana sih?

Ehm, beberapa puluh meter dari lorong cinta ada sebuah kolam dengan air yang hijau. Sungguh eksotis untuk dipandang tapi tidak nyaman untuk dicicipi. Jadi, setiap yang ulang tahun harus merasakan tempat ini sebagai wujud perayaan. Singkatnya, Yama hendak diceburin ke kolam berwarna hijau eksotis itu.

Karena Yama tidak meronta dan kebetulan lagi tubuhnya memang kurus kering, jadilah mengangkat makhluk aktivis ini tidak susah-susah amat. Dalam sekejap mata, ia sudah sampai di bibir kolam.

Prosedur disiapkan untuk eksekusi. Empat orang memegang tubuh Yama, masing-masing satu di tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri.

“Hitung?” tanyaku.

“Foto dulu,” ujar Aya. Maka kamera pocketku yang kebetulan masih ada film-nya segera digunakan. Jepret!

“Siap?”

“Yo!”

“Satu, Dua, Tiga!”

Tubuh kering Yama melayang manis di kolam berwarna hijau, nyebur sebentar hingga tak terlihat dan sejurus kemudian muncul lagi. Tepi kolam itu hanya sepinggang kok, jadi tampaknya memang diset untuk memuaskan hasrat mahasiswa galau dalam merayakan ulang tahun teman.

Pada saat bersamaan, seluruh Dolaners berlari berpencar menghindari pembalasan dari Yama. Terutama yang cowok-cowok nih, karena Yama siap berlari mendekat dan memeluk bak maho guna menularkan hijaunya kolam kepada yang lain.

Dan benar. Yama berlari mendekati setiap orang yang dekat. Dan ini macam kejar-kejaran di SD saja. Untung kampus memang lagi off kuliah, jadi area kampus yang luas itu serasa milik sendiri saja.

Setelah lelah, akhirnya perayaan benerannya dimulai. Aya mengeluarkan kue tart yang lumayan gede untuk teman yang berulang tahun ke-20 ini. Persis di bawah tangga lab, pesta dimulai.

“Ayo, ditiup sik. Make a wish. Make a wish.”

Yama merem sekilas, lalu meniup lilin 20 yang ada di kue tart itu. Pesta selesai! Kue tart itu lantas jadi konsumsi bersama. Sungguh kebersamaan yang indah di panas yang terik. Yah, apa yang kurang indah coba? Melihat teman masuk kolam dengan sukses dan diakhiri makan kue adalah wujud persahabatan yang mantap.

Ibarat kurva, dinamika menurun. Aktivitas lain-lain siap dimulai kembali, maka Dolaners bubaran satu per satu, didahului Yama yang terpaksa pulang lagi dalam rangka ganti baju berhubung ia belum sempat menemui Bu Yetty.

Sisanya?

“Bayar!” tagih Aya kepada Dolaners lain yang bersiap pergi. Seandainya bagian ini ditiadakan mungkin pesta barusan akan jadi lebih indah. Tapi sebagai sesama mahasiswa tentulah semuanya masih minta orang tua, jadi apapun harus dibebankan bersama. Indah juga bukan?